Muhammadiyah Kottabarat Gelar Halal Bihalal Bertajuk Pererat Ukhuwah Kembangkan Dakwah Islamiyah

SOLO (Jurnalislam.com)- Takmir Masjid Kottabarat mengadakan mengadakan silaturrahim dan halal bihalal bersama keluarga besar Muhammadiyah Cabang Kottabarat Solo dengan tema “Pererat Ukhuwah, Kembangkan Dakwah Islamiyah” di hall SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Kamis (5/7/2018).

Kegiatan ini dihadiri sekitar seratus peserta yang berasal dari unsur pimpinan ranting Muhammadiyah, Aisyiyah, organisasi otonom, dan pimpinan amal usaha Muhammadiyah di lingkungan Kottabarat.

Acara inti halal bihalal diisi tausiyah oleh Marpuji Ali, ketua Takmir masjid Kottabarat sekaligus pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada tausiyah tersebut, Marpuji menyampaikan tentang sejarah perkembangan masjid Kottabarat terkait dengan pengembangan dakwah Islam di bidang sosial dan pendidikan.

“Bentuk jihad kontemporer yang diperlukan adalah bukan berani mati, karena tanpa deklarasi berani matipun setiap orang pasti akan mati. Namun, yang dibutuhkan saat ini adalah pemaknaan jihad berani hidup untuk mengisinya dengan amal kebajikan yang bermanfaat bagi kemaslahatan alam semesta,” paparnya.

Marpuji menambahkan, tantangan yang dihadapi saat ini adalah ketertinggalan umat Islam di berbagai bidang kehidupan, sehingga perlu disikapi dengan cerdas. Perlu ada upaya serius meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang bermutu.

Ini merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi masa depan yang berkualitas.

“Salah satu fokus yang saat ini dilakukan Takmir Masjid Kottabarat adalah meningkatkan kualitas pendidikan, melalui TK Aisyiyah PK, SD-SMP-SMA Muhammadiyah PK Kottabarat,” imbuhnya.

Sementara itu, ketua panitia kegiatan, Muhamad Arifin menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Ramadan dan Syawal yang bertujuan untuk mempererat silaturrahim antarsetiap unsur di lingkungan Kottabarat.

“Melalui kegiatan ini kami berharap adanya kesepahaman dalam menggerakkan dakwah Islam di berbagai bidang yang saat ini sudah dilakukan oleh Muhammadiyah Kottabarat,”ungkapnya.

Ini Kata Warga Soal Ledakan di Bangil Jawa Timur

BANGIL (Jurnalislam.com) – Setelah beberapa waktu lalu terjadi ledakan di Jawa Timur, Kamis (5/7/2018), kembali terjadi ledakan di sebuah rumah kontrakan Pogor, Bangil – Pasuruan Jawa Timur.

Ledakan yang terjadi ditengah-tengah pemukiman yang padat membuat warga sekitar kaget. Saat awal terdengar warga mengira suara ledakan yang berasal dari tabung LPG.

Secara spontan warga menghampiri sumber ledakan yang berasal dari salah satu rumah yang dikontrak oleh seorang yang bernama Anwardi. Saat dihampiri warga, penghuni tanpak panik dan emosi langsung membawa tas berisi bom aktif.

“Pelaku langsung meledakan bom yang dibawa serta langsung mengendarai sepeda motor yang ada. Saat itu ada warga yang menembak dengan senapan angin mengenai kearah dada dan tampak berdarah. Selain itu ada warga yang melempari batu dan mengenai kepala dari pelaku serta warga sempat menghalanginya dengan bambu. Namun ditabrak serta dilalui menendarai sepeda motor”, terang warga Didit kepada Jurnalislam.com.

“Anwardi merupakan warga yang tertutup bahkan ia hanya menegur tetangga dan saya saja. Selain itu diam dan kami pun tidak mengetahui aktifitas sehari-hari dari pelaku”, ungkap pak didit.

Saat ini pihak kepolisian mengamankan Dian Rohana istri dari Anwardi untuk dimintai keterangan dan anak dari pelaku saat ini temgah dimenjalani perawatan di RS. Bhayangkara.

Ketika Ustaz Abdul Somad, Adi Hidayat dan Bachtiar Nasir Sepanggung

JAKARTA (Jurnalslam.com) –-Di malam puncak acara Pertemuan Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa ke-5, para peserta menanti suatu momen yang ditunggu-tunggu.

