Redam Kerusuhan di Negara Mayoritas Buddha, Ratusan Biksu Lawan Gerakan Anti Muslim

SRI LANGKA (Jurnalislam.com) – Ratusan biksu dan aktivis Buddha berkumpul di ibukota Sri Lanka menentang gerakan anti-Muslim yang menimbulkan kerusuhan dan membunuh sedikitnya dua orang serta memaksa pemerintah untuk mengumumkan keadaan darurat nasional.

Front Bhikku Nasional (The National Bhikku Front) mengatakan pada hari Jumat (9/3/2018) bahwa mereka mengorganisir demonstrasi diam (tenang) melawan apa yang mereka sebut “bentrokan komunal yang menghancurkan persatuan nasional,” lansir Aljazeera.

Pemimpin Buddhis moderat mengecam kekerasan yang terjadi di dalam dan di sekitar pusat kota Kandy, dan beberapa pengguna media sosial Sri Lanka juga memasang foto di Twitter menunjukkan para biksu Buddha mengunjungi Masjid-masjid selama shalat Jumat untuk mengungkapkan solidaritas.

Sementara itu, ketenangan mulai kembali ke wilayah Muslim yang dilanda kekerasan di distrik Kandy pada hari Jumat, dengan banyak toko dibuka kembali karena bala bantuan tentara sebagian besar mengakhiri serangan massa Buddhis Sinhala yang mengguncang daerah tersebut.

Kerusuhan Sri Langka: Kaum Muslim di Kandy Takut Warga Buddha Serang saat Shalat Jumat

Kerusuhan dimulai pada hari Senin setelah seorang pria dari mayoritas Sinhala meninggal karena luka-luka yang dideritanya dalam sebuah serangan pekan lalu oleh sekelompok pria Muslim.

Kerusuhan pun meningkat ketika jasad seorang pria Muslim ditemukan di sebuah bangunan yang terbakar pada hari Selasa.

Massa Sinhala membakar masjid dan bisnis, rumah dan kendaraan milik orang-orang Muslim di Kandy dan tempat lain.

Pemerintah mengumumkan keadaan darurat, memberlakukan jam malam dan mengerahkan tentara untuk mendukung patroli polisi.

Polisi mengatakan penghasut utama kerusuhan tersebut ditangkap pada hari Kamis bersama 145 orang lainnya.

Dia diidentifikasi sebagai Amith Weerasinghe, seorang pria Sinhala yang dikenal karena aktivisme anti-Muslim dan posting media sosialnya yang penuh kebencian.

Komandan Angkatan Darat Mahesh Senanayake mengatakan bahwa para korban menuduh polisi dan Satuan Tugas Khusus kepolisian hanya melihat (diam) pada saat mereka dijadikan sasaran.

“Sungguh menyedihkan jika ini benar, kita dipaksa untuk menurunkan lebih banyak tentara di jalanan dan keamanan telah diperkuat dengan membawa lebih banyak bala bantuan,” katanya.

Pemerintah Myanmar Hilangkan Bukti Kejahatannya dengan Ratakan 55 Desa Rohingya

Layanan internet, yang diblokir di Kandy, telah dipulihkan pada hari Jumat, namun akses ke situs media sosial seperti Facebook masih tetap diblokir di Sri Lanka.

Dewan Pariwisata secara resmi mengatakan bahwa keadaan sudah aman bagi turis asing untuk mengunjungi Kandy, yang terkenal dengan perkebunan teh dan situs Buddha.

Ranil Wickremesinghe, perdana menteri Sri Lanka, mengatakan pada Kamis malam bahwa kerusuhan tersebut merupakan pukulan besar bagi upaya Sri Lanka yang sedang berupaya meningkatkan pariwisata setelah mengakhiri perang saudara etnis 27 tahun antara mayoritas Sinhala dan minoritas Tamil.

Perang berakhir pada tahun 2009. Sejak saat itu, perpecahan agama berkembang, dengan bangkitnya kelompok nasionalis Buddhis yang menuduh minoritas Muslim mencuri dari kuil Buddha atau menodai kuil Buddha, atau membuat orang untuk masuk Islam.

Budha Sinhala membentuk 75 persen dari 21 juta orang di negara itu, dan 10 persen adalah Muslim.

Sekelompok biksu Budha yang kontroversial menghadapi tuntutan karena diduga berperan dalam kekerasan anti-Muslim pada tahun 2014 yang menyebabkan empat orang tewas.

