Berita Terkini

Tokoh Tionghoa: Umat Islam Kerap Didzalimi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Tokoh Tionghoa yang juga koordinator Forum Rakyat Lieus Sungkharisma nampak hadir dalam unjuk rasa umat Islam di depan Kedubes Amerika, Jl. Medan Merdeka, Jakarta, Senin (11/12/2017).

Ia berempati kepada umat Islam yang dinilainya kerap menjadi korban kedzaliman. “Saya akan selalu bersama umat muslim yang memang saya lihat selama ini banyak didzalimi. Saya berkeyakinan perjuangan ini akan berhasil,” katanya dari mobil komando.

Dalam orasinya, Lieus yang memakai baju putih dan ikat kepala bertuliskan kalimat syahadatain juga mengatakan, umat Islam dan umat beragama lainnya harus bersatu untuk melawan arogansi Presiden Amerika, Donald Trump.

“Umat Islam gak sendirian. Dan kita harus jadikan momentum bersatunya umat Islam dengan umat beragama lain untuk menentang arogansi presiden Amerika,” katanya.

Lieus menegaskan, pemerintah bersama elemen masyarakat harus bersatu untuk mengambil langkah konkret melawan kesewenang-wenangan Donald Trump.

“Kita harus mendesak presiden untuk terus menggalang kekuatan, bersatu dan umat Islam di dunia harus melawan kebijakan Trump ini,” tegas pria Tionghoa yang kerap hadir dalam aksi-aksi umat Islam.

Reporter: Ridwan Abdullah

Ansharusyariah: Jihad Satu-satunya Jalan Menyikapi Klaim Donald Trump

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Qoid Hisbah Jamaah Ansharusy Syariah, Yudo Ratmiko menegaskan pihaknya mengutuk keras klaim Donald Trump mengakui Yerusalem (Al Quds) sebagai ibukota Israel.

“Tidak ada suatu kesepakatan dari dunia bahwa Yerusalem adalah milik israel, lalu atas fakta yg mana bahwa Trump mengatakan bahwa Yerusalem milik Israel,” tegasnya di depan Kedubes Amerika, Jl. Medan Merdeka, Jakarta, Senin (11/12/2017)

Menurutnya, aksi tersebut sangat penting sebagai bentuk dukungan atas perlawanan rakyat Palestina dan pernyataan perang kepada Amerika dan Israel yang telah bertindak sewenang-wenang.

“Urgensi aksi ini adalah kita memberikan sikap yang jelas, sikap untuk tidak mendukung dan sikap menyatakan perang terhadap amerika karena Amerika secara sepihak telah merampas dan menjajah tanah Palestina dan memberikan dukungannya kepada Israel,” paparnya.

Laskar Jamaah Ansharusy Syariah

Lebih lanjut, Yudo menegaskan satu-satunya penyelesaian untuk menghentikan penjajahan Isreal atas Palestina adalah dengan Jihad di jalan Allah. Sebab, kata dia, berbagai perundingan yang telah dilakukan dengan Israel tak pernah membuahkan hasil yang adil bagi rakyat Palestina.

“Maka sebagai bentuk sikap yang tegas untuk menghadapi Israel adalah jihad fiisabilillah,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, pimpinan Hamas Ismail Haniya belum lama ini menegaskan, kebijakan Trump mencaplok Al Quds adalah sebuah pernyataan perang.

[FOTO] Senin Ini, Ribuan Massa Elemen Umat Islam Kembali Geruduk Kedubes AS

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Ribuan massa elemen umat Islam dari berbagai ormas, himpunan mahasiswa serta perkumpulan jawara Betawi menggelar aksi unjuk rasa menolak pendudukan Palestina khususnya Yerusalem yang diklaim sebagai Ibu Kota Israel, Senin (11/12/2017) di depan Kedubes Amerika Serikat, Jakarta.

Berikut foto-foto yang diambil oleh jurnalis Jurnalislam.com di lokasi, Deddy Purwanto

Massa membakar bendera Amerika

Unjuk Rasa Berlanjut: Tarik Keputusan Atau Kami Usir Dubes AS di Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ribuan massa dari berbagai ormas Islam dan mahasiswa serta perkumpulan Jawara Betawi hadir dalam aksi unjuk rasa lanjutan mengecam klaim Yerusalem (Al Quds) sebagai ibukota Israel di depan Dubes AS, Jl. Medan Merdeka, Jakarta, Senin (11/12/2017).

