Berita Terkini

Longsor Sukabumi, 2 Meninggal Dunia, 41 Hilang

JAKARTA (Jurnalislam.com) –Tim SAR gabungan masih mencari 41 orang warga Dusun Garehong, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang diterjang longsor pada Senin sore,  31 Desember 2018.

Kejadian longsor yang mengisi buku bencana 2019 lembar pertama ini terjadi pada pukul 17.30 WIB. Pencarian telah dilakukan tim gabungan hingga pukul 02.30 WIB.

Tercatat ada sebanyak 32 kepala keluarga dari 107 jiwa yang terdampak akibat musibah longsor ini. Data korban yang simpang siur akhirnya diluruskan kembali oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, semula menginformasikan korban meninggal empat orang. Namun, setelah pendataan kembali dilakukan, korban meninggal dunia hingga pagi hari pencarian ditutup mencapai dua orang meninggal dunia.

“Ada tiga orang luka-luka, 61 orang di pengungsian dan 41 orang belum ditemukan,” kata Sutopo dalam keterangan resmi, Selasa, 1 Januari 2019.

Menurut Sutopo, korban meninggal awalnya memang simpang siur karena kondisi yang panik. Informasi yang beredar di lapangan dan media sosial, korban meninggal bahkan mencapai delapan orang. Namun, setelah dilakukan verifikasi di posko sementara, hanya ada dua korban meninggal.

“Kerugian fisik sementara terdapat 30 unit rumah tertimbun (data sementara/masih dalam pendataan),” katanya.

Sementara itu, upaya penanganan terus dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi dengan mengirim tim ke lokasi kejadian. Bersama Basarnas dan warga setempat terus melakukan evakuasi dan pendataan.

sumber: viva.co.id

Kongres 2018, Lidmi Sosialisasikan 32 Standar Operasional Manajemen Dakwah Kampus

MAKASSAR (Jurnalislam.com) – Melalui Kongres 2018, Pimpinan Pusat Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (PP Lidmi) mensosialisasikan 32 Standar Operasional Pengelolaan (SOP) Manajemen Dakwah Kampus di Aula Pesantren Pondok Madinah, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Minggu (30/12/2018).

SOP manajemen ini dipresentasikan oleh PP Lidmi dihadapan puluhan perwakilan Pimpinan Wilayah (PW) dan Pimpinan Daerah (PD) LIDMI se-Indonesia.

“Semuanya berjumlah 32, yang berasal dari enam Departemen dalam tubuh PP Lidmi, antara lain Departemen Ke-LDK-an, Departemen Humas, Departemen Infokom, Departemen Sosial, Departemen Kajian Strategis dan Departemen Ekonomi,” kata Rustam Hafid, Panitia pengarah Kongres LIDMI 2018.

Diantara SOP yang akan dibahas, lanjut Rustam, adalah Konsep Studi Alquran Intensif (SAINS) Nasional, yang berisi petunjuk umum dan teknis terkait dengan pengadaan bimbingan Alquran kepada seluruh Mahasiswa se Indonesia.

“Terkadang Lembaga Dakwah Kampus (LDK) bingung bagaimana formula yang tepat agar mahasiswa mau belajar Alquran, terutama agar belajarnya intensif. Maka melalui Kongres ini, SOP SAINS ini akan disosialisasikan kepada seluruh PW dan PD,” tutur dia.

“Nantinya, seluruh PW dan PD tersebut akan menurunkan SOP tersebut kepada seluruh LDK binaan di daerah masing-masing,” tambahnya.

SOP Manajemen Dakwah Kampus yang lain diantaranya adalah SOP pembentukan PD Lidmi, yang akan disampaikan kepada PW agar mampu membentuk jaringan daerah di wilayahnya.

“Sesuai dengan harapan Ketua Umum PP LIDMI, ditargetkan seluruh daerah di Indonesia memiliki jaringan LIDMI di dalamnya agar pembinaan Mahasiswa lebih merata di seluruh wilayah Indonesia,” pungkas Hafid.

Sebelumnya, Ketua Umum PP Lidmi Hamri Muin mengatakan, saat ini baru 37 kampus yang resmi dibina oleh LIDMI, selainnya bersifat eksternal dan masih ada ribuan kampus yang belum terjajaki.

“Namun kami akan terus berusaha agar dari ribuan kampus di Indonesia tersebut, LIDMI bisa melakukan pembinaan kepada mahasiswa-mahasiswa di dalamnya,” kata Hamri.

