Bertemu Saat KTT Asean, Wapres AS Kritik Langsung Pemimpin Myanmar

SINGAPURA (Jurnalislam.com) – Wakil Presiden AS Mike Pence pada hari Rabu (14/11/2018) secara terbuka mengkritik pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi atas pembantaian terhadap Muslim Rohingya.

Pence dan Suu Kyi bertemu di sela-sela KTT ASEAN ke-33 di Singapura pada hari Rabu.

“Kekerasan dan penganiayaan oleh militer dan warga yang mengakibatkan mengungsinya 700.000 Rohingya ke Bangladesh tidak bisa diterima,” kata Pence dalam pernyataan terbuka kepada media sebelum mereka melakukan pembicaraan pribadi.

Wakil presiden AS mengatakan dia “cemas” mengenai progress dalam meminta pelaku bertanggung jawab atas kekerasan yang menyebabkan perpindahan ratusan ribu orang dan jatuhnya ribuan korban jiwa.

Namun, Suu Kyi membela operasi militer terhadap Rohingya itu dan mengatakan dia memahami masalah di negaranya lebih baik daripada negara lain.

“Saya yakin Anda juga akan mengatakan hal yang sama bahwa Anda memahami negara Anda lebih baik daripada orang lain,” tambah Suu Kyi.

Muslim Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok etnis yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat sejak ratusan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan Myanmar, menurut laporan oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario (the Ontario International Development Agency-OIDA).

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga ditembak senjata api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, yang berjudul “Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terbayangkan (Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience).”

Baca juga: 

Sekitar 18.000 wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambahnya.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak, dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke negara tetangga Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas tersebut pada bulan Agustus 2017.

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, mutilasi – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan pemerintah Myanmar. Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Jubir Hamas: Kami Beri Pelajaran Serius Bagi Israel

ALJAZAIR (Jurnalislam.com) – Juru bicara faksi perlawanan Islam Palestina (Hamas) Sami Abu Zuhri mengatakan pada hari Selasa (13/11/2018) bahwa perlawanan bersenjata di Palestina memberi pelajaran yang serius bagi Israel untuk dipikirkan.

“Kami mengajarkan Israel pelajaran yang serius. Ini adalah pesan bagi Israel,” kata Abu Zuhri. “Sikap kelompok-kelompok perlawanan akan ditentukan sesuai dengan perilaku Israel.”

Komentarnya itu disampaikan dalam pidato di Aljazair selama demonstrasi solidaritas Gaza yang diselenggarakan oleh Gerakan Masyarakat untuk Perdamaian (the Movement of Society for Peace), partai terbesar dengan afiliasi Islam di negara Afrika utara.

Setelah meningkatnya eskalasi di wilayah itu, kelompok perlawanan Palestina pada hari Selasa bersedia melakukan gencatan senjata dengan Israel di bawah mediasi Mesir.

Baca juga:

Setelah serangan Israel di Gaza pada hari Senin, tujuh warga Palestina tewas dan 25 lainnya terluka. Roket yang ditembakkan oleh kelompok-kelompok Palestina di Gaza menewaskan seorang perwira Israel dan melukai 50 lainnya.

Sekelompok tentara pasukan khusus yang berafiliasi dengan tentara Israel pada hari Ahad menyusup ke Gaza dengan kendaraan sipil.

Kedatangan mereka diketahui oleh pasukan yang berafiliasi dengan Hamas setelah memasuki Gaza sekitar 3 kilometer (2 mil), memicu konflik bersenjata yang mengakibatkan syahidnya warga Palestina dan tewasnya tentara Israel.

Hari ini, kelompok perlawanan Palestina, termasuk Hamas dan Jihad Islam, meluncurkan serangan roket, menghantam tentara Israel.

Mujahidin Hamas
Mujahidin Hamas

Kelompok-kelompok Palestina mengumumkan bahwa serangan, yang menghancurkan sebuah bus di Israel itu, adalah pembalasan atas seorang anggota mereka yang memeluk kesyahidan pada hari Ahad.

Menyusul insiden itu, Israel memulai serangan udara di Gaza dan kelompok-kelompok pejuang Palestina membalas dengan serangan roket.

Sejak 30 Maret, lebih dari 200 warga Palestina telah menjadi martir akibat tembakan tentara Israel – dan ribuan lainnya terluka – saat mengambil bagian dalam aksi unjuk rasa di sepanjang zona penyangga Gaza-Israel.

Sambut Hari Kemerdekaan di AS, Inilah Laporan Kebiadaban China pada Muslim Uighur

Washington (Jurnalislam.com) – Aktivis Uighur di AS menandai “hari kemerdekaan” komunitas mereka dengan aksi protes dan pawai di ibukota AS pada hari Selasa (13/11/2018).

