Tentara Pakistan Tewas Terkena Bom Pinggir Jalan

PAKISTAN (jurnalislam.com) – Setidaknya sembilan tentara Pakistan yang sedang berada di dalam bus tewas terkena bom pinggir jalan di daerah suku Waziristan Utara, kata pihak militer.

Bom yang meledak pada Kamis pagi (8/5/14) juga menyebabkan beberapa orang lainnya menderita luka parah.

 

Chaudhry Nisar Ali Khan, menteri dalam negeri Pakistan, mengatakan kepada wartawan pada konferensi pers bahwa alat peledak ditempatkan di pinggir jalan antara kota Miranshah di Waziristan Utara dan perbatasan dengan Afghanistan.

Pasukan keamanan menduga kelompok Tehreek – e – Taliban Pakistan [ TTP ] yang berbasis di Waziristan Utara bertanggung jawab atas serangan itu.

TTP telah melancarkan perang melawan negara Pakistan sejak 2007 karena menyerukan penerapan hukum Syariah di Pakistan dan menyerukan kepada negara untuk berhenti mendukung misi militer AS di negara tetangga Afghanistan.

Sebuah proses dialog yang gagal antara TTP dan pemerintah sekuler Pakistan masih menemui jalan buntu, setelah TTP menolak untuk memperpanjang gencatan senjata bulan lalu.

Dalam insiden terpisah pada hari Kamis, seorang prajurit lain tewas setelah pria bersenjata menembaki pos pemeriksaan di daerah suku Waziristan Selatan yang bertetangga dengan Waziristan Utara, kata militer Pakistan.

Sementara itu, militer Pakistan berhasil menguji-tembak rudal Hatf III (Ghaznavi), yang mampu membawa hulu ledak nuklir dan konvensional sampai dengan kisaran 290km.

Panglima Angkatan Darat Pakistan, Raheel Sharif, mengatakan bahwa Pakistan telah memiliki "salah satu komando dan kontrol sistem yang terbaik dan memiliki angkatan bersenjata yang sepenuhnya mampu menjaga keamanan Pakistan menghadapi setiap agresi."

Uji coba dilakukan setelah duta besar Pakistan untuk India yang baru diangkat, Abdul Basit, mengungkapkan harapannya pada hari Rabu agar kedua negara mampu menyelesaikan sengketa bilateral mereka selama masa jabatannya.

Ketegangan meningkat antara kedua tetangga yang sama-sama memiliki senjata nuklir tersebut, dan Komisi Tinggi Pakistan di New Delhi telah meminta keamanan tambahan mengingat adanya peningkatan jumlah ancaman terhadap staf selama musim pemilu di India.

Tasneem Aslam, juru bicara Kantor Luar Negeri Pakistan, mengatakan kepada wartawan di Islamabad pada hari Kamis bahwa proses dialog gabungan antara India dan Pakistan telah "terhenti" dan bahwa pemerintah Pakistan akan meninjau kembali masalah tersebut setelah pemilihan umum.

"Kami memiliki sejumlah sengketa yang luar biasa dengan India yang membutuhkan resolusi – dan Kashmir merupakan masalah yang paling penting," kata Aslam.

"Kami menginginkan perdamaian di wilayah ini sehingga kita perlu untuk melanjutkan proses dialog dan fokus mencari solusi untuk sengketa besar. Dimulainya kembali dialog merupakan hal yang penting untuk kedua negara," katanya. (ded412)

Di Filipina Pelaku Paedhofil Dihukum Suntik Mati

Seorang aktifis LSM, Syaiful W. Harahap  dalam tulisannya yang dimuat baranews.co, mengatakan bahwa dulu sorga bagi para paedhofil adalah Filipina, tapi sejak pemerintah Filipina menjalankan hukuman suntik mati bagi pelaku paedhofilia, maka sekarang Indonesia merupakan sorga bagi paedhofil. Benarkah Filipina memberlakukan hukum suntik mati bagi pelaku paedhofil?

