Koalisi Arab Serang Markas Besar Houthi, Pemimpin dan Puluhan Milisi Syiah Tewas

YAMAN (Jurnalislam.com) – Serangkaian pertempuran antara milisi Syiah Houthi Yaman dengan pasukan pemerintah Yaman yang sah mengakibatkan kematian puluhan milisi di sejumlah front di al Jawf pada hari Selasa (05/6/2018), termasuk pemimpin Houthi Moqtada al-Assar yang tewas dalam pertempuran di distrik al-Matoon, Alarabiya melaporkan.

Sumber-sumber militer mengatakan bahwa pertempuran sengit terjadi di distrik al-Matoon, al-Masloob, Khab dan al-Shaaf dan Bart al-Anan di utara dan barat al-Jawf.

Sementara itu, koalisi melakukan serangan udara yang menargetkan markas besar militer Houthi di al-Masloob.

Pemimpin Politik Tertinggi Pemberontak Syiah Houthi Yaman Tewas

Koalisi melakukan beberapa serangan udara lainnya yang juga menargetkan pertemuan militer Houthi di pangkalan-pangkalan utara Imran, dan di Saada selatan serta di Hodeidah, yang menewaskan lusinan milisi.

Operasi-operasi ini terjadi setelah utusan PBB melakukan kunjungan lima hari ke Sanaa di mana dia bertemu dengan beberapa pemimpin Houthi.

Arab Saudi dan Uni Emirat Setuju Yaman Dipecah Jadi Dua

Martin Griffiths merilis sebuah pernyataan sebelum keberangkatannya dari Sanaa yang mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi kemanusiaan yang memburuk dan waktu yang terbuang dalam negosiasi sebagai solusi politik.

Griffiths menekankan akan melanjutkan upaya meyakinkan semua pihak untuk menghentikan pertempuran di Hodeidah dan membuka kembali bandara di Sanaa untuk penerbangan perdagangan.

Turki dan AS Sepakat Buka Jalur Bagi Pengungsi Warga Manbij

ANKARA (Jurnalislam.com) – Peta jalan yang dibuat oleh Turki dan AS akan membuka jalan bagi penduduk yang dipaksa mengungsi oleh milisi PYD/PKK di Manbij, Suriah untuk pulang ke rumah, kata menteri luar negeri Turki pada hari Senin (04/06/2018).

Berbicara di kediaman Duta Besar Turki untuk AS Serdar Kilic di Washington setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Mevlut Cavusoglu mengatakan: “Turki dan AS pertama-tama akan mengerjakan rincian peta jalan untuk membersihkan Manbij kelompok teror dari PYD/PKK.”

Cavusoglu mengatakan pengerjaan peta jalan tersebut membutuhkan waktu kurang dari enam bulan.

“Tanggalnya tergantung pada langkah-langkah yang diambil di lapangan,” katanya.

Turki akan Terapkan Strategi Seperti di Manbij untuk Wilayah Lain di Suriah

Jika masalah Manbij terpecahkan, mereka akan membahas sebagian masalah besar yang memisahkan Ankara dan Washington. Turki telah lama keberatan dengan dukungan AS untuk teroris PYD/PKK, cabang Suriah dari teroris PKK, yang merupakan target Operasi Olive Branch baru-baru ini di Afrin, Suriah.

Tentang pengiriman jet F-35 AS ke Turki – yang diragukan oleh beberapa pejabat AS – Cavusoglu mengatakan tidak ada perubahan dalam tanggal. “[Pengiriman] akan dilaksanakan pada 21 Juni seperti yang direncanakan,” katanya.

Dia mengatakan Turki menolak “bahasa AS yang mengancam” tentang masalah ini, dengan mengatakan ancaman itu “tidak konstruktif.”

Cavusoglu juga mengatakan bahwa Pompeo telah memberitahunya bahwa FBI “serius menyelidiki kelompok teroris FETO di tanah AS”.

