Penakluk Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih ( Bagian. 2 )

Perundingan Terakhir antara Muhammad Al-Fatih dan Constantine

Sultan sangat yakin bahwa kota Konstantinople kini berada di ambang kejatuhannya. Walaupun demikian, dia berusaha memasuki kota itu dengan cara damai. Maka segera dia menulis surat kepada Kaisar Constantine yang berisi, permintaan agar dia menyerahkan kota itu tanpa pertumpahan darah. Dia menawarkan jaminan keselamatannya dan keselamatan pengawalnya saat keluar meninggalkan kota, juga bagi siapa saja dari penduduk itu yang menginginkan keamanan.  Dia menjamin tidak akan terjadi pertumpahan darah di dalam kota dan mereka tidak akan mendapatkan gangguan apa pun. Mereka bisa memilih tinggal di dalam kota ataupun keluar meninggalkan kota. 

Tatkala surat itu sampai ke tangan Kaisar Constantine, dia segera mengumpulkan para penasihatnya dan mengutarakan masalah itu. Setelah mendengar isi surat tadi, sebagian di antara mereka cenderung untuk menyerah, namun sebagian yang lain tetap bertahan untuk mempertahankan kota hingga titik darah penghabisan. Ternyata kaisar pun lebih condong memilih pendapat yang ingin mempertahankan kota hingga titik darah penghabisan. Maka dari itu, kaisar pun menjawab surat sultan untuk menyerah dan ridho untuk membayar upeti, sedangkan Konstantinople, maka saya bersumpah untuk mempertahankannya hingga nafas terakhir saya. Maka tidak ada pilihan bagi saya, kecuali mempertahankan singgasana atau saya terkubur di bawah pagar-pagar istana.”

Tatkala surat Constantine diterima sultan, sultan berkata, “Baiklah, sebentar lagi saya akan memiliki singgasana di Konstantinople atau saya terkubur di bawah puing-puing istana.”

Maka setelah sultan tidak berhasil membujuk penyerahan kota dengan jalan damai, dia segera melakukan serangan yang lebih gencar dan dahsyat. Khususnya dengan menggunakan puluru-peluru meriam ke dalam kota. Bahkan meriam sultan meledak karena seringnya dipergunakan, sehingga membuat orang-orang yang mengendalikannya meninggal. Di antara mereka yang meninggal, adalah insinyur Orban yang mengawasi penggunaan meriam tadi. Namun demikian, sultan memerintahkan agar meriam itu segera didinginkan dengan menggunakan minyak zaitun. Dan para ahli meriam berhasil melakukannya, sehingga lontaran peluru (meriam) sultan kembali mampu menerjang kota di samping menerjang pagar-pagar pembatas dan benteng-benteng.

Sultan Muhammad Al-Fatih Mengadakan Pertemuan dengan Majelis Syura

Sultan mengadakan pertemuan dengan para penasihat dan komandannya, ditambah dengan para syaikh dan ulama. Sultan meminta mereka untuk mengeluarkan pendapatnya dengan terus terang dan tanpa ragu-ragu. Maka sebagian di antara mereka menasihatinya untuk segera menarik pasukannya. Di antara yang mengusulkan seperti itu adalah Menteri Khalil Pasya. Alasannya, agar tidak terjadi pertumpahan darah dan tidak menimbulkan kemarahan kristen Eropa, jika kaum muslimin nantinya menguasai kota tadi serta alasan-alasan lain sebagai pembenaran penarikan mundur prajurit. Maka tak aneh, bila Khalil Pasya dicurigai membantu Byzantium dan berusaha untuk menjatuhkan kaum muslimin.

Sebagian yang hadir berusaha mendorong sultan untuk melanjutkan serangan ke dalam kota dan menganggap remeh Eropa dan kekuatannya. Sebagaimana mereka juga mendorong agar kembali mengangkat semangat tentara untuk menaklukkan kota itu. Sebab dalam pandangan mereka, mundur berarti akan menghancurkan semangat jihad mereka. Di antara orang yang berpendapat demikian, adalah seorang komandan yang sangat pemberani bernama Zughanusy Pasya. Dia seorang kristen asal Albania yang kemudian masuk Islam. Dia menganggap lemah kekuatan Eropa di hadapan sultan.

Buku-buku sejarah menyebutkan tentang sikap Zughanusy Pasya ini. Tatkala sultan menanyakan sikap dan pandangannya, dia melompat dari duduknya dan bersuara lantang dengan menggunakan bahasa Turki yang sedikit gagap, “Tidak, sekali lagi tidak wahai sultan! Saya tidak akan menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasya. Kami datang ke sini tidak ada tujuan lain, kecuali untuk mati dan bukan untuk pulang kembali.” 

Ucapan lantang ini menimbulkan pengaruh yang dalam di dada hadirin. Dan untuk sementara tempat itu senyap. Kemudian Zughanusy Pasya melanjutkan perkataannya, 

Sesungguhnya di balik ucapan Khalil Pasya, terdapat keinginan untuk memadamkan semangat yang ada di dalam dada kalian, membunuh keberanian dan tekad kalian. Namun dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, kecuali putus asa dan kerugian. Sesungguhnya tentara Alexander Agung yang berangkat dari Yunani ke India, lalu dia menguasai separuh Benua Asia yang luas, tidak lebih besar jumlahnya dari tentara kita. Maka, jika pasukannya mampu menguasai negeri-negeri yang luas itu, apakah tentara kita tidak akan mampu untuk melintasi tumpukan batu-batu yang bersusun-susun itu. Khalil Pasya telah mengatakan pada kita, bahwa negara-negara Barat akan datang pada kita untuk membalas dendam. Lalu siapa yang dia maksud dengan negara-negara Barat itu? Apakah yang dia maksud, negara-negara Latin yang kini sedang dilanda permusuhan internal, atau negara-negara di Laut Tengah (Laut Mediterania) yang tidak mampu apa-apa, kecuali hanya merampok dan mencuri? Andaikata negara-negara itu mau memberikan bantuan pada Byzantium, pastilah mereka akan mengirim pasukan dan kapal-kapal perangnya. Andaikata orang-orang Barat itu setelah kita taklukkan kota Konstantinople, beranjak untuk berperang dan mereka memerangi kita, maka apakah kita akan berpangku tangan dan tidak melakukan gerakan apa-apa? Bukankah kita memiliki tentara yang akan mempertahankan kehormatan kita? 

Wahai penguasa kesultanan! Kau telah tanyakan pendapat saya, maka kini akan aku katakan pendapat saya secara terus terang. Hati kita hendaknya kokoh laksana batu karang, dan kita wajib meneruskan peperangan ini, tanpa harus dilanda sifat lemah dan kerdil. Kita telah mulai satu perkara, maka wajib bagi kita untuk menyelesaikannya. Wajib bagi kita untuk meningkatkan serangan dan wajib bagi kita untuk membuka perbatasan dan kita runtuhkan keberanian mereka. Tidak ada pendapat lain yang bisa saya kemukakan selain ini…

Mendengar ucapan penuh semangat ini, berbinarlah muka sultan dan tampak dia sangat puas dan lega. Kemudian dia menoleh pada komandan perangnya Tharhan dan menanyakan bagaimana pendapatnya. Maka dia pun menjawab dengan tangkas, “Apa yang dikatakan Zughanusy adalah tepat dan saya sependapat dengannya, wahai sultan!” 

Kemudian sultan menanyakan pada Syaikh Aaq Syamsuddin dan Maulana Al-Kurani tentang pendapat keduanya. Sultan demikian percaya kepada keduanya yang akan menyetujui apa yang dikatakan oleh Zughanus Pasya. Kedua syaikh berkata, “Harus dilanjutkan dan dengan kekuatan yang Maha-Agung, maka kemenangan akan segera tercapai.”

Semangat semakin bergelora di dada orang-orang yang hadir. Sultan merasa demikian gembira dengan do’a kedua syaikh untuk kemenangan tentara Utsmani. Maka dia pun tak kuasa untuk tidak mengatakan, “Siapa di antara nenek moyangku yang memiliki kekuatan seperti aku?

Para ulama mendukung pendapat yang menyatakan hendaknya jihad dilanjutkan sebagaimana Sultan juga demikian gembira saat mengungkapkan pendapat dan keinginannya untuk melanjutkan serangan hingga kota Konstantinople bisa ditaklukkan. Pertemuan selesai dengan diakhiri oleh seruan dari sultan, bahwa serangan umum akan terus dilakukan dengan melakukan pengepungan kota. Dia akan mengeluarkan perintah penye- rangan dan pengepungan kota pada saat terbuka kesempatan yang tepat. Dan semua tentara hendaknya bersiap-siap untuk melakukan itu.

