Muhammadiyah Serukan Parpol Tarik Caleg Bermasalah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM Busyro Muqoddas meminta partai politik (Parpol) untuk menarik calon legeslatif (caleg) bermasalah yang akan mengikuti Pemilu Serentak 2019, khususnya caleg mantan koruptor.

Hal ini disampaikan Busyro saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertema ‘Putusan MA Terhadap Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) di Mata Publik’ di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakpus, Selasa (25/09/2018).

Mantan Ketua KPK ini menuturkan, meski putusan Mahkamah Agung (MA) telah membatalkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) nomor 20 tahun 2018 yang membatasi mantan napi korupsi untuk maju. Sebaiknya, kata dia, parpol tetap menjunjung tinggi pakta integritas Pemilu 2019.

“Mestinya partai-partai politik dapat didorong untuk menyatakan bahwa pakta integritas yang sudah dikemukakan di KPU saat itu bisa direalisasikan. Salah satunya dengan pernyataan tegas menarik calon-calon yang bermasalah sesuai dengan putusan MA,” kata Busyro.

Sedikitnya ada 38 caleg mantan koruptor yang akan maju pada Pileg 2019 mendatang. Menurut Busyro, dengan ditariknya Caleg eks koruptor tersebut diharapkan bisa menciptakan Pemilu yang bersih dan membuat citra DPR ke depannya lebih baik. “Mengingat citra DPR saat ini belum dapat lepas dari praktik korup,” tambahnya.

Seperti diketahui, Kamis (13/8) lalu, MA telah mengabulkan gugatan uji materi tentang larangan mantan narapidana kasus korupsi menjadi caleg. MA menegaskan jika aturan yang ada dalam PKPU Nomor 20 Tahun 2018 dan PKPU Nomor 26 Tahun 2018 itu bertentangan dengan UU Pemilu Nomor 7 Tahun 2017.

Muhammadiyah Kritisi Sistem Demokrasi Indonesia Saat Ini

JAKARTA – Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum dan HAM Busyro Muqoddas mengkritik praktik sistem demokrasi Indonesia saat ini.

Menurutnya, demokrasi Indonesia saat ini berada pada titik nadir, yaitu demokrasi formil tapi praktiknya formil plus transaksional.

“Indonesia saat ini berada dalam fase demokrasi transaksional sehingga menghasilkan sistem yang korup,” katanya saat diwawancarai Jurnalislam.com di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Selasa (25/09/2018).

Sistem yang korup menurutnya, infrastruktur termasuk PLN menjadi korban korupsi. Itu kan bahaya.

“APBN digasak, infrastruktur digasak dan semuanya digasak,” tambahnya.

Akibatnya, jelas mantan Ketua KPK  ini, parpol semakin kehilangan kepekaan moral dan sosial dengan membiarkan calon legislatif dari mantan koruptor.

Selain itu, Busyro juga meminta masyarakat terutama mahasiswa untuk bangkit dari kesenyapan.

“Situasi kampus negeri ini negeri atau swasta senyap. Terlalu lama senyap,” pungkasnya.

UAS Disambut Hangat Masyarakat Papua Barat

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Ustaz Abdul Somad (UAS) mencatat sejarah baru pengumpulan masa ceramah agama di Kota Sorong, Papua Barat. Sebab, hanya UAS saja yakni baru ada seorang pendakwah, yakni di tahun 2018,  yang mampu memandu sebuah ada acara ceramah agama dengan dihadiri massa teramai di wilayah yang menjadi ibu kota provinsi  Papua Barat itu.

“UAS memang benar-benar fonema dakwah di zaman milenilal. Kedatangannya di Sorong memukau umat Islam dan masyarakat. Memang Sorong sering didatangi para penceramah kondang tapi kali ini yang terakbar. Dalam tausiyahnya yang digelar semalam, diperkirakan dihadiri oleh 10.000 jama’ah yang berdatangan dari berbagai kabupaten sekitarnya seperti Sorong Selatan, Fakfak, Kaimana dan Manokwari, ” kata Anggota MUI Papua Barat dan juga dosen Unipa (Universitas Negeri Papua) Manokwari, DR Mulyadi Djaya, di Sorong, Senin (24/9), lansir Republika.co.id.

