Marak Orang Gila Aniaya Ulama Dinilai Sebagai Upaya Adu Domba

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Maraknya penganiayaan yang dilakukan oleh orang yang diduga gila terhadap para ulama di Jawa Barat, dinilai ketua Gerakan Bela Negara (GBN) Solo adalah sebuah upaya adu domba terhadap umat Islam.

“Apa yang terjadi terjadi khususnya Jawa Barat yang menimpa terhadap beberapa ulama ini, bukan terjadi tanpa sengaja atau kita bilang by desain yang memang diarahkan untuk menimbulkan ketegangan di kalangan umat Islam dan bangsa Indonesia, yang kemungkinan ingin memancing keributan di negara ini,” katanya di Masjid An-Nuur, Madegondo, Sukoharjo, Kamis, (8/2/2018).

“Kemungkinan ini ada pihak-pihak yang ingin mengadu domba umat Islam,” imbuhnya. Ustaz Tengku juga mengatakan, bahwa ulama adalah panutan bagi umat Islam, jika mereka dihabisi, katanya, maka akan dengan mudah musuh-musuh Islam mengalahkan mayoritas muslim yang ada di Indonesia ini.

“Karena ini bisa jadi bagian dari cara-cara mereka menghabisi ulama, karena kekuatan itu ada ditangan ulama, kalau ulama sudah habis, kekuatan umat dimana lagi, maka ini yang harus diperhatikan,” paparnya.

Untuk itu, ia mendesak aparat kepolisian untuk segera mengungkap kasus ini, jika tidak, ujarnya, maka rakyat akan berfikiran bahwa ini semua adalah sebuah isu yang sengaja diciptakan oleh pihak penguasa di negeri ini.

“Saya berharap kepada pemerintah terutama pihak kepolisian untuk mengungkap fakta ini, karena ada kesaksian terhadap pelaku yang dianggap atau dikatakan gila, mereka tidak gila,” paparnya.

“Kalau ini tidak bisa dibuktikan jangan sampai ini membuat kecurigaan umat Islam terhadap penguasa yang membuat ini semua,” tandasnya.

Bagaimana Hukum Membangun Masjid di Lahan Sengketa?

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Ketua Gerakan Bela Negara (GBN) Solo Ustaz Tengku Adzar menegaskan, bahwa haram shalat di dalam masjid yang dibangun diatas tanah sengketa, hal itu, ia katakan paska rencana Pemkot Surakarta yang akan membangun Masjid Raya di Taman Sriwedari, meski status tanah tersebut masih menjadi milik ahli waris Wiryodiningrat setelah diputuskan oleh Mahkamah Agung (MA) tahun 2016 lalu.

“Haram hukumnya dan shalat didalamnya tidak sah, lalu untuk apa ini dibangun dengan harga yang sekian miliar kalau kemudian hanya sia-sia, bukankan ini mubazir?,” katanya kepada Jurnalislam.com usai beri materi di Masjid An-Nuur, Madegondo, Grogol, Kamis,(8/2/2018).

“Selama Masjid itu, tanah itu tanah sengketa, maka para ulama sepakat tidak boleh membangun masjid di tanah sengketa dan kaum muslimin harus tau. Kalaupun nanti Masjid itu dibangun ditanah sengketa, kita harus tau bahwa kita tidak boleh shalat didalam masjid yang didalamnya tanah sengketa, umat harus harus tau,”tambahya.

Lebih lanjut, ustaz Tengku menjelaskan, bahwa umat Islam harus paham hukum syariat Islam tentang pendirian Masjid di tanah sengketa, ia juga membantah bahwa, penolakan sejumlah ormas Islam terhadap pembangunan Masjid itu, karena kebencian umat Islam terhadap wali kota,

“Bukan karena kebencian kita terhadap wali kota Solo, tidak, ini kita bicara karena hukum syariat, hukum Syar’i , dan kita tidak bicara karena yang bangun wali kotanya, tidak, ini kita bicara syariat, kita tidak boleh membangun masjid di tanah sengketa,” paparnya.

