YOGYAKARTA (Jurnalislam.com)- Pernak pernik dan aksesoris berbau Muslim United (MU) menjadi salah satu buruan utama yang dibeli oleh peserta MU #2 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.
Dalam kegiatan MU #2, panitia menjual aksesoris mulai dari gantungan kunci, hingga kaos bertuliskan Muslim United.
“Alhamdulillah tembus di angka 80 juta pada hari kedua, dan ini diluar ekspektasi kita, kita kan ada 3 titik dan Qodarullah kita bisa bangun dua titik dan diluar ini dugaan kami,” kata salah satu penanggungjawab merchandise Rangga kepada jurniscom ahad, (13/10/2019).
Menurutnya, Kaos dan Topi menjadi barang yang paling dicari oleh para peserta, harga yang dibandrol untuk mercahandise yang dijajakan oleh panitia itu dibandrol dari ribuan hingga ratusan ribu.
“Paling dicari kaos dan topi, yang habis Gantungan Kunci dan Pin, Topi bordir biasa 100 ribu yang bordir 125, kaos 100 lengan pendek, lengan panjang 125 ribu,” ungkapnya.
Ia pun ikut menyayangkan akan kepindahan kegiatan MU #2 ke Masjid Jogokariyan, menurutnya, tidak ada kepentingan politik tertentu dalam kegiatan MU #2 tersebut.
“Acara kita ini kan murni dan tidak ada yang menunggangi, harapan terus harus berjalan dan lebih berkembang lagi, kalau di berita ada pertentangan dan yang lainnya kita dilapangan malah enjoy aja,” paparnya.
“Dan banyak jamaah yang menangis, warga Kauman yang menyayangkan, dan asmofirnya disini luar biasa banget,” imbuh Rangga.
YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Kegiatan Muslim United (MU) #2 ikut membawa berkah bagi sejumlah pedagang, hal itu diungkapkan Mulyadi salah satu pedagang jilbab dan aksesoris muslimah yang ikut berjualan dalam kegiatan MU #2 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.
Di hari kedua MU #2, ribuan umat Islam dari berbagai kota turut hadir di Masjid Jogokariyan, Menurut Mulyadi yang juga membuka toko di Yogyakarta itu, ia bisa mendapatkan omset 3 sampai 4 kali lipat daripada saat ia berjualan biasa.
“Kalau saya rata rata disini bisa 3 atau 4 kali di toko saya, di Kauman itu hari pertama kita dapat uang sekitar 5 juta dan kalau disini tadi karena pindah lokasi dapat 2 juta,” katanya kepada Jurnalislam.com, Ahad (13/10/2019).
Sementara jilbab dan kaos kaki menjadi barang favorit yang diborong oleh peserta MU #2 di Masjid Jogokariyan. Ia berharap event MU dapat dilaksanakan secara rutin.
“Saya berharap hastag #JogjaKotaKajian benar benar dilakukan, dan karena ketika ada event seperti ini bagus, dan memang bagus untuk penjualan,” ungkapnya.
Hal senada juga dikatakan oleh Ali pedagang Peci dari Jakarta, ia bisa memperoleh untung kurang lebih dua kali lipat dari hari biasa, ia juga ikut mendukung kegiatan MU yang dianggapnya bisa mempersatukan umat Islam di Indonesia.
“Harapan saya ini terus bisa dilaksanakan, karena ini memang bisa mempersatukan umat, dan untuk kami pedagang juga sangat baik ketika berjualan,” paparnya.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dua periode, Kiai Cholil Ridwan meminta umat Islam di Indonesia untuk meniru gerakan Buy Muslim First (BMF) yang terjadi di Malaysia untuk meruntuhkan kekuasaan ekonomi Cina.
“Itu namanya jihad ekonomi,” katanya saat memberikan sambutan di acara Dzikir & Munajat Akbar Mujahid 212 di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Ahad (13/10/2019).