Kehadiran pemimpin FETO Fetullah Gulen di negara bagian Pennsylvania AS, meskipun Turki telah menyatakan permintaan ekstradisi, telah menjadi duri utama dalam hubungan Turki-AS. Turki juga mengecam keberadaan sekolah-sekolah yang terkait dengan FETO – yang merupakan aliran dana bagi kelompok – baik di AS maupun negara-negara lain di seluruh dunia.

FETO berada di belakang kudeta 15 Juli 2016 yang berhasil digagalkan di Turki, yang menewaskan 250 orang dan melukai sekitar 2.200 orang.

Setelah Setahun Diblokade Darat, Laut dan Udara, Inilah Kondisi Rakyat Qatar

QATAR (Jurnalislam.com) – Blokade darat, udara dan lautan selama berbulan-bulan yang dijatuhkan terhadap Qatar oleh empat negara Arab telah membuat negara Teluk tersebut menjadi “merdeka”, “lebih kuat” dan “lebih bersatu”, penduduk Qatar mengatakan, saat krisis diplomatik besar yang berlarut-larut tersebut memasuki tahun kedua, lansir Aljazeera Senin (4/6/2018).

Pada tanggal 5 Juni 2017, empat negara Arab, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Mesir memutuskan semua hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar serta menuduh negara itu mendukung “terorisme” dan mendestabilisasi kawasan itu – tuduhan ditolak Doha secara konsisten.

Berhari-hari dan berpekan-pekan setelah perselisihan, kapal kargo dan ratusan pesawat penuh dengan makanan dari Turki, Iran, Oman, Maroko dan India memasuki Qatar untuk memastikan tidak ada kekurangan pasokan.

Saudi Ancam Operasi Militer ke Qatar Jika

Ketika krisis berlanjut, tautan perdagangan alternatif dan rute penerbangan dikembangkan. Blokade juga memaksa negara Teluk tersebut untuk meningkatkan produksi susu lokal dan pembuatan barang-barang makanan.

Qatar Airways, maskapai nasional negara itu, mengatakan mengalami kerugian “substansial” pada tahun keuangan terakhirnya, setelah kehilangan akses ke 18 kota di empat negara pemblokiran.

Banyak keluarga juga terpengaruh setelah pemerintah Saudi, Emirat dan Bahrain mengatakan kepada warganya untuk meninggalkan Qatar.

Warga Qatar yang tinggal di ketiga negara Teluk itu juga diberi waktu dua pekan untuk keluar dari negara itu.

Upaya mediasi yang dipimpin oleh tetangga Teluk Kuwait, serta diplomasi Amerika Serikat sejauh ini gagal mengakhiri perselisihan selama setahun.

Namun, semangat patriotik di antara hampir 2,7 juta penduduk Qatar semakin meningkat tahun lalu, dengan bendera Qatar dan potret Amir Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani ditampilkan di gedung pencakar langit di ibukota, Doha.

Setelah 7 Bulan Diblokade, Begini Kabar Terakhir Qatar

Tanpa solusi politik yang terlihat, penduduk Qatar – warga negara dan ekspatriat – melihat kembali 12 bulan terakhir dan mempertimbangkan bagaimana kehidupan mereka terpengaruh:

Mohamed Alsherawi, insinyur Qatar, 35 tahun

Tahun lalu adalah tahun yang unik. Keindahan itu adalah persatuan antara warga negara dan para ekspatriat.

Saya tidak pernah berpikir bahwa setiap orang akan berdampingan, berbicara sebagai satu, benar-benar terasa indah. Dan juga pemerintah telah melakukan pekerjaan luar biasa untuk mengatasi semua rintangan dalam waktu singkat.

Hal yang memengaruhi saya secara pribadi adalah komunikasi saya dengan keluarga, orang tua, sepupu dan kakek-nenek, yang tinggal di negara-negara yang tidak dapat saya kunjungi. Ini benar-benar menyentuh hatiku.