Untuk itu, ustaz Tengku memberi saran kepada Pemkot Surakarta untuk membangun Masjid di tempat lain yang status kepemilikan tanahnya tidak dalam kondisi sengketa dengan pihak lain. “Jadi saran saya, cari tanah yang memang betul-betul tidak sengketa dan bangun masjid disana,” pungkasnya

Armada Perang Turki Dirikan Titik Pengamatan di Idlib

IDLIB (Jurnalislam.com) – Sebuah konvoi Angkatan Bersenjata Turki (TSK) telah bergerak untuk mendirikan titik observasi gencatan senjata baru di zona de-eskalasi Idlib di Suriah, pada hari Jumat (9/2/2018), menurut koresponden Anadolu Agency di lapangan.

Konvoi militer tersebut menuju ke selatan di zona Idlib-Afrin setelah melewati perbatasan Turki-Suriah pada Jumat malam, kata koresponden tersebut.

Pasukan Turki dikerahkan di kota Tall Tukan di provinsi Abu Zuhur, di zona de-eskalasi tenggara Idlib.

Pasukan tentara rezim Syiah Bashar al-Assad dan kelompok-kelompok Syiah internasional yang didukung Iran berjarak sekitar enam kilometer dari titik penyebaran pasukan Turki.

Titik pengamatan baru terletak 50 kilometer (31 mil) dari perbatasan Turki-Syria.

Armada Perang Turki Kini Bergerak ke Idlib

Tujuan pengerahan, yang dilakukan sesuai dengan kesepakatan Astana, adalah untuk menetapkan titik observasi gencatan senjata keenam, menurut sumber militer.

Pasukan Rusia di zona de-eskalasi sekarang diperkirakan memposisikan diri mereka di luar zona de-eskalasi Idlib, di garis depan yang memisahkan rezim dan pasukan oposisi.

Pada 12 Oktober 2017, militer Turki mulai menyeberang ke wilayah tersebut demi menetapkan titik pengamatan untuk memantau gencatan senjata di zona de-eskalasi Idlib.

Berdasarkan kesepakatan Astana, Turki ditetapkan untuk secara bertahap membangun 12 titik pengamatan, dari utara Idlib ke selatan.

Pasukan Turki Dihujani Roket dan Mortir saat Memasuki Idlib

Idlib, yang terletak di Suriah barat laut di perbatasan Turki, telah menghadapi serangan hebat dari rezim Assad setelah sebuah perang global yang pecah pada tahun 2011.

Sejak Maret 2015, Idlib tidak lagi berada di bawah kendali rezim Syiah Assad dan telah dikuasai oleh kelompok oposisi militer dan faksi-faksi jihad Suriah.

Serangan Bom saat Shalat Jumat Hantam Masjid di Libya

LIBYA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya dua orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam sebuah pemboman di sebuah masjid di kota Benghazi, Libya timur, menurut sumber medis.

Pemboman tersebut dilakukan oleh dua tersangka yang meledakkan alat peledak improvisasi di masjid Saad Ben Obadah saat sholat Jumat (9/2/2018), lansir Aljazeera.

Mutaz al-Mu’tri, juru bicara gubernur keamanan Benghazi, mengatakan dua tas bom digunakan dalam serangan tersebut, menurut saluran berita tv milik Libya.

Petugas medis mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa sedikitnya dua orang tewas dan 55 lainnya cedera. Laporan berita media lokal menyebutkan jumlah korban yang terluka berjumlah 129 orang.

Tidak ada klaim tanggung jawab langsung.

Misi Dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Libya (the United Nations Support Mission in Libya-UNSMIL) dengan cepat mengecam serangan tersebut, dan menyebut bahwa laporan adanya korban sipil “sangat mengganggu.”

Korban Serangan Bom Masjid di Mesir Meningkat, 235 Tewas, Begini Kronologinya

“Serangan langsung atau sembarangan terhadap penduduk sipil sangat dilarang berdasarkan hukum humaniter internasional dan merupakan kejahatan perang,” kata UNSMIL dalam sebuah posting di Twitter.

