Konvoi ke-18 Warga dan Pejuang Douma Tiba di Distrik Al Bab, Aleppo

IDLIB (Jurnalislam.com) – Konvoi ke-18 yang membawa warga sipil dan pejuang oposisi dari kota Douma di pinggiran Damaskus di Ghouta Timur tiba di distrik Al-Bab Aleppo pada hari Rabu (11/4/2018), menurut koresponden Anadolu Agency di lapangan.

Konvoi 85 bus membawa 3.860 orang, termasuk 1.500 anak-anak dan 1.021 wanita, yang akan dibawa ke distrik Azaz dari Al-Bab dan akan disediakan akomodasi sementara di kamp-kamp pengungsi.

Dengan konvoi ini, jumlah yang dievakuasi dari Ghouta Timur sejak proses dimulai pada 22 Maret telah melampaui 56.000.

Evakuasi dari Douma akan berlanjut, menurut koresponden Anadolu Agency di lapangan.

Operasi Turki Euphrates Shield, yang diluncurkan pada akhir 2016, membebaskan Al-Bab dari kelompok IS. Operasi, yang berakhir pada Maret tahun lalu, sebagian besar berhasil membersihkan daerah perbatasan Turki-Suriah dari kehadiran milisi.

Evakuasi dilakukan sebagai bagian dari perjanjian yang diperantarai Rusia antara rezim Syiah Bashar al-Assad Suriah dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata, Jaishul Islam.

Setelah Serangan Gas Beracun Assad, Jaishul Islam Beserta Warga Tinggalkan Douma

Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi Resolusi 2401, yang menyerukan gencatan senjata di Suriah – terutama di Ghouta timur – untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Meskipun resolusi sudah ditetapkan, namun, rezim dan sekutu-sekutunya di awal Maret meluncurkan serangan darat utama – yang didukung oleh pasukan Rusia – untuk merebut wilayah yang dipegang oleh oposisi di distrik tersebut.

Sejak 19 Februari, lebih dari 1.400 orang telah tewas dalam serangan oleh rezim dan sekutu-sekutunya di Ghouta timur, menurut sumber-sumber pertahanan sipil setempat.

Sebagai rumah bagi 400.000 penduduk, Ghouta Timur tetap dalam pengepungan rezim Assad yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir, yang telah mencegah pengiriman pasokan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Suriah baru saja mulai bangkit dari konflik dahsyat yang dimulai pada awal 2011 ketika rezim Syiah Nushairiyah membantai aksi unjuk rasa dengan keganasan militer yang tidak terduga.

Menurut pejabat PBB, ratusan ribu orang telah tewas dalam konflik hingga saat ini.

Trump: Amerika akan Luncurkan Serangan Rudal Canggih Terbaru ke Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Rusia di sebuah tweet pagi untuk bersiap mengadapi “serangan rudal canggih terbaru dan ‘pintar!'” Di Suriah setelah dugaan serangan gas terakhir di kubu oposisi di negara itu, lansir Aljazeera Rabu (11/4/2018).

Tweet itu muncul setelah duta besar Rusia untuk Libanon mengatakan dalam sebuah wawancara pada hari Selasa dengan televisi al-Manar milik Syiah Hisbullah bahwa “jika ada serangan rudal AS, kami – sejalan dengan Putin dan pernyataan staf kepala Rusia – akan menembak jatuh roket AS dan bahkan sumber yang meluncurkan rudal.”

Trump lebih lanjut mengecam Rusia karena dukungannya terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam tweet Rabu, mengatakan bahwa “seharusnya tidak bermitra dengan Hewan Gas Pembunuh yang membunuh rakyatnya dan menikmatinya!”

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menanggapi tweet Trump dengan mengatakan: “Rudal cerdas harus terbang ke arah teroris, bukan pemerintah [Suriah] yang sah, yang telah menghabiskan beberapa tahun berjuang melawan terorisme internasional di wilayahnya.”

Peringatan itu muncul ketika Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa mengancam akan menggunakan aksi militer terhadap pemerintah Suriah dan sekutu utamanya, Rusia, sebagai tanggapan atas dugaan serangan senjata kimia di kota Douma yang dikuasai oposisi.

Serangan Sabtu di Ghouta Timur telah menewaskan puluhan orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, menurut aktivis dan petugas medis setempat.

Rezim Suriah dan Rusia membantah bahwa serangan kimia telah terjadi.

