Berita Terkini

Sambut Ramadhan, ACT Luncurkan Program ‘Marhaban Yaa Dermawan’

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menyambut bulan suci Ramadhan 1440 Hijriah, Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengajak seluruh umat Muslim untuk memperbanyak amal melalui program yang terangkum dalam tema ‘Marhaban yaa Dermawan’.

Presiden ACT, Ahyudin mengatakan, momen Ramadhan adalah saat terbaik untuk melipatgandakan ikhtiar dan amalan.

“Walaupun Indonesia masih disibukkan dengan politik, Ramadhan merupakan momen penyatuan berbagai perbedaan,” kata Ahyudin dalam sambutannya di Menara 165, Jakarta Selatan, Rabu (24/4/2019).

Untuk program ini, ACT menargetkan dapat menyalurkan pangan 15 ribu ton ke dalam dan luar negeri.

“Kita sudah kirim proposalnya ke ‘langit’ untuk melayani umat dengan 15 ribu ton pangan. Mohon didoakan dan di-support. Marhaban Yaa Dermawan untuk 10 ribu ton dalam negeri dan 5 ribu ton luar negeri,” ujarnya.

Bantuan tersebut akan mulai disalurkan pekan ini melalui Kapal Ramadhan. “Ramadhan juga menjadi spirit menebar amalan kebaikan,” sambung dia.

Sementara itu, Vice president Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar menjelaskan program Marhaban Yaa Dermawan ini hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia berbagi kepada sesama. Karena yang sama-sama diketahui, Indonesia merupakan negara dengan tingkat kedermawanan paling tinggi di dunia.

“Kami yakin seluruh umat Muslim sangat merindukan kehadiran Ramadan, dan menjadi momen terbaik bagi para dermawan untuk berbagi,” katanya.

Menurutnya, program Marhaban Yaa Dermawan bertujuan sebagai pengentas kemiskinan, yang memang masih tinggi di Indonesia. Bukan hanya Indonesia, perekonomian sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim juga masih mengkhawatirkan, baik karena konflik internal maupun eksternal yang berkepanjangan.

Untuk Ramadhan kali ini, ACT telah menyiapkan sederet program unggulan dalam tema Marhaban yaa Dermawan, antara lain, Kapal Ramadhan, Dai Tepian Negeri, Dapur Ramadhan, Pembangunan Family Shelter, Masjid dan Sekolah di Lombok dan Palu, Rumah untuk Yatim dan Syuhada di Palestina, Paket Ifthor dan Paket Lebaran untuk Palestina, Suriah, Yaman, Somalia dan Rohingya.

“Untuk target penerima manfaat untuk program dalam negeri, sekitar 6,2 juta jiwa dari akumulasi seluruh program Ramadhan,” ujarnya.

Selain itu, ACT juga memperkuat esensi wakaf di tanah air, seperti program warung wakaf, lumbung pangan wakaf, dan lumbung ternak wakaf. Adapun target dari serangkaian program ini, adalah 2,1 juta penerima manfaat di 223 titik di seluruh Indonesia.

Islam Solusi Tuntas Selesaikan Massifnya Kriminalitas Remaja 

 Oleh : Hardita Amalia, S.Pd.I., M.Pd.I  
(Mom of Two, Dosen STAI PTDII Jakarta, Penulis Buku Anak Muda Keren Akhir Zaman Qibla Gramedia, Peneliti dan Anggota Adspik Nasional, Pemerhati Pendidikan, Konsultan Parenting, Founder Sekolah Ibu Pembelajar) 

KRIMINALITAS di kalangan remaja kian hari bagai fenomena gunung es yang belum mampu terselesaikan. Menurut data yang dilansir oleh Kapolres Jakarta Barat selama tahun 2018 hingga Februari 2019, tercatat sebanyak 122 pemuda berstatus pelajar terlibat dalam aksi kejahatan jalanan di Jakarta Barat. Hal ini dinilai memprihatinkan karena berkaitan dengan adanya konsumsi narkoba di kalangan remaja.

Mengutip dari  jppn.com (19/4/2019) empat pemuda mengeroyok seorang siswa SMA di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalteng, diduga dipicu persoalan asmara. Empat pelaku bernama M Misran (20), Arjuna (20), Ariansyah (19), dan Hendri Yanto (20).

