CIA : Kemenangan Besar Al Qaidah adalah Penyebaran Ideologinya ke Eropa

NEW YORK (Jurnalislam.com) – Mike Morell, mantan direktur tindakan (acting director) dari CIA, mengatakan bahwa sementara AS “berhasil” menumpas kepemimpinan Al Qaeda, kelompok ini masih mampu untuk tumbuh dan melancarkan serangan.

"Kemenangan besar (Al-Qaeda) mereka ialah penyebaran ideologinya di wilayah geografis yang luas: Eropa, Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan," kata Morell. "Pada tanggal 10 September 2011 Al Qaeda hanya berada di salah satu tempat di planet ini – Afghanistan. Hari ini mereka berada di 30 sampai 40 negara"

Morell berbincang dalam program Berita CBS 'Charlie Rose tentang bagaimana kelompok "teror" telah mampu secara berkesinambungan menimbulkan risiko bagi Amerika.

Ketika Morell ditanya oleh pembawa acara, “Mana yang harus paling kita waspadai dari mereka?” Morell menjawab, “Saya kira yang paling harus diwaspadai, adalah Al-Qaeda di Yaman (AQAP) yang memiliki kemampuan paling menonjol dalam pengembangan teknologi yang canggih untuk melancarkan serangan disini, di tanah air kita.”

Faris | CBSnews | Jurniscom

Dr. Abdul Chair Ramadhan : Ancam NKRI, Syiahisasi Harus Dikriminalisasikan

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Penulis buku “Syiah Menurut Syiah, Ancaman Nyata NKRI” Dr. H. Abdul Chair Ridwan, SH, MH, MM menegaskan bahwa Syiahisasi di Indonesia harus dikriminalisasikan karena berpotensi mengancam keutuhan NKRI.

Dr. Abdul Chair menjelaskan ada 5 bidang yang terancam dengan adanya ideology Syiah. Beliau menyebutkan, “Agama, jiwa, akal, jiwa dan keturunan terancam dengan adanya ideologi Syiah ini.”

Syiah juga berpotensi mengancam keutuhan NKRI, “Karena orang-orang yang dikirim ke Qum, pasti berubah jadi Syiah ideologi yang pikirannya mengutamakan Walayatul Faqih ketimbang empat pilar kebangsaan,” tegasnya dalam acara bedah buku Syiah Menurut Syiah, Ancaman Nyata NKRI di Masjid Al Fajr, Cijagra, Bandung, Sabtu (17/1/2015).

Sistem ‘Wilayatul Faqih’ adalah teori politik Syiah yang menyatakan bahwa ‘Islam’ memberikan perwalian kepada para ahli hukum Islam di atas orang-orang. Sistem ini dicetuskan Khomeini pada Revolusi Syiah Iran pada tahun 1979.

Menurutnya, perkembangan Syiah akan semakin menimbulkan konflik apabila pemerintah tidak mengambil sikap tegas. “Sampang jilid 1, jilid 2 dan seterusnya, bisa meluas dan menyebar dengan skala yang lebih tinggi,” lanjutnya.

Lebih lanjut beliau menjelaskan Syiah juga mengancam keturunan. Karena anak yang dihasilkan dari perkawinan mut’ah tidak diakui oleh Undang-undang No. 1 tahun 1974.

Selain itu, beliau menjelaskan kajian ketahanan nasional terhadap ideologi imamah sebagai sumber konflik dan ancaman terhadap keamanan nasional. Anggota Komisi Perundang-undangan MUI Pusat ini memberikan contoh operasi Musa Shadr yang berhasil menguasai di Lebanon dengan membentuk Hezbollah dibawah kendali Khomeini di Iran.

“Kalau tahapan konflik ini sudah sangat terakumulasi, maka yang terjadi adalah peperangan, pertumpahan darah. Bahkan dalam skala yang lebih luas, jika mengambil contoh apa yang terjadi di Lebaon akan terjadi di Indonesia,” ungkap anggota Dewan Pakar Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) itu.