Cita-cita ini mendapat dukungan dari Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, saat membuka Musyawarah Pimpinan Nasional dan Kongres LIDMI 2018 di Gedung Pola Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Sabtu (29/12/2018) kemarin.

Dalam sambutannya, Andi Sudirman menyambut positif usaha LIDMI yang telah membuat program pembinaan bagi kerohanian dan kepemimpinan mahasiswa.

“Anak-anak kampus, dapat kesempatan belajar dalam kampus karena salah satu faktor pendukung belajar adalah lingkungan, maka manfaatkan kampus sebagai lingkungan yang sangat mendukung kerja-kerja keilmuwan yang tentu tidak akan berulang,” ujarnya.

Maka pembinaan Mahasiswa yang baik menurut Pria kelahiran Bone 35 tahun yang lalu tersebut, akan menentukan bagaimana arah bangsa ditahun-tahun yang akan datang.

MUSPIMNAS dan KONGRES merupakan agenda tahunan LIDMI yang digelar untuk mengevaluasi kinerja Dakwah Kampus se Indonesia, dengan menghadirkan pimpinan PW dan PD Lidmi se Indonesia. ()

Di CFD, JAS Imbau Umat Islam Tak Ikut Pesta Tahun Baru

SURABAYA (Jurnalislam.com)  – Jama’ah Ansharusy Syari’ah (JAS ) Surabaya mengggelar sosialisasi kepada warga agar tidak mengikuti pesta tahun baru.

Kegiatan ini dilakukan saat Car Free Day di Tugu Pahlawan, CFD  Taman Bungkul dan KBS surabaya, Ahad (30/12/2018).

Divisi hisbah JAS Surabaya, Andi mengatakan bahwa acara tersebut digelar guna mengingatkan umat Islam Surabaya bahwa merayakan tahun baru masehi bukan budaya umat Islam.

Dalam kesempatan tersebut, dibentangkan juga spanduk bertuliskan “Indahnya Pergantian Tahun Tanpa Maksiat (zina, mabuk – mabukan, narkoba) dan hura – hura (pesta petasan, kembang api, meniup terompet, konvoi, knalpot blong dan balap liar).”

Andi menyampaikan bahwa dakwah jalanan itu banyak mendapatkan dukungan dari masyarakat, Satpol PP dan aparat kepolisian yang berada di lokasi kegiatan.

“Kegiatan amar maruf nahi munkar tahun baru ini rutin kami lakukan setiap tahun seperti juga dengan natal, valentine day dan menjelang bulan ramadhan. Kami juga mengingatkan supaya masyarakat yang beragama islam tidak ikut-ikutan larut dalam momen tahun baru,” kata Andik selaku Korlap Aksi.

Pihaknya juga mengimbau momen tahun baru hendaknya diisi dengan cara yang baik yaitu dzikir, tahlil, takhmid, takbir dan kegiatan lain yang lebih positif.

Komunitas Taklim Jurnalistik Gelar Silaturahmi Akhir Tahun

BEKASI (Jurnalislam.com) –Mengurus komunitas literasi berbasis dakwah itu merupakan tugas yang berat, butuh kerja keras dan keyakinan kuat. Sehingga perlu bekal dan persiapan yang memadai.

Nasihat tersebut disampaikan oleh Pendiri Utama, Andre Rahmatullah, dalam kegiatan “Silaturahim Akhir Tahun & Doa Bersama untuk Yaumul Milad Komunitas Taklim Jurnalistik-Taktik Community ke-2, yang digelar di Alun-Alun Kota Bekasi, Jawa Barat, Ahad (30/12/2018).

Setiap penulis yang mengambil peran tanggung jawab ini, mesti butuh bekal dan persiapan yang dipersiapkan untuk memenangkan perjuangan dakwah bil qolam tersebut.

“Di tahun baru nanti, 2019 kita mempunyai harapan besar akan perubahan dalam komunitas yang kita gandrungi ini selepas apa yang kita bahas dalam acara hari ini,” tegas Bang AR, sapaan akrabnya.

Senada dalam hal ini, Koordinator acara, Prasetyo Wibowo, menambahkan bilamana yang namanya komunitas pasti ada pahit senangnya dalam menjalankan, tinggal pengurus dan penggeraknya bagaimana mengemasnya sebaik mungkin.

“Pertemuan santai ini, yang diwakili setiap daerah Jabodetabek kita harus bisa fokus untuk menuntaskan dan menkonsep target berikutnya juga memperbaiki akan kekurangan selama 2 tahun komunitas ini berkiprah, harapannya akan lebih baik lagi,” ungkap Ketua TAKTIK Perwakilan Jabodetabek.

