Jabhah Nusrah Ancam Eksekusi Tentara Lebanon

SURIAH (Jurnalislam.com) – Jabhah Nusrah yang dalam beberapa bulan terakhir telah menangkap beberapa tentara Lebanon, mengancam pada hari Rabu besok (14/01/2015) akan mengeksekusi beberapa sandera.

"Tunggu kejutan dari kami mengenai nasib tentara yang kami tangkap," tulis Jabhah Nusrah via Twitter.

Bersama dengan pesannya, Jabhah Nusrah menerbitkan foto-foto yang menunjukkan beberapa tentara Lebanon terikat dan tergeletak di tanah sementara lima mujahidin Jabhah Nusrah mengarahkan senjata kepada mereka.

Jabhah Nusrah, yang berjuang melawan rezim Syiah Suriah Bashar Assad, telah menangkap 17 tentara Lebanon.

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Angela Merkel : Islam "Milik Jerman"

JERMAN (Jurnalislam.com) – Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan pada hari Senin (12/01/2015) bahwa Islam adalah "milik Jerman," dalam kalimat yang jelas menolak pengunjuk rasa anti-imigrasi yang berkumpul di Dresden dan kota-kota lainnya.

Sehari setelah berjalan bergandengan tangan dengan Presiden Perancis Francois Hollande di depan pawai besar-besaran di Paris untuk menghormati korban pembunuhan, Merkel menerima perdana menteri Turki dan mendesak dialog antar agama.

Pernyataan Merkel yang menunjuk pada komentar yang dibuat oleh mantan Presiden Jerman Christian Wulff pada 2010, memicu perdebatan sengit.

"Mantan Presiden Wulff mengatakan Islam adalah milik Jerman. Itu benar. Saya juga memegang pendapat ini," kata Merkel pada konferensi pers dengan Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu, yang juga mengambil bagian dalam unjuk rasa di Paris pada hari Minggu.

Dia berbicara beberapa jam sebelum pawai dimulai oleh gerakan PEGIDA, atau Patriotik Eropa Melawan Islamisasi Barat, di beberapa kota di Jerman.

Demonstrasi yang diluncurkan di Dresden tersebut, telah dikerdilkan oleh kontra-protes. Merkel mengatakan unjuk rasa PEGIDA diselenggarakan oleh orang-orang dengan "kebencian di dalam hati mereka".

Merkel mengatakan pemerintahnya sedang melakukan segala sesuatu untuk memastikan para imigran berhasil diintegrasikan ke dalam masyarakat Jerman terlepas apapun agama mereka.

Tapi dia mengakui perlunya dialog antar agama yang lebih baik, memuji Muslim yang di depan publik menolak penggunaan kekerasan setelah pembunuhan Paris dan menyebut bahwa  Turki adalah sekutu mereka dalam perang melawan terorisme.

Dia dan Davutoglu mengumumkan bahwa pemerintah mereka akan memulai konsultasi rutin Jerman-Turki, dalam format kabinet mereka bertemu sekali setahun dan menyediakan tempat untuk beberapa sekutu terdekat Berlin, seperti Israel dan Perancis.

Merkel dan politisi Jerman lainnya mengambil bagian berjaga serius di Gerbang Brandenburg di Berlin, pada hari Selasa. Organisasi Muslim menyebut acara tersebut untuk mengenang para korban serangan terhadap koran satir Perancis, Charlie Hebdo dan toko makanan halal di Paris.

Davutoglu mengatakan bahwa sangat penting untuk memerangi segala bentuk Islamophobia di Jerman. Hampir dua dari tiga warga Muslim di Jerman yang berjumlah empat juta orang berasal dari Turki. Kira-kira setengah dari mereka adalah warga Jerman.

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Para Komandan Militer Zionis Akui Kegagalan Agresi Terakhir ke Gaza

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Dua komandan penting militer ‘Israel’ mengakui kegagalan operasi militer mereka ke Jalur Gaza, tak berhasil mewujudkan target-targetnya, tak bisa menggertak Hamas, dan justru ‘Israel’ harus membayar mahal dengan kerugian-kerugiannya.

Jenderal Yoav Galant, mantan calon menteri pertahanan ‘Israel’ dalam statemennya kepada Koran ‘Israel’ Yediot Aharonot mengakui, tiga standar yang digunakan untuk mengukur keberhasilan operasi Tebing Cadas di Jalur Gaza menegaskan kegagalan ‘Israel’ dalam mewujudkan targetnya. Ia mengisyaratkan, tiga standar tersebut; agresi tidak menelan biaya tinggi, tidak lama, berkualitas dan memberikan keuntungan. Namun perang itu tak mewujudkan target apapun. Namun justru ‘Israel’ membayar mahal berupa kerugian lainnya.

