Berita Terkini

MUI Prediksi Iran Akan Balas AS Soal Pembunuhan Jenderalnya

JAKARTA(Jurnalislam.com)—Majelis Ulama Indonesia mengatakan bahwa pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani dapat memicu malapetaka yang lebih besar di masa depan.

Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas mengatakan bahwa kemungkinan Iran tidak akan tinggal diam dan akan membalas Amerika, yang akan membuat keadaan dunia semakin gawat.

“Pembunuhan yang dilakukan secara terencana oleh pemerintah AS ini tentu jelas  akan memantik ketegangan dan ancaman baru karena jelas pemerintah Iran sebagai negara yang berdaulat tidak akan tinggal diam dan akan melakukan pembalasan terhadap apa yang sudah dilakukan oleh  pemerintah AS,” kata Anwar Abbas, Ahad (5/1/2020) dalam keterangan yang diterima Jurnalislam.com.

Bisa jadi, kata Anwar Abbas, Ira dengan caranya sendiri yang mungkin saja tidak  terperhitungkan kapan dan bagaimana bentuknya  oleh AS dan negara lain akan membalas.

“Sehingga tidak mustahil hal demikian akan  bisa menimbulkan bencana dan malapetaka yang jauh  lebih besar lagi.

MUI, tambahnya, meminta Amerika dan negara-negara  adikuasa lain untuk tidak melakukan cara-cara kekerasan dan cara-cara yang tidak beradab dalam menyelesaikan masalah.

“Karena cara tersebut  akan bisa  menimbulkan masalah baru yang lebih rumit sehingga selain tidak mudah  untuk  menyelesaikannya,” kata dia.

Cara itu, dinilai bisa  juga akan menyeret dan merusak  kehidupan rakyat dan masyarakat di negara lain karena naiknya harga minyak dunia dan terganggunya perdagangan internasional yang ada.

 

Terjang Banjir, UBN Bersama Tim AQL Salurkan Bantuan kepada Para Korban

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Tim AQL Peduli bergerak cepat untuk ikut meringankan beban warga yang terdampak banjir di Jakarta.

Penyaluran bantuan disampaikan Tim AQL Peduli bersama Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) di Semanan, Kalideres dan Pesing, Daan mogot, Jakarta Barat.

 

Sekitar pukul 20.00, Jumat (3/1), Tim AQL Peduli tiba di Semanan, menembus gelapnya malam dan menerjang banjir yang masih menggenang hingga 1 meter. AQL Peduli menyalurkan bantuan makanan siap saji, makanan instan, air mineral, susu, perlengkapan bayi, selimut dan pakaian.

 

Bantuan tersebut diserahkan langsung kepada korban banjir yang masih mengungsi di lantai 2 sebuah gedung perusahaan farmasi. Sekitar 100 pengungsi di tempat tersebut ditargetkan menerima bantuan.

 

“Semoga genangan banjir segera surut, dan Allah gantikan musibah ini dengan keadaan yang lebih baik. Allahumma Aamin,” kata Direktur AQL Peduli Ustadz Firman melalui keterangan tertulis yang diterima Jurnalislam.com, Sabtu (04/01/2020).

 

Barang bantuan dibawa oleh relawan dengan bantuan perahu karet dan rakitan agar bisa sampai ke tempat pengungsian. Akses menuju pengungsian ini lumayan sulit dan jauhnya sekitar 2 kilometer.

 

“Sehingga sejak banjir, bantuan yang masuk ke area ini pun tidak merata. Korban di pengungsian jika ingin keluar mencari bantuan dan makan, mengandalkan perahu rakitan seadanya yang terbuat dari bambu dan botol bekas yang mereka temukan, mengingat genangan air masih sepinggang orang dewasa,” katanya.

 

Saat tim AQL Peduli tiba di area pengungsian, sebagian warga sudah beristirahat dengan alas seadanya. Beberapa balita pun terlihat tertidur lelap meski suasananya pengap dan gelap karena aliran listrik belum berfungsi.

 

“Alhamdulillah kedatangan tim AQL Peduli dapat menorehkan senyum para pengungsi, masih banyak yang mereka butuhkan, karena minimnya air bersih, penerangan, pakaian serta bahan makanan,” kata Firman.