Terbaru, kasus kenakalan remaja kembali ditemukan di Probolinggo, Jawa Timur. Dilansir oleh Kompas.com pada Selasa (16/4/2019), Kapolres Probolinggo AKBP Eddwi Kurniyanto mengatakan bahwa kedua pelaku berinisial MWS (13) yang masih duduk di bangku SD kelas VI dan MMH (18) duduk di bangku SMP karena tak pernah naik kelas. MWS dan MWH diduga kuat telah memperkosa AZ (18) yang masih duduk di kelas 1 SMA.

Peristiwa asusila itu terjadi pada 2 April 2018, sekitar pukul 15.00 WIB. Dan perilaku asusila tersangka dilakukan berkali-kali hingga korban hamil. Tidak hanya itu massifnya kenakalan remaja pun terjadi secara merata di berbagai wilayah di Indonesia tak terkecuali di wilayah Karimun Batam. Dikutip dari batamnews.co.id (11/04/2019) kenakalan remaja di Karimun mulai memprihatinkan. Setiap razia ketertiban yang digelar, selalu saja remaja yang terjaring.

Bupati Karimun, Aunur Rafiq mengakui hal ini. Razia sering digelar pada saat-saat tertentu, namun tetap saja kenakalan remaja tetap tinggi. Diantaranya massifnya anak muda Karimun Batam yang berpesta minuman keras.

Faktor Penyebab Massifnya Kriminalitas Remaja

Menurut Penulis beberapa faktor penyebab massifnya kriminalitas remaja, diantaranya: Pertama, lost identity remaja muslim. Kita melihat,bahwa Indonesia adalah negri muslim terbesar di dunia. Indonesia adalah gambaran representasi muslim dunia. Tak terkecuali yang terjadi pada remaja kita yang kehilangan jati dirinya sebagai seorang remaja muslim yang terikat dengan hukum syara’. Kondisi pergaulan yang serba hedonis menyebabkan free sex hingga hamil di luar nikah menjadi hal biasa yang marak terjadi. Barat menjadi kiblat dan life style remaja kita. Hingga tak mengherankan, menyebabkan lemahnya aqidah dan keimanan remaja muslimin hingga terseok hilangnya identitas remaja muslim saat ini.

Kedua, lemahnya benteng keluarga. Masifnya kriminalitas remaja, menurut banalisa penulis adalah adalah karena lemahnya support sistem yang baik yakni pengasuhan utama orang tua juga keluarga. Orang tua dan keluarga menentukan kualitas generasi remaia. Jika orang tua mampu menjadi madrasah pertama utama yang mengajarkan aqidah Islam juga nilai-nilai akhlak karimah akan menjadi benteng utama bagi anak menghadapi arus zaman yang serba liberal seperti sekarang. Namun kini kita menghadapi banyaknya remaja yang melakukan kriminalitas sebab broken home yang terjadi dalam unit keluarga. 

Ketiga, lemahnya kontrol masyarakat. Menurut penulis, lingkungan masyarakat memiliki andil besar dalam membentuk ekosistem yang baik yang mampu mentransfer nilai-nilai luhur kepada warganya, maka hal tersebut berkorelasi dengan sistem yang diterapkan dalam tatanan masyarakat. Saat ini sistem demokrasi kapitalisme menjadi pengatur dalam kehidupan sehingga menyebabkan manusia bebas berekspresi sehingga manusia cenderung membuat aturan sendiri dan melakukan segala sesuatu berdasarkan nafsunya tanpa melihat koridor agama. Dan tak hanya itu konteks sekulerisme menjadi penyebab utama maraknya kriminalitas termasuk yang dilakukan para remaja. 

Keempat, lemahnya peranan negara. Dalam analisa penulis, saat ini negara belum melakukan upaya komprehensif dalam menyelesaikan persoalan kriminalitas remaja. Membuka kran budaya-budaya hedonis Barat masuk ke Indonesia serta menfasilitasinya menjadi faktor utama penyebab kriminalitas remaja. Maka negara harus serius menjadikan Islam sebagai problem solving dalam permasalahan kriminalitas remaja ini. 