Silaturahmi akhir tahun ini dihadiri perwakilan pengurus pusat,  Jabodetabek dan Jawa barat, hadir juga penulis novelis dan Founder Komunitas Pembatas Buku Jakarta yang didaulat menjadi pembicara dalam acara tersebut dan perwakilan dari wartawan.

 

Saathir Mustaqim

 

SMP Muhammadiyah Kottabarat Ikuti Workshop Pendidikan Era Revolusi 4.0

SOLO (Jurnalislam.com) – SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta meningkatkan kompetensi tenaga pengajar tentang Pembelajaran Berbasis Hots dalam Menghadapi Era Revolusi 4.0 dengan menggelar workshop selama dua hari pada Jumat hingga Sabtu (28-29/12/2018) di sekolah setempat.

Humas SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta, Aryanto mengatakan bahwa kurang lebih 28 guru dan karyawan terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Terdapat 28 guru dan karyawan yang ikut dalam kegiatan workshop dalam dua hari ini,” katanya kepada wartawan.

Ia pun menambahkan bahwa pada Jumat (28/12) terdapat dua materi workshop yaitu Pembinaan dari Ketua Majlis Dikdasmen PDM Kota Surakarta, Drs. H. Tridjono. Kemudian dilanjutkan dengan pelatihan ice breaking dalam mengajar.

Pada Sabtu (29/12/2018) para guru meningkatkan kompetensinya tentang pembelajaran Hots (High Order Thinking Skill) bersama pembicara Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si., Pakar Pendidikan UNS Solo. Dalam kesempatan tersebut, para guru diajak untuk mengonsep pembelajaran abad 21 karena generasi sekarang ini sudah generasi milenial.

“Pembelajaran kita jangan pembelajaran abad 20. Generasi usia ini adalah generasi milenial. Mereka dituntut untuk lebih high thinking skill. Anak-anak mari kita ajak untuk menganalisis bacaan atau materi.” Katanya.

Kenapa perlu pembelajaran abad 21, lanjutnya, karena keterampilan abad 21 di Indonesia masih jauh dari harapan. “Maka di sini saya ingin menyampaikan tentang pemberdayaan. Pemberdayaan itu menggali potensi dan mengembangkannya,” paparnya.

“Anak-anak kita lahir sudah memiliki potensi Hots dari orang tua secara genetika. Dengan pembelajaran abad 21 yang indikatornya adalah 4 C (Creative, Critical Thinking, Comunicator, Colaborative), Literasi, PPK ( Program Pengembangan Karakter),” ungkapnya.

 

Ujian Demokrasi Kita

Oleh : M Rizal Fadillah*

JURNALISLAM.COM – Meski ada yang memperdebatkan mengenai asas demokrasi, namun secara universal demokrasi diterima hampir diseluruh negara. Negara kerajaan mencoba menarik peran rakyat dengan lembaga perwakilan.

Negara komunis yang paling otoriter pun menyebut dirinya demokrasi kerakyatan. Indonesia merumuskan asas demokrasinya dengan lebih    bernuansa moral “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Rakyat itu berdaulat, pemimpin dan wakil rakyat mesti hikmah dan bijaksana.

Kini nilai tinggi demokrasi Indonesia, rasanya semakin tidak difahami dan ditinggalkan. Digerus oleh perilaku politik dan peraturan yang dibuat baik oleh eksekutif maupun oleh wakil-wakil rakyatnya sendiri.

Membungkam suara suara kritis publik dengan menggunakan alat penegak hukum. Tujuannya  adalah untuk mempertahankan kekuasaan. UU Penghapusan Diskriminasi dan Ras, UU Informasi dan Transaksi Elektronik ditambah pelengkapnya KUHP cukup dapat digunakan menjerat tindak pidana “ujaran kebencian atau penghinaan/pencemaran nama baik”.

Tak peduli apakah itu delik aduan siapapun bisa melapor. Lalu diproses. Enteng saja. Walau sebaliknya jika yang dilaporkan itu orang pro rezim, di samping prosesnya lambat dan sulit, juga cepat hilang ditelan angin. Aparat bebas memainkan ritme.

Kasus sederhana adalah penangkapan dan penahanan pengedit baju sinterklas yang dikenakan KH Ma’ruf Amin. Dapat berefek pada kritik melalui meme, karikatur, atau sindiran lain yang menjadi bagian dari kebebasan berpendapat.

