Responsive image

Bergabung dengan Muslim AS, Pendeta Yahudi dan Pengikut Anti Zionis ikut Kecam Keputusan Trump

Bergabung dengan Muslim AS, Pendeta Yahudi dan Pengikut Anti Zionis ikut Kecam Keputusan Trump

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Rabbi Yisroel Dovid Weiss dan pengikutnya dari Yahudi Amerika Anti-Zionisme termasuk di antara mereka yang berpartisipasi dalam aksi protes keputusan Donald Trump pada hari Jumat (9/12/2017) di Washington.

Saat umat Islam shalat di depan Gedung Putih, Rabbi Weiss dan rekan-rekannya memegang spanduk bertuliskan: “Orang-orang Yahudi Torah yang sejati di Yerusalem dan di seluruh dunia mengutuk agresi di Al-Aqsha dan pendudukan Palestina” dan “Yudaisme menolak Zionisme dan negara Israel.”

“Keputusan tentang Yerusalem ini akan membuat segalanya menjadi lebih buruk,” Rabbi Weiss mengatakan kepada Anadolu Agency.

Trump dalam pidatonya mengatakan bahwa, dia ingin membawa perdamaian. “Damai bukan dengan menuangkan garam untuk menambah luka dengan mengambil kota suci Yerusalem dan menyatakannya sebagai ibukota negara Israel yang tidak dapat diterima dan tidak sah menurut agama Yahudi,” tambahnya.

Weiss menggambarkan keputusan tersebut sebagai memberikan lebih banyak amunisi kepada Israel, yang menjadi bos atas pihak lain di wilayah tersebut, dan mencatat bahwa mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel akan menyebabkan pertengkaran lebih lanjut antara Yahudi dan Muslim.

Ribuan Warga AS Turun ke Jalan Gelar Aksi Protes Keras Keputusan Trump

Para pemrotes meneriakkan keputusan Israel dan Trump di Yerusalem, membawa spanduk bertuliskan “Hentikan pendudukan di Palestina sekarang”, “Yerusalem adalah milik orang-orang Palestina” dan “Kami menolak keputusan Trump.” Acara berakhir tanpa konflik.

“Hari ini kami berkumpul di sini untuk memprotes keputusan Trump, yang menyatakan bahwa Yerusalem akan menjadi ibu kota Israel,” kata Naem Baeg, direktur program antaragama Islam Circle of North America (ICNA).

“Sekarang terserah kepada masyarakat internasional dan Dunia Muslim. Negara-negara seperti Turki dan Prancis telah memimpin yang lain dan bekerja untuk perdamaian,” Baeg menambahkan, seraya mengatakan bahwa dengan keputusan ini, AS praktis berada di luar proses perdamaian.

“Kami percaya bahwa ini adalah keputusan yang sangat buruk, rakyat Palestina di sana sudah hidup dalam kondisi yang mengerikan, saya tahu karena separuh keluarga saya tinggal di sana,” Mohammad Shami, seorang demonstran Palestina muda mengatakan. “Ini akan semakin meningkatkan masalah yang dihadapi Palestina.”

Sementara itu, ribuan demonstran juga berbaris di Times Square, New York.

Para demonstran mengecam keputusan Israel dan Trump di Yerusalem, dengan meneriakkan “Bebaskan, Bebaskan Palestina, Hidup Palestina,” sambil membawa spanduk bertuliskan “Ini tidak dapat diterima, Palestina akan bebas,” “Israel adalah teroris, Palestina bebas” dan “Kami menolak keputusan Trump.” Acara diakhiri tanpa konflik.

“Pemerintah Trump harus mengevaluasi kembali keputusannya,” kata seorang mahasiswa Universitas New York, Ahmad M. (22), kepada Anadolu Agency. “Negara Israel telah menumpahkan darah di tanah suci selama beberapa dekade, mengatakan bahwa penyebabnya suci. Agama apa yang memungkinkan hal ini?”

Gelandang Tengah Klub Barcelona Turut Kecam Keputusan Donald Trump

Demonstran lain, Mohammad Nazeef, yang telah berada di AS selama 10 tahun mengatakan bahwa dia datang ke negara tersebut karena dia pikir AS menghormati semua orang. Namun, rasisme semakin meningkat sejak Trump terpilih sebagai Presiden.

“Saya tidak yakin apakah Trump ingin mengatur sebuah Perang Salib baru tapi di lingkaran sosial, perilaku orang terhadap saya telah berubah banyak,” kata Nazeed. “Saya benar-benar mempertimbangkan untuk meninggalkan Amerika Serikat.”

Selama demonstrasi besar-besaran di bawah tindakan keamanan yang ketat, polisi New York harus memperingatkan beberapa demonstran untuk tinggal di daerah yang ditentukan.

Di sisi lain, sekelompok kecil pro-AS dan Israel membentangkan bendera Amerika dan Israel dan mengejek para pemrotes dari seberang jalan.

Jerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina.

Bagikan
Close X