Pemindahan Ibukota Israel Untuk Permudah Migrasi Massal Umat Yahudi ke Palestina

7 Desember 2017
Pemindahan Ibukota Israel Untuk Permudah Migrasi Massal Umat Yahudi ke Palestina
Al Quds Belongs to Moslem

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengakuan sepihak Yerussalem menjadi Ibukota Israel oleh presiden Amerika Donald Trump dinilai sebagai jalan untuk memuluskan rencana migrasi massal umat Yahudi dari seluruh dunia ke tanah Palestina.

“Berkumpulnya mereka di Palestina adalah bagian dari janji Allah kepada mereka akan datangnya wa’dul akhirat atau ancaman terakhir (QS: 17 ayat 104), sebagaimana kitab mereka pun mengabarkannya,” kata penulis buku-buku akhir zaman, Ustaz Abu Fatiah Al Adnani kepada Jurnalislam.com, Kamis (7/12/2017).

Adapun terjemah dari surat Al Israa ayat 104, “Dan Kami berfirman sesudah itu kepada Bani Israil: “Diamlah di negeri ini, maka apabila datang masa berbangkit, niscaya Kami datangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (dengan musuhmu)”.

Pengakuan Trump tersebut, kata dia, pada satu sisi menjadi ujian bagi kaum Muslimin akan tetapi juga menjadi indikasi semakin dekatnya kehancuran Israel.

“Maka, di satu sisi ia merupakan ujian bagi kaum muslimin, sekaligus kabar gembira bahwa janji kehancuran kaum Yahudi semakin dekat. Wallahua’lam bish shawab,” terangnya.

Rencana migrasi massal umat Yahudi ini pernah dilontarkan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu pada tahun 2015 lalu pasca penyerangan Paris dan penembakan di Copenhagen Denmark yang menewaskan dua orang salah satunya orang Yahudi.

“Gelombang serangan teror diperkirakan akan terus berlanjut, termasuk serangan anti-semitisme dan pembunuhan. Kami katakan kepada orang-orang Yahudi, untuk saudara-saudara kita, Israel adalah rumah Anda dan setiap orang Yahudi. Israel sedang menunggu Anda dengan tangan terbuka,” katanya.

Pernyataan Netanyahu itu kemudian ditentang oleh para pemimpin Eropa. Menurut mereka, seruan Netanyahu bagi kaum Yahudi untuk bermigrasi massal ke Israel hanya untuk mencari simpati demi mendulang perolehan suara.