Sementara Ade Armando yang dilaporkan  kasus ‘baju sinterklas’ yang dikenakan kepada Habib Riziek dan ulama lain, tidak ada penangkapan dan penahanan. Angin lewat saja. Padahal pengeditan anak aceh berhubungan dengan pernyataan KH Ma’ruf Amin soal ucapan kontroversi “Selamat Natal”.

Sedang pengeditan Armando sama sekali tidak memiliki relevansi. Murni penghinaan. Tapi itulah kalau pemrosesan bukan semata hukum melainkan pesanan atau suka suka.

Kasus Alfian Tanjung, Tamim Pardede, Bambang Tri, Buni Yani, Ahmad Dani, atau mungkin Habib Bahar adalah contoh lain. Yang lebih fenomenal,  tentu Habib Rizieq yang “lolos” dengan pengorbanan mahal mesti berada di Saudi Arabia selama ini.

Mereka yang dikualifikasikan kritis terhadap “rezim jokowi” dibungkam lewat hukum. Suatu hal yang biasa terjadi dalam sejarah politik yang cenderung ingin melanggengkan kekuasaan.

Kini bangsa menuju kompetisi di April 2019. Rakyat Indonesia sedang diuji sikap politik demokrasi mengenai konstelasi tersebut di atas. Mampu kah rezim yang mengancam demokrasi bertahan, atau sebaliknya ia rontok digantikan oleh kepemimpinan baru. Getaran nurani rakyat adalah perubahan.

Moga saja selesai secara konstitusional pada Pilpres 2019 dan tidak berlanjut pada perlawanan masif di waktu setelahnya,  karena saat ke depan bisa saja demokrasi itu bukan saja terancam tapi benar benar terinjak atau tercabik cabik. Naudzu billahi min dzalik.

*Ketua Masyarakat Unggul (Maung) Institute Bandung

GUIB Jatim Apresiasi Langkah Cepat Aparat Antisipasi Paham Komunisme

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Sekjen Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jatim, Ustaz Muhammad Yunus, mengapresiasi kerja cepat pihak aparat, baik polisi mau pun TNI yang sigap melawan merebaknya paham komunis di Indonesia.

Penyitaan 108 buah buku PKI dari dua toko buku di Pare, Kediri, Jawa Timur, membuktikan paham komunis terus bergerak, dan kini mereka mendapat angin segar.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kesigapan aparat dalam merespon laporan masyarakat serta mengapresiasi terkait adanya gejala kebangkitan ajaran komunis yang bermetamorfosis dalam bentuk bentuk baru,” kata Ustaz Muhammad Yunus kepada Jurnalislam.com, Senin (31/12/2018).

Mengutip Tap MRPS, Yunus menegaskan bahwa Komunisme, marxisme dan leninisme adalah ideologi terlarang di Indonesia.

“Potensi kebangkitan itu sangat nyata dinegeri ini. Oleh karena itu, kesigapan aparat dalam merespon ancaman bahaya ideologi tersebut harus dikuatkan, termasuk kepedulian masyarakat. Terima kasih kepada polisi dan TNI,” tegasnya.

Hal yang sama disampaikan Arukat Djaswadi, pengamat pergerakan Komunisme di Indonesia. Menurutnya, pendukung komunisme di Indonesia saat ini sudah sangat percaya diri dan diduga mulai masuk ke pos-pos penting di pemerintahan.

Pengecekan buku dilakukan Kodim atas laporan masyarakat. Sebagian buku yang disita dibawa ke Polres Kediri, adapun sisanya dibawa ke markas Kodim 0809 Kediri dan Bakesbang Linmas Pemerintah Kabupaten Kediri.

Komandan Kodim 0809 Letnan Kolonel Kav. Dwi Agung Sutrisno menjelaskan dirinya memerintahkan pengamanan buku-buku itu demi menghindari potensi kerawanan di masyarakat. Sebab keberadaan buku-buku itu disinyalir telah memicu keresahan warga.

“Kami amankan buku-buku itu untuk menghindari kerawanan,” ucap Agung.

 

Oknum PGN Pelaku Penyerangan di Masjid Al-Huda Wonosobo Minta Maaf

WONOSOBO (Jurnalislam.com) – Arga Ramadhan, oknum dari organisasi Patriot Garuda Nusantara (PGN) yang membuat kericuhan di halaman Masjid Al-Huda Sudagaran, Wonosobo, Jawa Tengah kemarin, Ahad (30/12/2018) akhirnya meminta maaf. Bersama puluhan rekannya, Arga melakukan mengintimidasi peserta Aksi Bela Uighur yang hendak melakukan shalat dzuhur di masjid yang juga menjadi titik kumpul aksi tersebut..