Turki akan Renovasi Masjid Era Ottoman di Bulgaria

BULGARIA (Jurnalislam.com) – Turki akan merenovasi sebuah Masjid era Ottoman di kota Razgrad, Bulgaria, sebagai hasil keputusan yang dicapai setelah serangkaian negosiasi antara kedua negara, kantor gubernur di perbatasan provinsi Edirne mengatakan pada hari Kamis (8/3/2018), lansir World Bulletin.

Pejabat Turki berhubungan dengan rekan-rekan Bulgaria mereka, dan terutama dengan Perdana Menteri Bulgaria, Boyko Borisov, untuk memulai pemulihan Masjid Ibrahim Pasha, karya arsitektur Utsmani terbesar di Balkan yang masih berdiri.

Masjid tersebut saat ini ditutup. Restorasi masjid dibahas dalam sebuah sidang Dewan Menteri Bulgaria yang diadakan pada hari Rabu di bawah arahan presiden Borisov.

Kisah Seorang Tentara Ottoman yang Setia Menjaga Masjid Al Aqsha Selama 57 Tahun

Dewan Menteri Bulgaria mengeluarkan izin renovasi masjid tersebut oleh Turki, seraya menunjuk gubernur Razgrad asal Turki, Gunay Husmen untuk mengawasi proses rekonstruksi, kata kantor tersebut dalam sebuah pernyataan.

Masjid akan dibuka kembali setelah renovasi selesai, kantor gubernur menambahkan.

Bulgaria adalah rumah bagi banyak masjid, pemandian bersejarah Turki (hammams), dan sejumlah bangunan bersejarah lainnya yang memerlukan restorasi.

Sebanyak 27 masjid era Ottoman di Bulgaria sedang menunggu restorasi, karena menara, dinding, dan pintu mereka entah runtuh atau mengalami kerusakan yang cukup besar dari waktu ke waktu.

Masjid Berumur 600 Tahun Era Ottoman di Yunani Terbakar

Yang termasuk dalam daftar adalah Masjid Fatih Mehmed, yang terletak di kota barat Kyustendil, Masjid Karaca Pasha di kota selatan Gotze Delchev, selain Masjid Ibrahim Pasha di Razgrad.

Namun, otoritas Muslim setempat mengeluh bahwa pejabat Bulgaria tidak mengizinkan restorasi masjid tua yang tidak memiliki menara, karena menurut mereka, itu bisa dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa masjid-masjid tanpa menara tersebut hanyalah “situs bersejarah biasa (bukan masjid).”

Aktivis Ghouta: Rezim Syiah Assad Lakukan Semua Jenis Kejahatan yang Ada di Dunia

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Pada hari Kamis (8/3/2018), sedikitnya 13 orang tewas dalam pertempuran, menurut the Syrian Observatory for Human Rights, sebuah kelompok pemantau perang yang berbasis di Inggris.

Abu Salem al-Shami, seorang aktivis di Ghouta Timur, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa banyak dari korban yang terbunuh dan terluka akibat serangan brutal rezim, mereka tetap berada di bawah reruntuhan saat kelompok penyelamat mencoba menarik mereka keluar.

“Rezim Suriah melakukan semua jenis kejahatan yang ada di dunia,” kata al-Shami.

Kawasan ini merupakan target utama karena kedekatannya dengan Damaskus, tempat pemerintahan rezim Syiah Assad berada.

Perancis akan Intervensi Militer ke Suriah Jika Serangan Senjata Kimia Assad Terbukti

Dipercaya bahwa sekitar 400.000 orang masih tinggal di daerah yang terkepung, dan sangat menderita kekurangan makanan dan obat-obatan akut.

Pada tahun 2013, Ghouta Timur menjadi sasaran serangan senjata kimia yang mengejutkan dunia.

Menurut beberapa perkiraan, pesawat tempur menjatuhkan sekitar 1.000 kg zat sine yang mematikan di daerah tersebut, menewaskan lebih dari 1.000 orang, yang sebagian besar adalah warga sipil.

Perancis akan Intervensi Militer ke Suriah Jika Serangan Senjata Kimia Assad Terbukti

PERANCIS (Jurnalislam.com) – Perancis mengatakan akan melakukan “tindakan intervensi” jika laporan serangan senjata kimia rezim Suriah yang baru di Ghouta Timur terbukti benar.

Aktivis di Ghouta Timur, sebuah daerah pinggiran ibukota Suriah, Damaskus, merilis video pada hari Rabu (7/3/2018) yang menunjukkan bom dijatuhkan, mengklaim bahwa serangan tersebut terjadi di kota pemukiman Hamouriyah.