Muhammad Al-Fatih Mengarahkan Seruannya dan Mengawasi Sendiri Pasukannya

Hari Ahad 18 Jumadil Ula/27 Mei 1453 M, sultan memberikan wejangan pada pasukannya untuk khusyu, membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan shalat dan perilaku-perilaku taat pada umumnya. Dia memerintahkan agar bala tentaranya banyak berdo’a dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Mahakuasa, dengan harapan semoga Allah Ta’ala memudahkan penaklukkan kota. Masalah ini tersebar luas di kalangan kaum muslimin.

Pada hari itu juga, sultan melakukan pemeriksaan langsung pada pagar-pagar pembatas kota dan dia berusaha untuk mengetahui kondisi terakhirnya. Pada saat yang sama, dia juga mencari tahu sejauh mana kondisi para penjaga pagar-pagar kota di berbagai titik. Kemudian dia menentukan titik mana saja yang akan menjadi sasaran penyeberangan pasukan Utsmani.

Dia memeriksa kondisi pasukannya dan memberikan semangat untuk selalu rela berkorban dalam memerangi musuh. Sebagaimana ia juga mengutus utusan ke warga Galata, yang saat itu bersikap netral untuk tidak ikut campur dalam semua hal yang akan terjadi, sebagai komitmen dari kesepakatan yang telah disetujui bersama. Dia juga berjanji akan mengganti semua kerugian yang diderita akibat perang itu. Di sore hari itu juga, tentara Utsmani menyalakan api yang demikian membumbung di sekitar markas tentara.

Sedangkan suara mereka menggema mengudara dengan tahlil dan takbir.  Peristiwa ini membuat orang-orang Romawi berpikir, bahwa api telah berkobar besar di markas pasukan Utsmani. Mereka mengira, bahwa pasukan Utsmani melakukan pesta kemenangan sebelum penyerangan. Satu hal yang menimbulkan rasa takut yang demikian besar di dalam dada pasukan Romawi. Sehari setelah itu, yakni 28 Mei 1453 M, persiapan yang demikian matang dilakukan pasukan Utsmani, sedangkan meriam-meriam melemparkan peluru yang disertai semburan api. Sedangkan sultan melakukan aksi keliling ke semua tempat pasukan berada, sambil memberikan komando dan mengingatkan mereka untuk ikhlas, selalu berdo’a, rela berkorban, dan siap untuk berjihad.

Sedangkan para ulama dan pasukan sesepuh kaum muslimin, berkeliling pada semua tentara sambil membacakan ayat-ayat jihad dan perang serta membacakan surat Al-Anfal. Para ulama mengingatkan kaum mujahidin tentang keutamaan mati syahid di jalan Allah dan tentang para syuhada terdahulu yang meninggal di sekitar kota Konstantinople, di antaranya adalah Abu Ayyub Al-Anshari ra. Mereka mengatakan pada kaum mujahidin, “Tatkala Rasulullah hijrah ke Madinah, dia singgah di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Sedangkan Abu Ayyub sengaja mendatangi tanah ini dan dia singgah di sini.” Ucapan ini membakar semangat pasukan Islam itu dan menimbulkan gelora juang yang tinggi.

Setelah Sultan kembali ke kemahnya, maka dia memanggil pembesar-pembesar tentara. Saat itulah dia mengeluarkan pengumuman terakhir, kemudian menyampaikan pidato sebagai berikut, “Jika penaklukkan kota Konstantinople sukses, maka sabda Rasulullah r telah menjadi kenyataan dan salah satu mukjizatnya terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari Hadits ini, yang berupa kemualiaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemualiaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan menjadikan ajaran-ajaran syariat selalu di depan matanya dan jangan sampai ada di antara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah dan tak berdaya yang tidak ikut dalam pertempuran.” 

Pertolongan Allah dan Kemenangan yang Dekat

Pada jam satu pagi, hari Selasa, tanggal 20 Jumadil Ula 857 H/29 Mei 1453 M, serangan umum mulai dilancarkan ke kota Konstantinople setelah dikeluarkannya komando kepada semua mujahidin yang menggemakan takbir. Pasukan mujahidin berangkat ke batas kota. Orang-orang Byzantium dilanda ketakutan yang sangat. Maka mereka segera menabuh lonceng-lonceng gereja dan banyak yang berlindung di dalam gereja.

Serangan pamungkas ini dilakukan secara serentak dari segala penjuru, laut dan darat sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Para mujahidin sama-sama merindukan mati syahid. Oleh sebab itulah, mereka maju dengan gagah berani dan semangat berkorban yang tinggi. Mereka maju menyerang musuh. Banyak di antara para mujahidin yang mati syahid.

Serangan itu sendiri dibagi ke dalam berbagai titik. Namun secara khusus serangan terbesar dipusatkan pada Lembah Likus, yang dipimpin langsung oleh Sultan sendiri. Gelombang pasukan pertama dari mujahidin menghujani benteng-benteng pertahanan dengan hujan anak panah dan meriam. Mereka berusaha keras untuk melumpuhkan pertahanan lawan.

Dengan kenekatan orang-orang Byzantium dan keberanian orang-orang Islam, berjatuhanlah korban di kedua belah pihak dalam jumlah besar. Tatkala pasukan pertama mengalami kekalahan, Sultan telah menyiapkan pasukan lain. Maka pasukan pertama segera menarik diri dan pasukan baru maju ke medan perang. Sementara itu pasukan musuh telah dilanda keletihan. Pasukan baru itu mampu mencapai benteng-benteng pertahanan dan mereka segera memancangkan tangga-tangga untuk menembus pertahanan musuh. Namun pasukan kristen berhasil menjungkalkan tangga-tangga itu. Pasukan Islam pun dengan mati-matian terus melakukan penyerangan, sedangkan orang-orang kristen dengan sekuat tenaga berusaha menghadang pasukan Islam yang ingin memanjat pagar pertahanan.

 

Di lain pihak, pertempuran di laut juga berlangsung seru dan sesuai dengan yang direncanakan, sehingga membuat musuh kalang kabut. Musuh telah dibuat sibuk melakukan perlawanan di banyak medan pada satu waktu sekaligus. Dan bersamaan dengan munculnya sinar pagi, para mujahidin bisa memastikan tempat-tempat musuh dengan lebih detail dan tepat. Mereka pun mulai melancarkan serangan yang lebih berlipat. Kaum muslimin demikian semangat dan mereka betul-betul menginginkan agar serangannya sukses.

Namun demikian, sultan mengeluarkan perintah agar pasukan Islam menarik diri dengan tujuan untuk mengistirahatkan meriam-meriam agar bisa dioperasikan kembali, sebab telah digunakan untuk bertempur sepanjang malam. Tatkala meriam-meriam telah mulai dingin, datanglah pasukan khusus Inkisyariyah yang dipimpin sultan. Pasukan ini menampakkan keberanian yang demikian mengagumkan dan tanpa tanding dalam pertempuran. Tiga puluh (30) di antara mereka mampu memanjat benteng lawan yang mengejutkan pasukan musuh. Walaupun ada beberapa di antara mereka yang mati syahid, termasuk di dalamnya komandan pasukan, namun peristiwa ini telah menjadi pintu pembuka untuk bisa memasuki kota di Thub Qabi dan mereka mampu memancangkan panji-panji Utsmani.

Kaisar menggantikan posisi Giovanni Guistiniani untuk menjadi komandan lapangan, karena Giovanni mengalami luka sangat parah dan telah kabur melarikan diri dari medan perang dengan salah satu perahu. Kaisar dengan sekuat tenaga berusaha untuk mendorong pasukannya agar berteguh hati mempertahankan negerinya. Ini dilakukan karena dia melihat perasaan putus asa telah menggelayuti hati pasukannya untuk melakukan perlawanan. Di sisi lain pasukan Islam, di bawah pimpinan sultan sendiri berusaha sekuat tenaga untuk mempergunakan kelemahan jiwa musuh.

Pasukan Utsmani melanjutkan serangan ke kota itu dari sisi lain hingga mereka mampu memasuki pagar pertahanan dan mampu menguasai beberapa benteng dan menghantam musuh di pintu gerbang Adrianople. Di sinilah panji-panji Utsmani dikibarkan. Pasukan Islam bergerak maju laksana gelombang ke dalam kota Konstantinople melalui kota wilayah ini. Tatkala Constantine melihat panji-panji Utsmani berkibar di atas benteng-benteng bagian utara kota, dia yakin bahwa kini tidak mungkin lagi kota itu dipertahankan. Oleh sebab itulah, dia segera melepaskan pakaian perangnya agar tidak dikenal dan dia pun turun dari kudanya. Dia terus berperang hingga akhirnya terbunuh di medan perang.

