Inginkan Informasi Berimbang, Salah Satu Keluarga Korban Penangkapan Densus 88 di Bima Gelar Konferensi Pers

BIMA (Jurnalislam.com) – Untuk memberikan informasi yang berimbang, keluarga DN alias Ramadan Ulhaq, salah satu korban penangkapan Densus 88 di Kelurahan Penatoi, Bima, Nusa Tenggara Barat menggelar konferensi pers di rumahnya, Ahad (11/1/2015).

“Saya ingin menceritakan apa yang terjadi biar ada keseimbangan berita,” kata kakak DN Ahmad Gafar (40).

Menurut penuturan Gafar, belasan aparat dengan senjata lengkap masuk rumah dengan mendobrak pintu dan langsung menodongkan senjata kepada semua penghuni rumah yang pada saat itu hanya ada 4 perempuan; Cahaya (44), Emi Faturahmi (39), Arfah (69), Ida (35)  dan satu orang anak, Muhammad Aqim berumur 5 tahun. Mereka lalu menggeledah seisi rumah.

“Kita gak tahu apa yang mereka geledah, apa yang mereka cari. Lemari dibongkar, pakaian semuanya dikeluarin. Tidak ada barang yang tersisa untuk mereka periksa dengan alat pendeteksi logam,” lanjut Gafar.

Gafar juga meceritakan, aparat perempuan bertopeng melakukan pelecehan terhadap anggota kelurganya. Kata Gafar, aparat mengumpulkan semua perempuan dalam satu ruangan, lalu mereka ditelanjangi.

“Kemudian orangtua saya, kakak saya, adik-adik saya dimasukan dalam satu ruangan di kamar kemudian dikunci. Di dalam kamar itu, semua yang perempuan disuruh buka baju, disuruh telanjang,” bebernya.

Salah satu adik Gafar, Emi sempat protes. Namun dengan dalih menjalankan tugas, mereka tetap menelanjangi semua saudara perempuan DN.

“Ini aurat, meskipun sama-sama perempuan tetap gak boleh. Dosa! Mau kamu tanggung dosa saya?” tanya Emi dengan nada tinggi. Polisi perempuan itu sempat menjawab bahwa mereka hanya menjalankan tugas.

“Biar tugas juga tetap gak boleh, ini agama saya yang melarang,” tegas Emi membentak.

Emi menambahkan bahwa apa yang ditulis aparat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sama sekali berbeda dengan apa yang dilakukan aparat di lapangan. Ditulis di dalam BAP, selama pemeriksaan, aparat kepolisian diantar pihak keluarga.

“Mereka tuh menggeledah kita gak tahu, kita di dalam (dikurung dalam kamar). Jadi bukan kita yang ngantar seperti yang ada dalam BAP,” tutur Emi.

Gafar juga membantah pemberitaan tentang ditemukannya barang bukti 5 kg bahan peledak. Padahal sebelum aparat pergi, mereka menunjukkan barang-barang yang mereka bawa.

“Tidak ada itu bahan pembuat bom. Ini yang bikin saya sangat-sangat marah,” keluhnya.

Gafar mengaku keluarga besarnya di Penatoi sangat marah dan akan menempuh jalur hukum serta menuntut Kapolres untuk minta maaf dan memulihkan nama baik keluarga mereka.

“Kita ini warga asli Penatoi, kita ini satu keluarga, semuanya marah. Keluarga besar sangat marah. Bahkan bukan cuma kita, masyarakat sini juga,” ujar Gafar.

Untuk membantu menyelesaikan kasus ini, Gafar telah menghubungi Tim Pembela Muslim (TPM) dan akan segera melakukan tindakan.

“Langkah-langkah hukum itu akan kita tempuh. Komnas HAM juga, kita akan lapor kesana. Kita udah konsultasi juga dengan TPM.”

