Densus 88 Tangkap 5 Orang yang Diduga Kelompok MIT, Satu Meninggal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Lima orang yang diduga terlibat kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri di Poso, Sulawesi Tengah. Dalam penangkapan tersebut, Densus 88 menembak seorang terduga teroris bernama Ilham Syafii hingga meninggal.

“Pada Sabtu, tim Densus berhasil menangkap 5 terduga teroris di Poso. Kelima tersangka masuk daftar pencarian orang sesuai peran masing-masing," kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Pol Ronny F Sompie dalam pesan singkat kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/1/2015).

Sementara berdasarkan keterangan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Kombes Pol Agus Rianto, terduga Ilham Syafii melakukan perlawanan saat akan ditangkap di perkebunan Desa Bungadidi, Dusun Beringin, Kecamatan Tanalili, Kabupaten Luwu Utara pada Sabtu 10 Januari 2014 sekira pukul 09.45 WITA.

"Saat di perkebunan target melakukan perlawanan sehingga terjadi baku tembak yang mengakibatkan tersangka meninggal dunia," ujarnya, Minggu (11/1/2015)

Menurut Agus, Ilham diduga terlibat kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. Ia pernah mengikuti pelatihan militer bersama kelompok teroris pimpinan Santoso dan Daeng Koro.

"Syafii merupakan kurir dan diduga mengetahui persembunyian DPO teroris," jelas Agus.

Polisi pun menyita satu pucuk senjata pistol jenis Browning Hi Power Automatic Calibre 9 mm, peluru lima butir kaliber 9 mm, satu buah handphone jenis Samsung, dan pisau lipat merk Eiger.

Di tempat terpisah Densus 88 juga menangkap Ipul alias Saiful Jambi di Jalan Pulau Sabang, Poso, Sulawesi Tengah. Serta seorang bernama Ruatam alias Ape ditangkap di Jalan Mentawai, Kayamanya.

"Keduanya diduga kuat membantu pelarian serta menyembunyikan DPO teroris Daeng Koro atas nama Sabar dan Santoso," tutur Agus.

Tak hanya itu, Densus 88 juga menangkap pasangan suami istri bernama Hasan dan Ros. Mereka ditangkap di depan SMA 4 Poso pada pukul 14.15 WITA. Keduanya disebut-sebut sebagai jaringan kelompok Santoso dan diduga menerima serta mengirimkan logistik kepada kelompok tersebut.

"Dari pasangan tersebut, kami berhasil menyita uang tunai yang jumlahnya lebih dari Rp 23 juta," pungkasnya.

Ally | OkeZone | Jurniscom

Pekan Depan ANNAS Gelar Bedah Buku ‘Syiah Ancam NKRI’

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Revolusi Iran tahun 1979 telah membawa Syiah mengalami evolusi dan transformasi. Dalam gerakannya, revolusi itu telah membawa Iran melakukan ekspansi ideologi secara massif dan ofensif ke berbagai Negara tak terkecuali Indonesia.

Kehadiran ideologi Syiah Iran tidak sedikit telah menimbulkan ancaman, bukan hanya kepada agama Islam, tetapi juga sangat berpotensi mengancam keutuhan dan kedaulatan suatu Negara.

Apa dan bagaimana bentuk ancaman terhadap keutuhan dan kedaulatan NKRI? Untuk mencari jawabnnya Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) akan menggelar bedah buku “Syiah Menurut Sumber Syiah, Ancaman Nyata Bagi NKRI” karya Dr. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, MM.

Hari / Tanggal : Sabtu, 26 Rabi’ul Awwal 1436 H / 17 Januari 2015 M

Waktu :  Pkl.09.00 – 12.00 WIB

Tempat :  Masjid Al Fajr, Jl. Cijagra Raya Buah Batu Bandung

Pembicara :

KH. Athian Ali M. Da’i, Lc. MA (Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah/ANNAS)

Kol. Purn. TNI. H. Herman Ibrahim (Pengamat Intelijen, Dewan Pakar ANNAS)

Dr. H. Abdul Chaie Ramadhan, SH, MH, MM (Komisi Perundang-undangan MUI Pusat, Dewan Pakar ANNAS)

Moderator :  Tardjono Abu Muas (Sekretaris ANNAS)

Live Streaming : www.radiorisalah.com

Contact Person : Tarjono Abu Muas (081 223 723 714)

Peserta : Umum & Gratis

 

Ally | Jurniscom

 

Oknum Petugas Lapas Salemba Ikut Pesta Miras di Ruang Tahanan Adik John Key

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Peristiwa pengeroyokan dua terpidana kasus terorisme asal Medan Fadly Sadama dan Agus Sunyoto, Jumat (9/1/2014) kemarin berawal dari pesta minuman keras (miras) dan karaoke yang digelar narapidana kriminal kelompok Ambon pimpinan Sammy Key di ruang sel yang berdekatan dengan Fadly dan Agus. Bagaimana miras dan fasilitas karaoke bisa masuk ruang tahanan?

