Pemimpin NATO: Serangan Udara Rusia Merusak Perundingan Damai Suriah

BRUSSELS (Jurnalislam.com) – Serangan udara Rusia yang sedang berlangsung di Suriah merusak pembicaraan damai di Jenewa, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan Jumat (05/02/2016), Anadolu Agency melaporkan.

"Intensnya serangan udara Rusia, terutama menargetkan kelompok oposisi di Suriah, menggerogoti upaya untuk menemukan solusi politik bagi konflik," kata Stoltenberg kepada wartawan menjelang pertemuan menteri pertahanan Uni Eropa.

Pemimpin NATO mengatakan bahwa aliansi sangat mendukung semua upaya untuk menemukan solusi damai dan politik yang dinegosiasikan untuk konflik di Suriah.

"Tapi peningkatan serangan udara Rusia di Suriah menyebabkan ketegangan dan pelanggaran wilayah udara Turki meningkat. Hal ini menciptakan risiko dan mempertinggi ketegangan," tambah Stoltenberg.

Lebih lanjut ia menggambarkannya sebagai tantangan bagi NATO karena juga merupakan pelanggaran terhadap wilayah udara NATO.

Serangan udara oleh jet tempur Rusia di Suriah baru-baru ini menjadi sumber ketegangan diplomatik antara Ankara dan Moskow sejak SU-24 Rusia yang melanggar wilayah udara Turki dicegat dan ditembak jatuh pada 24 November oleh pesawat tempur F-16 Turki.

Ditanya tentang dugaan Moskow bahwa Turki sedang mempersiapkan aksi militer di Suriah, Stoltenberg mengatakan fakta menunjukkan bahwa Rusia baru-baru ini menerapkan pembangunan militer substansial berat di Suriah dengan meningkatkan kehadiran angkatan udara, pasukan darat dan angkatan laut di bagian timur Mediterania.

Sejak 30 September tahun lalu, Rusia – sekutu dekat rezim  Bashar al-Assad Suriah – telah menargetkan sejumlah daerah warga sipil di Suriah, menurut pejabat AS.

Dalam laporan terbaru, Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia menegaskan bahwa serangan udara Rusia telah menewaskan 583 warga sipil di kota-kota Suriah yaitu Idlib, Aleppo, Hama dan Homs dan di daerah pedesaan seperti Latakia, Daraa dan Damaskus selatan sejak mereka memulai serangan udara September lalu.

Rusia berdalih bahwa serangan udara mereka menargetkan posisi yang dipegang oleh kelompok militan IS,  namun beberapa anggota aliansi NATO Barat mengatakan Rusia sebenarnya menargetkan koalisi mujahidin Suriah dan oposisi moderat anti rezim Assad.

Deddy | Andolu Agency | Jurnalislam

Pakistan Dukung Kashmir Day

PAKISTAN (Jurnalislam.com) – Hari Solidaritas Kashmir (Kashmir Solidarity Day), atau Hari Kashmir (Kashmir Day), adalah hari libur nasional di Pakistan dan berlangsung di seluruh daerah dan dunia pada tanggal 5 Februari setiap tahunnya, World Bulletin melaporkan Jumat (05/02/2016).

Kashmir Day ini menunjukkan dukungan dan persatuan dunia terhadap rakyat Muslim Kashmir yang diduduki India dan untuk memberi penghormatan kepada rakyat Kashmir yang tewas dalam perjuangan untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Aksi solidaritas itu diadakan di seluruh Pakistan, Kashmir dan di seluruh dunia. Kashmir Day pertama kali diusulkan oleh partai Jamaat-e-Islami di Pakistan pada tahun 1990.

Baca juga: Pembantaian Jammu, Genosida Muslim Kashmir oleh Hindu India yang Terlupakan

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

DPW FPI Kota Serang Gelar Milad Ke 1

SERANG (Jurnalislam.com) – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Front Pembela Islam (FPI) Kota Serang menggelar acara Majelis Ta’lim dan Solawat Jihad FPI & Umat, Kamis (04/02/2016).