“Tidak ada yang memberikan pembenaran untuk serangan balas dendam. Investigasi yang cepat dan tidak memihak harus membawa pelaku ke pengadilan.”

Insiden tersebut muncul beberapa pekan setelah pemboman mobil ganda di Benghazi menewaskan sedikitnya 35 orang.

Serangan yang terjadi di luar masjid Bait Radwan pada 23 Januari, menewaskan lebih dari 50 lainnya, termasuk sejumlah pejabat keamanan senior.

Ahmed al-Fituri, kepala unit investigasi khusus yang terkait dengan komando umum pasukan keamanan Libya timur, termasuk di antara korban.

Pasukan yang setia kepada Khalifa Haftar, seorang jenderal pemberontakan yang berbasis di timur negara tersebut, menguasai Benghazi pada tahun 2017, setelah melakukan serangan tiga tahun melawan kelompok bersenjata saingannya.

Pertempuran meruntuhkan sejumlah besar wilayah kota pelabuhan tersebut.

Beberapa pemboman terakhir menargetkan tokoh-tokoh yang terkait dengan Tentara Nasional Libya (Libyan National Army LNA) milik Haftar.

Pasukan Mesir Bunuh Penyerang Masjid yang Menewaskan 305 Orang di Sinai

LNA mengklaim kemenangan di Benghazi pada bulan Juli tahun lalu, namun bentrokan sporadis berlangsung sampai Desember ketika mereka mengambil alih kendali atas pesaingnya.

Sejak saat itu LNA memberlakukan kontrol militer yang ketat terhadap kota dan bagian lain Libya timur yang berada di bawah kendalinya.

Pertempuran di Benghazi adalah bagian dari konflik lebih luas yang berkembang di Libya setelah mantan penguasa Muammar Gaddafi digulingkan dari kekuasaan dan terbunuh dalam pemberontakan yang didukung oleh NATO pada tahun 2011.

Sudah Ada Warga Terdampak Limbah PT RUM , Namun Belum Ada Penindakan

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Dua minggu lebih paska perjanjian kesepakatan warga terdampak limbah bau PT RUM, warga Nguter, Sukoharjo mengaku masih merasakan bau mirip Septic tank dari pabrik Rayon itu, meski pada Jumat, (19/1/2018) lalu, Presiden Direktur PT RUM Pramono berjanji akan mengatasi masalah limbah bau yang sudah dirasakan lebih dari ribuan warga selama 4 bulan itu dalam waktu 1 bulan.

“Paling keras baunya, kalau limbah cair itu hanya yang terkena alirannya, kalau bau mengikuti arah mata angin, warga pusing, mual di perut, muntah dan kalau fisiknya tidak kuat terus pingsan,” kata ketua Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo Eko Supriyadi saat ditemui Jurnalislam.com, Jum’at (8/2/2018).

Selain menyebabkan, warga usia dewasa muntah, mual dan pusing, efek yang ditumbulkan dari bau PT RUM itu juga membuat banyak anak-anak mengeluhkan sesak nafas. Bahkan, kata Eko, sudah ada beberapa warga yang dilarikan ke Rumah Sakit karena tidak kuat.

“Hari ini ada beberapa yang masuk RS, anak anak juga banyak, dan yang mengalami mual, pusing, muntah, itu ratusan pak, 300 sampai 400 juga sudah ada, dan itu kami data dan dokumentasikan dalam bentuk foto atau video,” paparnya.

Eko juga menegaskan, bahwa sampai saat ini belum ada kompensasi dari pihak PT RUM untuk menanggung biaya pengobatan dari warga yang terdampak, setidaknya, sampai saat ini, warga desa Kedung Winong, Nguter, Pengkol, Gupit, Juron, Serut, Manisharjo, dan Cabean masih harus merasakan bau tak sedap dan diduga beracun itu setiap harinya.