Ruangan yang pada sesi-sesi sebelumnya tampak agak lengang, di malam itu, Kamis (5/7/2018), pendingin ruangan mulai tak terasa, kursi-kursi terisi rapat dengan hanya menyisakan kekosongan di sudut-sudut, sementara gawai dan kamera para peserta tak henti merekam momentum langka tersebut.

Para ustadz masyhur yang selama ini memenuhi ruang-ruang di media sosial, pada malam itu duduk di satu meja, bergantian berceramah di hadapan para ulama dan masyekh dari berbagai negara, dan dengan intensif berbahasa Arab.

Dimoderatori Ustdaz Zaitun Rasmin, para ustadz yang ketika itu dipanggil dengan gelar “syekh” itu pun satu per satu menyampaikan risalah Islam dengan kekhasannya masing-masing.

“Syekh Bachtiar Nasir, Syekh Abdul Somad, dan Syekh Adi Hidayat,” Ustadz Zaitun Rasmin memanggil satu per satu ketiganya ke atas panggung.

Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) diberi giliran pertama dan berbicara menyinggung soal persatuan dan lemahnya kondisi umat Islam saat ini dalam politik, ekonomi, dan bidang strategis lainnya.

Dalam menjelaskan hal tersebut, UBN mengutip kisah terkenal ulama dari Mesir Syekh Mutawalli As-Sya’rawi yang menjawab pertanyaan seorang orientalis mengenai kebenaran Al-Quran. Cukup singkat ceramah UBN pada malam itu.

“Saya meyakini persatuan di antara kita, tidak akan pernah terjadi sebelum kita meng-upgrade status dari sekedar Muslimin menjadi Mu’minin,” ujar UBN, melansir Islamic News Agency (INA) kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Selanjutnya, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengawali ceramahnya dengan memperkenalkan diri kepada para masyekh mengenai latar belakang pendidikan dan asal-usulnya.

Dalam ceramahnya, UAS membawa masalah perbedaan madzhab fikih dengan pembawaan yang ringan. Dia bahkan terkadang menyelipkan humor yang tak jarang membuat para peserta dan para ulama yang lengkap dengan gamis dan kefiyyehnya itu tak mampu menahan tawa.

“PERSIS, NU, Muhammadiyah semuanya adalah saudara kami. Perbedaan-perbedaan yang ada hanyalah bersifat furu’iyah (cabang) bukan ushuliyah (landasan atau dasar-dasar agama),” ucap UAS.

Sementara Ustadz Adi Hidayat (UAH), dengan gaya bahasa yang puitis, yang didukung dengan penyebutan ayat-ayat Al-Quran yang dikontekstualisasikan dengan sejarah Islam di Nusantara berkali-kali membuat para peserta berdecak kagum.

Seakan dia ingin berpesan, bahwa datangnya rahmat Allah ke Indonesia tidak dapat dilepaskan begitu saja dari peran para ulama terdahulu yang telah menyebarkan agama Islam ke berbagai penjuru Tanah Air.

UAH, yang memiliki latar belakang Muhammadiyah, secara fasih dapat menyebutkan silsilah pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.

Selain dihadiri ulama, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga tak ingin melewatkan momen tersebut. Tidak seperti biasanya, Anies hadir tanpa berbicara di hadapan umum dan mengaku hanya ingin menikmati ceramah para ustadz.

Acara kemudian diakhiri dengan diskusi antara peserta dari berbagai negara mengenai materi yang disampaikan ketiga ustadz tersebut. Tampak Ustadz Felix Siauw dan artis Arie Untung juga hadir dan tampak menikmati suasana acara yang berjalan dengan khidmat.

 

Rupiah Diprediksi Masih Terus Melemah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (5/7/2018) pagi bergerak melemah 17 poin menjadi Rp 14.380 dibanding posisi sebelumnya Rp 14.363 per dolar AS. Laju rupiah kembali mengalami depresiasi seiring dengan melemahnya euro terhadap dolar AS.

“Pergerakan rupiah yang mampu memanfaatkan penguatan sejumlah mata uang hard currency lainnya selain dolar diharapkan dapat kembali terjadi seiring masih rendahnya nilai tukar rupiah dibandingkan dolar,” kata analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (5/7/2018) dilansir Republika.co.id.

Laju rupiah sebelumnya mampu bergerak positif dengan memanfaatkan penguatan euro terhadap dolar AS. Pelaku pasar terlihat melepas dolar jelang pengenaan tarif terhadap sejumlah barang-barang impor Cina.

Di sisi lain, penguatan rupiah turut terimbas kenaikan mata uang yuan setelah bank sentral Cina, People’s Bank of China, melakukan upaya untuk menahan pelemahan mata uang tersebut. Gubernur Yi mengatakan bahwa bank sentral mengamati dengan seksama fluktuasi nilai tukar mata uang asing dan akan berusaha mempertahankan Yuan pada tingkat yang stabil dan masuk akal serta arus modal yang masih terkendali.