Tersebarnya kabar kematiannya memiliki pengaruh besar dalam meningkatkan semangat juang pasukan Utsmani dan melumerkan semangat pasukan kristen yang sedang mempertahankan kota itu. Pasukan Utsmani mampu menguasai kota dari berbagai sudut, sedangkan pasukan kristen melarikan diri setelah kematian komandannya.

Demikianlah kaum muslimin mampu menguasai kota Konstantinople. Di saat itulah Sultan bersama-sama pasukanya berbagi rasa gembira dan nikmat nya kemenangan atas musuh-musuh mereka. Dari pelana kudanya, sultan berkata kepada para komandan lapangan dengan mengucapkan kata selamat, “Alhamdulillah, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada para syuhada dan melimpahkan kemuliaan pada para mujahidin, dan kebanggaan dan syukur atas bangsaku.”

Di hari itu, selasa 20 Jumadil Ula 857 H/29 Mei 1453 M, tak ada yang dilakukan oleh Sultan Al-Fatih, kecuali dia berkeliling menemui pasukannya dan panglima-panglima perangnya yang selalu mengucapkan “Masya Allah”. Dan dia pun menoleh kepada mereka dan berkata, “Kalian telah menjadi orang-orang yang mampu menaklukkan kota Konstantinople yang telah Rasulullah kabarkan.”

Perlakuan Sultan Al-Fatih kepada Kaum Kristen yang Kalah Perang

Sultan Al-Fatih segera menuju ke gereja Aya Shopia, tempat di sana telah berkumpul banyak orang bersama-sama dengan para rahib dan pendeta yang membacakan do’a-do’a atas mereka. Tatkala sultan mendekati pintu gereja, orang-orang kristen merasa sangat ketakutan. Salah seorang pendeta segera membukakan pintu untuk sultan. Sultan meminta pada pendeta untuk menenangkan orang-orang yang ada di dalam gereja dan mereka supaya diperintahkan agar segera pulang ke rumahnya masing-masing dengan tenang dan aman.

Mendengar demikian, masyarakat yang bersembunyi itu pun merasa tenang. Saat itu ada beberapa pendeta yang sembunyi di lorong-lorong bawah tanah. Maka tatkala mereka menyaksikan sikap toleran Sultan Al-Fatih, mereka pun menyatakan diri masuk Islam. 

Setelah itu, sultan memerintahkan untuk segera mengubah gereja menjadi masjid. Tujuannya agar pada hari Jum’at depan sudah bisa dipergunakan untuk shalat Jum’at. Para pekerja pun segera bekerja keras untuk melakukan renovasi. Mereka menurunkan salib-salib, berhala-berhala, dan menghapus semua gambar yang ada di dalamnya. Kemudian membuat sebuah mimbar untuk khatib. Perubahan gereja menjadi masjid dibolehkan, sebab penaklukan negeri itu melalui peperangan. Sedangkan peperangan memiliki hukum perang sesuai syariat Islam. 

Sultan telah memberikan kebebasan kepada kalangan kristen untuk melakukan semua acara ritual mereka, serta memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih pemimpin agama yang memiliki otoritas untuk melakukan keputusan dalam masalah-masalah sipil di kalangan mereka. Sebagaimana kebebasan ini juga diberikan kepada para pemimpin gereja di wilayah-wilayah lain. Namun pada saat yang sama, sultan mewajibkan kepada mereka untuk membayar jizyah.

Seorang sejarawan asal Inggris yang bernama Edward berusaha melakukan distorsi/mengacaukan sejarah dalam bukunya, Sejarah Turki Utsmani, dengan cara menggambarkan penaklukan pasukan Utsmani dan Sultan Muhammad Al-Fatih dengan gambaran yang jelek. Distorsi ini lahir karena adanya kebencian dan rasa iri yang ada di dalam dadanya terhadap kegemilangan penaklukkan Islam. Ensiklopedia Americana yang terbit pada tahun 1980 M, juga melakukan hal yang sama. Di dalamnya menampakkan kandungan kebencian salibis yang demikian kental terhadap Islam. Ensiklopedia ini menulis, bahwa Sultan Muhammad Al-Fatih telah melakukan perbudakan terhadap orang-orang kristen yang ada di Konstantinople. Mereka –menurut Ensiklopedia ini– digiring ke pasar-pasar budak di kota Adrianople untuk dijual di tempat tersebut.

Realitas historis yang sesungguhnya, menyebutkan bahwa Sultan Muhammad Al-Fatih memperlakukan penduduk Konstantinople dengan cara yang ramah dan penuh rahmat. Sultan memerintahkan tentaranya untuk berlaku baik dan toleran pada tawanan perang. Bahkan dia telah menebus sejumlah tawanan dengan mempergunakan hartanya sendiri. Khususnya para pangeran yang berasal dari Yunani dan para pemuka agama kristen. Sultan pun rajin bertatap muka dengan para uskup untuk menenangkan rasa takut yang ada di dalam dada mereka.

Dia memberi jaminan kepada mereka, agar tidak takut-takut untuk tetap berada di dalam akidah lama mereka dan melakukan syariat yang ada dalam agamanya, serta tetap beribadah di rumah-rumah ibadah mereka. Dia memerintahkan untuk melakukan pemilihan ketua uskup yang baru. Akhirnya mereka memilih Ignadius sebagai ketua uskup baru. Setelah terpilih sebagai uskup, Ignadius berangkat menuju kediaman sultan yang diiringi sejumlah uskup. Sultan Muhammad Al-Fatih menyambutnya dengan sambutan yang demikian ramah dan menghormatinya dengan penuh penghormatan. Sultan makan bersama mereka dan berdialog dalam berbagai masalah, baik masalah keagamaan, politik, dan sosial.

Selesai pertemuan dengan sultan, pandangan Ignadius dan para uskup tentang sultan-sultan Utsmani dan orang-orang Turki berubah 180 derajat. Bukan hanya itu. Dia berubah pandangan tentang kaum muslimin secara keseluruhan. Dia merasa berhadapan dengan seorang sultan yang demikian terdidik dan berperadaban. Seorang pembawa misi dan akidah religius yang sangat kokoh dan seorang yang membawa nilai-nilai kemanusiaan yang demikian tinggi, seorang kesatria sejati. Kekaguman ini dirasakan juga oleh semua warga Romawi dari lubuk hati mereka yang paling dalam. Sebab, mereka sebelumnya membayangkan akan ada pembunuhan masal terhadap mereka oleh pasukan Utsmani. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Hanya dalam hitungan hari, penduduk Konstantinople telah melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana biasa. Dalam kondisi tenang dan damai.

Wafatnya Sultan Al Fatih

Pada bulan Robi’ul Awwal 887 H/1481 M Sultan Muhammad Al Fatih berangkat berjihad menuju Asia kecil. Di kawasan Askadar telah disiapkan pasukan besar. Dalam kondisi sakit demam, seperti biasanya, beliau berjihad kemudian Allah sembuhkan. Namun kali ini demamnya semakin tinggi. Dokter dan obat yang ada tidak berguna lagi. Akhirnya beliau wafat di tengah-tengah pasukan besarnya tanggal 4 Robi’ul Awwal 887 H/1481 M dalam usia 52 tahun dan telah berkuasa selama kira-kira 30 tahun. ( Faris | Jurniscom )

(Dirangkum dari Buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas VIII Semester 2, Penulis : Suroso Abdussalam, Penerbit LP3IT)

Sayap Media Imarah Islam Afghanistan Rilis Video Pertempuran Kunar

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Komisi Budaya dan Multimedia Imarah Islam Afghanistan merilis video terbaru berjudul 'Pertempuran Epik Kunar'.

Bagian pertama video berdurasi satu jam itu dimulai dengan pengenalan provinsi Kunar diikuti oleh rekaman serangan oleh Mujahidin di pangkalan musuh dan memeriksa posting di mana adegan juga menunjukkan kepala Imarah Islam untuk Kunar berjalan di dalam pos overrun.

Video kemudian menunjukkan korban rakyat sipil yang disebabkan oleh agresi militer penjajah asing dan mengangkat tabir media antek-antek mereka yang selalu mencoba untuk menutupi insiden tersebut.

Video kemudian menunjukkan rekaman dari gubernur provinsi Imarah Islam, Mawlawi Nur Qasim Rahimahullah, dan berakhir dengan pesan terhormat Amirul Mukminin itu, Mullah Muhammad Umar Mujahid Hafidzahullah.