 

Tim AQL Peduli juga akan mengirimkan bantuan genset dan perlengkapan penerangan untuk dapat membantu korban di pengungsian ini. Usai membagikan bantuan dan mendata kebutuhan para pengungsi di daerah Semanan, sebagian tim AQL Peduli bergerak melanjutkan penyaluran bantuan ke Pesing, Daan mogot, Jakarta Barat.

 

Tim AQL peduli membagikan bantuan ke tiap rumah warga, dan tetap disambut senyum oleh penerima bantuan. Tepat pukul 00.00, Jumat (3/1), bantuan telah habis tersalurkan. Saatnya tim AQL Peduli kembali beristirahat agar besoknya dapat melanjutkan penyaluran bantuan ke titik terdampak banjir berikutnya.

 

“Bantuan pasca banjir juga akan mereka butuhkan, semisal alat kebersihan, perlengkapan sekolah dan lainnya, akan sangat bermanfaat bagi mereka,” kata Firman.

 

Dia mengajak seluruh kaum muslimin untuk membantu meringankan beban saudara lain yang tertimpa musibah banjir. “Doa dan bantuan kita sangat berarti bagi saudara kita, korban terdampak banjir,” katanya.

 

Bantuan dapat disalurkan melalui Bank Syariah Mandiri (451) 7888804441, atas nama Yayasan Pusat Peradaban Islam.

Agenda Umat 2020: Mengubah Kerumunan Menjadi Gerakan

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ustaz Felix Siauw menyebut ada tugas berat yang harus dilakukan oleh umat Islam agar Islam kembali berjaya di masa depan.

Tugas yang harus dilakukan oleh umat Islam tersebut yaitu mengubah sebuah kerumunan menjadi sebuah gerakan dan sebuah kumpulan menjadi sebuah gerakan.

“Untuk agenda umat saya rasa masih sama, pertanyaannya adalah bagaimana caranya kita mengubah dari kerumunan menjadi sebuah gerakan dan bagaimana caranya mengubah sebuah kumpulan menjadi sebuah kekuatan, itu adalah ini,” katanya kepada Jurnalislam.com di Ponpes Al Mukmin, Ngruki, jum’at, (3/1/201/2020).

Menurutnya, umat Islam di Indonesia masih dapat tahap menjalin persatuan dan merajut ukhuwah diantara kaum muslimin.

“Karena kita sudah berkumpul dari berkerumun tapi kita belum punya satu kekuatan dan belum punya satu program untuk gerakan,” ujarnya.

Sehingga, katanya, di tahun 2020 ini, umat Islam harus serius melaksanakan dua agenda yang akan memberikan kemenangan bagi kaum muslimin.

“Maka kalau kita seandainya mau menang di masa depan maka 2020 tantangannya adalah mengubah kerumunan menjadi sebuah gerakan, mengubah kumpulan menjadi sebuah kekuatan insyaallah,” tandas ustaz Felix.

Banjir Jabodetabek dan Jerat Kapitalisme

oleh Ainul Mizan

Jurnalislam.com – Di awal tahun 2020 ini, Indonesia telah berduka. Hingar bingar malam perayaan tahun baru 2020 diakhiri dengan terjadinya bencana banjir di wilayah Jabodetabek. Termasuk di Jawa Barat dan di Banten.

Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), banjir di Jawa Barat ada 97 titik, di Jakarta ada 63 titik dan di Banten ada 9 titik. Tentunya dengan luasnya wilayah yang terdampak banjir, ini merupakan bencana nasional.

Sedangkan jumlah korban meninggal menurut catatan Kementerian Sosial sebanyak 26 orang. Korban meninggal tersebut berasal dari sejumlah titik banjir di Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Jakarta Utara, Suroto menyatakan bahwa proyek LRT dan jalan tol ibukota yang melewati Kelapa Gading telah mempersempit dan menutup tali air sehingga air tidak bisa mengalir dengan baik ke saluran air yang lebih besar.

Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Teguh Hendrawan menyatakan bahwa para pelaku proyek insfrastruktur tersebut kurang memperhatikan drainase air.

Tak Perhatikan Lingkungan

Yang pasti bahwa pembangunan proyek yang tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan pemicu utama terjadinya banjir. Ditambah lagi sejak Selasa malam, 31 Desember 2019, curah hujan cukup deras.

