Berita Terkini

KH Muhammad Ali Al-Hamidy, Tokoh Persis Dari Betawi

Oleh: Arta Abu Azzam

Diantara tokoh mubaligh dan penulis produktif dari Persatuan Islam (Persis) yang sangat terkenal di Batavia adalah KH. Muhammad Ali Al-Hamidy. Di buku-buku karyanya dan tulisan-tulisannya yang tersebar di media massa, namanya seringkali ditulis: Md. Ali Al-Hamidy. Di kalangan ulama Betawi, ia sering disebut dengan Ali Alhamidy Matraman, karena ia tinggal di daerah Matraman Dalam II, No.56, Batavia.

Seperti ditulis dalam Ensiklopedi Jakarta, KH. Md. Ali Al-Hamidy lahir di Kampung Kwitang, Batavia, pada 20 September 1909. Ia menghabiskan masa kecil di Kwitang, sebelum akhirnya tinggal di Matraman dan banyak melakukan dakwah di Tanjung Priok dan wilayah Pekojan, Jakarta Barat. Ketika masa kecil itulah, ia banyak menimba ilmu di madrasah Unwanul Falah yang dikelola Habib Ali Al-Habsyi atau yang akrab dipanggil Habib Kwitang.

Setelah itu, KH.Md Ali Al-Hamidy justru banyak belajar pada Syaikh Ahmad As-Soorkati, seorang guru asal negeri Sudan yang didatangkan oleh organisasi Djami’atoel Kheir untuk mengajar di sekolah milik mereka yang terletak di Kampung Arab Pekojan, Batavia. Sekolah Djami’atoel Kheir sendiri sudah ada sejak tahun 1901 dan kemudian mendapatkan pengakuan dari pemerintah kolonial Belanda (rechtpersoon) pada tahun 1905. Dari Pekojan, Djami’atoel Kheir kemudian membuka cabang di Tanah Abang.

KH. Md Ali Al-Hamidy sering bertemu dan berguru pada Syaikh Soorkati yang saat itu menjadi pengajar di Madrasah Djami’atoel Kheir. Dari pertemuan itulah kemudian ada perubahan dalam pemikiran KH. Ali Al-Hamidy. Ada yang menyebut, atas jasa Syaikh Soorkati itulah pemikiran Al-Hamidy “dimudakan”. Sejak itu pula, KH. Ali Al-Hamidy di kenal di Batavia sebagai “Mubaligh Kaum Muda”.

KH. Md. Ali Al-Hamidy yang saat itu sudah dikenal sebagai “Mubaligh Kaum Muda” kemudian banyak berdakwah di Tanjung Priok. Bersama pamannya, Tuan Abdurrahman, ia berdakwah dengan membuka majelis dan mendirikan madrasah. Di rumah pamannya yang terletak di Tanjung Priok, Gang 15, pada tahun 1931 dibuatkan majelis taklim dan madrasah. Nama madrasahnya, At-Tarbiyatul Islamiyah (Pendidikan Islam).

Pada tahun 1930-an, di daerah Tanjung Priok sudah marak dakwah yang bercorak pembaruan, sebagaimana sebutan para peneliti. Sementara masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan “dakwah kaum muda” atau “dakwah kaum Wahabi.” Persoalan yang sering menjadi polemik pun berkisah pada masalah-masalah khilafiyah. Bedanya, saat itu, persoalan-persoalan tersebut diselesaikan dengan jalan dialog, bertukar pikiran.

Pada sekitar awal tahun 1930-an inilah, A. Hassan sebagai guru Persatuan Islam (Persis) yang sudah cukup dikenal, datang dari Bandung untuk memenuhi undangan dakwah masyarakat Tanjung Priok, Gang 15. Dari sinilah kedekatan KH.Md. Ali Al-Hamidy mulai terbangun.

Setiap ke Batavia, tak jarang A. Hassan menginap di tempat KH. Ali Al-Hamidy di Jalan Matraman Dalam II. Karena kedekatan A. Hassan dan KH. Ali Al-Hamidy inilah kemudian terbentuklah Persatuan Islam cabang Tanjung Priok, dengan ketuanya KH. Muhammad Thahary, Sekertaris Mohd. Saied, dan bendahara Ny. Unah St.Denai. KH. Ali Alhamidy diposisikan sebagai penasehat atau guru utama Persis Tanjung Priok.