Secara bergantian perwakilan ormas dan tokoh berorasi di atas mobil komando. Kecaman dan ancaman tak henti dilontarkan untuk Presiden Amerika, Donald Trump.

“Kami akan terus kembali ke tempat ini hingga Trump menarik kembali keputusannya, dan kami tidak akan gentar oleh Amerika dan antek-anteknya karena kami sudah siap berjual beli kepada Allah dengan darah dan jiwa kami,” tegas Ketua Jamaah Ansharusy Syariah, Ustadz Gunadi dari mobil komando.

Kemudian dewan Syuro FPI, Habib Husein Al Attas menegaskan, jika AS tidak menarik keputusannya pihaknya akan mengusir kedubes AS di Indonesia.

“Kami akan usir para dubes AS di Indonesia dan kami akan lawan mereka sampai akar-akarnya hingga Donald Trump menarik kembali keputusannya,” tegasnya.

Unjuk rasa juga dihiasi dengan peragaan jurus-jurus silat oleh para Jawara Betawi beralaskan bendera AS dan Israel. Massa juga menginjak-diinjak kemudian membakar kedua bendera tersebut.

Reporter: Deddy Purwanto

150 Lebih Warga Tepi Barat Terluka dalam Bentrokan Lanjutan dengan Pasukan Zionis

RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Lebih dari 150 warga Palestina pada hari Ahad (10/12/2017) terluka di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki setelah pasukan penjajah Israel membubarkan aksi menentang keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Dalam sebuah pernyataan, Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan bahwa total 157 orang terluka dalam bentrokan yang terjadi di kota Ramallah, Tulkarim dan Bethlehem, dan Jalur Gaza, lansir Anadolu Agency.

Pasukan Israel Mulai Serang Gaza dengan Pesawat Tempur dan Tank

Pasukan zionis menggunakan gas air mata, amunisi hidup dan peluru karet untuk membubarkan para pemrotes. 13 orang terluka di Gaza dan 144 lainnya di berbagai wilayah Tepi Barat, katanya.

Kelompok-kelompok Palestina menyerukan demonstrasi massa baru-baru ini di Tepi Barat dan Yerusalem Timur pada hari Sabtu menentang pengakuan AS.

Sejak Jumat, empat warga Palestina syahid dan ratusan lainnya cedera dalam bentrokan serta serangan udara Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak Jumat.

Brigade Al Qassam: Kami Akan Balas Serangan Udara Israel

Pada hari Rabu, Trump mengumumkan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dan mengatakan bahwa Kedutaan Besar AS akan dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Pergeseran dramatis dalam kebijakan Washington mengenai Yerusalem memicu demonstrasi di wilayah Palestina yang diduduki dan negara-negara Muslim.

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina masa depan.

Brigade Al Qassam: Kami Akan Balas Serangan Udara Israel

GAZA (Jurnalislam.com) – Sayap bersenjata kelompok Hamas, Brigade Izzudin al Qassam bersumpah untuk menanggapi serangan udara Israel di Jalur Gaza baru-baru ini, di tengah ketegangan atas pengakuan Presiden Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Israel “akan membayar harga karena melanggar peraturan persinggungan dengan perlawanan di Gaza,” Brigade izzuddin al-Qassam mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Ahad (10/12/2017), lansir Anadolu Agency.

Dua orang Palestina menjadi martir pada hari Sabtu ketika pesawat tempur zionis melakukan serangan pada warga sipil di Jalur Gaza setelah sebuah tembakan roket.

Pasukan Israel Mulai Serang Gaza dengan Pesawat Tempur dan Tank

“Beberapa hari mendatang kami akan membuktikan kepada musuh bahwa mereka telah membuat kesalahan besar dan salah menghitung tekad perlawanan,” kata Brigade.

Pada hari Rabu, Trump mengumumkan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dan mengatakan bahwa Kedutaan Besar AS akan dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Pergeseran dramatis dalam kebijakan Washington mengenai Yerusalem memicu aksi unjuk rasa di wilayah Palestina yang diduduki dan sejumlah besar negara Muslim.

Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang dijajah oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina masa depan.

