PA 212 Tegaskan Tidak Berekonsiliasi dengan Pihak Pengkriminalisasi Ulama

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), Slamet Maarif, menegaskan pihaknya tidak akan berekonsiliasi (berbaikan) dengan pemerintah.

“Saya ingatkan kepada Mujahid 212, Alumni 212, tidak mau berekonsiliasi dengan kelompok yang melakukan kriminalisasi kepada ulama,” katanya saat Dzikir dan Munajat Akbar Mujahid 212 di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Ahad (13/10/2019).

Namun, dirinya memberikan persyaratan agar bisa berkonsiliasi kepada pemerintah. Yakni dengan syarat bebaskan seluruh aktivis mereka yang masih ditahan, dan pemerintah memulangkan imam besar mereka, Habib Muhammad Rizieq bin Shihab.

“Sebelumnya bebaskan terlebih dahulu aktivis dan pulangkan imam besar kami. Kita tidak boleh rekonsoliasi dengan siapapun apalagi dengan pelanggar keadilan,” pungkasnya.

Persaudaraan Alumni 212 menggelar Dzikir dan Munajat Akbar Mujahid 212 di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, untuk mendoakan seluruh aktivis dan ulama yang dikriminalisasi oleh rezim.

Baca juga:

Majukan Ekonomi Rakyat Dengan Gerakan ‘Buy Muslim First’

Lunturnya Intelektualitas Kampus, Munculnya Islamophobia

Di UAD, UAS Ungkapkan Kekagumannya pada Sosok KH Ahmad Dahlan

Penyelenggara Jamin Tidak Ada Islam Radikal dalam Acara Muslim United

Amer Azzikra: Anak Muda Terbaik Adalah yang ‘Mengakhirat’

Pererat Silaturahmi Antar Anggota, LDK An-Naml Gelar Mentcamp di Sukoharjo

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Lembaga Dakwah Kampus (LDK) An-Naml Islamic Institute Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta mengadakan Mentoring Camping (Mentcamp) 2019 bertajuk ‘Merawat Silahturahmi Menuju Dakwah Mandiri’ di Lapangan Prenggodani, Waduk Mulur, Sukoharjo, pada Jumat-Sabtu (11-12/10/2019).

Ketua panitia Mentcamp Insan Sholih Nashiruddin al Banni menyebut kegiatan yang dihadiri sekitar 50 peserta tersebut bertujuan untuk memperat silaturahmi antar anggota LDK An-Naml dan menyatukan visi dan misi dalam berdakwah.

“Mengadakan suatu acara untuk menjalin silaturahmi dari anggota LDK yang baru ini dan untuk mencetak generasi baru untuk dakwah di Kampus IIM,” katanya kepada jurnalislam.com, Jum’at (11/10/2019) malam.

Insan menjelaskan bahwa dalam kegiatan Mentcamp, panitia melakukan mentoring kepada peserta, kemudian ada pembinaan dari alumni LDK An-Naml, serta ada game dan kegiatan outbond agar para peserta dapat lebih saling mengenal satu sama lainnya.

“Kita sesama anggota mahasiswa di kampus IIM kita semua bisa menjalin silaturahmi secara bersama sama, masing masing dari kita kan beda pendapat dalam dakwah, nah kita disini kita mencoba untuk menyatukan fikiran fikiran untuk untuk langkah dakwah kedepan,” katanya.

Dalam menghadapi tantangan dakwah di era digital yang serba canggih tersebut, Insan mengatakan bahwa di LDK An-Naml anggota dibekali ilmu tauhid dan akidah yang cukup untu bekal melakukan dakwah di lingkungan kampus dan masyarakat secara luas.

“Tantangan dakwah kedepan di era yang cukup canggih dan pergaulan ini kita menanamkan ilmu tauhid dak akidah, dan kita dalamkan disitu,” ujarnya.

“Ketika sudah maksimal, kita bisa ikut mendakwahi orang orang yang berada diluar dan bisa ikut mensyiarkan kepada orang orang yang mungkin ingin berhijrah tapi belum berani, kita usahakan dan tantangan kedepan memang berat untuk seorang pendakwah,” pungkasnya.