Beliau menekankan adanya kebijakan sistem ketahanan nasional yang mampu mencegah masuknya ideologi asing yang tidak sesuai dengan empat pilar kebangsaan serta mengancam akidah agama Islam.

Selain itu, menurut beliau, perlu adanya undang-undang yang mengkriminalisasikan penodaan, penistaan, penyimpangan dan masuknya ideologi asing yang bersumber dari ajaran agama dalam ha ini Iran.

Menurutnya, meski Peraturan Presiden No.1/PNPS/1965 tentang penodaan agama sudah tidak memadai lagi, akan teteapi harus tetap dipertahankan sebelum ada undang-undang baru yang lebih kuatdan menyeluruh.

“Dengan demikian, Syiahisasi harus dikriminalisasikan. Karena melalui Syiahisasi, bukan hanya kepentingan agama tetapi juga kepentingan negara terancam,” pungkasnya.

Selain Dr. Abdul Chair Ramadhan, Pengamat Intelejen Kol. Purn. TNI. H. Herman Ibrahim dan ketua ANNAS Pusat KH. Athian Ali M. Da’i, Lc. MA juga hadir sebagai pembicara dalam Bedah Buku Syiah Menurut Syiah, Ancaman Nyata NKRI di Masjid Al Fajr kemarin.

Ally | Jurniscom

 

Me-DAN Jatim Adakan Rakorwil di Banyuwangi

BANYUWANGI (Jurnalislam.com) – Relawan Medis dan Aksi Kemanusiaan (Me-Dan) Wilayah Jatim menggelar rapat koordinasi wilayah (Rakorwil) di Banyuwangi pada hari Jum’at (16/1/2015) di Jalan Ali Sakti, Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi.

Penasehat Me-DAN Pusat Yudho Ratmiko menjelaskan, rapat tersebut membahas seputar program kerja tahunan dan tiga target Me-DAN ke depan ; Sosialisasi, membuka cabang dan rekrutmen relawan muda.

“Kami akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mengenal apa itu medis dan aksi kemanusiaan dengan cara kami akan mengadakan bakti sosial, seperti pengobatan massal di berbagai wilayah,” ujar Yudho.

Bersamaan dengan itu, lanjut Yudho, Me-DAN juga akan membuka cabang-cabang mereka di berbagai wilayah di Indonesia.

“Ketiga, dalam waktu dekat untuk merekrut anak muda dan memberikan kegiatan yang positif,” lanjutnya.

Me-Dan juga akan mengadakan diklat (pendidikan dan latihan) yang bekerjasama dengan BASARNAS.

“Insya Allah kami adakan di Banyuwangi,” pungkasnya

Tahun lalu, Me-DAN mengadakan pelatihan di Cibubur. Setelah itu, relawan Me-DAN turun dalam beberapa aksi kemanusiaan, seperti di Gunung Kelud, Gunung Merapi, Banjarnegara, dll.

 

Reporter : Findra | Editor : Ally | Jurniscom

 

Ansharusyariah Semarang Sosialisasikan Fatwa Mati Penghina Nabi

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Setelah Solo, Jamaah Ansharusyariah Semarang juga menggelar aksi protes terhadap pelecehan Nabi Muhammad SAW oleh majalah satir Perancis Charlie Hebdo, Sabtu (16/1/2015). Sekaligus mensosialisasikan fatwa hukuman mati bagi para penghina Nabi Muhammad SAW.

Dalam aksi yang digelar di depan Masjid Baiturahman Simpanglima Semarang itu, puluhan massa Ansharusyariah membentangkan spanduk dukungan kepada duo Mujahid Perancis, Cherif Kouachi dan Said Kouchi yang telah berhasil membunuh 10 staf redaksi majalah Charlie Hebdo, meski mereka akhirnya gugur dalam penyergapan polisi khusus Perancis.

“Kita dukung ijma' ulama yang menjelaskan dengan tegas bahwasannya hukuman mati atas orang yang menghina Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan aksi pada hari ini juga sebagai wujud pembelaan kita kepada Mujahidin kouachi brother. Mereka Mujahid, bukan teroris,“ tegas Amir Ansharusyariah Semarang Abu Sumayah.