Patut kiranya kita menilik visi ekonomi yang dicanangkan presiden Jokowi. Pembangunan insfrastruktur akan terus dilanjutkan dan aktivitas investasi akan terus ditingkatkan, lebih – lebih investasi asing.

Pembangunan insfrastruktur berupa pembangunan MRT, LRT, dan ruas jalan tol begitu masif dilakukan. Menurut Jokowi nantinya insfrastruktur akan terhubung dengan pusat – pusat kegiatan ekonomi rakyat. Baik UMKM maupun pertanian rakyat. Terbersit satu pertanyaan, apakah pembangunan insfrastruktur untuk kepentingan rakyat?

Untuk proyek tol yang sudah terwujud sepanjang 1245 km. Target 2019 dan 2020 sudah bisa dioperasikan. Tidak banyak rakyat yang menggunakannya.

Menilik dari upaya peningkatan investasi yang dilakukan dengan 2 langkah yakni proyek insfrastruktur yang masif dan penyederhanaan birokrasi pembangunan dalam investasi.  Tujuannya adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Dalam hal ini aktivitas industri akan ditingkatkan dengan jalan investasi. Sedangkan industri membutuhkan ketersediaan bahan baku.

Dari sini bisa dimengerti kepentingan proyek insfrastruktur yang dihubungkan dengan sumber – sumber kegiatan ekonomi masyarakat. Lagi – lagi yang akan mampu bermain adalah para investor besar dan korporasi.

 

Demikianlah konsepsi ekonomi Kapitalisme. Meningkatkan pertumbuhan menjadi tujuan dari pembangunan ekonomi. Pemerataan ekonomi tidak menjadi perhatiannya. Aplikasinya di lapangan, rakyat diberikan kebebasan untuk bisa survive dalam medan persaingan ekonomi yang kejam. Yang bermodal besar dipandang sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi bangsa.

Tidaklah mengherankan bila kebijakan ekonomi lebih berpihak kepada para pelaku investasi. Bahkan sektor – sektor yang menguasai hajat hidup bangsa pun dijual atas nama investasi.

Pada kuartal II 2019, investasi asing terdapat di sektor listrik, air dan gas senilai USD 1,3 milyar. Sedangkan investasi dalam negeri pada sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi senilai Rp 20,2 trilyun. Pada sektor perkebunan, peternakan dan tanaman pangan senilai Rp 12,6 trilyun. Investasi juga terjadi di industri makanan, konstruksi dan pertambangan.

Demikianlah kebijakan yang beraroma Kapitalisme. Dampak proyek tol yang membabi buta tentunya merugikan. Secara fisik lahan untuk tol adalah bekas pepohonan dan persawahan. Di samping itu tersedia sumber mata air yang mencukupi. Tatkala diubah menjadi tol, serapan air oleh pepohonan menjadi hilang. Akibatnya curah hujan yang tinggi bisa menimbulkan longsor dan banjir. Apalagi di Jakarta selain mendapat kiriman air dari Bogor khususnya kawasan Puncak, dari Bekasi dan saat yang bersamaan terjadi pasang air laut.

Di sisi yang lain, penduduk mau tidak mau harus mencari mata pencaharian lain selain petani. Padahal ketersediaan sumber pangan bagi negara bisa disokong dari lahan persawahan yang dialihfungsikan jadi tol.

Tentunya dari kejadian banjir ini bisa diambil pelajaran penting agar bencana serupa tidak terjadi lagi di waktu mendatang. Mengenai keberadaan kota Jakarta sebagai pusat ibukota, memang sudah tidak layak. Hanya saja yang perlu digarisbawahi bahwa untuk penyiapan ibukota baru tidak bisa mendadak yang ujung – ujungnya pembiayaannya dari utang.

Kebijakan yang ditempuh dalam hal ini adalah mengupgrade setiap wilayah negeri agar layak untuk dijadikan ibu kota. Pembangunan semua wilayah negeri disesuaikan dengan kebutuhannya bukan pendapatan daerahnya.

Sehingga walau terdapat sebuah wilayah yang kecil PAD (Pendapatan Asli Daerah)nya, tetap bisa makmur. Kebijakan demikian juga akan mereduksi keinginan dari suatu wilayah untuk merdeka. Selanjutnya diikuti dengan pemerataan penduduk. Dengan demikian kegiatan perekonomian bergeliat.