Dari dalam negeri, adanya komentar dari Menko Perekonomian, Darmin Nasution, yang menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2018 berkisar 5,2 persen hingga 5,3 persen cukup direspon positif. “Diperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.350-Rp 14.339,” ujar Reza.

Senada dengan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu dibuka melemah sebesar 5,73 poin atau 0,1 persen ke posisi 5.727,91.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 1,45 poin (0,16 persen) menjadi 906,35.

 

Jokowi Curhat Soal Ketidakpastian Ekonomi Dunia

BOGOR (Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan kondisi perekonomian dunia masih diwarnai dengan ketidakpastian. Dengan begitu, menurut Presiden, sulit untuk diprediksi dan dikalkulasi.

“Saya kira bapak-ibu bupati semuanya juga merasakan betapa ketidakpastian ekonomi dunia itu betul-betul sulit dikalkulasi dan sulit dihitung,” kata Presiden Jokowi saat audiensi dengan sejumlah bupati di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/7/2018) dilansir Republika.co.id.

Presiden Jokowi yang didampingi Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan, terkait dengan pertumbuhan ekonomi, pemerintah harus bicara apa adanya. “Berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, kita harus bicara apa adanya bahwa situasi ekonomi dunia sekarang ini masih betul-betul pada posisi yang sangat sulit,” kata mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Namun, menurut dia, Indonesia harus bersyukur karena pertumbuhan ekonomi masih mencapai lima persen lebih. “Kita patut bersyukur bahwa ekonomi kita masih bisa tumbuh lima persen lebih sedikit, itu saya kira patut kita syukuri,” katanya.

Ia menyebutkan, negara-negara lain bahkan negara besar pertumbuhan ekonominya turun drastis. “Misal Cina, itu turun dari 11 atau 10 persen langsung anjlok posisi 6,5 persen, ” ujarnya.

Menurut Presiden, kondisi itu betul-betul merupakan sebuah pukulan yang sangat berat bagi negara itu. “Tapi, apa pun yang terjadi, kita ingin pertumbuhan ekonomi kita merupakan pertumbuhan yang berkualitas sehingga fundamental ekonomi kita, fondasi ekonomi kita kuat,” kata Presiden Jokowi.

 

Pengamat : TGB Berpeluang Menjadi Cawapres Jokowi Juga Prabowo

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Gubenur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuang Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi punya peluang menjadi kandidat calon wakil presiden untuk mendampingi Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Sebagai satu-satunya nama yang muncul dari kalangan kepala daerah, tidak berarti peluang TBG mendampingi Jokowi lebih berat dibandingkan nama-nama lain dari kalangan politik.

“Peluangnya juga sama saja dengan calon lainnya,” ujar pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio ketika ditanya mengenai apakah peluang TGB akan lebih berat untuk dipilih menjadi cawapres untuk mendampingi Jokowi, Kamis (5/7/2018) dilansir Republika.co.id.

Ia mengatakan sebagai sosok yang disebut layak mendampingi Jokowi, TGB harus bersaing dengan nama-nama yang sudah lebih dulu muncul seperti Ketua Umum PPP Romahurmuziy, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Pengamat politik yang juga merupakan pendiri lembaga survei Kedai Kopi ini menyatakan, bukan tak mungkin pula TGB harus bersaing dengan deretan pengusaha.

Dia menyebut deretan pengusaha yang juga berpeluang untuk mendampingi Jokowi adalah Hary Tanoesoedibjo, Chairul Tanjung, dan Erick Thohir.

“Masih ada sebulan, konstelasinya bisa berubah,” kata Hendri dalam pernyataan tertulis yang diterima Republika, Kamis (5/7/2018).

Dia juga memprediksi adanya kemungkinan kemunculan kombinasi lain untuk TGB. Dia menyebut TGB pun juga memiliki peluang untuk disandingkan dengan figur-figur kuat lainnya.

“Tunggu saja mungkin saja akan muncul kombinasi lain untuk TGB, seperti JK-TGB, Susi Pudjiastuti-TGB atau bahkan Prabowo-TGB,” kata dia.

Meski menyatakan dukungan untuk Jokowi, dia menambahkan, kemungkinan TGB mendampingi Prabowo akan tetap terbuka. Namun, ia juga harus bersaing dengan sejumlah nama seperti Rizal Ramli, Abraham Samad, Anies Baswedan atau Ahmad Heryawan.