Acara yang diselenggarakan di Sekretariat DPW-FPI Kota Serang Kampung Sudi Mampir, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, itu dihadiri oleh tokoh masyarakat, ulama, kepolisian dan perwakilan ormas Islam. Acara tersebut sekaligus memperingati milad DPW FPI Kota Serang yang ke-1.

Dalam sambutannya, Ketua DPW FPI Kota Serang, KH Naseh mengatakan, acara tersebut diselenggarakan untuk membuat FPI Serang aktif kembali dalam menumpas kemaksiatan. Dia menilai aktifis amar ma’ruf nahi munkar Kota Serang kewalahan dalam menghadapi kemaksiatan yang semakin merajalela.

“Relawan Pencegahan Maksiat sudah mengeluh dan kewalahan menghadapi kemaksiatan, Aliansi Amar ma’ruf nahi Munkar (AMANAR) sudah kewalahan menumpas kemaksiatan, mereka menunggu bantuan dari kita. Apakah kita siap untuk berjihad di jalan Allah?” katanya.

Kyai Naseh menjelaskan, FPI tidak seperti yang dikatakan sebagian orang. “FPI bukan wahabi, Syi’ah ataupun ISIS, kami ini ahlu sunnah wal jama’ah, bermadzhab Syafi’I, aqidah Asy’ari,” tegasnya.

Selain itu, Ketua FPI Kabupaten Serang turut, KH Abi Suja’i turut menyampaikan materi. Ia menyatakan, FPI adalah bagian dari NKRI dan akan menggunakan aparatur pemerintah untuk memberantas kemaksiatn.

“FPI tidak mau mendirikan rumah dalam rumah, dalam NKRI, FPI akan menggunakan petugas aparatur pemerintah untuk menumpas kemaksiatan,” tegasnya.

Namun jika aparat tidak serius, lanjutnya, jangan salahkan jika FPI turun tangan. “Tapi jangan salahkan kami jika aparat tidak serius menanggapi laporan kemaksiatan yang kami berikan, kami akan bergerak dan berjihad,” tandasnya.

Reporter: Muhammad Fajar | Editor: Ally | Jurnalislam

Warga Kratonan Kembali Demo Pembangunan RS Siloam

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Untuk kesekian kalinya warga Kratonan bersama ormas Islam melakukan demo penolakan berdirinya Rumah sakit Siloam di Jalan Honggowongso Kratonan, Serengan, Surakarta, Jum'at (5/2/2016) siang.

Meski hujan, namun massa tetap melangsungkan aksinya. Mereka memasang spanduk dan poster penolakan pembangunan Siloam yang rencananya akan berdiri hingga 30 lantai. Massa terlihat membentangkan spanduk bertuliskan "Apapun Alasannya Siloam Berdiri di Wilayah Kami Warga Tegas Menolak."

"Kami tetap akan menolak, karena dampak lingkungan akibat limbah rumah sakit, ketersediaan air tanah dan semrawutnya parkir, dan lalu lintas. Lah wong luas yang hanya sekitar 5000 m, mosok untuk 3 peruntukan; Rumah Sakit, Pusat Pendidikan dan Hotel," tegas Koordinator aksi, Ali Afandi yang juga Ketua Rt 05 Rw 04 Kratonan.

Sementara itu Ketua Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Edi Lukito mengimbau warga untuk mewaspadai adanya investor asing dalam proyek tersebut.

"Kami minta warga mewaspadai Investor asing yang mulai bermunculan di kota Solo, karena pribumi yang asli Solo lama-lama bisa terpinggirkan" kata Edi.

Terlihat salah satu poster berisi pertanyaan untuk presiden Jokowi; "Pak Jokowi niki Investasi nopo Invasi?"

Aksi berlangsung tertib dengan penjagaan aparat gabungan TNI Polri

Reporter: Dyo | Editor: Ally | Jurnalislam

Angkatan Muda Muhammadiyah Minta Pemkot Surabaya Batalkan Pelegalan Minhol

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Pemuda Muhammadiyah Daerah Surabaya yang mewakili dari Angkatan Muhammadiyah Surabaya mendatangi kantor DPRD kota Surabaya untuk menyerahkan surat penolakan atas disahkannya Raperda Minuman Beralkohol (Minhol) oleh Pansus DPRD Surabaya. Surat penolakan itu sudah diserahkan kepada Pansus Raperda Minhol pada Kamis (4/2/2016).