Video tersebut menunjukkan korban kesulitan untuk bernafas.

“Jika penggunaan senjata kimia ditemukan, diverifikasi, dikaitkan dan membuat orang mati, maka Prancis akan mengambil tindakan intervensi militer untuk mencegah perkembangbiakan senjata kimia,” Jean-Yves Le Drian, menteri luar negeri Prancis mengatakan, seperti dikutip oleh kantor berita resmi Xinhua pada hari Kamis.

WHO: Inilah Serangan Senjata Kimia yang Paling Mengerikan

Pemerintah Suriah menolak klaim tersebut, dengan mengatakan bahwa “pemberontak yang putus asa” mencoba untuk mendistorsi fakta.

“Kemarin malam adalah malam paling gelap dan paling mengerikan. Mereka menggunakan fosfor, napalm, bom curah dan gas klorin,” Ammar al-Selmo, seorang pekerja bantuan sukarela untuk Pertahanan Sipil Suriah, mengatakan kepada Al Jazeera melalui telepon dari daerah yang dikuasai oposisi.

“Tim kami panik karena saat itu seperti 2013, ketika rezim [Presiden Bashar] al-Assad menggunakan senjata kimia di Ghouta.”

Ghouta Timur berada di bawah kendali kelompok oposisi bersenjata sejak 2013 – setelah dua tahun menjadi sebuah gerakan populer di Suriah yang menyerukan mundurnya Assad.

Ketika rezim menanggapi dengan keganasan militer, penduduk setempat dan tentara oposisi mengangkat senjata melakukan perlawanan dan berhasil menguasai wilayah-wilayah besar di seluruh negeri.

Inilah Infografik 162 Serangan Senjata Kimia Rezim Assad di Suriah

Dengan intervensi Rusia pada tahun 2015, pasukan Syiah Nushairiyah Assad merebut kembali sebagian wilayah tersebut, namun Ghouta Timur tetap menjadi salah satu kubu oposisi bersenjata terakhir Suriah didekat ibukota.

Daerah tersebut berada di bawah pengepungan dan blockade yang mencekik oleh pasukan rezim Syiah Assad sejak 2013, sebagai upaya untuk mendesak oposisi bersenjata yang beroperasi di sana keluar.

Saat pasukan rezim Syiah ini mengintensifkan serangan mereka untuk mendapatkan kembali kontrol atas wilayah tersebut, dibantu oleh operasi pengeboman udara Rusia, lebih dari 900 warga sipil telah terbunuh dalam tiga pekan terakhir.

Begini Bisnis Jualan Senjata Amerika di Timteng

QATAR (Jurnalislam.com) – Qatar dan Amerika Serikat telah menyetujui penjualan sebesar $ 197 juta dalam bentuk upgrade dan peralatan lainnya untuk angkatan udara negara Timur Tengah tersebut.

Kesepakatan yang diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS pada hari Kamis (8/3/2018) tersebut mendapat persetujuan dari Kongres AS, lansir Aljazeera.

“Penjualan yang diusulkan ini akan berkontribusi pada kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan membantu memperbaiki keamanan sebuah negara sahabat yang telah dan terus menjadi kekuatan penting bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Timur Tengah, kata Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan dalam sebuah pernyataan.

AS menurunkan sekitar 10.000 personil militer di sebuah pangkalan besar di Qatar yang berfungsi sebagai markas Komando Pusat Angkatan Udara untuk operasi AS di Timur Tengah.

Penjualan tersebut mencakup peralatan yang akan membuat angkatan udara Qatar lebih tahan terhadap ancaman keamanan maya (cybersecurity), katanya.

“Kesepakatan antara Qatar dan Departemen Luar Negeri AS akan mendukung kemampuan defensif Qatar. Penjualan yang diusulkan akan membantu memperkuat kemampuan Qatar untuk melawan ancaman saat ini dan masa depan di kawasan Timur Tengah dan mengurangi ketergantungan pada pasukan AS,” kata pernyataan tersebut.

Qatar Tandatangani Kesepakatan Militer dengan NATO

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain, semuanya adalah sekutu AS di Timur Tengah, memberlakukan blokade terhadap Qatar pada bulan Juni 2017.

Kelompok yang dipimpin Saudi tersebut menuduh Qatar mendukung “ekstremisme” di wilayah Timur Tengah, sebuah tuduhan yang ditolak Doha.