Lelaki yang juga pembina Dewan Da’wah Indonesia (DDII) ini mengatakan kalau gerakan BMF ditiru di Indonesia, orang cina akan bangkrut.
“Kalau ummat Islam mau menang, puasa beli produk-produk Cina,” pungkasnya.
Dia menjelaskan perlunya persatuan dan merebut perpolitikan nasional, seperti strategi Mahatma Gandhi yang tidak mau bekerja sama dengan Inggris.
Mahatma sengaja memenuhi kebutuhan sendiri, menenun pakaian sendiri, menyebabkan Inggris bangkrut dan India bisa merdeka.
“Dari segi aspek ekonomi kita bisa menyimpan uang di bank syariah, bank lokal dan bank BUMN demi memajukan negeri ini,” tuturnya.
Siang tadi, persaudaraan alumni 212 menggelar zikir dan munajat akbar di Masjid Sunda Kelapa.
Tujuan dilaksanakannya untuk mendoakan ulama dan aktivis yang disebut dikriminalisasi oleh rezim.
JAKARTA (Jurnalislam.com) -Pihak keluarga sempat tak mengenali Akbar Alamsyah saat pertama kali menemui di RS Polri, Jakarta Timur. Peserta 25 September 2019 di Gedung DPR ini meninggal karena dugaan kerusakan saraf.
Kakak perempuan Akbar, Fitri Rahmayani (25) menyebut kondisi Akbar sebelum meninggal sangat memprihatinkan.
Ia mengatakan Akbar mengalami banyak luka di area kepala.
“Enggak bisa dikenali. Mama sih yang lihat (di RS Polri), aku lihat di RSPAD,” ujar Fitri kepada wartawan setelah pemakaman Akbar di TPU belakang Seskoal, Cipulir, Jakarta, Jumat (11/10/2019).
Sebelum ditangani di RS Polri, Akbar pertama kali mendapat perawatan di PS Pelni, Jakarta Barat. Di sana dia sempat menjalani operasi.
Fitri pun menggambarkan kondisi Akbar, anak kedua di keluarganya.
Terdapat pembengkakan besar di kepalanya membuat Akbar susah dikenali. Bahkan terdapat bekas jahitan di mulut yang menurutnya tidak pernah ada sebelumnya.
Keluarga mengatakan kondisi Akbar setelah ditemukan tidak kunjung pulih hingga akhirnya meninggal.
“Jadi kepalanya besar seperti pakai helm, kayak semacam tumor kepala. Gede lebam bibirnya sampai menutupi lubang hidung saking keluarnya, jontor,” kata Fitri.
“Dari (RS) Polri tanggal 30 sampai sekarang pun menurun turun terus enggak ada perkembangan,” tambahnya.
Ketika diajak bicara pun Akbar tidak bisa merespons dengan baik. Dia hanya bisa menggerakkan jari tangan dengan pelan ketika diajak bicara di RS Polri.
“Bibirnya kayak orang mau getar gitu, mata keadaan tutup. Tangannya sempet gerak cuma [itu] responsnya di RS Polri,” kata dia.
“Dokter tidak ada yang berani langsung ngomong penyebab luka wajah tersebut. Tidak ada yang bilang jatuh atau apa,” jelasnya.
JAKARTA (Jurnalislam.com) – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mendesak kasus kematian Akbar Alamsyah yang tewas akibat terlibat demonstasi di Gedung DPR untuk diungkap.
Ketua Bidang YLBHI Muhammad Isnur menyatakan, kematian Akbar mesti diungkap karena muncul kejanggalan terkait penyebab kematian Akbar.
“Hari ini kita menyaksikan ibunya histeris dan berteriak-teriak, misalnya di kasus Akbar disiksa, disiksa oleh siapa? Di mana? Ini penting jangan sampai kemudian kita menimbulkan pertanyaan,” kata Isnur di Gedung Merah Putih KPK, beberapa waktu lalu.
