Berita Terkini

Mustofa : Tidak Tepat UU Terorisme Digunakan untuk Tangani Hoax

SUKOHARJO (Jurnalislam.com)- Tokoh muda Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya menanggapi wacara Menkopolhukam Wiranto yang akan gunakan UU Terorisme untuk tangani penyebaran hoax pemilu 2019.

 

Menurut Mustofa, apa yang dilakukan mantan panglima TNI tersebut salah kaprah dan tidak tepat.

 

“Jadi UU Terorisme itu bukan untuk menghantam pelaku pelaku kejahatan dibawah kejahatan extra ordinary crime, dibuat UU Terorisme itu dalam rangka untuk menghantam kejahatan extra ordinary crime,” katanya kepada Jurniscom di Cemani, Sukoharjo, kamis, (21/3/2019) malam.

 

“Khusus untuk terorisme, karena definisi terorisme yang tidak jelas, maka Wiranto ikut tersesat, seolah olah UU terorisme itu bisa dipakai siapa saja, yang meneror supaya istilah teror itu ada bermacam macam,” imbuhnya.

 

Kalau hanya teror teror kebijakan manusia soal hutang, karena soal politik, soal muamalah, kata Mustofa, tidak ada urusannya dengan terorisme.

 

“Yang terkait dengan UU terorisme itu jika terkait dengan keamanan negara, terkait dengan ideologi, terkait dengan keselamatan umat manusia, itu baru yang terkait dengan UU terorisme,” ujarnya.

 

“Maka dibuat UU khusus spesialis karena bukan rangka untuk menghantam nyamuk nyamuk, seperti ibaratnya ada nyamuk, ada ular, ada kucing, ada gajah yang mengganggu bukan dengan cara yang sama, untuk gajah dengan bab terorisme kalau hanya nyamuk sangat kecil, teror teror kekerasan, itu dengan KUHP,” pungkasnya.

Peran Strategis Imuwan Muslimah dalam Sejarah Islam

Oleh : Hardita Amalia, S.Pd.I, M.Pd.I*

(Jurnalislam.com)–Hampir 14 abad khilafah Islam berjaya di seantero negri Islam di terapkan secara paripurna dalam semua sendi kehidupan termasuk dalam aspek pendidikan.

Hingga kita melihat penerapan Islam membuahkan hasil gemilang termasuk di kalangan muslimah.

Munculnya banyak tokoh ilmuwan muslimah yang memiliki kontribusi besar dalam kehidupan bahkan kita bisa merasakan hasil penemuannya yang memiliki benefit yang luar biasa kepada manusia diera kini.

Diantara ilmuwan muslimah pada era khilafah Islam yang mampu menorehkan prestasi luar biasa.

Ada Mariyam “Al-Astrolabiya” al-Ijliya .Maryam hidup sekitar Abad 10 masehi. Sayangnya, tidak banyak yang diketahui tentang identitasnya.

Bahkan nama Mariyam pun adalah nama yang disandangkan padanya oleh the Syrian Archaeological Society.

Dan “Al-Astrolabiya” tidak lain adalah julukan yang diberikan oleh para ilmuan Eropa kepadanya atas jasanya dalam bidang astronomi.

Orang-orang lebih banyak mengenalnya melalui karyanya yang luar biasa, yaitu Astrolabe.Astrolabe yang berarti (star finder) atau alat pemburu bintang, adalah GPS pertama di dunia.

Inilah alat pertama yang digunakan untuk menentukan lokasi, waktu (tahun, bulan dan tanggal), dan peredaran matahari.

Menurut Harold Williams seorang ahli di bidang astrofisika (Astrophysicist), Astrolabe adalah alat penghitung astronomi yang paling penting sebelum komputer digital ditemukan, dan instrumen observasi astronomi yang paling penting sebelum teleskop ditemukan.

Mariyam membuat desain dan teknik pembuatannya lebih rumit, inovatif dan lebih presisi.

Menurut Prof. Saleem Al-Husaini, yang dikutip dari Arab Times, “Mariyam adalah Muslimah pertama pembuat cikal alat transportasi dan komunikasi untuk dunia modern.

Pekerjaan yang dilakukannya rumit dan berkaitan dengan persamaan matematis tapi ia mampu membuktikan kemampuannya dalam bidang ini.

Peran Muslimah dari Masa ke Masa

Sejak masa Rasulullah ﷺ berdakwah di Mekkah hingga masa kekhilafahan Islam, kaum Muslimah turut berkiprah di tengah masyarakat.