Dalam sejarahnya, kekhilafahan Islam berpindah ibukota beberapa kali. Madinah, Kufah, Baghdad, Damaskus, dan Konstantinopel pernah menjadi ibukota sebuah keKhilafahan agung yang wilayahnya hampir 2/3 dunia. Dan semua itu tanpa utang.

Begitu juga pembangunan insfrastruktur digunakan pada hal – hal yang mendukung kebutuhan rakyat. Justru banyak rakyat yang saat ini mengeluhkan fasilitas jalan penghubung yang rusak dan pembuatan jembatan yang bisa menghubungkan desa dengan kota.

Ini yang perlu diperbaiki. Sedangkan pembangunan jalan tol dan rel kereta disesuaikan dengan kebutuhan. Yang paling penting adalah untuk kepentingan pertahanan negara dan terurainya macet. Itupun memperhatikan keseimbangan alam sesuai tata ruang kota.

Sultan Abdul Hamid II pernah membuat jalur kereta api dalam rangka pertahanan negara dari serbuan negara kolonial saat itu. Tidak lantas pembuatan jalan tol dan kereta api semata untuk kepentingan investasi dan korporasi.

Negara dalam mengelola SDA tidak mengundang investor dari pemodal dan korporasi. SDA itu sepenuhnya dikelola negara dan untuk sebesar – besar kemakmuran rakyat.

SDA tidak untuk diprivatisasi dalam bentuk investasi. Tenaga ahli dan korporasi diposisikan negara dengan akad kerja. Dengan begitu, sepenuhnya hasil dari pengelolaan SDA dikelola negara untuk pembangunan.

Di samping itu, pengelolaan sepenuhnya oleh negara tidak memberi peluang pemodal dan korporasi yang hanya mengejar keuntungan dalam mengelola SDA dengan menimbulkan kerusakan lingkungan dan bencana longsor serta banjir.

Itulah beberapa cara Islam di dalam hal menanggulangi banjir ibukota dan pembangunan insfrastruktur yang ramah lingkungan.

Tentunya kembali lagi kepada political will dari penguasa negeri ini untuk mengambil solusi Islam dalam setiap permasalahan, seraya meninggalkan solusi – solusi Kapitalisme yang justru hanya menimbulkan bencana dan kerusakan.

 

#Penulis tinggal di Malang

Peran Penting Kaum Muslimah Membangun Peradaban di Era Dakwah Milenial

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ustaz Felix Siauw menyebut muslimah dapat memberikan kontribusi yang besar dalam kebangkitan Islam, hal itu ia katakan saat memberikan materi dalam tabligh akbar di Masjid Baitussalam komplek Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Jum’at (3/1/2020).

Dalam tabligh akbar bertajuk ‘Citra Diri Wanita di Era Konspirasi Dunia’ itu, ia menjelaskan tentang pentingnya muslimah bagi dakwah di era digital seperti saat ini.

“Ketika mereka berdakwah di era milenial karena muslimah itu mengambil peran yang sangat besar di era milenial,” katanya di hadapan ribuan muslimah Soloraya yang ikut dalam tabligh akbar tersebut.

“Kalau muslimah muslimah ini bisa mumpuni, bisa memberikan kontribusi besar maka saya yakin dari muslimah inilah muncul kebangkitan Islam, saya yakin karena dari data data seperti itu,” imbuhnya.

Untuk itu, ia berpesan kepada para muslimah agar senantiasa membekali diri dengan ilmu agama yang cukup agar dapat menyiapkan generasi terbaik untuk kembali membawa kejayaan Islam di dunia.

“Mereka adalah rahim peradaban, terutama zaman sekarang, maka yang mereka perlukan adalah mendidik dirinya sendiri dan persiapan untuk generasi generasi kedepan,” ujarnya.

“Karena tanpa dididik muslimah tidak akan muncul dari umat ini generasi terbaik yang nanti akan menegakan Islam,” pungkasnya.

Ustaz Felix Sayangkan Adanya Upaya Politisasi Banjir Jakarta

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Ustaz Felix Siauw menyayangkan adanya sejumlah pihak di antara warganet yang melakukan politisasi musibah atas bencana banjir yang melanda Jabodetabek di awal tahun 2020 saat ini.

“Saya sangat menyayangkan bahwa musibah itu dipolitisasi untuk menyerang orang yang tidak disukai ataupun tokoh yang dianggap bertanggungjawab,” katanya kepada Jurnalislam.com di Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Jum’at (3/1/2020).

Padahal, katanya, mungkin sejatinya adalah ini semacam seperti dendam, karena ada ketidaksukaan mereka akan pendukung satu orang tertentu kemudian lengser.

“Lantas ini disalahkan semua umat muslim, dan seolah olah yang menjadi target tembak orang tertentu, atau yang sekarang misalnya diserahkan pengelolaan daripada jakarta dan sekitarnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, sebagai sesama anak bangsa, ia meminta kepada semua pihak untuk bisa memberikan bantuan kepada korban musibah banjir dan bencana lainnya.

“Padahal kalau kita melihat bisa jadi memang ada salah pengelolaan, tapi kita tidak mau untuk mempolitisir dengan kayak efek efek negatif dari musibah ini,” paparnya

“Maka kita harus hentikan yang semacam ini kalau mampu bantu ya bantu, kalau tidak mampu ya doakan tapi jangan memperkeruh suasana,” pungkas Ustaz Felix.

Soal Banjir Jabodetabek, Ini Kata Ustaz Felix Siauw

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Da’i muda keturunan Thionghoa, Ustaz Felix Siauw ikut berbelasungkawa atas terjadinya bencana banjir yang melanda wilayah Jabodetabek dan sejumlah daerah di Indonesia.

Menurutnya, sebagai umat Islam, kita wajib untuk memberikan semangat dan motivasi kepada mereka yang sedang mendapatkan ujian dari Allah tersebut.

“Pertama kita berbelasungkawa karena bagaimanapun juga orang yang tertimpa musibah itu, harus kita semangati, harus kita berikan harapan, harus kita naikan kemudian,” katanya kepada Jurnalislam.com di Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Jum’at (3/1/2020).

“Kita memohon ampun kepada Allah, beristigfar kepada Allah karena dalam pandangan Islam itu musibah bukan hanya sebuah kesalahan manusia tapi bagian daripada ujian daripada Allah terhadap manusia itu sendiri,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menghimbau kepada semua pihak untuk introspeksi dan muhasabah diri atas ujian yang diberikan Allah tersebut, kemudian, katanya, melakukan perbaikan atas kesalahan yang dilakukan di masa lalu.

“Yang kedua kita melihat apa pola pola hidup kita, ataupun pengelolaan pengelolaan yang bisa diperbaiki dari bencana itu,” ujarnya.

Dan yang berikutnya, katanya, adalah tentu adalah setiap ujian itu bukan permasalahan ujiannya, tapi permasalahan jawabannya dari ujian itu.

“Maka jawaban yang paling tepat dari ujian itu adalah dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’tala,” pungkasnya.

Anwar Abbas: Buya Yunahar Adalah Ulama yang Rendah Hati

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, mengenang kedekatannya dengan sosok Buya Yunahar Ilyas. Buya Anwar menuturkan, Buya Yunahar adalah ulama yang rendah hati.

“Beliau adalah seorang ulama yang berpengetahuan luas sehingga beliau sering dipanggil oleh teman-teman dan murid serta jamaahnya dengan ‘buya’,” katanya, Jumat (3/1/2020).

Selain itu, ceramah-ceramah Buya Yunahar selalu menarik karena di setiap tausiahnya ada saja sesuatu yang baru, menggelitik hati, dan pikiran jamaah yang dia selipkan. Dengan begitu, setiap pengajian yang dihadiri selalu hidup dan ramai jamaahnya.

“Bidang keahlian beliau (Yunahar) yang menonjol adalah dalam ilmu tafsir yaitu suatu cabang keilmuan dalam Islam yang sangat sarat dengan perbedaan pendapat,” ujarnya.

Menurut Anwar, ini tampaknya juga telah membentuk sikap dan cara pandang Buya Yunahar. Dengan begitu, dalam hidup bermasyarakat dan berorganisasi yang terkadang sangat tinggi dinamika dan perbedaan pendapat yang dihadapi, Yunahar tampak tidak mengalami banyak kesulitan karena sudah terbiasa menghadapi perbedaan pendapat dan melihat suatu masalah dari berbagai perspektif.