Galant menyinggung, ‘Israel’ membuang peluang bisa mewujudkan sejumlah hasil berbeda dan lebih baik dari yang sudah ada. Pasukan ‘Israel’ yang memiliki kelebihan dalam banyak hal, juga memiliki pengalaman tidak terbatas dalam melakukan maneuver dan kekuatan besar namun tidak bisa dimanfaatkan oleh ‘Israel’.

Galant mengklaim, ‘Israel’ lebih kuat di banding Hamas ribuan kali lipat namun ‘Israel’ lemah dalam di level pengambilan keputusan dan pengendalian kepemimpinan serta tidak ada pengembangan teknik saat mengatur strategi peperangan.

Di sisi lain, mantan wakil panglima perang ‘Israel’ Yair Naveh mengakui, pimpinan militer ‘Israel’ gagal selama agresi terakhir ke Jalur Gaza dalam memperlakukan terowongan perlawanan Palestina yang digunakan untuk menyerang. Ia menyinggung, intelijen ‘Israel’ tidak bisa memprediksi dan menentukan sikap dengan baik saat perang 2014 berhadapan dengan Hamas di Jalur Gaza dan gagal dalam memprediksi kemampuan Hamas dalam kegigihannya bertempur.

Galant menyerukan ‘Israel’ agar memahami dengan utuh bahwa mereka tidak akan bisa memastikan kemenangan dengan Hamas dengan cepat sebab situasi sangat pelik dan ia memprediksi pertempuran ke depan akan lebih memakan waktu lama.

 

Deddy | Infopalestina | Jurniscom

Barbuk Rp 36 Juta Milik Hasan Pemberian BNPT

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Fakta lain yang diungkap Harits Abu Ulya dari penangkapan 5 orang di Poso, Sulawesi Tengah pada hari Sabtu (10/1/2015) adalah terkait salah korban bernama Hasan. 

Menurut keterangan kepolisian, dalam penangkapan Hasan, warga Poso yang ditangkap Densus 88 bersama istrinya, polisi mendapatkan barang bukti uang sejumlah Rp 30 juta. Padahal, kata Harits, uang tersebut adalah pemberian BNPT kepada Hasan dua hari sebelum ditangkap. Seminggu sebelumnya Hasan mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Poso yang digelar BNPT di Maliwuko dan Balai Benih Desa Pandiri.

“Ikut menerima dana dari BNPT sebesar Rp 30 juta setelah seminggu sebelumnya bersama beberapa orang lainnya yang diberi pelatihan di BLK Poso oleh BNPT. Penerimaan dana tersebut dilakukan di Markas Polres Poso dan Hasan pun ikut hadir,” ungkapnya.

Adapun data nama-nama peserta pelatihan Manajemen Usaha yang digelar BNPT itu dan dikoordinir oleh Kabag Ops Polres setempat bisa didapat dari pihak BLK Poso dan Balai Benih Pandiri.

“Saya melihat Polri khususnya Densus88 gagal menyelesaikan Poso, dan sangat mungkin pemerintahan Jokowi mengambil kebijakan pengalihan tugas kepada pihak TNI dengan pendekatan teritorial dan operasi teritorial di Poso,” pungkas Harits. 

Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait :

Barbuk Rp 36 Juta Milik Hasan Pemberian BNPT

Harits Abu Ulya : Pembunuhan Terduga Teroris Hanya Akan Membuat Radikalisme Makin Mengkristal

Densus 88 Tangkap 5 Orang yang Diduga Kelompok MIT, Satu Meninggal

 

CIIA : Tanpa Perlawanan, Ilham Syafi’i Diberondong 7 Tembakan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya mengungkapkan fakta terkait pembunuhan brutal yang dilakukan Densus 88 terhadap Ilham Syafi'i. Harits mengatakan bahwa terdapat 7 luka tembak pada tubuh Ilham. 

“Dari kesaksian warga di lapangan, korban tidak melawan, tidak bersenjata dan hasil visum terdapat luka bekas tembakan 2 di kaki kanan, 4 kaki kiri, dan 1 di pinggang,” kata Harits dalam rilisnya kepada Jurniscom, Senin (12/1/2015).

Menurut Harits, korban tidak melakukan perlawanan seperti keterangan kepolisian yang diberitakan media arus utama. Akan tetapi korban lari karena takut.

“Itupun mungkin karena takut karena peringatan jangan lari langsung ditembak,” lanjutnya.

Sementara barang bukti pistol Browning yang diberitakan tidak pernah ada di lokasi. Karena tas pinggang korban berikut isi ditemukan penduduk.

Ilham Syafi'i meninggal ditembak Densus 88 di sebuah perkebunan di Desa Bungadidi, Dusun Beringin, Kecamatan Tanalili, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Sabtu (10/1/2015) sekitar pukul 10.15 WITA.