Kepala Lapas (Kalapas) Kelas II Salemba, Abdul Karim Alaydrus mengakui adanya oknum anggotanya berpangkat komandan yang memfasilitasi serta ikut pesta miras dan karaoke yang digelar di ruang tahanan adik dari preman Ambon John Key.

“Saya mendapat kabar anggota saya juga ikut minum-minum. Komandannya sendiri lapor ke saya dan mengakui dirinya bersalah,” kata Abdul Karim.

Menurut pengakuan Kalapas Abdul Karim, ada tiga anggotanya yang ikut berpesta miras dan karaoke bersama Sammy Key.

“Ada tiga orang yang ikut minum. Termasuk komandannya juga ikut minum,” tambahnya.

Namun dirinya mengaku belum mengetahui darimana datangnya minuman tersebut.

“Nanti akan saya proses bagaimana datangnya minuman itu kemudian bagaimana proses pemukulannya,” ujarnya.

Reporter : Hamzah, Irfan | Editor : Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Puluhan Aktifis Islam Datangi LP Salemba Tuntut Kalapas Tindak Tegas Pengeroyok Fadly dan Agus

Kronologis Pengeroyokan Dua Mujahid oleh Kelompok Ambon di LP Salemba

 

 

Puluhan Aktifis Islam Datangi LP Salemba Tuntut Kalapas Tindak Tegas Pengeroyok Fadly dan Agus

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Puluhan aktivis Islam mendatangi Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II Salemba Jakarta Pusat untuk menuntut pertanggungjawaban atas pengeroyokan yang dilakukan oleh narapidana anak buah John Key terhadap dua tahanan terpidana kasus terorisme asal Medan, Fadly Sadama dan Agus Sunyoto.

“Kami menuntut qishash (pembalasan) kepada mereka, tapi qishash itu kembali kepada Akh Fadly dan Agus selaku korban,” kata Abu Musa, perwakilan aktifis di Kantor Lapas Kelas II Salemba, Sabtu (10/1/2015).

Perwakilan aktifis meminta kepada pihak Lapas untuk mengadakan pertemuan antara pihak Fadly dan kelompok Ambon untuk mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya serta menyelesaikan permasalahan.

“Jika Akh Fadly dan Agus memaafkan, maka kasus selesai,” sambungnya.

Beberapa perwakilan aktifis akhirnya diizinkan menemui Fadly dan napi Ambon pelaku pengeroyokan untuk melakukan perundingan.

“Kita minta penjelasan dari mereka (pelaku). Mereka cuma ngangguk-ngangguk aja, ngomong iya-iya aja dan minta maaf,” ungkap Abu Musa.

Abu Musa mengancam mereka untuk segera meminta maaf kepada Fadly dan Agus serta agar tidak mengulangi perbuatannya. “Kalau sampe terjadi lagi, kita akan balik lagi cari kalian,” ancamnya.

Para napi kelompok Ambon pun terlihat sangat ketakutan, lalu meminta maaf kepada Fadly dan perwakilan aktifis.

Selain itu, Abu Musa juga meminta kepada Kepala Lapas (Kalapas) agar para napi kelompok Ambon pimpinan Sammy Key dipindahkan. Namun, Kalapas Abdul Karim Alaydrus mengatakan bahwa semua rutan dan lapas menolak untuk menerima kelompok Ambon pimpinan Sammy Key.

“Sebenernya pada waktu kejaksaan mau masukan dia (Sammy Key) kesini, saya tolak pak. Kata Kejaksaan, semua rutan dan lapas nolak,” ujar Kalapas yang juga mengaku telah memindahkan John Key ke Nusakambangan.

Kata Abdul Karim, setelah dua minggu di sel isolasi, Sammy Key dipindahkan ke ruang tahanan yang berdekatan dengan Fadly untuk menghindari bergabungnya napi Ambon yang lain.