"Aksi penolakan ini bertujuan agar Raperda Minhol yang disahkan oleh Pansus DPRD Surabaya segera dicabut kembali sebelum digodok (disahkan) pada hari jumat besok, " terang Rahmad Zulkarnaen, Ketua Pemuda Muhammadiyah Daerah Surabaya kepada Jurnalislam.

Rahmad menilai dilegalkannya penjualan minhol golongan A di hypermarket dan pasar modern akan berdampak buruk bagi masyarakat terutama remaja dan anak-anak.

"Legalnya penjualan minhol golongan A di supermarket dan hypermarket sangat berbahaya bagi pengunjung anak-anak, takutnya mereka berasumsi bahwa minuman itu diperbolehkan atau legal untuk dikondumsi karena dijual secara bebas dan umum. Padahal minhol di agama Islam haram hukumnya walaupun diminum setetes," jelas Rahmad.

Aksi tersebut mendapatkan respon dari DPRD dari fraksi PAN bapak M Arsyad dan ketua DPRD Surabaya, Armuji. Mereka menolak disahkannya Raperda Minhol golongan A maupun bir.

Pemuda Muhammadiyah berharap agar Raperda Minhol yang disahkan ditarik kembali sehingga Minhol tidak dijual secara bebas. Saat ini Pemuda Muhamadiyah juga mengaku belum mendapatkan draf Raperda Minhol secara detil dari Pansus DPRD Surabaya, meskipun telah mintanya.

Reporter : Ma'sum | Editor: Ally | Jurnalislam

 

Astagfirullah, Ditemukan Alas Sepatu Mirip Lafadz Allah di Mataram

MATARAM (Jurnalislam.com) – Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Karang Baru Kota Mataram dihebohkan dengan penemuan sepatu siswa berlafaz Allah. Penemuan ini bermula saat salah seorang mahasiswa PPL pada Senin sore (1/2) melihat bekas sepatu di lantai sekolah membentuk tulisan mirip lafadz Allah.

Kalimat itu memiliki arti tidak ada Allah. Sontak, para guru yang diberitahu pun kaget dan melaporkannya kepada kepala madrasah.

”Jejak itu sempat difoto dan tulisannya mirip La Allah,” tutur Murad, Wakil Kepala MIN Karang Baru pada rabu (03/02/2016) sebagaimana dilansir lombokpost.

Keesokan harinya, Selasa (2/2/2016), guru dan kepala madrasah memeriksa sepatu-sepatu siswanya. Dan menemukan ada tiga pasang sepatu memiliki alas dengan lafaz Allah. Setelah dilakukan pencermatan, dua diantaranya masih meragukan, sementara satu sepatu merek Adorable Homyped warna hitam terlihat jelas, alasnya memiliki motif bertuliskan lafaz Allah.

Pihak sekolah pun mengetes tulisan itu menggunakan tinta biru, dan setelah ditempelkan pada kertas putih, tulisan kaligrafi Allah telihat jelas.

”Ini huruf (hijaiyah) alif, lam dan haq,” jelas Murad, yang juga mengajar ilmu agama ini.

Kepala MIN Karang Baru HM Irwan Ali Wardaini menjelaskan, setelah menemukan tiga pasang sepatu itu, ia sempat ragu untuk mengekspose ke media massa. Sebab ia khawatir pemberitaan dapat menimbulkan kegaduhan dan memojokkan siswa dan sekolah.

”Dalam posisi ini, guru dan siswa hanya korban, karena barang ini sudah dibeli dari produsen,” jelasnya.

Sebelum memberikan keterangan pers, pihak sekolah terlebih dahulu berkonsultasi dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Mataram, H Muhtar. Setelah diteliti dari segi tulisan dan kalimat, memang benar mirip dan ada huruf lam dan haq-nya. Meski demikian, pihaknya belum berani mengatakan hal itu masuk penistaan agama, karena bisa jadi ini hanya motif yang tidak disengaja. Namun bisa juga disengaja.

”Pesan beliau (MUI) jangan sampai masalah ini menimbulkan disharmoni umat beragama. Dan saya minta tolong jangan sampai kami sekolah dan siswa dipojokkan,” harapnya.