Mulyadi mengatakan, masa memadati lapangan depan Armada III TNI AL untuk mendengarkan tausiyah UAS. Bahkan, untuk mendapatkan tempat agar bisa dekat ke panggung, semenjak sore beberapa kelompok masyarakat sudah berada di arena itu. Mereka datang dengan membawa karena tikar takut tidak mendapat tempat. Padahal tabligh akbar dimulai pada jam 20.00 malam.

Puluhan ribu jamaah Muslim kota Sorong antusias mendengarkan tausyiah UAS, Senin malam (23/9).

“Sejak sore petugas keamanan dari TNI AL, Polres, dan panitia yang dibantu Kokam dan Banser sudah bekerja keras menata massa yang membludak. Mereka mengatur untuk menertibkan kegiatan akbar tersebut,” ujarnya.

Ketua Panitia H Kisman Rahayaan menyampaikan bahwa umat Islam di Sorong berharap dan rindu mendapatkan pencerahan langsung dari UAS. Mereka sangat menginginkan agar ustaz asal Riau ini dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta umat Islam.

DR Mulyadi Djaya (kanan, Ketua PWM Muhammadiyah Papua Barat). Ustaz Abdul Somad (tengah), Ahmad Nausrau (Ketua MUI Papua Barat).

Abdul Somad dalam ceramahnya sangat kagum dengan kerukunan kehidupan beragama, antarberbagai suku bangsa di Sorong. Hal tersebut sudah terjadi sejak dulu ketika pelopor zending asal Jerman, Ottow-Geissler, memulai gerakannya menyebarkan agama Kristen di Papua. Dia  datang ke Papua dikawal oleh orang Islam dari Maluku menuju Papua (mendapat izin langsung dari Sultan Tidore).

Alhasil Geissler pun selamat dan dapat menyebarkan agama Kristen di Papua.Tempat singgah atau tujuan dakwah Geissler ada di Manokwari, yakni di Pulau Mansinam.

”Itu semua menunjukkan bahwa toleransi antar agama sudah berlangsung lama dan terus dipertahankan hingga kini dan selamanya. Demikian juga ukhuwa Islamiah yang terdiri dari berbagai daerah terus dilakukan dalam rangka menjaga persatuan dalam payung NKRI yaitu nilai-nilai Pancasila,” ujar Mulyadi menirukan dan memberi catatan tambahan atas beberapa bagian tausyiah UAS.

Hingga selesai acara tabligh ummat muslim bubar dengan tertib. Setiap orang membersihkan lapangan sehingga tidak meninggalkan sampah.  Dan tadi malam jalanan sekitar arena tabligh Kota Sorong itu mengalami kemacetan total. Ini  karena dipadati jama’ah yang berjalan kaki pulang dan menuju lokasi parkir yang berjarak 500 meter dari arena tausyiah.

Jamaah Masjid Agung Al Akbar Kota Sorong membludak ketika mendengarkan tausyiah UAS pada usai shalat Subuh, (23/9).

Selanjutnya, seusai sholat subuh pada Senin pagi ini, UAS kembali mengisi tausiah di Masjid Agung Al Akbar, Kota Sorong. Sama saja dengan acara yang sebelumnya digelar di lapangan depan Armada III TNI AL, masjid agung kota Sorong pun dipenuhi jama’ah yang mendengar langsung ceramah UAS yang selama ini hanya menonton di youtube.

Pada jam 09.00 WIT hari ini UAS bertolak ke Palu Sulteng untuk mengisi tabligh yang sama.

UAS Disambut Hangat Masyarakat Papua Barat

Ustaz Abdul Somad (UAS) mencatat sejarah baru pengumpulan masa ceramah agama di Kota Sorong, Papua Barat. Sebab, hanya UAS saja yakni baru ada seorang pendakwah, yakni di tahun 2018,  yang mampu memandu sebuah ada acara ceramah agama dengan dihadiri massa teramai di wilayah yang menjadi ibu kota provinsi  Papua Barat itu.

