Terkonfirmasi! Banser Garut Bakar Bendera Tauhid

GARUT (Jurnalislam.com) – Sejumlah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Nahdlatul Ulama (NU) Garut membakar bendera berwarna dasar hitam dan bertuliskan aksara arab tauhid berwarna putih yang mirip dengan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Berdasarkan video berdurasi 02.05 menit yang diterima redaksi dan tersebar di laman Youtube,  pembakaran dilakukan oleh belasan anggota Banser seraya menyanyikan mars NU.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Cholil Nafis menilai, sebaiknya bendera itu cukup dirampas karena telah menyusup ke kerumunan massa para santri, bukan dibakar seperti itu.

“Meskipun indikasinya itu bendera HTI. Sebab kain itu bertuliskan kalimat tauhid sehingga kurang elok dan disalah persepsikan oleh orang lain,” katanya dalam akun Twitter resminya.

Sebelumnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas membenarkan hal itu. Dia mengatakan pembakaran terjadi saat Banser Garut merayakan hari santri pada Ahad, kemarin (21/10/2018).

“Betul. Itu di Garut. Menurut laporannya, kejadian di hari peringatan hari santri kemarin di Garut,” jelas Yaqut dilansir CNNIndonesia.com, Senin (22/10/2018).

Meski belum diketahui pasti, Yaqut mengklaim bahwa benda yang dibakar anggotanya adalah bendera HTI. Dia yakin anggota di Garut yang terlibat pembakaran memang menganggap itu sebagai bendera HTI, yang merupakan organisasi terlarang di Indonesia.

“Saya yakin teman-teman melihat itu sebagai bendera HTI. Kami enggak ada urusan dengan bendera organisasi yang sudah dibubarkan pemerintah dan faktanya memang mengancam kedaulatan,” kata Yaqut.

Merujuk dari tayangan dalam video, mulanya, ada satu anggota banser yang membawa bendera berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid. Belasan anggota Banser lainnya kemudian berkumpul untuk bersama-sama menyulut bendera tersebut dengan api.

Sebagian dari mereka mengenakan pakaian loreng khas Banser lengkap dengan baret hitam.

Tak hanya bendera, mereka juga nampak membakar ikat kepala berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid. Agar kedua benda lebih cepat dilalap api, mereka menggunakan koran yang juga telah disulut. Sementara itu, ada salah satu dari mereka yang mengibarkan bendera Merah Putih berukuran besar.

Saat api mulai besar dan melalap setengah bendera, sejumlah anggota Banser semakin semangat menyanyikan Mars NU. Beberapa di antaranya seraya mengepalkan tangan seirama dengan nada yang dinyanyikan.

Sumber: CNN Indonesia

Wonogiri Dilanda Kekeringan, KONAS Bagikan 25 Tangki Air Bersih Gratis

WONOGIRI (Jurnalislam.com) – Sejumlah lembaga sosial kemanusiaan, yang tergabung dalam KONAS (Komunitas Nahi Mungkar Surakarta) kembali menggelar aksi pembagian air bersih di sejumlah titik kekeringan diwilayah Wonogiri, Ahad (21/10/2018).

“Ada 25 tangki air bersih yang akan dibagikan ke 13 dusun hari ini (Ahad),” kata koordinator acara, Joko disela-sela kegiatan.

Joko atau yang karib disapa Pak Jack ini menjelaskan, ke 13 dusun tersebut antara lain, Giribelah, Giriroto, Ngasem, Buweng, Sengon, Mulwo, Ngorodowo, Ngelo, Jati, Punung, Kamigoru, Songgodulang yang terletak di Desa Jatirejo dan Dusun Sumberjo yang terletak di Desa Tlogosari.

Pembagian air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Wonogiri.

Sementara itu, kepala dusun Buweng, Samino mengungkapkan, bantuan yang dilakukan oleh MDS (Melangkah Dengan Sedekah), Salam Care, SINAI (Sinergi Amal Islami), Yayasan Baiti Jannati, Dai Berwibawa Giriwoyo dapat meringankan beban warga terdampak.

“Terima kasih pada bapak-bapak yang telah ikut membantu meringankan beban kita disini, dengan memberikan air bersih.”

“Semoga menjadi amal kebaikan dan berkah,” pungkasnya.

Tren Investor Syariah Terus Meningkat

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Kepala Divisi Pasar Modal Syariah, Irwan Abdalloh mengatakan tren investor syariah di Bursa Efek Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan rata-ratanya lebih dari 100 persen per tahun.

Jumlah total investor syariah per September 2018 yakni 36.777 rekening, sekitar 4,7 persen dari total investor saham sebanyak 778.763 investor. Investor syariah adalah investor yang membuka rekening efek syariah di anggota bursa yang telah mempunyai syariah online trading system (AB SOTS).

“Trennya terus meningkat setiap tahun, jumlah investor syariah saham Indonesia terus meningkat, dari tahun 2017 sudah meningkat sekitar 59 persen dari 23.207 investor pada 2017 menjadi 36.777 investor pada 2018 per September,” kata dia lansir Republika, Kamis (18/10).