“Ternyata, ambon-ambon yang lain merapat ke tempat si Sammy Key ini. Sampai akhirnya bergabung dan minum-minum,” lanjut Abdul Karim sembari menginformasikan bahwa Sammy Key akan bebas pada bulan Februari ini.

Abdul Karim berjanji akan menindak tegas pelaku pengeroyokan serta oknum petugas lapas yang ikut berpesta miras bersama Sammy Key pada malam kejadian itu.

“Saya akan interview mereka yang terlibat. Setiap kejadian di dalam, apalagi ada yang memukul itu pasti akan kita berikan sanksi. Saya jamin itu,” tegas Abdul Karim.

“Ada beberapa nama yang sudah saya pegang, dan nanti akan saya proses. Karena ini hari libur, Sabtu dan Minggu, saya mungkun akan memprosesnya hari Senin,” pungkasnya.

Reporter : Hamzah, Irfan | Editor : Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Kronologis Pengeroyokan Dua Mujahid oleh Kelompok Ambon di LP Salemba

Kronologis Pengeroyokan Dua Mujahid oleh Kelompok Ambon di LP Salemba

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Dua orang narapidana (napi) kasus terorisme, Faldy Sadama dan Agus Sunyoto dikeroyok beberapa napi kriminal anak buah John Key yang sedang berpesta miras dan karaoke di dalam Lapas Kelas II Salemba, Jakarta Pusat, Jumat (9/1/2015). Fadly dan Agus dikeroyok setelah mereka menegur napi-napi Ambon itu agar menghentikan aktifitas karena mengganggu napi lain yang sedang beristirahat. Berikut kronologis kejadian yang berhasil dihimpun tim liputan Jurniscom :

Pengeroyokan yang terjadi semalam diawali dengan adanya karaokean dan pesta minuman keras (miras) di dalam sel tahanan yang dihuni oleh napi Nashrani asal Ambon itu.

Dalam pengakuannya, akhuna Fadly Sadama dan Agus Sunyoto menjelaskan bahwa dari sore (Jumat 9 Januari 2015),  para napi Ambon itu menyalakan musik dengan keras sambil bernyanyi-nyayi di sel mereka yang bersebelahan dengan sel akhuna Fadly dan Agus.

Bukan hanya berkaraoke, para napi itu juga menenggak minuman keras (miras) dan ditemani oleh oknum komandan regu petugas Lapas yang bertugas jaga malam.

Sampai jam 22.30 WIB para napi itu tidak berhenti menyanyi-nyanyi di sel mereka, hingga akhirnya akhuna Fadly Sadama menegur mereka. Karena dibawah pengaruh minuman keras dan jumlah mereka banyak, mereka lalu memukuli akhuna Fadly. Kemudian datanglah akhuna Agus untuk membantu akhuna Fadly hingga akhirnya mereka berdua dikeroyok oleh napi-napi Ambon kafir itu yang berjumlah sekitar 8 orang hingga akhirnya pengeroyokan itu dilerai oleh patugas LAPAS lain.

Akibat pengeroyokan itu, akhuna Fadly mengalami luka cekikan di leher dan bibir yang terkena pukulan. Sedangkan akhuna Agus mengalami luka di pelipis kiri dan kepalanya.

Pelaku pengeroyokan adalah Samy Key (adik John Key), Pace' dan Jimmy.

Menurut Kepala Lapas (Kalapas) Abdul Karim Alaydrus, pihaknya akan memberikan sanksi tegas kepada oknum Lapas yang ikut pesta miras dan karaokean bersama napi-napi Ambon kafir itu.

“Ada beberapa nama yang sudah saya pegang, dan nanti akan saya proses. Karena ini hari libur, Sabtu dan Minggu, saya mungkun akan memprosesnya hari Senin,” kata Abdul Karim.

Seperti diketahui, akhuna Fadly dan Agus adalah tahanan terorisme kasus CIMB Niaga Medan yang belum lama dipindah ke LP Salemba.

Reporter : Hamzah, Irfan | Editor : Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Puluhan Aktifis Islam Datangi LP Salemba Tuntut Kalapas Tindak Tegas Pengeroyok Fadly dan Agus

Dituduh Jaringan Al Qaedah, Imam London Syeikh Abu Hamza Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup di AS

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Ulama London Syeikh Abu Hamza al-Masri dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara AS pada hari Jumat (09/01/2015) karena dinyatakan bersalah atas tuduhan terorisme, termasuk peran yang dituduhkan dalam penculikan turis Barat tahun 1998 di Yaman yang menewaskan empat sandera.