Tanggal 12 November adalah ulang tahun ke-74 dan ke-85 dari dua republik Uighur yang hanya berumur pendek, yang dikenal sebagai Turkestan Timur, yang didirikan di wilayah yang kini menjadi bagian dari China.

Mereka yang hadir di acara yang diselenggarakan oleh Gerakan Kebangkitan Nasional Turkistan Timur (the East Turkistan National Awakening Movement) tersebut termasuk Rebiya Kadeer, salah satu warga Uighur terusir yang paling terkenal di dunia dan mantan presiden Kongres Uyghur Dunia (the World Uyghur Congress).

Dengan membawa bendera Amerika Serikat dan Turkestan Timur, para aktivis di luar Gedung Putih meminta AS untuk menekan China agar menghentikan penganiayaan terhadap minoritas Muslim.

Meskipun laporan tentang pelecehan terhadap warga Uighur sudah ada sejak lebih dari satu dekade, penganiayaan terhadap kelompok minoritas berbahasa Turki tersebut tahun lalu semakin intensif.

PBB mengkritik Cina karena menahan sekitar satu juta Muslim di kamp-kamp konsentrasi di mana mereka harus tunduk pada indoktrinasi politik dan budaya. Dalam laporannya dikatakan sekitar dua juta orang telah menjalani kamp-kamp di beberapa titik.

Baca juga: 

China juga dilaporkan memaksa orang Uighur untuk melepaskan keyakinan Islam mereka dan menghapuskan budaya yang membuat mereka berbeda dari mayoritas etnis Han di negara itu.

Pihak berwenang China melarang puasa Ramadhan, juga kelas-kelas Al-Quran untuk anak-anak muda.

Warga Amerika-Uighur Aydin Anwar mengatakan kepada Al Jazeera bahwa China berusaha untuk “menghapus” identitas Muslim Uighur.

“China telah menempatkan sedikitnya tiga juta orang di kamp-kamp konsentrasi,” katanya, menambahkan, “Di kamp-kamp ini mereka dipaksa untuk meninggalkan Islam, mengadopsi ateisme, dan berjanji setia kepada negara China.”

Memandang ke kerumunan orang di sekitarnya, Anwar mengatakan semua yang hadir memiliki sedikitnya satu kerabat yang ditahan di kamp.

“Suami bibiku punya lebih dari 70 kerabat di kamp dan penjara, dan salah satu dari mereka benar-benar terbunuh akibat suntikan mematikan di kamp-kamp.

“Bahkan kehidupan di luar kamp-kamp ini juga tidak lebih baik. Mempraktikkan Islam benar-benar dilarang; berdoa, berpuasa, memakai janggut, memakai jilbab … bahkan menamai bayi Anda dengan nama Islam.”

Ketika dimintai komentar, seorang juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, DC mengarahkan Al Jazeera untuk mengutip wawancara media negara dengan Shohrat Zakir, ketua pemerintah Xinjiang.

Dalam artikel itu, Zakir berusaha menempatkan perlakuan Tiongkok terhadap orang-orang Uighur sejalan dengan “Perang Internasional Melawan Terorisme” yang lebih luas.

Dia lebih lanjut menggambarkan kamp-kamp tersebut sebagai “lembaga pelatihan kejuruan” yang bertujuan, “mempelajari bahasa umum negara itu, pengetahuan hukum, keterampilan kejuruan, bersama dengan pendidikan de-ekstremasi, sebagai konten utama, dengan meraih pekerjaan sebagai arah utama.”

Bilal Ibrahim Turkistani memperoleh suaka di AS pada tahun 2011 setelah mengamankan visa untuk masuk ke konferensi yang diselenggarakan oleh orang-orang buangan Uighur. Dia mengatakan kepada Al Jazeera bahwa AS adalah salah satu dari beberapa pendukung Uighur dan dia berharap legislator akan meningkatkan dukungan bagi orang-orang Uighur.

“Kami meminta politisi untuk mengambil tindakan di Kongres, untuk tidak meninggalkan kami,” katanya.

Uighur mendapat dukungan dari pejabat senior AS.

Wakil Presiden Mike Pence mengecam Cina atas pelanggarannya terhadap Muslim dan minoritas lainnya, seperti yang dilakukan Nikki Haley, mantan duta besar AS untuk PBB.

Senator Republik Marco Rubio juga melobi Departemen Luar Negeri AS untuk mengambil tindakan terhadap China atas pelanggarannya terhadap orang-orang Uighur dan menggambarkan perilaku Beijing sebagai “sakit”.