Aksi tersebut mendapat sambutan baik dari warga Semarang . Mereka juga mendukung hukuman mati bagi siapa saja yang berani menghina Nabi.

“Jangan coba-coba untuk menghina ataupun melecehkan agama Islam, kalau nggak mau dilakukan tindakan tegas bagi kaum muslimin yang ingin membela agamanya,” kata koordinator aksi, Marzuki.

Rabu 14 Januari lalu, Charlie Hebdo merilis edisi terbarunya yang kembali memuat karikatur Nabi Muhammad SAW dengan pelecehan. Tindakan tersebut memancing kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Pada hari Jumat, jutaan umat Islam di Timur Tengah dan Afrika turun ke jalan untuk memprotes kartun Nabi yang kembali dimuat Charlie Hebdo.

Arief | Ally | Jurniscom

Umat Islam Solo Kutuk Charlie Hebdo

SOLO (Jurnalislam.com) – Menyikapi pelecehan Nabi Muhammad yang dilakukan oleh majalah satir Perancis Charlie Hebdo, sejumlah ormas Islam se Solo Raya pada hari Jumat (16/1/2015) menggelar aksi protes di Bundaran Gladag Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Selain mengutuk dimuatnya kembali kartun Nabi dalam majalah Charlie Hebdo edisi terbarunya, aksi itu juga ditujukan untuk mendukung duo mujahid Perancis, Cherif Kouachi dan Said Kouachi.

“Aksi ini untuk menunjukkan dukungan kepada dua ikhwan mujahidin yang mengeksekusi para penghina Nabi dan i’lan (penegasan) bagi kafirin tentang sikap kaum Muslimin,” tegas amir Jamaah Ansharusyariah Jawa Tengah, Cak Rowy kepada Jurniscom, Jumat (16/1/2015).

Cak Rowy juga menjelaskan hukuman mati kepada penghina Nabi merupakan hukum Islam yang disepakati oleh semua madzhab. “Tidak ada perselisihan, bahkan empat madzhab dan Syeikh Al Bani menyetujui bahwa hukuman bagi para penghina Nabi adalah hukuman mati,” pekik Cak Rowy dalam orasinya.

Selain itu, Ansharusyariah menuntut Duta Besar Perancis di Indonesia untuk menghentikan dan menarik Majalah Charlie Hebdo dari peredaran.

Ratusan umat Islam dari berbagai ormas itu, membentangkan spanduk berisi dukungan terhadap Kouachi bersaudara dan menyatakan bahwa mereka adalah pembela Nabi, bukan teroris.

“We Are the Next Kouachi,” salah satu bunyi tulisan dalam spanduk yang di tunjukkan massa aksi.

Aksi Anti-Charlie Hebdo tidak hanya digelar di Indonesia. Umat Islam di beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika juga menggelar aksi yang sama pada hari Jumat kemarin dan memakan korban jiwa.

Endro | Ally | Jurniscom

 

Kepala Polisi Distrik Almar dan Kepala CID Tewas Dalam Serangan IIA di Faryab

FARYAB (Jurnalislam.com)  – Sebuah serangan bom yang berhasil dilakukan oleh Mujahidin Imarah Islam Afghanistan menyebabkan kepala polisi distrik Almar bersama dengan perwira tinggi yang lainnya tewas, menurut laporan.

Serangan itu dilakukan sekitar pukul 17:30 hari Kamis di Bukhari di distrik Almar menggunakan IED menargetkan kendaraan musuh dan membunuh kepala polisi (Aslam Nurat), kepala departemen investigasi ciriminal – Jan Muhammad – dan 2 orang bersenjata lainnya juga tewas sementara 2 orang upahan lainnya dilaporkan terluka parah.

Aslam Nurat adalah seorang tokoh terkenal yang membantu para komunis selama invasi Soviet dan berlanjut dengan menjadi hewan piaraan penjajah Amerika sejak awal invasi, menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang kafir yang berhadapan dengan bangsa dan agamanya sendiri.