Muncul laporan Rabu malam bahwa persenjataan berat telah dipindahkan dari pangkalan Suriah.

“Kami tidak memiliki informasi sumber terbuka yang dapat memverifikasi gerakan Suriah [memindahkan peralatan militer], tetapi kami memperkirakan bahwa informasi ini benar,” kata Ruslan Leviev, seorang peneliti militer yang berbasis di Moskow dengan Tim Intelijen Konflik, sebuah organisasi penelitian yang menyelidiki konflik di Suriah dan Ukraina.

“Mereka memindahkan beberapa peralatan mereka ke Hmeimim. Ini adalah langkah yang logis,” kata Leviev.

Rusia saat ini mengoperasikan pangkalan udara Hmeimim, yang terletak di provinsi Latakia, di mana mereka telah mengerahkan pasukan darat dan pesawat tempur.

Pada hari Selasa, rancangan kedua resolusi saingan dari AS dan Rusia untuk membentuk badan ahli baru guna menyelidiki serangan senjata kimia di Suriah sama-sama gagal lolos di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

James Mattis, menteri pertahanan AS, tidak mengesampingkan tindakan militer apa pun terhadap pasukan Assad, sementara duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, memperingatkan bahwa Washington siap untuk “menanggapi” serangan tersebut terlepas dari apakah Dewan Keamanan bertindak atau tidak.

Vladimir Shamanov, ketua komite urusan pertahanan di majelis rendah parlemen Rusia, mengatakan kepada kantor berita Rusia Ria Novosti pada hari Rabu bahwa Rusia akan membalas.

“Rusia memiliki senjata yang layak. Jika ada upaya untuk mengujinya, mereka akan mendapat respon yang layak,” katanya.

Sementara itu, rezim Suriah telah menempatkan pasukannya pada posisi “siaga tinggi” di tengah ancaman serangan militer AS.

Dengan bantuan militer Rusia, rezim Syiah Assad meluncurkan serangan berdarah di Ghouta Timur, yang telah berada di bawah kendali oposisi sejak pertengahan 2013.

Perancis akan Balas Serangan Senjata Kimia Assad

Sejak dimulainya operasi pemboman udara pada 18 Februari, serangan itu telah menewaskan lebih dari 1.600 orang sipil, dan melalui serangkaian kesepakatan yang dicapai dengan kelompok oposisi, telah secara internal mengungsikan lebih dari 45.000 orang menurut PBB.

Trump kemudian tweeted bahwa hubungan Rusia-AS “sekarang lebih buruk” daripada sebelumnya.

Presiden menyimpulkan dengan membuka kemungkinan penurunan ketegangan: “Tidak ada alasan untuk ini. Rusia membutuhkan kita untuk membantu ekonomi mereka, sesuatu yang akan sangat mudah dilakukan, dan kita membutuhkan semua bangsa untuk bekerja sama. Hentikan perlombaan senjata?”

Rusia Kembali Veto Draft DK PBB atas Serangan Senjata Kimia di Douma

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Rusia memveto sebuah draft DK PBB pada hari Selasa (10/4/2018) yang akan membentuk badan ahli baru untuk menentukan kesalahan atas dugaan serangan kimia di Suriah.

Rancangan itu mendapat dukungan luar biasa dari dewan dengan didukung 12 anggota dewan yang beranggotakan 15 anggota tersebut, dengan hanya dua Negara, yaitu Rusia dan Bolivia, yang menentang. China menyatakan abstain, lansir Anadolu Agency.

Nikki Haley, utusan PBB AS, mengecam Moskow, mengatakan bahwa “Rusia telah menghancurkan kredibilitas dewan” segera setelah pemungutan suara selesai.

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

“Suara telah diberikan. Catatan akan menunjukkan bahwa saat ini beberapa negara telah memutuskan untuk membela kebenaran,” kata Haley.

“Catatan itu tidak akan berbaik hati kepada satu anggota tetap dewan ini.”

Dugaan serangan kimia di luar Damaskus pada Sabtu malam menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya.

The White Helmets, sebuah badan pertahanan sipil, melaporkan rezim Suriah atas serangan di Douma Ghouta Timur, yang menewaskan 78 warga sipil dan melukai ratusan korban lainnya.

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Setelah pemungutan suara pada resolusi rancangan AS, resolusi yang dibuat oleh Rusia gagal mendapatkan suara yang dibutuhkan untuk lolos dari dewan.