Isnur menuturkan, ada banyak kejanggalan dalam kasus kematian Akbar, salah satunya mengenai penyebab kematian yang disebut polisi akibat jatuh dari dinding pagar.
“Yang ditemukan di lapangan, ginjalnya hancur, tengkorak tempurung kepalanya remuk, ini bukan karena jatuh. Kalau jatuh yang luka pasti lehernya, bukan kepalanya,” ujar dia.
Menurut Isnur, investigasi tersebut juga mesti melibatkan Ombudsman dan Komnas HAM.
JAKARTA(Jurnalislam.com)–Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mendesak kasus kematian Akbar Alamsyah yang tewas akibat terlibat demonstasi di Gedung DPR untuk diungkap.
Ketua Bidang YLBHI Muhammad Isnur menyatakan ada kejanggalan dalam kasus kematian mahasiswa Akbar Alamsyah.
“Yang ditemukan di lapangan, ginjalnya hancur, tengkorak tempurung kepalanya remuk, ini bukan karena jatuh. Kalau jatuh yang luka pasti lehernya, bukan kepalanya,” ujar dia.
Menurut Isnur, investigasi tersebut juga mesti melibatkan Ombudsman dan Komnas HAM.
Ia pun mengingatkan polisi untuk tidak melulu menyangkal temuan-temuan lembaga-lembaga lain.
Isnur juga menyampaikan, hasil investigasi itu pun perlu menjadi evaluasi bagi polisi dalam menangani aksi demonstrasi dan polisi tidak boleh segan menjatuhkan sanksi bagi anggotanya yang bersalah.
“Di kasus Kendari, kapolri mencopot kapolda dan kapolres. Pertanyaan penting, kenapa di Polda Metro tidak lakukan hal yang sama?” kata Isnur.
JAKARTA (Jurnalislam.com)– Himpunan Pelajar Patani di Indonesia (HIPPI) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kali ke-8 dengan mengadakan seminar nasional 2019 yang bertema “Pendidikan Masa Kini, Meraih Kesuksesan di Era Globalisasi”.
Seminar ini di selenggarakan di Aula Teater Prof. Muhammad Yunus, Lantai 3, Gedung FTIK, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Indonesia, pada Sabtu 12 Oktober 2019.
Nurman Senichana, sebagai ketua pelaksanaan menyampaikan salam hormat kepada para nara sumber, moderatr, mahasiswa internasional, dan mahasiswa Indonesia yang ikut hadir bersama dalam seminar nasional kali ini.
Seminar kali ini dihadiri oleh tiga nara sumber, pertama Dr. Anan Nisoh M. Pd (Pendidikan Islam di Selatan Thailand), kedua Dr. Ahmad Suryadi M. Ag (Pendidikan dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asien), dan ketiga Dr. Dadi Darmadi M.A (Sikap Mahasiswa Asing di Indonesia), dan moderator Neneng Nurjanah, M. HUM.
Waesulaiman Saha, sebagai ketua umum HIPPI periode 2019-2020 mengungkapkan, telah genap delapan tahun HIPPI berdiri tegak semenjak tahu 2011 hingga sekarang, dan tidak merasa lelah mengembangkan amanat dalam mendidik anak bangsa Melayu patani.
“HIPPI mepunyai ciri kebersamaan untuk mencapai tujuan yang sama, ini merupakan sifat persaudaraan diatas nama himpunan, karena himpunan selalu mngajak kita semua untuk mengembangkan ide-ide dan cita-cita” imbuh Waesulaiman Saha
Perkenalan, HIPPI adalah organisasi kemahasiswaan dan berorientasi kemasyarakatan bagi umat bangsa Melayu Patani, dan HIPPI merupakan wadah perkumpulan pelajar yang datang dari Patani (Thailand Selatan), yaitu dari provinsi Patani, Yala, Narathiwat dan sebahagian dari Songkhla.
HIPPI berusaha untuk menciptakan kader-kader mahasiswa Patani yang mampu untuk mengatasi dan menyelesaikan problema-problema yang dihadapi oleh masyarakat Patani secara umum.
