Jurnalis Aljazeera: Serangan Trump di Suriah adalah Taktik Pencitraan (wawancara khusus)

8 April 2017
Jurnalis Aljazeera: Serangan Trump di Suriah adalah Taktik Pencitraan (wawancara khusus)

SURIAH (Jurnalislam.com) – Tentara Amerika Serikat telah menembakkan hampir 60 rudal Tomahawk di sebuah pangkalan udara di Suriah dan hanya menewaskan 5 pasukan Assad. Pangkalan tersebut mereka katakan digunakan oleh pasukan rezim Assad pekan ini untuk meluncurkan serangan kimia mematikan di sebuah kota yang dikuasai faksi-faksi jihad dan oposisi bersenjata di provensi Idlib.

Banyak kalangan menyimpulkan langkah AS di hari Jumat (7/4/2017) tersebut menandai aksi militer langsung pertama yang dilakukan AS terhadap pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang lama Suriah, yang sekarang memasuki tahun ketujuh.

Saat dunia bereaksi dengan memuji terhadap serangan Amerika Serikat, Marwan Bishara, analis politik senior Al Jazeera, memberikan pandangan yang berbeda tentang perkembangan terbaru di Suriah.

Apa yang mendorong AS untuk mengambil tindakan militer langsung terhadap pasukan Assad?

Marwan Bishara: Secara terbuka, pemerintah AS beralasan bahwa tindakan mereka tersebut atas dasar kemanusiaan dan “penting demi kepentingan keamanan nasional”.

Namun saya ragu ada niat baik.

Jika Presiden Donald Trump begitu sangat peduli kepada kemanusian, maka anak-anak Suriah, ia tidak akan menghalangi mereka (pengungsi) memasuki Amerika Serikat. Lagipula, serangan kimia walaupun sangat mengerikan seperti di Suriah itu, kemungkinan juga tidak mengancam keamanan vital nasional AS dimanapun.

Jika, di sisi lain, telah ditetapkan bahwa IS atau al-Qaeda yang melakukan serangan menggunakan gas sarin, maka akan ada perhatian bagi pasukan AS di Suriah.

Ini adalah strategi win-win dan langkah politik pemerintahan Trump. Respon militer ini dimaksudkan untuk menopang popularitas Trump dalam jajak pendapat nanti dan untuk mencitrakan keberanian dan ketegasan (politik pencitraan).

Ini adalah serangan tusukan peniti yang dirancang sebagai respon berisiko rendah yang seolah memberi peringatan pada rezim Suriah, meningkatkan panas pada Rusia, padahal cara membuka jalan bagi keterlibatan AS yang lebih besar untuk ikut campur membentuk masa depan Suriah.

Serangan ini juga menetapkan seolah-olah kemandirian Trump atas Moskow dan membantu menghilangkan beberapa kecurigaan adanya dugaan hubungan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait adanya indikasi intervensi Rusia dalam memenangkan Donald Trump pada pemilu lalu.

Terindikasi Ada Kecurangan pada Pemilu AS, FBI Selidiki Intervensi Rusia

Kecaman Rusia terhadap serangan AS, diikuti oleh keputusan untuk menangguhkan koordinasi dengan angkatan udara AS terhadap Suriah, pada akhirnya justru akan mendukung Trump saat ketegangan mereda.

Apakah Trump merencanakan semua ini sendiri?

Bishara: Sama sekali tidak. Meskipun ia menegaskan bahwa ia tahu lebih banyak dibandingkan para jenderal, Trump terbukti bodoh dan tidak memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai strategi dan kebijakan luar negeri.

Sebagai komandan tertinggi, dia adalah yang memberikan perintah – tapi para jenderal yang ia tunjuk dalam kabinetnya adalah pihak yang berada di belakang keputusan ini dan keputusan lain di masa depan.

Seperti yang saya lihat, Menteri Pertahanan James Mattis, Kepala Keamanan Dalam Negeri John Kelly dan Penasihat Keamanan Nasional H R McMaster adalah trio yang mengendalikan kebijakan keamanan nasional AS.

Tidak seperti mantan Presiden Barack Obama, Trump sejauh ini menempatkan kepercayaan penuh pada para jenderal yang dia tunjuk.

Ketiganya adalah veteran perang AS di Irak dan Afghanistan. Mereka dikenal karena keberanian dan intelektualisme strategis serta aksi yang tidak biasa.

Jadi ketika Mattis bersikeras bahwa penyiksaan itu kontraproduktif dan Amerika tidak akan melakukan penyiksaan, Trump tidak menepati janji kampanyenya yang berniat bertindak lebih menyiksa melampaui waterboarding.

Dan ketika ahli strategi Gedung Putih Steve Bannon melampaui batas-batasnya dengan merekomendasikan larangan bagi Muslim tanpa konsultasi sebelumnya, Kelly – bersama dengan dua jenderal lainnya – menggulingkan dia dari pertemuan Keamanan Nasional.

Itu sebabnya, menurut saya, bahwa setelah selang beberapa waktu, trio ini sekarang mengartikulasikan strategi di Suriah dan Irak. Masih harus dilihat apa langkah-langkah lain yang ada di pikiran mereka.

Seperti apakah akhir permainan sekarang ketika serangan telah dilakukan?

Bishara: Dalam hal strategis dan politis, serangan ini adalah skenario politik berisiko rendah dengan hasil tinggi untuk administrasi Trump. Langkah ini menopang popularitas presiden di antara banyak Demokrat dan media mainstream serta memperoleh banyak pujian dari kekuatan-kekuatan regional dan internasional.

Turki, Arab Saudi dan Israel, serta Inggris, Uni Eropa dan Australia, antara lain, telah menyatakan mendukung serangan AS atas strategi ini.

Hal ini menunjukkan seolah Trump bisa bertindak lebih berani dibanding pendahulunya bila diperlukan. Dan bahwa ia tidak akan pergi ke Kongres sebelum melaksanakan serangan pencitraan itu.

Meskipun terbatas dalam fokus dan sifat, serangan tentara AS di lapangan terbang Shayrat membuka jalan bagi lebih banyak aksi militer yang sama – dan akan meningkatkan posisi AS dalam ikut campur mengenai pembentukan pemerintahan Suriah di masa depan.

Waktu serangan ini juga bertepatan dengan kunjungan Presiden Cina Xi Jinping ke AS.

Serangan ini mungkin juga mengirimkan pesan (gertakan) ke Korea Utara menjelang pembicaraan AS-China di Florida.

Trump memperingatkan pekan lalu bahwa Washington bisa bertindak sendiri jika Beijing tidak menempatkan tekanan yang diperlukan pada Korea Utara untuk menghentikan program nuklir dan rudalnya.