Ia menilai pernyataan dukungan TGB terhadap Joko Widodo bukan keberpihakan TGB secara pribadi, melainkan terkait posisinya sebagai gubernur. Ia menambahkan dianggap sebagai gubernur, wajar bila TGB mendukung presidennya.

“Sebagai gubernur NTB, tidak ada yang salah dengan pernyataan TGB itu. Adalah wajib seorang Gubernur memberikan dukungan kepada presiden-nya,” terangnya.

Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi, menyatakan dukungannya kepada Presiden RI Joko Widodo untuk melanjutkan kepemimpinan presidennya. Menurutnya, Jokowi pantas untuk diberikan kesempatan untuk menyelesaikan apa yang selama satu periode ini telah dimulai.

 

Kemenkeu Dorong Penguatan Fintech Syariah

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Wakil Menteri Keuangan RI, Mardiasmo, menyatakan dunia telah memasuki era transformasi dari analog ke digital. Teknologi digital sangat mempengaruhi hidup dalam berbagai aspek khususnya ekonomi.

Ekonomi digital memungkinkan penggunaan teknologi digital untuk berbagai kegiatan ekonomi. Indonesia juga mengalami peningkatan dalam penggunaan dan penetrasi digital. Penetrasi internet Indonesia naik dari 34,62 persen pada 2016 menjadi 39,7 persen pada 2017 dan diramalkan 49,89 persen pada 2022.

Sementara itu penetrasi ecommerce di Indonesia naik dari 9,5 persen 2015 menjadi 157 persen pada 2022. “Salah satu kekuatan dalam industri ini adalah fintech,” kata Mardiasmo dalam sambutannya mewakili Menteri Ekonomi Sri Mulyani Indrawati, di pembukaan konferensi the 3rd Annual Islamic Finance Conference (The 3rd AIFC) di Makassar, Rabu (4/7/2018) dilansir Republika.co.id,

Data Asosiasi Fintech menunjukkan jumlah perusahaan fintech berkembang dari 25 perusahaan pada 2011 dan 2012 menjadi 165 perusahaan pada 2015 dan 2016 kemudian menjadi 235 perusahaan pada 2017. Perusahaan-perusahaan fintech tersebut menjalankan model bisnis seperti peer to peer lending, digital market place dan perencanaan keuangan.

Data Bank Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan total transaksi fintech. Nilainya mencapai 18,6 milair dolar AS pada 2017 meningkat 19,23 persen dari 15,6 miliar dolar AS pada 2016.

Selain menawarkan solusi inovatif melalui produk dan jasanya, fintech juga memberikan keuntungan kepada konsumen seperti kenyamanan transaksi dan harga bersaing. Fintech juga membantu membangun bisnis UMKM yang kerap menemui hambatan dalam pembiayaan.

“Pemerintah menyadari pentingnya akses keuangan informal. Ini akan membawa Indonesia pada inklusivitas dan membawa dampak positif kesejahteraan masyarakat, menghapus kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja,” terangnya.

Menurut penelitian McKinsey, Indonesia diperkirakan mencapai 150 miliar dolar AS dalam pertumbuhan, atau 10 persen dari PDB, pada 2025, jika mendigitalkan ekonomi secara efektif dan efisien.

Oleh karena itu, pemerintah mendukung praktik fintech di Indonesia. Pemerintah menggunakan teknologi di berbagai program pembangunan seperti branchless banking, dan penerbitan surat utang negara (SUN).

Meski demikian, ada potensi fraud seperti pencurian data. Karenanya diperlukan inovasi fintech dan perlindungan konsumen secara bersamaan. Jika peraturan terlalu ketat maka inovasi tidak berkembang.

Tetapi jika terlalu longgar maka tidak bisa melindungi konsumen. Pemeritah telah menerbitkan aturan melindungi fintech dan mengkaji inovasi perlindungan konsumen fintech di Indonesia.

Mardiasmo menambahkan, ekonomi syariah telah diuntungkan dengan kemajuan teknologi. Meski demikian pangsa pasar keuangan syariah di Indonesia masih 5 persen. Kontribusi terbesar dari pasar saham sebesar 52,5 persen, diikuti sukuk 17 persen, kemudian perbankan, takaful, reksa dana, dan pembiayaan, masing-masing sekitar 5 hingga 7,5 persen.

“Instrumen syariah akan menarik investasi luar dan dalam negeri dan bisa mendanai program nasional pembangunan infrastruktur juga bisa meningkatkan akses keuangan bagi masyarakat,” imbuhnya.