“UAS memang benar-benar fonema dakwah di zaman milenilal. Kedatangannya di Sorong memukau umat Islam dan masyarakat. Memang Sorong sering didatangi para penceramah kondang tapi kali ini yang terakbar. Dalam tausiyahnya yang digelar semalam, diperkirakan dihadiri oleh 10.000 jama’ah yang berdatangan dari berbagai kabupaten sekitarnya seperti Sorong Selatan, Fakfak, Kaimana dan Manokwari, ” kata Anggota MUI Papua Barat dan juga dosen Unipa (Universitas Negeri Papua) Manokwari, DR Mulyadi Djaya, di Sorong, Senin (24/9),

Mulyadi mengatakan, masa memadati lapangan depan Armada III TNI AL untuk mendengarkan tausiyah UAS. Bahkan, untuk mendapatkan tempat agar bisa dekat ke panggung, semenjak sore beberapa kelompok masyarakat sudah berada di arena itu. Mereka datang dengan membawa karena tikar takut tidak mendapat tempat. Padahal tabligh akbar dimulai pada jam 20.00 malam.

Puluhan ribu jamaah Muslim kota Sorong antusias mendengarkan tausyiah UAS, Senin malam (23/9).

“Sejak sore petugas keamanan dari TNI AL, Polres, dan panitia yang dibantu Kokam dan Banser sudah bekerja keras menata massa yang membludak. Mereka mengatur untuk menertibkan kegiatan akbar tersebut,” ujarnya.

Ketua Panitia H Kisman Rahayaan menyampaikan bahwa umat Islam di Sorong berharap dan rindu mendapatkan pencerahan langsung dari UAS. Mereka sangat menginginkan agar ustaz asal Riau ini dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta umat Islam.

DR Mulyadi Djaya (kanan, Ketua PWM Muhammadiyah Papua Barat). Ustaz Abdul Somad (tengah), Ahmad Nausrau (Ketua MUI Papua Barat).

Abdul Somad dalam ceramahnya sangat kagum dengan kerukunan kehidupan beragama, antarberbagai suku bangsa di Sorong. Hal tersebut sudah terjadi sejak dulu ketika pelopor zending asal Jerman, Ottow-Geissler, memulai gerakannya menyebarkan agama Kristen di Papua. Dia  datang ke Papua dikawal oleh orang Islam dari Maluku menuju Papua (mendapat izin langsung dari Sultan Tidore).

Alhasil Geissler pun selamat dan dapat menyebarkan agama Kristen di Papua.Tempat singgah atau tujuan dakwah Geissler ada di Manokwari, yakni di Pulau Mansinam.

”Itu semua menunjukkan bahwa toleransi antar agama sudah berlangsung lama dan terus dipertahankan hingga kini dan selamanya. Demikian juga ukhuwa Islamiah yang terdiri dari berbagai daerah terus dilakukan dalam rangka menjaga persatuan dalam payung NKRI yaitu nilai-nilai Pancasila,” ujar Mulyadi menirukan dan memberi catatan tambahan atas beberapa bagian tausyiah UAS.

Hingga selesai acara tabligh ummat muslim bubar dengan tertib. Setiap orang membersihkan lapangan sehingga tidak meninggalkan sampah.  Dan tadi malam jalanan sekitar arena tabligh Kota Sorong itu mengalami kemacetan total. Ini  karena dipadati jama’ah yang berjalan kaki pulang dan menuju lokasi parkir yang berjarak 500 meter dari arena tausyiah.

Jamaah Masjid Agung Al Akbar Kota Sorong membludak ketika mendengarkan tausyiah UAS pada usai shalat Subuh, (23/9).

