Berita Terkini

Sepiring Berdua Berbagi Kue Kuasa

Oleh Chusnatul Jannah – Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

(Jurnalislam.com)–Pemandangan putih mewarnai istana negara. Lalu lalang pejabat negara dan politisi sambangi Jokowi di istana negara. Mereka menjadi calon kuat menteri kabinet kerja jilid 2. Ada Mahfud MD, Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Wishnutama, Tito Karnavian, Erick Thohir hingga pengusaha milenial Nadiem Makarim.

Mereka memakai baju putih sebagai simbol kabinet kerja pemerintahan Jokowi. Ada pula beberapa menteri kabinet 1 turut serta mengunjungi Istana negara. Dan hari ini mereka yang terpilih akan dilantik.

 

Yang paling mengejutkan, mantan kompetitor Jokowi di Pilpres2019, Prabowo Subianto secara terbuka memberi sinyal bahwa ia akan duduk di kursi pemerintahan sebagai menteri pertahanan. Santernya isu gerindra merapat ke pemerintah mulai terdengar sejak rekonsiliasi pasca pilpres 2019.

Setelahnya, sajian nasi goreng ala Megawati menambah kuat aroma Gerindra tak akan menjadi oposisi lagi.

Mungkin ia sudah lelah menjadi oposisi. Tak kuasa menahan godaan kekuasaan. Tak ayal, keputusan Prabowo mengecewakan para pendukung dan relawannya, terutama dari kalangan emak-emak.

Berbagi Kue Kuasa

Banyak pihak yang merasa kecewa berat tatkala Prabowo lebih memilih ‘sepiring berdua’ bersama Jokowi. Dua kali kalah dalam kompetisi hingga akhirnya ia menyerah atas nama rekonsiliasi. Dari pesaing menjadi kawan main. Dari oposisi malah menduduki kursi.

Teringat sang jenderal pernah berkata, “Saya akan timbul dan tenggelam bersama rakyat”. Nampaknya slogan itu akan menjadi kenangan pahit bagi para pendukungnya. Bahkan dalam status akun twitternya,

Gerindra mengatakan, “Yang sudah terjadi, biar kita jadikan pelajaran untuk masa yang akan datang. Karena jika terus menerus terjebak di masa lalu, kita tidak akan maju. Selalu terjebak di masa lalu juga tidak akan membuat bangsa ini semakin baik martabatnya,”.

 

Untuk kesekian kali, rakyat kembali menelan kepahitan. Sosok yang diharapkan membawa perubahan justru tak berdaya menahan godaan kekuasaan. Demokrasi memang pahit. Yang beroposisi bisa masuk koalisi.

Yang koalisi bisa saja keluar menjadi oposisi. Politik demokrasi itu dinamis dan lentur. Dinamis karena bisa berubah-ubah sesuai kepentingan. Lentur karena idealismenya tak sekokoh yang dibayangkan.

Asas politik demokrasi adalah kepentingan bukan kerakyatan. Lantas bagaimana dengan rakyat? Dalam hal ini rakyat tak dipertimbangkan. Rakyat hanya penting saat kampanye dan pemilihan saja. Setelahnya mereka dilupakan. Aspirasinya tak lagi menjadi bahan pertimbangan. Itulah fakta politik ala demokrasi.

Tak perlu heran dengan hajatan bagi-bagi kue kuasa. Itu sudah menjadi habit mereka. Pemenang pemilu menjadi penentu dalam berbagi kue kuasa. Tidak aneh jika menteri-menteri yang ditunjuk Jokowi adalah orang-orang yang sudah nampak keloyalannya terhadap pemerintah.

Gerindra dan PDIP bagai saudara terpisah. Meerajut kembali kemesraan di 2009 lalu bukanlah hal yang sulit dilakukan bagi keduanya.  Oleh karenanya, perubahan hakiki tidak akan terwujud bila masih dengan sistem dan pola yang sama.

Islam, Politik Tanpa PHP

Islam tak sekadar agama ritual yang hanya mengatur aspek ibadah mahdhoh. Islam juga mengatur aspek politik, sosial, ekonomi, pergaulan, dan sebagainya. Politik dalam Islam bukan berbagi kue kekuasaan. Politik Islam adalah riayah suunil ummat.