Beberapa menit setelah mengumumkan penjualan kepada Qatar pada hari Kamis, Departemen Luar Negeri AS juga menyetujui kesepakatan senilai $ 270 juta untuk menjual rudal air-to-air, Sidewinder ke UAE.

Penjualan ini menggambarkan UEA sebagai “negara yang bersahabat” dan “kekuatan penting untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Timur Tengah.”

Giliran Qatar Beli Sistem Rudal S-400 pada Rusia

Juga ada laporan bahwa AS akan menjual jet tempur F-35 milik negara kepada UEA. AS sebelumnya menjual pesawat terbang canggih tersebut hanya ke Israel.

Berita tentang kerja sama penjualan AS-Qatar terjadi beberapa hari setelah sebuah pesawat kargo militer dari UEA melanggar wilayah udara Qatari, sebagai pelanggaran ketiga dalam empat bulan.

Sumber mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pesawat kargo tersebut menembus wilayah udara Qatar selama tujuh menit pada hari Ahad. Jet tempur Qatar mencegat pesawat tersebut setelah tidak merespons peringatan.

Pada bulan Januari, Qatar mengeluh kepada PBB tentang dua pelanggaran UEA sebelumnya terhadap wilayah udaranya. Padahal semua pesawat Qatari dilarang terbang di dalam wilayah udara Saudi, Bahraini, Mesir, dan UEA.

 

Putra Amir Taliban Pakistan Gugur dalam Serangan Drone AS di Kunar

ISLAMABAD (Jurnalislam.com) – Sekitar 20 pejuang Taliban Pakistan, termasuk putra Amir Tehreek-e-Taliban Pakistan (Mulya Fazlullah), gugur dalam serangan pengecut pesawat tak berawak (drone) AS di provinsi Kunar, Afghanistan timur laut, menurut sebuah pernyataan Taliban, Kamis(8/3/2018).

Para pejuang, termasuk Abdullah, gugur dalam serangan di sebuah kamp TTP, kata Taliban dalam pernyataan yang dikirim ke wartawan lokal di distrik Bajaur Pakistan, yang berbatasan dengan Kunar, pada hari Rabu (07/03/2018).

Menurut pernyataan tersebut, 20 fidayeen, atau pejuang Istisyhad, gugur, sementara enam pejuang lainnya terluka dalam serangan tersebut.

Serangan Udara AS pada Taliban Meningkat, 4.360 Pemboman, Namun…

Komandan TTP terkemuka Gul Muhammad dan pelatih fidayeen Yasin juga gugur dalam serangan tersebut, kata surat kabar Pakistan, Dawn.

Pakistan sering menuduh pasukan AS dan Afghanistan tidak berbuat cukup banyak untuk menargetkan mujahidin TTP yang berada di sisi Afghanistan dari perbatasan Pakistan-Afghanistan, saat mereka mundur setelah serangkaian operasi militer oleh Pakistan.

Walaupun kekerasan telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, TTP dan afiliasinya terus melakukan serangan sporadis berskala besar yang menargetkan pasukan militer dan warga sipil Pakistan.

Sedikitnya 748 pasukan militer dan warga sipil tewas dalam konflik antara militer Pakistan dengan TTP dan kelompok bersenjata lainnya, termasuk separatis bersenjata Baloch, pada 2017, menurun dari puncak korban jiwa sedikitnya 3.739 pada tahun 2012, menurut the South Asia Terrorism Portal, sebuah organisasi penelitian berbasis New Delhi.

Gunakan Night Vision, Taliban Tewaskan 18 Tentara Bentukan AS dalam Semalam

Militer Pakistan mengkalim bahwa mereka telah membunuh sedikitnya 4.000 pejuang TTP dan sekutu-sekutunya sejak 2013.

Namun Al Jazeera tidak dapat memverifikasi jumlah tersebut secara independen, karena akses ke daerah konflik dikendalikan secara ketat, dan identitas orang-orang yang terbunuh jarang terungkap.

Menteri Luar Negeri Pakistan Tehmina Janjua berada di Washington DC pekan ini untuk melakukan pembicaraan dengan AS demi mengurangi ketegangan antara dua mantan sekutu tersebut.

Pada bulan Januari, Presiden AS Donald Trump memotong lebih dari $ 1,1 miliar bantuan militer ke Pakistan atas tuduhan bahwa mereka menyediakan tempat yang aman bagi anggota Taliban Afghanistan (Imarah Islam Afghanistan) dan Jaringan Haqqani.