Baca juga: 

Dihadiri Ribuan Peserta, Muslim United Jadi Berkah Tersendiri Bagi Para Pedagang

Mahasiswa Patani di Indonesia Gelar Seminar Pendidikan di UIN Jakarta

Menikmati Kopi Sambil Berdonasi Untuk Palestina di Muslim United

Warga Antusias Hadiri Bakti Sosial di Ponpes Tahfizul Qur’an Al Hijrah Mojokerto

Ini Kata Generasi Milenial Tentang Muslim United #2

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Kegiatan Muslim United (MU) #2 yang dihadiri ribuan peserta ikut membawa kesan sendiri bagi kaum milenial.

Menurut Aprian, salah satu peserta asal Banjarnegara MU #2 merupakan kegiatan dakwah yang dikemas kekinian untuk boleh untuk kaum Milenial.

“Kalau menurut pribadi rame sih dan acara ini dikemas dengan lebih kekiniaan, nggak hanya kaum tertentu, orang tua bisa masuk, kaum muda bisa masuk, lebih semua orang bisa menerima acara ini,” katanya kepada jurniscom di Masjid Jogokariyan, Ahad (13/10/2019).

Selain itu, Aprian ikut menyayangkan terkait pemindahan lokasi kegiatan MU #2 ke Masjid Jogokariyan.

Ia juga membantah akan adanya kepentingan kelompok tertentu dalam kegiatan MU #2 yang sebelumnya dilaksanakan di Masjid Gedhe Kauman tersebut.

“Sangat disayangkan sekali kalau di masjid Kauman kan luas, aksesnya juga lebih mudah kalau kesini kan aksesnya agak sulit,” ujarnya.

“Kalau dilihat kan dari banyak kalangan, bukan kelompok tertentu, kalau bisa tetap jalan acaranya bisa lebih meriah lagi dan mengikuti jaman agar anak anak muda yang nggak suka datang bisa lebih suka,” imbuhnya.

Aprian yang merupakan mahasiswa UNS tersebut berharap MU bisa dilaksakan secara rutin setiap tahunnya, terlebih, katanya, panitia harus bisa mengikuti perkembangan jaman dan mengaet anak anak muda yang masih minim akan ilmu agama.

“Dan bisa menggaet anak anak muda seperti yang di kafe, dan lain lain, kan bisa nih ada acara asik nih, jadi acaranya nggak kaku banget,” ungkapnya.

“Anak anak muda kan sebenarnya senang, tapi mau datang gimana gitu, jadi mungkin dikemas lebih kekinian agar target anak muda ikut penasaran,” pungkasnya.

Baca juga:

Puluhan Mantan Preman Solo Sajikan 2500 Cup Kopi Taubat di Muslim United

Merchandise dan Aksesoris Muslim United Laris Diborong Warga

Kegiatan Muslim United #2 Pindah ke Masjid Jogokariyan

Muslim United 2019 Tetap Digelar, Begini Penjelasan Ketua Panitia

Ditolak UGM, Ribuan Mahasiswa Baru UAD Siap Sambut UAS

Puluhan Mantan Preman Solo Sajikan 2500 Cup Kopi Taubat di Muslim United

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Ada pemandangan menarik ketika kita berada di acara Muslim United (MU) #2 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta pada Sabtu-Ahad (12-13/2019).

Di salah satu stand diantara puluhan stand yang berjajar di area Masjid Jogokariyan, terlihat beberapa pria berpenampilan ala preman sibuk membuat kopi diatas sebuah meja dan menawarkan kopi gratis kepada peserta yang ingin mengikuti kegiatan MU #2.

“Kopinya mas gratis, kopinya mas, monggo monggo, ngopi dulu sambil dengerin kajian, mari silahkan,” kata salah satu pria berambut gondrong dengan mengunakan rompi warna hitam sembari membawa satu cup kopi panas bertuliskan ‘Kopi Taubat’ yang disodorkan kepada peserta yang lewat,

Mereka adalah sekelompok orang yang membentuk satu komunitas hijrah yang diberi nama Exspreso atau Exs Preman Solo.

Suyudi Nugroho, pendiri sekaligus ketua Exspreso menjelaskan perihal keikutsertaan Exspreso dalam kegiatan MU #2 tersebut.

Menurut pria yang akrab disapa bang Yudi ini, ia bersama puluhan anggota Exspreso ikut mendukung kegiatan MU #2 yang dirasanya memberikan banyak manfaat positif bagi mereka yang ingin berhijrah menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Ia juga merasa prihatin atas adanya kriminalisasi terhadap ulama dan aktifis Islam, umat Islam, katanya, seakan dibatasi dalam menyampaikan syiar dakwah Islam kepada masyarakat luas.