Ia menilai jumlah peningkatan investor syariah lebih besar dari total investor maka market share investor syariah jadi meningkat. Seperti pada 2017 total investor termasuk syariah yakni 628.346 investor. 

Irwan mengatakan itu karena edukasi yang masif di seluruh wilayah Indonesia. BEI berkomitmen pada peningkatan literasi dan inklusi pasar modal syariah di semua daerah.

“Jadi karena kantor perwakilan dengan anggota bursa yang gencar meningkatkan edukasi pasar modal syariah ke seluruh daerah di Indonesia,” kata dia. 

Begini Narasi Saudi atas Terbunuhnya Khashoggi dari Hari ke Hari

TURKI (Jurnalislam.com) – Jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post yang sering menulis kritik tentang Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober. Dia tidak terlihat lagi sejak itu.

Setelah awalnya diam dan menyangkal tuduhan bahwa Khashoggi tidak pernah meninggalkan konsulat, Arab Saudi kini mengakui bahwa Khashoggi terbunuh di dalam konsulat, tetapi tidak menyebutkan di mana jasadnya berada.

Di bawah ini adalah ringkasan yang dirilis Aljazeera, Ahad (21/10/2018) tentang bagaimana Arab Saudi membangun narasi seputar perihal kematian Khashoggi yang berubah-rubah selama beberapa pekan terakhir ketika tekanan internasional meningkat.

2 Oktober

Khashoggi memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul untuk mengambil dokumen yang menyatakan bahwa dia menceraikan mantan istrinya sehingga dia bisa menikah lagi, sementara tunangannya, Hatice Cengiz, menunggu di luar.

Setelah menunggu selama tiga jam, tunangannya bertanya kepada staf konsulat mengenai keberadaannya. Mereka memberi tahu bahwa Khashoggi telah meninggalkan gedung melalui pintu belakang.

5 Oktober

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, MBS mengatakan bahwa Khashoggi pergi setelah “beberapa menit atau satu jam”.

“Pemahaman saya adalah dia masuk dan dia keluar setelah beberapa menit atau satu jam. Saya tidak yakin. Kami sedang menyelidiki ini melalui kementerian luar negeri untuk melihat apa yang terjadi pada waktu itu.”

6 Oktober

Konsulat Arab Saudi di Istanbul dibuka kembali untuk membuktikan bahwa Khashoggi tidak di tempat dan mengatakan bahwa “pembicaraan tentang penculikannya tidak berdasar”, menurut Reuters.

“Saya ingin menegaskan bahwa … Jamal tidak berada di konsulat atau di Kerajaan Arab Saudi, dan konsulat serta kedutaan sedang bekerja untuk mencari dia,” kata konsul jendral Mohammad al-Otaibi kepada Reuters.

8 Oktober

Dalam pesan Whatsapp yang tidak diminta kepada reporter Axios Jonathan Swan, adik lelaki MBS, Pangeran Khaled bin Salman, membantah tuduhan bahwa Arab Saudi memiliki peran dalam kematian Khashoggi.

“Saya jamin bahwa laporan-laporan yang memberi kesan bahwa Jamal Kashoggi hilang di konsulat di Istanbul atau bahwa otoritas kerajaan telah menahannya atau membunuhnya benar-benar palsu dan tidak berdasar,” tulisnya.

“Apakah kamu punya rekaman dia meninggalkan konsulat?” tanya Swan. Reporter itu tidak mendapatkan jawaban.

10 Oktober

Media Turki menerbitkan gambar “tim pembunuh” Saudi yang diduga berjumlah 15 orang dan video gerakan mencurigakan di konsulat Saudi di Istanbul menyusul hilangnya Khashoggi.

Arab Saudi tetap diam ketika gambar-gambar itu diputar di seluruh jaringan televisi di Turki dan dunia, dan tidak menawarkan bukti definitif tentang nasib Khashoggi.

Al Arabiya yang media yang dikuasai Saudi mengkritik liputan media, menulis dalam sebuah artikel: “Misteri atas wartawan Saudi yang hilang Jamal Kashhoggi telah diliputi dengan berita yang salah, sumber yang meragukan dan kampanye media yang diatur.”

11 Oktober

Duta besar Saudi untuk Washington, Pangeran Khalid bin Salman bin Abdulaziz, menggambarkan tuduhan itu sebagai “kebocoran yang berbahaya dan desas-desus buruk” dan mengatakan kerajaan “sangat prihatin” tentang Khashoggi.

Pejabat Saudi mempertahankan pendapat bahwa dia meninggalkan konsulat sesaat setelah masuk, meskipun gagal memberikan bukti untuk mendukung hal itu, seperti rekaman video.

Al Arabiya menulis bahwa tim Saudi yang beranggotakan 15 orang itu adalah “turis yang salah dituduh membunuh Khashoggi”.

