Berita Terkini

Presiden Jokowi Diminta Serius Hadapi Bencana Kekeringan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Politisi PKS Mardani Ali Sera mendesak Presiden Joko Widodo untuk serius mempersiapkan grand desain manajemen kekeringan nasional.

 

Hal itu dikatakan karena indonesia terus menerus menghadapi ancaman kekeringan siklus tahunan pada musim kemarau.

 

“Pak Jokowi harus serius memperhatikan masalah air di Indonesia karena sudah darurat.” kata Mardani kepada Jurnalislam.com, Jumat (02/08/2019).

 

Ia mendesak pemerintah serius mempersiapkan gran desain manajemen kekeringan nasional. Indonesia adalah negara tropis yang rawan bencana, bencana hidrometeorogi sudah menjadi siklus.

 

“Seharusnya pemerintah punya grand desain manajemen kekeringan nasional. Apalagi tahun ini diprediksi akan terjadi kemarau panjang dan perkiraan masyaraat terpapar sebesar 48 juta jiwa,” ujarnya.

 

Wakil Ketua Komisi II DPR itu mengatakan bahwa isu air seharusnya sudah jadi agenda prioritas pemerintah. Bank Dunia dan PBB sudah mempringatkan bahwa dunia saat ini sudah dalam ancaman krisis air global, 40 persen populasi dunia mengalami kelangkaan air.

 

“Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia lebih serius memikirkan solusi masalah ini,” kata Mardani.

PKS Beri Saran Pemerintah Hadapi Musim Kemarau

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Politisi PKS, Mardani Ali Sera memberikan masukan kepada Presiden Jokowi terkait menghadapi kekeringan nasional menyambut siklus tahunan pada musim kemarau.

 

Ada beberapa hal yang mardani usulkan kepada Presiden Jokowi dalam grand desain manjemen kekeringan nasional.

 

Pertama, ia meminta pemerintah lebih memperhatikan hutan di Indonesia dan juga menindak tegas pembalak dan pembakar hutan.

 

“Hutan tropis Indonesia adalah aset dunia. Pemerintah harus mencegah dan tegak terhadap perusak hutan, perlu kebijakan lain yang dipertimbangkan seperti melakukan konserbasi hutan dan dari dari aksi eksploitasi pembangunan untuk menjaga lingkungan kemarau yang melanda tiap tahunnya,” katanya kepada Jurnalislam.com, Jumat (02/08/2019)

 

Kedua, perlunya edukasi kemasyarakat menjaga air. Menurut dia, penting sosialisasi menjaga lingkungan, merawat air dan hemat dalam penggunaan air kepada masyarakat agar kesadaran masyarakat juga ada untuk menjaga lingkungan.

 

“Sehingga timbul kesadaran masyarakat merawat dan menjaga lingkungan sekitar,” ujarnya.

 

Ketiga, selain itu penting sekali melakukan sosialisasi kepada petani agar menanam jenis tanaman yang sesuai kondisi lahan dan air.

 

“Pemerintah perlu mengajak masyarakat untuk ikut ambil peran, karena pada umumnya masalah kekeringan, terutama di pedesaan, masyarakat kurang mengerti tentang pengetahuan mengelola sumber daya air,” katanya.

 

Menurut Mardani, masyarakat akan mentransfer ilmu tersebut agar dapat mengoptimalkan lahan yang kering. Mardani mencontohkan daerah Gunung Kidul Yogyakarta yang berhasil mengelola air tanah menjadi lebih baik.

 

Keempat, pemerintah harus terus melakukan terobosan teknologi baru mengadapi bencana kelangkaan air. Memanfaatkan teknologi penyuligan air dari laut misalnya bisa jadi salah satu contoh terobosan.

Tak Perlu Resmi Dilantik, Masalah Ekonomi Menanti Diselesaikan Jokowi

JAKARTA (Jurnalislam.com)- Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera, meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai bekerja, tidak perlu menunggu pelantikan pada Oktober 2019.

Ini mengingat, Indonesia kian dililit sejumlah permasalahan yang menunggu sentuhan tangan presiden.

 

“Pak Jokowi sudah banyak ditunggu masyarakat untuk segara melakukan terobosan baru sehingga bisa segera dilakukan dari sekarang. Tidak perlu menunggu dilantik dulu baru bekerja,” kata Mardani kepada Jurnalislam.com, Jumat (2/8).

 

Mardani menilai sektor ekonomi saat ini sangat memperingatkan. Jokowi harus segera membenahi agar masalah ekonomi tidak semakin menebal.

 

“Pak Jokowi bisa memulai dari mengganti menteri yang tidak kapabel dan tersangkut korupsi sehingga bisa jadi teiger atau stimulus agar kinerja pemerintahan lebih cepat, efektif dan efisien lagi,” ujarnya.