Patani merupakan provinsi yang terletak di bahagian Thailand Selatan dari negara Thailand, mayoritas penduduknya 95% beragama Islam dan berbangsa Melayu.
Patani semenjak tahun 1150 M, yang terkenal dengan Negara Patani Darussalam, dan di masa itu banyak ulama-ulama dan para cendikiawan Islam yang dapat mengembangkan agama Islam.
Jurnalislam.com – Miris ketika membaca berita mengenai pembatalan sepihak oleh rektorat terhadap kuliah umum Ustadz Abdul Shomad di masjid UGM, yang rencananya dilaksanakan hari Sabtu, 12 Oktober 2019 (www.tirto.id, 9 Oktober 2019).
Padahal Pihak takmir sendiri menyatakan bahwa mereka sudah mematuhi semua persyaratan yang diajukan oleh pihak kampus, di antaranya tidak ada publikasi dan acaranya tidak memakai konsep tabligh akbar (www.republika.co.id, Kamis 10/10/2019).
Alasan yang diajukan oleh pihak kampus dalam menolak kehadiran Ustadz Abdul Shomad di antaranya adalah bahwa kampus harus menjaga keselarasan kegiatan akademik dengan kegiatan non akademik.
Lantas pertanyaannya, bukankah kehadiran UAS dalam rangka untuk memberikan kuliah umum yang bersifat ilmiah? Apakah selama ini UAS dalam memberikan materi pengajian maupun tabligh akbarnya secara serampangan tanpa dasar ilmiah yang berasal dari dalil al – Qur’an dan Hadits Nabi SAW?
Memang akan paradoks, ketika kita melihat kampus justru mengijinkan kegiatan yang tidak ilmiah. Ambil contoh di UIN Jakarta, pada semester ganjil 2017 mengadakan pagelaran musik musisi papan atas Indonesia (www.kompasiana.com, 5 Februari 2018).
Dan sekarang ini pagelaran konser musik di kampus bukan hal yang tabu dilakukan. Di samping pertimbangan sebagai hiburan dari penatnya kuliah, juga ada unsur komersial pemasukan bagi kampus penyelenggara. Biasanya dengan cara menyewakan fasilitas gedung besar yang dimilikinya. Lalu, apakah pagelaran musik itu dipandang lebih selaras dengan budaya intelektual kampus dibandingkan dengan kegiatan kuliah dan diskusi ilmiah?
Di samping itu, alasan dibatalkannya kuliah UAS di UGM karena ada tekanan dari luar, seperti yang disampaikan pihak takmir dalam siaran pers yang diterima kiblat.net pada Kamis 10/10/2019 (www.news.visimuslim.org, 10 Oktober 2019).
Siapakah pihak luar yang dimaksud? Siapapun itu tidak berhak untuk mengekang perkembangan dunia intelektual kampus. Kedewasaan intelektual kampus terwujud dengan adanya diskusi bukan dengan tekanan dan ancaman.
Bahkan kalau perlu alangkah baiknya jika para calon pejabat publik bisa mengadakan forum ilmiah di kampus sehingga akademisi kampus bisa menguji kelayakan mereka dan programnya bagi kesejahteraan rakyat.
Yang lebih parah pihak UGM dalam hal ini berubah seolah menjadi rejim politik. Seharusnya sebagai pimpinan kampus lebih menyadari akan posisinya. Mereka yang semestinya memberikan ruang ilmiah yang seluas – luasnya pada mahasiswa. Mahasiswa bisa menggali lebih dalam ajaran Islam yang dipeluknya. Bukan justru mengebiri dengan kepongahan dan sok adikuasa di dunia pendidikan.
Adapun materi kuliah yang diberikan UAS adalah mengenai hubungan antara Islam dengan IPTEK sebagai pondasi kemajuan umat. Terus adakah yang salah?. Tentunya yang harus dipahami bahwa Islam tidak memiliki masalah dengan perkembangan teknologi.