“Kalau kita suport ke MU, pertama prihatin dengan kriminalisasi ulama dimana mana, sampai acara sebenarnya sudah bagus di Masjid Kauman, terus akhirnya mau pindah ke UAD, dan akhirnya ke Jogokariyan, empati kita peduli dengan MU,” pungkasnya.

Baca juga: 

Ini Kata Generasi Milenial Tentang Muslim United #2

Merchandise dan Aksesoris Muslim United Laris Diborong Warga

Dihadiri Ribuan Peserta, Muslim United Jadi Berkah Tersendiri Bagi Para Pedagang

Majukan Ekonomi Rakyat Dengan Gerakan ‘Buy Muslim First’

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

Keluarga Sebut Jasad Akbar Tak Bisa Dikenali Karena Wajah Lebam

Merchandise dan Aksesoris Muslim United Laris Diborong Warga

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com)- Pernak pernik dan aksesoris berbau Muslim United (MU) menjadi salah satu buruan utama yang dibeli oleh peserta MU #2 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Dalam kegiatan MU #2, panitia menjual aksesoris mulai dari gantungan kunci, hingga kaos bertuliskan Muslim United.

Alhamdulillah tembus di angka 80 juta pada hari kedua, dan ini diluar ekspektasi kita, kita kan ada 3 titik dan Qodarullah kita bisa bangun dua titik dan diluar ini dugaan kami,” kata salah satu penanggungjawab merchandise Rangga kepada jurniscom ahad, (13/10/2019).

Menurutnya, Kaos dan Topi menjadi barang yang paling dicari oleh para peserta, harga yang dibandrol untuk mercahandise yang dijajakan oleh panitia itu dibandrol dari ribuan hingga ratusan ribu.

“Paling dicari kaos dan topi, yang habis Gantungan Kunci dan Pin, Topi bordir biasa 100 ribu yang bordir 125, kaos 100 lengan pendek, lengan panjang 125 ribu,” ungkapnya.

Ia pun ikut menyayangkan akan kepindahan kegiatan MU #2 ke Masjid Jogokariyan, menurutnya, tidak ada kepentingan politik tertentu dalam kegiatan MU #2 tersebut.

“Acara kita ini kan murni dan tidak ada yang menunggangi, harapan terus harus berjalan dan lebih berkembang lagi, kalau di berita ada pertentangan dan yang lainnya kita dilapangan malah enjoy aja,” paparnya.

“Dan banyak jamaah yang menangis, warga Kauman yang menyayangkan, dan asmofirnya disini luar biasa banget,” imbuh Rangga.

Dihadiri Ribuan Peserta, Muslim United Jadi Berkah Tersendiri Bagi Para Pedagang

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Kegiatan Muslim United (MU) #2 ikut membawa berkah bagi sejumlah pedagang, hal itu diungkapkan Mulyadi salah satu pedagang jilbab dan aksesoris muslimah yang ikut berjualan dalam kegiatan MU #2 di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

Di hari kedua MU #2, ribuan umat Islam dari berbagai kota turut hadir di Masjid Jogokariyan, Menurut Mulyadi yang juga membuka toko di Yogyakarta itu, ia bisa mendapatkan omset 3 sampai 4 kali lipat daripada saat ia berjualan biasa.

“Kalau saya rata rata disini bisa 3 atau 4 kali di toko saya, di Kauman itu hari pertama kita dapat uang sekitar 5 juta dan kalau disini tadi karena pindah lokasi dapat 2 juta,” katanya kepada Jurnalislam.com, Ahad (13/10/2019).

Sementara jilbab dan kaos kaki menjadi barang favorit yang diborong oleh peserta MU #2 di Masjid Jogokariyan. Ia berharap event MU dapat dilaksanakan secara rutin.

“Saya berharap hastag #JogjaKotaKajian benar benar dilakukan, dan karena ketika ada event seperti ini bagus, dan memang bagus untuk penjualan,” ungkapnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Ali pedagang Peci dari Jakarta, ia bisa memperoleh untung kurang lebih dua kali lipat dari hari biasa, ia juga ikut mendukung kegiatan MU yang dianggapnya bisa mempersatukan umat Islam di Indonesia.