Ally | Jurniscom

 

Berita Terkait:

Barbuk Rp 36 Juta Milik Hasan Pemberian BNPT

Harits Abu Ulya : Pembunuhan Terduga Teroris Hanya Akan Membuat Radikalisme Makin Mengkristal

Densus 88 Tangkap 5 Orang yang Diduga Kelompok MIT, Satu Meninggal

Apakah ISIS Perpanjangan Tangan Amerika?

Adnan Khan, pertanyaan analisa Pengamat Revolusi (Revolution Observer); apakah ISIS bisa menjadi perpanjangan tangan AS?

Janes intelijen, perusahaan keamanan global bergengsi merilis data baru-baru ini yang menyoroti jumlah operasi yang dilakukan oleh ISIS dan rezim Bashar al-Assad. Ditemukan sekitar 64% dari serangan ISIS telah terverifikasi di Suriah tahun ini (21 November 2013 -21 November 2014) menargetkan kelompok perlawanan lainnya (mujahidin). Hanya 13% dari serangan ISIS selama periode yang sama ditargetkan kepada pasukan Assad. Hal ini juga ditemukan dalam operasi-operasi kontra-terorisme rejim Assad, lebih dari dua-pertiga serangan udara, sangat condong terhadap berbagai kelompok yang namanya bukan ISIS. Dari 982 operasi kontraterorisme tahun ini, hanya 6% yang secara langsung ditargetkan pada ISIS.

Tindakan ISIS sejak kemunculannya telah menyebabkan banyak kecurigaan akan koordinasi di antara mereka dan rezim Suriah. Di RO (Revolution Observer, pent) kami terus menerima banyak pertanyaan tentang kemungkinan ISIS menjadi kepanjangan tangan AS dan kecurigaan kolusi antara ISIS dan rezim al-Assad. Karenanya kami pikir ini akan menjadi saat yang tepat untuk menganalisa klaim tersebut, apalagi sekarang ada bukti nyata dari ISIS dan pasukan rezim Assad, terutamanya saling menghindari satu sama lain.

Asal Usul ISIS

Asal usul ISIS agak gelap dan mungkin menjadi alasan banyaknya muncul kecurigaan atas mereka. Semua pemimpin senior ISIS berkumpul di Camp Bucca pada tahun 2004 di tengah-tengah pemberontakan melawan pasukan koalisi selama perang Irak. The Guardian melakukan pencarian yang panjang dan eksklusif atas ISIS pada tanggal 11 Desember 2014 dan mewawancarai komandan senior ISIS. Komandan ISIS, Abu Ahmed menegaskan penjara yang dijalankan AS memberikan kesempatan yang luar biasa. "Kami tidak pernah bisa bersama-sama semua berkumpul seperti ini di Baghdad, atau di mana pun. Itu akan menjadi kemustahilan yang berbahaya. Di sini, kami tidak hanya aman, tapi kami hanya beberapa ratus meter dari seluruh kepemimpinan al-Qaida. "

Abu Ahmed menjelaskan bagaimana Camp Bucca diorganisir. Sebagian besar tahanan pengikut Baghdadi – sekitar 24.000 orang, dibagi kedalam 24 kamp. Penjara dijalankan dalam garis hirarki yang ketat, sampai ke pola warna seragam ala-Teletubbies yang memungkinkan sipir dan tawanan sama-sama mengenali tempat masing-masing tahanan menurut tingkatan kekuasaan. Ketika ISIS mengamuk di daerah, maka serangan itu dipimpin oleh orang-orang yang telah menghabiskan waktu di pusat-pusat penahanan AS selama pendudukan Amerika di Irak. Menurut Hisham al-Hashimi, analis daerah Baghdad, pemerintah Irak memperkirakan bahwa 17 dari 25 pemimpin Daulah Islam yang paling penting dalam menjalankan perang di Irak dan Suriah menghabiskan waktu di penjara-penjara AS antara 2004 dan 2011.

Pada Desember 2004, Baghdadi dianggap oleh sipir penjara tidak menimbulkan risiko lanjutan dan dibebaskan pihak berwenang. "Dia sangat dihormati oleh tentara AS," kata Abu Ahmed. "Jika dia ingin mengunjungi orang di kamp lain dia bisa, tapi kita tidak bisa. Efektif di penjara, semua pangeran ISIS bertemu secara teratur. Orang-orang yang paling penting dalam Bucca adalah mereka yang telah dekat dengan Zarqawi. Tapi pertanyaan yang tersisa adalah bagaimana ISIS bergeser dari sebuah komplotan di penjara menjadi organisasi militan utama di dunia?