Hal ini berbeda dengan ajaran Nasrani. Di saat Gereja mengadopsi pandangan Geosentris dari Ptolomeus, maka tertutuplah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pandangan yang berbeda akan dipandang sebagai makar. Saat terjadi renaissance, perkembangan IPTEK mengalami kemajuan pesat.
Heliosentris menggantikan Geosentris. Keadaan demikian mereka capai dengan sekulerisasi IPTEK dengan agama (Nasrani). Sedangkan Islam menganjurkan umatnya untuk mengembangkan IPTEK. Sebagai contoh firman Allah SWT yang berbunyi:
يا معشر الجن والانس ان استطعتم ان تنفذوا من اقطار السماوات والارض فانفذوا لاتنفذون الا بسلطان
Wahai semua golongan jin dan manusia, jika kalian sanggup untuk menembus penjuru langit dan bumi maka tembuslah. Kalian tidak akan bisa menembusnya kecuali dengan kekuatan (QS Ar Rahman ayat 33).
Kekuatan dalam ayat ini adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya bahwa umat Islam harus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan untuk bisa menjelajah luar angkasa dan menggali semua potensi kekayaan alam yang dikandung oleh bumi.
Di samping itu, Islam memberikan panduan agar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa bermanfaat, tidak merusak dan tetap bisa menjaga kemuliaan manusia. Sebagai contoh dalam hal penggunaan HP.
Dengan memahami hukum Islam terkait pergaulan lawan jenis, maka penggunaan Hp akan terjaga dari perkataan dan perbuatan yang melanggar aturan agama seperti pacaran, kecabulan dan lainnya.
Dengan memahami hal demikian, diharapkan mahasiswa terbuka kerangka berpikirnya. Islam itu ajaran yang berkemajuan dan menghendaki kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Mahasiswa tidak akan menjadi sosok yang takut dengan agamanya sendiri.
Keberadaan kampus mestinya menjadi sarana memfilter berbagai macam wacana dan propaganda di luar kampus yakni di masyarakat, bangsa dan negara. Alasannya tentunya mahasiswa itu merupakan agen perubahan sosial, penyambung lidah masyarakat dan pemimpin masa depan.
Layaknya sebuah kampus bisa mewadahi diskusi mengenai persoalan – persoalan ekonomi, politik pemerintahan, dan lainnya. Walhasil gerak mahasiswa mempunyai arah dan dasar ilmiah dalam melakukan koreksi kepada kekuasaan.
Dan tentu saja bagi seorang mahasiswa muslim, Islamlah yang akan menjadi spirit dan tujuan dari perjuangannya. Terlebih melalui mereka nantinya yang akan bisa mendobrak dan mengikis Islamophobia dari dunia intelektual di kampus.
“Mengontrol pemuda Xinjiang berarti mengendalikan masa depan wilayah itu” tampaknya menjadi slogan di balik kampanye PKC untuk mendidik anak-anak Muslim di lingkungan Han.
XINJIANG (Jurnalislam.com) – Setiap tahun, Partai Komunis Cina (PKC) secara sistematis merekrut sejumlah besar siswa etnis minoritas dari Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang untuk belajar di bagian lain di Cina. Tidak hanya uang sekolah dan semua biaya ditanggung oleh pemerintah, tetapi staf yang ditugaskan secara khusus menemani mereka dalam perjalanan dari dan ke Xinjiang, selain itu membantu dan mengawasi mereka.
Tetapi apa yang ada di bawah perawatan yang tampaknya menguntungkan ini? Banyak siswa di sekolah tempat pemuda Xinjiang dikirim tampaknya memiliki pertanyaan serupa.
“Mengapa orang-orang dari Xinjiang datang untuk belajar di sini? Tidakkah mereka memiliki sekolah kejuruan di sana?” kata seorang mahasiswa etnis Han di sebuah sekolah kejuruan di provinsi Liaoning timur laut bertanya selama kelas.
