Kurban, Potensi Besar Ekonomi Umat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Peneliti Ekonomi Syariah SEBI School of Islamic Economics Aziz Setiawan mengatakan secara umum kurban ini perlu kesadaran masyarakat untuk dilihat sebagai potensi ekonomi.

“Kurban menjadi potensi yang perlu dikelola secara lebih profesional dan terstruktur, karena kurban bukan hanya sekadar ibadah ritual,” jelas dia lansir Republika.co.id, Selasa (10/7/2018).

Kurban dapat difungsikan sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi umat. Sehingga sudah tepat ketika lembaga filantropi memiliki terobosan baru dan inisiatif untuk menyelenggarakan program kurban.

Ini merupakan langkah positif karena sebelum adanya program kurban dari lembaga filantropi, biasanya kurban hanya terpusat di sekitar wilayah pemberi kurban saja. Setelah lembaga ini bergerak konsentrasi penyeberan hewan kurban pun tersebar, terutama di wilayah yang memiliki kantong-kantong kemiskinan.

Program yang dimiliki lembaga filantropi ini pun dapat dengan mudah melakukan redistribusi kurban ke wilayah yang masih terdapat kantong kemiskinan. Mereka juga dapat menjangkau lebih luas daerah minus dan marjinal lainnya.

Selain itu progam kurban ini secara nyata dapat berdampak pada ekonomi. Upaya lembaga untuk menghimpun dan yang maksimal dapat dilakukan jika pengkurban dapat melihat desain kuat yang mereka lakukan.

Program kurban harus memiliki struktur produksi ternak yang kuat apalagi Indonesia merupakan negara agraris sehingga pertanian dan peternakan sangat potensial dikembangkan. Lembaga ini juga dapat memberikan akses modal sehingga mampu meningkatkan usaha peternak untuk kurban.

“Mereka yang jaringan penjualannya tidak menguntungkan maka dapat membantu untuk memperkuat mereka, sehingga basis produksi kurban ini mampu menciptakan rantai ekonomi yang besar,”jelas dia.

Lembaga dapat memberikan bibit, membantu dalam pelatihan merawat ternak. Sehingga tak hanya sekadar mengambil dari hasil ternak saja tetapi juga ikut serta dalam memproduksi hewan kurban dan menyejahterakan peternak serta membuka lapangan pekerjaan baru.

Saat ini, lembaga filantropi masih belum melirik pasar luar negeri dengan serius. Padahal sebagai negara agraris sebenarnya lembaga ini dapat menjadi perantara untuk permintaan kurban dari luar negeri. Saudi Arabia misalnya mereka banyak mendapatkan kurban dari negara Eropa, seharusnya dengan umat muslim yang paling besar dan pengetahuan tata cara penyemebelihan hewan kurban tentu bisa mendapatkan potongan pasar kurban tersebut.

Menurut Azis saat ini lembaga filantropi harus terus memperkuat akuntabilitas dan eksistensi kepercayaan publik. Tentu hal ini tidak terlepa dari sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat bahwa kurban melalui lembaga jauh lebih bermanfaat dibandingkan secara langsung menyembelih hewan kurban.

Kurban melalui lembaga tak hanya menggugurkan ibadah saja, tetapi juga dapat menjangkau penyaluran kurban sehingga penerima tepat sasaran. Kedua, penghimpunan dana kurban tak hanya sekadar untuk penyembelihan saja tetapi juga dapat digunakan untuk mengembangkan produksi ternak kurban sehingga rantai nilai ekonomi bagi umat Islam semakin panjang. Tentu hal ini menjadikan program kurban mampu meningkatkan kesejahteraan penerima kurban juga peternak hewan kurban

 

Kemenag Ragukan Data yang Sebut Ada Masjid Radikal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Khoiruddin menegaskan tidak ada masjid radikal, khususnya di Jakarta. Dia pun meragukan data survei yang belum lama ini menyebut ada 41 masjid pemerintahan yang terindikasi radikal.