12 Oktober

Sebuah delegasi dari Arab Saudi tiba di ibukota Turki, Ankara, untuk penyelidikan atas penghilangan Khashoggi, menurut dua sumber Turki yang dikutip oleh kantor berita Anadolu di negara itu.

Baca juga: Besok Presiden Turki akan Buat Pernyataan atas Terbunuhnya Jamal Khashoggi

13 Oktober

Menteri Dalam Negeri Saudi Abdulaziz bin Saud bin Naif bin Abdulaziz membantah tuduhan mengenai penghilangan dan dugaan keterlibatan atas pembunuhan Khashoggi.

Dia mengatakan bahwa tuduhan tentang perintah untuk membunuh Khashoggi adalah “kebohongan” yang menargetkan pemerintah, menurut media resmi Saudi Press Agency.

15 Oktober

Presiden AS Donald Trump menulis di Twitter bahwa dia telah berbicara dengan Raja Salman, bahwa Raja Saudi “menyangkal informasi apa pun yang mungkin telah terjadi” kepada Jamal Khashoggi.

The New York Times melaporkan bahwa pengadilan Saudi akan segera mengeluarkan narasi bahwa seorang pejabat dalam dinas intelijen kerajaan – yang kebetulan adalah teman Pangeran Mohammed – melakukan pembunuhan Khashoggi.

Menurut narasi itu, putra mahkota menyetujui interogasi atau rendisi (pengiriman) Khashoggi kembali ke Arab Saudi, tetapi pejabat intelijen itu tidak kompeten dan terlalu bersemangat berusaha membuktikan dirinya. Dia kemudian mencoba menutupi penanganan situasi yang gagal.

Menurut dua sumber, CNN juga melaporkan bahwa Arab Saudi sedang mempersiapkan laporan yang akan mengakui bahwa pembunuhan Khashoggi adalah hasil dari “interogasi yang salah”.

Baca juga: Ketika Semua Mata Tertuju ke Turki atas Jawaban Terbunuhnya Khashoggi

Trump menyarankan “pembunuh nakal” bisa bertanggung jawab atas hilangnya Khashoggi secara misterius, penjelasan yang menawarkan sekutu AS, Arab Saudi, kemungkinan jalan keluar dari badai diplomatik global.

Saudi terus menyangkal bahwa mereka membunuh penulis itu.

Setelah panggilan telepon pribadi 20 menit dengan Raja Salman Saudi, Trump mengutip raja yang mengatakan baik dia maupun putranya, MBS, tidak memiliki informasi apa pun tentang apa yang telah terjadi pada Khashoggi.

16 Oktober

Trump berbicara dengan MBS, menyatakan bahwa putra mahkota “sepenuhnya menolak” seluruh informasi tentang apa yang terjadi pada Khashoggi.

Dalam sebuah tweet, Trump mengatakan MBS memberitahunya bahwa Saudi akan segera memperluas penyelidikan atas masalah ini. Jawaban akan datang “segera”, kata presiden.

17 Oktober

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Arab Saudi telah membuat “komitmen serius” untuk meminta para pemimpin senior dan pejabat bertanggung jawab dalam kasus jurnalis yang hilang, jika ada kesalahan yang ditemukan.

Pernyataan Pompeo mengatakan bahwa Saudi mengakui sesuatu telah terjadi pada jurnalis yang hilang itu, tetapi tidak spesifik.

18 Oktober

Sebuah laporan di The New York Times pada hari Kamis menunjukkan penguasa Saudi sedang mempertimbangkan menyalahkan Mayor Jenderal Ahmed al-Asiri atas pembunuhan Khashoggi, mencatat bahwa itu akan memberikan penjelasan yang masuk akal mengenai pembunuhan dan membantu untuk membelokkan opini yang menyalahkan putra mahkota Saudi.

19 Oktober

Asiri dipecat sebagai kepala intelijen deputi Arab Saudi.

Dia telah bertugas sebagai penasihat untuk MBS, yang mempromosikannya ke posisi intelijennya tahun lalu, dan dianggap sebagai salah satu pembantu terdekat MBS.

20 Oktober

Setelah tekanan internasional memuncak beberapa pekan, Arab Saudi akhirnya mengakui bahwa Khashoggi terbunuh di konsulat mereka di Istanbul setelah terlibat perkelahian dengan orang-orang yang dia temui di sana, tetapi tidak menyebutkan di mana jasadnya berada.

“Investigasi masih berlangsung dan 18 warga Saudi telah ditangkap,” kata media pemerintah.

21 Oktober

Seorang pejabat Saudi mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa tim dari 15 warga Saudi yang dikirim untuk menghadapi Khashoggi pada 2 Oktober membunuhnya dengan cekikan di leher setelah “berlebihan dalam melaksanakan” perintah mereka.

Berbicara dengan syarat anonimitas, pejabat itu mengatakan tim mencoba mengintimidasi Khashoggi tetapi ketika pria berusia 59 tahun itu berteriak, tim itu panik.

Mereka kemudian mencoba menahannya lalu mencekiknya dan menutup mulutnya.