Pada saat terjadi perdebatan antara A. Hassan dengan tokoh-tokoh Ahmadiyah di Gang Paseban, Batavia, pada tahun 1934, KH. Ali Al-Hamidy bersama para muridnya datang menghadiri debat tersebut dari Tanjung Priok dengan menggunakan delman. Peristiwa itu sendiri dikenal sebagai perdebatan terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Karena keahliannya dalam menulis kaligrafi Arab, KH. Ali Al-Hamidy lalu diminta oleh A. Hassan untuk datang ke Bandung dan menjadi penulis khat tetap Majalah Al-Lisaan, yang terletak di Jalan Lengkong 90. Sejak itulah, pada tahun 1937, dari mulai awal lahirnya majalah itu, KH. Ali Al-Hamidy yang saat itu baru menikah, tinggal di Bandung. Karena keahliannya dalam masalah-masalah agama, ia kemudian diminta untuk memegang rubrik An-Nisaa di majalah itu dan mengajar di Pesantren Persis Bandung.

Saat A. Hassan menulis Tafsir Al-Furqan, At-Tauhid, dan Panduan Membaca Huruf Hijaiyyah, KH. Ali Alhamidy-lah yang menjadi penulis khath karya-karya A. Hassan tersebut. Maka sejak saat itulah, karya kaligrafi Al-Hamidy banyak tersebar dimana-mana. Ia juga menjadi penulis khat Tafisr Al-Qur’anul Kariem karya Kasim Bakri yang terkenal pada tahun 1960. Tulisan khath dalam buku “Sedjarah Masjid” karya Aboebakar Atjeh juga buah tangan dari Ali Al-Hamidy. Bahkan, salah seorang murid yang belajar khat padanya, R. Ganda, alumnus Pesantren Persis,pernah menjadi penulis khat dalam terjemah Al-Qur’an Kitab Mulia yang ditulis oleh HB. Jassin. Ali Alhamidy juga dikenal sebagai ulama pelestari tulisan Melayu dalam aksara Arab.

Ketika A. Hassan pindah ke Bangil, Jawa Timur, dan mendirikan Pesantren Persis di kota itu, Ali Al-Hamidy pun sempat ikut menemani guru sekaligus sahabatnya itu. Sampai ketika Jepang datang ke Indonesia dan Pesantren Persis Bangil tidak mau ikut aturan wajib saikerei (membungkuk) ke Jepang, akhirnya pesantren itu tutup sementara.

KH. Ali Al-Hamidy lalu kembali beraktivitas di Jakarta. Namanya terus dikenal, bahkan dirinyalah yang pertama kali mengadakan shalat Hari Raya Idul Fithri di tanah lapang, yang pada saat itu di Batavia masih tabu dilakukan. Shalat diadakan di Lapangan Banteng, dan dipimpin langsung oleh Al-Hamidy. Begitu pula, ketika terjadi agresi militer Belanda kedua pada 1948, Ali Al-Hamidy tampil dengan gagah berani, mengadakan shalat Jumat di Jl. Raya Pegangsaan, dekat gedung proklamasi yang saat itu diblokade oleh tentara Belanda. Di bawah kawalan Panser dan tentara penjajah, dengan lantang Ali Al-Hamidy menjadi khatib Jumat.

Diantara karya-karya KH. Md. Ali Alhamidy adalah; Godaan Setan, Jalan Hidup Muslim, Islam dan Perkawinan, Perbaikan Akhlak, Ruhul Mimbar, Adabul Insan fil Islam, dan lain-lain. Beberapa karyanya ada yang ditulis dari dalam penjara, ketika ia ditangkap pada masa rezim Nasakom. Ia ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan yang tidak jelas, semata-mata hasutan dari Partai Komunis Indonesia. Meski dikenal sebagai aktivis Persis, karya Al-Hamidy yang berjudul Ruhul Mimbar sering dipakai oleh para kyai NU untuk khutbah Jumat.

Selain aktif di Persatuan Islam (Persis), ketika umat Islam mendirikan Partai Masyumi, KH. Md. Ali Alhamidy ikut menjadi aktivis partai tersebut dan banyak menulis artikel di Suara Masjumi. Tokoh Persis dari Betawi ini wafat pada 22 Agustus 1985 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Pusat.

Jelang Putusan MK, Sejumlah Elemen Masyarakat Gelar Aksi di Kawasan Monas

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Sejumlah organisasi masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Kedaulatan Rakyat untuk Keadilan dan Kemanusiaan menggelar aksi damai di kawasan Monas, Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Massa tak bisa mendekat ke arah Gedung Mahkamah Konstitusi (MK) lantaran polisi sudah menutup ruas Jalan Medan Merdeka Barat sejak pagi.