“Sudah disampaikan sebenarnya tidak ada masjid radikal karena itu benda mati. Nah ini perlu data khusus sebenarnya, kami dari Kemenag meragukan adanya data itu tentang maajis radikal,” ujar Khoiruddin lansir Republika.co.id di Jakarta bari-baru ini.

Menurut dia, ketika ceramah seorang mubaligh atau khatib mengandung ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu bukan berarti masjidnya yang radikal. Karena itu, kata dia, survei terdebut masih memerlukan data kuat.

Kendati demikian, Khoiruddin mengakui memang masih ada mubaligh yang dalam ceramahnya menyampaikan ujaran kebencian atau menjelekkan golongan lainnya. Walaupun, hal itu juga masih dalam batas toleransi.

“Kita memang sudah melakukan pertemuan-pertemuan pengurus masjid di Jakarta ini. Tapi hasil dari pertemuan kita, mereka memang mengakui ada penceramah yang terkadang dalam ceramahnya itu memberikan ujaran kebencian, tapi itu masih dalam tataran tidak berbahaya. Masih dalam batas toleransi,” ucapnya.

Menurut Khiiruddin, model ceramah seperti itulah yang harus diperbaiki bersama, sehingga toleransi antar umat beragama di Indonesia tetap terjaga. “Ini yang harus kita perbaiki bersama bahwa pemahaman ini harus untuk menjalin sama-sama kasih sayang terhadap orang yang berbeda dalam pemikiran dan pendapatnya,” kata Khoiruddin.

 

Ansharusyariah Sebut Survey Masjid Radikal Bentuk Islamofobia

SOLO (Jurnalislam.com) – Tuduhan terhadap adanya 41 masjid radikal oleh Lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) disebut juru bicara Jamaah Ansharusy Syariah ustaz Abdul Rochim Ba’asyir adalah sebuah upaya yang dilakukan kalangan Islam phobi untuk menjauhkan ajaran Islam kepada umat manusia.

Menurut ustaz Iim, sapaan karibnya, upaya-upaya semacam itu sudah dilakukan oleh musuh-musuh Islam terhadap Rasulullah sejak awal menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat dan bangsanya. Ia memberi contoh tentang permusuhkan kaum Quraisy Mekah kepada Rasulullah setelah mendakwahkan ajaran Islam.

“Ini hal yang sebenarnya baru, tapi kaum muslimin juga tidak boleh diam karena ini adalah upaya jahat yang dilakukan oleh musuh Islam, kalangan islam fobia untuk menjauhkan Islam asing dan jauh dari umat manusia,” katanya kepada Jurnalislam.com saat ditemui dirumahnya Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis, (12/7/2018).

“Maka mereka upayakan diamana caranya umat manusia supaya jauh dari ajaran Islam takut memdengarkan khutbah khutbah Islam secara sempurna, takut dengan kalangan kaum muslimin yang mengamalkan islam secara sempurna dan upaya itu dilakukan orang yang anti Islam,” imbuh ustaz Iim.

Lebih lanjut, kata ustaz iim, musuh-musuh Islam selalu ingin memecah belah umat Islam dengan cara membuat umat Islam hanya mengamalkan sebagian dari ajaran Islam. Untuk itu, ia meminta para juru dakwah untuk bisa membimbing umat Islam ini dari kesesatan dan tipudaya musuh Islam.

“Dan ini tugas para Dai atau juru dakwah untuk menghadapi hal-hal semacam ini, kemudian mengajak umat ini kepada dienul Islam dan mengajak kepada Islam yang sempurna, dari mulai urusan yang kecil sampai yang besar,” tandasnya.

MUI Pertanyakan Indikator Survey Masjid Radikal

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Wakil Ketua Umum MUI, Prof. Yunahar Ilyas mempertanyakan indikator radikal yang dikeluarkan oleh P3M di masjid-masjid milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebab, istilah radikal memiliki permasalahan pada definisi.

