Palestina Larang Warganya Partisipasi dalam Jajak Pendapat Pemilihan Kota Israel

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Dewan Tertinggi Fatwa Palestina melarang warga berpartisipasi dalam pemilihan kota Israel di Yerusalem Timur pada bulan Oktober.

“Partisipasi dalam pemilihan lokal dengan mencalonkan diri atau memilih dilarang,” kata dewan itu dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Senin (30/7/2018), lansir Anadolu Agency.

Sejak Israel menjajah Yerusalem Timur selama perang Timur Tengah 1967, warga Palestina telah menolak untuk mengambil bagian dalam jajak pendapat Israel di kota.

Hamas dan Fatah Tolak Rencana AS di Palestina

“Segala bentuk partisipasi akan membantu kebijakan dan rencana penjajahan [Israel] yang bertujuan untuk memperluas pengaruhnya di kota,” kata dewan tersebut.

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa mengambil bagian dalam jajak pendapat “juga akan membantu Judaisasikota dan mengubah fitur historis dan religiusnya.”

Menurut perkiraan Israel, sekitar 360.000 warga Palestina tinggal di Yerusalem Timur.

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Timur Tengah, rakyat Palestina berharap bahwa Jerusalem Timur akhirnya bisa berfungsi sebagai ibukota negara Palestina merdeka.

Angkatan Laut Israel Bajak Kapal Kemanusian untuk Palestina

90 Warga Turki Ditolak Israel Kunjungi Al Quds

TURKI (Jurnalislam.com) – Israel menolak masuk 90 warga Turki ke Yerusalem (Al Quds) dengan alasan bahwa mereka tidak memiliki visa, kata seorang operator tur Turki pada hari Ahad (29/7/2018).

Mustafa Bickioglu, perwakilan dari perusahaan Sila Tour yang berbasis di Turki, mengatakan bahwa polisi Israel tidak mengizinkan warga Turki masuk setelah mereka tiba di Bandara Ben Gurion di Tel Aviv. Para turis berencana mengunjungi Jerusalem, World Bulletin melaporkan.

Bickioglu menolak tuduhan atas visa mereka dan mengatakan pada kenyataannya perusahaan tur hanya menerima visa kolektif untuk grup.

Seorang Muslimah Turki, Akhirnya Dibebaskan Pengadilan Militer Israel

“Israel tidak memberikan visa terpisah untuk setiap penumpang ke perusahaan wisata yang membawa turis ke Yerusalem,” jelasnya.

“Dokumen yang dikeluarkan oleh konsulat berfungsi sebagai visa untuk semua penumpang.

“Kami telah menerima surat visa dalam bahasa Ibrani bagi penumpang kami untuk perjalanan tur Yerusalem tetapi 90 penumpang kami tidak diizinkan masuk ke Palestina karena dituduh tidak memiliki visa.”

15 penumpang dikirim kembali ke Istanbul sementara 33 lainnya diperkirakan akan dideportasi.

Penumpang lainnya akan dideportasi keesokan harinya, tambahnya.

Turki Kecam Undang-undang Bangsa Yahudi Baru

Donald Trump Gak Sabar Ingin Bertemu Pemimpin Iran

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Presiden Donald Trump, pada hari Senin (30/7/2018) mengatakan dia ingin sekali bertemu dengan pemimpin Iran tanpa prasyarat karena kedua negara bergulat dengan konsekuensi keputusannya untuk mengeluarkan Washington dari perjanjian nuklir penting.

“Saya pasti bertemu dengan Iran jika mereka ingin bertemu,” kata Trump kepada wartawan pada konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte di Gedung Putih, mengutip kata-katanya dengan mengatakan dia tidak yakin apakah Iran siap untuk berbicara tetapi bersikeras bahwa pembicaraan bisa bermanfaat, lansir Anadolu Agency.

“Berbicara kepada orang lain, terutama ketika Anda berbicara tentang potensi perang, kematian, kelaparan, dan banyak hal lainnya, Anda harus bertemu. Tidak ada yang salah dengan pertemuan,” tambah Trump.

Sebelumnya di hari Senin, kementerian luar negeri Iran menepis kemungkinan untuk mengadakan pembicaraan dengan Washington, mengatakan “tidak mungkin untuk melakukan pembicaraan dengan pemerintah AS yang mengadopsi kebijakan permusuhan terhadap Iran.”

Jenderal Pasukan Khusus Syiah Iran Gertak Donald Trump

Trump memancing kemarahan Iran pada bulan Mei ketika dia secara sepihak mengeluarkan AS dari kesepakatan nuklir lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman tahun 2015 yang menyerang Iran. Kesepakatan nuklir tersebut menetapkan Teheran menerima pembatasan dan inspeksi yang belum pernah terjadi sebelumnya pada program nuklirnya dengan imbalan miliaran dolar dalam bantuan sanksi.