Berbeda dengan AS, teks rancangan Rusia tidak berusaha untuk menetapkan kesalahan atas serangan itu, tetapi lebih memilih untuk menentukan apakah serangan kimia memang benar terjadi. Tujuh Negara anggota semuanya memilih menentang draft Rusia dengan enam suara mendukung.

Perancis akan Balas Serangan Senjata Kimia Assad

PERANCIS (Jurnalislam.com) – Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris telah meningkatkan tekanan terhadap rezim pemerintah Suriah dengan menjanjikan reaksi keras terhadap dugaan serangan gas terhadap Douma, kota terakhir yang masih dipegang oleh oposisi di bekas benteng mereka di Ghouta Timur.

Perancis pada hari Selasa (10/4/2018) memperingatkan akan membalas dendam terhadap Assad jika senjata kimia terbukti melewati “batas garis merah” di Douma, lansir Aljazeera.

Berbicara kepada radio Europe 1, Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa intelijen berbagi data dengan Trump “menegaskan penggunaan senjata kimia.”

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Pada hari Senin, duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan pada pertemuan mendadak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Washington siap untuk “menanggapi” serangan tersebut tanpa menghiraukan apakah Dewan Keamanan bertindak atau tidak.

Sementara itu, Theresa May, perdana menteri Inggris, mengatakan bahwa pemerintah Suriah “dan para pendukungnya, termasuk Rusia, harus dimintai pertanggungjawaban” jika terbukti bertanggung jawab menjatuhkan senjata kimia pada warga Douma.

Presiden Perancis: Kami akan Intervensi Militer ke Ghouta, Serang Suriah

Namun juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov memperingatkan bahwa “membuat kesimpulan seperti itu adalah salah dan berbahaya”, dengan menunjukkan bahwa oposisi bisa saja melancarkan serangan itu untuk melemparkan kesalahan pada Damaskus.

Sergey Lavrov, menteri luar negeri Rusia, membantah dengan mengatakan spesialis Rusia tidak menemukan jejak serangan kimia terhadap Douma.

Sejak 18 Februari, serangan rezim Syiah Nushairiyah Suriah terhadap Ghouta telah menewaskan lebih dari 1.600 warga sipil.

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

ANKARA (Jurnalislam.com) – Rusia secara sistematis menyangkal serangan-serangan senjata kimia yang dilaporkan dilakukan oleh rezim Syiah Bashar al-Assad terhadap warga sipilnya, mengklaim bahwa gambar-gambar yang menunjukkan penduduk Suriah diracuni dibuat oleh negara-negara Barat, lansir Anadolu Agency Selasa (10/4/2018).

Rusia juga memblokir pertemuan Dewan Keamanan PBB yang membahas pelanggaran hak asasi manusia di Suriah.

Sejak awal perang di Suriah, pasukan rezim Syiah Nushairiyah Assad dilaporkan telah melakukan 215 serangan kimia.

Hanya tiga serangan yang diketahui Internasional dimana jumlah korban tewas tinggi sehingga menarik perhatian dunia.

Namun gambar warga sipil Suriah yang terkena dampak serangan kimia tidak cukup meyakinkan bagi pihak berwenang Rusia, yang bersikeras selalu membantah bahwa gambar-gambar tersebut adalah foto palsu yang dibuat oleh beberapa negara Barat.

Waspadai akan Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

Korban tewas terbesar adalah ketika rezim Assad menggunakan senjata kimia di Ghouta Timur pada 21 Agustus 2013.

Sedikitnya 1.400 warga sipil tewas. Selain itu, sejumlah besar warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak, terkena dampak serangan kimia tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin membuat pernyataan pertamanya tentang insiden itu setelah inspektur PBB menyelesaikan pemeriksaan mereka di Suriah.

“Saya yakin bahwa [serangan kimia] tidak lebih adalah provokasi oleh mereka yang ingin menyeret negara lain ke dalam konflik Suriah, dan yang ingin memenangkan dukungan dari anggota kuat arena internasional, terutama Amerika Serikat,” Putin mengatakan pada 31 Agustus 2013.

Setelah serangan kimia 2013 di Suriah, AS diperkirakan akan melakukan intervensi terhadap Suriah. Namun, Rusia menghindari intervensi Amerika – yang tampaknya melanggar “garis merah” AS sebelumnya – setelah rezim mengatakan akan menghancurkan stok senjata kimia mereka. Kesepakatan dicapai pada 15 September 2013.