 

Apalagi, tantangan perekonomian global yang semakin tak jelas menyusul perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina.

 

Mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi, seharusnya Jokowi sudah memerintahkan menteri ekonomi agar menyiapkan rencana jangka panjang.

 

Dia juga meminta agar seleksi menteri ekonomi di kabinet jilid II harus melalui seleksi ketat dan menerapkan zero tolerance yang menurutnya  bukan soal politik balas budi, tapi soal masa depan bangsa.

 

Dia berpandangan, proses seleksi ketat itu agar menteri ekonomi yang terpilih memiliki integritas dan kapasitas yang mumpuni. Dia juga menyarankan agar kabinet jilid II Jokowi tak perlu gemuk.

 

“Saran saya sebaiknya Kabinet Kerja jilid II lebih ramping agar kinerja lebih efektif dan efisien, dan betul-betul memperhatikan bidang ekonomi karena disitu banyak PR. Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini rata-rata hanya 5.3 persen,” kata dia.

Gempa Magnitudo 7.4 di Banten, Warga Pesisir Mengungsi

LAMPUNG( Jurnalislam.com)–Sejumlah warga Telukbetung yang bermukim di pesisir Teluk Lampung beramai-ramai mengungsi ke tempat yang tinggi.

Mereka mengungsi karena khawatir terjadi gempa susulan setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,4 melanda di Banten, Jumat (2/8) pukul 19.03.

Arus kendaraan dan mobil meluncur dari Telukbetung ke arah Kantor Wali Kota Bandar Lampung, Masjid Agung Al-Furqon, dan juga Kantor Gubernur Lampung. Tampak suasana ramai dan macet, serta diiringi bunyi klakson mobil dan motor menuju tempat yang tinggi.

Selain itu, warga yang tidak membawa kendaraan berjalan kaki mengajak anggota keluarganya anak dan orang tua ke tempat yang aman, seperti di trotoar jalan, dan juga lapangan terbuka. Mereka khawatir terjadi gelombang tsunami bila berdiam atau tetap di rumahnya di dekat pesisir Teluk Lampung.

“Kami khawatir ada gelombang tsunami, jadi warga beramai-ramai mengungsi lagi seperti tsunami yang terjadi akhir tahun lalu. Kami belum berani pulang ke rumah,” kata Ardi, warga Telukbetung Utara.

Warga masih panik setelah getaran gempa terasa lama saat sedang bersantai di dalam rumah. Sebagian warga masih terbayang dengan bencana gelombang tsunami yang melanda di pesisir selatan Provinsi Lampung pada 23 Desember 2018.

Sumber: republika.co.id

Kemendagri Akan Bentuk Tim untuk Nilai FPI Apakah Sesuai Pancasila

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri) RI Hadi Prabowo mengatakan, pihak Kemendagri telah membentuk tim dari lintas kementerian/lembaga (K/L) untuk mengevaluasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dari Front Pembela Islam (FPI).

Menurutnya, evaluasi lintas kementerian/lembaga ini diperlukan guna mengetahui apakah ormas FPI sejalan dengan Pancasila atau tidak.

“Ada (evaluasi). Kita akan melihat sepak terjang ormas. Apakah menyimpang, apakah tidak. Ini akan dievaluasi terus. Apakah bermanfaat terhadap masyarakat, apa malah membikin suatu hal yang bertentangan,” jelas Hadi di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat (2/8).

Tim evaluasi tersebut, jelasnya, terdiri dari Kementerian Agama (Kemenag) RI dan Polri.

Hasil evaluasi dari tim tersebut akan dijadikan pertimbangan bagi Kemendagri untuk keputusan dari izin perpanjangan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) FPI.

“Nanti ada tim yang terdiri dari lintas kementerian/lembaga, khususnya Kementerian Agama yang akan menyatakan bahwa ini bertentangan dengan syariat atau tidak,” ujar Hadi.

“Apa yang digariskan bapak Presiden akan kami cermati dari persyaratan-persyaratan yang harus dilengkapi oleh FPI,” kata dia menambahkan.

Hadi menegaskan, syarat utama bagi ormas untuk mendapatkan SKT adalah harus menganut nilai Pancasila.

Untuk itu, ia juga memastikan Kemendagri akan secara cermat mengevaluasi AD/ART dan rekam jejak FPI sebelum memberikan SKT.

“Ya kalau orang Indonesia ya Pancasila. Pancasila kan sudah ditegaskan adalah rumah kita, harus dijaga, dipertahankan, dan diamalkan,” tutupnya.

sumber: republika.co.id

 

Nasdem: Ada Pihak yang Tekan Presiden Jokowi

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Sekretaris Jenderal Nasdem Johnny G Plate menyebut adanya pihak yang memunculkan tekanan pada Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dalam memilih Jaksa Agung untuk Kabinet 2019 – 2024. Tekanan itu, kata Johnny diberikan melalui konspirasi.