Mitra negosiasi AS telah berusaha untuk mendukung perjanjian dan pembatasannya pada program nuklir Iran. Tetapi setelah keluar, Trump dan pemerintahannya telah berusaha membuat pihak lain untuk mengikuti ancaman sanksi yang diharapkan mulai berlaku pekan depan.

Sanksi putaran pertama, yang sebagian besar ditujukan pada sektor perbankan Iran, akan mulai berlaku pada 6 Agustus. Sanksi terkait minyak yang kedua, yang lebih kuat, akan dijatuhkan kembali pada 4 November.

Trump akan Undang Putin ke AS Bahas Terorisme, Nuklir juga Serangan Dunia Maya

Dengan “langkah-langkah bermusuhan Washington terhadap Teheran dan upaya untuk memberikan tekanan ekonomi pada Iran dan menjatuhkan sanksi, tidak akan ada kemungkinan untuk pembicaraan,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri Iran Bahram Qasemi kepada wartawan.

Namun Trump mempertahankan bahwa pembicaraan akan “baik bagi negara. Baik bagi mereka, baik bagi kita. Dan baik untuk dunia,” dan mengatakan dia yakin Iran pada akhirnya akan bersedia untuk duduk bersama.

“Saya percaya bahwa mereka mungkin pada akhirnya ingin bertemu, dan saya siap untuk bertemu kapan saja mereka mau,” katanya.

Iran Dibalik Pembantaian Aleppo

Bahas Zona De-Eskalasi Idlib, Turki, Rusia dan Iran akan Bertemu di Astana

SOCHI (Jurnalislam.com) – Para pejabat dari Turki, Rusia dan Iran mengadakan pembicaraan teknis pada hari Senin (30/7/2018) di Sochi, Rusia, menjelang putaran ke-10 pembicaraan damai Suriah di Astana, Kazakhstan, yang dijadwalkan pada 31 Juli.

Pembicaraan Astana akan membahas situasi terbaru di zona de-eskalasi di Idlib Suriah, kembalinya para pengungsi, pembebasan tahanan dan pembentukan komite yang akan menulis ulang konstitusi Suriah, lansir Anadolu Agency.

Pejabat PBB dan Yordania mengambil bagian dalam pembicaraan hari Senin sebagai pengamat sementara AS sekali lagi memilih untuk tidak mengirim perwakilan.

Langgar Perjanjian Astana, Jet Tempur Rusia Bombardir Zona de Eskalasi di Idlib

Kelompok utama oposisi Suriah diwakili oleh Ahmed Tuma, mantan perdana menteri pemerintah sementara Suriah, sedangkan rezim Assad diwakili oleh Bashar Jaafari, perwakilan permanen rezim untuk PBB.

Selama pertemuan Astana ke-9 yang diadakan pada 14-15 Mei, semua pihak setuju untuk mempertahankan zona de-eskalasi dan gencatan senjata rezim Syiah Assad.

Namun, pasukan Assad dan sekutu-sekutunya menguasai zona de-eskalasi di wilayah Homs, Daraa dan di Quneitra setelah melakukan serangan besar-besaran.

Rezim Assad Gelar Serangan Besar pada Zona Gencatan Senjata Barat Daya Suriah

Pekan lalu, rezim mulai membangun militer di barat daya Idlib untuk menyerang wilayah pegunungan Turkmenistan barat laut Suriah, yang terletak di dalam zona de-eskalasi.

Idlib diperkirakan akan menjadi masalah utama selama pertemuan Astana berikutnya karena delegasi Turki menggarisbawahi pentingnya rezim menjaga gencatan senjata di wilayah tersebut.

Secara terpisah, Rusia untuk pertama kalinya diperkirakan akan memunculkan isu kembalinya pengungsi dan orang-orang yang terlantar selama pertemuan.

Para pejabat Rusia baru-baru ini mengunjungi Turki, Yordania dan Lebanon, yang menjadi tuan rumah bagi sebagian besar pengungsi Suriah.

Setelah Membombardir Daraa, Inilah Skenario Rezim Assad

Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura diperkirakan akan bertemu dengan para pejabat Turki, Rusia dan Iran tentang pembentukan komite konstitusi.

Rezim Nushairiyah dan oposisi anti-Assad masing-masing telah menyerahkan daftar 50 kandidat untuk mewakili mereka di komite konstitusi kepada de Mistura.

PA 212 Soloraya Turut Hadiri Kajian Ustaz Abdul Somad di Semarang

SOLO (Jurnalislam.com) -Lebih dari 500 massa ummat Islam yang tergabung dalam Persaudaraan Alumni (PA) 212 Soloraya hadiri pengajian tabligh akbar ustaz Abdul Somad di lapangan Padurungan Mijen Semarang pada Senin malam,(30/7/2018).