Barang-barang yang dijadikan barang bukti oleh kepolisian adalah 11 KTP, 11 Handphone, Kitan Bulughul Marham, Kitab Shahih Bukhari, Majalah Tahun 80-an, Panji Masyarakat, VCD Deklarasi Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), 5 Kg Pupuk Urea dan 1 Senapan Angin Rusak. Namun dari semua barang bukti itu, tidak semua ditunjukkan kepada pihak keluarga.

Seperti diketahui, DN ditangkap oleh satuan Densus 88 ketika pada hari Kamis, (8/1/2015) bersama Rio atas tuduhan keterlibatannya dengan Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso alias Abu Wardah.

Reporter : Sirath | Editor : Ally

Khaled al-Qazzaz, Eks Sekretaris Luar Negeri Presiden Morsi, Di Bebaskan Jaksa Agung Mesir

~~MESIR (Jurnalislam.com) – Seorang mantan ajudan presiden Mesir yang digulingkan, Mohamed Mursi dari Ikhwanul Muslimin dibebaskan pada hari Ahad (11/01/2015) karena alasan kesehatan setelah 18 bulan ditahan tanpa tuduhan, kata kerabat.
Khaled al-Qazzaz, mantan sekretaris urusan luar negeri Mursi,yang ditangkap di bulan Juli 2013 bersama dengan presiden terpilih Mursi dan delapan pembantu senior lainnya ketika tentara menjatuhkan Ikhwanul Muslimin dari kekuasaan.

Para pejabat Mesir tidak segera bersedia untuk berkomentar mengenai Qazzaz, satu-satunya tokoh Ikhwanul yang akan dibebaskan dari penjara sejak pasukan keamanan menangkap ribuan pendukung gerakan tersebut.

"Para penjaga datang kepadanya beberapa jam yang lalu, dan mengatakan 'kami telah diperintahkan untuk meninggalkan tempat dan Anda bebas untuk pergi,'" Ahmed Attia, kakak iparnya mengatakan kepada Reuters melalui telepon dari Kanada.

Qazzaz saat ini tinggal di rumah orang tuanya di Kairo dan berharap untuk bergabung kembali dengan istri dan empat anak perempuannya di Toronto segera, kata Attia.

Seorang jaksa penuntut umum mengatakan kepada wartawan pada hari Ahad bahwa Qazzaz dibebaskan dengan alasan kesehatan. Dia mengatakan Qazzaz sedang diselidiki untuk tuduhan menghasut kekerasan dan bergabung dengan kelompok Ikhwanul Muslimin.

Masih belum jelas apakah Qazzaz, seorang warga negara Mesir, akan diizinkan untuk meninggalkan negara itu menuju Kanada, dimana ia memegang izin tinggal permanen.

Kerabat mengatakan ia adalah anggota dari Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik Ikhwanul, dan bukanlah seorang anggota resmi kelompok Ikhwanul.

Mereka mengatakan dia ditahan di bawah penjagaan di rumah sakit selama dua bulan terakhir setelah menghabiskan lebih dari 400 hari di sel isolasi.

Sebuah panel PBB mengatakan tahun lalu bahwa ia ditahan secara tidak sah.

Kerabat Qazzaz menolak untuk mengomentari apakah mungkin ada motif politik di balik pembebasannya.
"Saya bukan politisi, saya hanya seorang istri dan seorang ibu dan saya hanya senang suami saya dibebaskan dan saya berharap kami bisa bersatu kembali segera," Istri Qazzaz dari Kanada, Sarah Attia, melalui telepon.

"Suami saya telah ditahan selama 558 hari hingga sekarang, dan dia tidak pernah dituntut."

Dalam kasus terpisah, spekulasi telah berkembang bahwa Mesir akan membebaskan tiga wartawan dari stasiun Al Jazeera yang berbasis di Qatar yang telah dipenjara selama sekitar satu tahun.