Menembus Batas Arogansi Donald Trump

“Pernyataan Trump itu merupakan bentuk kesombongan dan arogansi yang harus ditentang”

Oleh: Muhammad Fajar, Jurnalis Media Islam

 

JURNALISLAM.COM – BOOM. Sebuah ledakan yang mengguncang peradaban seketika terjadi. Bak gempa berskala 7 richter lebih menerpa jutaan manusia. Sebuah pernyataan yang telah berhasil membuat dunia ini gaduh, perdamaian terusik, dan religiusitas memerah.

Celoteh salah satu pimpinan negara super power menabrak sendi hukum internasional. Melanggar pelbagai resolusi perdamaian yang digaungkan oleh Perserikatan bangsa-bangsa alias PBB. Bagaimana tidak? PBB telah menyusun secara rapih ketentuan tersebut. Ketentuan kemerdekaan dan batas wilayah negara yang pertama kali mengakui kedaulatan merah putih.

Ialah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS) pengganti Barack Obama, presiden yang telah habis menjalani 2 periode kepemimpinan. Tepatnya pada Rabu, 6 Desember 2017. Dengan arogansinya ia berucap tentang negara Yahudi, Israel. Lantang dan tegas ia katakan Ibukota negara Israel sudah saatnya berpindah ke Yerusalem, jantung wilayah negara Palestina.

Gayung pun bersambut. Penentangan akan kearogansian Trump bermunculan seperti bunga mawar yang akan mekar, kecambah yang akan memiliki batang, juga telur ikan yang mulai menetas.

 

Penentangan Dunia

Dimulai dari tuan rumah penyelenggara Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Turki. Erdogan, sang pemimpin negara tersebut dengan lantang menentang kebijakan sepihak Trump.

“Trump, Yerusalem adalah garis merah bagi umat Islam. Kami minta kepada AS sekali lagi. Anda tidak dapat mengambil langkah seperti ini,” Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada sebuah pertemuan kelompok parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan

Erdogan juga mengancam akan menggelar pertemuan besar, pertemuan The Organization of Islamic Cooperation (OIC) atau dalam bahasa yang dikenal organisasi kerjasama Islam yang akan digelar di Istanbul pada 13 Desember nanti.

“Jika Anda mengambil langkah seperti ini, kami akan mengadakan pertemuan puncak kerjasama Islam di Istanbul,” lugas Erdogan.

Dari titik ini muncul pernyataan penolakan dari pelbagai negara yang diawali negara-negara timur tengah yang notabene dekat dengan Palestina.

Raja Yordania Abdullah II mengatakan kepada Trump bahwa keputusan semacam itu akan memiliki “dampak berbahaya pada stabilitas dan keamanan kawasan ini”.

Raja juga memperingatkan presiden AS tentang risiko dari setiap keputusan yang bertentangan dengan penyelesaian akhir konflik Arab-Israel yang didasarkan pada pembentukan sebuah negara Palestina merdeka dengan ibukotanya di Yerusalem Timur.

“Yerusalem adalah kunci untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia,” kata pernyataan yang bersumber dari kerajaan, menambahkan bahwa memindahkan kedutaan akan mengobarkan perasaan kaum Muslim.

Dalam sebuah pernyataan, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi juga memperingatkan Trump untuk tidak “mengambil tindakan yang akan merusak peluang perdamaian di Timur Tengah”.

“Presiden Mesir menegaskan posisi Mesir untuk menjaga status hukum Yerusalem dalam kerangka referensi internasional dan resolusi PBB yang relevan,” kata pernyataan tersebut.

Selain negara-negara Timur Tengah Eropa juga ikut mengecam pendudukan atau okupasi yang dibuat Trump ini. Sigmar Gabriel, menteri luar negeri Jerman, juga memperingatkan bahwa setiap gerakan AS untuk mengakui Yerusalem “sebagai ibu kota Israel tidak meredakan konflik, namun justru akan menyulut lebih banyak konflik,” dan bahwa tindakan semacam itu “akan menjadi perkembangan yang sangat berbahaya. ”

Uni Eropa

Federica Mogherini, diplomat tertinggi Uni Eropa, mengatakan “setiap tindakan yang akan merusak” upaya perdamaian untuk menciptakan dua negara yang terpisah bagi Israel dan Palestina “harus benar-benar dihindari.”