Video dapat didownload dan dilihat dari link yang disediakan di bawah ini

Imarah Islam Afghanistan
Cabang Multimedia
Al-Emarah Studio
alemarahstudio@gmail.com

 

alemarahstudio@gmail.com

http://www.shahamat-movie.com/index.php?option=com_webplayer&view=video&wid=134

 

Google+

https://plus.google.com/113403157315022518023/posts/CrEjVuUtp1r?pid=6099647599527507378&oid=113403157315022518023

 

HD 2.15gb

http://www.gulfup.com/?Wi5JMV

http://www.gulfup.com/?IXTQND

http://www.gulfup.com/?Af2mnI

http://www.gulfup.com/?lMiIo0

http://www.gulfup.com/?ykN1Cy

FLV

https://archive.org/details/alemarah48dakonaronohamase

vcd

https://archive.org/details/Alemarah48dakonaroonohamiVcd

mp4 mobile

https://archive.org/details/alemah48dakonaronohamase_57

3gp mobile

https://archive.org/details/alemah48dakonaronohamase3gp

Penakluk Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih ( Bagian. 1 )

DIA adalah Sultan Muhammad II, merupakan sultan Utsmani ke tujuh dalam silsilah keturunan keluarga Utsman. Muhammad II digelari Al-Fatih dan Abu Al-Khairat. Dia memerintah hampir tiga puluh tahun yang diwarnai dengan kebaikan dan kemuliaan bagi kaum muslimin.  Dia memangku kesultanan Utsmani setelah ayahnya wafat tanggal 16 Muharram 855 H/18 Februari 1451 M. Waktu itu umurnya baru menjelang 22 tahun. 

Sultan Muhammad II sendiri memiliki kepribadian yang komplit. Sebuah kepribadian yang menggabungkan antara kekuatan dan keadilan. Dia memiliki pengetahuan yang luas, khususnya dalam bahasa yang ada saat itu dan pada saat yang sama memiliki kecenderungan yang besar terhadap buku-buku sejarah. Ini semua menambah kemantapan kepribadiannya dalam masalah manajemen dan administrasi negara, serta penguasaan medan dan strategi perang. Maka tak aneh, bila di kemudian hari dia menjadi sosok yang demikian terkenal di dalam sejarah. Berkat keberhasilan menaklukkan Konstantinople, ia dijuluki Al-Fatih (pembuka/penakluk).

Dia sangat menonjol dalam hal restrukturisasi administrasi dan manajemen negara di berbagai segi. Dia begitu perhatian mengenai keuangan negara dan cara pembelanjaan yang efektif dan efisien.

Dia juga berkonsentrasi untuk meningkatkan kepiawaian pasukannya dan merestrukturisasi tentara dengan cara melakukan pengabsenan khusus pada pasukannya dan melengkapi dengan persenjataan terbaik di zamannya.

Penaklukan Konstantinopel

Konstantinople dianggap sebagai salah satu kota terpenting di dunia. Kota ini dibangun tahun 330 M oleh Kaisar Romawi Constantine I. Konstantinople memiliki posisi yang sangat penting di mata dunia hingga dikatakan, “Andai- kata dunia ini berbentuk satu kerajaan, maka Konstantinople akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibu kotanya.” Sejak didirikannya, pemerintahan Romawi telah menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahan. Konstantinople merupakan salah satu kota terbesar dan terpenting di dunia kala itu.

Ketika kaum muslimin berjihad melawan kekaisaran Byzantium (Romawi Timur), Konstantinople memiliki aspek strategis khusus dalam pertarungan saat itu. Oleh sebab itulah, Rasulullah SAW telah memberikan kabar gembira dalam beberapa kali sabdanya, bahwa kota itu akan ditaklukkan. Makanya para khalifah kaum muslimin berlomba-lomba untuk menaklukannya dalam rentang waktu yang panjang, dengan harapan mereka mampu merealisasikan sabda Rasulullah SAW,

“Konstantinople akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara” (HR. Ahmad)

Oleh sebab itulah, kekuatan Islam akan selalu merambah ke sana sejak masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan tahun 44 H. Namun serangan itu belum berhasil. Serangan dilakukan berkali-kali silih berganti, namun semuanya bernasib sama. Serangan paling besar dilakukan di masa Dinasti Umayah, yaitu masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98 H.

Usaha-usaha untuk menaklukan Konstantinopel terus berlanjut. Di masa awal khilafah Abbasiyah, berlangsung jihad yang demikian intensif untuk melawan pemerintahan Byzantium. Namun usaha ini belum sampai ke Konstantinopel walaupun serangan itu telah menimbulkan gejolak di dalam negeri Byzantium, khususnya serangan yang dilakukan oleh Harun Al-Rasyid tahun 190 H.

Di awal abad ke-14 Masehi, pemerintahan Utsmani menggantikan pemerintahan Saljuk-Romawi. Kembali berbagai upaya penaklukan Konstantinople dilakukan pasukan Islam. Permulaan dilakukan oleh Sultan Bayazid “Sang Kilat”, yang dengan kekuatan pasukannya mampu mengepung Konstanti- nople tahun 1393 M. Sultan saat itu melakukan perjanjian dengan kaisar dan menuntut dia untuk menyerahkan kota itu dengan cara damai kepada kaum Muslimin. Namun kaisar mengulur-ulur waktu dan berusaha untuk meminta bantuan kepada negara-negara Eropa, untuk menghadang serangan tentara Islam ke Konstantinople.

Pada saat bersamaan, tentara Mongolia di bawah pimpinan Timurlenk menyerbu wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Utsmani. Pasukan Timurlenk melakukan perusakan-perusakan. Akibatnya, tercabiklah pemerintahan Utsmani untuk sementara dan terhenti pulalah pemikiran untuk menaklukkan kota Konstantinople dalam jangka waktu cukup lama.

Sejak masa ayahnya memerintah, Muhammad Al-Fatih telah terlibat dalam urusan kesultanan. Dia banyak terlibat dalam setiap bentrokan dengan pemerintahan Byzantium dalam kondisi yang berbeda-beda. Sebagaimana ia juga mengetahui bagaimana para pendahulunya telah berusaha untuk menaklukan kota Konstantinople. Bahkan dia sadar sepenuhnya, bagaimana usaha-usaha ini telah dilakukan secara berulang-ulang dalam masa pemerintahan Islam yang beragam.

Dengan demikian, sejak berkuasa tahun 1451 M dia langsung mengarahkan pandangannya untuk menaklukan Konstantinople.

Sultan Muhammad II (Muhammad Al Fatih) berusaha dengan berbagai cara dan strategi untuk menaklukan kota Konstantinople. Di antaranya dengan cara memperkuat kekuatan militer Utsmani dari segi personil hingga jumlahnya mencapai 250.000 mujahid

Persiapan Penaklukkan

Sultan Muhammad II (Muhammad Al Fatih) berusaha dengan berbagai cara dan strategi untuk menaklukan kota Konstantinople. Di antaranya dengan cara memperkuat kekuatan militer Utsmani dari segi personil hingga jumlahnya mencapai 250.000 mujahid.  Jumlah ini merupakan jumlah yang sangat besar, jika dibandingkan jumlah tentara di negara lain saat itu. Dia juga memperhatikan pelatihan pasukannya dengan berbagai seni tempur dan ketangkasan menggunakan senjata, yang bisa membuat mereka ahli dan cakap dalam operasi jihad yang ditunggu-tunggu.

Sebagaimana ia juga memperhatikan sisi maknawi dan menanamkan semangat jihad di dalam diri pasukannya. Ia juga selalu mengingatkan mereka akan pujian Rasulullah r kepada pasukan yang mampu menaklukan Konstantinople adalah tentaranya. Ini memberikan dorongan moral yang sangat kuat dan tiada tara di kalangan pasukannya. Ditambah kehadiran banyak ulama di tengah-tengah pasukan muslimin yang banyak memberi dampak demikian besar dalam menguatkan tekad pasukan dan menguatkan semangat jihad sesuai dengan perintah Allah Ta’ala.

Sultan Muhammad membangun benteng yang sangat strategis, Romali Hishar di wilayah selatan Eropa di Selat Bosphorus berhadapan dengan benteng yang pernah dibangun di masa pemerintahan Bayazid di daratan Asia. Tingginya sekitar 82 meter. Maka jadilah dua benteng itu berhadapan yang dipisahkan jarak hanya 660 meter. Benteng ini mampu mengendalikan penyeberangan armada laut dari arah timur Boshporus ke arah barat dan mencegah bantuan yang akan menuju ke pihak musuh.

Perhatian Sultan untuk Menghimpun Senjata

Sultan memiliki perhatian khusus untuk menyiapkan senjata yang dibutuhkan dalam rangka menaklukkan Konstantinople. Salah satu yang terpenting adalah meriam. Dia telah mengundang seorang insinyur ahli meriam yang bernama Orban. Kedatangannya disambut dengan hangat dan dia memberi semua fasilitas yang dibutuhkan, baik kebutuhan materi maupun pekerja. Insinyur ini mampu merakit sebuah meriam yang sangat besar. Di antara meriam yang sangat penting adalah meriam Sultan Muhammad yang sangat terkenal. Disebutkan bahwa meriam ini memiliki bobot hingga ratusan ton dan membutuhkan ratusan lembu untuk menariknya. Sultan sendiri melakukan pengawasan langsung pembuatan meriam ini, serta dia sendiri yang melakukan uji cobanya.