“Harapan saya ini terus bisa dilaksanakan, karena ini memang bisa mempersatukan umat, dan untuk kami pedagang juga sangat baik ketika berjualan,” paparnya.

Baca juga:

Majukan Ekonomi Rakyat Dengan Gerakan ‘Buy Muslim First’

Lunturnya Intelektualitas Kampus, Munculnya Islamophobia

Di UAD, UAS Ungkapkan Kekagumannya pada Sosok KH Ahmad Dahlan

UAS di UII: Undang Saya ke Universitas Saya Akan Bicara Ilmiah

Puluhan Ribu Warga Bima Ikuti Pawai Rimpu, Hijab Syari Asli Indonesia

Majukan Ekonomi Rakyat Dengan Gerakan ‘Buy Muslim First’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dua periode, Kiai Cholil Ridwan meminta umat Islam di Indonesia untuk meniru gerakan Buy Muslim First (BMF) yang terjadi di Malaysia untuk meruntuhkan kekuasaan ekonomi Cina.

“Itu namanya jihad ekonomi,” katanya saat memberikan sambutan di acara Dzikir & Munajat Akbar Mujahid 212 di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Ahad (13/10/2019).

Lelaki yang juga pembina Dewan Da’wah Indonesia (DDII) ini mengatakan kalau gerakan BMF ditiru di Indonesia, orang cina akan bangkrut.

“Kalau ummat Islam mau menang, puasa beli produk-produk Cina,” pungkasnya.

Dia menjelaskan perlunya persatuan dan merebut perpolitikan nasional, seperti strategi Mahatma Gandhi yang tidak mau bekerja sama dengan Inggris.

Mahatma sengaja memenuhi kebutuhan sendiri, menenun pakaian sendiri, menyebabkan Inggris bangkrut dan India bisa merdeka.

“Dari segi aspek ekonomi kita bisa menyimpan uang di bank syariah, bank lokal dan bank BUMN demi memajukan negeri ini,” tuturnya.

Siang tadi, persaudaraan alumni 212 menggelar zikir dan munajat akbar di Masjid Sunda Kelapa.

Tujuan dilaksanakannya untuk mendoakan ulama dan aktivis yang disebut dikriminalisasi oleh rezim.

Baca juga: 

Dihadiri Ribuan Peserta, Muslim United Jadi Berkah Tersendiri Bagi Para Pedagang

Merchandise dan Aksesoris Muslim United Laris Diborong Warga

Kegiatan Muslim United #2 Pindah ke Masjid Jogokariyan

Menikmati Kopi Sambil Berdonasi Untuk Palestina di Muslim United

Amer Azzikra: Anak Muda Terbaik Adalah yang ‘Mengakhirat’

Keluarga Sebut Jasad Akbar Tak Bisa Dikenali Karena Wajah Lebam

JAKARTA (Jurnalislam.com) -Pihak keluarga sempat tak mengenali Akbar Alamsyah saat pertama kali menemui di RS Polri, Jakarta Timur. Peserta 25 September  2019 di Gedung DPR ini meninggal karena dugaan kerusakan saraf.

Kakak perempuan Akbar, Fitri Rahmayani (25) menyebut kondisi Akbar sebelum meninggal sangat memprihatinkan.

Ia mengatakan Akbar mengalami banyak luka di area kepala.

“Enggak bisa dikenali. Mama sih yang lihat (di RS Polri), aku lihat di RSPAD,” ujar Fitri kepada wartawan setelah pemakaman Akbar di TPU belakang Seskoal, Cipulir, Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Sebelum ditangani di RS Polri, Akbar pertama kali mendapat perawatan di PS Pelni, Jakarta Barat. Di sana dia sempat menjalani operasi.

Fitri pun menggambarkan kondisi Akbar, anak kedua di keluarganya.

Terdapat pembengkakan besar di kepalanya membuat Akbar susah dikenali. Bahkan terdapat bekas jahitan di mulut yang menurutnya tidak pernah ada sebelumnya.

Keluarga mengatakan kondisi Akbar setelah ditemukan tidak kunjung pulih hingga akhirnya meninggal.

“Jadi kepalanya besar seperti pakai helm, kayak semacam tumor kepala. Gede lebam bibirnya sampai menutupi lubang hidung saking keluarnya, jontor,” kata Fitri.