“Dalam kaitan dengan jabatan Jaksa Agung, Johnny mengatakan, saat ini mulai kelihatan bahwa ada berbagai pihak yang mencoba memberikan tekanan pada Presiden dengan membuat teori konspirasi dan berita yang tidak didukung data bahkan jauh dari realita,” kata Johnny melalui pesan tertulisnya, Jumat (2/8)

Tekanan itu, kata Johnnya, sama artinya dengan tidak menghormati hak Presiden terpilih membentuk kabinet dan akan melemahkan demokrasi.

Dia menegaskan, keputusan mengangkat anggota kabinet merupakan hak prerogatif Presiden dan Nasdem menghormati hak Presiden tersebut.

“Kami berharap, Presiden terpilih mempunyai keleluasaan yang luas dalam menentukan anggota kabinet dan tidak ada tekanan dari pihak manapun,” ujar Johnny.

Johnny menegaskan, semua jabatan sebagai anggota kabinet adalah jabatan yang ditunjuk melalui kekuatan politik dalam hal ini kekuatan Presiden terpilih.

sumber: republika.co.id

Status Gunung Tangkuban Perahu Naik Jadi Waspada

BANDUNG (Jurnalislam.com)–Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status Gunung Tangkuban Perahu, Jawa Barat dari level I (normal) menjadi level II (waspada). Hal itu seiring adanya peningkatan aktivitas vulkanik di gunung tersebut.

Sebagaimana diketahui, Gunung Tangkuban Perahu kembali mengalami erupsi, pada Kamis (1/8/2019) pukul 20.46 WIB dengan tinggi kolom abu kurang lebih 180 meter dari dasar kawah. PVMBG terus melakukan pengamatan secara intensif untuk memantau aktivitas Gunung Tangkuban Perahu.

Kepala PVMBG Kasbani menuturkan dalam beberapa hari terakhir terjadi peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Tangkuban Perahu. Erupsi pertama terjadi pada 26 Juli dengan ketinggian kolom abu setinggi kurang lebih 200 meter dari atas puncak.

Kemudian, pada Kamis (1/8/2019) pukul 20.46 WIB, Gunung Tangkuban Perahu kembali mengalami erupsi dan dilanjutkan dengan erupsi lanjutan. Sampai Jumat (2/8/2019) pukul 08.00 WIB, tercatat ada 8 kali erupsi yang terjadi.

“Adanya peningkatan aktivitas, pada hari ini tanggal 2 Agustus mulai pukul 08.00 WIB Gunung Tangkuban Perahu naik level dari level I (normal) menjadi level II (waspada),” katanya, di Kantor PVMBG, Kota Bandung, Jumat (2/8/2019).

Sejauh ini, lanjut dia, erupsi yang terjadi masih berupa freatik (letusan berupa uap). Pihaknya tetap meminta masyarakat tetap tenang dan terus mengikuti arahan dari pihak terkait.

“Adanya peningkatan status, kami harapkan masyarakat tetap tenang, mengikuti arahan informasi dari PVMBG terkait perkembangan Gunung Tangkuban Perahu,” ujarnya.

sumber: detik.com

Guru Besar UI Nilai Salah Kalau Pemerintah Harus Sampai Impor Rektor

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana berpendapat rencana Menristekdikti Mohamad Nasir menaikkan ranking perguruan tinggi negeri di Indonesia dengan mendatangkan rektor asing adalah langkah yang salah.

Menurutnya, keberadaan rektor asing tak menjamin keberhasilan untuk mendongkrak peringkat PTN di Indonesia tembus 100 besar dunia.

“Salah kalau Pak Menteri bahkan Presiden mau naikkan ranking masuk 100 atau 10 besar sekali pun dengan cara mendatangkan rektor dari luar negeri,” ujar Hikmahanto saat dihubungi, Kamis (1/8).

Rencana mengundang rektor asing ini sebelumnya disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir.

 

Ia ingin agar rektor ini mampu membawa PTN di Indonesia masuk 100 besar dunia secara bertahap.

Menurut Hikmahanto, pemerintah mestinya menyusun strategi untuk menarik mahasiswa asing belajar di PTN. Selama ini mahasiswa asing yang belajar di PTN cenderung mempelajari studi tertentu seperti bahasa maupun sastra. Namun tak ada yang khusus mempelajari bidang studi lain.

“Kalau bicara ranking mestinya (diukur) dari sudah mampu belum menarik minat mahasiswa dari luar negeri. Di kita ada mahasiswa asing, tapi kebanyakan belajar bahasa Indonesia, sastra. Bukan mereka yang mau belajar hukum atau arsitek misalnya, di Indonesia,” katanya.