Selanjutnya, seusai sholat subuh pada Senin pagi ini, UAS kembali mengisi tausiah di Masjid Agung Al Akbar, Kota Sorong. Sama saja dengan acara yang sebelumnya digelar di lapangan depan Armada III TNI AL, masjid agung kota Sorong pun dipenuhi jama’ah yang mendengar langsung ceramah UAS yang selama ini hanya menonton di youtube.

sumber : republika

 

Pengamat : Indonesia Masih Konsumen Industri Halal

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Indonesia masih menjadi konsumen industri halal secara umum. Dengan potensi yang besar, Indonesia seharusnya bisa memanfaatkannya dengan menjadi produsen.

Pengamat ekonomi syariah Institut Pertanian Bogor, Jaenal Effendi menilai Indonesia sudah mulai bergerak ke sana. Konsep untuk menjadi produsen industri halal telah dibuka dengan pembentukan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang dipimpin langsung oleh Presiden. Selain itu, baik pemerintah sebagai regulator, pelaku usaha hingga masyarakat sudah memahami besarnya potensi yang dimiliki oleh Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar.

“Kita berharap dengan adanya KNKS, maka variabel-variabel ekonomi makro, dengan kekuatan pondasi ekonomi kita maka halal industri bisa tumbuh,” kata dia lansir Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Jaenal mengatakan landasan pengembangan industri halal sudah dibuka dengan sudah terbentuknya sinkronisasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Fatwa-fatwa terkait ini dapat mendukung pertumbuhan industri halal.

Sosialisasi yang masif pada masyarakat juga diperlukan. Terutama, terkait kampanye bahwa industri halal adalah industri yang menjauhkan dari hal-hal buruk. Makanan halal artinya terbebas dari segala zat beracun dan menyehatkan.

“Ini dalam rangka melindungi kesehatan, keselamatan masyarakat, industri halal juga sebenarnya adalah safety industry,” kata Direktur Bisnis dan Manajemen Aset Komersial IPB ini.

Selain itu, semua pihak harus bekerja sama dan menjalankan peran masing-masing. Misalnya, untuk menjadikan satu kawasan target pariwisata halal baru, maka pemerintah pusat, daerah dan masyarakat lokal harus punya tugas masing-masing.

Perlu ada insentif untuk pemerintah daerah dan edukasi pada masyarakat agar bisa mencapai tujuan bersama. Untuk membuka satu kawasan makanan halal, maka regulator perlu memudahkan proses sertifikasi halalnya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan peta besar untuk keuangan syariah diharapkan selesai pada akhir tahun. Di dalamnya termasuk upaya menjadikan Indonesia sebagai produsen industri halal.

Bawa Peti Mati, Mahasiswa Surakarta Tuntut Jokowi Mundur

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Puluhan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Surakarta menggelar aksi turun ke jalan di Pertigaan UMS selasa, (18/9/2018). Mereka menuntut pemerintahan Jokowi – JK untuk segera menstabilkan perekonomian negara paska melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Massa yang berjumlah sekitar 50 orang ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Mereka membawa keranda mati yang bertuliskan Rezim Jokowi dan sejumlah poster dan spanduk meminta Presiden Jokowi turun dari jabatannya akibat gagal menangani permasalahan bangsa Indonesia.

“Menuntut pemerintah menstabilkan nilai tukar rupiah, mendesak pemerintah untuk menstabilkan pangan,” kata korlap aksi Al Ghifari kepada wartawan di sela sela aksi.

Al Ghifari juga mengkritik banyaknya kebijakan pemerintah yang selama ini tidak pro rakyat, maraknya bahan pangan impor, dinilainya akan semakin membuat rakyat kecil sengsara.

“Kurangi impor dan sejahterakan industri lokal, Menolak keras kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat ,” ungkapnya.

Apabila Pemerintah tidak segera membenahi segala permasalah yang ada, kata Al Ghifari, lebih baik Jokowi segera mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia.

“Apabila pemerintah tidak mampu,kami menuntut segera mundur dari jabatannya,” tandas Al Ghifari.