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres “secara konsisten telah memperingatkan tindakan sepihak yang berpotensi merusak solusi dua negara,” juru bicaranya, Stephane Dujarric, mengatakan kepada wartawan di New York.

Bahkan, didalam negerinya sendiri, Amerika Serikat. Ribuan warga pada hari Jumat, 8 Desember turun kejalan, mengepung gedung putih untuk menolak keras pernyataan Trump.

Ribuan warga AS berunjuk rasa, mengecam keputusan Trump

“Keputusan ini menunjukkan apa yang telah kami katakan sejak lama bahwa tidak ada yang namanya proses perdamaian,” cendekiawan Muslim yang berbasis di AS, Omer Suleiman kepada Anadolu Agency. “Jika kita ingin memulai proses perdamaian yang jujur, maka pemerintah Amerika hanyalah berperan sebagai broker yang jujur.”

 

Lalu bagaimana Indonesia?

Jangankan saat genting seperti kejadian pencaplokan Yerusalem oleh Israel, sudah sejak dulu Indonesia pro-aktif mendukung negara tempat Kiblat pertama umat Islam.

Sudah jelas negara dengan agama Islam sebagai mayoritas sangat reaktif tentang peristiwa ini. Mulai dari Presiden hingga rakyat mengecam pengakuan Trump tersebut.

“Saya sampaikan kepada Presiden Palestina Mahmoud Abas, pertama Indonesia mengecam keras keputusan Amerika tersebut. Dan saya sampaikan keputusan tersebut bertentangan dengan semua resolusi Dewan keamanan PBB terkait Palestina,” jelas Presiden Indonesia, Jokowi dilansir Kompas.

 

Presiden Indonesia, Joko Widodo

Pihaknya juga akan berjanji akan datang ke Istanbul, Turki untuk menghadiri OKI untuk membahas hal yang membuat kekacauan internasional tersebut.

Beralih kepada rakyat, sang pemegang kedaulatan tertinggi di Indonesia. Ribuan warga yang didominasi oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) mengepung Kedubes AS di Jakarta untuk mengecam tindakan sepihak Trump.

“Allohuma khoirumin rakyat Palestina, Ya Alloh bebaskan Yerussalem dari tangan Zionis Israel, semoga Allah bikin gempa untuk negara itu, Al Fatihah,” ujar salah seorang orator.

Di Solo, tempat presiden Jokowi menjabat sebagai walikota juga melakukan aksi serupa. Jumat perlawanan menjadi tema yang diusung. Guyuran hujan tipis tidak menghalangi semangat ratusan warga Solo untuk mendobrak arogansi Trump.

Aksi bela Palestina di sejumlah tempat di Indonesia

“Mudah-mudahan deklarasi dari Donald Trump kemarin atas dijadikannya Al Quds sebagai ibukota Israel, akan menjadikan kesatuan bagi kaum muslimin,” ujar Sekjend Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustaz Shabbarin Syakur dalam orasinya di Bundaran Gladak, Solo.

Aksi Bela Palestina atau yang bisa disebut Save Al Quds juga digelar di Ibukota Provinsi Jawa tengah, Semarang. Ribuan warga memadati Bundaran Air mancur di Jalan Pahlawan, Kota Semarang pada hari yang sama, Jumat.

Anggota DPR Fraksi PKS, Abdul Fikri Fakih yang hadir dalam aksi tersebut mengatakan pemerintah harus proaktif dalam membela umat Islam. Menurutnya, Yerussalem adalah tanah wakaf umat Islam yang harus dipertahankan dengan segenap kemampuan.

“Sungguh dosa besar anggota DPR dan Polisi tidak peduli dengan wakaf umat Islam,” ujar anggota dewan ini.

Selang dua hari, Banten, provinsi yang dikenal religius pun turut mengutarakan aspirasinya. Di depan kantor pemerintahan gubernur, ribuan warga mengecam tegas kebijakan Trump ini.

Bahkan, dalam salah satu agenda orasi, ada sesi penginjakan dan pembakaran foto Donald Trump, Bendera Israel dan Amerika sebagai bentuk amarah. Amarah karena pelanggaran Trump yang telah disepakati kesalahannya oleh dunia.

pembakaran bendera Israil dan Amerika, juga foto Trump

“Tujuannya sudah jelas dan lugas untuk membela saudara kami di Palestina, dari cengkeraman Yahudi Israel dan Amerika,” kata Korlap Aksi, Zainal.