Di sinilah orang-orang Ba`ath Saddam Hussain menerima persamaan, yang kehilangan segalanya ketika Saddam digulingkan. Pada tahun 2008 pertemuan antara orang-orang yang akan membentuk ISIS dan kaum Ba`ath menjadi sering. Dalam pendalaman Guardian terhadap Abu Ahmed, seorang komandan senior ISIS menegaskan: "pertemuan ini telah menjadi jauh lebih sering – dan banyak darinya berlangsung di Suriah." Bashar al-Assad memiliki sejarah panjang dalam mempersenjatai dan mendukung kelompok- kelompok Jihadi, untuk kepentingan strategisnya sendiri.

ISIS dan rezim Assad

Pada bulan Mei 2006, laporan triwulanan Departemen Pertahanan AS, berjudul "Mengukur Stabilitas dan Keamanan di Irak," diuraikan: "…. Suriah terus memberikan tempat perlindungan yang aman, transit perbatasan, dan dukungan logistik yang terbatas pada beberapa pemberontak Irak, khususnya elemen-elemen Partai Baath Irak era mantan-Saddam. Suriah juga memungkinkan mantan unsur rezim untuk terlibat dalam kegiatan organisasi, sehingga Suriah telah muncul sebagai pusat organisasi dan koordinasi yang penting bagi unsur-unsur rezim Irak. Meskipun keamanan dan intelijen Suriah terus menahan dan mendeportasi para pejuang-terkait Irak, Suriah tetap menjadi gerbang utama pejuang asing menuju Irak … "

Basyar Assad dan tentaranya.Ada bukti yang lebih memberatkan akan kolusi rezim Suriah rezim-ISIS. The Guardian secara teratur mewawancarai Mayor Jenderal Hussein Ali Kamal, direktur intelijen di Irak, sampai kematiannya pada awal 2014. Salah satu tugasnya adalah untuk mengamankan Baghdad terhadap serangan teror. Kamal, yang didiagnosa menderita kanker pada tahun 2012 dan meninggal awal tahun ini, mengizinkan  wartawan Guardian untuk mempublikasikan rincian dari percakapan mereka. Wartawan The Guardian dikonfirmasi ketika ia pertama kali bertemu Kamal pada tahun 2009, ia meneliti transkrip rekaman yang telah dibuat pada dua pertemuan rahasia di Zabadani, dekat Damaskus, pada musim semi tahun 2009. Kemal menegaskan dalam wawancara dengan Guardian bahwa jihadis Irak , pejabat Suriah dan Ba'athists dari kedua negara dari Irak dan Suriah dibawa bersama-sama: "Kami punya seorang sumber di ruangan yang mengenakan kabel pada pertemuan di Zabadani. Dia adalah sumber yang paling sensitif yang pernah kita miliki. Sejauh yang kami tahu, ini adalah pertama kalinya telah terjadi pertemuan tingkat strategis antara semua kelompok-kelompok ini. Ini menandai titik baru dalam sejarah."

Pada bulan Maret 2010, pasukan Irak, menangkap seorang pemimpin ISIS bernama Munaf Abdul Rahim al-Rawi, yang diturunkan menjadi salah satu komandan utama kelompok itu di Baghdad, dan salah satu dari sedikit orang yang memiliki akses ke kelompok itu (ISIS) setelah pimpinan, Abu Omar al-Baghdadi. Tiga badan intelijen utama Irak, bersekongkol untuk mendapatkan alat penyadap dan pelacak lokasi GPS dalam kotak bunga yang dikirim ke tempat persembunyian Abu Omar. Persembunyian Abu Omar tidak memiliki koneksi internet atau saluran telepon – semua pesan penting dibawa masuk dan keluar oleh  hanya tiga orang. Salah satunya adalah Abu Bakar al-Baghdadi. Kematian Abu Omar al-Baghdadi dan Abu Ayub al-Masri mengosongkan posisi yang dengan cepat diisi oleh alumni dari Camp Bucca – yang mana eselon tingkat atas mulai mempersiapkan untuk momen sejak saat mereka di penjara di selatan Irak. "Bagi kami itu adalah sebuah akademi," ujar Abu Ahmed, "tetapi untuk mereka" – para pemimpin senior – "itu adalah manajemen sekolah. Tidak ada kekosongan sama sekali, karena begitu banyak orang telah dibimbing di penjara.

Merebut Mosul

ISIS menimbulkan keburukan saat penaklukan atas Mosul. Mosul, kota terbesar di Irak setelah Baghdad adalah ibu kota provinsi dan penduduknya digadangkan sekitar 1,8 juta. Matematika sederhana. Tentara Irak memiliki 250.000 tentara, musuhnya, ISIS, memiliki sekitar 1.500. Tentara Irak memiliki tank, pesawat, dan pelatihan Amerika. ISIS tidak pernah menerjunkan tank atau pesawat. Di Mosul dua divisi tentara ditempatkan di Mosul. Ini adalah sekitar 30.000 tentara, ada juga 10.000 polisi federal, 30.000 polisi setempat dan kemungkinan besar, beberapa petugas Angkatan Al Quds Iran. Pertanyaannya adalah bagaimana kekuatan 15 kali lebih besar dari 1.500 orang ISIS bisa sekaligus dikalahkan?