Yakni mengurusi urusan umat mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Hal ini tentu berbeda dengan fakta politik demokrasi yang hanya berkutat seputar kekuasaan dan kepentingan.

Dalam Islam, berpolitik bukan untuk mengemis jabatan kepada penguasa. Berpolitik dalam Islam bertujuan untuk mencerdaskan umat dengan pandangan Islam. Mewujudkan kepekaan umat terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut hajat hidup masyarakat.

Oleh karenanya, Umat wajib melek politik. Ketika umat buta politik, mereka akan mudah terperdaya dengan kepentingan dan oligarki kekuasaan.

Pilpres 2019 harusnya dijadikan pelajaran berharga. Bahwa suara rakyat hanya dimanfaatkan partai untuk meraih kepentingan mereka sendiri. Dalam demokrasi, tidak ada keabadian. Semua berpijak pada kepentingan.

Transaksi-transaksi politik akan senantiasa menjadi pemandangan dalam demokrasi. Demokrasi sejatinya tidak murni berjuang untuk rakyat. Lebih tepatnya mereka berjuang hanya untuk kepentingannya sendiri.

Jadikanlah Islam sebagai jalan perjuangan hakiki. Umat semestinya memiliki agenda sendiri. Yakni memperjuangan kehidupan Islam tanpa  embel-embel kepentingan. Berjuang hanya untuk menegakkan hukum Allah.

Berpolitik adalah salah satu wujud dakwah amar makruf nahi mungkar. Dengan berpolitik, umat mengoreksi  kebijakan zalim penguasa. Meluruskan kesalahan penguasa dan menyampaikan solusi Islam atas berbagai persoalan.

Apa yang disampaikan Tokoh Kenamaan Turki, Necmettin Erbakan, sekiranya patut direnungkan, “Siyaseti önemsemeyen Müslümanları, Müslümanları önemsemeyen siyasetçiler yönetir.”

Kurang lebih artinya seperti ini: Muslim yang tidak peduli dengan politik, maka akan dipimpin politisi yang tak peduli pada Islam. Islam politik itu anti PHP. No tipu-tipu. Apalagi berselingkuh. Wallahu a’lam

Din Minta Presiden Jokowi Hati-hati Kaitkan Radikalisme dengan Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin mengkritik sikap pemerintah yang terus menyuarakan narasi kontra radikalisme. Menurutnya, sebagian dari umat Islam merasa terganggu dengan tuduhan radikalisme itu.

“Ini tuduhan menyakitkan. Tidak mungkin ada stabilitas dan kerukunan Indonesia kalau umat Islam Indonesia sebagai mayoritas tidak toleran, maka tidak perlu ada tuduhan,” kata Din kepada Jurnalislam.com di Kantor MUI, Rabu (23/10/2019).

Karenanya, Presiden Jokowi dan kementerian di bawahnya agar berhati-hati dalam mewacanakan istilah radikalisme. Jangan sampai justru umat Islam yang tersinggung, sementara pelaku radikalisme dan terorisme justru tidak tersentuh.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menegaskan, tidak boleh lagi ada klaim paling Pancasilais dan yang lain tidak Pancasilais. Apalagi jika disematkan kepada umat Islam.

Menurut dia, umat Islam memiliki saham besar dalam merumuskan Pancasila.

“Saya ingin katakan, hentikan tuduhan kecenderungan anti radikalisme. Ini hanya mengulang lagu lama dimana dulu ada ekstrim kanan dan ekstrim kiri,” ujarnya.

Sebab, itu tidak baik bagi kehidupan dan kebersamaan. “Mari kita mulai dengan positive thinking, itulah persatuan Indonesia,” imbuhnya.

Baca juga:

Jokowi Minta Kemenag Urus Radikalisme, Din: Ahistoris dan Berlebihan

Narasi Radikalisme Mahfud MD yang Absurd dan Tendensius

Haedar Nasir Menilai Pernyataan Said Aqil Menjurus Ke Arah Radikalisme

Salim A Fillah: Seharusnya Pemerintah Selesaikan Akar Radikalisme Yakni Ketidakadilan

Identikan Cadar dengan Radikalisme, Sekjen MUI: ‘Itu Stigmatif Sekali’

 

Jokowi Minta Kemenag Urus Radikalisme, Din: Ahistoris dan Berlebihan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo resmi menunjuk Jenderal (Purn) Fachrul Razi menjadi Menteri Agama (Menag) di Kabinet Indonesia Maju. Jokowi meminta Fachrul untuk fokus mengurusi radikalisme di Indonesia.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin menilai, pihak-pihak yang terus menyuarakan anti-radikalisme tidak paham asal-muasalnya dan ahistoris. Narasi tersebut, kata dia, bertolak belakang dengan sejarah yang ada tentang umat Islam.