Wartawan Australia Peter Greste, wartawan Kanada-Mesir Mohamed Fahmy dan wartawan Mesir Mohamed Baher dijatuhi hukuman tujuh sampai 10 tahun atas berbagai tuduhan termasuk menyebarkan kebohongan untuk membantu "organisasi Ikhwanul Muslimin”.

Mereka menyangkal tuduhan tersebut. Al Jazeera menyebut tuduhan terhadap wartawan yang mereka tidak masuk akal.

Hubungan antara pro-Ikhwanul Qatar dan Mesir menjadi tegang setelah militer menggulingkan Mursi. Namun upaya untuk memperbaiki hubungan mereka yang ditengahi oleh Saudi telah meningkatkan kemungkinan bahwa wartawan tersebut akan dibebaskan.

Sejumlah besar pembantu, menteri dan pendukung Mursi sekarang di penjara, menghadapi tuduhan menghasut kekerasan dan menyerang lembaga-lembaga negara.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Perwira Polisi Mesir Diculik di Sinai

MESIR (Jurnalislam.com) – Sumber-sumber keamanan negara dan kantor berita negara mengatakan, “orang-orang bersenjata menculik seorang perwira polisi Mesir pada hari Ahad (11/01/2015) di Semenanjung Sinai, rumah bagi militan yang berusaha menggulingkan pemerintah”.

Polisi itu sedang melakukan perjalanan dengan bus dari kota Rafah di utara Sinai ke Al-Arish ketika orang-orang bersenjata menghentikan kendaraan dan membawanya pergi.

"Penculikan ini tampak seperti sebuah operasi teroris, bukan kriminal biasa, tapi kami belum yakin apakah yang melakukannya adalah Ansar atau bukan," kata seorang pejabat keamanan kepada Reuters.

Ansar adalah faksi jihad yang paling mematikan di Mesir, yang dulu disebut Ansar Bayt al-Maqdis sebelum baru-baru ini mengubah namanya menjadi Sinai Province.

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas penculikan di Sinai tersebut.

Sinai Province telah menewaskan ratusan polisi dan tentara sejak militer menggulingkan Presiden terpilih Mohamed Mursi pada tahun 2013.

Penculikan anggota pasukan keamanan adalah hal yang jarang terjadi.

Tanda-tanda bahwa pejuang menculik adalah sebagai taktik baru mereka meningkatkan kekhawatiran keamanan baru di Mesir, dimana industri pariwisata dan ekonomi mereka selama ini mengalami kekerasan.

Perlawanan Mesir terkonsentrasi di Sinai, yang berbatasan dengan Gaza, Israel, dan Terusan Suez. Namun serangan juga terjadi di kota lainnya, termasuk Kairo.

Meningkatnya mujahidin Mesir dalam konflik, tetangga Libya mempersulit upaya pemberantasan pemberontakan.

Sumber-sumber keamanan mengatakan aktivis yang menentang pemerintah Kairo dan telah menjalin hubungan dengan Sinai Province (Ansar Bayt al-Maqdis) .

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Neo-Nazi Lakukan Serangan ke-2 Terhadap Masjid di Dormagen

JERMAN (Jurnalislam.com) – Neo Nazi meluncurkan serangan lain pada sebuah masjid di kota Dormagen, menuliskan lambang swastika dan kata-kata kasar pada dinding-dindingnya

Jerman – Neo-Nazi melakukan serangan lain pada masjid Suleymaniye milik the Turkish-Islamic Union for Religious Affairs di kota Jerman Dormagen di negara bagian Northern Rhine-Westphalia, Ahad pagi (11/01/2015).

Insiden tersebut merupakan serangan kedua dalam tiga pekan di masjid yang sama.

Simbol swastika dan beberapa tulisan Islamofobia dibuat di dinding masjid, termasuk frase yang mengatakan, "Jerman adalah milik Jerman." Kata-kata kasar juga digunakan yang mengatakan bahwa budaya Muslim tidak masuk dalam budaya Jerman.