“Saya mewakili oknum mohon maaf sebesar-besarnya, dengan kerendahan hati saya atas kejadian tadi pada hari minggu pukul 12.00 WIB, kami tadi melakukan hal hal yang kurang berkenan di hati saudara kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,” katanya di hadapan puluhan umat Islam yang mengawal jalannya audensi di Pendopo Bupati Wonosobo, Ahad (30/12/2018) malam.

“Mungkin untuk kedepan kita bersatu, bisa berkolaborasi, untuk Wonosobo lebih damai, lebih maju dan lebih berkarya,” sambungnya.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=VZvp3_vA9tc[/embedyt]

Sementara itu, Muntako ketua Mujahidin 1912, meminta umat Islam untuk tidak memperpanjang kasus tersebut. Ia menyebut Kapolresta Wonosobo AKBP Abdul Waras telah berjanji untuk menindak tegas oknum-oknum PGN apabila kembali membuat keributan terhadap umat Islam Wonosobo.

“Setelah pulang dari sini semua clear tidak ada masalah, dan sudah ada komitmen dari bapak Kapolres bahwa ketika sewaktu waktu ini terjadi lagi, kita tidak usah melapor delik aduan semua biar pak Kapolres yang menindak,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, sekelompok massa berseragam PGN melakukan penyerangan terhadap peserta aksi Solidaritas Muslim Uighur di Masjid Al Huda, Sudagaraan Wonosobo saat hendak melakukan shalat Zuhur Berjamaah pada Ahad (30/12/2018).

Massa PGN juga berusaha merebut bendera tauhid dari peserta hingga memicu aksi saling dorong dan nyaris baku hantam. Oleh karena itu, ratusan umat Islam melaporkan kasus tersebut ke pihak aparat pada ahad malam.

 

 

Spider-Man dan Kardus Peduli Bencana

“Spider-Man saja mau membantu, masa pemerintah enggak?”

SERANG (Jurnalislam.com) – Pagi itu tidak seperti biasanya. Cuaca dingin namun suasana tetap hangat. Gemercik hujan menetes, sedikit demi sedikit membasahi suatu tempat berkumpulnya warga kota Serang.

Car Free Day atau CFD yang digelar di pusat Ibukota Provinsi Banten, Ahad (30/12/2018) ini dipenuhi oleh sejumlah komunitas, beraksi dalam Bakti Sosial untuk korban Tsunami Selat Sunda.

“Spider-Man datang, mari kita foto bersama, mari kita berdonasi,” ujar salah seorang ditengah-tengah Alun-alun Timur kota Serang.

Lantas saja, penulis datang dan menghampiri suara tersebut. Terlihat tiga orang berkostum Spider-Man lengkap bersama satu orang dengan sebuah Toa berkumpul di tengah-tengah warga yang sedang asyik mendengarkan aksi charity lain dari komunitas UIN Banten Beatbox.

Komunitas Spider-verse Indonesia wilayah Banten. Foto: Fajar/Jurnis

“Kami dari komunitas Spider-verse Indonesia,” ujar Andika, perwakilan Spider-verse Indonesia Banten.

Gemercik hujan tipis mulai mereda, komunitas tokoh pahlawan Marvel sejak 2014 ini terlihat gagah dengan sebuah kotak kardus bertempelkan dua carik kertas yang sudah dilaminating. Secarik kertas bertuliskan nama Komunitas, seruan berfoto bersama, dan berdonasi dibawa memutari seisi Alun-alun.

“Om, anak saya mau foto bersama dong,” kata seorang Ibu yang menggendong anaknya untuk berfoto bersama, lalu menyisihkan sebagian uangnya kedalam kardus.

Andika menjelaskan tujuan aksi ini untuk menggalang bantuan kepada warga terdampak tsunami Selat Sunda.

“Rencananya juga kami ingin memakai kostum Spider-Man kesana saat menyerahkan bantuan, untuk menghibur juga,” jelasnya didampingi satu orang Spider-Man disampingnya.

Sementara itu, Komunitas Spider-verse Indonesia yang berada di berbagai wilayah, mulai dari Jakarta sebagai pusat sampai di Samarinda menggelar aksi yang sama.