Habib Adnan selaku korlap aksi mengatakan kebrangkatanya ke Semarang sebagai ungkapan rasa syukur nikmat Iman dan Islam kita dalam bentuk kepedulian dan perhatian terhadap saudara seiman.

“Sebagai mana kita ketahui saudara kita di Semarang akan mengadakan tabligh akbar dan akan di persekusi oleh ormas tertentu, maka sebagai bentuk kepedulian kita maka kami akan hadir bersama 30 elemen di Semarang,” katanya saat di temui Jurnalislam.com di titik kumpul Masjid Goro Assalam pabelan kartasura pada hari Senin, (30/7/2018).

Menurutnya, kebrangkatan elemen PA 212 ke Semarang guna menjalin ukhuwah, dan mempererat silaturahim.”Indahnya ukhuwah islamiyah, meskipun cukup jauh kita akan bersafar dengan niat silaturahim dan mempererat ukhuwah,”tambahnya.

Lebih lanjut Habib Adnan berharap kedepan Ustaz Abdul Somad bisa hadir di Solo.”Saat ini tim PA 212 yang berangkat duluan ke semarang selain koordinasi juga mendekati tim dari UAS supaya bisa hadir di Solo,” pungkasnya.

Reporter: Ridho Asfari.

Pusat Dakwah Media Gelar Pelatihan Membuat Video via HP

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) -Pusat Dakwah Media (PUSDAM) gelar pelatihan mengambil dan mengedit gambar video via HP Android di Gedung Ar-Risalah, Madegondo, Grogol Sukoharjo, Ahad (29/7/2018).

Praktisi media Umar Aziz menjadi pemateri dalam helatan ini. Dalam pemaparannya, Umar Aziz mengingatkan bahwa yang lebih penting selain teknik dalam pengambilan foto dan video hingga penyuntingan yaitu konsistensi.

“Iya kalau kita mau main di media, apapun itu, mau FB, instagram, youtube dan twitter, syaratnya cuma satu, yaitu konsisten, Konsisten posting”tegasnya.

Ketua panitia, Ponidi berharap dengan adanya pelatihan ini, kegiatan masjid yang biasanya terbatas hanya di masjid tidak di ekspos bisa dipublikasikan atau memviralkan kegiatanya di tempat peserta beraktivitas.

“Berangkat dari kegiatan masjid yang kurang terekpos kami dari PUSDAM memfasilitasi supaya kegiatan-kegiatan di masjid bisa di publikasikan di media sosial,”ungkapnya.

Dalam pelatihan ini peserta selain dapat teori, mereka juga langsung terjun untuk praktik.

Reporter : Ridho Asfari.

Akrobat Kutu Loncat dalam Sirkus Demokrasi

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

JURNALISLAM.COM – “Please, call me cebong. Hari ini saya menjadi cebong. Silahkan panggil saya cebong,” demikian Kapitra Ampera mendeklarasikan pilihan politiknya untuk hinggap di PDIP baru-baru ini. Kapitra, Ali Mochtar Ngabalin yang ketibanrezeki jabatan komisaris, dan mungkin sekian banyak lainnya adalah figur yang meloncat dari satu kelompok (politik) ke kelompok lainnya.

Fenomena kutu loncat sebenarnya bukan hal baru. Terlebih dalam sirkus politik Indonesia saat ini. Mantan gubernur DKI, terpidana kasus penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah kutu loncat dari Golkar, kemudian ke Gerindra. Saat menjabat menjadi gubernur, Ahok justru melontarkan celaan ketidakpercayaan pada partai-partai politik. Namun saat hendak mencalonkan kembali menjadi gubernur, ia dengan senang hati merangkul partai-partai politik.

Fenomena kutu loncat politik ini semakin menakjubkan dengan adanya biaya transfer layaknya seorang pemain sepak bola. Bukan Mbappe, Neymar atau Ronaldo, namun Lucky Hakim yang menjadi bintang transfer tersebut. Lucky Hakim yang awalnya dari PAN mengakui bahwa Nasdem kemudian memberikan uang sebesar Rp. 5 milyar dan bantuan logistik Rp 2 milyar agar bisa membantu Nasdem di daerah pemilihan Jawa Barat VI.

Selama pemilihan kepala daerah 2018 kemarin, kita pun disuguhi atraksi-atraksi loncat partai, lintas basis massa pemilih, dan koalisi-koalisi yang sangat cair. Fenomena ini sesungguhnya akan terus berlanjut seiring dengan semakin memudarnya pengaruh partai. Partai hanya dianggap sebagai kendaraan (umum) politik. Maka jika hasrat atau tujuan telah atau tidak terpenuhi, hajat itu bisa dipenuhi dengan mudah menyeberang ke partai lain.