Hakim Distrik AS Katherine Forrest di Manhattan menjatuhkan hukuman pada Syeikh Abu Hamza .

Hukuman itu dijatuhkan delapan bulan setelah ia dihukum karena beberapa tuduhan, termasuk karena merencanakan untuk mendirikan sebuah kamp pelatihan militan di negara bagian Oregon.

Pengadilan federal Manhattan mengatakan dia juga dihukum karena perannya dalam operasi penyanderaan di Yaman pada tahun 1998 yang mengakibatkan empat orang tewas dan juga karena mengirimkan pengikut untuk melatih mujahidin al-Qaeda.

"Anda belum menyatakan simpati atau penyesalan," kata Forrest kepada Abu Hamza, menambahkan bahwa hanya hukuman seumur hidup yang akan memastikan dia tidak pernah bisa lagi berdakwah.

Sebelum dijatuhi hukuman, Abu Hamza telah mengatakan kepada hakim: "Saya tetap menyatakan tidak bersalah."

Abu Hamza, 56, terkenal untuk khotbah-khotbahnya di Masjid Taman Finsbury di London, yang oleh pihak berwenang AS dan Inggris dikatakan membantu menginspirasi generasi mujahid, termasuk calon pembom sepatu Richard Reid.

Tabloid Inggris menjuluki dia "Hook," karena menggunakan kait logam menggantikan tangannya yang hilang.

Pengacara meminta Forrest untuk memerintahkan agar Abu Hamza ditempatkan di fasilitas medis, daripada penjara "supermax" dimana cacat nya mungkin tidak diobati dengan baik. Forrest mengatakan dia akan membiarkan petugas penjara memutuskan di mana Abu Hamza harus dikirim.

Abu Hamza, yang nama aslinya adalah Mustafa Kamel Mustafa, bersaksi dalam pembelaannya di pengadilan. Dia membantah telah mengirim orang ke Oregon atau Afghanistan, dan mengklaim bahwa ia bertindak sebagai perantara selama penculikan Yaman untuk mencari resolusi damai.

Dia juga berbicara tentang bagaimana ia kehilangan tangannya saat ledakan tak disengaja di Pakistan saat bekerja sebagai seorang insinyur, bertentangan dengan laporan bahwa ia telah kehilangan anggota tubuhnya saat berperang melawan Soviet di Afghanistan pada 1980-an.

Pidatonya yang berapi-api digunakan untuk melawan dia di pengadilan, dan juga untuk memvonis, dimana Forrest mengutip pernyataannya saat ia membenarkan membunuh non-Muslim dan memuji serangan 11 September 2001, yang menewaskan hampir 3.000 orang di Amerika Serikat.

Sebelum diekstradisi tahun 2012, Abu Hamza telah menghabiskan delapan tahun di penjara di Inggris.

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Pesan Syeikh Harits al Nadhari Kepada Bangsa Perancis

JURNALISLAM.COM – Syeikh Harits al Nadhari, seorang Ulama senior AQAP, merilis sebuah pesan audio baru memuji para mujahid yang menyerang Charlie Hebdo.

Sebuah pesan audio yang baru dirilis Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), Syeikh Harits al Nadhari, yang memuji serangan terhadap kantor Charlie Hebdo awal pekan ini.

Meskipun pesan audio tersebut tidak dirilis melalui salah satu saluran resmi AQAP, namun pesan tersebut mencantumkan logo al Malahem Media Foundation, sayap media AQAP.

Syeikh Al Nadhari memulai pesan kira-kira 5 menit dengan mengatakan para kartunis Perancis yang ditargetkan dalam serangan itu adalah "musuh-musuh Rasul Allah, yang telah kafir (ingkar), dan berbohong tentang Nabi Muhammad." Mereka juga "mengotori kalangan anak-anak Perancis," kata Syeikh Al Nadhari.

Syeikh Al Nadhari memuji penyerang tersebut sebagai "pahlawan mujahidin." Dia membenarkan penyerangan dengan mengatakan bahwa Perancis berada "di antara para pemimpin yang tidak percaya / tidak beriman," karena bangsa itu secara teratur telah menghina Islam, menghina Nabi Muhammad, serta para pengikutnya.

Syeikh Al Nadhari menunjuk langsung bangsa Perancis dan bertanya, "Kapan Anda akan berhenti melawan Allah dan Rasul-Nya? Jika Anda masuk Islam, itu akan lebih baik bagi Anda."