“Pertama harus jelas dulu definisi radikal ukurannya apa, indikatornya apa. Jadi kita belum bisa menilai secara mendalam sebab sekarang itu poblematika definisi,” ucapnya kepada Kiblat.net di Gedung MUI Pusat, Jakarta pada Selasa (10/07/2018) lansir Kiblat.net.

Yunahar juga menegaskan bahwa jika definisi radikal tidak dijelaskan, maka akan terjadi bias. Menurutnya, saat ini muslimah yang menggunakan pakaian tertutup ada yang menyebutnya radikal.

“Sekarang pun ada orang rajin ke masjid disebut radikal, muslimah menggunakan pakaian tertutup juga disebut radikal,” tuturnya.

Oleh sebab itu, ia menerangkan bahwa jika seorang muslim mengamalkan ajarannya tidak disebut radikal. Contohnya, kata dia, seorang muslim yang tidak memilih pemimpin non muslim.

“Misalnya lagi, ketika seseorang apakah anda setuju orang yang berzina dirajam, dia bilang setuju tidak radikal. Karena dia memahami ajaran agamanya,” tuturnya

AXA Financial Genjot Produk Syariah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Produk syariah PT AXA Financial Indonesia belum menunjukkan kinerja menggembirakan di kuartal I-2018.

Direktur AXA Financial Indonesia Vincentius Wilianto mengantakan, hingga Maret 2018, kontribusi produk syariah hanya sekitar 2% dari total pemasukan perusahaan.

“Kontribusinya belum besar, sehingga kami akan terus meningkatkan kontribusi dari produk syariah ini,” kata Vincentius kepada Kontan.co.id, Rabu (11/7/2018) lansir Kontan.co.id

Sayangnya, ia enggan menyebutkan berapa jumlah premi yang diterima di sepanjang bulan Januari hingga Juni 2018. Meski demikian, AXA Financial akan terus meningkatkan bisnis syariah, seperti dua produk unitlink syariah yaitu Maestro Syariah dan Cerdas Amanah.

Maestro syariah adalah produk unitlink jangka panjang yang memberian manfaat asuransi jiwa dan kesempatan berinvestasi. Produk ini dikombinasikan dengan asuransi kesehatan, kecelakaan dan penyakit kritis.

“Ini berguna bagi nasabah yang memerlukan perlindungan asuransi jangka panjang dan ada kesempatan dalam instrumen investasi sesuai dengan prinsip syariah,” kata Vincentius.

Sementara Cerdas Amanah Syariah merupakan produk unitink dengan komponen investasi dan proteksi jiwa dalam jangka waktu 10 tahun-25 tahun untuk perencanaan pendidikan.

Nantinya, produk asuransi unitlink ini akan dipasarkan melalui cabang AXA Financial yang ada di Indonesia. Selain itu, dengan dikeluarkan produk syariah tersebut menjadi cara perusahaan untuk mengenalkan dan meningkatkan penjualan asuransi syariah di Indonesia.

“Kami akan terus mensosialisasikan produk syariah kepada tenaga pasar kami, juga dengan mengikuti perlombaan asuransi demi meningkatkan angka penjualan,” pungkasnya. (kontan.co.id)

 

Potensi 2 Triliun Dollar, Indonesia Didorong Kembangkan Industri Halal Global

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Untuk menciptakan potensi ekonomi dan keuangan Islam, Pemerintah meminta seluruh pemangku kepentingan untuk bersinergi. Hal itu disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro dalam keterangannya yang dilansir Gatra.com awal pekan ini).

Menurut Bambang, pemerintah berkomitmen menyediakan infrastruktur, regulasi dan mempromosikan ekonomi dan keuangan Islam. Termasuk mendorong Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) mengintegrasikan ide dan inovasi dengan inovasi teknologi. Sehingga, ekonomi dan keuangan Islam nasional diharapkan tumbuh lebih cepat dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

Belajar dari perkembangan ekonomi Islam yang progresif di Dubai dan Malaysia, pemerintah merasa penting untuk mengintegrasikan aspek teknologi ke dalam kerangka pembangunan ekonomi Islam.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah masyarakat dan menciptakan laju perkembangan baru. Melalui inovasi teknologi, telah tercipta digitalisasi yang mempercepat perputaran informasi yang kemudian telah mengubah struktur ekonomi global dan nasional. “Era ini akan menjadi era ekonomi digital, menandai proses revolusioner dari apa yang disebut revolusi industri keempat atau industri 4.0,” kata Bambang.