Ketika ditanya apakah tim tersebut telah membunuh Khashoggi dengan mencekiknya, pejabat itu berkata: “Jika Anda menempatkan seseorang seusia Jamal dalam posisi ini, dia mungkin akan mati.”

Salah seorang dari tim beranggotakan 15 orang tersebut kemudian mengenakan pakaian Khashoggi untuk membuatnya tampak seolah-olah dia telah meninggalkan konsulat, pejabat itu menambahkan.

Terkait Kasus Khashoggi, Jerman Hentikan Ekspor Senjata ke Saudi

BERLIN (Jurnalislam.com) – Jerman telah mengumumkan pada hari Ahad (21/10/2018) bahwa pihaknya akan menghentikan ekspor senjata ke Arab Saudi di tengah keraguan atas penjelasan Riyadh tentang pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan Christian Democratic Union (CDU) di Berlin, Kanselir Angela Merkel menuntut klarifikasi secepatnya atas pembunuhan Khashoggi.

“Menyangkut ekspor persenjataan, itu tidak dapat terjadi dalam kondisi saat ini,” kata Merkel, lansir Anadolu Agency.

Baca juga: Besok Presiden Turki akan Buat Pernyataan atas Terbunuhnya Jamal Khashoggi

Dia juga menggarisbawahi bahwa Berlin akan mengadakan pembicaraan dengan mitra internasionalnya untuk tanggapan umum.

Khashoggi terakhir terlihat pada 2 Oktober ketika dia memasuki Konsulat Saudi di Istanbul.

Setelah beberapa hari menyangkal mengetahui keberadaannya, akhirnya Arab Saudi pada hari Sabtu mengatakan Khashoggi meninggal dalam keributan di dalam konsulat.

Baca juga: Menlu Arab Akui Khashoggi Tewas di Konsulat Namun Bantah Keterlibatan MBS

Pada hari hilangnya Khashoggi, 15 warga Saudi lainnya, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi konsulat saat dia masih di dalam gedung, menurut sumber-sumber polisi Turki. Semua individu yang diidentifikasi telah meninggalkan Turki.

Tim gabungan Turki-Saudi menyelesaikan penyelidikan atas kasus ini pada hari Kamis lalu (18/10/2018) setelah menyisir kediaman konsul jenderal serta Konsulat Saudi di Istanbul.

Menlu Arab Akui Khashoggi Tewas di Konsulat Namun Bantah Keterlibatan MBS

RIYADH (Jurnalislam.com) – Menteri luar negeri Arab Saudi pada hari Ahad (21/10/2018) akhirnya mengakui bahwa wartawan Jamal Khashoggi tewas di dalam Konsulat Saudi di Istanbul dan putra mahkota “tidak sadar” akan hal itu.

“Putra Mahkota [Muhammed bin Salman- MBS] menyangkal masalah ini, dia tidak menyadari hal ini. Ini adalah operasi yang merupakan operasi jahat,” kata Menteri Luar Negeri Adel al-Jubeir kepada Fox News.

Khashoggi terakhir terlihat pada 2 Oktober ketika dia memasuki Konsulat Saudi di Istanbul.

Setelah beberapa hari menyangkal mengetahui keberadaannya, Arab Saudi pada hari Sabtu mengklaim Khashoggi meninggal dalam pertempuran di dalam konsulat.

Al-Jubeir mengatakan tidak satupun dari mereka yang terlibat dalam pembunuhan Khashoggi memiliki hubungan dekat dengan putra mahkota.

“Ini adalah operasi di mana individu bertindak berlebihan atas tanggung jawab yang mereka miliki dan mereka membuat kesalahan ketika mereka membunuh Jamal Khashoggi di konsulat dan mereka berusaha menutupi itu,” katanya.

Baca juga: Besok Presiden Turki akan Buat Pernyataan atas Terbunuhnya Jamal Khashoggi

Ketika ditanya bagaimana seorang kolumnis 60 tahun bisa melawan 15 pasukan keamanan, al-Jubeir mengatakan: “Saya tidak percaya seluruh 15 anggota tersebut berada di konsulat ketika ini terjadi. Kami menyelidiki setiap anggota individu dari tim tersebut. Kami sedang mencoba mencari tahu bagaimana mereka dikumpulkan.”

Pada hari hilangnya Khashoggi, 15 warga Saudi lainnya, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi konsulat saat dia masih di dalam gedung, menurut sumber-sumber polisi Turki. Semua individu yang diidentifikasi telah meninggalkan Turki.

Dia juga menjawab klaim seorang anggota parlemen AS yang mengatakan “keyakinnya” bahwa putra mahkota “terlibat dan juga mengarahkan” pembunuhan, dengan mengatakan bahwa itu tidak didasarkan pada fakta tetapi emosi.

Baca juga: Erdogan: Buktikan Kalau Wartawan Saudi Tewas di Luar Konsulat Arab

Menyatakan bahwa “itu adalah kesalahan yang luar biasa,” menteri luar negeri Saudi itu menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Khashoggi.

Dia juga mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui detail pembunuhan, dan “di mana jasadnya.”

Tim gabungan Turki-Saudi menyelesaikan penyelidikan atas kasus ini pada hari Kamis lalu (18/10/2018) setelah menyisir kediaman konsul jenderal serta Konsulat Saudi di Istanbul.

Besok Presiden Turki akan Buat Pernyataan atas Terbunuhnya Jamal Khashoggi

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Ahad (21/10/2018) mengatakan akan membuat pernyataan tentang pembunuhan wartawan Saudi, Jamal Khashoggi, pada hari Selasa.

“Mengenai masalah ini [pembunuhan Khashoggi], saya akan membuat pernyataan pada hari Selasa selama pertemuan kelompok [Partai Justice and Development],” katanya pada upacara pembukaan jalur metro tanpa sopir di sisi Asia kota Istanbul.

“Mengapa 15 orang ini datang ke sini [Istanbul], mengapa 18 orang ditangkap [di Arab Saudi]? Ini perlu dijelaskan secara rinci,” katanya.

Baca juga: Ketika Semua Mata Tertuju ke Turki atas Jawaban Terbunuhnya Khashoggi

Erdogan mengatakan bahwa dia akan mengatasi masalah “secara detail” selama pertemuan partai besok pada hari Selasa (23/10/2018).

Khashoggi terakhir terlihat pada 2 Oktober ketika dia memasuki Konsulat Saudi di Istanbul.

Setelah beberapa hari menyangkal mengetahui keberadaannya, Arab Saudi pada hari Sabtu mengklaim Khashoggi meninggal dalam keributan di dalam konsulat.

Baca juga: Erdogan: Buktikan Kalau Wartawan Saudi Tewas di Luar Konsulat Arab

Pada hari hilangnya Khashoggi, 15 warga Saudi lainnya, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi konsulat saat dia masih di dalam gedung, menurut sumber-sumber polisi Turki. Semua individu yang diidentifikasi telah meninggalkan Turki.

Dihadiri Ratusan Emak-emak, Begini Tausiah Astri Ivo Menyoal Perempuan dan Palu

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ratusan ibu-ibu dari berbagai kelompok pengajian di Solo Raya mengikuti Tabligh Akbar di Masjid Baitulamin Cemani, Sukoharjo, Sabtu (20/10/2018).

Selain untuk menambah ilmu, acara itu dalam rangka penggalangan dana untuk pembangunan masjid dan mushola di wilayah terdampak gempa dan tsunami Sulawesi Tengah (Palu, Sigi, dan Donggala).

Tabligh Akbar tersebut diisi oleh Astri Ivo dari Jakarta, mantan artis dengan nama asli Astri Feizaty Ivo.

Dalam pemaparannya, Astri Ivo menyampaikan tentang bagaimana peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana menjadi perempuan ahli surga.

“Allah bukan hanya cinta pada orang yang suci, tapi Allah lebih cinta pada orang-orang yang mensucikan diri,” kata Astri Ivo.

“Lalu bagaimana seorang perempuan bisa mensucikan dirinya?, Yaitu dengan banyak bersedekah,” jelasnya.

Pada akhir pemaparan, Astri Ivo menyampaikan tentang urgensi membantu saudara-saudara korban dari terdampak gempa dan tsunami Sulawesi Tengah, terutama tentang pendirian sebuah masjid dan mushola sebagai pusat kegiatan dan ibadah.

“Di Sulawesi Tengah ibu, ada program pembangunan masjid dan mushola, karena disana (Sulawesi Tengah) masjid dan mushola ada yang roboh,” jelasnya.

“Biaya pembangunan mushola memerlukan dana sekitar 100 juta, bagi ibu-ibu yang mau untuk beramal jariyah bisa menginfaqkan uangnya,” tambahnya.

Sementara itu, Sri Mulyani, koordinator acara pengajian menyampaikan, rasa syukurnya karena telah menjadi bagian untuk meringankan beban wilayah terdampak gempa.

“Alhamdulillah kita bisa ikut serta dalam pembangunan mushola di Sulawesi Tengah.”

“Infaq yang terkumpul sejumlah 109.650.000 dan dua cincin emas,” jelasnya.

Tabligh Akbar yang dimulai setelah salat ashar tersebut berakhir sekitar pukul lima sore, yang diakhiri dengan foto bersama.

6 Warga Khasmir Tewas Dihantam Granat India saat Aksi Protes

SRINAGAR (Jurnalislam.com) – Protes meletus di Kashmir yang dikuasai India setelah enam warga sipil tewas ketika sebuah granat yang gagal meledak akhirnya meledak di lokasi tembak-menembak di distrik selatan Kulgam, kata para pejabat.

Pengawas senior polisi di Kulgam, Harmeet Singh, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Ahad (21/10/2018) bahwa pasukan telah meletakkan garis pembatas di sekitar selusin rumah di desa Laroo di distrik Kulgam sejak adanya informasi spesifik tentang kehadiran pejuang.

“Pada pagi hari, tiga militan yang bersembunyi di salah satu rumah tewas. Terjadi baku tembak dan saling melempar granat dari kedua belah pihak,” kata pejabat itu.

Pejabat itu mengatakan para pejuang adalah penduduk setempat dan berasal dari desa-desa Kashmir selatan, Shopian, Kulgam dan Anantnag.

Baca juga: Mujahidin Kashmir Serang Kamp Militer India, 4 Tentara Tewas

“Ketika pertarungan usai, pasukan membersihkan area itu dan pergi. Penduduk melempari batu dari semua sisi bahkan selama pertempuran. Meskipun diminta untuk tidak mendekati tempat itu, penduduk setempat tetap mendekati lokasi tembak-menembak dan sebuah granat meledak,” dia berkata.

Wakil komisaris distrik, Shamim Ahmad, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa enam warga sipil tewas oleh ledakan granat itu dan 30 lainnya terluka, beberapa dari mereka terluka akibat bentrokan.

“Situasi terkendali dan jam malam telah diberlakukan. Layanan telepon dan internet telah ditangguhkan,” kata pejabat itu.

Setelah berita tentang pembunuhan itu menyebar, penduduk dalam jumlah besar di desa-desa Kashmir selatan turun ke jalan, mengangkat slogan anti-India.

Ribuan pasukan bergegas untuk menjaga jalan-jalan dan jam malam diberlakukan di desa-desa yang bergejolak di distrik itu, menurut para pejabat.

Di banyak tempat, pemuda-pemuda yang melempar batu bentrok dengan pasukan India.

Bashir Ahmad, penduduk lokal dari desa Laroo di Kulgam, mengatakan dia melihat “empat mayat yang tergeletak di tanah setelah ledakan besar”.

“Ketika kerumunan warga mencoba untuk mendekat ke rumah yang terbakar, ada ledakan yang mengguncang bumi. Orang-orang mencoba memadamkan api dan menghentikan api menyebar,” katanya.

“Saya berada agak jauh. Semua orang berlari untuk menyelamatkan diri. Yang terjadi selanjutnya hanyalah asap dan debu. Tampaknya kegelapan melingkupi daerah sekitar. Ketika kami kembali, saya melihat empat mayat dengan mata kepala saya sendiri dan mereka yang masih hidup dibawa ke rumah sakit,” tambahnya.

Penduduk lain, Muhammad Shaban, dari desa yang sama menuduh bahwa “tentara tidak membersihkan lokasi setelah baku tembak selesai”.

“Di Kashmir, warga sipil diperlakukan seperti binatang. Tentara India meninggalkan granat di lokasi. Itu juga terjadi di masa lalu, dan bahkan telah membunuh anak-anak yang bermain-main dengan granat,” kata seorang penduduk.

“Mereka menggunakan amunisi berat bahkan saat bertempur melawan satu pejuang,” kata penduduk desa itu, menambahkan bahwa salah satu dari mereka yang tewas adalah bocah 10 tahun.

Distrik Kashmir selatan telah menjadi pusat protes anti-India dalam dua tahun terakhir setelah pembunuhan komandan pejuang muda Burhan Wani pada Juli 2016. Pembunuhan Wani memicu pejuangan sipil selama lima bulan yang panjang.

Baca juga: Pembantaian Jammu, Genosida Muslim Kashmir oleh Hindu India yang Terlupakan

Pejuang mendapat dukungan luar biasa di kawasan itu, warga sering berbaris menuju lokasi tembak-menembak untuk membantu mereka melarikan diri.

Untuk memprotes pembunuhan itu, para pemimpin pejuang Muslim Kashmir, yang menuntut negara merdeka atau bergabung dengan Pakistan, telah menyerukan penutupan penuh di kawasan itu pada hari Senin.

Sementara itu kekerasan di wilayah tersebut berlanjut sejak Jumat ketika seorang wanita hamil enam bulan tewas dalam baku tembak di desa Pulwama.

Pekan lalu, dua pejuang dan seorang warga sipil tewas dalam baku tembak di pagi hari di kota utama Srinagar, yang memicu bentrokan besar-besaran.

Aktivis hak asasi manusia menuntut penyelidikan “kredibel” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa atas insiden terbaru tersebut.

“Terdakwa mengatakan mereka (warga sipil) dibunuh oleh sebuah granat. Bagaimana kita mempercayainya?” Khurram Parvez, seorang pembela hak asasi manusia yang berbasis di Kashmir, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Tentara menggunakan granat yang berlebihan dan meninggalkan lokasi tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Kami menuntut penyelidikan oleh PBB. Penggunaan kekuatan dan amunisi yang berlebihan juga dipertanyakan,” katanya.

Sentimen anti-India semakin meningkat di antara penduduk mayoritas Muslim di wilayah yang disengketakan itu. Tembak-menembak sering diikuti oleh protes sipil yang sering kali mengakibatkan korban tewas.