Islam Menyelesaikan Kriminalitas Remaja 

Islam adalah agama yang komprehensif memberikan solusi secara sempurna dan menyeluruh dalam setiap problem kehidupan termasuk dalam hal menyelesaikan kriminalitas remaja. Solusi dalam menyelesaikan kriminalitas remaja,diantaranya yang utama adalah bagaimana menginternalisasi aqidah Islam secara menyeluruh dalam diri remaja,sehingga terbentuk pola fikir dan pola sikap ( syakhsiyah Islam ) pada diri seorang remaja. Remaja menyadari esensi penciptaan dirinya dalam kehidupan sebagai abdullah dan khalifatullah di muka bumi. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S  Ad zariyat ayat  56 yakni : 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

Artinya:Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dalam Q.S Al Baqarah ayat 30 Allah berfirman :  

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ 

Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Tidak hanya itu maka keluarga sebagai support sistem utama dalam membentuk karakter mulia pada remaja maka keluarga muslim harus memiliki pondasi keimanan yang kokoh dan menyeluruh sehingga terbentuknya generasi mulia generasi rabbani yang memiliki akhlak yang luhur.

Dan tentu peran besar masyarakat dan negara dalam menyelesaikan kriminalitas remaja ini menjadi penentu utama pula. Sebab masyarakat dan  negara  yang Islam secarah kaffah akan menjadikan bagian masyarakat didalamnya  memiliki perasaan pemikiran serta tolak ukur yang berlandaskan Islam akan menjadi miniatur utama dalam membentuk tatanan sosial yang luhur.

Kita melihat dalam sejarah bahwa selama kurun waktu penerapan Islam. Islam mampu mencetak generasi-generasi remaja rabbani yang b-ersyakhsiyah Islamiyah, serta mampu menjadi pemimpin perubahan di tengah-tengah umat. Kita bisa melihat sosok remaja Mus’ab bin Umair serta Muhammad Al-Fatih penakluk konstantinopel. Di usia belia mereka dihabiskan untuk berjuang di jalan Allah, menebar manfaat bagi Islam dan masyarakat serta mereka hadir menjadi remaja pemimpin umat di usia belia, dengan ketakwaan dan keimanan yang tinggi serta mampu menjadi teladan sepanjang masa. Maka dengan penerapan Islam secara komprehensif kita akan mampu melahirkan generasi hebat layaknya Mus’ab bin Umair dan Muhammad Al-Fatih yang akan menjadi oase di era modern seperti sekarang. 

Sebut Pemilu 2019 Terburuk, Tokoh Solo Siap Lawan Kecurangan

SOLO (Jurnalislam.com)- Tokoh Solo dan Mega Bintang Mudrick M Sangidoe mengatakan bahwa pemilu tahun 2019 ini merupakan sejarah kelam jalannya demokrasi di Indonesia karena banyaknya kecurangan yang dilakukan oleh kubu petahana.

Ia bersama relawan Prabowo-Sandi Soloraya mengaku siap melawan bentuk ketidakadilan dan kecurangan-kecurangan tersebut.

“Pemilu yang terbrengsek di indonesia baru kali ini,” katanya di Rumah Aspirasi, Laweyan, Solo, senin, (22/4/2019).

“Jadi kalau sampai mentok itu kecurangan kita bersiap melawan kecurangan dan ketidadilan,” sambungnya.

Kecurangan tersebut disebut Mudrick sudah terjadi dimana-mana dan terlihat sangat masif dan sistematis.

“Kita mengikuti di medsos bahwa banyaknya kecurangan dan bawaslu juga sudah menyebut ribuan kecurangan,” ujarnya.

Lebih lanjut Mudrick juga mengkritik lambatnya Sistem Informasi Hitung (Situng) resmi milik KPU, ia bahkan menilai hal itu akan membuat celah kubu petahana untuk kembali melakukan kecurangan.

“KPU kelihatan sekali berpihak kepada 01, tidak adil dan tidak jujur, Itu terlalu lama, karena sampai saat ini baru berapa persen, dan ini ada kesengajaan untuk memperlambat,” paparnya.

“Artinya dalam hal ini mereka memberikan kesempatan untuk melakukan yang curang lagi,” imbuhnya.

Mudrick meyakini pemenang Pilpres kali ini adalah pasangan Prabowo dan Sandi, namun demikian, ia meminta masyarakat untuk tetap sabar menunggu KPU dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi hoaks.

“Pertama kita siap siap dan mendengarkan perintah langsung dari pak Prabowo dan ulama ulama,” tandasnya.

Dinilai ‘Kearab-araban’, Pemerintah Komunis Cina Hancurkan Masjid di Gansu

XINJIANG (Jurnalislam.com) – Pemerintah Komunis Cina membongkar paksa sebuah masjid di Desa Gazhuang, kota Zheqiao, Provinsi Gansu, Cina pada 11 April lalu. Masjid yang baru selesai dibangun kurang dari satu bulan itu dihancurkan karena dinilai terlalu kearab-araban.