Siswi dari Xinjiang sedang belajar di Sekolah Menengah LianYunGang di Provinsi Jiangsu. Selain dilarang memakai jilbab, pemerintah juga melarang mereka beribadah lainnya. Foto: BitterWinter
Seorang guru menjelaskan bahwa itu adalah langkah “brilian” para pemimpin negara. Ia menambahkan bahwa pemuda Xinjiang datang ke daerah lain untuk belajar tidak hanya membantu “menentukan keturunan” mereka tetapi juga “mencegah orang tua mereka dari menimbulkan masalah.”
“Anak-anak mereka bersama etnis Hans ada di sini, jadi mereka tidak akan berani melakukan kerusuhan,” kata guru itu puas.
Dalam 11 tahun ini, sekolah tersebut telah menerima siswa dari Xinjiang yang berumur 14 hingga 20 tahun. Sekolah itu saat ini menampung lebih dari 480 siswa yang semuanya ditanggung oleh pemerintah.
Tetapi tidak ada yang datang secara gratis, mereka menerima “perlakuan istimewa” sebagai imbalan atas kebebasan mereka. Sekolah menerapkan kontrol ketat seperti militer terhadap siswa dari Xinjiang. Mereka tidak bisa meninggalkan semau mereka, mereka juga dilarang melakukan segala bentuk ibadah. Tempat tinggal mereka terpisah dari siswa Han di sekolah.
Salah satu guru sekolah mengatakan kepada Bitter Winter bahwa siswa Xinjiang tinggal di asrama enam lantai yang dilengkapi dengan kamera pengintai.
“Enam hingga delapan siswa tinggal di setiap kamar. Ada 26 guru yang bertugas di malam hari, yang bertanggung jawab untuk mengawasi anak-anak ini,” kata guru itu.
Guru Han tidak mengerti bahasa asli yang digunakan oleh siswa Xinjiang, dan mereka perlu menghabiskan lebih banyak waktu, bahkan kadang-kadang mengorbankan liburan mereka, untuk mengawasi mereka. Karena kesulitan yang bertambah, guru bukannya tidak akan ditugaskan untuk pemuda Xinjiang, tetapi mereka tidak memiliki suara dalam masalah ini.
“Itu bukan pilihan. Ini adalah tugas politik yang ditugaskan negara kepada kami,” kata guru lain dari sekolah itu.
Para siswa Xinjiang di Sekolah Menengah Kou di Jiangsu ikut serta dalam upacara pengibaran bendera. Foto: BitterWinter
Hampir 500 siswa dari Xinjiang, termasuk Uyghur dan Kazakh, belajar di Sekolah Khusus Pertanian Fushun di Liaoning. Mereka juga diawasi dengan ketat: personel yang ditugaskan secara khusus menemani para siswa dari rumah dan kembali pada awal dan akhir setiap tahun ajaran. Mereka berada di bawah pengawasan ketat di kampus, penjaga keamanan mengawal mereka ke dan dari asrama.
Pada 8 Juni lalu, polisi khusus pemerintah mengawasi 500 siswa yang naik kereta api dari Beijing untuk kembali ke Xinjiang untuk liburan musim panas mereka.
“Sinisisasi” untuk menjadi kader Partai Komunis
Sebuah sumber dari Tianjin, sebuah kota pesisir di Cina Utara yang dikelola langsung oleh pemerintah pusat, mengungkapkan kepada Bitter Winter bahwa pada akhir Agustus lalu, sebuah sekolah menengah di kota itu menugaskan sembilan gurunya terbang ke Xinjiang untuk membawa kembali lebih dari 300 siswa. Hingga saat ini, setidaknya 11 sekolah di Tianjin telah menerima siswa dari Xinjiang yang diajari tentang budaya Han dan diharuskan berbicara bahasa Mandarin.