Apalagi, menurut Bambang, ada potensi besar pengembangan ekonomi Islam, khususnya industri halal. Berdasarkan Laporan Ekonomi Islam Global terbaru, diperkirakan bahwa muslim global menghabiskan lebih dari US$2 trilyun di seluruh sektor gaya hidup pada tahun 2016. Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Bambang yakin industri halal punya potensi untuk dikembangkan. “Hampir semua sektor industri halal berpotensi untuk tumbuh di Indonesia,” tegas Bambang.

Namun, sejauh ini kata Bambang, Indonesia belum menjadi pemain global dalam produksi makanan halal, busana muslim, perjalanan halal, dan sektor lainnya. “Pemerintah akan bekerja lebih keras untuk mendorong agar Indonesia mampu menjadi pemain global dalam beragam sektor usaha produk halal serta mempromosikan gaya hidup halal di Indonesia,” kata Bambang.

KNKS : Ekonomi Islam Harus Terintegrasi dengan Inovasi dan Teknologi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) akan fokus pada agenda pembangunan ekonomi dan keuangan Islam. Belajar dari perkembangan ekonomi Islam yang progresif di Dubai dan Malaysia, penting untuk mengintegrasikan aspek teknologi ke dalam kerangka pembangunan ekonomi Islam.

“Pemerintah berkomitmen untuk menyediakan infrastruktur, regulasi yang relevan, serta untuk terus mempromosikan ekonomi dan keuangan Islam, tidak hanya untuk industri, tetapi juga untuk seluruh masyarakat,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Permadi Soemantti Brodjonegoro melalui siaran persnya, Selasa (10/7)/2018) lansir Bisnis.com.

Menurut Bambang, melalui KNKS pemerintah dan regulator akan bekerja sama secara sinergis untuk membuka potensi ekonomi dan keuangan Islam, dengan mengintegrasikan ide dan inovasi dengan inovasi teknologi.

Oleh karena itu, ekonomi dan keuangan Islam nasional diharapkan tumbuh lebih cepat dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat. Bambang berharap, untuk mencapai misi tersebut para pemangku kepentingan di sektor ekonomi dan keuangan Islam harus berperan aktif dan bersinergi.

Lebih lanjut Bambang mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah masyarakat dan menciptakan laju perkembangan baru.

Melalui inovasi teknologi, telah tercipta digitalisasi yang mempercepat perputaran informasi yang kemudian telah mengubah struktur ekonomi global dan nasional. Era ini akan menjadi era ekonomi digital, menandai proses revolusioner dari apa yang disebut revolusi industri keempat atau industri 4.0.

Sejalan dengan fenomena perkembangan industri 4.0 secara global, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mempercepat pelaksanaan revolusi industri keempat sebagai garda depan revitalisasi sektor manufaktur Indonesia dalam rangka mencapai visi Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia pada 2030.

Peta jalan ini memberikan arah dan strategi yang jelas untuk pergerakan industri nasional Indonesia di masa depan, termasuk di lima sektor yang difokuskan (yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, dan kimia) serta 10 prioritas nasional untuk memperkuat struktur industri Indonesia, yaitu: (1) meningkatkan arus barang dan bahan dalam perekonomian; (2) mendesain ulang zona industri; (3) mengakomodasi standar keberlanjutan; (4) memberdayakan UKM; (5) mengembangkan infrastruktur digital nasional; (6) menarik investasi asing; (7) meningkatkan kualitas sumber daya manusia; (8) mengembangkan ekosistem untuk inovasi; (9) insentif untuk investasi teknologi; dan (10) peraturan harmonisasi.