“Kenapa ahistoris, karena umat Islam ini kelompok yang paling toleran, kesultanan-kesultanan Islam yang jumlahnya 70-an sebelum kemerdekaan dengan ikhlas bergabung, mendukung berintegrasi dengan negara baru yang namanya Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, itu toleransi besar,” kata Din kepada Jurnalislam.com, Rabu (23/10/2019).

Din menegaskan, tidak mungkin ada tingkat kerukunan nasional seperti saat ini jika umat Islam tidak toleran. Karena itu, tidak berlebihan jika narasi anti radikalisme dinilainya sebagai komoditas politik.

“Itu adalah komoditas politik dan boleh jadi mengambil amunisi yang akademik, seolah-olah akademik. Ini tidak positif, lebih bagus bangunlah kebersamaan,” tuturnya.

Terlebih jika narasi itu akan dikembangkan oleh Kementerian Agama (Kemenag), Din mengaku sangat keberatan. Jika begitu, kata Din, maka Kemenag berganti nomenklatur saja menjadi Kementerian Anti Radikalisme.

“Kementerian Agama itu membangun moralitas bangsa, mengembangkan keberagamaan ke arah yang positif-konstruktif bagi bangsa dalam menjaga kerukunan, meningkatkan kerukunan kualitas keagamaan, itu fungsinya yang sudah ada sejak kelahirannya,” kata dia.

“Jangan dibelokkan, anti-radikalisme tidak hanya radikalisme keagamaan, kenapa tidak boleh sebut radikalisme ekonomi, yang melakukan kekerasan pemodal dan menimbulkan kesenjangan, itu namanya radikalisme ekonomi,” katanya.

Termasuk kenapa tidak disuarakan radikalisme politik, di mana peserta pemilu yang menang dapat berbuat apa saja dalam bentuk otoritarianisme. Maka itu, ia meminta narasi ini tidak terus dikembangkan.

“Saya anti radikalisme kekerasan, tapi jangan dilebih-lebihkan dan jangan tendensius mengarah pada kelompok. Kalau diberi tugas pada Kemenag, seolah-olah umat beragama yang radikal,” kata mantan ketua umum PP Muhammadiyah ini.

“Yang anti pancasila jelas kita tolak, tapi tidak hanya dari yang bersifat keagamaan, banyak juga yang ingin mengembangkan isme lain. Kapitalisme dan liberalisme itu anti pancasila, kenapa itu tidak dituduh musuh nyata pancasila apalagi separatisme,” ujar Din.

Baca juga:

Ini Pesan PBNU di Hari Santri

Din Syamsuddin Proklamirkan Diri Sebagai Loyal-Kritis pada Negara

Tanggapi Putusan MK, Din Syamsuddin: “Rasa Keadilan Saya Terusik”

Din Syamsuddin Heran Ada Kasus yang Begitu Cepat Diproses, Ada yang Dibiarkan

Muslim Uygur Ditindas Pemerintah Cina, Begini Kata Din Syamsuddin

Mahfud MD Gantika Wiranto Jadi Menkopolhukam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Mahfud MD resmi ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, menggantikan Wiranto.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Presiden di lingkungan Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (23/10/2019) pagi.

“Beliau akan menjadi Menkopolhukam, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan korupsi, kepastian hukum, deradikalisasi, dan anti-terorisme, berada di wilayah Prof Mahfud MD,” ujar Jokowi.

Mengenakan kemeja batik berwarna cokelat dan celana panjang warna hitam, wajah pria 62 tahun itu nampak sumringah.

Dia kembali masuk ke dalam jajaran kabinet pemerintahan, setelah meninggalkan pos eksekutif itu selama lebih kurang 19 tahun.

Pada tahapan wawancara dua hari sebelumnya, Mahfud mengatakan bahwa Presiden Jokowi menawari dirinya menjadi salah seorang menteri.