Romeo Ezekiel Ocfemia, pelajar Filipina, 15 tahun

Saya memuji dan memberi selamat kepada pemerintah Qatar karena mereka berhasil melewati masa-masa krisis.

Mereka mampu menemukan pasar baru sambil menyediakan sumber makanan negara dan mereka mampu memikirkan solusi jangka panjang dengan menciptakan dan membangun peternakan sapi perah untuk mengkompensasi kurangnya produk susu di Qatar.

Qatar juga membuktikan kepada dunia bahwa mereka tidak membutuhkan Arab Saudi untuk menjadi negara yang sukses dan maju.

Pemerintah membela apa yang mereka yakini dan berjuang untuk kedaulatan mereka.

Shahna Abdul Karim, ibu rumah tangga India, 26 tahun

Blokade di Qatar menunjukkan bahwa bukan hanya ukuran, sumber daya atau kekayaan suatu negara yang menentukan nasibnya, tetapi juga bagaimana ia siap untuk menangani kekacauan yang dilemparkan ke arahnya dan Qatar telah terbukti sebagai negara yang berhasil.

Kenaikan harga, pada awalnya agak mengkhawatirkan mengingat pendapatan rumah tangga kami. Anggaran bulanan kami pasti harus disesuaikan dan daftar belanja harus diubah.

Namun seiring berjalannya waktu, harga turun dan kadang-kadang, bahkan lebih murah daripada sebelumnya.

Dilahirkan dan dibesarkan di Qatar, saya benar-benar merasakan rasa patriotisme setiap kali saya melihat pertumbuhan negara yang berkesinambungan. Saya melakukan upaya dengan sadar untuk beralih ke produk Qatar.

Krisis Teluk tentu mengangkat potensi Qatar ke sisi yang lebih baik. Qatar setelah 5 Juni 2017, tentu jauh lebih kuat.

Sulit Bangun Masjid, Begini Kehidupan Muslim di Ukraina

ANKARA (Jurnalislam.com) – Muslim di Ukraina tidak memiliki tempat ibadah, mufti Ukraina dari Administrasi Agama Muslim mengatakan.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Senin (4/6/2018) cendekiawan Muslim Said Ismagilov mengatakan sangat sulit mendapatkan tanah untuk membangun masjid, yang menyatakan bahwa kurangnya tempat ibadah terutama terlihat di luar kota-kota besar.

“Muslim di kota-kota kecil dengan komunitas yang lebih kecil menghadapi lebih banyak masalah karena mereka bahkan tidak memiliki masjid atau akses ke makanan halal,” tambahnya.

Mufti menambahkan dalam daftar keluhannya bahwa makam yang ada tidak cukup bagi Muslim dan bahwa wanita Muslim harus melepas jilbab mereka untuk foto paspor mereka.

Meminta dukungan organisasi Muslim internasional dalam membangun masjid dan pusat-pusat Islam di negara itu, Ismagilov mengatakan bahwa dukungan tersebut akan menjadi penting “bagi masa depan Islam di Ukraina.”

Muslimah Ukraina Adakan Workshop Hijab Pertama Kali

Ismagilov mengatakan bahwa hampir satu juta Muslim tinggal di Ukraina, mayoritas di Krimea dan di kota-kota besar seperti Kiev.

“Selama [era] Uni Soviet, seluruh agama dilarang di Ukraina – termasuk Islam – jadi ketika Ukraina merdeka, Muslim memulai dari awal untuk belajar tentang agama mereka,” katanya.

Mufti mengakui bahwa Muslim di Ukraina tidak berhadapan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Wakil kepala Liga Muslimah Ukraina dan pemimpin redaksi di Departemen Informasi Pusat Islam Ukraina, Olga Fryndak, yang masuk Islam pada tahun 1998, menggambarkan warga Ukraina sebagai “toleran.”

