Turki akan Renovasi Masjid Era Ottoman di Bulgaria

9 Maret 2018
Turki akan Renovasi Masjid Era Ottoman di Bulgaria

BULGARIA (Jurnalislam.com) – Turki akan merenovasi sebuah Masjid era Ottoman di kota Razgrad, Bulgaria, sebagai hasil keputusan yang dicapai setelah serangkaian negosiasi antara kedua negara, kantor gubernur di perbatasan provinsi Edirne mengatakan pada hari Kamis (8/3/2018), lansir World Bulletin.

Pejabat Turki berhubungan dengan rekan-rekan Bulgaria mereka, dan terutama dengan Perdana Menteri Bulgaria, Boyko Borisov, untuk memulai pemulihan Masjid Ibrahim Pasha, karya arsitektur Utsmani terbesar di Balkan yang masih berdiri.

Masjid tersebut saat ini ditutup. Restorasi masjid dibahas dalam sebuah sidang Dewan Menteri Bulgaria yang diadakan pada hari Rabu di bawah arahan presiden Borisov.

Kisah Seorang Tentara Ottoman yang Setia Menjaga Masjid Al Aqsha Selama 57 Tahun

Dewan Menteri Bulgaria mengeluarkan izin renovasi masjid tersebut oleh Turki, seraya menunjuk gubernur Razgrad asal Turki, Gunay Husmen untuk mengawasi proses rekonstruksi, kata kantor tersebut dalam sebuah pernyataan.

Masjid akan dibuka kembali setelah renovasi selesai, kantor gubernur menambahkan.

Bulgaria adalah rumah bagi banyak masjid, pemandian bersejarah Turki (hammams), dan sejumlah bangunan bersejarah lainnya yang memerlukan restorasi.

Sebanyak 27 masjid era Ottoman di Bulgaria sedang menunggu restorasi, karena menara, dinding, dan pintu mereka entah runtuh atau mengalami kerusakan yang cukup besar dari waktu ke waktu.

Masjid Berumur 600 Tahun Era Ottoman di Yunani Terbakar

Yang termasuk dalam daftar adalah Masjid Fatih Mehmed, yang terletak di kota barat Kyustendil, Masjid Karaca Pasha di kota selatan Gotze Delchev, selain Masjid Ibrahim Pasha di Razgrad.

Namun, otoritas Muslim setempat mengeluh bahwa pejabat Bulgaria tidak mengizinkan restorasi masjid tua yang tidak memiliki menara, karena menurut mereka, itu bisa dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa masjid-masjid tanpa menara tersebut hanyalah “situs bersejarah biasa (bukan masjid).”