Perhatiannya terhadap Armada Laut

Selain itu, dalam mempersiapkan penaklukan Konstantinople, Sultan juga memiliki perhatian penuh terhadap penguatan armada laut Utsmani yang ditandai dengan diperbanyaknya beragam kapal yang dipergunakan untuk membuka kota itu. Sebab kota Konstantinople adalah sebuah kota laut, yang tidak mungkin bisa dikepung, kecuali dengan menggunakan laut yang melaksanakan tugas ini. Disebutkan bahwa kapal yang sultan persiapkan berjumlah sekitar 400 kapal.

Serangan Sultan Muhammad Al Fatih

Kota Konstantinople dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu Selat Boshporus, Laut Marmarah, dan Tanduk Emas, yang dijaga dengan menggunakan rantai yang demikian besar, hingga sangat tidak memungkinkan untuk masuknya kapal ke dalamnya. Di samping itu dari daratan juga dijaga dengan pagar-pagar yang sangat kokoh yang terbentang dari Laut Marmarah hingga Tanduk Emas yang hanya diselingi Sungai Likus. Di antara dua pagar, terdapat ruang kosong yang berkisar sekitar 60 kaki, sedangkan bagian dalamnya ada sekitar 40 kaki dan memiliki satu menara dengan keting- gian 60 kaki dan benteng setinggi 60 kaki, sedangkan pagar bagian luarnya memiliki ketinggian sekitar 25 kaki, selain tower-tower pemantau yang terpencar dan dipenuhi tentara pengawas.

Pada hari pertama pasukan Islam tiba di dekat benteng Konstantinople, ke hadapan pasukannya Sultan Muhammad Al-Fatih membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi seruan jihad, sebagaimana ia juga menyebut hadits-hadits Rasulullah r yang mengabarkan tentang penaklukan Konstantinople dan keutamaan tentara yang membukanya serta keutamaan pimpinan pasukannya. Dia sebutkan bahwa dengan dibukanya Konstantinople berarti akan memuliakan nama Islam dan kaum muslimin. Pasukan Islam saat itu melakukan gempuran dengan membaca tahlil (La ilaaha Illalloh) dan takbir (Allohu Akbar) serta berdo’a penuh khusyu kepada Allah Ta’ala.

Sedangkan ulama berbaur di tengah-tengah pasukan dan tentara Islam, berjihad bersama-sama yang berhasil mengangkat semangat dan mental pasukan, sehingga setiap pasukan menunggu pertempuran itu dengan penuh kesabaran demi menjalankan kewajiban mereka.

Dan hari berikutnya, sultan mendistibusikan pasukan daratnya di depan pagar-pagar luar Konstantinople. Pasukan tersebut dibagi menjadi tiga bagian utama, yang bisa mengepung kota itu dari semua jurusan. Sebagai- mana Sultan Muhammad Al-Fatih juga membentuk pasukan cadangan di belakang pasukan khusus itu. Dia menempatan meriam-meriam di depan pagar-pagar dan yang paling utama adalah meriam Sultan yang ditempatkan di depan pintu Thib Qabi. Di samping itu, sultan juga menempatkan satu pasukan pengintai di berbagai tempat yang tinggi dan dekat dengan kota Konstantinople untuk mengawasi keadaan. Pada saat yang sama, kapal-kapal pasukan Utsmani menyebar di perairan yang mengitari kota Konstantinople. Namun, kapal-kapal itu tidak bisa sampai ke Tanduk Emas, karena adanya rantai-rantai besar penghalang yang menghambat masuknya kapal manapun dan akan menghancurkan semua kapal yang berusaha untuk mendekat. Armada Laut Utsmani mampu menguasai Kepulauan Pangeran di Laut Marmarah.

Pasukan Byzantium berusaha mati-matian untuk mempertahankan Konstantinople. Mereka menebar pasukannya di pagar-pagar pembatas dengan pengawalan ketat. Namun, pasukan Utsmani melakukan penyerbuan untuk segera merebut kota itu. Sejak hari pertama pengepungan, pertempuran langsung berkecamuk sengit antara pasukan Islam dan tentara Byzantium. Dan pintu syahid segera terbuka. Pasukan Islam memperoleh kemenangan gemilang khususnya yang berada di dekat pintu kota.

Peluru-peluru meriam tentara Islam diluncurkan dari berbagai arah. Suara menggelegar dari peluru tersebut, menimbulkan rasa takut yang mencekam dalam dada pasukan Byzantium. Peluru-peluru meriam tersebut berhasil menghancurkan pagar-pagar kota. Namun pasukan Byzantium mampu segera membangun kembali pagar-pagar itu. 

Bantuan-bantuan kristen dari Eropa tidak pernah berhenti. Dari Genoa datang bantuan lima kapal perang yang dipimpin komandannya bernama Gustian dengan disertai tujuh ratus pasukan sukarelawan dari berbagai negara (kristen). Kapal-kapal mereka sampai ke Konstantinople setelah terjadi kontak senjata dengan pasukan Islam yang mengepung kota itu. Sedangkan pendeta-pendeta dan pemuka agama kristen tidak tinggal diam. Mereka berkeliling di jalan-jalan kota dan benteng-benteng, memberi semangat kepada orang-orang kristen untuk kokoh dan sabar.

Pasukan Utsmani dengan semangat tempur yang tinggi terus menggempur kota Konstantinople yang dipimpin langsung Sultan Muhammad Al-Fatih. Pada saat yang sama, pasukan Byzantium melakukan perlawanan yang gagah berani. Kaisar Byzantium berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan kota dan rakyatnya dari serangan musuh dengan berbagai cara. Maka dia pun segera mengajukan bermacam-macam tawaran kepada sultan agar mau menarik pasukannya dan sebagai penggantinya akan menyetorkan uang dan akan menyatakan ketaatan kepadanya dan tawaran-tawaran lainnya.

Namun Sultan Muhammad Al-Fatih, alih-alih menerima tawaran itu, malah dia dengan tegas meminta kaisar menyerahkan kota Konstantinople. Jika demikian, maka sultan akan memberi jaminan bahwa tidak akan ada seorang penduduk pun dan satu gereja pun yang akan diganggu.

Kandungan isi surat dilayangkan padanya adalah sebagai berikut, “Hendaklah kaisar kalian menyerahkan kota Konstantinople kepada saya. Dan saya bersumpah, bahwa tentara saya tidak akan melakukan tindakan jahat apa pun kepada kalian, atas jiwa dan harta kalian. Barangsiapa yang ingin tetap tinggal di kota ini, maka tetaplah dia tinggal dengan damai dan aman. Dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya, maka tinggalkanlah dengan aman dan damai pula”.

Pengepungan terasa kurang, karena Selat Tanduk Emas masih berada di tangan pasukan Byzantium. Namun demikian, pasukan Islam terus melakukan serangan tanpa henti, khususnya pasukan inkisyariyah memperlihatkan keberaniannya yang sangat mengagumkan. Mereka mau menerjang kematian, tanpa takut akibat yang akan mereka terima dari gempuran meriam-meriam. Tanggal 18 April, meriam-meriam pasukan Utsmani mampu membuka pagar-pagar Byzantium di Lembah Likus di bagian barat pagar kota. Maka bergeraklah pasukan Utsmani dengan gagah berani untuk membuka kota melalui celah tapal batas ini, sebagaimana mereka juga berusaha menembus pagar pembatas lain dengan menaiki tangga.

Namun pasukan yang menjaga kota yang dipimpin oleh Gustian dengan mati-matian mempertahankan tapal batas dan pagar pembatas ini.

Pada hari yang sama, sebagian armada laut Utsmani berusaha untuk menembus Tanduk Emas dengan cara menghancurkan rantai-rantai yang menghalanginya. Namun, kapal-kapal aliansi Byzantium dan Eropa ditambah dengan pasukan yang bermarkas di belakang rantai-rantai besar itu yang berada di pintu masuk Teluk, mampu menahan kapal-kapal pasukan Islam dan menghancurkan beberapa di antaranya. Dengan terpaksa, pasukan Islam kembali menarik diri setelah gagal untuk merealisasikan tujuannya.

Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Sultan Muhammad Al-Fatih mengawasi kelangsungan pertempuran dengan menunggang kuda. Dia masuk ke laut bersama kudanya, hingga air laut itu sebatas dada kuda. Sedangkan kedua pasukan laut yang bertempur hanya berjarak sekitar satu lemparan batu. Saat itu dia berteriak pada Balta Oghlmi, “Wahai kapten! Wahai kapten!” Dan dia mengibas-ngibaskan tangannya. Maka pasukan Utsmani meningkatkan serangannya dan sama sekali tidak terpengaruh dengan serangan bertubi-tubi

Kejeniusan Perang yang Cemerlang

Sultan tampak memiliki pemikiran yang demikian cemerlang. Yakni dengan memindahkan kapal-kapal dari pangkalannya di Bayskatasy ke Tanduk Emas. Ini dilakukan dengan menarik melalui darat antara dua pelabuhan, dan usaha menjauhkannya dari Galata karena khawatir kapal-kapalnya akan mendapat serangan dari arah selatan. Jarak antara dua pelabuhan tersebut sekitar tiga mil. Tanahnya bukanlah tanah datar. Tanahnya berupa tanah rendah dan bebukitan yang belum dijamah.

Untuk itu, Sultan segera mengumpulkan komandan-komandan perang dan mengemukakan pendapatnya. Dia mengutarakan secara pasti medan perang mendatang. Ide ini ternyata mendapat sambutan yang demikian hangat dan semangat dari semua yang hadir menyatakan kekagumannya. 

Malam itu, pasukan Utsmani mampu menarik lebih dari tujuh puluh perahu dan dilabuhkan di Tanduk Emas, dilakukan di tengah-tengah kelengahan musuh dan dengan cara yang tidak lazim

Mulailah Sultan merealisasikan rencananya. Ditariklah perahu-perahu tersebut dari Selat Bosphorus ke daratan dengan menggunakan kayu-kayu yang telah diberi minyak. Hingga akhirnya, perahu-perahu sampai di titik yang aman dan dilabuhkan di Tanduk Emas. Malam itu, pasukan Utsmani mampu menarik lebih dari tujuh puluh perahu dan dilabuhkan di Tanduk Emas, dilakukan di tengah-tengah kelengahan musuh dan dengan cara yang tidak lazim. Upaya tersebut, diawasi sultan secara langsung dari jarak yang aman dan tidak bisa dijangkau musuh.

Pekerjaan demikian kala itu, merupakan kerja berat dan besar, bahkan dianggap sebagai “mukjizat” yang tampak dari sebuah kecepatan berpikir dan kecepatan aksi yang menunjukkan kecerdasan otak Utsmani dan kemahiran mereka serta keinginan mereka yang demikian kuat. Tatkala orang-orang Byzantium mengetahuinya, mereka sangat kaget. Tak seorang pun yang percaya atas apa yang telah terjadi. Namun realita yang ada di hadapan mereka membuat mereka harus mengakui strategi yang jitu itu.

Pemandangan kapal dengan bendera-bendera yang menjulang tinggi, berjalan di tengah-tengah ladang sebagaimana gelombang sedang memecah laut. Pemandangan demikian mengejutkan dan sangat mengagumkan. Ini semua kembali pada karunia Allah Ta’ala kemudian semangat yang kaut dari Sultan dan kecerdasannya yang demikian luar biasa. Di samping tentunya kembali pada kecakapan para insinyur-insinyur Utsmani dan cukupnya tenaga yang melakukan rencana besar dan berat ini yang dilakukan dengan penuh semangat. 

Semua ini selesai hanya dalam jangka waktu semalam. Pada subuh pagi 22 April 1453 M, penduduk kota yang lelap itu terbangun oleh suara takbir tentara Utsmani dan genderang perang mereka yang bertalu-talu dan nasyid-nasyid imani yang menggema di Tanduk Emas. Mereka dikejutkan oleh datangnya perahu-perahu Utsmani yang telah menguasai perairan itu. Kini tak ada lagi air penghalang antara pasukan Byzantium yang mempertahankan Konstantinople dengan pasukan Utsmani.

Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak gunung sebagai pengganti ombak-ombak. Sungguh perbuatan ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar Yang Agung”.

Salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium menyatakan kekaguman berikut ini, “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al-Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak gunung sebagai pengganti ombak-ombak. Sungguh perbuatan ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar Yang Agung”.

Kehadiran kapal-kapal Utsmani di Tanduk Emas telah berperan besar dalam melemahkan semangat pasukan Byzantium yang mempertahankan Konstantinople. Tentara Byzantum pun telah berusaha beberapa kali untuk menghancurkan armada laut Utsmani di Tanduk Emas ini, hanya saja semua usaha mereka yang mati-matian itu telah ditunggu pasukan Utsmani dan mereka mampu menggagalkan rencana musuh-musuhnya.

Tentara Utsmani dengan gencar terus menyerang titik-titik pertahanan kota dan pagar-pagarnya dengan meriam dan mereka berusaha untuk memanjat pagar-pagar itu. Pada saat yang sama pasukan Utsmani telah menempatkan meriam-meriam khusus di dataran tinggi yang bersebelahan dengan Bosphorus dan Tanduk Emas. Ini dimaksudkan untuk menghantam kapal-kapal yang membantunya di Tanduk Emas, Bosphorus, dan perairan laut yang bersebelahan dengannya, sehingga akan menjadi penghambat gerak kapal-kapal musuh dan akan mengakibatkan kelumpuhan secara keseluruhan.

Perang Urat Syaraf

Sultan melipatgandakan serangan pada tapal batas dan dia fokuskan serangan sesuai rencana yang dia gariskan untuk melemahkan musuh. Pasukan Utsmani melakukan serangan berkali-kali pada pagar pembatas dan selalu berusaha untuk memanjatnya. Semua itu mereka lakukan dengan penuh kesatria. Dan keberanian yang paling menggetarkan tentara Byzantium adalah teriakan mereka memecah langit saat mereka meneriakkan kalimat Allohu Akbar….Allohu Akbar…. Teriakan ini laksana petir yang memekakkan.

Sultan mulai menempatkan meriam-meriam besar di dataran-dataran tinggi, yang berada di belakang Galata. Meriam-meriam itu mulai menyemburkan peluru-pelurunya dengan intensif ke pelabuhan. Salah satu peluru meriam itu tepat mengenai kapal dagang dan langsung tenggelam. Maka kapal-kapal lain segera dilanda ketakutan dan melarikan diri dengan menjadikan pagar-pagar pembatas Galata sebagai tempat berlindung. Seperti itu serangan darat pasukan Utsmani terus berlanjut dalam serangan yang bergelombang dan sangat cepat. Sultan sendiri melakukan serangan dengan menggunakan meriam, baik di darat maupun di laut, siang malam tanpa henti, dengan tujuan melumpuhkan kekuatan pasukan yang dikepung dan agar mereka tidak bisa menarik nafas ketenangan.

Sultan mengejutkan musuhnya dari waktu ke waktu dengan seni serangan yang selalu berbeda dari segi perang dan pengepungan, yaitu perang urat syaraf.  Seni perang yang dia lakukan, merupakan inovasi baru yang belum dikenal sebelumnya.

Pasukan Utsmani melakukan terobosan baru dalam bertempur dengan pasukan Romawi. Yakni dengan menggali terowongan infiltrasi dan membuat benteng dari kayu yang demikian besar yang bergerak. Benteng ini terdiri dari tiga tingkat, dengan ketinggian yang melebihi pagar-pagar pembatas ibu kota. Benteng tersebut dilapisi tameng dan kulit yang dibasahi air, dengan tujuan agar tidak mudah terbakar api.

Sedangkan meriam-meriam tentara Utsmani tidak henti-hentinya menggempur pagar-pagar kota dan benteng-benteng pertahanannya. Sebagian besar pagar kota dan benteng-benteng itu hancur. Sementara itu, parit-parit dipenuhi puing-puing yang tidak bisa lagi dibereskan oleh para penjaga kota. Dengan demikian, kota itu menjadi sangat terbuka untuk diserang kapan saja. Namun pilihan tempatnya hingga saat itu belum ditentukan. Bersambung…

Faris | Jurniscom

(Dirangkum dari Buku Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas VIII Semester 2, Penulis : Suroso Abdussalam, Penerbit LP3IT)

Seorang Tahanan Palestina Memasuki Tahun ke-33 di Penjara Zionis

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Seorang pria Palestina telah dipenjarakan di Israel selama 33 tahun sekarang, seorang pengacara LSM Palestina yang  membela hak-hak tahanan Palestina di penjara-penjara Israel mengatakan pada hari Ahad (18/01/2015).

Maher Younis, yang berasal dari kota Israel utara, Arara, telah menjalani hukuman selama 33 tahun di sebuah penjara Israel, komunitas Masyarakat Tahanan Palestina menambahkan dalam sebuah pernyataan.

Younis ditangkap pada tahun 1983 dan merupakan sebagian dari sekelompok orang yang ditangkap sebelum penandatanganan Oslo Accord antara Palestina dan Israel pada tahun 1993.