“Saya tahu Islam dari kakak perempuan saya, yaitu pada saat dia belajar di universitas di Kiev dan memiliki beberapa teman Muslim. Dia adalah yang pertama memberi saya informasi dasar tentang Islam sebagai agama. Pada saat itu tidak ada buku Islam dalam bahasa Rusia,” katanya.

Fryndak mengatakan dia tidak menghadapi “masalah besar” di Ukraina sebagai seorang Muslim.

“Warga Ukraina secara umum toleran. Kami memiliki masjid dan pusat budaya Islam di kota-kota besar, kami memiliki daging dan produk halal, kami dapat bekerja dan berdoa, kami memiliki organisasi dan relawan Muslim, ”katanya.

Fryndak mengatakan ada juga sekolah tata bahasa Islam di Kiev dan Kharkov, menambahkan bahwa literatur Islam dapat diterbitkan dalam bahasa Ukraina dan Rusia.

Dia menambahkan bahwa Muslim Ukraina masih membutuhkan lebih banyak masjid dan pusat Islam.

Ibu empat anak itu menambahkan bahwa taman kanak-kanak, kamp rekreasi dan klub olahraga untuk anak-anak Muslim juga diperlukan.

“Kami memiliki beberapa masalah sebagai minoritas dalam masyarakat non-Muslim, tetapi insya Allah kami dapat mengatasinya,” katanya.

Pangkalan Militer AS-Perancis Dihantam Serangan Bom di Raqqah Utara

RAQQAH (Jurnalislam.com) – Sebuah pangkalan militer yang menampung pasukan Amerika dan Prancis di kota Ain Issa di Suriah utara dibom pada Ahad malam, menurut sumber setempat di Raqqah hari Senin (4/6/2018), Anadolu Agency melaporkan

Sumber-sumber yang berbicara dengan syarat anonimitas karena pembatasan berbicara dengan media, mengatakan Ain Issa di Raqqah utara berada di bawah kendali kelompok teror YPG/PKK.

Pangkalan itu dilaporkan menampung sekitar 200 tentara Amerika dan 75 tentara Prancis. Masih belum jelas apakah ada korban setelah ledakan itu.

AS Bersama YPG Bentuk Kelompok Baru di Suriah Bernama Ini

YPG adalah cabang jaringan teroris PKK Suriah, yang telah mengobarkan perang melawan Turki selama lebih dari 30 tahun.

AS dan koalisi mengabaikan hubungan grup PYD/YPG dengan PKK, yang juga terdaftar sebagai kelompok teroris oleh AS dan Uni Eropa.

Turki telah berulang kali menentang dukungan AS untuk teroris PKK/PYD termasuk memasok senjata dan peralatan. AS menganggap teroris PKK/PYD sebagai “sekutu yang dapat diandalkan” di Suriah.

Analis: Veto AS Buat Israel Semakin Brutal Terhadap Rakyat Palestina

GAZA (Jurnalislam.com) – Para analis meyakini bahwa bias AS terhadap Israel mendorong negara Yahudi yang memproklamirkan diri sendiri tersebut untuk meneruskan serangannya terhadap Palestina yang tak berdaya.

“Israel akan menghentikan kejahatannya terhadap Palestina jika Washington menghentikan dukungan mereka yang tak tergoyahkan terhadapnya,” kata Akram Attalah, seorang analis politik Palestina, kepada Anadolu Agency pada hari Ahad (03/6/2018).

Pada hari Jumat, AS memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk kekerasan Israel dan menyerukan “perlindungan rakyat Palestina” di Gaza dan Tepi Barat.

Sepuluh negara memberikan suara mendukung resolusi rancangan Kuwait tersebut, sementara Inggris, Polandia, Belanda dan Ethiopia abstain.

Turki Kecam Veto AS atas Resolusi Dewan Keamanan PBB

“Israel akan membatasi kejahatannya atas Palestina jika AS tidak menggunakan veto,” Attallah berpendapat.