MIN Karang Baru sendiri memiliki 520 orang siswa, tidak menutup kemungkinan hal serupa terjadi di sekolah lain. Untuk itu ia berharap kepada orang tua dan siswa hati-hati saat membeli sepatu, diteliti agar tidak muncul hal-hal seperti ini. Ia yakin orang tua pasti tidak tahu. Yang perlu ditanya adalah produsen yang membuat sepatu.

Irwan menambahkan, terhadap temuan itu pihaknya tidak akan melaporkan secara resmi, baik kepada aparat hukum maupun pihak lain yang berwenang. Seperti lembaga perlindungan konsumen. Namun bila ada pihak yang meminta keterangan sekolah, ia mengaku akan terbuka.

”Kami cukup menginformasikan saja,” tandasnya.

Reporter: Sirath | Editor: Ally | Jurnalislam

Pembantaian Jammu, Genosida Muslim Kashmir oleh Hindu India yang Terlupakan

KHASMIR (Jurnalislam.com) – Ini adalah kisah tentang salah satu genosida paling tidak dikenal dalam sejarah modern. Dilakukan dengan sangat cermat sehingga sulit untuk menemukan jejaknya kecuali dalam kenangan para korban yang selamat, dan kisah-kisah horor mereka yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sekitar 500.000 lebih Muslim dibunuh militer dengan ketepatan. Itu adalah operasi yang bahkan bahasa pun tidak memiliki kata-kata untuk mengungkapkan pelanggaran terhadap manusia ini.

Meskipun pembunuhan yang ditargetkan sudah mulai di Jammu sekitar pertengahan Juli 1947, operasi ini mendapat tambahan tenaga segera setelah Maharaja Hari Singh dan istrinya yang melarikan diri mencapai Jammu pada 26 Oktober 1947. Sebuah pembantaian terkoordinasi dilakukan untuk membunuh Muslim, di mana pun muslim ditemukan atau terlihat di Jammu.

Harian Inggris The Times London mengutip koresponden khusus mereka di India menyatakan bahwa Maharaja Hari Singh, di bawah pengawasannya sendiri, membunuh 237.000 Muslim, menggunakan kekuatan militer di wilayah Jammu. Editor Statesman, Ian Stephen, dalam bukunya Horned Moon menulis bahwa sampai akhir musim gugur 1947, lebih dari 200.000 Muslim dibunuh sekaligus dalam satu operasi. Horace Alexander menulis dalam Spectator (16 Januari 1948) bahwa pembunuhan telah mendapat persetujuan diam-diam dari otoritas negara dan menyebut angka korban sebesar 200.000.

Tujuan utama penguasa Hindu Dogra adalah untuk mengubah komposisi demografi daerah tersebut dengan menghilangkan populasi Muslim. Begitu intensitasnya pembantaian di provinsi Jammu hingga sekitar 123 desa benar-benar dijadikan tidak berpenghuni. kabupaten Kathua kehilangan hampir lima puluh persen populasi Muslim mereka. Ribuan etnis Gujars dibantai di mohalla Ram Nagar. Desa Raipur, dalam area barak Jammu benar-benar terbakar.

Pasukan negara Dogra berada di garis depan serangan terhadap Muslim. Otoritas negara juga mengeluarkan senjata tidak hanya untuk memerangi organisasi relawan lokal seperti RSS, tetapi juga orang-orang di sekitar kabupaten Punjab Timur seperti Gurdaspur.

Administrasi negara tidak hanya mendemobilisasi (menonaktifkan) sejumlah besar tentara Muslim yang bertugas di tentara negara, tetapi polisi Muslim juga dipulangkan. Di kota Jammu, militer Muslim dilucuti dan barak Brigadir Muslim Jammu digantikan oleh petugas Hindu Dogra. Muslim yang mengungsi di kantor polisi dan / atau kantor Wakil Komisaris secara terbuka diserahkan kepada kelompok RSS binatang oleh petugas Dogra sendiri.