Untuk mendukung prakarsa “Menjadikan Indonesia 4.0” dan memposisikan Indonesia sebagai 10 besar ekonomi global pada tahun 2030, Menteri Bambang menjelaskan perlu perhatian terhadap potensi besar pengembangan ekonomi Islam, khususnya industri halal.

Seiring dengan meningkatnya pemahaman dan kesadaran umat Islam secara global dalam menggunakan produk halal, ekonomi Islam global telah mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir dan pengakuan luas. Berdasarkan Laporan Ekonomi Islam Global terbaru, diperkirakan bahwa muslim global menghabiskan lebih dari US$2 triliun di seluruh sektor gaya hidup pada 2016.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, Indonesia merupakan konsumen terbesar produk halal global. Namun sejauh ini, kata Bambang, Indonesia belum menjadi pemain global dalam produksi makanan halal, busana muslim, perjalanan halal, dan sektor lainnya. Pemerintah akan bekerja lebih keras untuk mendorong agar Indonesia mampu menjadi pemain global dalam beragam sektor usaha produk halal serta mempromosikan gaya hidup halal di Indonesia. (bisnis.com)

Danareksa Kembali Rilis Dua Produk Investasi Syariah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Untuk mendukung perkembangan industri reksa dana syariah, PT Danareksa Investment Management (DIM) mengembangkan lini produk syariah pada tahun ini dengan berencana merilis dua jenis produk reksa dana syariah pada semester II/2018.

Direktur Utama DIM Marsangap P. Tamba mengatakan bahwa strategi bisnis tersebut ditempuh usai perseroan membentuk Unit Syariah pada awal 2018 yang berfungsi mengembangkan dan memasarkan produk investasi syariah DIM.

“Kami akan mengoptimalkan fungsi Unit Syariah dalam mengembangkan produk syariah dan berencana meluncurkan 2 produk reksa dana syariah baru,” katanya di Jakarta, Selasa, (10/7) lansir binsis.com.

Hingga 31 Mei lalu, anak usaha PT Danareksa (Persero) ini sudah mengelola tujuh produk reksa dana syariah. Adapun, pada semester kedua tahun ini akan semakin lengkap dengan rilisnya Danareksa Seruni Pasar Uang Syariah untuk reksa dana pasar uang dan Danareksa Melati Pendapatan Tetap Utama Syariah untuk reksa dana pendapatan tetap.

Kedua produk itu sudah mengantongi surat efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Investor produk syariah yang dibidik yakni investor ritel dan institusi seperti bank syariah, dana pensiun, asuransi syariah dan yayasan.

Marsangap berharap produk-produk investasi yang ditawarkan bisa menjadi pilihan investasi yang baik bagi masyarakat sehingga dapat berkontribusi pada perekonomian nasional. Apalagi tingkat literasi keuangan di Tanah Air masih rendah. “Surve OJK pada tahun 2016 mencatat indeks literasi keuangan masyarakat baru mencakup hampir 30%.”

Dia menjelaskan bahwa produk-produk syariah yang ditawarkan, terutama reksa dana berbasis saham, sudah masuk Daftar Efek Syariah (DES) dan memenuhi ketentuan DSN MUI.

Dalam jangka panjang, perseroan optimistis perkembangan industri reksa dana syariah cukup prospektif. Hal ini dapat dilihat pada data pertumbuhan dana kelolaan dan jumlah unit penyertaan yang lebih tinggi dari reksa dana konvensional.

Berdasarkan data Infovesta Utama, dalam 5 tahun terakhir dana kelolaan reksa dana syariah meningkat 31% per tahun dan unit penyertaan meningkat 27% per tahun. Peningkatan ini lebih tinggi daripada reksa dana konvensional. (bisnis.com)

Islam Nusantara Dinilai Kelanjutan dari Ide JIL

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Kemunculan istilah kontroversial Islam Nusantara dinilai juru bicara Jamaah Anshorusy Syariah ustaz Abdurachim Ba’asyir adalah perkembangan dari Jaringan Islam Liberal (JIL).