Dalam aksi kali ini, pihak keamanan menurunkan sekitar 100 person anggotanya, aksi berakhir pada pukul 17. 00 Wib dan ditutup dengan shalat jenazah dan mendoakan kebaikan bagi bangsa Indonesia

Siswa SMP Muhammadiyah Kottabarat Sabet Juara Lomba Robotik Tingkat Provinsi

SOLO (jurnalislam.com)- Siswa SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta berhasil meraih juara ketiga kategori Junior Programming dalam ajang lomba Jateng Robotic Competition 2018, Jumat (21/9/2018) di Sasana Manggala Sukowati, Kabupaten Sragen. Siswa tersebut adalah Muhammad Raffi Rosind Nugroho (Raffi) dan Abdurahman Wahid Atallah (Rahman), siswa kelas 8.

Aryanto selaku Humas SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta menjelaskan bahwa anak didiknya, Raffi dan Rahman, berhasil menjuarai lomba Robotik tingkat Jawa Tengah dengan predikat juara ketiga. Mereka berhasil mengalahkan 30 tim dengan hasil nilai poin 100 (perfect) dan kecepatan waktu 2 menit 14 detik.

“Alhamdulillah kami merasa bangga dan senang karena Mas Raffi dan Mas Rahman mampu membuktikan potensinya di lomba Robotik tingkat Jawa Tengah”, jelasnya kepada media pada Senin (24/9).

Ia menambahkan bahwa sebelumnya juga Mas Raffi dan Rahman mampu membuktikan kemampuannya pada ajang Indonesia Robotic Competition (IRO) 2018 kategori Junior High Programming di Surabaya kemarin. Mereka berhasil menduduki peringkat kesepuluh dari 30 tim yang ada. Saat itu nilai yang diperoleh 35 dengan kecepatan 1 menit 52 detik.

Lomba Jateng Robotik Competition diselenggarakan oleh IT-Smart dalam acara Pameran Produk Inovasi Jawa Tengah di Sasana Manggala Sukowati Kabupaten Sragen Jawa Tengah pada 21-23. Untuk kategori Junior Programing menghasilkan juara satu, Kevin Joseph Handoyo dari SMP N 1 Tulungagung. Juara dua dari SD Harapan Bangsa, Muhammad Rhavenzo Razzan dan Davin Al Dyansah. Adapun juara tiga Muhammad Raffi Rosind Nugroho dan Abdurahman Wahid Atallah dari SMP Muhammadiyah PK Solo.

Sementara itu, saat ditemui di bangku sekolah, Raffi menceritakan bahwa robot yang dipakai saat lomba Jateng Robotik Competition adalah jenis robot NXT. Robot tersebut diprogram untuk berjalan mengikuti garis, mendorong, dan memindahkan barang. Pertama robot diprogram untuk berjalan dari star mengikuti jalur bergaris yang berbentuk huruf S, memindahkan balok, mendorong balok ke tempatnya, mengikuti garis berbentuk G, dan berjalan mengikuti jalur berbentuk huruf N.

Kesemua itu menghasilkan poin sesuai ketentuan perlombaan. Waktu tempuh yang dibutuhkannya dari star hingga finish adalah waktu 2 menit 14 detik dengan poin 100 (perfect).

Cara Raffi dan Rahman berhasil memenangkan lomba adalah mengutamakan perolehan poin dalam setiap titik sesuai ketentuan perlombaan. Setelah itu baru kecepatan waktu tempuh robot dari star hingga finish.

“Kami dalam lomba fokus pada perolehan poin lalu kecepatan robot karena yang diutamakan adalah poin. Jika poin antar lawan adalah sama maka dipilih robot yang paling cepat,” ceritanya kepada media, Senin (24/9).

Untuk bisa meraih prestasi tersebut, Raffi mengaku harus latihan selama seminggu sekali setiap hari Sabtu. Robot yang dipakai jenis robot adalah Lego Mind Storm. Lego yang dirakit menjadi robot tersebut lalu diprogram sesuai keinginan.