Sementara itu, Maharaja di Patiala tidak hanya memasok senjata tetapi juga mengirimkan satu pasukan Brigade Negara Patiala untuk beroperasi di Jammu dan Kashmir, yang tanpa bantuan dan dukungan tersebut, tujuan mereka tidak bisa dicapai dengan sukses. The Times of London melaporkan peristiwa di Jammu dengan headline halaman depan: “Penghapusan Muslim dari Jammu”, dan menunjukkan bahwa Maharaja Hari Singh “secara pribadi memerintahkan semua pasukan” yang membersihkan kaum Muslim.

Bahwa ada rencana untuk mengubah demografi ini dibuktikan dengan insiden lain yang dilaporkan. Perdana Menteri Jammu dan Kashmir, Mehr Chand Mahajan, saat tiba di Jammu mengatakan kepada delegasi Hindu, yang bertemu di Istana, bahwa sekarang ketika kekuasaan berada di tangan rakyat maka mereka lebih baik menuntut paritas.

Ketika salah satu anggota delegasi ingin tahu bagaimana mungkin itu bisa terjadi, Mahajan, menunjuk ke cagar alam Ramnagar di bawah, di mana mayat Muslim masih berbaring sambil mengatakan, “rasio penduduk juga bisa diubah seperti itu.” ( “Penghapusan Muslim dari Jammu- Elimination of Muslims from Jammu II“, The Times, London, 10 Agustus 1948, halaman 5. Lihat juga wawancara Ved Bhasin untuk Kashmir Life).

Baik sumber dokumenter maupun lisan sama-sama menunjukkan bahwa kejahatan yang dilakukan pada umat Islam tidak kurang adalah holocaust yang terorganisir. Sheikh Mohammed Abdullah, yang diangkat sebagai “Kepala Administrator Darurat” pada 30 Oktober 1947 tidak bisa mencegah pembantaian itu. Dia menulis dalam otobiografi Atish-e Chinar (halaman 312) bahwa pembantaian itu mendapat dorongan setelah kedatangan Menteri Dalam Negeri Gabungan Sardar Patel, Menteri Pertahanan Gabungan Baldev Singh bersama dengan maharaja dari Patiala, orang yang dikenal anti-Muslim itu, di Jammu.

Trio tersebut bertemu dengan berbagai organisasi dan delegasi Hindu, setelah pembantaian itu mencapai momentum yang besar. Fanatik Hindu, dibantu dan didukung oleh pasukan pemerintah, mulai membakar desa-desa yang dihuni oleh umat Islam. Perempuan diperkosa. Senjata dengan bebas didistribusikan kepada perampok dari rumah Kachi Chawni di Pandith Prem Nath Dogra dan termotivasi oleh Balraj Madohk.

Pada 6 November umat Islam yang masih hidup diperintahkan untuk berkumpul di sebuah tanah terbuka, untuk dikirim ke Pakistan, digiring dalam truk seperti ternak dan dibunuh tanpa ampun dengan tembakan senapan mesin antara Digiana dan Samba belt. Wanita diculik dan diperkosa. Bahkan tidak terkecuali putri legendaris Chaudhary Ghulam Abbas. Banyak wanita lebih memilih mati daripada terjerumus ke binatang kejam yang tidak akan menolak menyebut diri mereka sebagai orang-orang sekuler.

Di darat, operasi pembunuhan yang terorganisir, diarahkan dan diawasi oleh Maharani Tara Devi bersama dengan Guru bejat, Sat Dev dan Gubernur Jammu, Chet Ram Chopra. Pada tingkat politik-administratif, Sheikh semata-mata menempatkan kesalahan pada penguasa Dogra Hari Singh dan Perdana Menteri Mahajan. Pada satu titik waktu, Sheikh bahkan mulai memikirkan tindakan terhadap duo tersebut atas kejahatan terhadap kemanusiaan (Atish-e Chinar, halaman 331). Tapi kenapa dia tidak menerjemahkan pikirannya menjadi tindakan tetap terselubung dalam misteri. Apakah dia menyerahkan hak ini kepada Sardar Patel sebagai perdana menteri pada Maret 1948? Seperti umum diketahui, pemerintah India dan penguasa Dogra hanya mengakui perannya yang terbatas dalam pemerintahan sejenis Mysore.