Kematian Aslam Nurat disambut oleh penduduk setempat yang merayakan pembebasan dari teror, penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh pemerintahannya.

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Eropa Menggelar Operasi Anti Teror, Puluhan Orang Ditangkap

EROPA (Jurnalislam.com) – Belgia telah memerintahkan tentaranya turun ke jalan-jalan dan serangan "anti-teror" di seluruh Eropa Barat telah menjaring puluhan tersangka saat pihak berwenang bergegas menggagalkan rencana serangan oleh orang-orang yang memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok bersenjata.

Polisi Perancis, Jerman, Belgia dan Irlandia menahan setidaknya 30 tersangka di pada hari Jumat (16/01/2015) dan pihak berwenang di Brussels melakukan selusin pencarian dan penyitaan empat senapan serbu Kalashnikov, senjata tangan dan bahan peledak.

Beberapa seragam polisi juga ditemukan. Pihak berwenang Belgia mengatakan bahwa komplotan berniat untuk menyamar sebagai polisi.

Polisi Belgia menangkap 13 orang setelah belasan penggerebekan semalam, menggagalkan rencana untuk membunuh polisi "di jalan umum dan di kantor polisi," jaksa mengatakan.

Penangkapan terjadi setelah dua tersangka ditembak mati dalam baku tembak saat penggerebekan polisi di kota timur Verviers pada Kamis malam.

Lima dari mereka yang ditangkap kemudian dituduh "berpartisipasi dalam kegiatan kelompok teroris," kata juru bicara jaksa federal Eric Van der Sijpt kepada AFP.

"Kelompok ini berencana melakukan serangan untuk membunuh petugas polisi di jalan umum dan di kantor polisi," Van der Sijpt mengatakan pada konferensi pers pada hari Jumat.

Polisi menemukan senapan serbu Kalashnikov, bahan peledak, amunisi dan peralatan komunikasi – bersama dengan seragam polisi yang bisa digunakan dalam rencana mereka, katanya.

Belgia juga akan mencari ekstradisi bagi dua tersangka Belgia dari Perancis, meskipun tidak ada hubungan dengan serangan Paris pekan lalu, kata jaksa.

"Saya bisa mengkonfirmasi bahwa kami memulai penyelidikan ini sebelum serangan di Paris," kata Van der Sijpt.

"Penangkapan penting" tersebut berarti bahwa "tidak hanya sel teror, tetapi juga jaringan dukungan mereka" telah dibongkar, tambahnya.

"Tingkat siaga teror Belgia ditingkatkan ke level tertinggi kedua."

Perdana Menteri Prancis Manuel Valls juga menegaskan bahwa tidak ada "hubungan langsung" antara serangan anti-teror di Belgia dan serangan pekan lalu di Paris.

Deddy | Aljazeera | Jurniscom

Pria Bersenjata Sandera 2 Orang di Kantor Pos Paris

PARIS (Jurnalislam.com)  – Seorang pria bersenjata yang menahan setidaknya dua orang sandera di sebuah kantor pos di pinggiran barat laut Paris telah menyerahkan diri kepada polisi.

Polisi mengatakan tidak ada yang terluka setelah pria tersebut menahan beberapa orang sandera di kantor pos di Colombes pada tengah hari Jumat (16/01/2015), menurut laporan media Perancis.

Polisi mengenali pria tersebut dan mengatakan bahwa ia secara kejiwaan "terganggu" dan diyakini telah dipersenjatai dengan senapan Kalashnikov, pistol dan beberapa granat.

Polisi mengatakan bahwa mereka mengenali pria itu dan kejadian itu tidak "terkait dengan serangan minggu lalu."

Local Sosialis MP Alexis Bachelay mengatakan pria itu melakukan "perampokan bersenjata" sementara France Info melaporkan bahwa dia secara "mental tidak stabil" dan bertindak seperti demikian setelah "gagal dalam sebuah hubungan."

Polisi menjaga keamanan di sekitar lokasi kejadian di departemen Hauts-de-Seine di barat laut Paris, sementara helikopter berkeliling di atas gedung, saat polisi berusaha meredakan situasi.