Meski diakui saat ini pemain fintech khususnya syariah masih terbatas. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per april 2018 ada sekitar 49 perusahan fintech peer to peer lending yang mendaftar, hanya satu yang berbasis syariah. Dia menilai masih banyak yang harus dilakukan untuk memperbaiki keuangan syariah. Antara lain mendorong perusahaan fintech dan konsumen ikut serta dalam kegiatan kuangan syariah.

Kemudian meningkatkan literasi keuangan syariah. Indeks literasi keuangan syariah masih rendah hanya 8,11 persen. Oleh karena itu, diperlukan program-program pendidikan keuangan syariah secara insentif serta memperdalam keuangan syariah terutama pelaku fintech.

 

NKRI Warisan Ulama, Al Khaththath : Pilih Pemimpin yang Takut Kepada Allah

JEMBER (Jurnalislam.com) – Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Ustadz Muhammad Al Khaththath mengatakan bahwa kepemimpinan adalah amanah dari Allah maka carilah pemimpin yang takut kepada Allah. Hal ini disampaikan pria yang akrab dipanggil Al Khathath ini dalam tabligh Akbar bertema “Memilih Pemimpin yang Akan Datang,” di Masjid Al Furqan Jember, Selasa (03/07/2018).

“Hakikat Kepemimpinan adalah amanah dari Allah, sudah sepantasnya kita mencari pemimpin yang takut kepada yang memberinya Amanah, bukan takut kepada pihak asing dan aseng,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa pemimpin Indonesia yang akan datang harus bisa memanusiakan manusia Indonesia. Tentu syaratnya dia harus beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Tuhan Yang Maha Esa yang dimaksud adalah yang tercantum dalam konstitusi yang disusun oleh para pendiri bangsa ini yaitu Allah Yang Maha Kuasa. Itu jelas ada di pembukaan UUD 1945,” tambah pria yang pernah ditahan akibat tudingan Makar karena Aksi Bela Islam 3.

Imbuhnya, calon pemimpin Indonesia yang akan datang harus faham bahwa negeri ini lahir karena warisan ulama dan umat Islam.

“Yang jadi pemimpin di Indonesia harus mau terikat dengan aturan Islam. Kenapa bisa begitu? Karena negeri diwariskan oleh orang-orang yang berkomitmen dengan Islam,” jelasnya yang disambut dengan pekikan takbir.

Ia juga mengutip QS Al Ahzab 36, apakah pantas bagi seorang mukmin untuk mencari opsi selain dari opsi yang sudah ditentukan oleh aturan-Nya.

Pers Islam dan ‘Watchdog’

Oleh Beggy Rizkiyansyah (Anggota Jurnalis Islam Bersatu)

Semakin menguatnya peran jurnalisme di masa kini seringkali digaungkan dengan peran pers sebagai watchdog atau anjing penjaga. Peran sebagai watchdog ini diasosiasikan tidak hanya sebagai pengawas bagi pemerintah tetapi juga berbagai isu yang terkait kepentingan publik.

Wacana pers sebagai watchdog tentu saja berkembang dari pengalaman pers barat sejak abad ke-18 hingga kini. Seiring berjalannya waktu pers sebagai watchdog mengalami berbagai tantangan dan perkembangan. Pers dalam wacana demokrasi liberal barat disebut sebagai pilar keempat dalam demokrasi sesungguhnya menjadi peran yang sangat dominan.

Pilar keempat pada dasarnya memberi peran pada media untuk mengumpulkan informasi, ide dan pendapat untuk membantu masyarakat dengan tata kelola pemerintahan yang baik; berperan sebagai memeriksa yang berkuasa, melaporkan, menganalisa dan mengkritik pemerintah atas nama publik, yang kekurangan akses pada informasi atau kekuasaan. (Julianne Schlutze: 1998)

Sebagai alat kontrol, terutama bagi pemerintah, peran ini menjadi penyeimbang bagi jalannya satu negara. Di Amerika Serikat, terbongkarnya skandal Watergate oleh Washington Post berujung pada tumbangnya pemerintahan Richard Nixon, atau peran New York Times dalam mengungkap Pentagon Papers. Peristiwa ini menjadi semacam ikon pers sebagai watchdog.

Watchdog, meski digaungkan dengan sangat nyaring sebagai simbol idealisme dalam jurnalisme, nyatanya tak disepakati maknanya. Sheila Coronel dari Columbia School of Journalism menegaskan bahwa watchdogging (menjalankan peran watchdog) setidaknya berarti,

On a routine basis, the watchdog press monitors the daytoday workings of government, thereby helping citizens assess the efficacy of its performance. Reporting that goes beyond what officials or their spokespersons say, to examine government performance, is also a form of watchdogging.”