Kendati belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Cina, namun seorang warga muslim setempat mengungkapkan bahwa pejabat setempat pernah menyampaikan alasan tersebut kepada warga.

“Tidak ada langkah-langkah kemanan yang diterapkan, mereka memulai pembongkaran seperti anjing gila. Kuba dihancurkan,” kata warga yang berada di lokasi.

Menurut laporan Deutsche Welle Cina, pemerintah setempat telah memerintahkan masyarakat untuk tidak mendokumentasikan pembongkaran tersebut dalam bentuk apapun. Polisi juga menangkap sejumah warga yang kedapatan merekam dan membagikan video pembongkaran tersebut.

Seseorang yang merekam video ini dan mengirim kepada video tersebut kepada wartawan independen dari Xinjiang bernama Erkin Azat yang saat ini tinggal di Kazakhstan, lalu mengunggahnya ke internet.

Dalam video tersebut, nampak aparat sedang membongkar masjid dengan alat-alat berat. Nampak juga warga muslim yang memprotes tindakan tersebut terlihat menangis di tanah.

Menurut Azat yang menggunakan nama panggilan itu karena takut akan keselamatan keluarganya di Xinjiang, individu itu juga memberitahunya bahwa beberapa orang yang mengambil video itu ditangkap kemudian.

“Menurut sumber saya, pembongkaran di wilayah Gansu dimulai tahun lalu. Masjid hancur dan sangat sulit untuk memverifikasi sosok sebenarnya dari masjid yang dihancurkan di Gansu.

“Tujuan pemerintah (Cina) adalah masjid untuk setiap kota atau distrik dan masjid di pinggiran kota sekarang hilang. Hanya satu masjid yang disimpan jika organisasi internasional datang untuk mewawancarai komunitas Muslim, “katanya. Tambah Azat, warga Muslim takut pergi ke masjid, menyuarakan pendapat mereka dan takut untuk ditanyai.

“Situasi di Gansu telah berkecamuk sejak tahun lalu, sama seperti apa yang terjadi di Xinjiang,” jelasnya.

Sebelumnya, sebuah majalah daring yang giat memperjuangkan kebebasan dan HAM berbasis di Itali, Bitter Winter mengungkap sebuah dokumen rahasia Partai Komunis Cina (PKC) yang memerintahkan aparat untuk merubah tempat-tempat ibadah umat Islam menjadi ‘gaya Cina’ dan menghilangkan gaya arab.

Bitter Winter juga berulang kali melaporkan tentang penghapusan simbol dan struktur Islam di berbagai daerah di Cina seperti di Provinsi Hebei, Ganzu, Shaanxi, dll.

Sumber: Bitter Winter

Cita-Cita Kartini Ada dalam Islam

Oleh : Eli Ermawati*

Wanita dijajah pria sejak dulu

dijadikan perhiasan sangkar madu

namun ada kala pria tak berdaya

tekuk lutut di kerling wanita

 

Peringatan Hari Kartini 21 April kemarin mengingatkan kembali masyarakat Indonesia akan perjuangan Kartini yang tertuang dalam buku korespondensinya berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Masyarakat dengan unik dan kreatif mengisi hari istimewa tersebut dengan berbagai kegiatan.

Bandung menari selama 24 jam di Taman Cikapayang Dago. Peragaan busana digelar di Surabaya dengan tema “Parade Kebaya Millenial”. Hingga para peselancar wanita berkebaya beraksi di Pantai Kuta, Bali.

Melihat sejarah tak bisa dipungkiri, wanita seringkali didiskriminasikan. Bahkan hingga saat ini masih banyak yang menjadi korban.

, sebelum Islam datang wanita dipandang sangat hina. Jangankan memuliakannya, menganggapnya sebagai manusia saja tidak.

Yunani menganggap wanita sebagai sarana kesenangan saja.

Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami untuk menjual anak perempuan atau istrinya.

Orang Arab memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya. Mereka tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. Astagfirullah..

Kemudian cahaya Islam pun terbit menerangi kegelapan itu dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi segala bentuk kezaliman dan menjamin setiap hak manusia tanpa kecuali.

Rasul juga sering mengingatkan dengan sabdanya agar umat Islam menghargai dan memuliakan kaum wanita. “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim)

Sebagaimana laki-laki, hak-hak wanita juga terjamin dalam Islam.

Agamanya, hartanya, kehormatannya, akalnya dan jiwanya terjamin dan dilindungi oleh syariat Islam sebagaimana kaum laki-laki.

Wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam beribadah dan mendapat pahala. Firman Allah Swt :

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisa : 124).

Islam adalah agama syariat dan aturan.

Oleh karena itu ia datang untuk memperbaiki kondisi kaum wanita, mengangkat derajatnya, agar umat Islam (dengan perannya) memiliki kesiapan untuk mencapai kemajuan dan memimpin dunia.

Di antara aturan yang khusus bagi wanita adalah aturan dalam berpakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Aturan ini berbeda dengan kaum laki-laki.

Aturan-aturan lainnya banyak disebutkan dalam Alquran dan hadist.

Semua syariat ini ditetapkan oleh Allah dalam rangka menjaga dan memuliakan kaum wanita, sekaligus menjamin tatanan kehidupan yang baik dan bersih dari perilaku menyimpang.

Seiring berjalannya waktu, muncul feminisme, pemikiran yang menggemborkan dan beranggapan bahwa wanita harus disamarkan dengan laki-laki secara keseluruhannya; pergaulan, kebebasan, hak, pekerjaan, jabatan dan lain sebagainya.

Mereka menganggap perempuan yang banyak didiskriminasi, intimidasi, banyak tekanan, kurang bebas dll.

Semua itu adalah merendahkan martabat perempuan, perempuan dianggap tidak berdaya, terhinakan dan seterusnya.

Padahal, jika mereka menyadari, perempuan di dalam Agama Islam adalah perempuan yang sangat mulia kedudukannya, penuh penghormatan, kelembutan, dan segala sifat kemuliaan.

Wanitapun diberikan keistimewaan di antaranya :

  • Wanita dalam islam sama dengan laki-laki (QS. Al Hujurat : 13)
  • Mendapat bagian dalam warisan (Qs. An nisa :7)
  • Wanita shalehah bebas masuk surga dari pintu manapun.
  • Kedudukan seorang ibu lebih tinggi 3 derajad daripada ayah
  • Islam melindungi kehormatan wanita

 

Namun saat ini masih banyak perzinahan dan terjadinya pelecehan seksual. Fenomena ini salah satunya diakibatkan karena kaum wanita tidak menjaga aturan Allah, perempuan yang melanggar hukum Allah dengan tidak menutup auratnya, bertabaruj, lenggak-lenggok ketika berjalan juga kaum laki-laki yang tidak menjaga pandangannya.

 

Dalam kitab Muqaddimah ad Dustur dijelaskan bahwa di dalam kehidupan umum wanita boleh hidup bersama kaum wanita, kaum laki-laki yang mahram maupun bukan selama tidak menampakan auratnya kecuali wajah dan telapak tangan, tidak tabarruj. Di dalam kehidupan khusus, seorang wanita tidak boleh hidup kecuali dengan sesama kaum wanita atau dengan kaum laki-laki yang menjadi mahramnya, dan tidak boleh dengan laki- laki asing. Di dalam dua kehidupan ini (umum dan khusus), wanita terikat dengan hukum syariah.

 

Begitu pentingnya hukum Islam diterapkan pada diri setiap muslim dan muslimah juga masyarakat dan negara. Bila kita memahami dan mentaati hukum islam kehidupan lebih teratur serta terarah. Terlebih lagi aturan-aturan Islam tersebut akan menjawab cita-cita dan perjuangan kaum perempuan selama ini. Dimuliakan dan dihormati.

Penulis adalah Ibu Rumah Tangga, Pemerhati Perempuan dan Generasi

 

ICMI: Elite Politik Harus Utamakan Kepentingan Bangsa dan Negara

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menyerukan kepada seluruh pimpinan dan elite politik, untuk membangun budaya demokrasi yang adil dan beradab dengan menegakkan etika politik.

Hal itu disampaikan Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie pada forum Maklumat Kebangsaan ICMI tentang Pemilu 2019 di ICMI Center, Mampang, Jakarta Selatan, Senin (22/04/2019).

“Kepada tokoh-tokoh partai politik, kita harapkan dapat menurunkan tensi sama-sama, karena kalau ini dibiarkan terus bisa panas memang,” katanya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menambahkan, para elite politik harus lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

Olehnya itu, ICMI mengajak untuk bersama-sama menjaga keutuhan dan persatuan bangsa, serta menghindarkan praktik politik tidak terpuji yang menghalalkan segala cara.

Menurut Jimly, jika terjadi sengketa dalam pemilu, alangkah lebih baiknya jika tim sukses kedua kubu perlu memanfaatkan mekanisme hukum untuk melawan ketidakadilan.