Pakar hukum tata negara itu mengaku tidak pernah meminta posisi jabatan di dalam kabinet.

Menurut dia, Presiden Jokowi mengetahui latar belakangnya dan tahu betul posisi apa yang cocok untuk dia emban.

“Saya kira, ya terkejut juga tadi presiden tahu betul latar belakang saya dari waktu ke waktu. Beliau tahu yang cocok untuk saya apa. Sehingga saya tidak perlu bertanya, beliau tahu saya tepatnya di mana,” ujar pria kelahiran Sampang, Madura ini.

Berdasarkan hasil “wawancara” dengan Jokowi, saat itu Mahfud menduga posisi jabatan yang mungkin dia emban berada di ranah hukum, politik, maupun keagamaan seperti yang selama ini diisukan.

Ia pun mengucapkan sejumlah jabatan yang mungkin diemban.

Kan saya banyak disebut katanya Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham), Jaksa Agung, Menteri Agama, katanya apa lagi? Pokoknya di bidang itu,” tambahnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini mengaku bersedia menjadi menteri dalam Kabinet Kerja jilid II pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin.

“Saya nyatakan bersedia. Saya nyatakan siap membantu negara,” tutur Mahfud.

Sumber: republika.co.id

16 Orang Parpol di Kabinet Jokowi, PDIP Terbanyak

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan melantik kabinet periode dua pemerintahannya di Istana Negara,  Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Pelantikan dilakukan setelah proses wawancara dilakukan Presiden selama dua hari belakangan.

Setidaknya sudah ada 35 calon menteri dan yang datang ke istana untuk menemui Jokowi.

Dari 35 orang calon penghuni kabinet, 16 di antaranya merupakan kader partai politik. PDI Perjuangan menjadi penyumbang calon menteri terbanyak dengan 4 orang kader partai banteng mendapatkan jatah.

Tiga politikus PDIP lawas yakni Tjahjo Kumolo, Yasonna Laoly, dan Pramono Anung menjadi wajah lama yang kembali menghuni kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin.

Sedangkan Juliari Batubara akan jadi kader besutan Megawati Soekarnoputri yang baru bergabung sebagai pembantu presiden.

Tjahjo yang menjabat sebagai Menteri dalam Negeri pada Kabinet Kerja dikabarkan menjadi Menteri PANPRB.

Sedangkan Yasonna dan Pramono disebut bertahan di posisi sebelumnya.

Sebagian partai koalisi Jokowi-Ma’ruf lainnya mendapatkan jatah kursi yang sama yakni tiga kursi. Partai tersebut yakni Golkar, PKB, NasDem. Hanya PPP yang mendapat jatah satu kursi.

Sumber: katadata.co.id

Baca juga:

Ini Profil Singkat Meteri Agama Jenderal Purnawirawan Fachrul Razi

Ini Susunan Lengkap Menteri Kabinet Jokowi 2019-2024

Tujuh Pesan Presiden Kepada Para Menteri, Pertama Jangan Korupsi

Tinggal Rakyatlah Oposisi Sesungguhnya

Kritik Pidato Jokowi, Haris Azhar: Pemerintahan Anti HAM

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Santri Diminta Kreatif dan Kuasai Teknologi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. KH. Said Aqil Siroj menyampaikan pidato kebudayaan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10/2019) malam.

Dalam pidatonya, Kiai Said berpesan kepada para santri atau kaum bersarung untuk mengembangkan tradisi kreatif, inovatif, dan berpikir kritis.

Pengasuh Pondok Pesantren Atsaqofah Ciganjur ini menjelaskan, menuju tahun 2045 masyarakat Indonesia akan menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0.

Di era ini, kata dia, masyarakat bisa mendapatkan manfaat, tetapi juga berpeluang mendapat efek negatif, yang mana bisa menjadikan manusia terperangkap sebagai obyek kemajuan teknologi dan informasi.
Kiai Said mengatajan, kemajuan teknologi dan informasi tersebut dapat mengurangi hubungan dan kedekatan antar manusia (hablun min al-nas).

Namun, menurut dia, santri memiliki modal yang besar untuk mendorong manusia agar tetap menjadi sentral atas kemajuan teknologi dan informasi tersebut.