Syeikh Al Nadhari menyimpulkan pernyataannya dengan mengatakan Perancis bahwa jika mereka tidak menghentikan agresi mereka terhadap Muslim … "Anda tidak akan diberkati dengan keamanan."

Sebuah pernyataan tertulis yang terpisah, diduga ditulis oleh AQAP, telah disebarluaskan melalui media sosial. Pesannya konon adalah klaim tanggung jawab AQAP atas serangan Charlie Hebdo.

"Operasi ini disutradarai oleh pimpinan Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP)," pernyataan itu berbunyi. Sasaran dipilih dengan sengaja "sebagai balasan atas penggambaran mereka tentang Nabi."

Para penulis pernyataan yang dirilis juga mengklaim bahwa operasi itu merupakan "pelaksanaan peringatan Syeikh Osamah Bin Laden" di mana ia memperingatkan Barat yang terlalu jauh menghina hingga menyinggung perasaan Muslim. Selain itu, pernyataan menjelaskan bahwa AQAP menunda klaim "untuk alasan keamanan" yang berkaitan dengan penyerang.

Pernyataan tersebut menguraikan empat pesan untuk Barat, seperti yang disampaikan dalam serangan Paris. Pertama, melanggar kesucian Islam akan dibayar dengan harga tinggi. Para penulis mengatakan bahwa "hukuman akan kejam dan bermaksud untuk membersihkan." Selain itu, negara-negara Barat akan membayar harga kejahatan mereka "di rumah mereka sendiri." Selain itu, pesan yang diduga dari AQAP juga mengatakan bahwa kebijakan al Qaeda mencolok "kepala ular" sedang berlangsung. Terakhir, pernyataan tersebut mengatakan bahwa Inspire, majalah berbahasa Inggris AQAP, telah "sukses besar," dilihat dari serangan terhadap Charlie Hebdo. Di Inspire, AQAP menyerukan serangan  terhadap Charlie Hebdo dan lain-lain yang menghina Nabi Muhammad.

Setidaknya dua media melaporkan bahwa anggota AQAP telah mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. The Intercept melaporkan bahwa anggota AQAP mengirim publikasi pernyataan yang mengatakan bahwa kelompok "mengarahkan operasi." Dan Associated Press melaporkan bahwa anggota AQAP mengatakan serangan itu diperintahkan "sebagai balas dendam atas kehormatan" Nabi Muhammad SAW.

 

Deddy | The Long War Journal | Jurniscom

 

Kouachi Bersaudara Gugur dalam Penyergapan Polisi Khusus Perancis

PARIS (Jurnalislam.com) – Dua bersaudara penyerang koran penghina Islam Charlie Hebdo dikabarkan gugur dalam penyergapan yang dilakukan polisi khusus Perancis di sebuah toko kelontongan milik seorang dan gudang percetaakan yang diduga menjadi tempat persembunyian Kouachi bersaudara, Jumat (9/1/2015).

Seperti dilansir BBC, polisi menyerang dua tempat berbeda yang diduga menjadi tempat persembunyian kakak-adik Kouachi yakni di sebuah supermarket di bagian timur Paris, di Porte de Vincennes dan di sebuah gudang di Dammartin-en-goele.

Tembakan senjata dan ledakan terdengar dalam penyerbuan di gudang percetakan ketika pasukan komando berseragam hitam menyerbu gudang itu.

Pasukan keamanan mengatakan orang-orang bersenjata keluar dan mengeluarkan tembakan. Sandera berhasil dibebaskan dengan selamat.

Kakak beradik, Said dan Cherif Kouachi, bersembunyi di gudang itu, setelah dikejar polisi di sebuah jalan raya

Tak lama setelah terjadinya serangan di Dammartin-en-Goele, peristiwa terpisah terjadi di bagian timur Paris ketika pasukan keamanan menyerbu sebuah pasar swalayan Yahudi di distrik Porte de Vincennes.

Seorang bersenjata, yang menyandera beberapa orang serta mengancam akan membunuh mereka jika pasukan bersenjata melakukan aksi terhadap Kouachi bersaudara, juga tewas dalam operasi penyerbuan yang dilakukan polisi.

Meskipun begitu, pasukan keamanan mengatakan empat sandera juga tewas.

Saat polisi memasuki tempat itu, terdengar lima ledakan dan tembakan senjata api. Sesudahnya, para sandera dibebaskan dan dibawa ke tempat yang aman.