Senjata-senjata itu dihancurkan karena Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (the Organization for the Prohibition of Chemical Weapons-OPCW) ikut bermain. Organisasi mengumumkan proses penghancuran berakhir pada 19 Agustus 2014.

Namun, organisasi hanya menghancurkan stok senjata yang diungkap oleh rezim. Serangan di Idlib, Aleppo dan Eastern Ghouta adalah bukti bahwa rezim berhasil menyembunyikan beberapa senjata kimianya.

Inilah Infografik 162 Serangan Senjata Kimia Rezim Assad di Suriah

Sedikitnya 100 warga sipil tewas dalam serangan senjata kimia oleh rezim di Khan Sheikhoun Idlib pada 4 April 2017.

Beberapa warga Khan Sheikhoun sedang tidur selama serangan yang terjadi di pagi hari tersebut.

Pihak oposisi melaporkan jet tempur Suriah melintas, dan mengira bahwa itu adalah serangan udara biasa. Tetapi ketika pemboman itu tidak mengakibatkan pendarahan atau bekas luka, segera dipahami bahwa itu adalah serangan kimia.

Namun, pihak berwenang Rusia mengklaim bahwa mereka menargetkan “depot amunisi”, bukan warga sipil.

Juru Bicara Departemen Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov juga menegaskan bahwa serangan itu menargetkan depot amunisi di timur Khan Sheikhoun, mengklaim bahwa gudang tersebut digunakan untuk memproduksi dan menyimpan bom yang mengandung gas beracun.

Rekaman udara yang diperoleh oleh Anadolu Agency sehari setelah serangan mengungkapkan bahwa gudang yang ditargetkan adalah lumbung gandum yang tidak terpakai.

Tiga hari setelah dugaan serangan kimia, AS membalas dengan serangan udara di lapangan udara Shayrat, yang menurut Rusia hanya alasan AS untuk campur tangan di Suriah.

Mekanisme Investigasi Bersama (Joint Investigative Mechanism-JIM) antara Organisasi untuk Pelarangan Senjata (OPCW) dengan PBB pada 27 Oktober 2017 menyimpulkan bahwa rezim Assad bertanggung jawab atas pembantaian Khan Sheikhoun dan mempresentasikan laporan tersebut ke Dewan Keamanan PBB. Dalam proses penyidikan serangan dan laporan JIM, pihak berwenang Rusia membuat pernyataan mengkritik metode dan hasil temuan penelitian.

Pada 21 Oktober 2016, JIM menahan rezim Syiah Assad yang bertanggung jawab atas tiga serangan lagi selama investigasi Khan Sheikhoun.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia melontarkan kemarahan setelah JIM memutuskan bahwa rezim telah menggunakan senjata kimia di desa Talamenes, Idlib, pada 21 April 2014, di desa Sarmin pada 16 Maret 2015, dan di Marea, Aleppo, pada 21 Agustus 2016. Nebenzia menyebut mereka “penyelidikan fiktif” dan “tuduhan tanpa dasar.”

Cegah PBB Selidiki Serangan Bom Kimia di Suriah, AS Salahkan Rusia

Rusia memveto keputusan untuk memperpanjang penyelidikan JIM pada 18 November 2017. Ini adalah veto ke-10 yang diambil Rusia demi rezim sejak perang saudara dimulai. Nebenzia menjelaskan hak veto itu dengan mengatakan JIM telah “mempermalukan dirinya sendiri” karena melontarkan tuduhan tak berdasar.

Belum ada sanksi yang dijatuhkan terhadap rezim tersebut sejak keputusan JIM, yang menetapkan bahwa rezim bertanggung jawab atas serangan terhadap Khan Sheikhoun dan tiga serangan kimia lainnya; bahkan orang-orang rezim Suriah yang bertanggung jawab atas pembantaian dianggap tidak cukup banyak untuk dibawa ke hadapan Pengadilan Pidana Internasional (the International Criminal Court-ICC).

Karena Suriah bukan anggota ICC, Dewan Keamanan PBB harus merujuk rezim ke ICC. Namun, Rusia juga mencegah proses ini.