Organisasi yang tergabung dalam gerakan itu ialah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF Ulama), Front Pembela Islam (FPI), Alumni 212, beserta eksponen masyarakat lainnya.

Koordinator aksi, Abdullah Hemahua, mengatakan pihaknya memberikan support kepada MK untuk memutuskan gugatan sengketa hasil Pilpres dengan benar serta sesuai fakta-fakta hukum yang ada.

“Sekali lagi saya katakan, bukan urusan Pak Prabowo dan Pak Jokowi. Tapi kalau MK tidak mempertimbangkan fakta-fakta di lapangan dan kemudian mengambil keputusan bertentangan dengan fakta dan keterangan saksi dalam persidangan, berarti ada kebohongan,” kata Abdullah di lokasi, Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Tuntut Adil

Abdullah menuturkan, jika putusan MK saat ini tidak memperhatikan rasa keadilan, pada Pemilu 2024 mungkin hanya sekitar 50 persen saja yang mengikuti pesta demokrasi. Hal tersebut terjadi karena kepercayaan masyarakat terhadap partai dan elite politik sudah pudar

“Saya bayangkan kalau 2024 putusan MK tidak memperhatikan itu maka mungkin hanya 50 persen yang ikut Pemilu 2024. Karena mereka hilang kepercayaan kepada partai, mereka hilang kepercayaan kepada elit politik,” tuturnya.

Wakil Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212, Ustaz Asep Syarifudin mengatakan aksi kali ini tidak ada kaitannya dengan paslon pilpres tertentu. Namun, ia menegaskan pemimpin terpilih nantinya harus berdasarkan kedaulatan rakyat.

“Yang harus kalah adalah siapapun yang zalim dengan ulama dan kaki tangan asing,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, PA 212 sudah menyampaikan surat pemberitahuan ke Polda Metro Jaya bahwa hari ini menggelar halalbihalal sekaligus aksi super damai mengawal MK. Oleh karena itu, dirinya tidak sungkan mengajak segenap alumni 212 untuk datang ke Jakarta dalam rangka menjaga kedaulatan rakyat.

“Persidangan di MK terbuka untuk umum. Jadi kalau ada rakyat yang mau hadir boleh tidak? Boleh. Jadi polisi harus kawal, agar tidak ada yang rusuh. Jangan dilarang. Wahai polisi, kami datang kemari bukan demo terhadap Anda, bukan untuk perang dengan polisi, tapi untuk menguatkan MK untuk buat keputusan seadil-adilnya,” katanya.

sumber: okezone.com

 

Amnesti Internasional: Polri Lakukan Pelanggaran HAM Serius saat 22 Mei

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Amnesti Internasional Indonesia menyatakan Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serius terhadap warga tak berdaya saat melakukan penyisiran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, usai kerusuhan 22 Mei.

“Polisi telah melakukan beragam pelanggaran serius terhadap HAM di Kampung Bali dan wilayah sekitarnya di Jakarta pada 21-23 Mei 2019,” ujar Direktur Eksekutif AII Usman Hamid lewat keterangan tertulis, Selasa (25/6).

Hal itu merupakan bagian dari temuan investigasi yang dilakukan dalam rangka menyambut Hari Internasional PBB untuk Mendukung Korban Penyiksaan yang diperingati setiap 26 Juni.

Temuan itu berdasarkan verifikasi metadata dan keaslian video tim Amnesty International di Berlin, Jerman, dan wawancara terhadap sejumlah narasumber yang mengetahui kejadian.

Usman menuturkan investigasi itu berawal dari beredarnya sebuah video di media sosial pada 24 Mei 2019. Video itu memperlihatkan belasan personel Brigade Mobil (Brimob) melakukan penyiksaan terhadap seseorang yang sudah tidak berdaya.

Investigasi pihaknya juga menemukan bahwa kepolisian melakukan pelanggaran HAM terhadap empat orang lainnya di kawasan tersebut.

Lebih lanjut, Usman menceritakan kekerasan itu terjadi di lahan kosong milik Smart Service Parking, di Kampung Bali, Jakarta, Kamis (23/6), pukul 05.30 WIB. Saat itu, ia berkata Brimob tengah melakukan penyisiran usai insiden bentrok antara aparat dan massa.