Dia mengatakan veto AS memberi Israel lampu hijau untuk melanjutkan agresinya terhadap Palestina.

“Israel tahu bahwa mereka tidak akan dihukum oleh masyarakat internasional dan bahwa Dewan Keamanan PBB tidak akan mengeluarkan kecaman apapun selama pemerintahan Trump menggunakan hak veto itu,” tambahnya.

Resolusi, yang direvisi tiga kali tersebut awalnya menyerukan perlunya perlindungan internasional untuk rakyat Palestina.

Draf akhir setelah revisi “diperas” berisi seruan “pertimbangan langkah-langkah untuk menjamin keselamatan dan perlindungan penduduk sipil Palestina di Wilayah Pendudukan Palestina, termasuk di Jalur Gaza.”

Sudah 123 Warga Gaza Gugur dan 13.000 Lainnya Terluka oleh Kebrutalan Pasukan Israel

Aksi Great March of Return di Gaza
Aksi Great March of Return di Gaza

Sejak Maret, lebih dari 120 warga Palestina telah menjadi martir dan ribuan lainnya terluka oleh tembakan tentara Israel selama aksi protes anti-pendudukan di dekat pagar keamanan Gaza-Israel.

Analis politik Palestina Walid al-Mudalal mengatakan veto AS memberi Israel kekebalan terhadap penuntutan setelah membunuh sejumlah pengunjuk rasa di sepanjang perbatasan Gaza.

“Veto ini memberi Israel jaring pengaman dan melindunginya terhadap penuntutan,” al-Mudalal, seorang profesor ilmu politik di Universitas Islam di Gaza, mengatakan kepada Anadolu Agency.

DK Turki Kembali Nyatakan Dukungannya pada Palestina di Semua Forum Internasional

Dia mengatakan dukungan Amerika yang tak tergoyahkan untuk Israel dimulai pada tahun 1940-an.

“Namun, dukungan ini mencapai puncaknya pada pemerintahan AS saat ini,” ia menekankan.

AS telah menggunakan veto lebih dari 40 kali terhadap resolusi pro-Arab dan Palestina sejak Dewan Keamanan PBB didirikan pada 1945.

Pada tahun 1972, Washington untuk pertama kalinya menggunakan hak veto mendukung Israel guna membatalkan resolusi PBB yang mengutuk serangan Israel di Libanon.

Pada tahun 1988, AS menggunakan delapan veto untuk membatalkan resolusi PBB terhadap Israel.

“Sejak ia berkuasa, Trump berpartisipasi dalam kejahatan Israel melawan Palestina,” kata Mekhaimar Abu Saada, seorang profesor ilmu politik di Al-Azhar University, yang berbasis di Gaza, kepada Anadolu Agency.

Dia mengatakan administrasi Trump tidak akan menjadi “mediator yang adil” dalam setiap pembicaraan damai antara Palestina dan Israel.

“Veto AS untuk membatalkan resolusi perlindungan Palestina adalah lampu hijau bagi Israel untuk melakukan kejahatan baru terhadap rakyat Palestina,” katanya.

55 Wartawan Terluka oleh Pasukan Israel di Jalur Gaza

GAZA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 55 wartawan yang meliput aksi protes yang sedang berlangsung di Jalur Gaza terluka oleh tentara Israel, kata pemerintah Gaza pada hari Ahad (03/6/2018).

“Pelanggaran yang dilakukan oleh Israel terhadap jurnalis di tanah Palestina telah mencapai total 125, 55 di antaranya terjadi di Gaza,” kata pernyataan pers, lansir Anadolu Agency.

Menekankan bahwa pelanggaran Israel terhadap jurnalis meningkat pada bulan Mei, pernyataan itu menambahkan: “Sembilan dari wartawan terkena peluru tajam, delapan terkena pecahan peluru peledak, 17 menderita akibat bom gas yang langsung ditembakkan ke arah mereka, sementara 21 lainnya menderita sesak napas dan pingsan.”