Sikap arogan, sombong, congkak, angkuh, atau berarti mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah Donald Trump menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israil memang harus ditembus serta dilawan dengan porsi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Jika tidak, bagaimana nasib tempat suci ini? Mau dibiarkan saja rusak ditelan kaum Yahudi dan Amerika? Atau mengambil pilihan lain untuk melawan? Jawab saja dengan hati nurani: Al Quds Belongs To Muslim.

Ulama dan Ormas Soloraya Tegaskan Siap Berjihad ke Palestina

SOLO (Jurnalislam.com) – Demi menjaga ukhuwah Islamiyah, seluruh elemen umat Islam Soloraya menggelar Mudzakaroh Ilmiyah Diniyah di Hotel Aziza, Pasar Kliwon, Surakarta, pada Ahad, (10/12/2017). Pertemuan yang diinisiasi oleh Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) itu dihadiri puluhan ulama dan perwakilan ormas-ormas Islam.

Pertemuan tersebut melahirkan lima poin kesepakatan yang dibacakan langsung oleh Ketua DSKS, Ustadz Muinudinillah Basri, diantaranya:

1. Tokoh dan ulama Surakarta bertekad untuk bersatu, bersaudara, bersama-sama berjuang mewujudkan umatan wahidah dibawah kalimat tauhid dan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam segala perbedaan tidak akan memecah belah hati kaum muslimin, serta kita bingkai dengan toleransi dan kasih sayang.

2. Menolak dan melawan segala usaha memecah belah persatuan dan persaudaraan kaum muslimin,

3. Bertekad berjuang bersama-sama untuk menegakkan ajaran Islam dengan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan teladan para sahabat salafuh sholeh.

4. Bertekad untuk bersatu mempertahankan NKRI, Pancasila, undang-undang Dasar 1945 dalam kebhinekaan Indonesia dan mengantarkan indonesia sebagai negara dan bangsa yang memberikan keteladanan dalam peradaban Islam.

5. Bertekad untuk menyambut panggilan jihad dalam membebaskan Palestina dan masjidil Aqsho sebagai kiblat kaum muslimin dan hijrahnya para nabi dan Rosul.

Mudzakarah tersebut diikuti oleh hampir seluruh ormas Islam baik lokal maupun nasional seperti GP Anshor, Nahdlatul Ulama (NU), Pagar Nusa, Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Front Pembela Islam (FPI), dll.

“Persiapan Kami Cuma Sehari, Tapi Demi Palestina Massa Membludak”

SERANG (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Banten turun ke jalan untuk melakukan aksi unjuk rasa, membela Palestina dari arogansi Donald Trump, Ahad (10/12/2017).

“Tujuannya sudah jelas dan lugas untuk membela saudara kami di Palestina, dari cengkeraman Yahudi Israel dan Amerika,” kata Humas aksi, Zainal kepada jurniscom di Masjid Agung At-Tsauroh Serang.

Aksi berupa longmarch dari Masjid Agung At-Tsauroh sampai Alun-alun kota Serang itu, menjadi magnet umat Islam yang tidak rela Yerusalem (Al-Quds) diduduki sepihak oleh Amerika dengan pernyataan Donald Trumpnya.

“Alhamdulillah, kami dari panitia hanya melakukan satu hari saja persiapan, namun animo masyarakat begitu dashyat,” ungkapnya.

“Padahal kami hanya mengundang lewat aplikasi WhatsApp saja, inilah bukti masyarakat khususnya warga Banten sangat peduli dengan Palestina,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, massa masih melakukan unjuk rasa hingga sore-maghrib nanti.

Reporter: Jajat

Bergabung dengan Muslim AS, Pendeta Yahudi dan Pengikut Anti Zionis ikut Kecam Keputusan Trump

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Rabbi Yisroel Dovid Weiss dan pengikutnya dari Yahudi Amerika Anti-Zionisme termasuk di antara mereka yang berpartisipasi dalam aksi protes keputusan Donald Trump pada hari Jumat (9/12/2017) di Washington.