Ketika Semua Mata Tertuju ke Turki atas Jawaban Terbunuhnya Khashoggi

TURKI (Jurnalislam.com) – Setelah lebih dari dua pekan menyangkal, Arab Saudi pada hari Sabtu (20/10/2018) mengakui bahwa jurnalis Jamal Khashoggi terbunuh di dalam konsulatnya di kota Istanbul Turki.

Dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di media pemerintah – di tengah malam, pada akhir pekan – kantor jaksa agung Saudi mengklaim pria berusia 59 tahun itu tewas dalam “keributan”.

Penjelasan ini menandai perubahan tajam pengakuan kerajaan yang selalu bersikeras bahwa Khashoggi telah meninggalkan konsulat tak lama setelah dia masuk pada 2 Oktober.

Penjelasan itu juga bertentangan dengan informasi yang bocor dari sumber-sumber keamanan Turki yang tidak disebutkan namanya bahwa Khashoggi disiksa, dibunuh dan dipotong-potong (dimutilasi) di dalam gedung. Khashoggi adalah seorang kritikus terkemuka yang sering mengeluarkan komentar tajam mengenai Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) yang kuat dan berkuasa.

Delapan belas orang ditahan atas pembunuhan Khashoggi, kata kerajaan itu, sambil mengumumkan pemecatan dua pembantu utama MBS serta tiga pejabat intelijen lainnya.

Baca juga: Mantan Ketua M-16: Pangeran Arab di Balik Pembunuhan Khashoggi

Namun, pengakuan itu, yang muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap Riyadh, hanya sedikit mengurangi tuntutan internasional untuk kejelasan.

Setelah Turki mengatakan tidak akan mengizinkan “upaya menutup-nutupi”, Jerman menyebut penjelasan Saudi tersebut “tidak memadai” sementara PBB menekankan perlunya “penyelidikan menyeluruh dan transparan”.

Kelompok-kelompok hak asasi, sementara itu, mendesak PBB untuk terlibat dalam penyelidikan, mengatakan mereka khawatir tentang “pembersihan Saudi” dari keadaan di sekitar pembunuhan Khashoggi.

Inggris, sekutu utama Saudi, mengatakan pihaknya mempertimbangkan laporan Saudi dan “langkah selanjutnya”, sementara sekutu kerajaan di Timur Tengah – Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab dan pemerintah Yaman di pengasingan – memuji tindakan Raja Salman atas Khashoggi.

Ada juga pengecualian lain di antara suara-suara kritis, yaitu Presiden AS Donald Trump.
Bahkan ketika para legislator dari seluruh spektrum politik di Washington mengekspresikan skeptisisme atas narasi Saudi,

Trump pada hari Jumat mengatakan bahwa penjelasan Riyadh dapat dipercaya dan menyebut penangkapan itu sebagai “langkah pertama yang baik”. Sehari kemudian, dia tampak sedikit mengubah nada suaranya dengan mengatakan bahwa dia “tidak puas” dengan penanganan kasus di Saudi, tetapi sekali lagi menekankan pentingnya penjualan senjata Washington senilai multi-miliar dolar ke Riyadh terhadap lapangan pekerjaan di AS.

Di tengah kemarahan dan meningkatnya permintaan akan jawaban pasti, termasuk untuk keberadaan jasad Khashoggi, para analis mengatakan bahwa Saudi – dengan menciptakan “kambing hitam” – bertujuan untuk meredakan krisis selama berpekan-pekan dan membelokkan kesalahan pimpinan Saudi, terutama MBS.

Baca juga: Turki: Kasus Khashoggi Kami akan Sampaikan ke Dunia Secara Tranparan

Putra mahkota ditarik lebih dekat ke kasus ini setelah laporan media mengklaim Khashoggi dibunuh oleh 15 orang “tim pembunuh” yang terbang ke Istanbul dengan dua pesawat sewaan. Salah satu dari 15 tersangka adalah “teman yang sering mendampingi” MBS, menurut The New York Times, sementara tiga orang lainnya dilaporkan terkait dengan jajaran keamanan pangeran mahkota.

Pengakuan Saudi bukanlah “membangun kebenaran”, bantah Andreas Krieg, profesor di King’s College London, tetapi “muncul dengan cerita yang memberikan [kerajaan] pertanggungjawaban yang masuk akal”.

“Itulah yang menurut Donald Trump merupakan alasan untuk lolos,” katanya. “Dan selama dia duduk di depan kamera, mengatakan saya membeli ini dan orang-orang Saudi mengambil tindakan … orang-orang Saudi bisa lolos begitu saja.”

Itulah mengapa bukti audio dan video tentang pembunuhan, menurut informasi dari pejabat Turki yang tidak disebutkan namanya, yang diklaim dimiliki Turki, sangat penting untuk membangun kejelasan, kata Krieg.

Sejak penghilangan Khashoggi, para pejabat Turki yang tidak dikenal telah membeberkan rincian pembunuhannya – sebagian menyeramkan dan mengerikan – ke media.

Seorang pejabat Turki, yang berbicara dengan Al Jazeera pada kondisi anonimitas, mengatakan awal pekan ini bahwa pihak berwenang Turki memiliki rekaman audio yang menunjukkan bahwa Khashoggi tewas di konsulat.