Pesawat Drone Israel Targetkan Wartawan yang Liput Aksi Protes di Gaza

Pasukan Israel merusak empat kendaraan siaran langsung dengan menembakkan bom gas dan tujuh wartawan ditahan di Tepi Barat. Selain itu, tentara Israel dituduh menembak dan memukul jurnalis.

Menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina hari Ahad, jumlah martir Palestina dalam demonstrasi Great March of Return telah mencapai 123, termasuk 12 anak-anak, dua petugas medis, dua wartawan sedangkan 13.672 warga Palestina – 7.451 di antaranya terkena amunisi hidup – dilukai oleh tentara Israel.

Sudah 123 Warga Gaza Gugur dan 13.000 Lainnya Terluka oleh Kebrutalan Pasukan Israel

Warga Palestina mengadakan aksi demonstrasi damai bernama Great March of Return di perbatasan Israel di Jalur Gaza sejak 30 Maret. Tentara Israel menggunakan amunisi langsung terhadap Palestina yang menuntut “kembali ke tanah tempat mereka setelah diasingkan dan mengakhiri blokade Israel yang tidak sah yang telah diberlakukan di Gaza sejak 2006 “.

Sudah 2 Wartawan Palestina Gugur saat Meliput “Great March of Return”

Sudah 123 Warga Gaza Gugur dan 13.000 Lainnya Terluka oleh Kebrutalan Pasukan Israel

GAZA (Jurnalislam.com) – Sebanyak 123 warga Palestina telah menjadi martir dan 13.000 lainnya terluka oleh tembakan tentara penjajah Israel sejak dimulainya protes anti-pendudukan di Jalur Gaza pada akhir Maret, menurut Kementerian Kesehatan.

“Para martir termasuk 13 anak, dua petugas medis dan dua wartawan,” juru bicara kementerian Ashraf al-Qidra mengatakan pada konferensi pers di Kota Gaza pada hari Ahad (03/6/2018).

Dia mengatakan sekitar 350 orang terluka serius selama protes.

Zionis Luncurkan Serangan Udara Terbesar setelah Puluhan Roket Hamas Hantam Israel

“Korban luka-luka termasuk 2.200 anak-anak dan 140 wanita,” katanya, menambahkan bahwa sejumlah korban yang terluka jauh melampaui batas kapasitas rumah sakit Gaza.

Sementara itu, Abdullatif al-Haj, kepala rumah sakit Gaza, mengatakan ada kekurangan obat-obatan dan persediaan medis di wilayah Palestina.

“Persediaan medis yang masuk tidak mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat,” katanya.

Media Resmi Korea Utara: Assad Ingin Bertemu Kim Jong Un

KOREA UTARA (Jurnalislam.com) – Presiden rezim Suriah Bashar al-Assad mengatakan dia berencana untuk mengunjungi pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, media pemerintah Korea Utara melaporkan pada hari Ahad (03/6/2018). Itu akan menjadi pertemuan pertama di Pyongyang antara Kim dan kepala negara lain, lansir Al Arabiya.

“Saya akan mengunjungi DPRK dan bertemu dengan Yang Mulia Kim Jong Un,” kata Assad pada 30 Mei, kantor berita KCNA Korea Utara melaporkan, menggunakan inisial nama resmi negara itu, Republik Rakyat Demokratik Korea (the Democratic People’s Republic of Korea-DPRK).

Tidak ada komentar langsung dari kantor presiden rezim Suriah.

Assad dilaporkan membuat pernyataan itu ketika dia menerima surat kepercayaan dari Duta Besar Korea Utara, Mun Jong Nam.

Pyongyang dan Damaskus mempertahankan hubungan baik, dan pemantau Perserikatan Bangsa-Bangsa menuduh Korea Utara bekerja sama dengan rezim Suriah dalam pengadaan senjata kimia, tuduhan yang dibantah oleh Korut.