Mereka melaksanakan perannya sebagai ummun wa robbatul bait, aktif beramar ma’ruh nahyi munkar, hingga berkontribusi dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Misalnya, Ummul Mukminin, Aisyah binti Abu Bakr. Ia memiliki keahlian khusus dalam administrasi, ahli hadis, fiqih, seorang pendidik, dan seorang orator.

Dalam bidang medis, sosok Rufaida Al Islamiyyah dikenal sebagai perawat Islam pertama dengan keahlian medisnya.

Dalam peperangan yang terjadi di berbagai Medan pertempuran, Rufaidah kerap merawat korban yang terluka dan sekarat di tenda-tenda yang didirikan kaum Muslimin. Keahlian medisnya ia kontribusikan untuk kemaslahatan kaum Muslimin.

Selain Rufaida, ada dua sahabiyah lain yang menggeluti bidang medis. Mereka adalah al-Ashifa binti Abdullah dan Nusaiba binti Harits al-Ansari.

Sejarah mencatat, mereka pernah merawat Rasulullah ﷺ ketika menderita luka-luka akibat peperang. ( Republika, 28 April 2010) Dalam bidang matematika, adalah Sutaita al-Mahamali salah satu Muslimah yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai sosok ilmuwan pakar matematika.

Ia merupakan ilmuwan Muslimah yang hidup di abad ke – 10 H masa kekhilafahan Abbasiyah.

Kemahiran yang ia torehkan dalam bidang matematika berhasil memecahkan solusi sistem persamaan dalam matematika.

Catatannya tentang sistem persamaan tersebut kini banyak dikutip oleh para matematikawan lainnya. Selain itu, ia juga seorang pakar dalam bidang ilmu hadis, sastra Arab dan hukum dan seorang saksi ahli di pengadilan.

Ilmuwan Matematika lainnya adalah Labana dari Cordoba, Spanyol. Labana adalah salah satu dari beberapa matematika perempuan Islam yang banyak bergelut dalam ilmu-ilmu eksakta.

Ia juga bisa memecahkan masalah geometri dan aljabar yang paling kompleks yang dikenal di zamannya. Karenakeluasan ilmu dan literatur umum yang diperolehnya, ia dipekerjakan menjadi sekretaris pribadi Umayyah Khalifah SpanyolIslam, al-Hakam II. Kontribusi ilmu matematika saat itu ditujukan untuk melakukan perhitungan warisan sesuai dengan aturan hukum Islam.

Sehingga ilmu matematika sangat bermanfaat digunakan dalam perhitungan dan aritmatika yang terkait dengan perhitungan successoral (fara’idh dan mawarith).

Peran Strategis Muslimah

Islam agama rahmatan lil’alamin dan agama yang sempurna yang mengatur beragam aspek kehidupan.

Islam juga menempatkan perempuan pada kedudukan yang mulia dimana Islam memberikan kesempatan setinggi – tingginya bagi para perempuan untuk mengoreskan amal kemuliaan dalam menuntut ilmu dan berkontribusi bagi umat.

Semua itu dilakukan tanpa menghilangkan peran utamanya sebagai umm warabatul bayt ( ibu dan manajer rumah tangga ) karena menuntut ilmu juga mengamalkannya.

Bagi muslim, merupakan aktivitas ibadah yang diperintahkah oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana firman-Nya dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56: “Keutamaan orang-orang yang menuntut ilmu telah dijamin oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS Al-Mujadilah [58]: 11).

Penerapan Islam pada era Khilafah Islam menjadikan laki- laki dan perempuan bersinergis dalam amal sholih semua sama tidak ada pembeda.

Keberadaan keduanya di tengah-tengah masyarakat tidak dapat dipisahkan. Karena itu, aktivitas politik dalam pengertian riayah syu’unil ummah atau pengaturan urusan umat bukan hanya kewajiban laki-laki saja, melainkan juga merupakan kewajiban kaum perempuan sebagai bagian dari umat.

Dan Terbukti,pada realitas history bahwa  negara khilafah yang kaya akan visi keumatan telah memproduksi banyak ilmuwan Muslimah sholihah, dengan kapasitas multi disiplin ilmu.

*Penulis adalah seorang ibu yang aktif menulis buku juga mengajar di STAI PTDII. Founder Sekolah Ibu Pembelajar

JAS Malang untuk Selandia Baru: Aksi Solidaritas dan Doa Bersama

MALANG (Jurnalislam.com) – Aksi Solidaritas untuk Muslim Selandia Baru juga digelar Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) di Jalan Veteran Malang, Jumat (22/03/2019).