“Jikalau hasil penghitungan suara itu nanti tidak memuaskan, kita mengimbau supaya semua pihak menggunakan mekanisme resmi melalui Mahkamah Konstitusi (MK),” ujarnya.

Jimly menjelaskan, mekanisme yang sifatnya melembaga dapat diselesaikan melalui MK, jika hasil pemilu 2019 ini timbul sengketa.

Sementara jika terjadi perilaku yang dianggap bermasalah dari penyelenggara pemilu, maka diproses melalui DKPP.

“Sudah ada mekanisme yang resmi, jadi jangan lagi membayangkan mekanisme yang diluar sistem resmi,” imbuhnya.

Mantan Ketua DKPP ini juga mengharapkan kepada semua pihak untuk selalu menahan diri. “Tunggu hasil penghitungan suara secara resmi dari KPU pada tanggal 22 Mei 2019 nanti,” pungkasnya.

Sepenggal Kisah Buya Hamka dan Moh Yamin

Oleh: Muhammad Fajar Aditya, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsera

JURNALISLAM.COM – Pasca pemilu serentak dilaksanakan pada 17 April lalu, suasana hangat hingga panas masih terasa, terutama pada jagat pilpres kali ini.

Meskipun Dahnil Anzar Simanjuntak, salah seorang oposisi menyebut politik harus tetap hangat, tetapi agaknya kondisi saat ini sudah mencapai batas antara hangat dan panas. Border line.

Dimulai dari ketidakpercayaan terhadap hasil hitung cepat, kesalahan input KPU di laman resmi, dan dugaan intervensi pemerintah membuat kedua kubu bersitegang.

Tak ayal, perseteruan itu bukan terjadi di level elite kedua belah pihak, melainkan sampai tahap relawan yang berjuang tanpa dibayar. Mereka cek-cok satu dengan lainnya.

Memang di dalam dunia politik keadaan seperti itu sudah biasa terjadi, bahkan sejak awal-awal kemerdekaan. Seperti kisah Buya Hamka dengan Mr. Moh Yamin.

Debat Dasar Negara

Pada saat itu keduanya duduk bersama di masing-masing fraksi parlemen. Buya di Fraksi Partai Masyumi sedangkan Moh Yamin dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Tepatnya pada tahun 1955 sampai 1957, perseturuan itu terjadi. Pada waktu sidang perumusan Dasar Negara Republik Indonesia, ada dua pilihan sebagai dasar negara, yaitu;

1. UUD’45, dengan Dasar Negara Pancasila
2. UUD’45, dengan Dasar Negara Berdasarkan Islam

Untuk kedua pilihan tersebut, terbelah dua front yang sama kuat. Front pertama, kelompok Islam dengan Partai Masyumi sebagai pimpinannya, Front kedua, dipimpin PNI yang ingin negara berdasarkan Pancasila.

Dalam suatu persidangan, Buya Hamka menyampaikan pidato politiknya yang cukup keras.

Buya Hamka. Foto: Istimewa

“Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!” kata Buya dalam pidatonya.

Mendengar pernyataan tersebut, para hadirin dalam sidang Paripurna Konstituante tersebut terkejut, termasuk Moh Yamin. Tokoh PNI ini tidak saja marah besar, tetapi berlanjut dengan kebencian yang sangat kepada Buya Hamka.

Walaupun kedua tokoh bersebrangan ini sama-sama berasal dari Sumatera Barat, Moh Yamin tidak dapat menahan kebenciannya, baik di saat mereka bertemu dalam acara resmi, seminar kebudayaan, atau ketika sama-sama menghadiri sidang Konstituante (Irfan Hamka, 2013).

Pada suatu waktu, kerabat Buya Hamka, Buya Isa Ansyari datang ke rumahnya untuk makan siang bersama. Dalam obrolan tersebut, terselip pertanyaan tentang hubungan Hamka dengan Moh Yamin.

“Apa masih tetap Yamin bersitegang dengan Hamka?” tanya Isa.

“Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya,” jawab Hamka ringan.

Selanjutnya, Soekarno lalu mengeluarkan Dekrit, membubarkan Konstituante dan Parlemen, serta menetapkan UUD’45 dan Pancasila sebagai dasar negara.

Akhir yang Baik

Beberapa tahun kemudian, tepatnya di tahun 1962, Yamin jatuh sakit parah dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Suatu hari, Hamka menerima telepon dari Chaerul Saleh, salah seorang Menteri di Kabinet Soekarno waktu itu. Rupanya ia ingin bertemu.

