Pengadilan Kejahatan Internasional Mulai Selidiki Kejahatan Kemanusian Myanmar

Pengadilan Kejahatan Internasional Mulai Selidiki Kejahatan Kemanusian Myanmar

ANKARA (Jurnalislam.com) – Pengadilan Kejahatan Internasional (the International Criminal Court-ICC) pada hari Selasa (18/9/2018) meluncurkan penyelidikan awal terhadap kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap warga Muslim Rohingya.

Dalam pernyataan tertulis, Jaksa Penuntut ICC Fatou Bensouda mengatakan: “Saya telah memutuskan untuk melanjutkan tahapan proses pemeriksaan awal dan akan melakukan pemeriksaan awal penuh tentang situasi yang dihadapi,” lansir Anadolu Agency.

Bensouda mencatat bahwa kantornya telah menerima sejumlah komunikasi dan laporan yang melaporkan kejahatan sejak akhir tahun 2017.

Baca juga: 

Pemeriksaan pendahuluan akan dilakukan atas pemindahan paksa orang-orang Rohingya, termasuk perampasan hak-hak fundamental mereka serta pembunuhan, kekerasan seksual, penghilangan paksa, penghancuran dan penjarahan, tambah jaksa.

“Pemeriksaan pendahuluan bukan investigasi tetapi proses pemeriksaan informasi yang tersedia untuk mencapai penentuan informasi sepenuhnya tentang apakah ada dasar yang masuk akal untuk melanjutkan penyelidikan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Statuta Roma,” katanya.

Kantornya akan mengevaluasi apakah kejahatan seperti penganiayaan dan tindakan tidak manusiawi lainnya dapat diterapkan pada situasi yang dihadapi.

Baca juga: 

Dia menambahkan: “Walaupun Myanmar bukan negara anggota (State Party) ICC, namun Bangladesh adalah State Party ICC. Karena itu pengadilan dapat melaksanakan yurisdiksi atas perilaku yang terjadi di wilayah Bangladesh.”

Awal bulan ini, pengadilan memutuskan bahwa mereka memiliki yurisdiksi untuk menyelidiki kejahatan terhadap Muslim Rohingya di negara Rakhine Myanmar.

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh pasukan pemerintah Myanmar, menurut laporan oleh Badan Pembangunan Internasional Ontario (the Ontario International Development Agency-OIDA).

Lebih dari 34.000 orang Rohingya ditembak senjata api, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, kata laporan OIDA, berjudul Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terungkap (Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience).

Sekitar 18.000 wanita dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar, dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar dan 113.000 lainnya dirusak, tambahnya.

Baca juga: 

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar anak-anak dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras terhadap komunitas Muslim minoritas tersebut pada bulan Agustus 2017.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kaum Muslim yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat seja kratusan  orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, penyiksaan – termasuk bayi dan anak kecil – pemukulan brutal, mutilasi dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar. Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dianggap sebagai kejahatan berat terhadap kemanusiaan.

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close X