Hanya saja, katanya, secara penyebarannya di Indonesia ada pergantian tokoh guna mengkaburkan ajaran tersebut kepada umat Islam.

“Secara akar idenya sebenarnya sama, orang-orangnya dibentuk beda karena ini kan dagangan baru, contoh kalau kamu pakai sales yang sama nanti kamu ketahuan,” katanya kepada Jurnalislam.com di Gedung Salimah, Sukoharjo, Ahad, (8/7/2018).

Membongkar Jamaah Islam Nusantara (JIN)

Ustaz Iim sapaan karibnya juga menjelaskan, bahwa salah satu tokoh JIL Ulil Abshar Abdalla selalu mengatakan bahwa Al Quran tidak sesuai dengan Indonesia, kini paham sesat itu coba dilanjutkan oleh tokoh lain melalui ajaran Islam Nusantara.

“Memunculkan orang orang baru tapi idenya sama liberalisme, intinya satu kuk kalau orang liberal dulu terang terangan mengatakan Al-Quran tidak sesuai dengan kita dan indonesia makanya akan diteruskan dengan Islam Nusantara pikirnya kan begitu,” paparnya.

Konsep Islam Nusantara

Untuk itu ia mengimbau kepada umat Islam agar mewaspadai ajaran Islam Nusantara tersebut, sebab, katanya, ajaran yang menganggap ajaran Islam harus tunduk dengan budaya di Indonesia tersebut, akan merusak akidah umat Islam.

“Nah inilah yang perlu diwaspadai oleh umat islam dan sehingga sangat berbahaya sekali dan sangat sesat sekali hingga bisa merusak akidah kaum muslimin,” pungkasnya.

Subuh Berjamaah di Boyolali, Kang Aher Cerita Peran dan Fungsi Masjid

BOYOLALI (Jurnalislam.com) –Lebih dari 2500 jamaah dari Boyolali dan sekitarnya menghadiri helatan akbar shalat subuh berjama’ah Masjid Riyadhul Jannah,Ngreni Simo Boyolali pada Ahad (08/07/2018).

Subuh berjamaah plus tausiyah yang dihelat setiap pekan merupakan agenda pekanan, bertajuk ‘Masjid Makmur, Pemimpin Jujur, Ummat Akur’ menghadirkan pemateri Gubernur Jawa Barat Dr.H.Ahmad Hermawan,Lc.,M.Si.

Dalam paparannya, Ahmad Heryawan yang karib disapa kang Aher mengatakan bahwa salah satu ciri hebatnya keimanan kepada Allah suatu kampung ataupun negeri adalah salah satunya banyaknya orang yang shalat subuh di masjid.

“Jika sebua negeri semua shalat subuhnya di masjid, maka saksikan kampung atau negeri tersebut sedang hebat imanya kepada Allah,”katanya kepada ribuan jamaah yang hadir.

Fungsi masjid, katanya, selain sebagai tempat ubudiyah, tetapi juga sebagai temat thalabul ilmi juga sebagai tempat kadarisasi generasi terbaik umat.

“Oleh karenanya kalau kita mau mencari teman yang baik cari di masjid. Kalau mau cari mertua yang baik, cari di masjid. Kita mau cari menantu yang baik cari di masjid bahkan kalau kita mau cari pemimpin yang baik cari di masjid,”tambahnya.

Selain fungsi masjid diatas ada fungsi yang lainya,kalau jaman ulama dahulu masjid juga sebagai pembuat rekomendasi soal pinjam meminjam di baitul mal.

“Karena pinjam meminjam itu urusan kejujuran, maka zaman dahulu yang merekomendasikan kejujuran adalah masjid,” katanya.

Perhelatan subuh berjamaah di akhiri sarapan bersama dengan menu nasi macan khas Masjid Riyadhul Jannah.

Reporter : Ridho A