Nggak ada, pernah itu ada satu kampung diberi susu, makanan, namun warga menolak, apa artinya makanan itu kalau baunya tetap ada,” terangnya. Untuk itu, ia bersama warga tetap konsisten untuk mendesak Bupati Sukoharjo, Wardoyo untuk menutup PT RUM, jika tidak bisa mengatasi limbah bau itu hingga tanggal (19/2/2018) nanti.

“Tuntuntan cuma satu, bagaimana bau hilang, kalau tidak ya di tutup, ini sudah tidak bisa ditawar, dan ini memang kemauan warga dan yang paling mempunyai kepentingan yang sangat besar ya yang terkena dampak itu, jadi pokoknya tutup kalau bau tidak hilang,” tandasnya.

Limbah Bau PT RUM Tak Kunjung Hilang, Warga Desak Presiden Jokowi Turun Tangan

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Upaya-upaya yang dilakukan warga Nguter, Sukoharjo yang terkena dampak limbah bau mirip septic tank dari PT Rayon Utama Makmur (RUM) untuk kembali menghirup udara segar ternyata berbuah nihil.

Meski ribuan warga telah melakukan aksi unjuk rasa tiga kali dan melakukan audensi dengan para anggota dewan di DPRD Sukoharjo. Namun, Ribuan warga Nguter dan sekitarnya itu tetap saja harus merasakan bau tak sedap yang membuat muntah, mual, pusing, sesak nafas bahkan hingga pingsan.

Eko Supriyadi, Salah satu warga yang ikut terkena limbah bau yang kadang mirip bau telur busuk itu mengaku miris dan sedih. Ia merasa bahwa warga sudah dizalimi oleh segelintir elit penguasa pemangku kebijakan di negeri ini terkait permasalahan yang dialami ribuan warga dari 3 kabupaten tersebut.

Kini, Eko dan ribuan warga yang terkena dampak limbah bau PT RUM itu berharap pada presiden Jokowi untuk mau mendengar aspirasi dari rakyat kecil seperti dirinya.

“Kami sebagai warga yang terdampak terutama kepada bapak presiden Jokowi, mohon dengan sangat kami tidak ada jalan lain hanya bapak yang bisa memberikan instruksi kepada perusahaan,” katanya saat ditemui Jurnalislam.com di rumah salah satu warga di desa Plesan, Nguter, Sukoharjo, Jum’at (8/2/2018) malam.

“Terutama kepada pimpinan daerah kami di kabupaten Sukoharjo, karena saya tau persis, bapak Jokowi saya yakin Insya Allah mendengar,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, bahwa warga hanya ingin bau yang sudah meracuninya selama lebih dari 4 bulan itu hilang dan warga kembali menghirup udara segar seperti sediakala.

“Kami mohon ini diselesaikan dengan baik, keinginan warga cuma satu, monggo perusahaan itu berdiri, tapi tidak mengganggu lingkungan, itu permohonan kami,” pungkasnya.

Pesantren Nahdjussalam Panyawungan Ringkus Pria Berpisau Mencurigakan

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Setelah santri pesantren Persis menangkap pria berpisau di Astana Anyar Bandung, kini kejadian serupa terjadi lagi masih di Bandung. Sekelompok santri di Panyawungan Cileunyi menangkap seorang pria mencurigakan yang dan menyerahkannya kepada pihak kepolisian Senin (5/1/2018) lalu.

Sempat viral Broad Cast di grup chat Whatssapp dan media sosial ihwal hal ini. Alhikmah.co berusaha menelusuri kebenaran dari BC tersebut dan berusaha menemukan saksi langsung saat kejadian.

Setelah ditelusuri, ternyata peristiwa itu terjadi di Pesantren Nahdjussalam Panyawungan Cileunyi Bandung. Kepada Alhikmah.co, salah seorang santri yang juga saksi mata saat kejadian mengatakan bahwa karena saat itu sedang gencar penyerangan terhadap ulama, maka para santri berinisiatif melakukan patrol malam tanpa sepengetahuan guru-guru mereka.