“Ketika pagar [lahan parkir] dibukakan, anggota satuan kepolisian tersebut melakukan penangkapan dengan menggunakan kekerasan yang tidak diperlukan terhadap setidaknya dua orang. Dengan kata lain, kekerasan fisik digunakan terhadap orang yang tidak melawan dan tidak berdaya sebagaimana yang direkam dalam video viral tersebut,” ujarnya.

sumber: cnnindonesia.com

Menag Ingin Generasi Milenial Muslim Melek Literasi Islam

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam menggelar pelatihan literasi informasi bagi generasi milenial.

Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saefuddin mengatakan acara ini bisa menjadi alat untuk menyebarkan esensi dan substansi islam yang rahmatan lil alamin.

 

“Tujuannya adalah bagaimana nilai-nilai agama Islam bisa lebih disebar luaskan dengan pendekatan yang sesuai dengan esensi dan substansi agama islam itu sendiri. Islam yang rahmatan lil alamin, islam yang senantiasa menebarkan kedamaian kepada siapapun, di manapun dan kapanpun,” katanya di Hotel Aston Kartika, Grogol, Jakbar, Selasa (25/06/2019).

 

Menurutnya peserta yang terdiri dari 80 milenial ini wajib menyebarkan nilai-nilai islam yang bukan membuat terkotak-kotak lalu kemudian saling bersebrangan, bahkan saling memaki, menghujat, mencaci, mencela dan sebagainya.

 

“Jadi kita harus kembali menggunakan agama, islam dalam hal ini, untuk memanusiakan sesama kita. Menjaga harkat, derajat, martabat kemanusiaan kita. Itu poinnya sebenarnya,” tuturnya.

 

Menag menekankan, tujuan utama bermedsos untuk menyebar kebaikan. “Jadi wajib para milenial menyebarkan nilai-nilai Islam yang Rahmatan lil Alamin.”

Menag: Main Medsos Jangan Baper

JAKARTA (Jurnalislam.com)- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberi saran ketika bermain media sosial jangan baper (bawa perasaan). Karena itu berbahaya.

“Kalau main medsos jangan gampang baper. Itu bahaya,” katanya saat memberikan materi di hadapan peserta pelatihan literasi informasi bagi generasi milenial yang diinisiasi Bimas Kementerian Agama di Hotel Aston Kartika, Grogol, Jakbar, Selasa (25/06/2019).

Menurutnya terlalu baper itu mudah memancing emosi, sehingga dapat melahirkan konflik. Sebab poin penting main medsos adalah mengendalikan diri.

“Kalau saat kita bersosial media melahirkan konflik, sangat bertolak belakang dengan tujuan utamanya yaitu sosialisasi,” pungkasnya.

Menag menilai konflik di medsos terjadi karena kita terlalu baper sehingga gampang emosi.

“Orang saat marah adalah sejelek-jeleknya manusia. Jadi benar nasihat Rasulullah bahwa inti dasar ajaran Islam adalah mengendalikan hawa nafsu,” tuturnya.

Ini Ciri Konten Hoaks Versi Kominfo

JAKARTA (Jurnalislam.com)- Kasubdit Kominfo, Anthonious Malau menyatakan pesan hoaks adalah berita dusta menyesatkan yang sengaja disebarkan melalui pesan whatsapp dan sosmed.

“Hoaks itu beranekaragam. Bisa berupa foto hasil rekayasa atau editan, berupa meme menyesatkan dan bisa pula berupa berita benar dari sebuah situs berkredibilitas tapi depannya diberikan judul dan pengantar yang menipu,” katanya saat mengisi pelatihan literasi informasi bagi generasi milenial Bimas Islam Kementerian Agama di Hotel Aston Kartika, Grogol, Jakbar, Selasa (25/06/2019).

Dia menekankan pesan hoaks tidak jelas sehingga tidak bisa dimintai tanggung jawab. Selain itu pesannya sepihak, hanya membela atau menyerang saja.

“Biasanya pesan hoaks juga sering mencatut nama tokoh seakan berasal dari tokoh itu dan sering memanfaatkan fanatisme dengan nilai-nilai idiologi atau agama untuk meyakinkan,” pungkasnya.

Anthonious menambahkan hal terpenting pesan hoaks adalah judulnya provokatif dengan isi berita tidak sesuai dengan judul.

“Kalau ketemu pesan yang memenuhi sebagian ciri ciri seperti ini, jangan mudah percaya, dan jangan dishare, itu jelas mengindikasikan ciri-ciri hoaks,” tuturnya.