Lalu ia datang menemui Hamka di rumah. Ia kemudian menceritakan perihal sakitnya Moh Yamin kepada Hamka.

“Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit parah. Sudah berhari-hari dirawat. Ada pesan dari pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir beliau.” ungkapnya menyampaikan maksud kedatangan.

“Apa pesannya?” tanya Hamka.

“Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya.” jawab Chaerul Saleh.

Ia juga mengatakan, Yamin ingin dimakamkan di kampung halamannya di Sumatera Barat dengan ditemani oleh Hamka.

Sejenak Hamka terdiam.

“Kalau begitu, mari antar saya ke RSPAD menemui beliau!” ajak Hamka kemudian.

Tanpa berlama-lama, sore itu keduanya tiba di rumah sakit. Dalam ruangan VIP, terlihat Moh Yamin terbaring di tempat tidur dengan selang infus dan oksigen. Melihat kedatangan Hamka, tampak wajahnya berseri.

Moh Yamin

“Terima kasih Buya sudah Sudi untuk datang,” bisik Yamin dengan suara nyaris tidak terdengar oleh orang lain.

“Dampingi saya!” bisiknya lagi dengan kedua kelopak mata yang tergenang air.

Tangan Hamka masih digenggamnya. Mula-mula Hamka membisikkan surah Al-Fatihah. Kemudian kalimat La illaha illalah. Dengan lah pak Yamin mengikuti bacaan yang Hamka bisikan.

Kemudian Hamka mengulang kembali membaca kalimat tauhid tersebut sebanyak dua kali. Pada bacaan yang kedua sudah tidak terdengar lagi Yamin mengikuti Hamka. Hanya isyarat yang diberikannya berupa mengencangkan genggaman tangannya.

Kembali Hamka membisikkan kalimat tauhid, bahwa tiada Tuhan selain Allah, ke telinga Yamin. Kali ini sudah tidak ada respon sedikit pun dari Yamin. Hamka pun merasa genggaman Yamin mengendur dan tangannya terasa dingin lalu perlahan terlepas dari genggamannya.

Moh Yamin, tokoh yang bertahun-tahun sangat membenci Hamka sudah tidak ada lagi. Sudah meninggal dunia. Keesokan harinya, Hamka memenuhi pesan terakhirnya untuk menemani jenazah Yamin untuk dimakamkan di Desa Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat.

Demikian sepenggal kisah Buya Hamka dan Moh Yamin. Pesan yang mungkin dapat penulis sampaikan adalah jauhi rasa dendam dan rasa benci yang berkepanjangan.

Berdebat dan berbeda pandangan memang sudah menjadi hal yang biasa, meski begitu gesekan yang menimbulkan konflik bisa saja terjadi. Jika sudah demikian, jadilah seorang pemaaf. Jadilah Hamka.

Sumber: Ayah.., Irfan Hamka, 2013

Menag Kecam Bom Gereja di Sri Lanka

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengecam peristiwa serangan bom di tiga gereja dan tiga hotel mewah di Sri Lanka yang terjadi saat Hari Raya Paskah pada Ahad (21/4/2019) dan menyebabkan ratusan orang meninggal dan lainnya terluka.

“Itu tindakan tidak berperikemanusiaan dan sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama,” tegas Menag melalui siaran pers yang diterima Jurnalislam.com, Senin (22/4/2019).

Ia mengatakan, sangat ironi tragedi kemanusiaan terjadi justru saat momen umat Kristiani sedang peringati hari besar keagamaannya.

“Kami turut berduka. Umat Kristiani diharap tabah, tapi waspada, dan tetap menjadi pembawa damai bagi sesama,” tuturnya.

Menurutnya, tindakan pengeboman itu jelas menyalahi ajaran agama. Sebab, tidak ada agama yang membenarkan tindak kekerasan, apapun motifnya.

“Itu jelas sikap pengecut dan tidak bertanggung jawab. Apalagi bom meledak di rumah ibadah, saat umat beribadah,” tegasnya.

Ia mengajak tokoh dan umat beragama untuk mendoakan yang terbaik buat korban di Sri Lanka. Menag juga minta masyarakat untuk menahan diri dan tidak emosional.

Saat ini, Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri terus bekerja untuk mengetahui perkembangan kondisi di Sri Lanka, termasuk memastikan kondisi keamanan warga negara Indonesia di sana.