Peran sebagai watchdog nyatanya tak sebatas kontrol terhadap pemerintah, namun lebih luas, dari pelanggaran kecil oleh aparat hingga skandal mega korupsi. Dari pihak pemerintah hingga aksi menyimpang dari korporasi. Bahkan Shelia Coronel juga menyebutkan penyimpangan oleh gereja atau biksu juga termasuk didalamnya.

Salah satu penerapan watchdog adalah dengan melakukan pengungkapan terhadap penyimpangan yang terjadi terkait kepentingan publik, meskipun dilatari beragam motif.

“…what matters is that the reporting warns citizens about those that are doing them harm and empowers them with the information they need to know”, demikian jelas Sheila Coronel (2009) dalam Corruption and the watchdog role of the news media.

Pengungkapan lewat jurnalisme investigasi menjadi ujung tombak dari peran watchdog. Investigasi ini yang mengungkapkan bagaimana organisasi berjalan dan bagaimana seharusnya organisasi berjalan. Dampak dari jurnalisme investigasi dalam watchdog berdampak bukan hanya pada individiu tetapi juga sistemik. (Sheila Coronel: 2009) Pelanggaran dari individu adalah bagian dari penyimpangan dari sistem.

Begitu pula Murrey Marder dalam artikelnya di Nieman Reports (1998). Baginya, “…watchdog journalism is by no means just occasional selective, hard-hitting investigative reporting. It starts with a state of mind, accepting responsibility as a surrogate for the public, asking penetrating questions at every level, from the town council to the state house to the White House, in corporate offices, in union halls and in professional offices and all points in between.”

Pers watchdog tidak sekedar memelototi dan menyalak terhadap segala aksi pemerintah atau korporasi, justru jurnalis pers watchdog tersebut melakukan analisa mendalam terhadap segala informasi yang diterimanya. Pelaksanaan jurnalisme investigasi adalah ujian krusial bagi pers sebagai pilar keempat. (Julianne Schlutze: 1998).

Jurnalisme investigasi dalam pers watchdog nyatanya tak subur hanya di negara-negara liberal dan demokratis. Di negara otoriter seperti Cina pun jurnalisme investigasi dapat tumbuh. Menurut Sheila Coronel, beberapa faktor mendorong hadirnya jurnalisme investigasi di Amerika latin, Asia Tenggara, dan Cina memiliki kesamaan: pergolakan sosial dan politik yang menciptakan permintaan akan informasi; jurnalis dan pengusaha media yang memanfaatkan keuntungan dari kontrol yang longgar, peluang bisnis untuk mengungkap penyelewengan; dan publik yang haus akan reportase pengungkapan skandal dan penyelewengan (muckraking). (Sheila Coronel: 2009)

Di balik aksi watchdogging pers tersimpan pula potensi penyimpangan-penyimpangan. Ada banyak pertanyaan seputar klaim pers sebagai pilar keempat dan berfungsi sebagai watchdog. Salah satunya pendapat Geroge Boyce (1978) yang dikutip oleh Julianne Schlutz;

“The paradox of the Fourth Estate, with its head in politics and its feet in commerce can, however, only be understood if it is appreciated that the whole idea of the Fourth Estate was a myth. A myth can combine fact and fiction without any uneasiness existing between the two.” (1998)

Di era ekonomi yang berorientasi pada pasar, pers juga tak luput dari dampaknya. Perusahaan media tempat pers bernaung menjadi lebih mementingkan selera dan respon pasar (pembaca). Rating, oplah atau pengunjung situs menjadi pertimbangan pemberitaan. Kapasitas pers sebagai watchdog pun disorot. Pengungkapan penyimpangan bukan didasarkan pada peran sebagai watchdog, tetapi lebih sebagai penyuplai skandal.

Media sebagai “pemangsa” skandal bertujuan untuk memuaskan dahaga khalayak, daripada untuk menginformasikan dan mendorong khalayak untuk mendorong perbaikan. Kontroversi dan skandal yang tak habis-habisnya terus diumbar tanpa dorongan perbaikan yang substansial. Skandal, seperti pemilihan umum, menjadi arena pertarungan para elit daripada mendorong khalayak untuk berubah. (Sheila Coronel: 2009)

Benar di negara otoriter dan tertutup seperti Cina, perusahaan pers yang berbasis keuntungan menjadi motor watchdog. Hasrat khalayak akan pengungkapan penyimpangan mendorong media memburu informasi. Namun apa jadinya bila masyarakat akhirnya jenuh dan putus asa akan melimpahnya penyimpangan? Akankah perusahan pers berpaling dari rutinitasnya sebagai pengungkap penyimpangan? Seperti Andras Sajo, seorang mantan Hakim asal Hungaria katakan, ketika semua orang mengeluhkannya, maka public kehilangan minat terhadap tuduhan korupsi dan menganggapnya wajar. Korupsi tingkat tinggi pemerintah menjadi fakta normal dalam hidup sehari-hari.