Tidak ada yang berbeda dalam pembagian tugas ronda ini, hanya saja, imbuh Andi, kewaspadaan ditingkatkan untuk orang-orang yang bertamu di luar waktu yang lazim. “Kawasan pondok pesantren ini sebagian besar dihuni oleh keluarga, jadi santri juga sudah hapal jika ada yang masuk ke sini,” kata Andi saat ditemui Alhikmah.co di Pesantren Nahdjussalam, Jl. Panyawungan No.9, Cileunyi, Bandung, Kamis (8/2/2018).

Dari pihak santri sendiri, kata ANdi, tidak ada kecurigaan untuk orang-orang umum yang datang berkunjung ke kawasan pesantren. “Kami sama sekali tidak men-judge orang yang mau bertamu ke pesantren di waktu umum orang bertamu, tapi ada kesepakatan diantara santri yang melaksanakan ronda keliling, bahwa siapapun yang bertamu ke kawasan pondok pada jam yang kurang lazim untuk bertamu sekitar pukul 12 malam ke atas, kami datangi dan tanyakan keperluannya,”tambahnya.

Pada hari ketiga ronda keliling, sekitar jam 2 pagi, Senin (5/2/2018), ketika para santri yang berjaga kebetulan berkumpul di sekitar gang masuk, bersamaan dengan mobil lewat, dari kejauhan terlihat ada orang masuk ke kawasan tempat tinggal guru-guru pondok.

“Di sana itu bisa dikatakan daerah sensitif karena langsung masuk ke tempat tinggal para guru, padahal dari pihak santri sendiri tidak berani sembarangan ke sana.”

Kemudian dari 6 orang, dsepakati untuk dibagi menjadi 2 kelompok dan mendekat dari arah yang berbeda dengan maksud membatasi pergerakan orang tersebut. Satu kelompok masuk dari gang, satu lagi dari dalam. Tapi orang tersebut sudah melihat terlebih dulu kelompok kedua yang masuk dari dalam, akhirnya orang tersebut lari ke seberang. Kelompok yang akan masuk dari mulut gang secara reflek mengejar.

“Padahal tidak digertak atau diteriaki, tapi orang itu langsung lari. Awalnya kami sama sekali tidak ada niatan untuk mengejar hanya ingin bertanya keperluannya apa, identitasnya, atau ada urusan ke siapa pada jam 2 dini hari,” terang Andi.

Sempat kehilangan jejak, tapi kembali bertemu di gang dekat penjual masakan Padang. Pergerakan orang tersebut terkunci karena dari arah yang lain muncul santri. “Di sana tidak ada perlakuan apa-apa, hanya bertanya nama dan asal. Saya dan beberapa santri juga berinisiatif untuk melihat kartu identitas sebab dari penampilannya dan wajah tidak kami kenal.”

Andi menjelaskan, orang mencurigakan tersebut sama sekali tidak terlihat gila. Sebabnya, ketika diajak mengobrol, orang tersebut menjawab dan memberi respon dengan baik. Berikut petikan obrolan ketika santri melontarkan beberapa pertanyaan:

Santri: “Darimana?”

Orang mencurigakan: “Dari depan”

Santri: “Mau kemana?”

Orang mencurigakan: “Nggak. Mau ke depan, mau ke sana.”

Santri: “Tunggu dulu di sini, tunggu dulu di sini.”

Orang mencurigakan: “Nggak, nggak kok, nggak ada apa-apa kok. Nggak mau, nggak mau”

Setelah sesi obrolan singkat tersebut, orang mencurigakan tersebut lari. Akhirnya kembali dikejar oleh santri. “Larinya lumayan cepat hingga tak terkejar oleh kami, tapi karena dia kelelahan, larinya kian melambat, akhirnya bisa ditangkap disitu.”

Santri: “Kenapa lari?”