Adalah Leo Echegaray (39), seorang pelukis yang ditakdirkan untuk menjadi orang pertama yang dihukum dengan suntik mati di Filipina karena memperkosa anak tirinya yang berusia 10 tahun (sodomi). Echegaray divonis mati oleh pemerintah Filipina pada tahun 1994 atas tindak pidana yang dilakukannya. Ia pun di ekseskusi dengan disuntik mati atau yang dikenal dengan lethal injection pada tanggal 6 Februari 1999 di sebuah ruang eksekusi di penjara baru Bilibid di pinggiran Manila.

Pada tahun 1987 hukuman mati hapus dari hukum Filipina, namun diberlakukan kembali pada tahun 1993. Peraturan baru itu meliputi berbagai kejahatan termasuk pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, kepemilikan senjata api dan perdagangan narkoba.

Menanggapi kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi di Jakarta International School (JIS) dan di daerah lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui Wakil Ketuanya, Maria Advianti menegaskan bahwa pelaku kekerasan seksual pada anak harus dihukum mati.

"Diperlukan hukuman seperti itu karena kejahatan seksual anak sudah menjadi kasus besar," tegasnya seperti ditulis Tempo, Selasa (06/05/2014)

Akankah Indonesia menyusul Filipina? Atau para pelaku tindakan bejad ini hanya akan dipelihara di penjara, sedangkan jiwa korban-korbannya harus terpenjara seumur hidup karena menanggung beban mental yang sangat berat? (amaif)

Sosiolog Pendukung Jokowi Hina Tokoh Islam

JAKARTA (jurnalislam.com) – Sosiolog yang selama ini dikenal sebagai pendukung calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Joko Widodo, Tamrin Amal Tomagola, secara tidak langsung telah menghina sejumlah tokoh Islam. Di mana, nama-nama baptis disematkan pada sejumlah nama tokoh Islam.

Di sosial media Twitter, Tamrin ikut melecehkan nama-nama tokoh Islam yang diganti dengan nama-nama baptis. “Mustofa Cornelius Ignatius Nahra; Yohanis Hebertus Fahri Hamzah; Ricardus Herbertus Oma Irama” ha..ha..ha masuk itu barang!” tulis Tamrin di akun Twitter @tamrintomagola. @tamrintomagola me-retweet kicauan akun milik Iman Brotoseno, @imanbr.

Diberitakan sebelumnya, asal-usul Jokowi menjadi isu panas yang mengiringi pencapresan Jokowi. Jokowi dituding berusaha menyembunyikan identitas dirinya, terkait hubungan darah Jokowi dengan etnis tertentu.

Pakar kemaritiman, Y.  Paonganan, melalui akun Twitter ‏@ypaonganan menyatakan bahwa Jokowi telah menyembunyikan identitas dirinya. “Apakah si Jokowi ini bisa di hukum karena manipulasi data identitas?” tulis @ypaonganan.

Akun @ypaonganan juga mengunggah foto pernikahan seseorang yang mirip Jokowi.  Dalam keterangan foto tertulis “Herbertus Handoko Joko Widodo bin Oey Hong Liong (Noto Mihardjo)”, saat menikah . (ded412/intelijen)

Beredar Video Misionaris Kristen Menghina Islam dan Nabi Muhammad

Sebuah video berisi seorang laki-laki murtad yang menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW beredar. Dalam video berdurasi 10:01 tersebut laki-laki itu mengatakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW membacakan ayat 6 dalam surat Al Fatihah, “Ihdinasyirotol Mustaqim” (tunjukanlah kami jalan yang lurus) maka itu menunjukkan Nabi Muhammad tidak tahu mana jalan yang lurus itu.

“Jadi kalau Nabinya tak tahu jalan yang lurus, gawat kita. Ibarat kita naik pesawat, tapi pilotnya tak tau harus landing dimana. Muhammad saja tak tahu jalannya, apalagi kita”, katanya

Padahal dalam ayat selanjutnya Allah SWT menjelaskan jawabannya, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. QS Al Fatihah ayat 7.

Laki-laki yang mengaku seorang misionaris asal Pontianak itu juga mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang paedofil. Astagfirullahuladzim.

Tidak hanya itu, laki-laki gemuk berkacamata itu juga menghina syariat-syariat dalam Islam seperti hukum rajam dan ritual ibadah haji.