Tetapi kemudian rencana ini berubah dan Sheikh ditawari jabatan perdana menteri penuh. Atau apakah itu hasil dari tekanan koersif yang diterapkan oleh Patel kepada Abdullah untuk memenjarakan kerabat dekatnya yang tertangkap tangan mencuri perhiasan berharga dalam istana Maharaja di Indore (yang dikenal sebagai Holkars) tempat ia bekerja?

Aspek lain pembantaian itu adalah perampasan properti Muslim. Nama-nama Muslim segera dihapus agar sesuai dengan kepemilikan baru. Misalnya Urdu Bazar menjadi Rajinder Bazar dan Sekolah Islamia menjadi SMA Hari Singh agar sesuai dengan kepemilikan yang baru. Hampir 95 persen properti yang tersisa yang normalnya harus diambil alih oleh pemerintah negara bagian diizinkan diambil oleh para penjarah dan perusuh (Daily Telegraph of London tanggal 12 Januari 1948).

Properti-properti ini terus berada di bawah kepemilikan ilegal para penjarah dan keturunan mereka dan justru karena alasan ini sehingga Catatan Pemukiman (the Resettlement Bill) menghadapi penentangan keras di Jammu atas kekhawatiran bahwa properti tersebut akan diproses secara hukum. Bahkan Indira Gandhi menyatakan kekhawatiran seperti di Jammu dalam kampanye pemilihannya tahun 1983.

Insiden lain juga perlu disebutkan di sini. Ketika pengungsi Hindu dari Muzaffarabad dan sekitarnya mencapai Kashmir, berharap tiba di Jammu atau Punjab, tongawallas (penarik kereta kuda) Muslim Kashmir lokal termotivasi mengangkut mereka ke Jammu melawan rintangan berat.

Awalnya 22 tongawallas dipekerjakan. Mereka kemudian bergabung dengan banyak orang lain dari wilayah pedesaan Khannabal-Qazigund. Akhirnya seluruh tongawallas yang berjumlah sekitar 90 dibantai dekat Nagrota. Kesalahan mereka hanyalah membawa pengungsi Hindu mencapai tujuan mereka dengan aman.

Yang unik dari holocaust ini adalah keterlibatan Negara di satu sisi dan pengorbanan teladan Muslim Kashmir untuk minoritas di sisi yang lain. Mohandas Karamchand Gandhi begitu muak dengan pembantaian tersebut sehingga pada dua kesempatan (27 November dan 25 Desember 1947), ia menyebutkan hal itu dalam kata-kata sebagai berikut:

“Orang-orang Hindu dan Sikh dari Jammu dan mereka yang sudah ada dari luar (mengacu preman RSS dari Gurdaspur dan sekitarnya) membunuh umat Muslim di sana. Perempuan mereka dilecehkan. Dan tragedy ini belum dilaporkan secara penuh di surat kabar. Maharaja Kashmir bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi di sana.” (Collected Works of Mahatma Gandhi, Volume 90, halaman 115 dan 298). Hal ini tidak mengherankan, kemudian, bahwa ketika Gandhi dibunuh oleh fanatik Hindu yang didukung RSS, permen dibagikan ke seluruh Jammu dengan perlakuan khusus yang disediakan Istana Maharaja.

Tapi ada beberapa upaya yang berani dari beberapa umat Hindu yang mencoba menyelamatkan umat Islam yang dikurung di Jammu saat itu. Nama-nama seperti Krishen Dev Sethi, Ved Bhasin dll berada di daftar atas. Tapi orang seperti mereka sangat sedikit.
Sumber: Kashmir Reader

Polisi Prancis Hajar Muslim dengan Undang-undang darurat

PERANCIS (Jurnalislam.com) – Prancis telah melakukan penggerebekan dan penangkapan yang kasar dan diskriminatif terhadap umat Islam di rumah mereka dengan alasan kondisi darurat, traumatisasi dan stigma yang ditargetkan, termasuk terhadap anak-anak dan orang tua, kelompok hak asasi manusia mengatakan, lansir Aljazeera Kamis (04/02/2016).

Human Rights Watch (HRW) dan Amnesty International menerbitkan penelitian terpisah pada hari Rabu, menunjukkan kasus yang menggunakan kekuatan berlebihan, yang mengarah ke pelanggaran hak asasi manusia termasuk kekerasan.