Program, visi dan terutama ideologi partai serta politisi tak lagi penting untuk dipertimbangkan. Seorang figur bisa saja yang selama ini bersolek sebagai figur Islami tiba-tiba hinggap di partai sekuler yang punya penolakan terhadap berbagai perda yang menyerap aspirasi umat Islam. Begitupun sebaliknya, partai sekuler beserta tokohnya tiba-tiba bisa berdandan islami. Mendadak berkerudung, mendadak berpeci atau bersurban, jika mendekati masa-masa pemilu. Bahasa-bahasa pro-sekularisme ditinggalkan dengan menyuguhkan simbol-simbol Islami. Partai-partai berbasis massa Islam tiba-tiba tak lagi malu untuk menyuarakan usangnya politik Islam.

Pragmatisme para aktor politik dapat dibaca sebagai satu gejala menyurutnya ideologi dalam politik. Pada awal-awal revolusi Indonesia hingga tahun 1965, politik aliran begitu penting dan mendominasi. Partai-partai dibagi beberapa ideologi seperti Islam (Masyumi, NU, Perti, PSII), Komunis (PKI), Nasionalis-Sekular (PNI) dan lainnya. Massa program partai terlihat jelas perbedaannya. Partai politik Islam, meski terdiri dari beberapa partai, tetapi kompak menyuarakan ideologinya, yaitu Islam sebagai dasar negara pada sidang konstituante.

Munculnya rezim orde baru kemudian melakukan politik deideologisasi partai-partai. Semua dikubur atas nama pembangunan (developmentalisme). (firman Noor : 2014) Rezim Soeharto melakukan penguburan ideologi politik dengan beberapa kebijakan seperti peleburan partai-partai politik, hingga hanya menjadi tiga, PDI, PPP dan Golkar. Lebih lanjut, kebijakan massa mengambang diterapkan sehingga partai-partai politik tak lagi mampu menembus massa akar rumput dibawah. Melepas mereka dari konstituennya. Sehingga rakyat dijauhkan dari politik (ideologis). Jurus maut terkahir rezim orba dengan melakukan penggusuran ideologi lewat pemaksaan Pancasila sebagai azas tunggal, bukan saja kepada partai, tetapi juga kepada ormas-ormas termasuk ormas Islam.

Euforia sempat melanda partai-partai saat reformasi. Partai-partai bermunculan. Tetapi sistem politik akhirnya memaksa partai-partai bersikap pragmatis. Sikap pragmatis partai-partai ini dapat dilihat dari hasil penelitian Firman Noor (2014) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan beberapa tanda pragmatisme partai ini antara lain; ideologi tak lagi menjadi sesuatu yang penting. Partai-partai bersikap permisif dan serba boleh dalam berkoalisi.

Gerak langkah partai-partai lebih banyak digerakkan oleh upaya untuk bertahan hidup dan kepentingan untuk terus berada di dalam kekuasaan. Cara- cara yang pragmatis ditempuh bahkan mereka rela untuk melakukan ‘migrasi ideologi atau perpindahan sikap idelogis. (Firman Noor : 2014)

Akhirnya peran ideologi hanya berjalan (atau berjualan tepatnya) di masa elektoral saja. Beberapa partai pada masa-masa menjelang pemilihan menunjukan kecenderungan dan geliat pergerakan yang menjadikan ideologi sebagai patokan kebijakan dan manuver politiknya. partai-partai tetap berupaya menunjukkan simbolisasi sebagai penerus partai masa lalu, namun kenyataannya idelogi bukanlah penentu kebijakan. Simbol dan nuansa ideologi berhenti saat berbagi kekuasaan. (Firman Noor : 2014, Ambardi : 2009)

Tak bisa dipungkiri, ongkos politik yang mahal turut mendorong partai dan politisi bersikap pragmatis. Sistem saat ini memaksa para kandidat untuk mendekati masyarakat secara langsung. Tak ayal diperlukan berbagai alat kampanye untuk mengenalkan sang kandidat. Uang politik yang mahal ini kemudian beriringan dan politik uang yang banal.

Kandidat seringkali dibebani biaya untuk mendanai berbagai aktivitas kampanye, fee untuk pakar marketing politik, biaya membangun sarana-sarana fisik, pencitraan, dan biaya lainnya. (Leo Agustino dan Mohammad Agus Yusoff L : 2010). Ini belum termasuk biaya politik uang semacam serangan fajar atau bagi-bagi uang tanpa malu dalam aksi kampanye terbuka.