Insiden itu terjadi saat Perancis masih terguncang dan waspada menyusul serangan pekan lalu di markas majalah satir Paris Charlie Hebdo dan penembakan di sebuah supermarket halal di mana 17 orang tewas.

Deddy | Anadolu Agency | Jurniscom

Demonstrasi Anti-Charlie Hebdo Terjadi di Beberapa Negara, Termasuk Indonesia

JURNALISLAM.COM  – Unjuk rasa terjadi di berbagai negara pada hari Jumat kemarin (16/01/2015) untuk memprotes keluarnya edisi terbaru majalah satir Perancis Charlie Hebdo, yang kembali menampilkan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW.

Edisi pertama setelah serangan itu, yang dirilis pada hari Rabu 14 Januari, menampilkan karikatur Nabi Muhammad di sampul depannya.
Padahal Charlie Hebdo telah menjadi sasaran mujahidin, setelah pekan lalu mendapatkan serangan yang menewaskan 12 orang awak redaksi termasuk pemimpin redaksinya.

INDONESIA

Ratusan umat Islam Solo berkumpul di Bundaran Gladag Jalan Slamet Riyadi untuk mengecam majalah Charlie Hebdo yang kembali melecehkan baginda Rasulullah Muhammad SAW dalam edisi terbarunya. Dalam aksinya, mereka membentangkan spanduk-spanduk berisi kecaman terhadap Charlie Hebdo dan pemerintah Perancis serta dukungan terhadap dua mujahid Perancis yang telah membunuh para penghina Nabi di negara tersebut.

Massa terdiri Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Jamaah Ansharusyariah, Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Laskar Umat Islam Solo (LUIS) dan elemen umat Islam lain di Jawa Tengah.

PALESTINA

Ratusan warga Palestina berkumpul di Yerusalem Timur di kompleks Masjid Al-Aqsa, sambil meneriakkan slogan-slogan seperti "Allah Maha Besar" dan "Muhammad adalah pemimpin kami," sementara pasukan Israel tetap ditempatkan di luar kompleks.

"Semoga hidup kita harus dikorbankan untuk Nabi Muhammad," teriak pengunjuk rasa sambil berbaris melalui kompleks masjid setelah shalat Jumat.

Para pengunjuk rasa juga membawa bendera kelompok Palestina Hamas dan meneriakkan slogan-slogan menentang Presiden Otorita Palestina Mahmoud Abbas, yang mengambil bagian dalam pawai "anti-terorisme" di Paris pada hari Minggu setelah serangan mematikan di kantor majalah Charlie Hebdo.

JORDAN

Ribuan demonstran Yordania, sementara itu, melakukan protes di pusat kota Amman. Pawai ini diselenggarakan oleh Komite Nasional Yordania untuk Membela Nabi, yang mencakup mantan anggota parlemen dan pemimpin Ikhwanul Muslimin.

"Prancis harus mempertimbangkan kembali sikapnya yang membiarkan Charlie Hebdo menerbitkan karikatur yang menyinggung nabi," kata mantan MP dan pengunjuk rasa Ali al-Sanid kepada The Anadolu Agency.

"Yordania akan terus menunjukkan dukungan bagi nabi dalam segala hal yang mereka bisa," katanya.
Perkelahian meletus antara polisi dan pengunjuk rasa, mencegah pawai di markas Kedutaan Besar Prancis di Amman.

SUDAN

Lebih dari seribu demonstran juga berkumpul di ibukota Sudan, Khartoum, dengan beberapa tulisan yang mengatakan "Kematian bagi Charlie Hebdo" dan "Kami menuntut permintaan maaf dari Prancis."
Di Khartoum, pasukan keamanan juga mencegah demonstran mencapai kedutaan Perancis.

MESIR

Sementara itu di Mesir, ratusan pendukung Presiden Islam yang digulingkan, Mohamed Morsi, menambahkan slogan yang mendukung nabi saat demonstrasi mingguan mereka tiap hari Jumat dengan protes terhadap pemerintah. Mereka memprotes pemerintahan yang didukung militer Mesir.