Konsulat Jenderal Turki untuk Dusseldorf, Alattin Temur mengunjungi kompleks masjid setelah serangan dan mengutuk insiden tersebut.

Sambil mengutuk rasisme dan serangan Islamofobia di masjid, ketua the Turkish-Islamic Union for Religious Affairs Prof. Dr. Nevzat Yasar Asikoglu mengatakan bahwa serangan pertama terjadi pada 20 Desember 2014 dan pemerintah diminta untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memberikan perlindungan.

"Benar-benar menyedihkan bahwa serangan terjadi untuk kedua kalinya," kata Asikoglu.

Dalam sebuah pernyataan, serikat juga mengatakan bahwa jenis serangan seperti ini menciptakan kekhawatiran dan ketakutan di kalangan komunitas Muslim di Jerman.

Polisi Jerman mengatakan mereka meluncurkan penyelidikan atas insiden tersebut.

Menurut sebuah studi baru, Jerman telah menjadi kurang toleran terhadap Islam dalam beberapa tahun terakhir dan beberapa warganya juga memiliki prasangka terhadap imigran Muslim di negara ini.

Sebanyak 57 persen warga non-Muslim Jerman mengatakan di November 2014 bahwa mereka menganggap Islam sebagai ancaman. Jumlah ini naik empat persen sejak 2012, menurut sebuah jajak pendapat yang dilakukan untuk Bertelsmann Foundation.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Mujahidin IIA Berhasil Memukul Mundur Pasukan Bayaran, 12 Pasukan Musuh Tewas

GHOR (Jurnalislam.com) –  Pertempuran sengit berlangsung tiga hari terakhir di Band Khapak, sebuah wilayah di kabupaten Charsada di provinsi Ghor tengah, antara Mujahidin Imarah Islam dan pasukan bayaran gabungan, dan berakhir tengah hari kemarin sore (Ahad, 11/01/2015). Pasukan bersenjata pengecut terpaksa melarikan diri.

12 personel musuh tewas dalam pertempuran dan 25 lainnya luka-luka, menurut radio komunikasi yang diambil alih oleh Mujahidin.

Harus disebutkan bahwa seluruh penduduk daerah berdiri bahu-membahu dengan Mujahidin di seluruh pertempuran.

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

 

" Saya Bukan Charlie "

JURNALISLAM.COM – Saat ini dunia mencurahkan simpati setelah serangan mematikan terhadap "Charlie Hebdo" tetapi beberapa pihak mendeteksi adanya kemunafikan yang busuk atau perasaan jijik terhadap para pendukung mingguan satir yang banyak menimbulkan (menyebarkan) kebencian.

Pemerintah Presiden Francois Hollande menegaskan kebebasan berekspresi tidak boleh dibatasi karena takut akan serangan lanjutan, dan pihak berwenang berada sepenuhnya di belakang "Je suis Charlie" ("Saya Charlie") kampanye solidaritas spontan di berbagai media sosial.

Namun di satu sisi skeptisisme muncul dari para pegawai Charlie Hebdo yang selamat yang menolak dukungan bagi mereka karena tidak tulus; juga dari orang-orang yang menganggap mingguan tersebut ofensif; dan pihak lain-lain yang mempertanyakan rekor hak asasi manusia dari lebih dari 40 pemimpin dunia yang mengambil bagian dalam pawai kesatuan hari Minggu (11/01/2015) di Paris.

"Ada begitu banyak kata-kata besar yang dikatakan tentang kebebasan berekspresi dan demokrasi. Tapi di mana dukungan (untuk itu) sebelumnya? Tidak ada banyak bukti," kata mahasiswa matematika berusia 26 tahun, Nalo Magalhou menanggapi berbagai reaksi politik dan media.

Sementara itu selain hashtag #JeSuisCharlie ("#IamCharlie") yang jauh lebih populer, hashtag #IamNotCharlie juga muncul di Twitter.