Para pejabat militer Irak menyadari serangan yang akan datang oleh ISIS. Letnan Jenderal Mahdi Gharawi, komandan operasional provinsi Nineveh, yang mana Mosul adalah ibukotanya, dikonfirmasi dalam beberapa wawancara bahwa pada akhir Mei 2014, pasukan keamanan Irak menangkap tujuh anggota ISIS di Mosul dan mempelajari bahwa kelompok tersebut merencanakan serangan di kota pada awal Juni. Gharawi, meminta komandan yang paling terpercaya Perdana Menteri Nuri al-Maliki untuk bala bantuan. Perwira senior mencemooh permintaan itu.

Serangan terhadap Mosul dimulai pada tanggal 6 Juni 2014, ISIS menyerang Mosul dari barat laut dalam konvoi truk pickup. Pertempuran dalam kota berlangsung selama 3 hari sampai tentara lengang dan melarikan diri. Namun ada banyak tentara dan aparat keamanan, yang dalam wawancara dikonfirmasi, mereka tidak pergi – mereka diperintahkan untuk mundur. Amir al-Saadi, seorang prajurit dari salah satu divisi Angkatan Darat Irak di Mosul menguraikan apa yang terjadi: "Tentara menarik diri dari Mosul dan penarikan itu adalah tanggung jawab komandan senior. Petugas yang bertanggung jawab sedang duduk di kantornya ketika saya datang dengan beberapa prajurit lainnya. Dia mengatakan kepada kami bahwa ia telah menerima perintah untuk menarik diri dari kota secepat mungkin. Ketika dia mengatakan hal itu, kami benar-benar berpikir dia sedang bercanda. Tapi ternyata tidak. Jadi kami pergi keluar dan mengatakan kepada orang lain tentang perintah tersebut. Saat itulah kami mulai meninggalkan pangkalan, setelah mengubah seragam kami ke pakaian sipil."

Letnan Jenderal Mahdi Gharawi mengkonfirmasi hanya tiga orang bisa memberi perintah akhir: Aboud Qanbar, pada saat itu menjabat wakil kepala staf kementerian pertahanan; Ali Ghaidan, kemudian komandan pasukan darat; atau Maliki sendiri, yang secara pribadi mengarahkan para petugas paling senior dari Baghdad. Rahasia akan siapa yang memutuskan untuk meninggalkan Mosul, ujar Gharawi, berada pada ketiga orang ini. Gharawi mengatakan keputusan oleh Ghaidan dan Qanbar meninggalkan tepi barat Mosul memicu desersi massal karena tentara menyangka komandan mereka telah melarikan diri.

Semua bukti mengarah bahwa Mosul tidaklah ditinggalkan, melainkan karena perintah-perintah yang diterima para tentara untuk meninggalkan kota, tapi juga meninggalkan peralatan mereka di belakang. Maliki, sejak ia muncul sebagai perdana menteri Irak, mengkonsolidasi dan memusatkan semua departemen dan kementerian kunci kedalam kantor pribadinya, oleh karena itu keputusan untuk meninggalkan kota hanya bisa datang dari Maliki sendiri. Hal ini akan melemahkan posisinya jauh di Irak dan terutama dari basis dukungan Syiah-nya. Ia hanya akan melakukan ini jika tekanan itu berasal dari AS, karena tidak ada seorang pun memiliki begitu banyak pengaruh untuk memaksa Malaki kedalam keputusan seperti ini. ISIS telah mematahkan pemberontakan di Suriah melalui aksi-aksinya sejak pengumuman -dari apa yang disebut "Khilafah". Senjata dan peralatan serta uang diperoleh dari Mosul adalah yang mempercepat untuk ini.

Khilafah ISIS

Tindakan ISIS sejak saat mengumumkan "Khilafah”-nya telah menyebabkan keretakan pada kesatuan kelompok perlawanan. Hal ini karena negara ISIS ini didasarkan pada metode eksklusif pemerintahan. ISIS mempertahankan kontrol sosialnya dengan cara melenyapkan semua perlawanan. Banyak laporan yang keluar dari Mosul dan di Suriah adalah penduduknya ditangani dengan hukuman, termasuk hukuman mati. Baghdadi mengatakan hal berikut tentang Syiah: "Al Qaeda ingin menjalin hubungan dengan Syiah. Mereka berpikir Syiah adalah saudara mereka meskipun mereka membuat takfir pada semua sahabat dan mereka percaya Quran rusak. Namun al Qaeda ingin menjalin hubungan dengan mereka. Ketika Isis mengambil kota baik kalian pilih meninggalkan syi`ah atau mati. Isis tidak bisa mengambil jizyah dari mereka. Mereka adalah agama yang baru diciptakan sehingga tidak ada jizyah dapat diambil dari mereka. "