Robot yang pernah ia buat di antaranya Robot EV3 dan NXT. Bedanya Robot EV3 bisa mendeteksi benda, mengambil, dan memindahkan ke tempat lain. Untuk mendeteksi benda, ia menggunakan program cahaya dan warna. Kalau Robot NXT hanya bisa mendorong dan memindahkan benda.

Siswa yang ingin menjadi astronot tersebut berharap ingin terus mengembangkan bakat dan kemampuannya di bidang robotika. Bahkan ia ingin menciptakan robot yang bisa bermanfaat untuk menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan manusia.
“Saya ingin terus berlatih merakit dan memprogram robot agar bisa bermanfaat saja”, tandas Raffi.

Prabowo : Sistem Ekonomi Sekarang Menyimpang dari UUD 45

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Calon presiden Prabowo Subianto menjadi pemateri dalam diskusi bukunya Paradoks Indonesia bertajuk ‘Ekonomi kerakyatan sebagai solusi tatanan ekonomi indonesia’ di Jakarta Sabtu (22/9/2018).

Dalam diskusi tersebut, Prabowo mengingatkan pemerintah sekarang agar bangsa ini dapat menjadi bangsa yang kuat dan tidak memberikan angina segar kepada asing.

“Sistem ekonomi yang sekarang menyimpang dari UUD 1945. Bila melihat dari semua data maka terjadi nya keluarnya kekayaan bangsa Indonesia. Pada saat ini terjadi ketimpangan sosial baik disisi pemerintahan yg pro terhadap pengusaha, hal ini dibuktikan bahwa 83% kredit untuk pengusaha dan 17% untuk rakyat kecil,” kata Prabowo.

Ia menyimpulkan bahwa semua indikator yang ada menunjukkan pelemahan ekonomi Indonesia. Pelemahan juga terjadi disisi keamanan negara.

Ia juga mengungkapkan dengan jelas bahwa cabang cabang usaha yang penting dikuasai oleh asing , dan banyak juga tanah yang dikuasai asing, dan itu bertentangan dengan UUD pasal 33.

GP Ansor : Lembaga Adat Melayu Termakan Hoaks Soal Islam Nusantara

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kirab Satu Negeri GP Ansor mendapat penolakan sekelompok massa di Langkat Suamtera Utara, bahkan di Riau beredar spanduk penolakan Ketum GP Ansor Yaqut Cholil.

Ketua GP Ansor Riau Purwaji mengatakan penolakan itu terjadi karena ia menilai masyarakat termakan isu hoax soal Islam Nusantara.

Gus Purwaji sapaan akrabnya menjelaskan ada oknum yang menyebarkan hoax dan fitnah ke Lembaga Adat Masyarakat (LAM) Riau tentang paham Islam Nusantara.

“Hoax tersebut yang sampai ke mereka (LAM Riau, -red),” katanya saat dihubungi Jurnalislam.com pada Jumat (21/9/2018).

Menurutnya isu Islam Nusantara yang disebar sama persis seperti yang terjadi di Sumatera Utara, Riau dan Sumbar.

Baca juga: Lembaga Adat Melayu Keberatan GP Ansor Sebarkan Paham Islam Nusantara

Ia menuding pihak tersebut menyebarkan isu untuk membangkitkan kemarahan masyarakat Melayu yang teguh dalam menjalankan ajaran Islam berhaluan Ahlussunnah Waljamaah.

“Padahal cara beragama masyarakat Nahdlatul Ulama (NU), Ansor dan Banser tidak ada bedanya dengan cara beribadah dan amaliah orang Melayu,” tuturnya.

Acara yang dilakukan GP Ansor, lanjutnya adalah refleksi dari tata cara beribadah, beramaliah yang sama dilakukan masyarakat Melayu, khususnya provinsi Riau sendiri.