Tidak jelas siapa pengupload video yang kami dapatkan dari Broadcast BBM (Blackberry Messenger) tersebut. Semoga umat Islam bisa segera menemukan penghina Nabi kita yang mulia. Semoga Allah melaknatnya di dunia maupun di akhirat. (amaif)

sumber video : disini 

 

Bantahan :

Imam Abu Jafar Ibnu Jarir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir mengatakan bahwa takwil yang lebih utama dari surat Al Fatihah ayat 6,Ihdinasyirotol Mustaqim    itu adalah “Berilah kami taufik keteguhan dalam mengerjakan semua yang Engkau ridhoi dan semua ucapan serta perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat taufik diantara hamba-hambaMu”, yang demikian itu adalah siratal mustaqim (jalan yang lurus). Dikatakan demikian karena orang yang telah diberi taufik untuk mengerjakan semua perbuatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang telah mendapat nikmat taufik dari Allah diantara hamba-hambaNya, yaitu dari kalangan para Nabi, para Siddiqin, para Syuhada dan orang-orang sholeh – berarti dia telah mendapat taufik dalam Islam, berpegang teguh kepada Kitabullah, mengerjakan semua yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-laranganNya serta mengikuti jejak Nabi SAW dan empat khalifah sesudahnya serta jejak setiap hamba yang sholeh. Semua itu termasuk dalam pengertian siratal mustaqim.

Apabila dikatakan kepadamu, “Mengapa seorang mukmin dituntut untuk memohon hidayah dalam setiap sholat dan keadaan lainnya, padahal dia sendiri berpredikat seorang yang telah memperoleh hidayah? Apakah hal ini termasuk ke dalam pengertian meraih apa yang sudah diraih?”

Jawabannya, “Tidak.” Seandainya seorang hamba tidak memerlukan meminta petunjuk di siang dan malam harinya, niscaya Allah tidak akan membimbingnya ke arah itu. Karena sesungguhnya seorang hamba itu selalu memerlukan Allah SWT. Dalam setiap keadaannya, agar dimantapkan hatinya pada hidayah dan dipertajam pandangannya untuk menemukan hidayah, serta hidayahanya bertambah dan terus menerus dalam jalan hidayah.

Arab Saudi Mendeteksi Sel Al – Qaeda

ARAB SAUDI (jurnalislam.com) – Arab Saudi mengatakan bahwa mereka telah mendekteksi sebuah kelompok al- Qaeda yang merencanakan untuk membunuh para pejabat dan menyerang pemerintah dan target asing lainnya.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, Mansour al-Turki, mengatakan pada hari Selasa (7/5/14) bahwa sel tersebut terdiri dari 62 anggota, termasuk 59 pejuang Saudi, seorang warga Yaman, seorang Pakistan dan seorang Palestina.

Sebuah penyelidikan terhadap postingan di media sosial "telah membantu pasukan intelijen untuk menentukan kegiatan yang mencurigakan.”

Penyelidikan tersebut mengungkap sebuah organisasi di mana  ada unsur-unsur al- Qaeda di Yaman berkomunikasi dengan rekan mereka di Suriah dan berkoordinasi dengan sejumlah orang dari rumah mereka di berbagai provinsi kerajaan Arab Saudi," kata al-Turki.

Arab Saudi mengalami serangkaian serangan yang dipimpin al- Qaeda antara 2003-2006 yang menargetkan perumahan orang asing dan fasilitas asing dipemerintah Saudi, dan menewaskan puluhan orang ( yang sebenarnya mereka adalah para penjajah dan sekutu penjajah asing) .

Kerajaan membalas serangan tersebut dengan menangkap ribuan tersangka pejuang Islam dan meluncurkan kampanye media untuk memfitnah dan mendiskreditkan ideologi jihad para mujahidin dengan dukungan dari para pemimpin muslim yang pro kerajaan .

Pengadilan telah menghukum ribuan warga Saudi ke penjara karena hal serupa selama dekade terakhir.