Bimas Islam Kemenag Kenalkan Buku Fikih Braile

JAKARTA (Jurnalislam.com)- Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muhammadiyah Amin memaparkan berbagai program kerja ramah disabilitas di Bimas Islam. Salah satunya yang sudah berjalan adalah pencetakan Al-Qur’an Braile dan buku Fikih Braile.

“Kita sudah mengadakan Al-Quran braile, kemudian sekarang kita cetak fikih braile dan seterusnya,” katanya dalam sambutannya di acara Pelatihan Literasi Informasi Bagi Generasi Milenial yang digelar di Hotel Aston Kartika, Jakarta Barat pada Senin (24/06/2019).

Selain itu, setiap tahun Bimas Islam juga menggelar lomba Al-Quran bagi penyandang tuna netra.

Untuk ke depannya, Bimas Islam juga telah mencanangkan program Masjid Ramah Disabilitas. Amin mengatakan, program ini telah masuk dalam rancangan anggaran dan akan mulai berjalan pada 2020 nanti.

Dirjen Bimas Islam juga menyampaikan keprihatinan atas masih adanya disabilitas yang diusir atau tidak diperbolehkan memasuki masjid dengan berbagai alasan.

Karena yang masuk masjid tidak semua normal. Di antaranya tadi yang saya katakan, biasanya karena alasan kursi roda mereka tidak bersih, oleh pengurus masjid dilarang masuk,” katanya.

Untuk itu, dalam program masjid ramah disabilitas nanti salah satunya akan berfokus pada pengadaan kursi roda. Sehingga, penyandang disabilitas yang akan memasuki masjid dapat menggunakan kursi roda yang tersedia.

“Termasuk didalamnya tempat wudhu untuk disabilitas yang tentu saja berbeda dengan tempat wudhu orang lain,” pungkasnya.

MK dan MA Tidak Berposisi atau Memiliki Derajat Dibawah Bawaslu

Oleh: Damai Hari Lubis

(Jurnalislam.com)MK tidak tunduk pada putusan bawaslu perihal pembatalan TMS ( Tidak Memenuhi Sarat )  oleh KPU kepada caleg Gerindra Mirah Sumirat karena merupakan karyawan anak perusahaan BUMN.

Kecil sekali dan bahkan menghinakan MK yang putusannya satu kali serta berkekuatan sama dengan undang – undang RI.

Logika hukumnya  bawaslu sekedar perangkat KPU yang bekerja cukup merujuk pada  Undang-Undang tentang KPU UU. Nomor  7 Tahun 2017.

Secara hukum pun belum ada yang menggugat pembatalannya ( JR ) khususnya pada pasal 227 hurup p. Tentang larangan pegawai atau pejabat BUMN untuk mendaftarkan diri sebagai caleg.

Andaipun  ada  penetapan/ putusan  MA justru mengecilkan arti dari pada putusan bawaslu, oleh sebab hukum melalui fakta yuridis MA. ( Mahkamah Agung ) membuktikan dalam amar putusan JR No.21 P./ HUM/ Tahun 2017 menyatakan :

“..Bahwa  anak perusahaan BUMN merupakan perusahaan BUMN, maka penetapan MA tersebut bukan merupakan dalil MK yang dapat menjadi dasar  rujukan atau yurisprudensi membatalkan isi undang undang/ pasal pada undang undang atau menjadi pertimbangan pada amar.  Apalagi mutu yuridis secara  hirarkis perundang –  undangan khusus objek yuridis Permohonan Pembatalan atau uji materi/ JR ke MA adalah lebih rendah daripada objek yang menjadi permohonan/ JR ke  MK.”

Kembali kepada pokok permasalahan ulasan , derajat putusan Bawaslu kwalitasnya sangat rendah bila ingin dibandingkan kepada derajat kewenangan , objek dan nilai  putusan Mahkamah Agung.

Terlebih jauh  lagi bila disanding dengan  Mahkamah Konstitusi/ MK. Baik mutu objek sengketa in casu / domein maupun eksisteni dan kelembagaan

Sehingga bila sampai MK membuat putusan yang pertimbangan hukum amar putusannya menggunakan dalil putusan bawaslu, MK mempermalukan diri lembaga mereka serta merupakan cacat yuridis serta cacat keburukan sejarah yang dibuat MK pada tahun 2019 pada era presiden Jokowi

 

Ketua Divisi Hukum PA 212

Kenalkan Tempat Ibadah Sejak Dini, Kemenag: Jangan Usir Anak dari Masjid

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muhammadiyah Amin mengenalkan program Gerakan Masjid Ramah Anak.