Serangan terakhir rezim dengan senjata kimia menewaskan 78 warga sipil di distrik Douma di Ghouta Timur. Rusia mengatakan serangan itu hanyalah alasan untuk menyabotase evakuasi sejak 22 Maret berdasarkan perjanjian yang diperantarai oleh Rusia, antara rezim Bashar al-Assad dan kelompok-kelompok oposisi bersenjata, Jaishul Islam di Douma.

Negara-negara Eropa Serentak Kutuk Serangan Senjata Kimia di douma

Kementerian Luar Negeri Rusia malah mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa berita itu “palsu”.

“Informasi palsu sedang ditanam tentang dugaan penggunaan klorin dan agen beracun lainnya oleh pasukan Suriah,” kata kementerian itu.

Ketika ditanya apakah rezim menggunakan senjata kimia di Suriah dalam sebuah wawancara dengan penyiar NBC bulan lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pemerintah Suriah telah lama menghancurkan semua senjata kimia yang dimilikinya.

Putin berkata: “Semua ini adalah hasil dari elemen radikal, aksi teroris. Mereka melakukan kejahatan ini untuk menyalahkan Assad. Kami menyadari rencana para pemberontak untuk menunjukkan bahwa tentara Suriah menggunakan senjata kimia. Mereka telah mencoba melakukan ini di masa lalu.”

Presiden Rusia juga menuduh pasukan oposisi bersenjata di Suriah menggunakan tuduhan bahwa rezim menggunakan senjata kimia “sebagai alasan untuk perjuangan mereka melawan Assad.”

Waspadai Serangan AS ke Suriah, Pasukan Assad dan Angkatan Laut Rusia Siaga 1

DAMASKUS (Jurnalislam) – Rezim Suriah menempatkan pasukannya pada posisi “siaga tinggi” di tengah ancaman respon militer AS yang membayangi menyusul dugaan serangan senjata kimia pada hari Sabtu (7/4/2018) di sebuah kota yang dikuasai oposisi di dekat Damaskus, lansir Aljazeera Selasa (10/4/2018).

Donald Trump menggambarkan serangan bom barel klorin terhadap Douma tersebut sebagai “hal yang mengerikan” dan berjanji untuk menanggapi “dengan keras”.

Rezim Syiah Suriah dan sekutunya, Rusia, membantah terjadinya serangan kimia itu, tetapi tim penyelamat dan petugas medis di lapangan mengatakan bahwa puluhan orang, termasuk banyak wanita dan anak-anak, tewas.

Rusia dan AS Perang Mulut, Trump: Kami akan Putuskan Segera atas Serangan Beracun

Trump bertemu kabinetnya serta jenderal tinggi pada hari Senin dan menjanjikan “keputusan besar selama 24 hingga 48 jam berikutnya,” sebagai tanggapan atas serangan itu.

Berbicara kepada wartawan pada hari Selasa, juru bicara Gedung Putih Sarah Huckabee Sanders mengatakan Trump tidak akan melakukan perjalanan ke Amerika Latin, seperti yang direncanakan, dan akan tetap berada di AS untuk “mengawasi respon Amerika terhadap Suriah dan untuk memantau perkembangan di seluruh dunia.”

Info Grafik Serangan Senjata Kimia Rezim Assad dan Bantahan Sitematis Rusia

Sementara itu, James Mattis, menteri pertahanan AS, tidak mengesampingkan tindakan militer terhadap pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Kantor berita DPA melaporkan pada hari Selasa bahwa tentara Suriah telah menempatkan semua posisi militer dalam keadaan siaga, termasuk bandara dan semua pangkalan, selama 72 jam.

Dikatakan bahwa keadaan waspada mencakup semua posisi dan pangkalan militer di provinsi selatan Sweida, provinsi Aleppo, Latakia dan provinsi Deir Az Zor.

Secara terpisah, situs web berita pro-pemerintah Al Masdar melaporkan bahwa armada Laut Hitam Angkatan Laut Rusia juga telah ditempatkan pada siaga tinggi setelah kapal perang AS dilaporkan meninggalkan Siprus menuju perairan Suriah.

Negara-negara Eropa Serentak Kutuk Serangan Senjata Kimia di douma

Tidak ada tanggapan resmi dari Rusia tentang pengumuman itu.

Tapi berita itu muncul karena sedikitnya satu kapal penghancur rudal AS berangkat ke pantai Suriah setelah Trump menyatakan kemungkinan respon militer.