Beban biaya tinggi semacam ini menjadi alasan bagi para kandidat untuk mencari investor politik untuk mendanai berbagai biaya tadi. Investor politik ini akan mendapat imbal balik berupa berbagai hak istimewa, baik perlindungan politik maupun ekonomi). Lewat otoritas kandidat yang terpilih menjadi kepala daerah para investor politik akan mendapat proyek melalui tender fiktif. (Leo Agustino dan Mohammad Agus Yusoff L : 2010)

Agustino dan Yussof, merujuk pada kajian Harris-White menyebutkan komitmen para kandidat kepada pengusaha (investor politik) menciptakan beberapa komitmen, antara lain; manipulasi untuk kepentingan penguasa, pemaksaan swastanisasi aset-aset pemerintah, dan berlakunya transaksi bawah tangan antara penguasa dan pengusaha dalam tender pemerintah.

Bertaburannya kepala daerah yang belakangan ini tertangkap tangan oleh KPK menjadi bukti betapa politik elektoral di Indonesia tak lain hanya ajang kongkalingkong belaka. Pada masa orde baru, para figur lokal hanya menjadi kaki tangan rezim Soeharto untuk menyedot kekayaan (stationary bandits). Kini diera otonomi daerah dan pemilihan kepala daerah langsung, para bandit ini menjadi pemain utama (roving bandits). Mereka menjadi pemain utama perampokan dan perampasan kebebasan sipil dan hak politik warga (Leo Agustino dan Mohammad Agus Yusoff L : 2010)

Para roving bandit yang jauh dari pusat sorotan media nasional di ibukota bertindak lebih mengerikan. Daerah-daerah yang memiliki kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) menjadi komoditas politik hitam mereka. Konsesi-konsesi kekayaan SDA menjadi dagangan bagi penguasa untuk ditawarkan pada pengusaha ataupun korporasi.

Izin untuk hak pengelolaan hutan dan tambang kepada pengusaha frekuensinya naik menjelang pilkada. Modus ini dibantu dengan tidak terkontrol dan transparannya tata kelola hutan dan SDA di Indonesia. Menurut Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), menjelang Pilkada 2018 kemarin, ada 171 izin tambang diberbagai daerah diobral. 120 izin di Jawa Tengah, 34 di Jawa Barat sisanya di Lampung, Sumsel hingga NTT.

Di Kalimantan Barat misalnya, dua wilayah yang kaya sumber daya hutan, yaitu ketapang dan Kutai Barat menjadi permainan para bupati. Lewat modus rent seizing, para bupati mengandalkan pendanaan dari pungutan dalam pengurusan perizinan alih fungsi lahan untuk mepertahankan kekuasaan. Atau modus lain, izin batubara juga diberikan pada kerabat bupati, kemudian dijual kepada perusahaan lain ketika Sang Bupati memerlukan dana.

Studi ICW dalam Merebut Kursi, Menguras Bumi (2013), memberi gambaran bahwa pilkada kemudian hanya menjadi momen konsolidasi elit lokal dengan pengusaha. Pilkada menjadi hal yang penting bukan untuk mencari siapa kepala daerah yang dapat membawa daerah lebih baik dari sebelumnya, melainkan momen penting yang menentukan siapa patron elit berkuasa yang akan berelasi dengan pengusaha 5 tahun ke depan. Disinilah terbangun relasi politico-business antara penguasa dengan pengusaha yang bersifat patronase.” (Indonesia Corruption Watch : 2013)

Demokrasi di Indonesia sesugguhnya adalah demokrasi (di bawah kuasa) oligarki. International Ecyclopedia of Social Science menyebutkan bahwa oligarki adalah “bentuk pemerintahan di mana kekuasaan politik berada di tangan minoritas kecil.”(Jeffery Winters: 2011)

Kaum oligarkis memakai sumber daya material mereka untuk berkuasa. Kekayaan adalah sumber kekuatan yang menentukan kaum oligarkis terlibat dalam politik dan menjadi oligarki. Jeffery Winters dalam karyanya, Oligarki (2011) menekankan pentingnya kekayaan dalam sistem oligarki,“Kumpulan kekayaan yang besar dan terkonsentrasi di tangan sebagian kecl anggota masyarakat mewakili sumbr daya kekuasaan yang bukan hanya tak tersedia bagi yang tak memiliki harta, tetapi juga jauh lebih luwes dan kuat daripada sumber daya kekuasaan formal atau prosedural seperti hak pilih yang setara bagi semua orang…”

Permainan dalam kekuasaan di tangan oligarki ini akan terus terjadi selama para politisi di Indonesia dan partai-partai politik masih bersikap pragmatis. Praktek suap, jual-beli suara, manipulasi akan terus mewarnai politik di Indonesia selama pragmatisme menjadi penentu dalam gerak langkah partai. Pragmatisme partai membuat mereka menoleh kepada figur-figur yang dapat dijadikan mesin pendulang suara. Oleh sebab itu tak heran ketika banyak artis, selebriti mendadak menjadi politisi.