Orang mencurigakan: “Nggak, nggak, ampun, ampun”

Ketika didudukkan, dari celananya terlihat membawa sesuatu. Ketika dikeluarkan ada gunting dan paku. Sedangkan dari saku sebelah kanan terlihat pisau. “Ketika kami bertanya ada apa di saku sisi kanan, pertamanya orang itu menolak untuk mengeluarkan. Namun setelah didesak, dia mencabut pisau dari saku celana dan kelihatannya akan menodongkan pisau. Tapi dari santri sudah ada yang siaga karena melihat gelagatnya, akhirnya pergerakannya bisa dihentikan.”

“Lho, kenapa kayak begini? Maksudnya, mau apa masuk ke situ? Karena itu daerah rawan,” tanya para santri.

Orang mencurigakan itu berkata, “Nggak, saya kesitu cuma mau ngaji, mau ngaji”

Dari jawaban tersebut, tambah Andi, secara psikologis dia sadar dan tahu bahwa di sekitar lingkungan itu ada kegiatan mengaji. Bahkan ketika dibawa ke kantor polisi, masih bisa mengobrol dengan normal. Kepada Alhikmah, salah seorang keluarga Pondok Pesantren Nahdjussalam, Tubagus menjelaskan, bahwa persoalan ini sudah selesai dan sepenuhnya diserahkan kepada pihak berwenang.

Alhamdulillah, permasalahan ini sudah clear dan situasi juga sudah kondusif, kembali tenang serta tidak mengganggu kegiatan belajar dan mengajar di pondok. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi ke depannya baik di sini, maupun di tempat lain agar kondisi kembali aman dan tenteram,” harapnya.

Sumber: Alhikmah.co

Gandeng GBN, SMA Negeri 1 Polokarto Sosialisasikan Haramnya Rayakan Valentine Day

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Maraknya budaya barat yang menyerang para remaja di Indonesia semakin hari semakin tak terbendung lagi, budaya pacaran, seks bebas, alkohol, tawuran, saat ini seakan lekat dan identik dengan perilaku para pemuda yang menjadi harapan bangsa itu.

Berawal dari hal itu, SMA Negeri 1 Polokarto, Sukoharjo menggelar kajian haram merayakan ‘Hari Valentin’ pada Jum’at (8/2/2018) di halaman sekolah menggandeng Gerakan Bela Negara (GBN). Acara ini bertujuan untuk menghindarkan kenakalan remaja di hari Valentine yang memang bukan dilarang dalam agama Islam itu.

“Minggu depan itu pada tanggal 14 akan ada yang namanya Valentine Day, pengajian ini kita majukan di Jum’at kedua agar anak anak mendapat berkah dan dapat mengcounter isu-isu tentang Valentine Day,” kata Sri Mulyono Wakil kepala Sekolah Bidang Kesiswaan kepada wartawan di sela-sela kegiatan pada Jum’at (8/2/2018).

Sementara itu, Ketua GBN Solo yang juga Dai asal Aceh Ustaz Tengku Adzar yang menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut menjelaskan, tentang sejarah munculnya tradisi Hari Valentin.

“Valentine Day itu, berawal dari seorang pendeta yang bernama Valentin dan kemudian dieksekusi mati oleh pihak Gereja karena melanggar institusi Gereja untuk tidak boleh jatuh cinta, apalagi sampai menikah, dan hari kematiaannya itu karena mempertahankan dari wanita yang dicintainya kemudian diperingati sebagai hari Valentine,” terangnya.

“Oleh sebab itu, kita sebagai kaum muslimin tidak ada kaitannya apa-apa dengan Valentine Day itu, sehingga sebagai kaum muslimin kita tidak ada hak untuk merayakannya apalagi sampai ikut mengerjakan kemaksiatan kemasiatan didalamnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia berpesan kepada 724 siswa yang hadir itu, untuk mengunakan cara-cara Islam untuk mengungkapkan cinta dan kasih sayang terhadap orang lain.

“Cara-cara mengungkapkan cinta itu ada syariatnya dalam Islam, jadi tidak perlu kita ikut cara-cara orang lain untuk mengungkapkannya karena Islam sudah mengatur itu,” tandasnya.