Mereka yang hadir pada pertemuan itu mengatakan negara-negara enggan berbicara karena dampak ekonomi China yang ekspansif.

Ada kemarahan tertentu yang ditujukan pada negara-negara berpenduduk Muslim karena respons mereka yang tampak malu-malu terhadap laporan-laporan kebiadaban China terhadap orang-orang Muslim Uighur.

Cendekiawan Muslim Amerika, Omar Suleiman, menggambarkan respon dunia Muslim terhadap keadaan kaum Uighur sebagai “pengabaian total”.

“Mereka disiksa secara ironis oleh China karena dinilai terlalu Muslim sementara dunia Muslim tampaknya tidak melihat mereka sebagai Muslim yang cukup untuk diperjuangkan,” katanya kepada Al Jazeera.

“China bergantung pada perdagangan dan negaranya, termasuk AS, perlu memaksakan tekanan ekonomi yang diperlukan untuk menghentikannya dari melanjutkan penindasan ini.”

Pertempuran Gaza Meningkat, Kuwait dan Bolivia Serukan Pertemuan Darurat PBB

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Kuwait dan Bolivia meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas peningkatan pertempuran di Gaza, menurut sumber diplomatik.

Dewan Keamanan PBB diperkirakan akan membahas masalah tersebut di balik pintu tertutup pada hari Selasa (13/11/2018), lansir Anadolu Agency.

Permintaan itu datang di tengah gencatan senjata antara faksi-faksi perlawanan Islam Palestina  (Hamas) dan Israel, menyusul pecahnya eskalasi militer baru-baru ini.

Baca juga: 

Sejak Ahad, sedikitnya 14 warga Palestina telah syahid – oleh serangan brutal udara dan artileri penjajah Israel – di Jalur Gaza yang diblokade.

Sejak 30 Maret, lebih dari 200 warga Palestina telah menjadi martir oleh tembakan brutal tentara Israel – dan ribuan lainnya terluka – saat mengambil bagian dalam aksi unjuk rasa yang sedang berlangsung di sepanjang zona penyangga Gaza-Israel.

Mesir Tengahi Gencatan Senjata Hamas dengan Israel

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Gencatan senjata yang ditengahi Mesir antara Israel dan Hamas akhirnya dicapai setelah beberapa pekan diplomasi antar-jemput yang intens oleh para pejabat Mesir, faksi-faksi perlawanan Islam Palestina yang bermarkas di Gaza mengumumkan Selasa malam (13/11/2018).

“Upaya Mesir telah berhasil memadamkan gencatan senjata antara faksi perlawanan dan musuh [yaitu, Israel],” faksi menyatakan dalam pernyataan bersama.

“Faksi perlawanan akan berkomitmen pada ketentuan perjanjian selama Israel melakukan hal yang sama,” kata pernyataan itu.

Sementara itu kabinet Israel telah menginstruksikan tentara untuk melanjutkan operasi militer di Gaza “sebagaimana diperlukan”, menurut pernyataan resmi.

Baca juga: 

Pengumuman muncul setelah dua hari eskalasi militer antara Israel dan faksi perlawanan Islam Palestina.

Sejak Ahad, sedikitnya 14 warga Palestina telah menjadi martir – oleh serangan brutal udara dan artileri penjajah Israel – pada warga Palestina di Jalur Gaza yang diblokade.

Dan pada Ahad malam, tujuh orang Palestina menjadi martir, termasuk seorang komandan senior Hamas, dalam serangan darat Israel yang merusak di Gaza.

Sedikitnya satu perwira Israel dilaporkan tewas dan satu orang lainnya terluka selama serangan mematikan itu.

Militer Israel mengklaim serangan itu sebagai tanggapan terhadap tembakan roket dari Gaza ke Israel selatan.

Sejak 30 Maret, lebih dari 200 warga Palestina telah menjadi martir oleh tembakan membabi buta  pasukan  zionis – dan ribuan lainnya terluka – saat mengambil bagian dalam aksi protes yang sedang berlangsung di sepanjang zona penyangga Gaza-Israel.

 

Lembaga Pertahanan Israel Serukan Gencatan Senjata dengan Hamas

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Seorang pejabat senior Israel pada hari Selasa (13/11/2018) mengatakan bahwa lembaga pertahanan Israel secara luas mendukung gagasan mencapai gencatan senjata dengan faksi perlawanan Islam Palestina di Gaza (Hamas), media Israel melaporkan.

“Seluruh pembentukan pertahanan [Israel] … setuju pada kebutuhan untuk menghentikan pertempuran terhadap Gaza,” harian Israel Yedioth Ahronoth mengutip seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya, lansir Anadolu Agency.