Yang pasti, ada sekelompok minoritas di Internet yang memuji serangan yang menewaskan 17 orang dalam tiga serangan terpisah selama tiga hari dan memuncak dalam pengepungan sebuah toko makanan halal di timur Paris.

Tapi yang lebih penting adalah sekelompok orang yang mengatakan bahwa walaupun mereka sangat mengutuk serangan, mereka juga tidak bisa mendukung sebuah surat kabar yang menghina agama.

"Terlalu mudah (untuk mengatakan) saya adalah Charlie," seorang penulis blog Belgia, Marcel Sel menulis di website-nya.

Memo Internal Al Jazeera berisi beberapa pukulan balik dari staf mereka.

"Saya kira jika Anda menghina 1,5 miliar orang, selalu ada kemungkinan bahwa satu atau dua dari mereka akan membunuh Anda," tulis Mohamed Vall Salem, yang telah bekerja di cabang Inggris sejak tahun 2006. "Dan saya kira jika Anda terus mendorong orang untuk menghina 1,5 miliar orang tentang tokoh mereka yang paling suci maka Anda hanya menginginkan lebih banyak pembunuhan karena seperti yang saya katakan, dari 1,5 miliar orang masih tetap ada beberapa orang yang tidak mematuhi undang-undang anda atau mengetahui tentang kebebasan berbicara. "

Bill Donohue, presiden Liga Katolik, cukup berani untuk mengatakan "tidak."

“Sementara Muslim menolak setiap penggambaran Nabi, adapun yang lainnya tidak, representasi visual tentang Nabi dilarang oleh Al-Quran. Penghinaan ini menyatukan umat Islam dalam kemarahan mereka terhadap Charlie Hebdo adalah bahwa nabi Muhammad telah digambarkan secara vulgar. Mereka keberatan karena penghinaan tersebut dengan sengaja dilakukan selama bertahun-tahun. Pada aspek ini, saya sepenuhnya sepakat dengan mereka.

 

Deddy | Reuters | World Bulletin | Truth Revolt | Jurniscom

 

Jabhah Nusrah Hantam Kafé Syiah Alawit Dengan Bom Isytishad, 7 Orang Tewas

LEBANON (Jurnalislam.com) – Jabhah Nusrah, cabang resmi Al Qaeda di Suriah, melakukan bom isytishad ganda di lingkungan yang didominasi Alawit Jabal Mohsen (sekte Syiah) hari Sabtu (10/01/2015) di Tripoli.

Serangan yang menargetkan sebuah kafe, menewaskan sedikitnya tujuh orang, menurut ABC News. The Daily Star melaporkan bahwa sembilan orang tewas dan 30 luka-luka.

Kafe Syiah tersebut ditargetkan untuk mengirim pesan kepada rezim Suriah Presiden Bashar Assad, tokoh Alawit sekte Syiah.

Serangan dimulai pukul 7:30 di malam hari ketika sebuah granat dilemparkan ke kafe. Kemudian, pelaku bom isytishad yang pertama memasuki kafe dan meledakkan rompinya yang berisi bom. The Daily Star mengutip seorang pejabat keamanan Lebanon mengatakan bahwa pelaku kedua tidak bisa masuk ke restoran dan "meledakkannya di luar."

Jabhah Nusrah mengaklaim tanggung jawab atas serangan tersebut di Twitter, mengatakan bahwa operasi itu merupakan "balas dendam dari Muslim Sunni terhadap (Syiah) Suriah dan Lebanon."

Seorang tokoh Jabhah Nusrah di Twitter mengidentifikasi dua pelaku bom sebagai Abu Hussein al Tarablusi dan Abu Abdulrahman al Tarablusi, dua warga pribumi Lebanon. The Daily Star menguatkan klaim ini dengan melaporkan bahwa dua pelaku bom, yang nama aslinya adalah Taha Kayal dan Bilal Ibrahim, adalah warga negara Lebanon dari lingkungan Sunni di Tripoli.