Kesepakatan itu menyerukan pembebasan tahanan Palestina pada akhir Maret 2014, namun Israel menolak untuk menghormati persyaratan ini, dan menyebabkan penghentian pembicaraan damai dengan Palestina.

Younis, 57, adalah tahanan Palestina kedua terlama yang berada di penjara Israel. Tahanan lain, Karim Younis, juga dimasukkan ke dalam penjara pada awal tahun yang sama.

Kedua tahanan saat ini menjalani hukuman seumur hidup di Pusat Penahanan Hadarim di Israel utara, kata komunitas tersebut.

Maher Younis dituduh sebagai anggota faksi Fatah Palestina, menewaskan seorang tentara Israel dan memiliki senjata. Karim Younis dituduh membunuh seorang tentara Israel.

Israel telah setuju untuk membebaskan para tahanan Palestina yang ditahan sebelum perjanjian Oslo Accord 1993 sebagai imbalan untuk menahan Otoritas Palestina mencari keanggotaan di PBB dan lembaga internasional lainnya.

Namun seperti biasa, Pemerintah Israel menolak untuk melepaskan tahanan, mengatakan bahwa mereka memegang kewarganegaraan Israel, dan dengan demikian secara teknis adalah warga Israel.

Lebih dari 7.000 warga Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel, menurut angka resmi Palestina.

Deddy | World Bulletin | Jurniscom

Lashkar e Taiba Pakistan Serukan Boykot Produk Prancis

ISLAMABAD (Jurnalislam.com) – Sebuah kelompok militan di Pakistan telah mendesak para pendukungnya untuk memboikot produk Prancis sebagai protes terhadap cover majalah terbaru Charlie Hebdo, yang menampilkan gambar Nabi Muhammad Saw.

Hafiz Saeed, pendiri Lashkar e Taiba, sebuah kelompok yang dianggap berada di balik serangan Mumbai tahun 2008 dan beberapa serangan di India mengatakan kepada demonstran, ia memulai gerakan melawan apa yang disebutnya karikatur yang menghina nabi tercinta.

Mr Saeed mendesak para pedagang untuk menghentikan impor produk Prancis dan bagi para pemimpin Pakistan untuk mencoba untuk mendapatkan hukum internasional terhadap penghujatan berlalu, demikian laporan Reuters.

Protes terjadi di Pakistan pada Ahad (18/1/2015), di mana ribuan orang berkumpul di hampir semua kota besar, termasuk Lahore, Karachi dan Islamabad, meneriakkan slogan-slogan kemarahan dan membakar bendera Perancis. Sekitar 5 ribu orang berdemonstrasi menentang majalah terbitan di Paris tersebut di timur kota Lahore Pakistan.

Majalah satir Charlie Hebdo menerbitkan gambar Nabi Muhammad menangis di sampulnya pada edisi pekan lalu setelah dua orang bersenjata menyerbu kantor dan menewaskan 12 orang. Orang-orang bersenjata mengatakan serangan mereka adalah balas dendam atas kartun sebelumnya majalah menerbitkan mengejek Islam.

Kemarahan meletus di berbagai negara mayoritas Muslim setelah majalah menanggapi terbunuhnya para redaktur dengan kembali membuat karikatur Nabi Muhammad SAW, menunjukkan nabi di bawah judul 'emuanya Dimaafkan'.

Majalah Charlie Hebdo telah terjual sebanyak 2,7 juta kopi pascaserangan yang menewaskan 12 orang. Charlie Hebdo bahkan mentargetkan akan mencetak kembali hingga 7 juta eksemplar. Pasca tragedi tersebut, majalah itu malah mengalami kenaikan oplah yang sebelumnya hanya 60 ribu per pekan.

Ally | Jurniscom

Serangan Isytishad IIA di Lashkargah Bunuh dan Lukai 30 Pasukan Musuh

HELMAND (Jurnalislam.com) –  Serangan isytishad IIA menargetkan konvoi pasukan musuh di jalan raya utama Kandahar, Herat dekat kota Lashkargah di tengah operasi 'Khaibar' yang sedang berlangsung, Ahad (18/1/2015).

Serangan itu dilakukan oleh Mujahid heroik Imarah Islam Afghanistan Qudratullah Kandahari, dengan menabrakkan mobil Van berisi bahan peledak ke arah iring-iringan musuh sekitar pukul 1:00 siang waktu setempat di Durahi daerah Lashkargah saat musuh bergerak menuju Sangin untuk melakukan operasi militernya.

Ledakan kuat menewaskan dan melukai sekitar 30 orang bersenjata serta menghancurkan 2 APC dan 4 kendaraan truk pickup.

 

Deddy | Shahamat | Jurniscom

Serangan Islamofobia Prancis Tewaskan Seorang Muslim

PRANCIS (Jurnalislam.com) – Seorang pria Maroko tewas ditikam di rumahnya di selatan Prancis. Dia tewas terkait serangan yang anti-Islam di Prancis.

Pelaku diketahui mendobrak masuk rumah dari tetangganya di Beaucet, Avignon. Dia meneriakan, "I am your god, I am your Islam" atau dalam Bahasa Indonesia berarti "Saya Tuhan mu, Saya Islam mu".

"Kemudian pelaku menikam Mohamed El Makouli berulangkali tanpa ampun," pernyataan lembaga National Observatory Against Islamophobia, seperti dikutip AFP, Sabtu (17/1/2015).

Korban yang diketahui berusia 47 tahun tidak bisa memberikan perlawanan. Sementara sang istri mencoba menyelamatkannya dan sempat menderita luka pada bagian tangan.

Perempuan berusia 31 tahun itu kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Dari hasil autopsi, Makouli diketahui ditikam sebanyak 17 kali.

Pelaku yang berusia 28 tahun akhirnya ditangkap dan didakwa dengan pembunuhan, percobaan pembunuhan dan kepemilikan narkoba. Kemudian pelaku diperiksa di rumah sakit jiwa dengan Montfavet.

Menurut Presiden National Observatory Against Islamophobia Abdallah Zekri, ini adalah serangan terkait Islamofobia paling parah.
 

Hindu Serang Muslim di India, Tiga Tewas Dibakar

PATNA (Jurnalislam.com) – Sebanyak tiga orang tewas dalam sebuah bentrokan yang terjadi di negara bagian Bihar, India, pada Ahad (18/1/2015) malam. Ketiganya diketahui merupakan Muslim yang terperangkap di dalam tempat tinggalnya, yang pada saat kejadian dibakar oleh sejumlah orang Hindu yang mengamuk. Demikian dilansir Koaa, Senin (19/1/2015).

Atul Prasad, seorang pejabat pemerintah negara bagian Bihar, mengatakan, bentrokan massa Hindu dengan Muslim bermula ketika jasad seorang pemuda Hindu ditemukan di area perkebunan di Desa Sarayian. Sebelumnya, pemuda Hindu tersebut dikabarkan hilang lebih dari sepekan lamanya.

“Warga nelayan Hindu lantas menyalahkan penduduk Muslim sebagai pembunuh pemuda itu. Sebab, diketahui pemuda tersebut bersahabat dengan seorang gadis Muslim dari Desa Sarayian,” kata Prasad.

Desa Sarayian terletak sekitar 105 kilometer di utara Patna, ibu kota negara bagian Bihar, India. Aparat kepolisian setempat telah menahan delapan orang Hindu, yang juga warga desa setempat.

Pasalnya, mereka diketahui telah dengan sengaja membakar setidaknya 24 rumah milik komunitas miskin yang beragama Islam. “Sejauh ini, situasi masih tegang. Namun, sudah di bawah kendali aparat,” kata Prasad.

Ally | Jurniscom

Tanah Bergerak, Puluhan Rumah di Tasik Rusak

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Ada tanah bergerak di Tasikmalaya, Jawa Barat. Belasan rumah retak. Meski rawan ambruk, warga tetap nekat menghuni.

Fenomena tersebut terjadi di Desa Pusparahayu, Kecamatan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya. Hujan menimbulkan kondisi kian parah. Hingga saat ini, sedikitnya 58 rumah rusak.

Kerusakan rumah terlihat di lantai dan dinding. Ada yang rusak ringan, ada yang cukup parah. Bahkan ada yang keretakannya lebih dari 40 cm. Akibatnya, rumah yang semula berdiri tegak, kini miring.

Keterdesakan ekonomi membuat warga tak memiliki pilihan lain. Mereka tetap bertahan. "Hujan deras seminggu, jadi rumah saya retak dan miring. Bingung mau mengungsi ke mana," kata warga setempat, Engkus, Minggu (18/1/2015).

Engkus menjelaskan pemerintah telah mendata. Namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya. Fenomena ini juga mengancam 2 kampung di wilayah tersebut.