Spider-Man bersemangat membawa kardus peduli bencana

Tujuannya mulia, untuk mengedukasi bahwa pahlawan itu ada dan semua dapat menjadi pahlawan dengan membantu sesama.

“Kita pingin ngasih tahu, Hero itu nyata, pahlawan itu ada diantara kita, kita juga bisa menjadi pahlawan. Caranya apa? Mungkin dari Spider-verse Indonesia sendiri dengan cara mengumpulkan dana untuk musibah,” papar pria bertopi biru ini.

“Yang saya ingin kasih tau, pahlawan itu ada di sekitar kita,” tambahnya semangat.

Ia menceritakan respon positif dari masyarakat. Pada aksi ketiga setelah pemberian donasi ke Dompet Dhuafa dilanjut Yatim Mandiri ini, 40 warga sejak pagi hingga jam 8.30 sudah datang untuk foto bersama sekaligus memasukan uang kedalam kotak kardus.

Dengan suara yang lembut, sedih, namun tetap tegar, dan semangat, Andika berharap kepada korban terdampak Tsunami Selat Sunda untuk tetap tabah dan bersabar menghadapi ujian dari Tuhan ini.

Ia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk membantu dalam bentuk apapun secara maksimal.

Kendati demikian, ia bersama komunitas Spider-verse Indonesia berharap kepada pemerintah untuk segera membantu dan memulihkan keadaan.

“Spider-Man saja mau membantu, masa pemerintah enggak?.”

“Spider-Man saja mau membantu, ada yang jauh-jauh dari Queens New York,” harapnya sambil diiringi candaan.

Turki dan Integritas Teritorial Suriah

ANKARA (Jurnalislam.com) – Tekad Turki untuk memerangi kelompok-kelompok teror memainkan peran penting dalam perlindungan integritas teritorial Suriah, menurut analis kebijakan luar negeri dan keamanan regional.

Abdullah Agar, seorang mantan komando dan pakar keamanan regional, mengatakan kepada Anadolu Agency Ahad (30/12/2018) bahwa tekad Turki untuk melakukan operasi anti-teror terhadap YPG dukungan AS telah merusak dan mengganggu struktur kesatuan Suriah.

Abdullah Agar mengatakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan selalu menekankan pentingnya menjaga integritas wilayah Suriah dan bahwa selama pertemuan hari Sabtu antara pejabat tinggi Turki dan Rusia, masalah ini digarisbawahi.

Pada hari Sabtu di Moskow, setelah bertemu dengan para pejabat tinggi Turki termasuk menteri luar negeri dan pertahanan serta pembantu presiden, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa Ankara dan Moskow telah mencapai kesepahaman dalam mengambil langkah lebih lanjut atas Suriah.

“Pada saat ini, tidak peduli apakah benua Eropa mengakui atau tidak, mereka telah melindungi, mendanai, memperlengkapi, dan mengarahkan organisasi teroris separatis,” tambah Agar.

Oytun Orhan, koordinator studi Suriah di Pusat Studi Strategis Timur Tengah (ORSAM) yang berbasis di Ankara, mengatakan bahwa ada dua aktor di Suriah yang mengancam integritas teritorial negara itu.

“Ancaman terbesar bagi integritas teritorial Suriah dan kesatuan politik berasal dari PYD dan sayap militernya YPG,” kata Orhan.

Baca juga:

Serhat Erkmen, seorang profesor di Akademi Penjaga Gendarmerie dan Penjaga Pantai yang berbasis di Ankara, mengatakan bahwa Turki tidak pernah mengubah kebijakannya untuk melindungi integritas wilayah Suriah.

Menurut Erkmen, pembicaraan tripartit baru-baru ini antara Rusia, Iran, dan Turki menunjukkan betapa pentingnya peran kebijakan Turki.

“Baru-baru ini, operasi Euphrates Shield dan Olive Branch dan operasi di Idlib menunjukkan betapa seriusnya peran Turki dalam hal ini,” tambahnya, merujuk pada operasi kontra-teroris Turki di Suriah yang dilakukan sejak 2016.

Ankara telah mengisyaratkan operasi kontra-teroris baru di Suriah, di sebelah timur Sungai Efrat, akan segera dimulai.

Erkmen mengatakan pembentukan komisi konstitusi di Suriah, potensi operasi militer Turki melawan kelompok-kelompok teror, dan proses politik baru di Suriah akan mengkonsolidasikan peran Turki dalam melindungi integritas teritorial Suriah.