“Beliau oleh teman-teman di PP Muhammadiyah dipercaya dalam dua periode kepemimpinan ini untuk membidangi masalah tarjih dan dakwah, dua bidang yang memang sangat beliau kuasai,” ucapnya.

Sementara di Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Yunahar juga pernah menjadi ketua yang membidangi masalah pengkajian dalam periode 2010-2015.

“Terakhir, dalam Munas MUI Tahun 2015 di Surabaya ditunjuk oleh Munas (Musyawarah Nasional) menjadi salah seorang wakil ketua umum MUI mendampingi KH Maruf Amin sebagai ketua umum MUI untuk periode 2015-2020,” katanya.

MUI Imbau Pemerintah Pusat dan Daerah Duduk Bersama Bahas Solusi Banjir

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Awal tahun 2020, sejumlah wilayah di Jadetabek terkena banjir akibat curah hujan yang tinggi sejak 31 Desember 2019 siang.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau warga untuk tak saling menyalahkan terkait banjir ini.

MUI juga mengimbau pemerintah segera mencari solusi atas permasalahan banjir yang melanda sejumlah wilayah, sehingga diharapkan di masa mendatang banjir tak lagi terjadi.

“MUI mengimbau kepada pihak yang terkait, terutama pemerintah Jabar, Banten, dan DKI Jakarta serta pemerintah pusat untuk bisa duduk bersama mencari solusi yang lebih baik sehingga di tahun-tahun mendatang, meskipun hujan turun dengan deras, banjir tidak seperti yang ada sekarang,”kata Sekjen MUI Anwar Abbas dalam keterangannya, Kamis (02/01/2020).

Lebih lanjut MUI mengimbau masyarakat bergotong royong membantu korban banjir. Selain itu, MUI berharap warga yang menjadi korban dapat tabah dan sabar menghadapi banjir.

“Dan kepada masyarakat diimbau untuk bisa mengulurkan tangan serta membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan agar beban material dan kejiwaan yang mereka pikul menjadi lebih ringan,” pungkas Anwar.

MUI: Jangan Saling Menyalahkan Jika Terjadi Bencana

JAKARTA(Jurnalislam.com) – Awal tahun 2020, sejumlah wilayah di Jabodetabek terkena banjir akibat curah hujan yang tinggi sejak 31 Desember 2019 siang.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau warga untuk tak saling menyalahkan terkait banjir ini.

“MUI mengimbau agar dalam menghadapi masalah dan musibah ini kita jangan saling menggugat dan atau saling menyalahkan atau hanya menyalahkan kepada salah satu pihak karena masalah ini sangat kompleks dan membutuhkan pendekatan yang holistik dan kerja sama dari banyak pihak,” kata Sekjen MUI Anwar Abbas dalam keterangannya, Kamis (02/01/2020).

MUI juga mengimbau pemerintah segera mencari solusi atas permasalahan banjir yang melanda sejumlah wilayah, sehingga diharapkan di masa mendatang banjir tak lagi terjadi.

“MUI mengimbau kepada pihak yang terkait, terutama pemerintah Jabar, Banten, dan DKI Jakarta serta pemerintah pusat untuk bisa duduk bersama mencari solusi yang lebih baik sehingga di tahun-tahun mendatang, meskipun hujan turun dengan deras, banjir tidak seperti yang ada sekarang,” ujarnya.

Lebih lanjut MUI mengimbau masyarakat bergotong royong membantu korban banjir. Selain itu, MUI berharap warga yang menjadi korban dapat tabah dan sabar menghadapi banjir.

“Banjir tahun ini benar-benar dahsyat, sehingga mendatangkan kerugian yang cukup besar. MUI mengimbau masyarakat yang ditimpa oleh musibah supaya tetap tabah dan sabar dalam menghadapi ujian ini. Mudah-mudahan dengan demikian Allah SWT akan mengganti semua kerugian yang didapat dengan yang lebih baik lagi,” kata Anwar.

“Dan kepada masyarakat diimbau untuk bisa mengulurkan tangan serta membantu saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan agar beban material dan kejiwaan yang mereka pikul menjadi lebih ringan,” pungkas Anwar.