Vladimir Shamanov, mantan panglima tertinggi Pasukan Lintas Udara Rusia, bersumpah bahwa Rusia akan mengambil semua langkah pembalasan politik, diplomatik dan militer jika AS melakukan serangan di Suriah.

“Politik standar ganda telah mencapai titik terendah. Dan di sini, partai Rusia Bersatu secara sadar menyatakan bahwa semua langkah politik, diplomatik dan militer akan diambil jika perlu,” Shamanov mengatakan pada rapat pleno Negara Duma.

Demikian pula, kementerian luar negeri Rusia memperingatkan “intervensi militer terhadap dalih yang dibuat-buat dan palsu.”

Kini Proyek Politik Eropa-AS Gambarkan Muslim Seperti Iblis

CALIFORNIA (Jurnalislam.com) – Politisi sayap kanan menggunakan Islamophobia untuk memenangkan pemilihan, menurut seorang ilmuwan terkemuka tentang masalah ini.

“Islamophobia, baik di Eropa maupun AS, digunakan sebagai proyek politik yang terhubung ke sayap kanan dan mungkin juga oleh elit politik yang menjelek-jelekkan Muslim untuk memenangkan pemilu,” Dr. Hatem Bazian dari University of California-Berkeley mengatakan kepada Anadolu Agency pada hari Ahad (8/4/2018).

Bazian, yang juga seorang kolumnis pekanan untuk surat kabar berbahasa Inggris yang berbasis di Istanbul, Daily Sabah, berada di Istanbul untuk mengambil bagian dalam konferensi tiga hari tentang Islamophobia di Sabahattin Zaim University.

Muslim dan Integrasi di Inggris

“Jadi, oleh karena itu, strategi demonizing Muslim (menggambarkan Muslim seperti iblis-jahat) dan menargetkan Muslim didorong oleh politik elektoral,” kata Bazian, yang juga seorang pendiri dan profesor Hukum dan Teologi Islam di Zaytuna College, perguruan tinggi seni liberal Muslim terakreditasi pertama di AS.

Di beberapa negara Eropa, partai-partai sayap kanan telah memperoleh kemenangan elektoral di tengah krisis pengungsi – yang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

100.000 Warga AS Masuk Islam Pertahun, Muslim akan Menjadi Umat Terbesar di Amerika

Bazian mengatakan partai-partai politik sayap kanan “berusaha mendefinisikan diri mereka sebagai pelindung masyarakat Barat dari pihak luar, yang pada dasarnya adalah satu-satunya cara bagi mereka untuk mengembalikan kehormatan.”

Menurut Bazian, kelompok neo-Nazi, skinhead dan supremasi kulit putih menggunakan wacana anti-Muslim untuk mendapatkan rasa hormat setelah berada di pinggiran masyarakat.

Ribuan Mahasiswa Bentrok dengan Aparat Bangladesh, 100 Orang Lebih Terluka

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Ribuan Mahasiswa di seluruh Bangladesh meluncurkan protes dan aksi duduk pada hari Senin (9/4/2018) setelah bentrokan di universitas negeri itu menyebabkan sedikitnya 100 orang cedera.

Itu adalah salah satu protes terbesar yang dihadapi oleh Perdana Menteri Sheikh Hasina dalam satu dekade masa berkuasanya.

Seorang menteri dijadwalkan bertemu pemimpin protes di Dhaka pada hari Senin, lansir World Bulletin

Tetapi mahasiswa di universitas yang dikelola negara di Chittagong, Khulna, Rajshahi, Barisal, Rangpur, Sylhet dan Savar memboikot kelas dan melakukan aksi duduk, kata polisi dan media.

“Lebih dari 1.000 siswa bergabung dengan demonstrasi di Universitas Jahangirnagar,” kata Ataur Rahman, seorang pengunjuk rasa di Savar di mana universitas tersebut berada.

Bentrokan, yang dimulai Ahad malam hingga Senin dini hari itu, mengubah Universitas Dhaka menjadi medan perang.

Selama 9 Bulan Hampir 100 Orang Tewas oleh Aparat di Bangladesh

Protes serupa segera terjadi di kota-kota besar lainnya saat ribuan siswa memboikot kelas dan melakukan aksi duduk.

Panitia di Dhaka mengatakan mereka melakukan protes damai namun polisi mulai menembakkan gas air mata dan peluru karet. Mereka menggunakan tongkat dan meriam air untuk membersihkan alun-alun pusat.