Pers yang bernaung di perusahaan berorientasi pada pasar mungkin bebas dari intervensi pemerintah, tetapi fenomena menyedihkan terjadi di Indonesia. Perusahaan pers dikuasai oleh para konglomerat. “Di Indonesia, sebanyak 12 kelompok media besar menguasai saluran informasi dari ujung Aceh hingga Papua. Kedua belas kelompok media ini menguasai saluran informasi mulai dari media cetak koran, majalah, radio, televisi, serta jaringan berita on-line.” (Anggia Valerisha: 2017)

Dampak konglomerasi media ini adalah terdistorsinya informasi yang diterima masyarakat. Masyarakat akhirnya tidak menerima informasi yang memadai, dan hanya mewakili satu sudut pandang. Pemberitaan juga menyuarakan kepentingan pemiliknya. Khalayak atau publik hanya dianggap sebagai pasar semata. Monopoli kepemilikan ini juga hanya menghasilkan opini yang seragam. (Anggia Valerisha: 2017)

Lebih memilukan lagi ketika para konglomerat media terjun ke ranah politik praktis dan berselingkuh dengan penguasa, sehingga peran watchdog bukan saja mandul tetapi pers berubah menjadi lapdog (anjing peliharaan) atau attack dog (anjing penyerang) bagi kepentingan pemiliknya. Kepentingan khalayak atau publik bukanlah tujuan dari perusahaan pers tersebut.

Orientasi jurnalisme watchdog kepentingan publik bagi pers dalam pandangan pers barat yang diadopsi pers berbagai negara termasuk di Indonesia. Namun bagaimana dengan pers Islam? dapatkah konsep pers sebagai watchdog sejalan dengan Islam sebagai pandangan hidup?

Seperti yang dibahas dalam “Menyelami Jurnalisme Islami” salah satu tawaran dalam wacana jurnalisme Islami adalah prinsip jurnalisme Islami adalah tabligh (edukasi), termasuk di dalamnya amar ma’ruf nahi munkar. Satu ajaran untuk menyokong yang hak dan menolak yang batil.

“Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

Ajaran amar ma’ruf nahi munkar inilah yang diterapkan pula dalam jurnalisme Islami ketika pers Islam melakukan kontrol atau pengawasan terhadap penguasa. Penguasa dalam ajaran Islam bukanlah figur maksum yang bebas dari kesalahan. Justru tanggung jawab sebagai pemimpin amatlah berat. Namun ketika seorang pemimpin menyimpang dari ajaran Islam maka meluruskannya merupakan salah satu bentuk jihad tertinggi.

Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Para ulama mencantumkan hadist ini dalam bab-bab seputar amar ma’ruf nahi munkar. Abu Daud Sulaiman bin Al Asy’ats As Sajistani membawakah hadits ini dalam kitab sunannya pada Bab “Al Amru wan Nahyu”, yaitu mengajak pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Abu ‘Isa At Tirmidzi membawakan hadits di atas dalam Bab “Mengingkari kemungkaran dengan tangan, lisan atau hati”. Sedangkan Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin membawakan hadits ini dalam Bab “Memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. (Muhammad Abduh Tuasikal : 2013)

Hal ini mengisyaratkan meluruskan perilaku pemimpin dalam Islam bukanlah persoalan remeh-temeh. Memantau jalannya pemerintahan, termasuk didalamnya pemimpin dalam diskursus jurnalisme barat demi kepentingan publik, dengan kebenaran berlandaskan humanisme-sekular maka dalam Islam timbangan kebenaran adalah wahyu. (lihat tulisan #MelekMedia “Menyelami Jurnalisme Islami”).

Perbedaannya adalah tanggung jawab pertama pers Islam adalah kepada Tuhannya, yaitu Allah Swt. Sedangkan dalam pandangan pers barat, pers berdiri diatas kepentingan publik atau khalayak. NIlai-nilai humanisme-sekular barat menjadi acuan apa yang penting bagi publik. Tanggun jawab sosial pada masyarakat dalam pers islam akhirnya kembali lagi didasarkan pada amar ma’ruf nahi munkar. (Siddiqi, Mohammad A: 1999).