Pekan lalu, koran Turki yang pro-pemerintah, Yeni Safak, mengutip sebuah audio, mengatakan pembunuh wartawan itu memotong jari-jarinya selama interogasi. Tubuhnya kemudian dipenggal dan dipotong-potong (mutilasi), kata laporan itu.

Baca juga: Begini Pesan Terakhir Khashoggi pada Pemuda Arab sebelum Terbunuh

Trump telah meminta Turki untuk berbagi bukti itu, “jika ada”.

Kebocoran itu mungkin telah membantu mendorong pemerintah Saudi untuk membalikkan pendiriannya, kata para analis.

Sultan Barakat, direktur Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan di Institut Doha, mengatakan walaupun Arab Saudi telah berhasil “menemukan kambing hitam” untuk saat ini, akan sulit bagi Raja Salman untuk menolong putranya jika Turki mengungkapkan bukti-bukti tersebut.

Barakat mengatakan kemungkinan keengganan Turki untuk melakukan hal itu bisa jadi karena “tidak dapat mengakui dari mana bukti itu berasal” karena “pemerintah Turki mungkin telah menyadap konsulat Saudi atau menyusup ke konsulat Saudi untuk beberapa waktu – dan itu akan menyulitkan hubungan Turki dengan Arab Saudi”.

Faktor kunci dalam menentukan apakah Turki akan mempublikasikan rekaman audio dan video tampaknya adalah respon AS dalam beberapa hari mendatang, kata Matthew Bryza, mantan diplomat AS dan pengamat Turki senior. Jika Trump “menjadi bagian dari upaya untuk menutupi “pembunuhan itu,” mereka (Turki) akan membocorkan informasi ini, “katanya.

Baca juga: Sebelum Khashoggi Dimutilasi Ajudan Pangeran Salman Terlihat di Konsulat Saudi

Usman Sert, direktur penelitian di Ankara Institute dan mantan asisten mantan Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu, mengatakan dia mengharapkan Turki akan melanjutkan penyelidikan sampai mengungkap “siapa yang berada di balik perintah pembunuhan tersebut.”

Itu karena Turki ingin menunjukkan kepada orang asing bahwa Istanbul dan Turki akan tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi pengunjung, apa pun pandangan politik mereka,”katanya. “Jika elit yang berkuasa diizinkan untuk tetap bebas dengan menyalahkan orang lain, bagaimana mereka bisa meyakinkan dunia bahwa Turki aman?

“Dia juga mencatat para pejabat tinggi Turki telah berjanji untuk mencegah “upaya menutup-nutupi”.

Setelah pengakuan Saudi, Omer Celik, juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party), yang berkuasa saat ini, mengatakan Turki tidak “menuduh siapa pun sebelumnya tetapi kami tidak bisa menutup-nutupi apa pun”. Sementara itu, Numan Kurtulmus, wakil kepala Partai AK, berjanji Turki “tidak akan mengelak untuk berbagi dengan dunia seluruh bukti atas kematian Khashoggi dan tidak akan pernah mengijinkan upaya menutupi kasus yang sadis, menakutkan, tidak manusiawi”.

Sert mengatakan pernyataan Celik dan Kurtulmus harus dinilai “serius” dan mencerminkan komitmen Turki untuk menetapkan kebenaran tentang apa terjadi pada Khashoggi.

Ada faktor-faktor geopolitik yang juga bermain, kata Sert.

Pengamat mengatakan strategi Turki atas pembunuhan Khashoggi, yaitu mengendalikan kebocoran-kebocoran ke media – memberikannya pengaruh politik atas Arab Saudi. Ankara dan Riyadh berselisih di sejumlah isu, termasuk pemboikotan yang dipimpin Saudi terhadap Qatar dan hubungannya dengan Iran.

Kasus tersebut juga memberikan kesempatan bagi Ankara untuk memperbaiki hubungannya dengan Washington, yang telah memburuk karena beberapa perselisihan, termasuk dukungan AS bagi Kurdi di Suriah dan rencana Turki untuk membeli sistem pertahanan rudal Rusia.

Manuver politik inilah yang benar-benar membuat pihak lain khawatir.
Mohammad Cherkaoui, profesor analisis dan resolusi konflik di George Mason University, mengatakan bahwa baik Turki maupun Arab Saudi tidak dapat dipercaya untuk sepenuhnya transparan pada kasus Khashoggi.

“Keprihatinan saya adalah ada kekuatan politik diplomatik yang sangat keras yang telah menekan transparansi penyelidikan hukum oleh Turki, dan hal yang sama akan dilakukan oleh Arab Saudi.

Sambil menyerukan penyelidikan PBB terhadap pembunuhan Khashoggi, Cherkaoui beralasan: “Semakin lama waktu yang dibutuhkan, kasus ini akan semakin menjadi terpolitisasi… dan Anda membutuhkan seseorang yang tidak memiliki investasi politik dalam prosesnya”.