Pelaksanaan Islam meliputi pemahaman mereka tentang keimanan dan sebagai hasilnya banyak yang telah dituduh murtad karena berbeda posisi dengan mereka. Berdasarkan hal ini, pengadilan telah diatur dan setiap penentangan terhadap peraturan ISIS atau vonis dilihat sebagai pemberontakan dan telah nampak individu dan kelompok yang dihukum dengan cara eksekusi (dibunuh, pent). Ketika semua kelompok pemberontak memerangi rezim Assad dan melancarkan serangan terhadap Damaskus, ISIS memfokuskan pada menaklukkan wilayah, bukan memerangi rezim Assad.

Telah lama banyak kecurigaan kolusi antara Assad dan ISIS. Analisis database JTIC pada tingkat regional menunjukkan bahwa ada 238 operasi kontraterorisme di Aleppo untuk setahun hingga 21 November – tetapi hanya 14 darinya yang mentargetkan ISIS. Di benteng ISIS Raqqa, ada 22 operasi kontraterorisme tetapi hanya setengahnya yang ditargetkan ke ISIS. ISIS telah banyak menghabiskan beberapa bulan terakhir dalam pertempuran di Kobani, yang memiliki nilai strategis yang sangat kecil dan memiliki nilai nol akan kehadiran rezim Assad, daripada berhadapan dengan rezim Assad di Aleppo yang diserang intens.

Yusuf Abu Abdullah, salah satu pemimpin Pasukan Al-Mujahiddin di Aleppo, mengatakan saat pejuangnya telah menyerang basis rezim, mereka telah berada di bawah serangan terpisah dari ISIS. Itu memaksa mereka untuk mundur dan jadi memerangi ISIS (karena diserang oleh ISIS, pent) bukannya pasukan Assad. Angkatan udara Assad tidak menargetkan kamp-kamp besar yang dioperasikan oleh ISIS di beberapa bagian negara, yang terus menerus memperlihatkan itu di akhir serangan-serangan udaranya [11] dan banyak pembelot dari tentara Assad telah menunjukkan beberapa komandan lapangan ISIS adalah mantan perwira militer atau intelijen tentara Suriah. Penjualan minyak dan gas antara ISIS dan rezim Assad juga menjadi kejadian biasa.

Serangan kembali AS ke Irak dan kemudian ke Suriah telah sangat meragukan. ISIS mulai dari Irak dan telah terus-menerus mengalir melintasi perbatasan Irak-Suriah, mereka telah memindahkan perbekalan dalam konvoi truk tetapi belum ditargetkan oleh AS. AS memberi ISIS perlindungan ketika melakukan serangan di Suriah terhadap sebuah kelompok baru meragukan yang dikenal sebagai 'Khorasan,' yang mana disebutkan pejabat sedang merencanakan sebuah serangan dalam waktu dekat negri AS. Anehnya, sejarah Khorasan adalah hampir tidak ada, dan pejabat AS tidak pernah menyebutkan kelompok itu sampai minggu sebelum serangan dimulai di Suriah. Diperkirakan 50 pejuang, kelompok tiba-tiba menjadi alasan besar untuk intervensi militer, meskipun sebuah serangan mendadak udara pada 23 September 2014 dilaporkan menewaskan 30 dari mereka.

Andrew McCarthy, mantan jaksa federal terorisme AS yang disorot di majalah National Review: "Anda belum mendengar tentang kelompok Khorasan karena memang ia tidak ada. Ini adalah nama administrasi yang datang dengan perhitungan bahwa Khorasan memiliki hubungan yang cukup dengan para jihadis."

Harakat Hazm menyoroti serangan udara adalah upaya signifikan AS untuk menghancurkan Jabhat al-Nusra, dan upaya yang sangat kecil untuk menghancurkan ISIS, serta tidak ada upaya sama sekali untuk menghancurkan Assad. Hal ini sangat penting karena Harakat Hazm, yang bersekutu dengan didukung CIA-Tentara Pembebasan Suriah, adalah salah satu kelompok pemberontak pertama yang menerima rudal anti-tank AS. Yang secara efektif menjadikannya sebagai salah satu sekutu yang paling dipercaya Amerika dalam konflik Suriah.

AS telah berusaha untuk menggagalkan pemberontakan di Suriah sejak hari pertama dimulainya. Meskipun hal itu mampu untuk mengalihkan pemberontakan lain di musim semi Arab (Arab Spring, pent) yang lebih luas, mereka telah gagal untuk melakukannya di Suriah di mana orang-orang telah mempertahankan orientasi Islam mereka dalam kondisi yang hampir hancur. Tidak dapat kasar bersama oposisi yang loyal, para tahanan AS kemudian mendirikan ISIS yang telah mencapai lebih dari yang AS sanggup untuk mencapainya.