“Politik yang bertumpu pada calon menjadikan partai sekedar tunggangan kepentingan sesaat. Jika sudah tak mampu memenuhi hasrat sang politisi, maka fenomena kutu loncat politik menjadi pilihan,” demikian jelas Burhanuddin Muhtadi (2013) dalam Politk Uang dan Dinamika Elektoral di Indonesia: Sebuah Kajian Awal Interaksi Antara “Party-ID” dan Patron-Klien.”

Partai tak lebih dari sekedar sarana nir-ideologis mencari kekuasaan. Padahal unsur ideologis adalah pondasi penting dalam politik. Baik individu maupun partai. Bahkan unsur ideologis partai salah satu yang menjauhkan partai-partai dari politik uang. Ideologi bagi satu partai mencakup satu identitas tertentu. Bagi para pemilih, perasaan seseorang bahwa partai tertentu adalah identtas politiknya (party-ID) dapat menjadi faktor penting. Party-ID merupakan komponen psikologis yang akan memberikan sumbangan stabilitas dukungan terhadap partai dan sistem kepartaian yang bisa memperkuat demokrasi itu sendiri. (Burhanuddin Muhtadi: 2013)

Pemilih yang pragmatis dan tak memiliki loyalitas terhadap satu partai akan lebih mudah tergoda politik uang. Sebaliknya, jika identifikasi pemilih terhadap suatu partai tinggi, maka semakin kecil sikap penerimaannya terhadap praktik politik uang. (Burhanuddin Muhtadi: 2013)

Partai dengan positioning dan difrensiasi ideologi (seharusnya) tidak akan bersikap abu-abu dalam berbagai isu. Ketimbang mengandalkan mobiliasi finansial, entah itu iklan, pencitraan, branding, atribut kampanye atau jual beli suara, mereka akan berfokus pada perjuangan ideologinya yang diimplementasikan dalam kinerja partai.

Sayangnya bukan itu yang terjadi di Indonesia saat ini. Satu survei dai Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 2017 menyebutkan bahwa hanya 1 dari 10 pemilih di Indonesia yang memiliki kedekatan dengan partai. Selanjutnya ikatan dengan partai ini pun harus kita cermati lagi, apakah ikatan tersebut hanya berdasarkan nostalgia partai atau tokoh semata? Ataukah partai tersebut benar-benar ideologis dan menjadi landasan program partai tersebut?

Melihat kenyataan saat ini, yang tampak di depan kita justru partai dan politisi justru semakin berkelamin politik yang abu-abu. Tak tampak perjuangan ideologis dalam langkah-langkah mereka. Fenomena politisi kutu loncat, koalisi pragmatis, jual-beli suara, suap dan korupsi, obral izin pengelolaan sumber daya alam menghiasi lini masa dan berita.

Demokrasi inilah yang terjadi di Indonesia. Kita seperti menonton pertunjukan sirkus. Ada akrobat politisi pencari sensasi. Ada semburan komentar-komentar bombastis yang berapi-api. Lompatan-lompatan politisi (kutu loncat) yang memukau. Gemerlap kostum dan penampilan politisi dalam sorot lampu (media). Aksi-aksi yang seakan-akan bernyali, padahal tak lebih dari aksi teatrikal. Semua dikemas secara meriah. Dalam satu bungkus yang dilabeli sebagai ‘demokrasi.’ Kita semua terpana, terhibur dan terpikat. Merasa puas. Ketika lampu telah dimatikan dan penonton pulang, para pemodal tersenyum menghitung keuntungan hasil pertunjukan. Pertunjukan sirkus yang bernama ‘demokrasi.’

Di sinilah kita menanti agar politisi muslim dan partai Islam tak ragu dan malu untuk mengusung Islam sebagai ideologinya dalam berpolitik. Ia bukan saja harus meyakinkan pemilihnya, tetapi paling penting meyakinkan dirinya bahwa Islam sebagai ideologi mampu menjawab berbagai persoalan termasuk persoalan seperti keadilan sosial, kesejahteraan dan lainnya. Sehingga berpolitik dengan ideologi Islam bukan sekedar jargon dan simbol belaka. Dan tak berkabung dalam kawanan ‘pemain sirkus’.

DSN MUI Godok Fatwa Industri Keuangan Syariah

JAKARTA (Jurnalislam.com)— Dewan Syariah Nasinal Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) tengah membahas empat fatwa di industri keuangan syariah. Fatwa-fatwa tersebut rencananya bakal dikeluarkan tahun ini.

Wakil Ketua Badan Pelaksana Harian DSN MUI, Jaih Mubarok, menyebutkan, empat pembahasan yang akan dijadikan fatwa tersebut antara lain mengenai pasar modal yakni Efek Beragunan Aset Syariah (EBAS) Kontrak Investasi Kolektif (KIK), serta Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Dua lainnya masing-masing mengenai biaya administrasi dan biaya riil, serta tentang Margin During Construction (MDC).