 

Selain itu, lanjutnya, fasilitas di PTN juga tak kalah penting ketimbang sekadar mendatangkan rektor asing. Hikmahanto menuturkan bahwa rektor hanya satu komponen dari seluruh proses pengajaran yang ada di universitas.

Sementara komponen lain seperti dosen dan mahasiswa juga berperan mendorong peningkatan ranking di dunia. Terlebih, rektor dari negara lain juga harus menghadapi kendala karena mayoritas PTN masih menggunakan bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar.

“Yang dibutuhkan itu bukan hanya rektor, tapi pelajarnya juga harus hebat, laboratorium yang bagus, perpustakaan yang baik. Itu yang harusnya menjadi concern, bukan sekadar mendatangkan rektor. Dipikir kayak BUMN yang bisa manajemennya dari luar negeri,” ucap Hikmahanto.

 

Kendala lain adalah jabatan rektor yang kental dengan nuansa politik. Menurutnya, permasalahan ini menjadi kendala terbesar bagi PTN yang ingin maju dan berhasil menembus peringkat 100 besar.

Hikmahanto mengatakan, banyak proses pemilihan jabatan di lingkungan universitas yang masih dipengaruhi para pejabat dan politisi.

“Jabatan di universitas ini banyak dipolitisasi. Tidak saja yang berasal di dalam universitas tapi juga dari luar,” katanya.

Menristekdikti Nasir sebelumnya menargetkan pada 2020 sudah terdapat perguruan tinggi yang dipimpin rektor terbaik dari luar negeri. Setidaknya, dalam lima tahun ke depan terdapat lima PTN yang akan dipimpin oleh rektor asing.

Untuk memuluskan rencana tersebut, Nasir berencana merevisi peraturan agar WNA bisa memimpin dan mengajar serta meneliti di PTN.

Sumber: cnnindonesia.com

Kemenag Lantik Pejabat di Dirjen Pendidikan Islam

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Bertempat di Gedung Kemenag lantai 8, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, hari Kamis (1/08), sebanyak 10 pejabat eselon III dan 32 pejabat IV dilantik Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin.

 

“Rotasi dilakukan sebagai upaya merespon tantangan organisasi dan meningkatkan kinerja sebuah organisasi. Mari pahami, bahwa pelantikan sebagai sebuah tradisi biasa,” ujar Kamaruddin Amin.

 

Hadir dalam acara pelantikan ini, Sekretaris Ditjen Pendis, Imam Safei, Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Rohmat Mulyana, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Ahmad Umar, dan Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Arsykal Salim.

 

Kamarudin mengingatkan, hal pertama yang mesti dilakukan pejabat yang baru dilantik adalah  mempelajari aturan secara konperhensif terkait tugas masing-masing.

Menurutnya, ketika kseseorang diberi amanah, maka dirinya dinilai paham dan layak menempati posisi yang diduduki.

 

“Mari kita emban amanah ini dengan baik, dengan dedikasi, dengan komitmen, dengan penuh integritas, sekaligus diniati sebagai sarana beribadah kepada Allah,” ajaknya.

 

Selain itu, lanjut Kamaruddin, setiap pejabat juga harus menguasai tugas yang diamanahkan. Hal tersebut penting agar bisa melakukan inovasi dan kerja terbaik terkait tugas dan fungsinya.

 

“Mari kita laksanakan tugas masing-masing. Yang terpenting, mari kita berikan yang terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.

Idul Adha 1440 Hijriah Jatuh pada Ahad 11 Agustus 2019

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 1 Zulhijah 1440 Hijriah jatuh pada 2 Agustus 2019. Dengan demikian, maka dipastikan Hari Raya Idul Adha jatuh pada 11 Agustus 2019 yang bertepatan dengan 10 Zulhijah 1440 Hijriah.

Penetapan 1 Zulhijah ini berdasarkan hasil sidang isbat yang digelar di Kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (1/8/2019).

“Kami putusakan 1 zulhijah hari Jumat tangga 2 Agustus 2019 dengan begitu bahwa 10 Zulhijah atau Hari Raya Idul Adha jatuh pada ahad tanggal 11 Agustus 2019. Itulah hasil sidang isbat malam ini dalam rangka penetapan satu Zulhijah,” kata Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Muhammadiyah Amin di Gedung Kemenag, jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Untuk menetapkan 1 Zulhijah ini, Kemenag telah melakukan pemantauan di 92 titik rukyatul hilal atau tempat pemantauan hilal yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

“Dari 92, 10 titik memastikan sudah melihat hilal,” kata Muhammad.

Dalam rapat tertutup yang digelar sejak sore ini, Kementerian Agama juga mengundang sejumlah Ormas Islam, MUI, DPR RI, hingga, duta besar negara sahabat.