Jabhah Nusrah telah melaksanakan operasi isytishad di Libanon di masa lalu. Pada bulan Januari 2014, Jabhah Nusrah melancarkan serangan isytishad pada Syiah Hizbullah di Lembah Bekaa di kota Hermel,Lebanon. Pada awal Februari 2014, Al Nusrah mengeksekusi bom isytishad kedua melawan Syiah Hizbullah di Hermel. Dalam kedua serangan, faksi jihadis mengatakan motivasinya adalah untuk memaksa Syiah Hizbullah untuk berhenti mendukung rezim Syiah Assad di Suriah.

Jabhah Nusrah juga telah berperang melawan Syiah Hizbullah dan pasukan Lebanon di Lebanon. Pada 6 Oktober 2014, Fasik jihad tersebut merilis sebuah video menampilkan operasi baru-baru ini di kota Brital. Serangan itu menewaskan 11 pasukan sekte Syiah Hizbullah dan beberapa lainnya luka-luka.

Faksi jihad lainnya juga telah melakukan bom isytishad di dalam Lebanon. Pada 19 November 2013, Brigade Abdullah Azzam menargetkan Kedutaan Besar Iran di Beirut dengan serangan isytishad kembar, menewaskan 23 orang dan melukai lebih dari 140 lainnya.

Aksi tersebut juga diklaim sebagai langkah untuk memaksa sekte Syiah Hizbullah, yang didukung oleh Iran, untuk meninggalkan pertempuran di Suriah. Brigade Abdullah Azzam adalah afiliasi  Al Qaeda yang beroperasi di Lebanon dan berbagai negara Timur Tengah lainnya.

 

Deddy | The Long War Journal | Jurniscom

Giliran Kantor Surat Kabar Jerman Diserang Karena Cetak Ulang Kartun Nabi

HAMBURG (Jurnalislam.com) – Sebuah kantor surat kabar Jerman di kota pelabuhan utara Hamburg yang mencetak ulang karikatur Nabi Muhammad dari majalah satir Perancis Charlie Hebdo menjadi sasaran serangan pembakaran, menurut polisi.

Tabloid harian regional tersebut, Morgenpost Hamburger, diserang pada hari Ahad (10/01/2015) setelah mencetak ulang tiga kartun Charlie Hebdo di halaman depan mereka setelah peristiwa penembakan di kantor Charlie Hebdo Paris, dengan judul "kebebasan seperti ini harus diterima!"

"Batu-batuan dan kemudian sebuah benda terbakar dilemparkan melalui jendela," kata seorang juru bicara polisi kepada kantor berita AFP. "Dua kamar di lantai bawah rusak tetapi api dipadamkan dengan cepat."

Tidak ada seorangpun yang terluka dalam serangan itu, yang menurut polisi terjadi sekitar 01:20 GMT. Dua orang ditahan, sementara pihak keamanan negara telah memulai penyelidikan.

Polisi Hamburg telah menahan dua tersangka pelaku serangan.

Kantor berita Jerman DPA melaporkan bahwa serangan itu terjadi di halaman kantor dan mengenai ruang arsip surat kabar menghancurkan beberapa catatan.

DPA mengutip seorang juru bicara polisi mengatakan bahwa tim editorial harus dapat melanjutkan pekerjaan karena kerusakan di gedung relatif kecil.

“Masih dicari tahu apakah ada hubungan antara kartun Charlie Hebdo dan serangan tersebut," juru bicara polisi mengatakan, menambahkan bahwa "terlalu cepat" untuk mengetahui secara pasti.

Polisi menolak untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang tersangka.

Tidak ada seorang pun di Morgenpost Hamburger yang bisa segera dihubungi untuk memberikan komentar. Morgenpost Hamburger Morgenpost Hamburger dikenal secara lokal sebagai MOPO dan memiliki sirkulasi sekitar 91,000 eksemplar.