“Ketika anak-anak Xinjiang ini dikirim untuk belajar di pedalaman Cina, mereka berhubungan dengan siswa dan guru Han, dipengaruhi oleh budaya Han,” kata seorang guru Tianjin kepada Bitter Winter.
Siswa muslim Xinjiang juga diwajibkan untuk mengikuti pelatihan militer di Sekolah Menengah Kou. Foto: BitterWinter
“Interaksi mereka dengan guru dan teman sekelas mereka akan mempengaruhi pandangan mereka tentang kehidupan, nilai-nilai mereka, dan bagaimana mereka menilai sesuatu. Setelah mereka kembali ke Xinjiang untuk bekerja, para siswa ini yang telah belajar selama beberapa tahun di pedalaman Cina akan siap menerima kepemimpinan Partai Komunis dan mendukungnya,” paparnya.
Seorang guru lain mengungkapkan bahwa Kementerian Pendidikan berencana mengirim anak-anak yang lebih muda dari Xinjiang (usia 6 hingga 7) ke sekolah-sekolah di pedalaman Cina untuk belajar bahasa Mandarin dengan tujuan untuk disinisisasi, mengubah kebiasaan hingga pola makan mereka.
Secara singkat Sinifikasi, Sinofikasi, Sinoisasi, Sinisisasi, atau Hanisasi adalah suatu proses di mana masyarakat non-Tionghoa berada di bawah pengaruh budaya Tionghoa, khususnya budaya dan norma-norma kemasyarakatan Tionghia Han. Ruang lingkup pengaruh meliputi makanan, tulisan, industri, pendidikan, bahasa, hukum, gaya hidup, politik, filsafat, agama, sains dan teknologi, budaya, dan sistem nilai.
Reporter: Arie RistyanRedaktur: Ally Muhammad Abduh
YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Pagi ini, Ahad (13/10/2019) Ustaz Abdul Somad mengisi tabligh akbar di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta.
Ribuan jamaah yang didominasi mahasiswa dan masyarakat umum nampak khusyu menyimak materi yang disampaikan UAS tentang ‘Birul Walidain’ atau berbakti kepada orang tua.
Namun di sela-sela paparannya, UAS mengungkapkan kekagumannya kepada sosok pendiri Muhammadiyah, itu KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, KH Ahmad Dahlan adalah sosok yang berani melawan arus pada saat itu untuk membersihkan masyarakat dari takhayul, bid’ah dan khurafat.
“Berceramah di UAD merupakan kebanggaan bagi saya, karena saya kagum pada sosok KH Ahmad Dahlan. Beliau punya keberanian untuk melawan arus, arus TBC; takhayul, bid’ah, dan churafat,” kata ulama lulusan Universitas Al-Azhar Mesir ini.
Kekagumannya juga didasari oleh sifat KH Ahmad Dahlan yang tidak membangun ketokohan diri akan tetapi membangun metode dakwah yang diterima dan bermanfaat hingga saat ini.
“Beliau tidak membangun ketokohan, tapi membangkitkan metodenya, membangun relanya, sehingga ketika keretanya sudah lapuk, akan tetap ada kereta api baru yang lewat di rel ini. Artinya, bangunlah rel maka akan ada lokomotif-lokomotif baru. Dan akhirnya hari ini saya ada di depan kereta-kereta baru itu,” tutur UAS.
Kemudian UAS mengutip sebuah hadits yang berbunyi, “Apabila engkau memiliki sebiji kurma di tanganmu maka tanamlah. Meskipun besok akan kiamat, semoga engkau mendapat pahala.” (HR. Ahmad)
“Bukan kita yang menikmati buahnya, tapi ada orang lain yang akan menikmatinya kelak. 28.000 ibadah mahasiswa UAD mengalir ke makam KH Ahmad Dahlan,”
Sebelum di Masjid UAD, UAS juga mengisi kajian di acara Muslim United #2 di Masjid Jogokariyan dan di Universitas Islam Indonesia (UII).