Mereka yang ditargetkan mengatakan polisi memaksa masuk ke rumah-rumah, restoran, atau masjid; memecahkan barang-barang orang; melemparkan Al Quran di lantai; membuat anak-anak ketakutan; dan membatasi aktifitas rakyat dengan begitu parah sehingga mereka kehilangan pekerjaan dan pendapatan, atau menderita secara fisik.

Penggerebekan diluncurkan pada 14 November dalam menanggapi serangan di Paris sehari sebelumnya yang menewaskan 130 orang.

Klaim IS memicu serangan balasan – bukan hanya di Perancis, tapi di seluruh Eropa dan tempat lain – mengakibatkan komunitas Muslim secara kolektif "dihukum".

Muslim di Perancis berjumlah sekitar 5,5 juta hingga 6,2 juta, atau kira-kira 7,6 persen dari total penduduk – membuat Muslim menjadi kelompok minoritas terbesar di Eropa.

Dideklarasikan oleh Presiden Francois Hollande, hukum darurat Perancis menyetujui penggeledahan tanpa surat perintah.

Kelompok hak asasi manusia tersebut, HRW dan Amnesty International,  mengatakan penggerebekan, yang setidaknya berjumlah 3.200, hanya membuahkan sedikit hasil.

Menurut HRW, walaupun sekitar 350 hingga 400 orang telah ditempatkan di bawah tahanan rumah, unit kontraterorisme dari kantor kejaksaan Paris hanya membuka lima investigasi terkait terorisme.

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

Serangan Udara Rusia Perburuk Situasi Kemanusiaan Suriah

SURIAH (Jurnalislam.com) – Rusia mengintensifkan serangan udara untuk mendukung serangan rezim Suriah di Aleppo, menewaskan puluhan orang, Al Jazeera melaporkan Kamis (04/02/2016).

Laporan kematian terjadi di tengah berlangsungnya pembicaraan damai di Jenewa dan konferensi donor di London di mana para pemimpin dunia telah menjanjikan $ 10 miliar untuk membantu Suriah.

Sedikitnya 37 orang tewas, termasuk tiga anak, dalam serangan udara yang diduga dilakukan Rusia pada beberapa tempat di kota Aleppo, seorang aktivis lokal berbicara dengan syarat anonim mengatakan kepada Al Jazeera, Kamis.

"Serangan udara Suriah dan Rusia telah menargetkan al-Bab, Kheimeh, Soran dan beberapa tempat lainnya di provinsi Aleppo. Kami dapat mengkonfirmasi bahwa 37 orang telah tewas, namun kami menduga jumlah korban tewas sebenarnya lebih banyak," katanya.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris menyebutkan korban tewas berjumlah 21 orang.

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam

Drone AS Diduga Bunuh Tokoh Senior AQAP

YAMAN (Jurnalislam.com) – Salah satu tokoh senior al-Qaeda di klaim terbunuh akibat serangan pesawat tak berawak AS di Yaman selatan, sumber militer mengatakan kepada Al Jazeera Kamis (04/02/2016)

Mujahidin al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) sedang bersiap untuk menerima jenazah Jalal Baleedi, juga dikenal sebagai Hamza al-Marqashi, setelah ia terbunuh semalam bersama dua pengawalnya dekat kota Azan, sumber yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan pada hari Kamis.

Kantor berita Reuters juga melaporkan serangan pesawat tak berawak AS lain yang menewaskan enam orang yang diduga mujahidin al-Qaeda di mobil mereka saat perjalanan di provinsi Shabwa selatan Yaman.

Mujahidin  al-Qaeda mengambil alih kota Azan pada hari Senin, dan telah menjadikannya markas AQAP di Shabwa.

Berasal dari provinsi pegunungan Abyan di Yaman, Jalal Baleedi diidentifikasi pada tahun 2004 oleh Yemen Times sebagai komandan lapangan AQAP di gubernuran selatan Abyan, Shabwa, Lahj, Hadramout, dan al-Beidha.

Namun Kematian Jalal Bala'idi ini belum dikonfirmasi oleh AQAP atau militer AS.

 

Deddy | Aljazeera | Jurnalislam