Hingga kini belum ada informasi tentang nasib perempuan yang disebut memiliki kaitan dengan penyandera di pasar swalayan Yahudi.

Kepolsian Prancis mengatakan mereka mencari Hayat Boumeddiene, 26. Bersama penyandera di supermarket, ia dicurigai terlibat dalam penembakan mati seorang polisi wanita Kamis kemarin.

Sebelum polisi menyerbu, dikabarkan empat sandera tewas dibunuh tersangka. Pelaku pun dipastikan sumber pemerintah telah tewas dalam baku tembak.

Sedangkan sisa sandera yang lainnya dikabarkan selamat dan dua orang polisi terluka.

Ally | BBC | Jurniscom

Presiden Perancis : Serangan Charlie Hebdo Tak Ada Kaitannya dengan Islam

PARIS (Jurnalislam.com) – Teror yang melanda Paris, Prancis beberapa hari belakangan berakhir dengan tewasnya dua pelaku penyerangan majalah Charlie Hebdo. saudara Cherif dan Said Kouachi tewas dalam drama baku tembak dan penyanderaan di Porte de Vincennes dan di sebuah gudang di Dammartin-en-goele.

Setelah peristiwa itu berlalu, Presiden Prancis, Francois Hollande meminta masyarakat Prancis bersatu dan tidak takut dengan teror yang disebar sekelompok orang.

Dilansir dari BBC, Hollande menegaskan meski pelaku adalah orang yang fanatik, tetapi serangan tersebut tak ada kaitannya dengan agama Islam.

"Orang-orang bersenjata itu tak ada kaitannya dengan keimanan muslim (islam)," katanya Jumat malam (9/1/2015) waktu setempat.

Sebelumnya, setelah dua hari menjadi buronan, persembunyian Kouachi bersaudara ditemukan. Ketika akan dibekuk, mereka melakukan penyanderaan dan kembali menewaskan empat sandera dan empat orang luka berat. Dikabarkan, Kouachi bersaudara tewas dalam baku tembak tersebut.

Ally | BBC | Jurniscom

Ansharusyariah : Meski Telah Disesuaikan, ANTV Tidak Akan Bisa Merubah Tampilan Film Abad Kejayaan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Meski telah menegaskan bahwa film Abad Kejayaan tidak ada maksud untuk melecehkan Islam, namun ANTV tetap tidak akan bisa merubah tampilan film tersebut. Pernyataan itu disampaikan perwakilan Ansharusyariah Wilayah Jakarta dalam kungjungannya ke kantor ANTV siang tadi, Jumat (9/1/2015).

“Bapak edit segimanapun barang (film Abad Kejayaan-red) kan sudah barang jadi. Sedangkan dari sisi tampilan awalnya saja, ini potret yang salah,” kata Budi Setiawan, perwakilan Ansharusyariah kepada perwakilan Redaksi ANTV Deddi Refa Utama

Menurut Budhi, King Suleiman yang diceritakan itu merupakan bagian dari sejarah Islam. Namun digambarkan dengan cara yang salah. “Misalnya masalah hijab. Nah, ini kan tampilan yang ditontonkan,” lanjut Budhi.

Sayangnya, Deddi Raffa tidak mengetahui secara utuh fakta sejarah yang terjadi pada masa kekhalifahan Sulaiman yang pada saat itu telah menerapkan Syariat Islam secara sempurna.

“Emang pada saat itu orang pake hijab pak?” tanya Deddi.

Amir Ansharusyariah Wilayah Jakarta, Ustadz Haris Amir Falah menjelaskan bahwa masa kekhalifahan Sulaiman adalah masa dimana kemurnian Islam masih terjamin oleh hadits Rasulullah.

“Rasulullah mengatakan, sebaik-baik zaman adalah masa aku, para sahabatku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya. Nah, itu adalah periodenya kekhilafahan Sulaiman. Jadi pada zaman itu Sunnah masih terjada betul,” papar Ustadz Haris.

Mengetahui ada hal yang sensitif dalam film tersebut, pihak ANTV telah melakukan editing. "Dari satu season 50 episode, mungkin cuma jadi 35 sampai 40 episode. Sekian ribu dollar itu kami hilangkan demi untuk menjaga hal-hal yang sensitif," kata Titi selaku divisi programming ANTV.

Titi mengatakan, pihak ANTV akan mendatangi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk mendiskusikan lebih lanjut penayangan film tersebut.

Reporter : Irfan | Editor : Ally | Jurniscom