“Santri memiliki mekanisme agar hubungan antar manusia tetap kuat dan kokoh. Di antaranya Tahlilan, Yasinan, dan Barzanji,” kata Kiai Said.

Di dalam tradisi keberagamaan tersebut, lanjutnya, teknologi dan informasi hanyalah dijadikan sebagai sebuah instrumen bukan tujuan.

Dengan demikian, kata dia, seluruh produk peradaban diarahkan untuk menguatkan kualitas kemanusiaan masyarakat Indonesia.

Sumber: republika.co.id

Ini Pesan PBNU di Hari Santri

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof. KH. Said Aqil Siroj menyampaikan pidato kebudayaan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10/2019) malam.

Dalam pidatonya, Kiai Said berpesan kepada para santri atau kaum bersarung untuk mengembangkan tradisi kreatif, inovatif, dan berpikir kritis.

“Saya berpesan, santri perlu terus mengembangkan tradisi kreatif, inovatif, dan berpikir kritis,” ujar Kiai Said dalam acara yang dihadiri para tokoh dan ulama tersebut.

Karena itu, Kiai Said juga mengimbau kepada semua pihak yang hadir dalam acara tersebut untuk melibatkan santri, menjadi subyek aktif dalam seluruh proses pembangun bangsa dan negara.

“Santri mewarisi legacy yang ditinggalkan oleh para ulama di abad keemasan Islam. Karena itu, kebangkitan Indonesia dan Islam akan sangat ditentukan oleh kiprah dan peranan kaum santri,” ucap Kiai Said.

sumber: republika.co.id

 

Baca juga:

Menag: Hari Santri untuk Meneladani Semangat Jihad Para Ulama

Di Hari Santri, ACT Luncurkan Program “Beras untuk Santri Indonesia”

Tujuh Pesan Presiden Kepada Para Menteri, Pertama Jangan Korupsi

Nasehat Ustaz Fadlan Garamatan Bagi Orang yang Berhijrah

Ini Profil Singkat Meteri Agama Jenderal Purnawirawan Fachrul Razi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Jenderal Purnawirawan TNI Fachrul Razi ditunjuk sebagai Menteri Agama, Rabu (23/10/2019) di Istana Negara.

Saat ini belum banyak yang mengenal Fachrul Razi. Karier tertinggi pria kelahiran Aceh 26 Juli 1947 itu yakni sebagai Wakil Panglima TNI pada periode 1999-2000.

Sejumlah posisi di militer pernah dipegang oleh jebolan Akademi Militer tahun 1970 itu. Mulai dari Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kujang 1 Kostrad,

Wakil Asisten Operasi KASAD, hingga Kepala Staf Daerah Militer VII/Wirabuana dan Gubernur Akademi Militer.

Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Asisten Operasi KASUM ABRI, Kepala Staf Umum ABRI, hingga Sekjen Departemen Pertahanan.

Pada saat kampanye Pilpres 2019 lalu ia menjadi salah satu pendukung Jokowi-Ma’ruf dengan memimpin Tim Bravo 5.

sumber: kompas.com

Ini Susunan Lengkap Menteri Kabinet Jokowi 2019-2024

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo sudah mengumumkan nama-nama menterinya Rabu pagi (23/10/2019).

Berikut nama menteri kabinet 2019-2024 dan kementerian atau lembaga yang dipimpinnya, disusun berdasarkan daftar yang dibacakan Joko Widodo:

1. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan: Mohammad Mahfud MD
2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Airlangga Hartarto
3. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Muhajir Effendy
4. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi: Luhut Binsar Panjaitan

5. Menteri Pertahanan: Prabowo Subianto
6. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
7. Menteri Dalam Negeri: Tito Karnavian
8. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Marsudi
9. Menteri Agama: Fachrul Razi
10. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Yasonna Laoly

11. Menteri Keuangan: Sri Mulyani Indrawati
12. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Nadiem Makarim
13. Menteri Kesehatan: dokter Terawan
14. Menteri Sosial: Juliari Batubara
15. Menteri Ketenagakerjaan: Ida Fauziah

16. Menteri Perindustrian: Agus Gumiwang Kartasasmita
17. Menteri Perdagangan: Agus Suparmanto
18. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Arifin Tasrif
19. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono
20. Menteri Perhubungan: Budi Karya