Limbah Bau Tak Kunjung Hilang, Elemen Umat Islam Soloraya Akan Dampingi Warga Hadapi PT RUM

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Elemen umat Islam Soloraya siap mengawal jalannya kesepakatan 1 bulan paska perjanjian kesepakatan antara warga Nguter, Sukoharjo yang terkena dampak limbah bau dengan PT Rayon Utama Makmur (RUM) pada Jum’at (19/1/2018) lalu di Gedung DPRD Sukoharjo.

“Karena kita melihat apa yang terjadi di Nguter ini adalah gambaran di semua daerah di Indonesia, kepentingan masyarakat kalah dengan kepentingan elit penguasa, dan saya apresiasi dengan kehadiran elemen-elemen di Sukoharjo terutama MPL,” kata ketua Komunitas Nahi Mungkar Surakarta (Konas) Ustaz Dadyo Hasto saat bersilaturahmi dengan warga Plesan, Nguter, Sukoharjo, Kamis (8/2/2018).

Ustaz Hasto berharap, umat Islam Soloraya dan warga berdampak limbah bau PT RUM dapat bersinergi dalam memangani kasus ini, ia menilai, bahwa selama ini masyarakat Nguter yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu, selalu dibohongi oleh pihak-pihak pemangku kebijakan terkait masalah limbah bau mirip septic tank dari PT RUM tersebut.

“Kita berharap elemen Soloraya bisa dilibatkan dalam permasalahan ini, karena kita tidak ingin warga menghadapi situasi seperti ini,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Erwin wakil ketua Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Sukoharjo berterima kasih atas dukungan dari umat Islam Soloraya itu, menurutnya, paska perjanjian kesepakatan satu bulan itu, limbah bau yang dirasakan warga lebih dari 4 bulan itu, belum juga berkurang dan bahkan semakin parah.

“Saya hari ini merasa plong, saya senang karena saudara-saudara ini mau mendukung kita, kedatangan teman teman disini bisa membantu, agar bisa mengeluarkan warga dari kesengsaraan disini,” paparnya.

“Kita punya harapan agar teman-teman bisa ikut bersama kami untuk memperjuangkan hak-hak kami,” sambungnya.

Dalam kesempatan tersebut, Elemen umat Islam Soloraya juga memberikan bantuan berupa masker, tabung oksigen dan obat-obatan untuk masyarakat.

Mimbar Syariah Sosialisasikan Bahaya VD di SMPN 1 Tawangmangu

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Mimbar Syariah mengadakan sosialisai dan kajian Bahaya Memperingati Hari Valentin di SMPN 1 Tawangmangu Jl. Lawu No. 1 Tawangmangu Karanganyar, Jum’at (9/2/2018) pagi ini. Acara diikuti oleh ratusan siswa dan para guru SMPN 1 Tawangmangu.

“Sosialisasi Bahaya Valentine Day ini merupakan acara road show yang akan kami laksanakan di beberapa sekolah terutama SMP yang kami gelar pekan-pekan ini sebelum tanggal 14 guna membentengi generasi muda dari kerusakan moral akibat budaya Valentine Day,” kata Ketua Mimbar Syariah Jawa Tengah Kelik Subagyo kepada Jurnalislam.com, Jumat (9/2/2018).

Sementara itu, guru pembina OSIS Teguh Setyadi mengapresiasinya kegiatan tersebut serta berharap untuk diadakan secara berkelanjutan.

“Dan saya berharap kepada para anak-anak untuk tidak mengikuti valentinan, karena itu bukan dari Islam,” ucap Teguh.

Senada itu, Ketua OSIS SMPN 1 Tawangmangu Ahmad Akbar mengatakan, acara itu sebagai upaya untuk membentengi para siswa dari Hari Valentine yang identik dengan pacaran.

Mimbar Syariah adalah forum koordinasi dan konsolidasi para da’i penegak syariah di Indonesia yang dideklarasikan pada 15 April 2016 di Jakarta.