AFGHANISTAN

Di Afghanistan, sekelompok pengunjuk rasa yang marah, berkumpul setelah shalat Jumat di ibukota Kabul untuk memprotes majalah satir Perancis Charlie Hebdo.

Unjuk rasa yang diselenggarakan oleh Abu Bakr e-Sediq Masjid meneriakkan slogan anti-Perancis, membakar bendera Perancis dan memuji dua orang bersenjata yang menewaskan 12 orang di kantor Charlie Hebdo pekan lalu.

"Kami sangat mengutuk gambar dan penerbitan kartun Nabi Muhammad dan kami memuji Mujahidin yang melakukan serangan terhadap surat kabar Perancis yang menginginkan hukuman ini," Imam masjid, Maulawi Salahuddin, mengatakan kepada jamaah selama khotbah Jumat.

Dia juga meminta kepada pemuda Afghanistan untuk meniru serangan tersebut. "Anda juga harus menyerang para penyerbu asing di Afghanistan," tambahnya.

Serangan itu sebelumnya dipuji olehImarah Islam Afghanistan, yang menyebut gambar Charlie Hebdo itu "menjijikkan" dan mengatakan mereka menyakiti umat Islam sedunia.

PAKISTAN
Para pengunjuk rasa bentrok dengan polisi di kota pelabuhan Pakistan, Karachi, saat mereka turun ke jalan untuk mengutuk publikasi terbaru kartun satir oleh surat kabar Prancis Charlie Hebdo.

Pasukan keamanan menembakkan meriam air dan gas air mata pada pengunjuk rasa yang melemparkan batu di luar konsulat Perancis pada hari Jumat, selama demonstrasi marah yang mencela kartun mengejek Nabi Muhammad.

Reporter Al Jazeera Kamal Hyder, melaporkan dari Islamabad, mengatakan bahwa seorang fotografer yang bekerja dengan kantor berita Prancis, AFP, ditembak dan terluka dalam bentrokan.

Deddy | World Bulletin | Aljazeera | Jurniscom

 

Majalah Turki Cafcaf Balas Telak Charlie Hebdo

TURKI (Jurnalislam.com) – Majalah satir Turki Cafcaf, satu-satunya publikasi di Turki yang memberi perhatian pada nilai-nilai Islam, memukul telak kesombongan Charlie Hebdo dengan sampul depan yang unik.

Majalah Cafcaf menanggapi Hebdo dengan cover majalah yang sama-sama menarik perhatian di Perancis – yang telah membantai hak asasi manusia atas nama Eropa modern yang liberal – dengan mengatakan "Non, rien n'est pardonne" yang diterjemahkan sebagai "NO, tidak ada yang dimaafkan."

"Arogansi telah menjadi kebiasaan budaya Eropa. Mereka menempatkan diri mereka di atas orang lain dan merasa bebas tanpa ada yang mempertanyakan dan pada gilirannya, menimbulkan respon yang signifikan dari seluruh dunia," kata majalah itu dalam sebuah pernyataan.

Charlie Hebdo, dalam publikasi terbaru mereka kembali menempatkan karikatur yang menggambarkan Nabi Muhammad menumpahkan air mata dan memegang sebuah tanda yang mengatakan "Je suis Charlie," pesan solidaritas dengan para korban. Di atas kartun adalah kata-kata, "Semua dimaafkan."

Cafcaf, membalas Charlie Hebdo, menunjukkan gambar muslim yang tertindas di Afghanistan, Gaza, Chechnya, Irak, Suriah, Mesir dan China, dengan gambar seorang anak Palestina di tengah, dan semuanya menunjukkan darah yang masih tumpah, sambil mengatakan tidak akan dimaafkan.

Edisi terbaru mingguan Charlie Hebdo dicetak sebanyak 3 juta eksemplar. Sedangkan Cafcaf, karena keterbatasan keuangan, hanya dapat terbit sebulan sekali dan hanya akan dapat mencetak 25.000 eksemplar di edisi mendatang pada bulan Februari.

 

Deddy | World Bulletin | Jurniscom