Dan pada awal April tahun ini, pengadilan Saudi memvonis mati Faris al- Zahrani, pemimpin al- Qaeda karena perannya dan sepak terjangnya. (ded412)

Nyeleneh, Shinta Nur Wahid Minta SKB 3 Menteri Dicabut

BEKASI (Jurnalislam.com) – Istri mendiang Abdurrahman Wahid (Gusdur), Shinta Nurwahid mendatangi Komplek Masjid Al Misbah, Jalan Pangrango Terusan, Kelurahan Jatibening Baru, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, Minggu (04/05/2014). Kedatangannya itu untuk menunjukkan kepeduliannya kepada 19 anggota aliran sesat Ahmadiyah yang tinggal di dalam masjid pasca Pemkot Bekasi mensegel permanen masjid tersebut sejak 4 April 2014.

"Kami minta Pemkot Bekasi untuk segera membuka segel Masjid Ahmadiyah Jatibening, " kata Shinta kepada wartawan, (5/5/2013)

Menurutnya, pemasangan segel tersebut merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Mestinya tidak ada pelarangan-pelarangan. Pemasangan seng (segel) ini dianggap ilegal karena bertentangan dengan HAM," kata dia

Lebih tegas lagi Shinta meminta pemerintah untuk mencabut Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri, karena bertentangan dengan kebebasan beragama di Indonesia.

“Solusinya SKB dicabut,” tegas wanita berkursi roda itu

Tak heran memang, Shinta bersama mendiang suaminya yang Kyai Haji itu memang dikenal pendukung kebebasan beragama dan pembela aliran-aliran sesat di Indonesia dengan dalih Hak Asasi Manusia. Hasilnya, suaminya mendapat penghargaan Medal of Valor atau Medali Keberanian dari Shimon Wiesenthal Center (SWC) saat ia memenuhi undangan perayaan hari kemerdekaan Israel di Hotel Beverly Wilshire, Beverly Hills, California, 6 Mei 2008. (amaif/okezone)

 

Taliban Pakistan Tegaskan Tidak Menerima Konstitusi Hukum Sekuler Pakistan

PAKISTAN (jurnalislam.com) – Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif mengatakan dia masih berharap bahwa pembicaraan dengan Taliban akan berhasil, meskipun kelompok mujahidin tersebut tidak menghiraukan panggilan untuk gencatan senjata. Sharif mengatakan,Taliban harus meletakkan senjata dan menghormati konstitusi.

Sementara itu Taliban Pakistan menegaskan tidak menerima Konstitusi hukum sekuler  Pakistan dan mengatakan mereka berkomitmen untuk menegakkan hukum Syariah di seluruh negeri.

 

Taliban Pakistan memulai perjuangannya kembali sejak tahun 2007.

Di negara tetangganya Afghanistan, pembicaraan damai antara pemerintah dan Taliban yang akan diselenggarakan di Qatar pada bulan Juni dibatalkan menyusul sengketa yang terjadi karena Taliban menampilkan banner dan benderanya di kantor Doha.

Dua bersaudara negosiator terkemuka Taliban, Tayyeb Agha, diduga telah diculik di Pakistan, sehingga pembicaraan damai menjadi lebih rumit. Agha dikatakan dekat dengan Mullah Omar, pemimpin spiritual Taliban. (ded412)

 

Mengambil Pelajaran Dari Perang Shiffin dan Perang Jamal

Mengambil Pelajaran Dari Perang Shiffin dan Perang Jamal

Oleh : Ustadz Fuad Al Hazimi (Anggota Majelis Syari'ah Jamaah Ansharut Tauhid)

Kita telah memberikan kepercayaan kepada ISIS dan juga kepada Al Qaeda. Kepercayaan yang taruhannya tidak ringan. Lalu mengapa sekarang dengan mudahnya kepercayaan itu hilang tanpa bekas? Bersikap netral sangatlah sulit tetapi menghormati seteru dan tetap menghargai kebaikan yang nyata-nyata mereka miliki adalah sikap yang mulia. 

Bukankah Perang Shiffin dan Perang Jamal sudah memberikan pelajaran dan ibroh yang sangat berharga kepada kita? Saat fitnah perang Shiffin antara shahabat Ali dan shahabat Mu'awiyah pun ada pihak yang bersikap seperti shahabat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas namun ada juga yang bersikap seperti Abdullah bin Zubair bin Awwam. Bahkan kakak beradik Al Hasan dan Al Husain pun berbeda dalam mengambil sikap.