“Agenda kami ke depan empat sampai lima fatwa lagi tahun ini akan kami keluarkan untuk mendukung industri,” kata Jaih kepada wartawan di Jakarta, pekan lalu lansir Republika.co.id.

Sebelumnya, DSN MUI telah mengeluarkan fatwa mengenai Efek Beragunan Aset Syariah (EBAS) dan fatwa EBAS Surat Partisipas (SP). Kemudian saat ini yang dibahas mengenai EBAS KIK. Ketiganya berkait dengan sekuritisasi pembiayaan perumahan.

Pembahasan mengenai EBAS KIK belum memperoleh titik temu karena pada saat pembahasan terakhir, regulator dan industri masih belum berhasil menjelaskan kepada DSN MUI mengenai underlying asset. “Karena yang disampaikan kepada kami kan future income itu kan masih menggantung masih ghoror (belum ada kejelasan),” ucap Jaih.

Dia mencontohkan, jalan tol boleh digunakan sebagai underlying. Namun kalau pendapatan jalan tol yang akan disewakan kepada pengguna di masa yang akan datang itu tidak boleh, tetapi untuk membayar kupon itu dibolehkan. Hal tersebut dinilai agak rumit dijelaskan dari sisi syariah.

Kemudian fatwa tentang KSEI dinilai sudah dalam tahap naskah kesiapan. Fatwa mengenai KSEI akan menjadi pelengkap fatwa DSN MUI No 80 tentang Bursa Efek Indonesia (BEI). “Karena KSEI memang memerlukan kegiatan yang secara syariah, hari ini sudah berjalan tetapi belum ditegaskan dalam fatwa,” imbuh Jaih.

Terkait fatwa tentang biaya administrasi dan biaya riil, DSN MUI belum mendapatkan rumus yang disepakati. Sementara, fatwa tentang MDC (margin during construction) dengan tujuan bagaimana lembaga keuangan syariah (LKS) bisa memperoleh pendapatan padahal barangnya belum jadi.

Hal itu diibaratkan membangun perkebunan, kebunnya belum menghasilkan. DSN MUI tengah mencari rumus untuk diterapkan di lembaga keuangan syariah.

“Kebetulan kita punya fatwa ijarah maushufah biz zimmah, kemudian dalam jual beli kami punya fatwa jual beli salam dan istishna mungkin itu bisa jadi kerangka,” ucapnya.

 

Ini Target Pendidikan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta

SOLO (Jurnalislam.com) – Kebutuhan pendidikan agama merupakan elemen dasar kepribadian yang kuat terhadap anak didik sejak dini menjadi tantangan yang sangat nyata di tengah-tengah tantangan dan harapan Modernisasi ilmu Pengetahuan Teknologi Informasi dan Komputerisasi.

Pentingnya pendidikan agama tersebut yang menjadi tolak SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Jawa Tengah yang telah berusia 83 tahun menjadikan berilmu, beramal saleh dan berkemajuan sebagai pilar utama sekolah ini. Sekolah sangat berorientasi pada pencapaian keseimbangan dan pencerminan antara IMTAQ dan IPTEK secara integral diberikan kepada peserta didik.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Jatmiko menjelaskan, pendidikan agama sedari awal menjadi program unggulan dari sekolah ini. Siswa akan mendapat pelajaran menghafal al Qur’an, bahasa Arab, dan program-program lain sebagainya seperti Sekolah Adiwiyata, Sekolah Sehat, Kantin Sehat, UKS Modern, Perpustakaan Modern, Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan portal Rumah Belajar Pustekkom Kemendikbud. Kendati demikian, program di luar pendidikan agama tidak abai.

“Kalau pagi itu mereka Setiap hari kepala sekolah, guru, karyawan pukul 07.00 WIB Kultum, Senin Nasionalisme, Selasa Integritas, Rabu Gotong Royong, Kamis Mandiri, Jum’at Religius, untuk anak kelas 6 Shalat Dhuha, pukul 07.30-08.05 tahfiz al Qur’an dipandu buku monitoring, The Future Generation Of Islamic School, ujar Jatmiko menggambarkan aktivitas sekolah, Jumat (27/7/2018).

Dalam penerapannya, seorang pengajar menganalisis kebiasaan dan kegemaran, kesamaan minat, rasa merasa sehingga terbangun rasa aman, nyaman dan percaya diri bagi siswa yaitu mendahului dengan murajaah (mengulang) membaca al Qur’an bersama, tebak surat, sambung ayat, Talaqqi (pembelajaran secara tatap muka antara guru dan siswa), dan demontrasi serta tes yang terarah, terukur secara kondisional.