Mantan Anggota DPR Sebut KPU Terlibat Kecurangan Dalam Pilpres 2019

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Mantan anggota DPR RI Djoko Edhi Abdurrahman mengungkapkan, banyak terjadi dugaan kecurangan dalam Pemilu dan Pilpres 2019. Bahkan Djoko Edhi menduga, Komisi Pemilihan Umum (KPU) terlibat dalam hal ini.

“Aku bilang ke KPU kenapa anda tiba-tiba menjadi komisi maling. Jadi, besok kita panggil aja komisi maling Indonesia,” sindir Djoko Edhi dalam sebuah diskusi bertajuk “Menyoal Netralitas KPU” di Seknas Prabowo-sandi, Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta, Senin (22/4/2019).

Bagi Djoko Edhi, dugaan kecurangan ini akan terus berlangsung dan tidak bisa dibendung. Bahkan, kata dia, dugaan ini bakal berlangsung sampai selesai perhitungan suara secara berjenjang.

“Tidak mungkin kita mengatasi kecurang-kecurangan ini. Kecurangan ini akan berlangsung sampai perhitungan manual. Sikap saya tolak seluruh pemilu,” tegasnya.

Dikatakan Djoko Edhi, Pemilu serentak 2019 di Indonesia yang diharapkan menjadi contoh demokrasi terbaik di dunia, ternyata ternodai. Sebab, kejadian-kejadian dugaan pelanggaran semakin marak terjadi.

“Kalau kita lihat demokrasi ini. Demokrasi apaan ini penuh kebohongan,” pungkasnya.

Sebelumnya, pada Sabtu (20/4/2019) Direktur Media dan Komunikasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Hashim Djojojadikusumo mengungkapkan pihaknya telah menemukan adanya 1.261 laporan tindakan kecurangan dalam pemilu 2019. Laporan itu didapat BPN dari seluruh wilayah Indonesia.

“Data yang sudah masuk mengenai kecurangan ada sejumlah 1.200 kasus di TPS yang mencerminkan atau indikasi kecurangan,” kata Hashim di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4/2019).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Relawan Badan Pemenangan Ferry Mursyidan Baldan menyebut timnya baru saja menerima puluhan laporan baru. Jika ditotal, BPN menerima 1.261 laporan kecurangan pemilu 2019.

“Pak Hashim sampaikan ada 1.200 lebih dan ini saya tambahkan tadi pagi saya terima 61, jadi 1.261 lebih dari catatan potensi pelanggaran pemilu. Kita mengatakan ini pelanggaran pemilu,” kata Ferry.

Bambang Widjojanto: Pemilu 2019 Terburuk Pasca Reformasi

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto, angkat bicara terkait dugaan kecurangan dalam deretan pelanggaran Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Bambang menyatakan Pemilu 2019 merupakan pemilu terburuk sepanjang pasca-reformasi, dalam acara Selamatkan Suara Rakyat yang digelar oleh Gerakan Nasional Selamatkan Demokrasi di kawasan SCBD, Jakarta, Minggu (21/4)

Bambang mengatakan situasi politik usai Pemilu 2019 patut diperhatikan berdasarkan temuan berbagai dugaan pelanggaran yang telah masuk ke dalam laporan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI.

Selain itu, juga termasuk berbagai dugaan pelanggaran yang ditemukan dari Gerakan Nasional Selamatkan Demokrasi.

“Menurut saya, Pemilu 2019 ini merupakan pemilu terburuk pasca-reformasi. Kalau sampai pemerintah membiarkan, negara akan menuju tebing jurang,” kata Bambang selaku salah satu pembicara dari pegiat hukum di kawasan SCBD, Minggu (21/4) sore.

Ia bahkan melihat keadaan politik Indonesia saat ini dalam tiga perspektif penting yang harus dicermati seluruh lapisan masyarakat.

Kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan Pemilu 2019 yang mulai muncul di permukaan publik, kata dia, bukanlah terjadi tanpa sebab.

Deretan dugaan kecurangan Pemilu 2019 itu , menurutnya sudah terlihat jelas dan sudah diberitakan.

“Jadi, itu bagian pertama. Bagi kami itu getaran yang terjadi dari publik,” kata Bambang.

Kualitas pemilu di tengah maraknya temuan dugaan pelanggaran yang terjadi, itu juga ia katakan sangat penting dipertanyakan.

“Sekarang tuh prinsip-prinsip Pemilu, LUBER, bebas, rahasia itu sebagiannya tidak bebas,” ungkap dia.

Sumber: idntimes