Saat umat Islam shalat di depan Gedung Putih, Rabbi Weiss dan rekan-rekannya memegang spanduk bertuliskan: “Orang-orang Yahudi Torah yang sejati di Yerusalem dan di seluruh dunia mengutuk agresi di Al-Aqsha dan pendudukan Palestina” dan “Yudaisme menolak Zionisme dan negara Israel.”

“Keputusan tentang Yerusalem ini akan membuat segalanya menjadi lebih buruk,” Rabbi Weiss mengatakan kepada Anadolu Agency.

Trump dalam pidatonya mengatakan bahwa, dia ingin membawa perdamaian. “Damai bukan dengan menuangkan garam untuk menambah luka dengan mengambil kota suci Yerusalem dan menyatakannya sebagai ibukota negara Israel yang tidak dapat diterima dan tidak sah menurut agama Yahudi,” tambahnya.

Weiss menggambarkan keputusan tersebut sebagai memberikan lebih banyak amunisi kepada Israel, yang menjadi bos atas pihak lain di wilayah tersebut, dan mencatat bahwa mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel akan menyebabkan pertengkaran lebih lanjut antara Yahudi dan Muslim.

Ribuan Warga AS Turun ke Jalan Gelar Aksi Protes Keras Keputusan Trump

Para pemrotes meneriakkan keputusan Israel dan Trump di Yerusalem, membawa spanduk bertuliskan “Hentikan pendudukan di Palestina sekarang”, “Yerusalem adalah milik orang-orang Palestina” dan “Kami menolak keputusan Trump.” Acara berakhir tanpa konflik.

“Hari ini kami berkumpul di sini untuk memprotes keputusan Trump, yang menyatakan bahwa Yerusalem akan menjadi ibu kota Israel,” kata Naem Baeg, direktur program antaragama Islam Circle of North America (ICNA).

“Sekarang terserah kepada masyarakat internasional dan Dunia Muslim. Negara-negara seperti Turki dan Prancis telah memimpin yang lain dan bekerja untuk perdamaian,” Baeg menambahkan, seraya mengatakan bahwa dengan keputusan ini, AS praktis berada di luar proses perdamaian.

“Kami percaya bahwa ini adalah keputusan yang sangat buruk, rakyat Palestina di sana sudah hidup dalam kondisi yang mengerikan, saya tahu karena separuh keluarga saya tinggal di sana,” Mohammad Shami, seorang demonstran Palestina muda mengatakan. “Ini akan semakin meningkatkan masalah yang dihadapi Palestina.”

Sementara itu, ribuan demonstran juga berbaris di Times Square, New York.

Para demonstran mengecam keputusan Israel dan Trump di Yerusalem, dengan meneriakkan “Bebaskan, Bebaskan Palestina, Hidup Palestina,” sambil membawa spanduk bertuliskan “Ini tidak dapat diterima, Palestina akan bebas,” “Israel adalah teroris, Palestina bebas” dan “Kami menolak keputusan Trump.” Acara diakhiri tanpa konflik.

“Pemerintah Trump harus mengevaluasi kembali keputusannya,” kata seorang mahasiswa Universitas New York, Ahmad M. (22), kepada Anadolu Agency. “Negara Israel telah menumpahkan darah di tanah suci selama beberapa dekade, mengatakan bahwa penyebabnya suci. Agama apa yang memungkinkan hal ini?”

Gelandang Tengah Klub Barcelona Turut Kecam Keputusan Donald Trump

Demonstran lain, Mohammad Nazeef, yang telah berada di AS selama 10 tahun mengatakan bahwa dia datang ke negara tersebut karena dia pikir AS menghormati semua orang. Namun, rasisme semakin meningkat sejak Trump terpilih sebagai Presiden.

“Saya tidak yakin apakah Trump ingin mengatur sebuah Perang Salib baru tapi di lingkaran sosial, perilaku orang terhadap saya telah berubah banyak,” kata Nazeed. “Saya benar-benar mempertimbangkan untuk meninggalkan Amerika Serikat.”

Selama demonstrasi besar-besaran di bawah tindakan keamanan yang ketat, polisi New York harus memperingatkan beberapa demonstran untuk tinggal di daerah yang ditentukan.

Di sisi lain, sekelompok kecil pro-AS dan Israel membentangkan bendera Amerika dan Israel dan mengejek para pemrotes dari seberang jalan.

Jerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina.