Berita Terkini

Bentrokan Juga Berkobar di Gaza, Pasukan Zionis Tembaki Langsung Para Pengunjuk Rasa

GAZA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya empat warga Palestina terluka di Gaza setelah tentara Israel menembakkan amunisi langsung ke puluhan demonstran yang berkumpul di timur Khan Younes, di bagian selatan wilayah pesisir, menurut kantor berita Palestina, Wafa, Kamis (7/12/2017), Aljazeera melaporkan.

Trump, yang mengabaikan peringatan dari masyarakat internasional, mengumumkan pada hari Rabu bahwa AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memulai proses perpindahan kedutaannya ke kota tersebut, yang melanggar kebijakan AS selama puluhan tahun.

Keputusan tersebut dikutuk oleh para pemimpin dunia yang menggambarkannya sebagai “eskalasi berbahaya” dan sebuah paku terakhir di peti mati perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina.

Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka, sementara Israel mengatakan bahwa kota tersebut, yang berada di bawah pendudukan Israel, tidak dapat dibagi.

Ribuan Warga Gaza Bentrok dengan Serdadu Zionis dalam Aksi Protes Ibukota Israel

“Pengumuman Trump” berpotensi untuk mengirim kita mundur ke masa yang lebih gelap daripada yang telah kita jalani,” kata Federica Mogherini, perwakilan tinggi Uni Eropa untuk urusan luar negeri.

Dalam sebuah pidato di Kota Gaza pada hari Kamis, pemimpin Hamas Ismail Haniya mengatakan bahwa keputusan AS adalah sebuah “deklarasi perang melawan warga Palestina”, dan meminta sebuah Intifadah baru, atau pemberontakan.

Haniya mengatakan pengakuan Presiden AS Donald Trump “membunuh” proses perdamaian Israel-Palestina.

“Keputusan ini membunuh proses perdamaian, membunuh Oslo, dan membunuh proses penyelesaian,” katanya.

Pemimpin Hamas: Keputusan AS adalah Deklarasi Perang

“Keputusan AS adalah sebuah agresi, sebuah deklarasi perang terhadap kita, di tempat-tempat terbaik bagi Muslim dan Kristen di jantung Palestina, Yerusalem. Kita harus berupaya meluncurkan sebuah Intifadah di hadapan musuh Zionis,” kata Haniya.

Warga Palestina telah meminta hari kemarahan selama tiga hari untuk menanggapi pengumuman Trump pada hari Rabu, dan untuk menutup sekolah dan toko lokal.

Harry Fawcett dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Yerusalem Timur pada hari Kamis, mengatakan sebuah demonstrasi berskala kecil telah berlangsung hampir sepanjang hari di luar Gerbang Damaskus, pintu masuk utama Kota Tua.

“Ada banyak kemarahan dan ketidakpercayaan atas apa yang telah keluar semalam dari Gedung Putih,” katanya.

Polisi pendudukan Israel, sementara itu, berusaha untuk memecah demonstrasi tersebut dan menyita bendera Palestina, dia melaporkan.

Ribuan Warga Gaza Bentrok dengan Serdadu Zionis dalam Aksi Protes Ibukota Israel

GAZA (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Palestina turun ke jalan-jalan di Yerusalem, Tepi Barat dan Jalur Gaza memprotes keputusan AS yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sebuah langkah kontroversial yang membangkitkan ketegangan di Palestina dan di seluruh negeri tersebut.

Di Tepi Barat yang dijajah Israel, warga Palestina bentrok dengan pasukan Israel di beberapa kota sepanjang hari Kamis (7/12/2017).

Sedikitnya 49 warga Palestina terluka dalam demonstrasi tersebut, dan 16 lainnya dikirim ke rumah sakit, menurut otoritas kesehatan setempat di Tepi Barat.

Pemimpin Hamas: Keputusan AS adalah Deklarasi Perang

Hoda Abdel-Hamid dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Ramallah, mengatakan bahwa bentrokan tersebut mereda setelah ” konfrontasi yang cukup kuat selama beberapa jam antara pemuda dan tentara Israel”.

Pengunjuk rasa Palestina berkumpul di alun-alun Al Manara tengah di Ramallah dan bergerak menuju El Bireh, di mana mereka disambut oleh tentara Israel yang menembakkan gas air mata dan peluru karet.

Protes juga digelar di Hebron, Nablus, Jenin, Tulkarem dan Jericho di Tepi Barat, menurut kantor berita Anadolu, serta di Yerusalem Timur dan Jalur Gaza.

Tidak Ketinggalan, Uni Afrika dan MJC juga Kutuk Keputusan Donald Trump

JOHANNESBURG (Jurnalislam.com) – Uni Afrika mengutuk keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota resmi Israel, dengan mengatakan bahwa ini dapat menggagalkan proses perdamaian Timur Tengah.

Ketua Komisi Uni Afrika Moussa Faki mengatakan pada hari Kamis (7/12/2017) dalam sebuah pernyataan bahwa dia “menyesalkan keputusan yang hanya akan meningkatkan ketegangan di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya”, Anadolu Agency.

Dia mengulangi solidaritas Uni Afrika dengan rakyat Palestina dan dukungannya terhadap pencarian sah mereka untuk sebuah negara merdeka, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

Sementara itu, kelompok Muslim dan organisasi hak-hak sipil lainnya juga mengecam keputusan presiden AS.

Pemimpin Mozambik, Asiosiasi Muslim Malawi dan Kongres Nasional Afrika Kecam Keras Trump

Dewan Yudisial Muslim Afrika (Muslim Judicial Council-MJC) mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis bahwa pengumuman Trump dapat memicu konflik dan konfrontasi keagamaan di Timur Tengah karena kota Yerusalem suci bagi tiga agama monoteistik terbesar dunia tersebut.

“Bukan hak AS atau pemerintah atau orang lain untuk memutuskan kota mana yang harus menjadi ibu kota negara manapun,” kata Presiden MJC Syaikh Irafaan Abrahams.

Abrahams mengatakan dengan memindahkan kedutaannya, AS akan terlibat dalam aneksasi ilegal Yerusalem di Yerusalem dan akan menghancurkan setiap peluang negara Palestina yang damai dan layak dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

“Kami mendesak agar PBB melindungi hak-hak rakyat Palestina sebagaimana dinyatakan dalam resolusi internasional,” katanya.

Pemimpin Mozambik, Asiosiasi Muslim Malawi dan Kongres Nasional Afrika Kecam Keras Trump

MOZAMBIK (Jurnalislam.com) – Pemimpin Muslim Mozambik Sheikh Ameen Uddin pada hari kamis (7/12/2017) juga mengecam keras keputusan Trump dengan mengatakan: “Kami khawatir hal ini dapat menyebabkan lebih banyak konflik dan menciptakan lebih banyak ekstremis di wilayah ini.”

Dia mengatakan bahwa Trump telah membuat keputusan yang salah dan harus mempertimbangkan untuk memperbaikinya, karena Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa dan negara-negara Muslim semua tidak setuju dengan pengumumannya atas Yerusalem.

International Aqsa Institute: Menolak Al Quds Sebagai Ibukota Israel Bukan Berarti Mengakui Tel Aviv

Sheikh Dinala Chabulika dari Asosiasi Muslim Malawi menggambarkan keputusan Trump sebagai sesuatu yang menyedihkan dan tidak dapat diterima.

“Sebagai Muslim kita tidak dapat menerima keputusan seperti itu, kecuali jika Trump mencabutnya,” katanya, menambahkan bahwa mereka sangat kecewa dengan pengumuman tersebut, lansir Anadolu Agency.

Pemimpin Hamas: Keputusan AS adalah Deklarasi Perang

Bram Hanekom, anggota Kongres Nasional Afrika (African National Congress-ANC) yang berkuasa di Afrika Selatan dan seorang aktivis pro-Palestina mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa mereka ingin ANC mempercepat kebijakannya untuk menurunkan hubungan diplomatik dengan Israel.

Selama konferensi kebijakan ANC pada bulan Juli, partai tersebut mengadopsi sebuah rekomendasi untuk menurunkan posisi Kedubes Afrika Selatan di Israel ke kantor penghubung untuk mengurangi hubungan diplomatik.

Partai tersebut mengatakan bahwa saat itu Israel terus memperlakukan Palestina dengan kekerasan bukannya mencoba mencapai kesepakatan.

Begini Pembicaraan Erdogan dan Putin Tentang Isu Yerusalem dalam Sambungan Telepon

ANKARA (Juralislam.com) – Presiden Recep Tayyip Erdogan dan presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis (7/12/2017) mengadakan percakapan telepon untuk membahas pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel, menurut sumber presiden Turki, lansir Anadolu Agency.

Percakapan telepon tersebut terjadi sehari setelah Donald Trump mengumumkan bahwa AS mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel “yang tak terbagi” dan akan memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem meskipun mendapat tentangan internasional yang meluas.

Turki Kutuk Keputusan AS Jadikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Memperhatikan bahwa keputusan Israel untuk mencaplok Yerusalem pada tahun 1980 ditolak oleh masyarakat internasional dan PBB, Erdogan menekankan bahwa langkah yang diambil oleh pemerintah AS baru-baru ini akan berdampak negatif terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan ini, kata sumber tersebut.

Sumber tersebut menambahkan bahwa Putin berbagi pandangan yang sama dan menyatakan bahwa mereka akan membawa isu-isu ini di Dewan Keamanan PBB.

Pemimpin Hamas: Keputusan AS adalah Deklarasi Perang

Yerusalem tetap menjadi inti konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – dapat menjadi ibu kota negara Palestina masa depan.

Menjelang pemilihannya tahun lalu, Trump berulang kali berjanji untuk merelokasi Kedutaan Besar AS ke Yerusalem.

Pasukan Israel Mulai Serang Gaza dengan Pesawat Tempur dan Tank

GAZA (Jurnalislam.com) – Pasukan zionis mulai menyerang Gaza Kamis malam (7/12/2017) dengan pesawat tempur dan tank, Anadolu Agency melaporkan.

Militer zionis mengatakan pihaknya menembaki dua sasaran pejuang Islam untuk membalas tiga serangan roket dari Gaza pada hari sebelumnya.

Serangan roket Israel dilaporkan mendarat di Jalur Gaza dan di lapangan kosong di Israel selatan, tanpa melukai siapa pun.

Pemimpin Hamas: Keputusan AS adalah Deklarasi Perang

Laporan terakhir dari wilayah ini muncul setelah keputusan Presiden AS Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel yang dikecam masyarakat Internasional.

Pada hari Rabu, Trump mengumumkan pemindahan kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem – sebuah langkah yang menarik banyak reaksi negatif dari kaum Muslim di seluruh dunia.

Begini Seruan Al Qaeda Global Terkait Isu Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Rocket Hamas
Rocket Hamas

Pencaplokan Al Quds, Dari Politik Balas Budi Trump Hingga Lemahnya Negara-negara Muslim

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerhati Timur Tengah, Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi mengatakan, pemindahan kedutaan AS ke Al Quds sekaligus menjadikannya ibukota baru Israel sudah sejak lama direncanakan.

“Dari Clinton, George Bush dan Obama terakhir itu masih berpikir ulang akan dinamika politik global di Timur Tengah kalau sampai dipindahkan,” kata Ketua Divisi Kajian Global Centre for Islamic and Global Studies (CIGS) itu kepada Jurnalislam.com, Kamis (7/12/2017).

Namun di tangan Donald Trump rencana itu akhirnya diwujudkan. Menurut Pizaro, salah satu alasannya adalah balas budi Trump kepada Israel atas kemenangannya menjadi Presiden Amerika ke 45 dalam pemilu 2016 lalu. Partai Republik yang merupakan partai pengusung Donald Trump dikenal mempunyai hubungan dekat dengan Israel.

“Nah ini mungkin salah satu utang yang dibayar Donald Trump dengan memindahakan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem, ini sebenarnya hanya langkah awal pengakuan akan eksitensi Yerusalem sebagai ibukota Israel jadi ada semacam hutang budi gitu,” papar Pizaro yang juga menjabat Sekjen Jurnalis Islam Bersatu (JITU) itu.

Lemahnya tekanan negara-negara Muslim juga dinilai Pizaro sebagai salah satu sebab Israel semakin berani bertindak. Arab Saudi misalnya, dalam beberapa hal Saudi justru sejalan dengan kepentingan Israel seperti ketika Saudi menetapkan Hamas sebagai organisasi teror.

“Ketika saudi menetapkan Hamas sebagai teroris itu disambut baik oleh Israel, diaplause, dan menganggap ini sebagai bukti bahwa Saudi dan Israel tidak ada apa-apa. Jadi Israel juga melihat kelemahan beberapa negara-negara muslim tidak punya kekuatan berhadapan dengan Israel,” imbuhnya.

Kecam Presiden AS, PBNU: Yerussalem Ibukota Palestina

Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi

Adapun negara-negara yang dinilai paling depan membela rakyat Palestina seperti Turki dan Qatar pun terus dilemahkan. Turki tidak bisa jalan sendiri tanpa dukungan negara-negara yang tergabung di OKI. Begitu juga Qatar yang justru diboikot oleh negara-negara muslim lainnya seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir dan Arab Saudi.

“Disinilah Israel muncul tampil berani di tengah tercerai-berainya bangsa-bangsa arab dan negara teluk yang seharusnya menjadi penyangga paling depan terhadap perjuangan bangsa Palestina,” kata Pizaro.

Lebih lanjut Pizzaro menjelaskan, pengakuan Al Quds sebagai ibukota Israel harus direspon cepat oleh umat Islam. Sebab, kata dia, Al Quds merupakan kota suci tiga agama Islam, Kristen dan Yahudi dan Resolusi 476 DK PBB tahun 1980 telah menetapkan bahwa daerah itu harus disterilkan dari pendudukan Israel.

Dengan pengakuan Trump tersebut, lanjut Pizaro, Al Quds akan berubah menjadi kota politik dan menjadi milik kaum Yahudi sepenuhnya.

“Nah ini seharusnya kaum muslimin sudah bergerak melakukan gerakan massa, melakukan aksi, tuntutan, menggiring opini, hingga Israel dan AS itu mencabut keputusannya sebagaimana dulu umat Islam melakukan aksi massa menolak blokade Al Aqsha dan Israel mendapat tekanan kuat dari berbagai negara dan dia mencabut blokadenya,” tutupnya.

Pemimpin Hamas: Keputusan AS adalah Deklarasi Perang

GAZA (Jurnalislam.com) – Pemimpin Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniya mengatakan bahwa keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah sebuah “deklarasi perang melawan orang-orang Palestina”, dan menyerukan “Intifadah” baru, atau perlawanan rakyat.

Haniya mengatakan dalam sebuah pidato di Kota Gaza pada hari Kamis (7/12/2017) bahwa pengakuan Presiden AS Donald Trump “membunuh” proses perdamaian Israel-Palestina.

“Keputusan ini membunuh proses perdamaian, membunuh Oslo, dan membunuh proses penyelesaian,” katanya.

Abaikan Kecaman Dunia, Trump Resmikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel

“Keputusan AS adalah sebuah agresi, sebuah deklarasi perang terhadap kita, di tempat-tempat terbaik bagi kaum Muslim dan orang Kristen di jantung Palestina, Yerusalem.”

“Kita harus berupaya meluncurkan intifada di hadapan musuh Zionis,” kata Haniya.

Ismail Haniya
Ismail Haniya

Beberapa jam setelah pidatonya, para pemrotes Palestina turun ke jalan-jalan kota-kota Tepi Barat yang diduduki, termasuk Ramallah, Hebron dan Nablus, serta di Jalur Gaza, untuk melampiaskan kekecewaan mereka atas keputusan AS tersebut.

Haniya menekankan fakta bahwa Palestina melihat Yerusalem sebagai kota bersatu dan ibukota negara mereka di masa depan.

“Yerusalem, seluruh Yerusalem, adalah milik kita,” tegasnya.

“Kami berada di sini hari ini pada titik kritis dalam sejarah isu Palestina dan inti dari masalah ini adalah Yerusalem, sebuah titik kritis dalam sejarah negara-negara Arab dan Muslim setelah keputusan provokatif dan tidak adil yang diadopsi oleh pemerintah AS.”

Dia meminta semua faksi Palestina untuk bersatu dengan cepat “agar memiliki strategi untuk menghadapi pendudukan dan kebijakan pemerintah AS di dalam wilayah Palestina”.

“Kami mendesak, kami meminta dan kami menekankan perlunya menata ulang situasi Palestina untuk menghadapi plot berbahaya ini dan untuk menempatkan prioritas kami dengan jelas menghadapi keputusan provokatif dan yang tidak adil tersebut,” katanya.

Tanggapi Ancaman AS dan Israel, Hamas: Kami Tidak akan Tinggalkan Perlawanan Bersenjata

Trump, yang mengabaikan peringatan dari masyarakat internasional, mengumumkan pada hari Rabu (6/12/2017) bahwa AS secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memulai proses perpindahan kedutaannya ke kota tersebut, yang melanggar kebijakan AS selama puluhan tahun.

Pada hari Kamis, Mustafa Barghouti, sekretaris jenderal Inisiatif Nasional Palestina, yang berbicara dengan Al Jazeera dari Ramallah, mengatakan bahwa Trump “bergabung dengan Israel dalam kejahatan perang dan mengkonfirmasikan aneksasi Wilayah Palestina yang diduduki”.

“Saya berharap Otoritas Palestina tidak mau bertemu dengan tim Amerika ini lagi,” katanya.

“Israel memutuskan menginginkan segalanya, mereka menginginkan segalanya, kita juga akan berjuang untuk semuanya,” katanya.

“Kita mungkin berbicara tentang pemberontakan yang populer tapi tanpa kekerasan, mirip dengan intifada pertama, itu yang kita butuhkan. Israel harus melihat perlawanan Palestina di seluruh negeri.”

Pengakuan Al Quds Sebagai Ibukota Israel adalah Pelecehan Terhadap Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Komite Nasional untuk Solidaritas Palestina (KISPA) mengecam keras pengakuan Al Quds sebagai ibukota Israel oleh presiden Amerika Donald Trump. Tindakan tersebut dinilai sebagai bentuk arogansi dan permusuhan Trump terhadap umat Islam.

“Rencana Pemindahan Kedutaan Besar AS ke kota suci Al-Quds dan mengakuinya sebagai ibukota Israel, jelas dan nyata telah melakukan pelecehan terhadap kemuliaan tanah suci dan tanah wakaf umat Islam,” kata Ketua KISPA, Ferry Nur dalam pernyataan tertulis kepada Jurnalislam.com, Kamis (7/12/2017).

Untuk itu, ia menyeru umat Islam untuk menyatukan barisan dan meningkatkan kepeduliannya kepada Palestina.

“Mendukung pemerintah Indonesia untuk terlibat aktif mencegah dijadikannya kota suci Al Quds sebagai ibukota Israel,” katanya.

Ia juga menyeru kepada pemimpin negara Muslim untuk bersatu dan bertindak cepat bagi kemerdekaan bangsa Palestina dengan ibukotanya kota suci Al Quds.

Pemindahan Ibukota Israel Untuk Permudah Migrasi Massal Umat Yahudi ke Palestina

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengakuan sepihak Yerussalem menjadi Ibukota Israel oleh presiden Amerika Donald Trump dinilai sebagai jalan untuk memuluskan rencana migrasi massal umat Yahudi dari seluruh dunia ke tanah Palestina.

“Berkumpulnya mereka di Palestina adalah bagian dari janji Allah kepada mereka akan datangnya wa’dul akhirat atau ancaman terakhir (QS: 17 ayat 104), sebagaimana kitab mereka pun mengabarkannya,” kata penulis buku-buku akhir zaman, Ustaz Abu Fatiah Al Adnani kepada Jurnalislam.com, Kamis (7/12/2017).

Adapun terjemah dari surat Al Israa ayat 104, “Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu)”.

Pengakuan Trump tersebut, kata dia, pada satu sisi menjadi ujian bagi kaum Muslimin akan tetapi juga menjadi indikasi semakin dekatnya kehancuran Israel.

“Maka, di satu sisi ia merupakan ujian bagi kaum muslimin, sekaligus kabar gembira bahwa janji kehancuran kaum Yahudi semakin dekat. Wallahua’lam bish shawab,” terangnya.

Rencana migrasi massal umat Yahudi ini pernah dilontarkan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu pada tahun 2015 lalu pasca penyerangan Paris dan penembakan di Copenhagen Denmark yang menewaskan dua orang salah satunya orang Yahudi.

“Gelombang serangan teror diperkirakan akan terus berlanjut, termasuk serangan anti-semitisme dan pembunuhan. Kami katakan kepada orang-orang Yahudi, untuk saudara-saudara kita, Israel adalah rumah Anda dan setiap orang Yahudi. Israel sedang menunggu Anda dengan tangan terbuka,” katanya.

Pernyataan Netanyahu itu kemudian ditentang oleh para pemimpin Eropa. Menurut mereka, seruan Netanyahu bagi kaum Yahudi untuk bermigrasi massal ke Israel hanya untuk mencari simpati demi mendulang perolehan suara.