Prioritas ISIS di Suriah ialah menaklukkan wilayah daripada memerangi rezim Assad, yang telah melemahkan perlawanan pemberontak terhadap Assad. Selama periode ini Assad telah duduk santai dan menonton para pemberontak berperang satu sama lain di utara Suriah dan meluncurkan serangan ketika kesempatan muncul terhadap garis depan pemberontak yang melemah. Hanya ada satu wujud yang telah mendapatkan manfaat dari kebangkitan ISIS dan apa yang telah mereka capai dan ia adalah AS yang sedang berjuang menggagalkan pemberontakan di Suriah. (AF | 5pillarsuk | Jurniscom)

Bom Pinggir Jalan Kembali Menghantui Pasukan Afghanistan

HERAT, AFGHANISTAN (jurnalislam.com) – Kantor berita Xinhua memberitakan, dua orang termasuk kepala agen intelijen distrik Shindad di sebelah barat provinsi Herat terluka ketika sebuah bom punggir jalan menghantam kendaraan mereka pada Ahad (11/1/2015), kata polisi.

"Sebuah ranjau yang ditanam oleh "militan" menghantam mobil kepala intelijen distrik Shindad siang tadi, beberapa orang lainnya juga turut terluka," juru bicara polisi Abdul Rauf Ahmad menjelaskan.

Penyelidikan sedang dilakukan untuk mengidentifikasi dan menegakkan keadilan kepada para pelaku, dia menambahkan.

Mujahidin Taliban yang banyak melakukan serangan bom syahid dan bom pinggir jalan belum memberikan pernyataan bertanggung jawab. (AF|Xinhua| Jurniscom) 

Kampung Anti Miras Dibangun di Jakarta

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gerakan Nasional Anti Miras (GeNAM) Chapter Jakarta bersama warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan mendirikan Kampung Anti Miras. Ketua Umum GeNAM Fahira Idris mengatakan, pendirian Kampung Anti Miras adalah strategi GeNAM untuk mempersempit peredaran Miras khususnya di Jakarta. Baik Peraturan Presiden (Perpres No.74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol) dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag No.43/M-DAG/PER/2009 dan Permendag No 20/M-DAG/PER/4/2014 tentang Pengadaan, Pengedaran, Penjualan, dan Pengendalian Minuman Beralkohol) sudah tegas melarang Miras dijual selain di hotel.

“Tetapi kenyataannya semua mini market di Jakarta itu jual Miras. Kalau peraturan sudah tidak diindahkan dan aparat penegak hukum tidak aware, berarti kita, warga masyarakat yang harus bertindak,” ujar Fahira, saat Deklarasi Pendirian Kampung Anti Miras di Lapangan Balai Warga RT 14/RW 05, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Ahad Sore, (11/01/2015).

Menurut Fahira, Jakarta adalah salah satu dari banyak daerah di Indonesia yang belum punya Perda Miras sehingga di kota ini peredaran Miras begitu bebasnya, bahkan anak SMP sekalipun sudah bisa membeli Miras.

Beberapa daerah, kata Fahira, yang sudah punya Perda Miras seperti Bandung, Depok dan Balikpapan, mini market dan kios-kios di daerah tersebut tidak berani lagi menjual Miras, karena ada sanksi denda hingga pidana jika melanggar.

Pendirian kampung anti Miras ini, lanjut Fahira, adalah upaya GeNAM untuk mengajak warga Jakarta agar lebih aware bahwa saat ini Miras mengintai generasi muda, sekaligus mengajak aparat penegak hukum khususnya yang ada di Lenteng Agung untuk menertibkan mini market atau warung-warung yang masih menjual Miras.

“Ke depan pendirian kampung-kampung anti Miras akan meluas ke seluruh wilayah Jakarta, dengan begini, wilayah pemukiman di Jakarta akan bebas dari Miras. Kita juga akan galang dukungan warga Jakarta untuk mendesak Gubernur dan DPRD Jakarta untuk segera terbitkan perda Miras agar ada efek jera bagi yang melanggar,” tegas perempuan yang juga senator asal Jakarta ini.

Ketua RW O5 Kelurahan Lenteng Agung Daud Basalmah mengatakan, pendirian kampung anti Miras di wilayahnya untuk melindungi generasi muda dari pengaruh buruk Miras.

“Kami warga RW 05 sangat mendukung gerakan ini. Kami mau kampung kami bebas dari Miras,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua GeNAM Chapter Jakarta Ari Kuncoro mengungkapkan saat ini sudah banyak warga di beberapa kelurahan di Jakarta yang berniat mendirikan Kampung Anti Miras.

“Setelah kita sosialisasikan bahaya Miras yang tidak hanya bahaya bagi kesehatan tetapi juga merusak rasa kemanusian, penghancur generasi muda, dan biang tindakan kriminal, mereka bertekad menjadikan kampungnya anti Miras,” kata Ari Kuncoro.