“Dari (RS) Polri tanggal 30 sampai sekarang pun menurun turun terus enggak ada perkembangan,” tambahnya.

Ketika diajak bicara pun Akbar tidak bisa merespons dengan baik. Dia hanya bisa menggerakkan jari tangan dengan pelan ketika diajak bicara di RS Polri.

“Bibirnya kayak orang mau getar gitu, mata keadaan tutup. Tangannya sempet gerak cuma [itu] responsnya di RS Polri,” kata dia.

“Dokter tidak ada yang berani langsung ngomong penyebab luka wajah tersebut. Tidak ada yang bilang jatuh atau apa,” jelasnya.

Sumber: cnnindonesia.com

 

Baca juga:

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

Korban Demo DPR Akbar Alamsyah Wafat, Ibunda: Anak Saya Disiksa

KM Al Azhar Berdoa Agar Faisal Cepat Sadar, Ceritakan Kisah dan Pelaku Sebenarnya

Komnas HAM Kawal Kasus Tewasnya Mahasiswa Kendari

Organisasi Pemuda Solo Gelar Doa Bersama dan Aksi Solidaritas Mahasiswa yang Meninggal

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mendesak kasus kematian Akbar Alamsyah yang tewas akibat terlibat demonstasi di Gedung DPR untuk diungkap.

Ketua Bidang YLBHI Muhammad Isnur menyatakan, kematian Akbar mesti diungkap karena muncul kejanggalan terkait penyebab kematian Akbar.

“Hari ini kita menyaksikan ibunya histeris dan berteriak-teriak, misalnya di kasus Akbar disiksa, disiksa oleh siapa? Di mana? Ini penting jangan sampai kemudian kita menimbulkan pertanyaan,” kata Isnur di Gedung Merah Putih KPK, beberapa waktu lalu.

Isnur menuturkan, ada banyak kejanggalan dalam kasus kematian Akbar, salah satunya mengenai penyebab kematian yang disebut polisi akibat jatuh dari dinding pagar.

“Yang ditemukan di lapangan, ginjalnya hancur, tengkorak tempurung kepalanya remuk, ini bukan karena jatuh. Kalau jatuh yang luka pasti lehernya, bukan kepalanya,” ujar dia.

Menurut Isnur, investigasi tersebut juga mesti melibatkan Ombudsman dan Komnas HAM.

sumber: kompas.com

Baca juga:

Baca juga:

YLBHI: Banyak Kejanggalan dalam Kasus Kematian Mahasiswa Akbar Alamsyah

Korban Demo DPR Akbar Alamsyah Wafat, Ibunda: Anak Saya Disiksa

KM Al Azhar Berdoa Agar Faisal Cepat Sadar, Ceritakan Kisah dan Pelaku Sebenarnya

Komnas HAM Kawal Kasus Tewasnya Mahasiswa Kendari

Organisasi Pemuda Solo Gelar Doa Bersama dan Aksi Solidaritas Mahasiswa yang Meninggal

Polisi Diingatkan Jangan Ngeyel Bantah Temuan Lembaga Lain Soal Pelanggaran HAM

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mendesak kasus kematian Akbar Alamsyah yang tewas akibat terlibat demonstasi di Gedung DPR untuk diungkap.

Ketua Bidang YLBHI Muhammad Isnur menyatakan ada kejanggalan dalam kasus kematian mahasiswa Akbar Alamsyah.

“Yang ditemukan di lapangan, ginjalnya hancur, tengkorak tempurung kepalanya remuk, ini bukan karena jatuh. Kalau jatuh yang luka pasti lehernya, bukan kepalanya,” ujar dia.

Menurut Isnur, investigasi tersebut juga mesti melibatkan Ombudsman dan Komnas HAM.

Ia pun mengingatkan polisi untuk tidak melulu menyangkal temuan-temuan lembaga-lembaga lain.

Isnur juga menyampaikan, hasil investigasi itu pun perlu menjadi evaluasi bagi polisi dalam menangani aksi demonstrasi dan polisi tidak boleh segan menjatuhkan sanksi bagi anggotanya yang bersalah.

“Di kasus Kendari, kapolri mencopot kapolda dan kapolres. Pertanyaan penting, kenapa di Polda Metro tidak lakukan hal yang sama?” kata Isnur.

sumber: kompas.com