Ally | Detik | Jurniscom

Sepenggal Kisah Duka Anak-anak Yatim Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Kamar-kamar di Lembaga Yatim al-Amal Kota Gaza bisa menjadi milik setiap anak, dengan stiker Donal Bebek menempel di dinding dan boneka Teddy Bear diatur berjejer rapi diatas seprei.

Namun kecemerlangan telah terhalang : Anak-anak ini menggambar perang. Mereka membuat sketsa roket dan jet tempur Israel, gambar-gambar orang pecah menjadi serpihan, karena inilah apa yang mereka ketahui .

"Setiap kali aku mendengar pesawat, aku takut," seorang anak delapan tahun Aisha al-Shinbary bercerita sambil melipat kakinya di bawah bantal di salah satu kamar umum al-Amal tersebut.

"Aku kehilangan rumahku selama perang … aku tak ingin mengingat rumahku," lanjut Aisha. "Aku berharap aku akan mati sehingga aku bisa pergi menemui ibuku."

Panti al-Amal hanya mengambil anak-anak yang paling membutuhkan.

 

 

 

 

 

 

Aisha tiba di al-Amal beberapa tahun yang lalu setelah ayahnya meninggal secara alami dan kakaknya meninggal dalam serangan udara Israel. Ibunya tidak bisa lagi merawat semua anaknya.

Selama perang 2014, panti asuhan mengirim semua anak-anaknya untuk hidup dengan keluarganya sedangkan fasilitas ini untuk sementara dibuka sebagai tempat penampungan bagi ratusan pengungsi warga Gaza. Aisha kembali untuk tinggal bersama ibunya, tapi tak lama setelah itu, ibunya juga meninggal dalam serangan udara penjajah Israel .

Hari ini , ibu Aisyah datang padanya hanya dalam mimpi . Dia mencium dan memeluk gadis kecilnya , dan kemudian dia menghilang . Aisha bangun , dan kata pengurus panti asuhan, ia pun menggambar roket.

Kisah Aisha adalah hal yang biasa terjadi di Jalur Gaza yang terkepung, dimana 51 hari serangan Israel telah membunuh lebih dari 2.200 warga Palestina dan melukai lebih banyak lagi. "Perang 2014 menciptakan lebih dari 1.500 anak yatim baru, selain puluhan ribu yang sudah hidup di Gaza," kata Abed Almajed Alkhodary, ketua direksi Dewan Amal.

Panti asuhan yang didirikan lebih dari enam dekade yang lalu dan tetap menjadi satu-satunya fasilitas untuk anak yatim di Kota Gaza itu hanya mengambil anak-anak yang paling membutuhkan dan tidak dapat menampung semua anak yatim di kota itu.

Mereka selalu merasa takut.

 

 

 

 

 

 

"Beberapa anak yatim di sini menyaksikan keluarga dan ibu mereka meninggal di hadapan mereka," Alkhodary mengisahkan.

Anggota pengurus Kamal Meqbin menceritakan, setelah perang 2014, jumlah anak yatim yang berada di Panti asuhan al-Amal hampir dua kali lipat jumlahnya menjadi 150, angka tertinggi dalam sejarah panti asuhan itu,  dan jumlah itu diperkirakan akan terus meningkat sepanjang tahun. Bagian tengah bangunan, yang didanai secara swadaya, sedang direnovasi dan diperluas untuk menampung orang yang masuk. Sementara para staf yang berjumlah lebih dari 50 orang bekerja sepanjang waktu untuk memantau, memberi makanan, mengajar, bermain dan menghibur para penghuni muda di al-Amal.

"Keadaan psikologis bagi anak yang keluarganya tewas, yang pergi untuk membeli sesuatu dan ketika pulang menemukan keluarganya telah meninggal- adalah yang terburuk yang dapat Anda lihat, " kata Meqbin , mencatat banyak anak yatim piatu yang berjuang dengan masalah psikologis yang mendalam dan kecemasan berat.

 "Mereka tidak tidur. Mereka selalu takut," kata Meqbin. "Kami menghabiskan waktu sebanyak mungkin dengan mereka sehingga mereka bisa mengatasinya."

Nawal Yassine (10) telah tinggal di Panti Asuhan al-Amal sejak Oktober tahun lalu. Sebelum ayahnya meninggal, lanjut Meqbin mengisahkan, orang Israel menyebut pamannya, anggota Hamas, yang memberikan telepon kepada ayahnya.

Anak-anak yatim piatu ini menerima perhatian 24 jam

 

 

 

 

 

 

"Apa yang engkau inginkan dari adikku?" tuntut ayahnya, Nawal menceritakan kembali kejadiannya.

"Di mana pun kamu menyembunyikan saudaramu, kami akan mengikuti, dan kami akan membunuhnya," jawab suara di ujung telepon.

"Ayahku mengatakan kepada Israel, kami akan datang ke Tel Aviv dan menginjak leher kalian," ungkap Nawal mengisahkan, dengan rona kebanggaan nampak di wajahnya.

Pengurus panti asuhan Rewayda Kassab, dengan lembut turut menjelaskan bahwa ini tidak benar-benar terjadi ; itu adalah cerita yang dibuat ibu Nawal agar anak-anaknya mengingat ayah mereka sebagai seorang pahlawan. Ayahnya sendiri meninggal setelah pecahan peluru rudal menembus jantungnya, dan saat dalam perjalanan ke rumah sakit, bom lain menghantam mobil yang membawanya. Jasadnya hancur berserak, jasadnya kemudian dikenali hanya dari pakaian khas jalabiya yang dikenakannya.

Manal Abu Taiema (11) dari Khan Younis, juga dengan jelas mengingat kematian ayahnya. Dia ingat ayahnya berteriak : "Jangan mendekati jendela." Beberapa saat kemudian, dua rudal menghantam rumah mereka .

"Satu rudal menimpa sepupu saya dan membuat tubuhnya hancur berserakan. Satu lagi mengenai ayahku," Abu Taiema menuturkan dengan suara serak, menunjukkan sikap yang lebih dewasa. "Ledakan rudal menghancurkan kepala ayahku."

Anak-anak perempuan membariskan boneka di kasur mereka.

 

 

 

 

 

 

Saat berbicara, ia berulang kali meremas-remas tangannya, sikap sama diperlihatkan oleh kakaknya, yang mendengarkan didekat Manal.

"Setiap kali aku mendengar sirene ambulan," lanjut Manal dengan suara parau, "Aku terus menangis, karena aku mendengar begitu banyak selama perang … aku merasa aman di [ panti asuhan ] tetapi tidak di Gaza. Aku selalu mengira ada perang baru."

Menyusuri lorong yang lain, Yussef al-Shinbary (14) menyingkap ujung celananya untuk memperlihatkan parut luka akibat pecahan peluru di pergelangan kakinya, ia terluka setelah Israel membom sekolah PBB di mana keluarganya tengah berlindung .

Sedang kakak perempuannya kehilangan kedua kaki dalam serangan itu dan dikirim ke Turki untuk pengobatan.

"Aku menjadi takut setiap kali aku melihat kakakku," Yussef mengisahkan dengan terbata-bata dan dengan tergagap. "Aku ingat apa yang telah terjadi."

"Beberapa anak di Panti Asuhan al-Amal bermain membuat menara Lego dan rumah-rumahan," ujar Kassab, dengan mengangguk penuh arti kearah anak-anak yang telah dihancurkan.

Yang lainnya lagi berlatih bersama Mahmoud Eid, seorang seniman dan juga seorang yatim piatu, yang kini telah menginjak usia 20-an. Panti asuhan ini memiliki ruang yang diperuntukan bagi karya seni Eid : peta-peta Palestina diukir di kayu, pahatan di berbagai pot tanah liat, lukisan wajah yang samar dan pemandangan abstrak.

Takkan ada yang lupa, terutama anak-anak.

 

 

 

 

 

 

Beberapa karya seni anak-anak ditampilkan juga di sini. Panti asuhan ini, memajangkan perahu layar dan matahari, lukisan berwarna-warni di atas kaca. Sebuah penegasan bahwa masih ada kecerahan dalam kehidupan anak-anak ini .

Seiring waktu , kenangan anak-anak yatim piatu akan kehidupan dan keluarga mereka sebelum perang barangkali menjadi lebih jauh, ujar Meqbin, tetapi mereka takkan pernah lenyap.

"Takkan ada yang melupakan, terutama anak. Anak tidak akan pernah melupakan keluarganya. [ Semua orang Palestina ] masih ingat tahun 1948 dan tanah kami telah dirampas.

"Bangsa Israel ingin kita lupa," tambahnya. "Kami takkan pernah lupa."

Faris | Al Jazeera | Jurniscom