Kedua negara sama-sama menghadapi isolasi internasional, Korea Utara atas program senjata nuklirnya, dan Rezim Suriah atas taktiknya selama perang di Suriah.

Begini Kata Korea Utara Setelah Putin Terpilih Kembali Jadi Presiden

Sejak awal tahun, Kim telah meluncurkan serangkaian pertemuan diplomatik dengan para pemimpin di China dan Korea Selatan, dan dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump di Singapura pada 12 Juni.

Sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2011, Kim belum pernah secara terbuka bertemu dengan kepala negara lain di Korea Utara.

“Dunia menyambut peristiwa luar biasa di semenanjung Korea yang baru-baru ini dibawa oleh kepemimpinan politik Yang Mulia Kim Jong Un yang cakap dan bijaksana,” kata Assad, menurut KCNA. “Saya yakin dia akan mencapai kemenangan akhir dan mewujudkan reunifikasi Korea tanpa gagal.”

Menurut kementerian luar negeri Korea Selatan, Korea Utara menjalin hubungan diplomatik dengan rezim Suriah pada tahun 1966, dan membuka kedutaannya di Damaskus. Rezim Suriah membuka misinya di Pyongyang pada tahun 1969.

Kerja sama militer yang erat antara kedua negara dimulai ketika Korea Utara mengirim sekitar 530 tentara termasuk pilot, supir tank dan personil rudal ke Suriah selama perang Arab-Israel pada Oktober 1973.

“Pemerintah Suriah akan selalu mendukung semua kebijakan dan langkah-langkah kepemimpinan DPRK sepenuhnya dan selalu memperkuat dan mengembangkan hubungan persahabatan dengan DPRK,” kata Assad, sebagaimana dikutip oleh KCNA.

Liga Arab: Pasukan Israel Sengaja Membunuh Perawat Razan Al-Najar

KAIRO (Jurnalislam.com) – Liga Arab pada hari Ahad (03/6/2018) tegaskan bahwa Israel telah sengaja membunuh seorang paramedis Palestina berusia 21 tahun di Jalur Gaza.

Razan al-Najar ditembak di dada oleh penembak jitu Israel pada hari Jumat ketika sedang berlari menghampiri warga Palestina yang terluka di kota Khan Younis di Jalur Gaza selatan.

“Otoritas pendudukan Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas pembunuhan tenaga medis itu,” kata liga yang berbasis di Kairo dalam sebuah pernyataan.

Liga Arab menyerukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Palang Merah dan badan amal medis lainnya untuk membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan “demi memaksa Israel untuk menghormati perjanjian internasional mengenai keselamatan dokter dan tenaga medis.”

Liga Arab juga mendesak PBB dan organisasi internasional lainnya untuk “menyelidiki kejahatan Israel dan mengadili mereka yang bertanggung jawab dan meminta mereka bertanggung jawab atas kejahatan mereka.”

Pasukan Israel Bunuh Tim Medis Palestina Saat Aksi Unjuk Rasa

Demonstrasi damai diadakan sejak akhir Maret di Jalur Gaza, yang telah mengalami krisis kemanusiaan besar karena blokade Israel lebih dari satu dekade.

Sejak aksi massa di Gaza dimulai pada 30 Maret, lebih dari 120 demonstran Palestina telah menjadi martir dan ribuan lainnya terluka oleh tembakan tentara penjajah Israel.

Tentara Israel menggunakan amunisi hidup terhadap warga sipil yang menuntut kembali ke kota-kota dan desa-desa mereka di Palestina lama dan mengakhiri blokade ilegal Israel yang telah diberlakukan di Gaza sejak 2006.

Banyak warga Palestina yang diwawancarai oleh Anadolu Agency menggambarkan paramedis muda itu sebagai “malaikat penjaga” karena membantu banyak demonstran yang terluka akibat tembakan Israel selama protes anti-pendudukan.