 "Asap tebal masih menggantung di udara, polisi sedang mencari petunjuk," kata surat kabar itu dalam edisi online-nya.

Beberapa surat kabar Jerman menerbitkan kartun nabi Muhammad dari Charlie Hebdo di halaman depan mereka pada hari Kamis menunjukkan solidaritas dengan kartunis Perancis dan membela kebebasan berbicara.

 

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

3 Polisi MesirTerluka Dalam Serangan di Giza

MESIR (Jurnalislam.com) – Tiga polisi Mesir terluka dalam serangan penembakan di hari Sabtu di provinsi Giza, barat Kairo, sumber keamanan mengatakan Ahad (11/01/2015).

Sumber yang tidak ingin disebut identitasnya mengatakan kepada The Anadolu Agency "Militan tak dikenal menembaki sebuah pos pemeriksaan polisi di kota Giza, meninggalkan tiga polisi terluka" .

Para penyerang menghilang dari TKP segera setelah serangan itu, ia menambahkan.

Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan, yang terbaru dalam serangkaian serangan yang terutama ditujukan pasukan keamanan rezim Mesir sejak penggulingan tahun lalu presiden Mohamed Morsi oleh tentara pada tahun 2013.

Dua Faksi Jihad – "Ansar Beit al-Maqdis," yang sebagian besar aktif di Semenanjung Sinai, dan "Agnad Misr" – telah mengaku bertanggung jawab atas beberapa serangan.

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

 

Badai Musim Dingin Melanda Gaza : Dua Bayi Meninggal Kedinginan

GAZA CITY (jurnalislam.com) – Dua bayi Palestina meninggal akibat cuaca dingin ekstrim yang melanda Jalur Gaza, kata seorang pejabat pada hari Sabtu (10/1/2015).

"Seorang balita perempuan usia 2 bulan dari kota Gaza selatan Khan Younis meninggal pada hari Jumat akibat "obstruksi (sumbatan) paru yang disebabkan oleh cuaca dingin," kata juru bicara Kementerian Kesehatan Ashraf al-Qudra.

"Seorang anak laki-laki umur 1 bulan, juga dari Khan Younis, meninggal hari Sabtu," tambahnya tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Dinas pertahanan sipil Gaza mengatakan bahwa puluhan rumah di wilayah pesisir, sudah porak-poranda oleh perang tahun lalu dengan Israel. Daerah itu juga dilanda banjir dalam badai ganas dan angin kencang.

Yang terparah adalah sebelah selatan kota Rafah, di perbatasan Mesir. "Setelah hujan yang sangat deras, rumah-rumah digenangi banjir hingga mencapai kedalaman satu meter dan di tempat lain hingga satu setengah meter," kata seorang juru bicara, sembari menambahkan bahwa para penghuni telah dievakuasi ke sekolah.

Seorang fotografer AFP melaporkan, Tim SAR telah menyelamatkan beberapa orang yang terperangkap dengan menggunakan perahu nelayan kecil. Pihak berwenang Palestina yang berbasis di Tepi Barat mengumumkan keadaan darurat di seluruh Palestina ketika badai menghantam pada Rabu (8/1/2015).

Lebih dari 100.000 rumah Gaza rusak selama 50 hari digempur Israel dan Pejabat kesejahteraan PBB tahun lalu mengatakan bahwa 17.000 orang pengungsi masih tinggal di sekolah-sekolah.

Satu-satunya pembangkit listrik di Gaza, yang rusak selama perang berada dalam kondisi memperihatinkan dengan kekurangan bahan bakar dan hanya mampu memasok listrik enam jam per hari.

Badai juga melanda Suriah dan Lebanon, sedikitnya tiga orang Suriah termasuk seorang anak meninggal kedinginan di Lebanon.

 

Muhammad Faris | DBS | Jurniscom