Namun Kantor Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menggambarkan laporan bahwa Lieberman juga mendukung gencatan senjata sebagai “berita palsu”.

Menteri Pendidikan Naftali Bennett dan Menteri Kehakiman Ayelet Shaked (dari Partai Rumah Yahudi sayap kanan) juga menyatakan oposisi mereka terhadap gencatan senjata.

Sementara itu, tentara penjajah Israel mengatakan telah mencapai 160 sasaran di Jalur Gaza sejak Ahad, termasuk empat posisi yang berafiliasi dengan Hamas, yang telah memerintah daerah kantong pantai itu sejak 2007.

Tentara zionis tersebut juga mengklaim bahwa sistem pertahanan rudal Iron Dome milik mereka berhasil mencegat lebih dari 100 dari 460 roket yang baru-baru ini ditembakkan dari Jalur Gaza ke Israel.

Baca juga: 

Sejak Ahad, sedikitnya 14 warga Palestina telah menjadi martir – oleh serangan udara dan artileri brutal Israel – di Jalur Gaza yang diblokade.

Dan pada Ahad malam, tujuh orang Palestina gugur, termasuk seorang komandan senior Hamas, dalam serangan darat Israel yang merusak di Gaza.

Sedikitnya satu perwira Israel dilaporkan tewas dan satu orang lainnya terluka selama serangan mematikan itu.

Sejak 30 Maret, lebih dari 200 warga Palestina telah menjadi martir oleh tembakan brutal tentara Israel – dan ribuan lainnya terluka – saat mengambil bagian dalam aksi unjuk rasa yang sedang berlangsung di sepanjang zona penyangga Gaza-Israel.

Giliran Amnesty Internasional Cabut Gelar ‘Duta Hati Nurani’ Aung San Suu Kyi

LONDON (Jurnalislam.com)Amnesty International menelanjangi pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi sebagai penghargaan tertinggi atas “ketidakpeduliannya” terhadap kekejaman yang dilakukan oleh militer Budha Myanmar terhadap warga Rohingya yang mayoritas Muslim.

Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Inggris pada hari Senin (12/11/2018) mengatakan mereka mencabut Penghargaan Duta Hati Nurani (the Ambassador of Conscience Award) yang mereka beri kepada Aung San Suu Kyi pada tahun 2009 selama menjalani 15 tahun tahanan rumah.

“Hari ini, kami sangat prihatin bahwa Anda tidak lagi mewakili simbol harapan, keberanian, dan pembelaan abadi hak asasi manusia,” kata kepala Amnesti Kumi Naidoo dalam sepucuk surat kepada Aung San Suu Kyi yang dirilis oleh kelompok tersebut.

Amnesty International tidak dapat membenarkan status Anda yang berkelanjutan sebagai penerima penghargaan Duta Besar Nurani dan karenanya, dengan sangat sedih, kami dengan ini mencabutnya dari Anda.”

Kelompok itu mengatakan mereka memberi tahu pemimpin Myanmar tersebut tentang keputusan itu pada hari Ahad. Sejauh ini dia tidak mengeluarkan tanggapan publik.

Setelah dipuji sebagai juara dalam perjuangan demokrasi, Aung San Suu Kyi telah dicopot dari serangkaian penghargaan internasional atas eksodus Muslim Rohingya yang dimulai pada bulan Agustus 2017.

Lebih dari 720.000 warga Muslim Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine barat yang mayoritas Budha dalam pembantaian militer sejak Agustus tahun lalu, dengan sebagian besar mencari perlindungan di negara tetangga Bangladesh.

Banyak yang diyakini telah dibunuh atau disiksa dan diperkosa.

Aung San Suu Kyi dan Liga Nasional untuk Demokrasi (National League for Democracy-NLD) -nya menyapu kekuasaan pada tahun 2015 dengan kemenangan besar yang mengakhiri dekade pemerintahan militer di negara Asia Tenggara berpenduduk sekitar 50 juta itu.

Baca juga: 

Tetapi masa jabatannya telah dirusak oleh kegagalan untuk berbicara membela warga Muslim  Rohingya, yang diusir dari negara oleh tentara dalam apa yang disebut PBB sebagai operasi pembersihan etnis.

Pemerintahan Aung San Suu Kyi menolak temuan PBB dan menilainya sepihak, dan mengatakan tindakan militer adalah operasi yang sah terhadap pemberontak bersenjata.

Bulan lalu, wanita berusia 73 tahun itu dicopot dari kewarganegaraan kehormatannya atas kegagalannya berbicara mengenai Rohingya.

Pada bulan Maret, Museum Peringatan Holocaust AS (the US Holocaust Memorial Museum ) membatalkan penghargaan utamanya sementara penghargaan lainnya, termasuk kebebasan kota-kota Dublin dan Oxford (the freedom of the cities of Dublin and Oxford), Inggris, juga ditarik.

Dia juga telah kehilangan banyak penghargaan yang lebih kecil dari universitas serta pemerintah lokal dan regional.

Pada tahun 1991, ia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian (the Nobel Peace Prize), yang oleh banyak kritikusnya juga dimintal untuk ditarik. Yayasan Swedia yang mengawasi penghargaan itu menolak.

10 Rudal Israel Hantam Stasiun TV Hamas

GAZA (Jurnalislam.com) – Dalam serangan udara Senin (12/11/2018) malam, jet tempur penjajah Israel mencoba untuk menghancurkan stasiun TV yang dikelola Hamas di Gaza.

Melepaskan 10 rudal di stasiun TV Al Aqsha, jet Israel menghancurkan markasnya, kata saksi.

Di tengah serangan udara, stasiun itu meledak, lansir Anadolu Agency.

Banyak bangunan di sekitar stasiun juga rusak.

Pada Senin malam Israel meluncurkan serangan udara terhadap Gaza setelah roket ditembakkan dari Gaza ke arah wilayah Yahudi.

Baca juga: 

Tiga orang Palestina syahid  dalam serangan itu dan sembilan orang lainnya terluka.

Militer zionis mengatakan bahwa sekitar 200 roket telah ditembakkan dari Gaza sejak Senin malam tetapi sistem pertahanan udara Israel – Iron Dome – menangkap 60 roket.

Tentara menambahkan bahwa sebagian besar sisanya jatuh di tanah kosong.

Roket yang ditembakkan dari Gaza melukai 21 orang, termasuk satu tentara terluka parah.

Hamas Gempur Pasukan Israel dengan 200 Roket Lebih

PALESTINA (Jurnalsilam.com) – Pada Senin malam (12/11/2018), militer penjajah Israel mengatakan telah mencatat peluncuran sedikitnya 200 roket dari Gaza, termasuk 60 yang diklaim dicegat oleh sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel sementara yang lainnya jatuh ke tanah kosong.

Helikopter tempur Israel, sementara itu, juga dilaporkan menargetkan beberapa posisi di Gaza selatan. Dalam pernyataan bersama, faksi perlawanan Palestina (Hamas) mengumumkan bahwa mereka telah mulai menembakkan roket ke Israel selatan sebagai tanggapan atas serangan militer zionis ke Jalur Gaza selatan pada larut malam.

Baca juga:

Sedikitnya 19 orang Israel terluka, dengan satu – dilaporkan seorang tentara – dalam kondisi sekarat.

Pada Ahad malam, tujuh warga Palestina syahid – termasuk seorang komandan senior Hamas – ketika pasukan khusus Israel melancarkan serangan darat ke Jalur Gaza selatan.

Seorang tentara zionis Yahudi tewas dalam serangan itu dan seorang lainnya terluka, menurut tentara Israel.

Pertempuran Meletus di Gaza, Israel Kerahkan Tank dan Pertahanan Udara Iron Dome

YERUSALEM (Jurnalislam.com) – Tentara penjajah Israel pada hari Senin (12/11/2018) malam mengirim tank ke Jalur Gaza di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah itu.

Menurut koresponden Anadolu Agency di daerah itu, tank dikirim dari berbagai wilayah Israel ke pasukan Israel yang terletak di sepanjang perbatasan Gaza.

Sementara itu, tentara Israel mengatakan telah menargetkan lebih dari 70 posisi di dalam Gaza yang berafiliasi dengan gerakan perlawanan Islam Palestina (Hamas) dan Jihad Islam sebagai tanggapan atas peluncuran sejumlah roket dari Gaza.

Selain itu militer Israel mengumumkan bahwa mereka akan mengirim dua lagi sistem pertahanan udara Iron Dome ke wilayah tersebut.

Baca juga:

Jet tempur Israel pada Senin malam menyerang posisi di Jalur Gaza yang diblokade membalas peluncuran roket dari Gaza ke Israel selatan.

Tiga warga Palestina syahid dalam serangan brutal Israel, sementara sembilan lainnya terluka, kata Kementerian Kesehatan Gaza.

Unit artileri dekat zona penyangga Gaza-Israel dilaporkan telah menargetkan konsentrasi aktivis Palestina di Gaza tengah, bersama dengan posisi perlawanan di kota Jabalia dan kota Deir al-Balah.