Ketika kekerasan menyebar di kampus, ribuan siswa pria dan wanita melancarkan pertempuran dengan polisi.

“Lebih dari 100 orang terluka,” kata inspektur polisi Bacchu Mia kepada AFP, menambahkan mereka dirawat di rumah sakit tetapi kondisi mereka tidak serius.

Para pengunjuk rasa melemparkan batu, merusak rumah wakil rektor Universitas Dhaka, membakar dua mobil dan menggeledah lembaga seni rupa, kata perwira polisi senior Azimul Haque.

Lima belas orang ditahan, kata polisi.

Para siswa marah atas keputusan pemerintah untuk menyisihkan 56 persen pekerjaan layanan sipil bagi keluarga veteran dari perang kemerdekaan 1971 dan bagi minoritas yang kurang beruntung sehingga membuat sebagian besar lulusan universitas memperebutkan 44 persen pekerjaan yang tersisa.

Hasan Al Mamun, seorang pemimpin protes, mengatakan puluhan ribu siswa bergabung dengan demonstrasi nasional. Polisi menolak untuk memperkirakan jumlahnya.

Al Mamun mengatakan kuota untuk pekerjaan kelas atas harus dikurangi menjadi hanya 10 persen.

“Kuota ini diskriminatif. Karena sistem kuota, 56 persen pekerjaan disisihkan bagi lima persen penduduk negara. Dan 95 persen orang lainnya bersaing untuk 44 persen pekerjaan,” katanya.

Siswa sangat kecewa dengan kuota 30 persen yang disisihkan bagi keturunan veteran perang kemerdekaan.

Sheikh Hasina, yang ayahnya adalah arsitek kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan, menolak tuntutan untuk memangkas kuota.

Negara-negara Eropa Serentak Kutuk Serangan Senjata Kimia di douma

LONDON (Jurnalislam.com) – Negara-negara Eropa pada hari Senin (9/4/2018) mengutuk penggunaan senjata kimia di Suriah.

Pengecaman oleh Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia mengikuti reaksi dunia sebelumnya terhadap serangan gas kimia di Douma, Suriah, lansir Anadolu Agency.

Pasukan rezim Syiah Nushairiyah Assad menyerang sasaran di distrik Douma di pinggiran kota Damaskus pada Sabtu tengah malam menggunakan gas beracun, yang menyebabkan sedikitnya 78 warga sipil tewas, menurut White Helmets, sebuah badan pertahanan sipil lokal.

“Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson pagi ini berbicara dengan rekannya dari Prancis, Jean-Yves Le Drian, tentang serangan mengerikan di Douma … dan menjelang sidang darurat PBB hari [Senin], yang diserukan oleh Inggris bersama sekutu,” kata pernyataan itu.

Rusia dan AS Perang Mulut, Trump: Kami akan Putuskan Segera atas Serangan Beracun

Berbicara kepada Le Drian, Johnson “menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk menyelidiki apa yang telah terjadi di Douma dan untuk memastikan tanggapan internasional yang kuat dan tegas.”

Para menteri “mencatat bahwa penyelidik internasional yang dimandatkan oleh Dewan Keamanan PBB telah menemukan bahwa rezim Assad yang bertanggung jawab karena menggunakan gas beracun dalam sedikitnya empat serangan terpisah sejak 2014 dan sepakat bahwa mereka yang bertanggung jawab atas serangan ini harus dimintai pertanggungjawaban,” tambah pernyataan itu.

Johnson dan Le Drian “sama-sama mengutuk penggunaan senjata kimia oleh siapa pun di mana saja dan mereka setuju untuk bekerja sama membela Konvensi Senjata Kimia dan untuk memastikan bahwa tidak ada kekebalan hukum bagi mereka yang menggunakan senjata barbar semacam itu.”

Mereka juga “setuju bahwa pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York hari ini akan menjadi langkah penting berikutnya dalam menentukan respon internasional dan bahwa berbagai pilihan harus ada di meja,” tambah pernyataan itu.

Cegah PBB Selidiki Serangan Bom Kimia di Suriah, AS Salahkan Rusia

Jerman juga meminta Rusia untuk menghentikan upaya memblokir di Dewan Keamanan PBB dalam mengadopsi resolusi untuk penyelidikan serangan gas kimia di Suriah.

Berbicara pada konferensi pers di Berlin, juru bicara Kanselir Angela Merkel mengutuk serangan yang menewaskan sedikitnya 78 warga sipil di Douma dan menuduh rezim Assad melanggar hukum humaniter internasional.