Para penyeru ke jalan Allah dituntut dalam Quran untuk menyampaikan pesan-pesan yang komprehensif yang mengarahkan juru dakwah pada metode terbaik dan jalan yang paling tepat. Menurut Sufyan Ats Tsauri, agar penyeru amar ma’ruf nahi munkar harus memiliki tiga sifat, yaitu halus dalam menyuruh dan melarang, adil dan alim dalam apa yang disuruhkan dan dilarang. (Dr. Muhammad Jamiel Ghazi: 1979)

Secara aplikatif, seperti halnya peran watchdog, peran pengawasan terhadap penguasa (pemerintah) akan lebih komprehensif dan efektif jika ditopang satu bentuk jurnalisme investigasi yang kredibel. Sehingga pers Islam mampu bukan menjadi ‘sekedar tukang kritik’ namun menyajikan satu sajian mendalam baik fakta, analisa maupun nasehat sehingga prinsip tabligh dalam pers Islam dapat terpenuhi. Investigasi yang mendalam juga memungkinkan pers Islam untuk mengkritik dengan adil dan proporsional dengan data yang memadai. Menghindari diri menjadi attack dog atau lapdog.

 

Tulisan ini merupakan Program #MelekMedia dari Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Di Pertemuan Ulama Dunia, Dosen Ummul Qura Ungkap Sebab Perselisihan di Tengah Umat

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Pada hari kedua Pertemuan Ulama dan Da’i se-Asia Tenggara, Afrika dan Eropa ke-5, dibahas isu penting soal sebab-sebab perselisihan di tengah umat Islam.

Dosen Universitas Ummul Qura Mekkah Dr Fakhruddin Az-Zubair menjelaskan, sebab-sebab tersebut berasal dari kezaliman dan kebodohan. Kezaliman, jelasnya, terbagi menjadi tiga, yakni kezaliman terhadap Allah, terhadap diri sendiri, dan terhadap saudaranya.

Tingkat kezaliman pertama adalah yang paling buruk, yang menyebabkan munculnya kesesatan. Keyakinan menyimpang di tengah umat menurutnya memang masalah besar bagi kaum Muslimin.

Kendati demikian, beliau mengetengahi, hal itu tidak semestinya disikapi reaktif oleh umat.

Beliau pun memberi contoh, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun ketika fase Madinah tetap melakukan interaksi dengan orang-orang yang bahkan tidak bersyahadat-dengan batas-batas tertentu.

“Contohnya perjanjian-perjanjian Nabi dengan orang-orang Yahudi, serta akomodasi Nabi terhadap orang-orang Munafik. Apalagi perselisihan akidah yg sifatnya internal ahlul kiblat (sesama Muslim). Harusnya lebih bisa untuk tidak menyebabkan kita berpecah,” jelas ulama Sudan dari itu, melansir kantor berita yang diinisiasi JITU, Islamic News Agency (INA).

Sementara zalim terhadap diri dan saudara sendiri merupakan dampak dari kezaliman pertama.

Lebih lanjut beliau menjelaskan, kezaliman-kezaliman itu pun telah menjatuhkan orang-orang pada kebodohan yang setidaknya terbagi secara umum menjadi tiga.

Pertama, kekeliruan terhadap pemaknaan ayat-ayat al-Quran dan As-Sunnah (hadits), lalu terhadap penghukuman realita dengan dalil (ta’shil), terakhir yakni kebodohan dalam menempatkan dalil dalam realita (tanzil).

Tiga kebodohan itu yang menurutnya tengah menjadi momok tersendiri bagi sesama Muslim, yakni ketika tidak menempatkan dalil pada konteks yang tepat.

“Imam Bukhori meletakkan dalam Shahihnya, bab mengenai mengkhususkan ilmu bagi sebagian kaum saja. Dikhawatirkan orang lain (awam) tidak dapat memahaminya,” katanya.

Dr Fakhruddin menceritakan, suatu ketika ada seorang perempuan ingin masuk Islam. Tetapi perempuan tersebut mensyaratkan agar dibolehkan masih bermain dengan anjing.

“Secara ideal, muslim tidak boleh bermain-main dengan anjing. Kalau kita katakan tidak boleh, bisa saja dia tidak jadi masuk Islam. Padahal bermain-main dengan anjing hukumnya dosa, sementara tetapnya dia dalam kekafiran adalah kekufuran,” paparnya.

Dalam konteks itu dia mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan, “Lebih baik dia masuk Islam atau tetap pada kekafirannya?” tanya Syaikh Fakhruddin.

reporter : syahrain