21. Menteri Komunikasi dan Informatika: Johnny G. Plate
22. Menteri Pertanian: Syahrul Yasin Limpo
23. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
24. Menteri Kelautan dan Perikanan: Edhy Prabowo
25. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Abdul Halim Iskandar

26. Menteri Agraria, Tata Ruang, dan Kehutanan: Sofjan Jalil
27. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas: Suharso Monoarfa
28. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Tjahjo Kumolo
29. Menteri BUMN: Erick Thohir
30. Menteri Koperasi dan UKM: Teten Masduki

31. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Wishnutama
32. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak: Gusti Ayu Bintang Darmavati
33. Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional: Bambang Brodjonegoro
34. Menteri Pemuda dan Olahraga: Zainudin Amali

35. Kepala Staf Kepresidenan: Moeldoko
36. Sekretaris Kabinet: Pramono Anung
37. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Bahlil Lahadalia
38. Jaksa Agung: ST Burhanuddin

Tujuh Pesan Presiden Kepada Para Menteri, Pertama Jangan Korupsi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo meminta kepada para menteri kabinet terbarunya untuk tidak korupsi. Pesan itu merupakan pesan pertama dari tujuh pesan yang disampaikan Jokowi usai mengumumkan nama-nama menteri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (23/10/2019) pagi ini.

“Saya juga telah memerintah kepada seluruh kabinet yang tadi sudah dimumkan, yang pertama jangan korupsi, menciptkan sistem yang menutup celah terjadinya korupsi,” tegasnya.

Kedua, Jokowi juga menegaskan tidak ada visi misi menteri akan tetapi yang ada adalah visi misi presiden.

“Ketiga, kita semua harus kerja cepat, kerja cepat, dan produktif,” katanya.

Keempat, Jokowi meminta kabinetnya untuk tidak terjebak dalam rutinitas yang monoton.

“Kelima, kerja berorientasi pada hasil nyata, tugas kita tidak hanya menjamin sent, tapi delivered,” ujarnya.

Keenam, memeriksa masalah di lapangan untuk menemukan solusi dan terakhir harus serius dalam bekerja.

“Saya pastikan yang gak serius bisa saya copot ditengah jalan, hati-hati,” tutupnya.

Berikut nama menteri kabinet 2019-2024 dan kementerian atau lembaga yang dipimpinnya, disusun berdasarkan daftar yang dibacakan Joko Widodo:

1. Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan: Mohammad Mahfud
2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian: Airlangga Hartarto
3. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Muhajir Effendy
4. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi: Luhut Binsar Panjaitan

5. Menteri Pertahanan: Prabowo Subianto
6. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
7. Menteri Dalam Negeri: Tito Karnavian
8. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Marsudi
9. Menteri Agama: Fachrul Razi
10. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Yasonna Laoly

11. Menteri Keuangan: Sri Mulyani Indrawati
12. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: Nadiem Makarim
13. Menteri Kesehatan: dokter Terawan
14. Menteri Sosial: Juliari Batubara
15. Menteri Ketenagakerjaan: Ida Fauziah

16. Menteri Perindustrian: Agus Gumiwang Kartasasmita
17. Menteri Perdagangan: Agus Suparmanto
18. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Arifin Tasrif
19. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono
20. Menteri Perhubungan: Budi Karya

21. Menteri Komunikasi dan Informatika: Johnny G. Plate
22. Menteri Pertanian: Syahrul Yasin Limpo
23. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya
24. Menteri Kelautan dan Perikanan: Edhy Prabowo
25. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Abdul Halim Iskandar

26. Menteri Agraria, Tata Ruang, dan Kehutanan: Sofjan Jalil
27. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas: Suharso Monoarfa
28. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Tjahjo Kumolo
29. Menteri BUMN: Erick Thohir
30. Menteri Koperasi dan UKM: Teten Masduki

31. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Wishnutama
32. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak: Gusti Ayu Bintang Darmavati
33. Menristek dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional: Bambang Brodjonegoro
34. Menteri Pemuda dan Olahraga: Zainudin Amali

35. Kepala Staf Kepresidenan: Moeldoko
36. Sekretaris Kabinet: Pramono Anung
37. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal: Bahlil Lahadalia
38. Jaksa Agung: ST Burhanuddin