Amin menjabarkan, kriteria masjid ramah anak salah satunya adalah adanya fasilitas tempat bermain khusus bagi anak-anak.

“Kalaupun tidak ada ya disiapkan untuk itu,” katanya di Hotel Aston Kartika, Jakarta Barat pada Senin malam (24/06/2019).

Sebagai langkah awal, Kementrian Agama khususnya Bimas Islam hingga kini telah membantu 10 masjid untuk percontohan di tahun 2019.

Selanjutnya, Gerakan Masjid Ramah Anak menjadi program bersama antara Kemenag dan Dewan Masjid Indonesia pimpinan Wapres Jusuf Kalla.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menghimbau masyarakat agar tidak melarang anak-anak ke masjid dengan alasan mengganggu atau sebagainya.

“Nanti ada tempat khusus bagi anak anak yang masih di bawah umur itu. Supaya mereka tidak mengganggu masjid, tapi ada tempat khusus, difasilitasi, jadi nanti ada yang khusus menjaga anak-anak sementara orang tuanya beribadah didalam,” terang Amin.

Amin menambahkan, sangat penting bagi anak untuk mengenal tempat ibadah sejak usia dini.

Ia juga menyampaikan keprihatinan atas banyaknya remaja yang tidak lagi cenderung mengurus masjid dan sibuk dengan urusannya masing-masing.

“Jangankan orang tuanya, pengurus masjidnya mengusir anak-anak. Kan nggak boleh. Ajaklah anak itu pergi ke masjid. Pergi mengenal tentang masjid. Itu penting menurut saya,” imbuhnya.

“Karena itu mulai sekarang mari kita mulai, anak-anak diajarkan ke masjid,” pungkas Amin.

OJK Minta Masyarakat Waspada Pinjaman Online

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Financial technology (fintech) teknologi finansial untuk peer to peer lending yang akrab disebut pinjaman online (pinjol) mulai marak di masyarakat.

Risiko  peminjaman tersebut dibayangi bunga tinggi dan data nasabah yang tidak aman.

Masyarakat kerap dirugikan karena penagihan yang tidak wajar dan tingkat suku bunga tinggi akibat ketidakmampuan dalam membayar kewajiban pokok dan bunga.

Jika hal tersebut terjadi, OJK memastikan fintech tersebut ilegal. Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sekar Putih Djarot mengatakan, pinjol ilegal memang tidak dalam pengawasan OJK, namun menjadi perhatian bersama dengan cara OJK tergabung dalam Satgas Waspada Investasi (SWI) yang merupakan forum koordinasi 13 lembaga dan kementerian.

“Berdasarkan rekomendasi OJK pada kemenkominfo melalui SWI, dilakukan penutupan untuk fintech ilegal sebagai upaya tindak lanjut dari pengaduan. Pada 2018 ada 404 entitas dan tahun ini sudah 543 entitas sehingga secara total saat ini yang sudah ditangani 947 entitas,” tutur Sekar lansir Sindonews.com.

OJK mencatat terdapat 113 pinjol terdaftar atau memiliki izin dari OJK yang terdiri atas 107 perusahaan konvensional dan enam penyelenggara bisnis syariah.

Hingga Maret 2019 akumulasi jumlah pinjol sebesar Rp33,2 triliun dengan jumlah utang (outstanding) sebesar Rp7,79 triliun. Adapun rekening pemberi pinjaman sebanyak 272.548 entitas dan penerima pinjaman6.961.993 entitas.

Platform pinjol yang terdaftar OJK dan anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) dilarang mengakses daftar kontak, berkas gambar, dan informasi pribadi dari smartphone pengguna pinjol.

“Mereka hanya boleh mengakses kamera, mikrofon, dan lokasi. Apabila terjadi dan terbukti platform legal mengakses data selain ketiga hal tersebut, OJK dapat mengenakan sanksi sesuai Pasal 47 POJK 77,” tuturnya.

Sekar memastikan, jika di masyarakat terjadi tindakan penagihan pinjaman dengan cara menghubungi orang lain untuk mencemari nama peminjam, itu bisa dipastikan ilegal.

“Kami terus mengedukasi dan menyosialisasikan ini kepada masyarakat untuk mengenal OJK melalui media massa dan acara di sejumlah instansi. Kami tempat untuk mengecek legal atau tidaknya sebuah platform pinjol,” ujarnya.

sumber: sindonews.com