Baca juga: Ditolak di Mana-mana, Lembaga Adat Melayu Minta GP Ansor Introspeksi

“Karena antara orang NU, Banser, Ansor dan masyarakat Melayu sama-sama berpaham Ahlussunnah Waljamaah. Dalam bermahzab pun sama-sama Syafi’i. Jadi tidak ada perbedaan,” pungkasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, terjadi penolakan warga Langkat hingga Pekanbaru karena GP Ansor dinilai akan menyebarkan paham Islam Nusantara, dan juga buntut dugaan intimidasi Ustaz Abdul Somad di Pulau Jawa.

Dibubarkan Warga, Ini Kronologi Batalnya Perayaan Asyuro Syiah di Solo

SOLO (Jurnalislam.com) – Sejumlah elemen umat Islam Solo mendatangi rumah mendiang Syegaf Bin Husain Al Jufri di Mertodranan, Pasar Kliwon, Semanggi Kamis, (20/9/2018). Mereka memprotes terkait adanya kegiatan perayaan Asyuro Syiah di rumah tersebut.

Sebelumnya, beberapa pengurus dari Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) mendapat laporan dari masyarakat terkait akan adanya ritual aliran syiah tersebut.

Warga merasa resah dengan keberadaan kegiatan yang berlangsung sejak sehari sebelumnya itu.

Warga beralasan, dalam kegiatan yang mendatangkan peserta dengan pakaian serba hitam itu, tempat tersebut diduga akan digunakan peserta untuk melakukan ritual Asyura Syiah.

Warga mencurigai bahwa peserta asyuro akan meratapi kematian cucu Rosululloh Husain dengan cara menyiksa diri hingga berdarah dan juga mencaci maki dan melaknat para sahabat dan istri-istri Rasulullah.

Warga dan aparat mendatangi rumah Syegaf Bin Husain Al Jufri di Mertodranan, Pasar Kliwon, Semanggi yang dijadikan lokasi perayaan Asyura

ZN salah satu warga sekitar mengatakan kalau acara tersebut memang sudah berlangsung sejak lama dan ia juga merasa resah dengan keberadaan kegiatan tersebut.

Ia bilang, keluarganya juga sempat dibohongi dengan ajaran Syiah yang saat ini telah mendapatkan difatwakan sesat oleh MUI Jawa Timur Itu.

“Dari dulu emang udah tau kalau ada kegiatan itu, kakak saya dulu juga pernah direkrut makanya saya juga nggak suka, wong saya juga belajar dari situ Syiah itu apa, sejarahnya apa gitu, saya mendukung penuh penolakan ini,” terangnya kepada Jurnalislam.com

“Ini infonya malah ketuanya, bahkan se-Indonesia, tau sendiri kan kalau Syiah itu sesat dan bukan bagian dari Islam, bahkan mereka mengatakan kalau para sahabat Rasululloh berada di Neraka,” sambungnya.

Menurut pantauan Jurnalislam.com dilapangan, sejak pukul 15.30 wib, massa yang berjumlah lebih dari 50 orang itu sudah berkumpul di depan gang masuk yang berjarak sekitar 10 meter dari rumah Syegaf Bin Husain.

Beberapa warga dan perwakilan elemen umat Islam melakukan mediasi terkait penolakan dengan panitia kegiatan dan didampingi dari pihak aparat kepolisian setempat.

Situasi sempat memanas ketika panitia kegiatan berusaha mengulur-ulur waktu untuk tetap melanjutkan kegiatan perayaan Asyura Syiah itu, hampir lebih dari satu jam, panitia kegiatan belum mau mengeluarkan peserta yang berada didalam rumah tersebut, hal itu sempat membuat massa yang berada di ujung gang meneriaki panitia meminta untuk segera membubarkan diri.

Tak berselang lama puluhan anggota Polresta Surakarta datang untuk ikut melakukan mediasi dengan panitia kegiatan dan massa yang menolak.

Warga dan aparat mendatangi rumah Syegaf Bin Husain Al Jufri di Mertodranan, Pasar Kliwon, Semanggi yang dijadikan lokasi perayaan Asyura

Kapolresta Surakarta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo akhirnya meminta pihak panitia untuk segera mengeluarkan para peserta agar dapat segera dapat di evakuasi. Puluhan peserta pun akhirnya dapat keluar dengan aman dari lokasi tersebut setelah dikawal oleh anggota kepolisian dan elemen umat Islam Surakarta.