Ally | Hidayatullah | Jurniscom

Kebebasan Pers Ada Batasannya

BEIJING (jurnalislam.com)– Jutaan orang dan puluhan pemimpin dunia berbaris bersama melintasi Paris pada Ahad (11/1/2015) untuk menunjukkan solidaritas mereka setelah terjadi tiga serangan "teroris" yang terpisah di ibukota Perancis yang menewaskan 17 orang.

Sudah saatnya bagi dunia Barat untuk meninjau akar penyebab "terorisme," serta pembatasan kebebasan pers, untuk menghindari lebih banyak kekerasan di masa depan.

Serangan bersenjata terhadap organisasi media sangat mengejutkan, tapi itu bukan pertama kalinya Charlie Hebdo menjadi sasaran serangan. Mingguan satir Perancis ini memiliki sejarah yang kontroversial dalam kebijakannya terhadap Islam dan budayanya, termasuk pada pemasangan gambar covernya (yang menghina Nabi SAW) beberapa waktu lalu yang telah menyebabkan pemboman dan pembakaran pada kantornya dan tuntutan atas tuduhan penghujatan.

Namun mingguan Perancis ini tetap keras kepala untuk menerbitkan karikatur penghinaan ini, yang mana hal itu telah menjadikan kebebasan berekspresi melewati batas maksimalnya.Serangan terhadap Charlie Hebdo janganlah disederhanakan hanya sebagai serangan terhadap kebebasan pers, bahkan kebebasan itu sendiri memiliki batas-batas, yaitu tidak termasuk menghina, mencibir, atau mengejek agama atau kepercayaan orang lain.

Bahkan sebagian media massa Barat telah mengkritik kebijakan Perancis atas prinsip penerbitan kontroversial yang dianutnya.

"Berarti ini yang harus disampaikan, bahwa tenggang rasa akan berguna pada para penerbit seperti Charlie Hebdo, dan Jyllands-Posten Denmark , yang mengaku menjunjung kebebasan ketika mereka memprovokasi Muslim, tetapi sebenarnya itu hanya merupakan kebodohan," tulis harian Inggris Financial Times pada hari Rabu (7/1/2015).

Selanjutnya tinggal kita lihat, apakah mayoritas media-media Barat akan mengambil pelajaran berharga dari peristiwa serangan terhadap Charlie Hebdo ini ataukah mereka akan tetap bandel mengulang-ulang kesalahan dalam mengambil sikap terhadap Islam dan umatnya?

Jika orang-orang Barat melapangkan dadanya untuk kebebasan media (yang tidak terkontrol), seharusnya mereka pun harus melapangkan hatinya untuk menerima kebebasan bertindak umat Islam. (AF | Xinhua | Jurniscom)

Harits Abu Ulya : Pembunuhan Terduga Teroris Hanya Akan Membuat Radikalisme Makin Mengkristal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri menangkap lima terduga teroris di Poso, Sulawesi Tengah, salah satunya tewas ditembak. Pemerhati Kontra Terorisme, Harits Abu Ulya, menyayangkan terbunuhnya Ilham Safi'i yang diduga sebagai jaringan kelompok Santoso, dalam operasi penangkapan tersebut.

"Densus menangkap orang-orang di ring luar dari lingkaran jejaring Santoso Cs. Tapi menurut saya sangat disayangkan jika jatuh korban tewas lagi, apalagi yang meninggal Ilham Safi'i, diduga kurir Santoso," ungkap Harits kepada Jurniscom, Ahad (11/1/2015).

Dia menambahkan, sebaiknya Densus bisa dilumpuhkan hidup-hidup sehingga akan memudahkan pencarian jejak Santoso. "Tapi kenapa tidak ada prioritas tangkap hidup? Hak diskresi yang melekat pada aparat kepolisian tidak diterjemahkan dalam bentuk pelumpuhan," tegasnya.

Jatuhnya korban tewas saat penindakan, lanjut Harits, akan menambah panjang daftar kasus extra judicial killing yang dilakukan oleh Densus. Di sisi lain justru kasus seperti ini menjadi stimulan dendam dari pihak-pihak yang merasa terdzalimi.

"Artinya jatuhnya korban tewas dan proses interogasi dengan kekerasan fisik serta mental kepada orang-orang yang statusnya baru terduga dan korban dari label jaringan teroris akan menjadi sebab spiral kekerasan makin menemukan momentumnya," paparnya.

Dia berpendapat, "harusnya Polri banyak belajar dari proses-proses penindakan sebelumnya, percuma langkah kontra radikalisasi atau deradikalisasi kalau Densus di lapangan justru melahirkan sikap radikalisme makin mengkristal," tutur Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu.

Ally | Jurniscom