Aksi yang digelar seusai salat Jumat tersebut, diawali dengan salat ghaib, doa bersama, dan dilanjut dengan membentangkan banner di sekitar jalan Veteran.

Selain bentuk solidaritas, tujuan aksi ini untuk mengecam aksi terorisme di Selandia Baru, dan berharap pemerintahan setempat menjatuhi vonis seberat-beratnya bagi pelaku teror.

“Aksi ini kami selenggarakan dalam rangka mengecam aksi teroris di Selandia Baru, berharap pemerintah setempat menghukum pelaku dengan seberat-beratny,” kata Fuad Ibrahim, ketua JAS Malang seusai aksi.

Selain itu ia juga mengajak warga Malang untuk mendoakan korban tewas pada Jumaat lalu di dua Christchurch, Selandia Baru.

“Agar ditempatkan ditempat yang mulia disisi Allah,” pungkasnya.

Diketahui, pada hari ini, Jumat (22/3/2019) digelar aksi solidaritas untuk Selandia Baru serentak di beberapa kota.

Diiringi Rintik Hujan, 5000 Warga Tasik Gelar Aksi Solidaritas untuk Selandia Baru

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Semangat solidaritas untuk ‘tragedi’ Selandia Baru juga terjadi di Tasikmalaya. Sedikitnya, 5000 warga melakukan longmarch dari Masjid Agung Tasik mengelilingi kota untuk melakukan aksi simpatik, Jumat (22/3/2019).

“Ini merupakan aksi simpatik untuk menyampaikan belasungkawa dan dukungan terhadap korban teror yang dilakukan kepada umat islam di Selandia Baru,” ungkap Sekjen Al Mumtaz Abu Hazmi di lokasi.

Selain itu ia mengatakan, fenomena damai dan tabah yang diperlihatkan korban dan keluarga terdampak menunjukan nilai-nilai Islam.

Ribuan massa melakukan longmarch mengelilingi kota Tasikmalaya

“Namun, terorisme sepanjang sejarah justeru diproduksi, ditebar, dan dilakukan oleh selain Islam,” pungkasnya ditengah rintik hujan.

Diketahui, aksi damai untuk solidaritas Selandia Baru ini dikoordinasi oleh Al Mumtaz Tasikmalaya dan diiringi rintik hujan. Meski begitu, ribuan massa tetap melakukan aksinya untuk kepedulian terhadap korban di Selandia Baru.

Keluarga Harap Hakim Hukum Adil Pembunuh Siyono

KLATEN (Jurnalislam.com)- Kordinator Tim Pembela Kemanusiaan (TPK) Dr Trisno Raharjo optimis Hakim akan memberikan keputusan yang berpihak kepada istri almarhum Siyono, Suratmi.

Pihaknya telah menghadirkan tiga saksi kunci dalam sidang lanjutan pra peradilan kasus kematian Siyono di Pengadilan Negeri (PN) Klaten, Kamis, (21/3/2019).

“Kami Dengan menyampaikan bukti-bukti ini kami optimis bahwa hakim akan memutuskan seadil-adilnya dan berpihak kepada Suratmi,” katanya kepada jurniscom di sela-sela sidang.

Ketiga saksi tersebut adalah Dokter Forensik Gatot Suharso dari Komnas HAM, Dr Arief Setyawan SH MH, Dosen fakultas hukum universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan Heriyan Firmansyah pengirim surat dari TPK.

“Pertama dokter Gatot kedua Doktor arief tengah menguatkan dalil-dalil kami, tentang praperadilan ini, dari keterangan itu yang satu tentang otopsi,”katanya.

Opsi itu, katanya, dilakukan oleh dokter forensik yang melakukan bedah mayat, harus melakukan bedah mayat, bukan CT Scan.

“Pihak kepolisian pernah menyatakan Siyono itu sudah lengkap, tidak perlu dilakukan otopsi melalui CT Scan, dan itu tidak memenuhi standart,” tambahnya.

Menurut Trisno, bukti tentang harus adanya otopsi tersebut belum pernah dimunculkan dalam proses penyidikan oleh Polres Klaten.

Kemudian, kata, Trisno, Arief Setiawan juga sudah kita mintakan keterangannya tentang pengetahuannya bahwa dimungkinkan penghentian diam diam itu dalam ranah pra peradilan.

“Sehingga kami nanti dalam menyimpulkan akan menegaskan apa yang yang telah dikemukakan oleh para ahli,” ungkapnya.

Sementara PN Klaten dijadwalkan akan memberikan putusan pra peradilan kasus Siyono pada selasa, (26/3/2019).

Datangi Konjen Australia, SOIS Gelar Aksi Teatrikal ‘Ceplok Telur’

SURABAYA (Jurnalislam.com) – Gelombang demonstrasi dan aksi solidaritas untuk ‘tragedi’ Selandia Baru terus berlanjut. Kali ini, ratusan massa dari Solidaritas Organisasi Islam kota Surabaya (SOIS) menggelar aksi unjuk rasa di Konjen Australia, Gedung ESA Sampoerna Center, Surabaya, Jumat (22/3/2019).

“Bila seorang pemuda dengan beraninya ia secara langsung melakukan aksi lempar telur kepada seorang senator Australia, maka kami tidak akan takut untuk melakukan aksi solidaritas disini,” kata orator dari FPI, Habib Mahdi di lokasi.

Sementara itu, Reyno Aditya koordinator IPM SMP Muhamadiyah 11 Surabaya mengatakan, kehadiran rombongan pemuda belasan tahun ini sebagai bentuk kepedulian.

IPM Muhammadiyah 11 Surabaya ikut melakukan aksi. Foto: Adit/Jurnis

“Sebagai wujud kepedulian dan kami pun berharap untuk pelaku dihukum yang sesuai karena telah membunuh sebanyak 50 umat Islam yang berada di dalam masjid,” tegasnya.

Selain orasi, massa juga melakukan aksi teatrikal dengan melemparkan telur ke sejumlah dan membakar kertas bergambarkan bendera Australia.

Aksi teatrikal pembakaran dan pelemparan telur ke sejumlah kertas bergambarkan bendera Australia

Aksi damai yang dihadiri oleh sejumlah ormas Islam ini dilakukan hingga sore hari dengan ditutup doa bersama.

Berbeda! PBNU Dukung Wiranto Gunakan UU Terorisme untuk Pelaku Hoaks

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Meski wacana Menkopolhukam, Wiranto yang akan menggunakan undang-undang (UU) Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme untuk pelaku berita bohong atau hoaks dikritik dan ditentang banyak pihak, tetapi tidak dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Wakil Ketua Umum PBNU Maksum Machfoed menyebut, bentuk-bentuk teroris dan pelaku hoaks itu bermacam-macam. Intinya, adalah menebar ketakutan.

“Ya bagus sekali harusnya itu. Jadi gini, teroris itu bisa macam-macam, hoaks itu bisa berwajah teroris, kalau itu kenapa tidak (diterapkan)?” ujar Maksum di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (21/3/19).

Ia mengaku, hoaks itu adalah aksi yang dilakukan dengan tujuan membuat hidup tidak tenang dengan sumber yang tidak dapat di percaya. Selain itu, kata dia, hoaks bentuk nya bermacam, bisa melalui dunia maya maupun nyata.

“Intinya teror to. Teror itu bisa lewat mulut, bisa lewat tindakan fisik, bisa lewat sms, bisa lewat hoaks. intinya teror,” tegasnya.

Menurut Maksum, teror itu bukan hanya dituju pada tindakan fisik dengan senjata pemusnah massal saja, namun juga bisa melalui lisan.

“Jadi intinya, substansinya teror, bukan fisikal teror. Memang, teror pake granat? No. Memang, teror pake senjata tajam? No. Teror pakek mulut juga bisa,” tandasnya.

Namun begitu, menurut dia, indikator untuk pemberlakuan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme kepada pelaku hoaks tertentu harus diperhatikan dengan cermat. “Iya (pemberlakuanya), tidak ngawur, kemudian dianggap teror,” tandasnya.

Sebelumnya, Wiranto menyebut hoaks merupakan bagian dari tindakan terorisme. Menurutnya, terorisme ada dua, yakni fisik dan nonfisik.

Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Desak Jokowi Copot Menag

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ketua Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Trisno Rahardjo, mendesak Presiden Jokowi memberhentikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Pemberhentian itu dinilai layak dilakukan menyusul massifnya praktik jual beli jabatan di kementerian itu.

“Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah memandang Presiden Jokowi harus mengambil langkah cepat dengan memberhentikan Menteri Agama Lukman Hakim,” ujar Trisno dalam keterangannya, Kamis (21/3/2019).

Praktik jual beli jabatan di Kemenag mengemuka setelah KPK melakukan OTT terhadap mantan Ketum PPP Romahurmuziy dan Kakanwil Kemenag Jatim. Imbasnya ruang kerja Menag Lukman disegel dan sejumlah uang disita dari ruangannya.

Trisno mengatakan, praktik jual beli jabatan di Kemenag menunjukkan sistem rekrutmen di kementerian sarat dengan permainan kotor. Untuk itu, aparat penegak hukum dan hal ini KPK harus menyelidiki perkara ini secara menyeluruh.

“Dari penangkapan (OTT) Romahurmuziy, KPK tentu harus menyelidiki apakah Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam pusaran kasus (jual beli jabatan),” ungkapnya.

Selain mendesak Lukman dicopot, Trisno juga meminta Presiden Jokowi mengangkat Plt Menag. Dia meminta Plt pengganti Lukman harus melalui assessment tim ahli dari kalangan independen yang dibentuk presiden.

“Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah melalui pernyataan pers ini juga mengapresiasi dan mendukung kerja-kerja KPK dalam mengusut tuntas praktik jual beli jabatan di Kementerian Agama,” pungkas dia.

Sumber : detik.com

Busyro : Pra Peradilan Kasus Siyono untuk Kontrol Kinerja Kepolisian

KLATEN (Jurnalislam.com)- Ketua Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Busyro Muqoddas

mengatakan bahwa langkah pra peradilan untuk kasus kematian Siyono sebagai bentuk kontrol terhadap kinerja aparat kepolisian.

“Kita sebagai warga negara harus menjaganya, caranya dengan mengajukan pra peradilan, udah biar fair aja buka bukaan jangan slintutan (ada yang disembunyikan-red), jangan diem dieman karena hukum itu harus terbuka,” katanya di kediaman istri almarhum Siyono, Suratmi, Rabu (20/3/2019).

Ia menyesalkan cara-cara densus 88 yang seharusnya tidak terulang lagi.

“ Masa, kepada bangsa sendiri sampai ada korban, makanya kita nanti ini dibuka di pengadilan,” imbuhnya.

 

Lebih lanjut Busyro mempertanyakan kinerja aparat dalam menangani kasus kematian Siyono tersebut yang tidak ada perkembangan selama tiga tahun.

 

“Kita melihat kasus ini sudah lama di polres Klaten dan ada pendiaman, kirimi surat tidak merespon, ya sudah, kita hormati negara kita ini sejak awal diformat, diformilkan berdasarkan equality before the law,” ujarnya.

 

Lebih lanjut ia berharap PN Klaten dapat memberi putusan yang adil dan transparan.

 

“Sehingga kita menghormati negara hukum, polisi sebagai penegak hukum kita hormati juga, kita kalau nanti tidak diproses polisi nanti akan semakin mengalami deligitimasi,” paparnya.

 

“Ulah kepolisian yang banyak positifnya tapi juga tidak bisa memungkiri banyak negatifnya bisa membikin proses deligitimasi,” tandasnya.

Warga Bima Resah terkait Spanduk Minta Pisahkan Masjid dan Politik

BIMA(Jurnalislam.com)—Jelang pemilu, kini banyak bertebaran spanduk yang dinilai provokatif yang berisikan ajakan tidak melakukan aktivitas politik di tempat masjid.

Menanggapi kejadian itu, Ketua Forum ummat Islam ( FUI ) Kota Bima, Ustaz Asikin Bin Manshur dan perwakilan beberapa ormas islam mendatangi polisi.

Mereka resah terkait pemasangan spanduk yang dinilai provokatif di masjid-masjid yang berada di Kota Bima

Menurut ustaz Asakin,  masjid itu bukan hanya untuk tempat shalat saja, tetapi juga pusat aktivitas ekonomi, pendidikan hingga politik.

“Dengan adanya pemasangan spanduk di masjid seperti ini kami nilai sebagai bentuk stigmatisasi buruk terhadap kemuliaan masjid.Spanduk tersebut seolah-olah ingin memisahkan peran masjid dari politik, bahwa masjid tak ada kaitanya dengan politik. Bicara politik jangan di dalam masjid,” katanya Rabu (20/03/2019) di Mapolres Bima NTB.

Ia juga menegaskan bahwa Islam dan politik saling terkait. Elemen ormas Islam juga menyarankana agar pihak kepolisian berkoordinasi dulu dengan Majelis Ulama Indonesia(MUI) sebelum melakukan tindakan-tindakan terkait keislaman.

Perwakilan polisi mengaku akan menindaklanjuti laporan warga dengan mencopot spanduk-spanduk provokatif tersebut. (Saad)