Pakistan membantah tuduhan tersebut, menuduh bahwa mereka dikambinghitamkan karena kegagalan pasukan koalisi pimpinan AS dalam perang di Afghanistan setelah lebih dari 16 tahun perang melawan Taliban Afghanistan tidak ada kemajuan yang signifikan.

Belasan Tahun Berperang, AS Makin Bingung dengan Kekuatan Taliban

Kontak diplomatik terakhir tampaknya melunakkan perbedaan antara kedua negara.

Pada hari Senin, pejabat senior Departemen Luar Negeri AS Alice Wells mengatakan bahwa AS mengetahui bahwa Pakistan memiliki “masalah legal” terkait situasi di Afghanistan.

“Mereka memiliki kekhawatiran atas pengelolaan perbatasan, atas kehadiran [Taliban Pakistan] di wilayah tak berdaulat di Afghanistan, serta masalah pengungsi,” katanya.

Kerusuhan Sri Langka: Kaum Muslim di Kandy Takut Warga Buddha Serang saat Shalat Jumat

SRI LANGKA (Jurnalislam.com) – Kaum Muslim Sri Lanka mengatakan bahwa mereka takut diserang oleh umat Buddha Sinhala saat sholat Jum’at nanti (9/3/2018), di tengah laporan bahwa pasukan keamanan pemerintah gagal menindak massa yang merampok.

Meskipun telah diberlakukan keadaan darurat dan jam malam untuk mengurangi kekerasan yang terjadi akhir pekan lalu antara Muslim dan Budha di distrik pusat Kandy, masih ada kekhawatiran bahwa serangan akan berlanjut di Sri Lanka.

“Saya hidup dalam ketakutan dan tidak dapat tidur sepanjang malam karena semua anggota keluarga laki-laki saya telah pergi untuk melindungi kami dan kami ditinggalkan di rumah,” Fathima Rizka, seorang wanita berusia 25 tahun dari Kandy, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Polisi tidak melindungi kami, mereka hanya berdiri sementara serangan lain sedang dilakukan … Kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Pada hari Kamis (8/3/2018), jalan-jalan di sebagian besar kota di Kandy kosong, hanya ada polisi dan tentara. Kekerasan dan keamanan yang berat sebagian besar terjadi di perbukitan Sri Lanka.

Rizka mengatakan bahwa kabar umat Buddha merencanakan serangan saat sholat Jum’at menyebar di antara kaum Muslim di Kandy.

“Pengaturan khusus dibuat oleh masyarakat untuk memastikan bahwa ada laki-laki yang akan sholat pada waktu berbeda untuk memastikan bahwa perempuan dan anak-anak tidak ditinggalkan sendirian di rumah mereka,” katanya.

Konflik Warga Buddha dengan Kaum Muslim Meningkat di Sri Langka, 1 Buddhis Tewas

Kekerasan komunal yang terakhir dimulai pada hari Ahad, ketika seorang pria dari mayoritas Sinhala dipukuli sampai mati oleh pria diduga Muslim setelah kecelakaan lalu lintas, di kota Teledeniya di Kandy.

Keesokan harinya, ratusan umat Buddha Sinhala berkumpul di distrik tersebut dan menyerang puluhan bisnis Muslim, rumah dan Masjid. Banyak tempat usaha dibakar.

Sejak kekerasan meletus, aparat keamanan berulang kali dilaporkan gagal untuk menangkap pelaku serangan.

“Pemerintah mengatakan bahwa mereka akan berbuat lebih banyak untuk menindak massa, namun kenyataannya adalah umat Islam tidak merasa dilindungi. Kami merasa ada seseorang yang terlibat dalam posisi tinggi yang memungkinkan massa melarikan diri setelah melakukan kejahatan terhadap komunitas kami,” kata Mohamed, 58, yang meminta agar nama keluarganya tidak dipublikasikan karena alasan keamanan.

Suami dan ayah dari dua orang tersebut mengatakan kepada Al Jazeera bahwa penduduk Muslim menyelesaikan masalah keamanan dengan cara mereka sendiri.

“Kami tidak bisa membiarkan istri, ibu dan saudari kami menangis dalam ketakutan, melihat mata pencaharian kami dibakar di depan mata kami sementara aparat yang berwenang menolak untuk membantu kami,” katanya.

“Kami harus mengambil tindakan sendiri dengan berdiri di luar rumah dan kota kami untuk memastikan keamanan keluarga kami, karena polisi sama sekali tidak menjaga hukum dan ketertiban.”

Al Jazeera mencoba menghubungi Inspektur Jenderal Polisi Kandy Pujith Jayasundra untuk memberikan komentar, namun seseorang yang menjawab telepon di kantornya mengatakan bahwa dia “tidak dapat mengomentari tuduhan tersebut”, dan agar menelepon kembali pada hari Jumat.

Ashar Careem, 36, dari kota Kattunkudy, mengatakan bahwa komunitas Buddhis pada umumnya tidak dapat disalahkan atas serangan tersebut.

Massa Buddha Serang Masjid di Srilangka Timur, Sejumlah Umat Muslim Terluka

“Mayoritas masyarakat Sinhala cinta damai dan baik hati, kecuali beberapa ekstremis dan politisi ini,” katanya.

“Muslim umumnya telah ditahan selama bertahun-tahun atas semua kekerasan dan kehancuran yang dituduhkan terhadap kami. Polisi dan pemerintah sama-sama memiliki waktu lebih dari cukup untuk menindak elemen-elemen rasis ini dan mereka memiliki banyak bukti, namun tidak ada yang telah dilakukan sejauh ini, sementara hidup kami terancam.

“Ini benar-benar ketidakmampuan pihak berwenang dan saya meminta mereka bertanggung jawab atas situasi hari ini. Cinta dan patriotisme kami untuk negara ini lebih tinggi dibanding cinta dan patriotisme kami untuk orang lain,” kata Careem.

Pemerintah telah menangguhkan layanan internet di wilayah tersebut dan memblokir akses ke Facebook dan media sosial lainnya – termasuk WhatsApp dan Viber – dalam upaya menghentikan upaya merencanakan lebih banyak kekerasan dan menyebarkan rumor palsu.

Kekerasan agama bukanlah hal baru bagi negara kepulauan Asia Selatan yang berpenduduk 21 juta jiwa tersebut. Kampanye anti-Muslim diluncurkan oleh umat Buddha garis keras menyusul kerusuhan mematikan di Aluthgama pada bulan Juni 2014.

Presiden Maithripala Siresena telah berjanji untuk menyelidiki kejahatan anti-Muslim setelah mengambil alih kekuasaan pada tahun 2015, namun tidak ada kemajuan signifikan yang dilaporkan sejauh ini.

Siap Hadapi Rusia dan Rezim, Pejuang Suriah Tolak untuk Pergi dari Ghouta Timur

GHOUTA (Jurnalislam.com) – Pejuang Suriah di Ghouta Timur “menolak untuk tinggalkan Ghouta” dan telah menegaskan kembali bahwa mereka akan mempertahankan wilayah tersebut, dengan mengatakan bahwa penarikan mundur yang diusulkan oleh Rusia bukanlah suatu tawaran serius, seorang juru bicara salah satu kelompok oposisi bersenjata di wilayah tersebut mengatakan kepada Al Jazeera.

Wael Olwan, dari Failaq al-Rahman (Legiun Rahman), sebuah kelompok bersenjata utama yang terkait dengan the Free Syrian Army di Ghouta Timur, mengatakan pada hari Rabu (07/03/2018) bahwa Moskow berkeras menggunakan eskalasi militer sebagai sarana untuk menyebabkan “perpindahan (pengungsian) massal.”

“Kebrutalan Rusia menyebabkan perpindahan (pengungsian) massal adalah kejahatan perang yang tidak bisa diabaikan,” katanya.

Rezim Assad Tidak Mampu Rebut Sejengkal Tanah Pun dari Faksi Jihad Ghouta Timur

Sebelumnya pada hari Rabu, Reuters News Agency melaporkan bahwa seorang juru bicara militer untuk sebuah kelompok oposisi yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa mereka tidak akan menerima negosiasi yang diajukan oleh Rusia.

“Tidak ada negosiasi mengenai masalah ini,” Hamza Birqdar mengatakan kepada Reuters dalam sebuah pesan teks, mengacu pada tawaran Rusia untuk membiarkan oposisi dan keluarga mereka keluar dengan selamat dari Ghouta Timur yang dikepung.

“Fraksi jihad Ghouta dan pejuang mereka dan rakyatnya menguasai tanah mereka dan akan mempertahankannya,” Birqdar menambahkan.

Korban Tewas di Ghouta Akibat Serangan Brutal Rezim Assad dan Rusia Capai 800 Orang

Sementara itu, rezim Syiah Assad mengatakan akan mengirim bala bantuan, termasuk 700 milisi, untuk bergabung dalam pertempuran melawan kelompok oposisi demi mengalahkan mereka di kubu besar terakhir mereka, kata the Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) pada hari Rabu.

Daerah pinggiran Damaskus telah berada di bawah kontrol Oposisi sejak pertengahan 2013. Tak lama kemudian, Presiden rezim Syiah Suriah Bashar al-Assad memberlakukan pengepungan dan blockade di wilayah tersebut, yang menampung sekitar 400.000 orang.

Selama bertahun-tahun, dan setelah beberapa operasi pengeboman yang dipimpin rezim untuk mengusir kelompok oposisi bersenjata, penduduk daerah kantong tersebut menderita krisis kemanusiaan yang sekarang semakin memburuk.

Sejak 18 Februari, pesawat tempur rezim assad yang didukung agresor Rusia mengintensifkan pemboman mereka terhadap pemukiman Ghouta Timur, menewaskan sedikitnya 770 warga sipil sampai saat ini, menurut SOHR.

SOHR baru-baru ini menjuluki serangan tersebut sebagai “serangan paling berdarah” yang belum pernah dialami negara tersebut dalam enam tahun konfliknya. Pejabat kesehatan di daerah yang dikepung mengatakan pasukan rezim Syiah Suriah menggunakan gas klorin dalam operasi pengeboman udara terakhir mereka.

Hingga Kemarin Rezim Syiah Assad Tetap Bantai Warga Sipil Ghouta, 38 Tewas

Sebuah resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyerukan gencatan senjata 30 hari serta gencatan senjata yang disponsori Rusia gagal mengevakuasi penduduk yang terjebak juga gagal mendistribusikan arus bantuan kemanusian yang sangat dibutuhkan termasuk makanan dan obat-obatan karena serangan rezim Assad.

Serangan darat yang diluncurkan oleh pasukan rezim Assad untuk menembus ke daerah kantong terbukti tidak berhasil sejauh ini, walaupun tentara Suriah terus memerangi pejuang Ghouta dari berbagai sisi.

Klaim bahwa pasukan rezim Suriah dan sekutu pro-pemerintah telah menguasai lebih dari sepertiga wilayah kantong tersebut digambarkan sebagai “tidak akurat” oleh para aktivis di lapangan.

Konfrontasi yang sedang berlangsung telah menyebabkan banyak orang yang tinggal di pinggiran untuk pindah ke Douma, salah satu kota terbesar di Ghouta Timur, yang berada di tengah daerah kantong.

Di antara kota-kota kecil di pinggiran daerah kantong adalah Misraba dan Al-Shifoniyah – yang ditargetkan terutama karena dekatan dengan pertempuran.

WHO: Konvoi Bantuan Obat-obatan dan Peralatan Medis ke Ghouta Disita Rezim Assad

Ali Al Khouli, seorang jurnalis independen yang berbasis di Misraba, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sedikitnya 1.000 keluarga telah pergi ke Douma sejak hari Selasa.

“Sekitar 5.000 orang telah pergi kemarin, dan hari ini,” katanya pada hari Rabu pagi dari kota yang menampung sekitar 7.000 keluarga.

Menurut Khouli, dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 keluarga mengungsi karena mereka datang untuk mencari perlindungan di Misraba dari desa-desa terdekat lainnya di daerah kantong tersebut.

Operasi pemboman rezim Nushairiyah Suriah “tanpa henti” di Ghouta Timur dan di Misraba khususnya, telah “sepenuhnya” merusak sebagian besar bangunan dan infrastruktur kota tersebut, kata Khouli.

“Penduduk takut,” katanya, “Mereka tidak ingin tentara rezim mencapai rumah mereka dan membunuh mereka serta keluarga mereka,” kata Khouli.

“Begitu banyak yang memutuskan untuk pergi, terutama mereka yang tinggal di lahan pertanian yang relatif terbuka, tidak hanya ke Douma tapi ke kota-kota pusat lainnya seperti Harasta,” jelasnya,

“Setiap jam, sedikitnya lima serangan udara akan menggempur daerah itu.”

Pembukaan kembali operasi udara pada hari Selasa terjadi tak lama setelah sebuah konvoi bantuan tidak dapat menurunkan persediaan kepada penduduk yang terjebak di dalam kantong tersebut, setelah berhasil melewati sebuah pos pemeriksaan yang dikendalikan rezim untuk pertama kalinya dalam waktu hampir sebulan.

Para pekerja bantuan mengatakan bahwa tentara rezim Syiah Suriah menyita banyak pasokan di truk, memblokir pengiriman sekitar 70 persen pasokan medis.