Steffen Seibert mendesak pendukung rezim Rusia untuk menekan Damaskus.

“Rusia harus meninggalkan sikap pemblokirannya di Dewan Keamanan PBB, berkaitan dengan penyelidikan penggunaan senjata kimia di Suriah. Rusia harus secara konstruktif berkontribusi pada penyelidikan,” ia menekankan.

Pada hari Senin, Menteri Luar Negeri Italia Angelino Alfano juga mengecam serangan itu.

“Kami mengungkapkan kemarahan kami atas puluhan korban sipil, termasuk wanita dan anak-anak, yang disebabkan oleh serangan udara terbaru di daerah Damaskus, dan khususnya di Douma,” kata Alfano dalam pernyataan tertulis. Menteri mengatakan berita tentang kemungkinan penggunaan senjata kimia menimbulkan “kewaspadaan dan kekhawatiran dan harus menjadi masalah prioritas untuk diverifikasi.”

“Semua pihak dalam konflik, mulai dari pemerintah Damaskus, bertanggung jawab untuk mematuhi kewajiban yang ditetapkan dalam hukum kemanusiaan, termasuk menjamin akses kemanusiaan bagi warga sipil yang sangat membutuhkan,” tambah Alfano.

Paus Francis juga menyuarakan keprihatinan atas serangan itu.

“Puluhan korban, dimana banyak perempuan dan anak-anak, terpengaruh oleh zat kimia,” kata Paus.

“Tidak ada yang namanya perang yang baik dan perang yang buruk. Tidak ada apa pun, tetapi tidak ada apa pun juga yang dapat membenarkan penggunaan instrumen pemusnahan semacam itu pada orang-orang dan penduduk yang tak berdaya,” tambah Paus Francis.

Erdogan: Kapan Barat Mau Peduli pada Anak-anak dan Wanita yang Dibantai di Suriah?

Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi Resolusi 2401 yang menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah, terutama di Ghouta Timur untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Meskipun resolusi telah ditetapkan, rezim dan sekutu-sekutunya awal bulan ini meluncurkan serangan darat utama dengan didukung oleh kekuatan udara Rusia yang bertujuan menangkap bagian-bagian Timur Ghouta yang dikuasai oposisi.

Sebagai rumah bagi sekitar 400.000 orang, pinggiran kota tersebut tetap menjadi target pengepungan dan blokade rezim Syiah Assad yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir.

Awal bulan ini, komisi penyelidikan PBB merilis laporan yang mengungkap rezim melakukan kejahatan perang di Ghouta Timur, termasuk penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil.

Rezim Syiah Assad Lakukan 214 Serangan Bom Beracun pada Rakyatnya Sendiri

15 Dilaporkan Tewas dan 36 Terluka dalam Sebuah Ledakan di Idlib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Sebuah ledakan di kota Idlib di barat laut Suriah menewaskan sedikitnya 15 warga sipil dan melukai 36 lainnya, banyak dari mereka anak-anak, seorang pejabat pertahanan sipil lokal melaporkan Senin (9/4/2018).

Moustafa Haj Youssef, direktur badan pertahanan sipil White Helmets di Idlib, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa penyebab ledakan itu, yang juga merusak rumah dan kendaraan di dekatnya, belum diketahui.

Upaya pencarian dan penyelamatan sedang berlangsung di lokasi ledakan yang meratakan sebuah gedung tujuh lantai, Youssef menambahkan.

Sasaran Serangan Udara Rusia Kini Beralih ke Idlib, 14 Warga Tewas

Dikendalikan oleh faksi-faksi jihad dan kelompok bersenjata, Idlib telah mengalami serangan udara yang dahsyat oleh Rusia dan rezim selama dua bulan terakhir, yang menyebabkan ratusan kematian dan cedera, menurut sumber pertahanan sipil.

Terletak di Suriah utara dekat perbatasan Turki, Idlib tahun lalu dinyatakan sebagai “zona de-eskalasi” di mana tindakan agresi militer dilarang.

Suriah telah terkunci dalam perang global yang menghancurkan sejak Maret 2011, ketika rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad membantai para aksi unjuk rasa dengan keganasan militer yang tidak terduga.

Para pejabat PBB mengatakan ratusan ribu orang telah tewas dalam konflik itu.