Sedangkan target hafalan kelas 1 semester satu 9 surat, semester dua 6 surat, kelas 2 semester satu 4 surat, semester dua 4 surat, kelas 3 semester satu 4 surat, semester dua 4 surat, kelas 4 semester satu 3 surat, semester dua 2 surat, kelas 5 semester satu 1 Surat, semester dua 1 Surat dan kelas 6 Muraja’ah juz 30. Daftar isi bukunya ada monitoring salat, hafalan, Iqra’ monitoring membaca Qur’an, dan Juz Amma.

Menurut Jatmiko, aktivitas sekolah berlangsung hingga pukul 14.00 WIB bagi kelas 1 dan 2. Sementara kelas III hingga VI pulang sehabis salat Ashar pukul 15.45. Kecuali Guru yang piket 16.15 WIB. Ia menambahkan sekolah mempunyai tujuh target pendidikan al Islam, Kemuhammadiyahan, Bahasa Arab (ISMUBA).

Ketujuh target tersebut antara lain, Siswa memiliki kemampuan membaca, memahami, dan menghafal al Qur’an dengan baik, siswa punya keteguhan aqidah Islamiyah, Kemampuan memahami dan melaksanakan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah, penguatan pembentukan akhlak mulia, pengembangan rasa cinta kepada nabi, sebagai teladan, pengembangan rasa cinta dan ghirah bermuhammadiyah, serta kemampuan berbahasa Arab.

“diharapkan peserta didik mampu menjadi manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlakul karimah, menjadi insan berpengetahuan, rajin ibadah, cerdas, prodktif, kreatif, inovatif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi menjaga keharmonisan secara pribadi maupun sosial dan mengembangkan budaya Islami dalam komunitas sekolah sesuai Qur’an dan Sunnah,”katanya.

Namun, dalam proses pengasuhan dan mendidik, ada beberapa tantangan yang dihadapi di antaranya mereka (orang tua) sibuk, sehingga fokus dan perhatian terhadap anak masih kurang. Zaman ini disebut era digital, komunikasi bisa melalui twitter, facebook, instagram, whatsApp, handphone, televisi digital, radio digital dan lain sebagainya.

Padahal, sinergi dan kerja sama antara sekolah dengan orang tua sangat urgent untuk mempraktikkan petik praktik baik ajaran sekolah. Solusinya pihak sekolah, wali kelas selalu proaktif mengirim pesan melalui group whatsApp, buku penghubung, buku monitoring, buku Ekstrakurikuler dan ada agenda pertemuan dengan para wali murid diawal tahun.

“Sepanjang yang saya tahu, sekolah selalu berusaha yang terbaik dengan memperhatikan peningkatan kualitas guru dengan pelatihan-pelatihan, seperti kurikulum 2013, guru Pai belajar Tahsin setiap hari Sabtu di Perguruan Muhammadiyah, guru sangat vital dan sentral peranannya,” ujarnya.

Komunitas Tionghoa dan Mualaf Center Semarang Gelar Baksos dan Tabligh Akbar

SEMARANG – (jurnalislam.com) – Sejumlah elemen umat Islam Semarang adakan kegiatan Bakti sosial dan Tabligh akbar di Musholla Nikmatu Taibin bantaran Sungai Sleko, Semarang, Jawatengah bekerja sama dengan MCI, Forum Me-Dan Semarang, YANMAS, Salimah, dan Amil Zakat Nurul Hayat.

Bakti Sosial diawali dengan Tabligh Akbar oleh Ko Rico dari (Komunitas Tionghoa Muslim), dan Agus Triyanto (Ketua Muallaf Center Semarang) bertema “Nikmat Islam dan kewaspadaan pemurtadan”.

Kegiatan Bakti Sosial dilaksanakan untuk menjalin persaudaraan umat dan mengenalkan lebih dalam tentang agama Islam demi membentengi aqidah dari beberapa misionaris Kristen yang pernah datang ke kampung sleko.

“Agama Islam itu agama yang sangat teratur, semua yang kita lakukan sudah ditetapkan tata caranya, dari cara berpakaian, cara kita berbicara, sampai meludah pun ada caranya.” Ungkap Koh Rico saat mengisi Materi Kajian

Kemudian dilanjut pembagian paket sembako oleh YANMAS dan Me-Dan Kabuaten Semarang dan Baitul Mal Salimah.

“Kami warga sleko mengucapkan banyak terimakasih kepada lembaga-lembaga yang telah ikut serta acara Tabligh akbar dan juga bakti sosial, terutama materi-materi yang di berikan oleh pak ustadz, semoga Allah membalas kebaikan bapak bapak semua, Amin”. ucap Ismi Tartopan ketua RT 3 Sleko

Reporter : Hasan shoghir