Serang Pengungsi dengan Bom, Pengadilan Jerman Jebloskan 8 Anggota Anti Islam ke Penjara

JERMAN (Jurnalislam.com) – Pengadilan Jerman menjatuhkan hukuman 4 hingga 10 tahun di penjara terhadap tujuh pria dan satu wanita pada hari Rabu (7/3/2018) karena mendirikan kelompok “teroris” far-right yang bertanggung jawab atas percobaan pembunuhan dan serangan bom ke tempat penampungan pengungsi dan politisi, lansir Anadolu Agency.

Jaksa menuduh kelompok tersebut digerakkan oleh pandangan xenophobia, pandangan sayap kanan dan ideologi Nazi dan ingin menciptakan iklim ketakutan yang akan mengusir orang asing.

Menurut Kementerian Dalam Negeri, sedikitnya 33 Muslim terluka dalam serangan tersebut, termasuk serangan terhadap wanita Muslim yang mengenakan jilbab.

950 Serangan Terhadap Kaum Muslim dan Masjid, Begini Islamophobia di Jerman dan Spanyol

Mereka yang dihukum tersebut adalah anggota Kelompok Freital, yang diberi nama sama dengan basis mereka di negara bagian Sachsen (Saxony), sebuah benteng pendukung sayap kanan untuk the Alternative for Germany (AfD), yang memenangkan suara terbanyak di sana dalam pemilihan federal bulan September.

Setelah menjalani persidangan selama satu tahun, pengadilan tinggi Dresden menjatuhkan hukuman antara 5 hingga 10 tahun di balik jeruji besi bagi tujuh anggota kelompok tersebut. Seorang anggota lainnya mendapat hukuman singkat yaitu empat tahun, kata seorang jurubicara.

Beberapa terdakwa muncul di pengadilan menutupi wajah mereka dengan hoodies selama persidangan.

Dakwaan terhadap mereka termasuk menjadi anggota organisasi “teroris”, percobaan pembunuhan, menyiapkan bahan peledak, menyakiti fisik orang lain, usaha menyakiti fisik orang lain, dan merusak properti.

Intelijen Jerman Peringatkan Ancaman Teror Bagi Warga Turki di Negerinya

Dalam salah satu serangan yang dikutip oleh jaksa, tersangka meledakkan bahan peledak di sebelah jendela di tempat penampungan pengungsi, padahal mengetahui ada orang di dalamnya. Seorang warga menderita luka tapi jaksa berpendapat bahwa beruntung tidak ada yang terluka parah atau bahkan terbunuh.

Para tersangka juga memicu peledak pada sebuah mobil milik politisi lokal dari Partai Kiri.

Jaksa mengatakan kelompok tersebut menargetkan para pengungsi, pekerja bantuan, dan politisi sayap kiri dan memperoleh sejumlah besar bahan peledak dari Republik Ceko yang dianggap ilegal di Jerman.

Sekitar satu juta pengungsi tiba di Jerman pada tahun 2015 saja, banyak dari mereka melarikan diri dari perang di Suriah.

Ada 950 serangan yang dilaporkan terjadi terhadap Muslim dan masjid di negara tersebut pada 2017, menurut data pemerintah baru.

Kunjungan Pangeran Saudi Didemo Warga London

LONDON (Jurnalislam.com) – Protes meletus di London, saat Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman memulai kunjungannya ke Inggris bertemu dengan Theresa May, perdana menteri Inggris, lansir Aljazeera Rabu (7/3/2018).

Ratusan demonstran berdiri di Downing Street, memegangi spanduk bertuliskan “Hands off Yemen” dan “No more profits from bin Salman’s wars” di luar kantor PM Inggris.

Koalisi Arab: Syiah Houthi Targetkan Arab Saudi dengan 95 Rudal Balistik

Menurut Downing Street, pertemuan antara Mohammad bin Salman, berusia 32 tahun, yang lebih dikenal dengan MBS, dan May akan membahas tantangan internasional, seperti terorisme, ekstremisme, konflik dan krisis kemanusiaan di Yaman dan isu-isu regional lainnya seperti Irak. dan Suriah.

Arab Saudi saat ini memimpin sebuah koalisi militer didukung AS yang memerangi pemberontak Syiah Houthi di Yaman.

UEA Bentuk Pasukan Kesukuan untuk Perangi Pemerintah Yaman

Arab Saudi dan UEA telah mempertahankan blokade makanan dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan di daerah yang dikuasai pemberontak Syiah Houthi di Yaman, mengakibatkan wabah kolera dan kelaparan semakin melebar.