Sekitar pukul 17.00 wib semua peserta kegiatan Asyura Syiah telah meninggalkan tempat berlangsungnya kegiatan tersebut, salah satu tokoh umat Islam Pasar Kliwon ustaz Faiz Baraja melakukan orasi di atas mobil dan menjelaskan kepada masyarakat sekitar terkait adanya kegiatan dari sekte sesat Syiah itu.

“Ini adalah upaya kita untuk menjaga keyakinan Ahlusunnah Wal Jamaah Islam yang murni di masyarakat, mungkin sebagian masyarakat belum tau apa yang didalam, acaranya adalah perayaan hari raya Syiah, keyakinan yang menyimpang yang dirayakan setiap tanggal 10 Muharam, dan kita harus menjaga akidah kita dan anak keturunan kita untuk tidak menyimpang dari ajaran Ahlu Sunnah Wal Jamaah,” ungkap ustaz Faiz.

Sekitar pukul 17.10 wib massa akhirnya membubarkan diri satu persatu dan meninggalkan lokasi kegiatan tersebut secara damai dan tertib. Perlu diketahui, MUI Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa sesat yang tertuang dalam keputusan No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 terkait ajaran Syiah.

Salah satu poin dari keputusan tersebut yakni, MUI Jatim menilai semua negara yang dimasuki Syiah pasti tercipta konflik akibat banyaknya pemberontakan karena paham yang bertentangan dengan agama Islam.

Penganut Syiah keturunan arab meninggalkan lokasi perayaan Asyura. FOTO: Arie/Jurniscom
Penganut Syiah keturunan arab meninggalkan lokasi perayaan Asyura. FOTO: Arie/Jurniscom
Tempat perayaan Asyura Syiah di Solo. Tampak bendera Merah Putih disandingkan dengan bendera hitam bertuliskan Ya Husen. FOTO: Arie/Jurniscom
Tempat perayaan Asyura Syiah di Solo. FOTO: Arie/Jurniscom
Tempat perayaan Asyura Syiah di Solo. FOTO: Arie/Jurniscom
Tempat perayaan Asyura Syiah di Solo

Warga Tanjungpura Sebut GP Ansor Terindikasi Berpaham Islam Nusantara

LANGKAT (Jurnalislam.com) – Kegiatan Kirab Satu Negeri GP Ansor di Gedung Nasional Tanjungpura Langkat Sumatera Utara dibubarkan massa, Rabu (19/9/2018).

Warga Tanjungpura menilai bahwa GP Ansor sudah tersusupi paham Islam Nusantara.

“Intinya mereka sudah tidak di terima disini secara tidak langsung. Sebelumnya mereka ini pernah melakukan kegiatan di sebuah Cafe Kantor Pos dan terindikasi mereka menyebarkan Islam Nusantara. Kami menolak acara ini dan menolak keras kehadiran GP Ansor di Langkat, khususnya di Tanjung Pura,” tegas wakil dari tokoh Pemuda Tanjung Pura, Tengku Said Assegaf lansir Tribunnews.com.

Menurut Tengku Said kegiatan yang digelar GP Ansor juga tak memiliki izin dari tokoh agama Tanjung Pura.

“Kami di Langkat ini sudah cukup rukun, kami sepakat untuk membatalkan acara ini. Jangan sampai kami diadu domba. Bubarkan atau kami usir secara paksa,” tukasnya.

Bahkan Kesultanan Langkat tak memberi izin kegiatan Kirab Satu Negeri GP Ansor.

Tengku Chandra Hardi, yang mewakili Kesultanan Langkat Kejuruan Stabat, dan juga merupakan cucu Tengku Muhammad Kholid, dengan tegas menolak keras acara ini.

“Kesultanan Langkat dengan tegas tidak mengizinkan acara ini,” pungkasnya.