Banyak orang menyalahkan ummul mukminin Aisyah dalam perang Jamal, namun belakangan ulama hadits meriwayatkan sebuah hadits shahih,

كَيْفَ بِإِحْدَاكُنَّ تَنْبَحُ عَلَيْهَا كِلَابُ الْحَوْأَبِ 

Yang menjelaskan bahwa Aisyah sebenarnya sudah menyadari kesalahan beliau dan sudah memaksa Zubair bin Awwam, kakak iparnya untuk mengantar beliau pulang ke Mekkah. Aisyah Ummul Mukminin berkata :

مَا أَظُنُّنِي إِلَّا أَنِّي رَاجِعَةٌ

"Aku tidak punya pilihan lain kecuali harus kembali ke Mekkah"

Namun beberapa orang menahan niat beliau dan menyatakan bahwa mereka belum sampai di kota Hau'ab.

Kalaulah para shahabat pun memiliki beragam sikap dan tetap mengakui kebaikan seterunya, mengapa kita seakan menghapus segala kebaikan pihak yg tidak sependapat dengan kita? 

Namun hadits itu baru ditemukan belakangan setelah perang Jamal. Artinya, marilah kita bersabar seraya berdo'a agar fitnah Syam ini segera mendapat jalan keluar karena banyak hal yg tidak saling diketahui oleh kedua pihak yang berseteru dan banyak pihak pula yg ingin memancing di air keruh. Bukan hanya CIA yang terlibat dalam memperkeruh situasi ini, tetapi Mossad, KGB, M16, agen rahasia Iran dan masih banyak pihak yang ikut memperkeruh suasana. Tahan lisan, niscaya kita akan selamat.

Kembali ke perang Jamal, keberangkatan ummul mukminin Aisyah ke Basrah adalah untuk mendamaikan Ali dengan Mu'awiyah. Ibnu Abbas dan Ibnu Umar sudah mengingatkan beliau agar tetap di Mekkah karena pasti akan terjadi fitnah baru. Tetapi beliau tetap keluar dari Mekkah. Hingga sampailah di Hau'ab, lalu beliau digonggongi anjing-anjing Hau'ab, sehingga beliau teringat dengan sabda Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam. 

-كَيْفَ بِإِحْدَاكُنَّ تَنْبَحُ عَلَيْهَا كِلَابُ الْحَوْأَبِ 

"Bagaimana keadaan salah seorang di antara kalian (istri-istri Nabi) adalah saat ia digonggongi anjing-anjing kota Hau'ab" (Hadits shahih riwayat Ahmad)

Lalu beliau bersikeras pulang ke Mekkah namun dicegah oleh orang yang bersama beliau. Dan terjadilah perang Jamal, padahal Aisyah sudah menyadari kalau beliau salah tetapi apa daya seorang wanita yang tidak mungkin pulang ke Mekkah sendirian.

Orang-orang lalu menyalahkan Aisyah bahkan menganggap bahwa beliaulah yang memimpin perang Jamal. Hingga ahli hadits mendapatkan hadits di atas, barulah terkuak apa yang sebenarnya terjadi.

Berikut matan lengkapnya hadits di atas

أخرج الإمام أحمد في مسنده 24254 – (( حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا قَيْسٌ قَالَ: لَمَّا أَقْبَلَتْ عَائِشَةُ بَلَغَتْ مِيَاهَ بَنِي عَامِرٍ لَيْلًا نَبَحَتِ الْكِلَابُ، قَالَتْ: أَيُّ مَاءٍ هَذَا ؟ قَالُوا: مَاءُ الْحَوْأَبِ قَالَتْ: مَا أَظُنُّنِي إِلَّا أَنِّي رَاجِعَةٌ فَقَالَ بَعْضُ مَنْ كَانَ مَعَهَا: بَلْ تَقْدَمِينَ فَيَرَاكِ الْمُسْلِمُونَ، فَيُصْلِحُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، قَالَتْ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا ذَاتَ يَوْمٍ: " كَيْفَ بِإِحْدَاكُنَّ تَنْبَحُ عَلَيْهَا كِلَابُ الْحَوْأَبِ ؟ " )) . أهـ . أخرجه ابن أبى شيبة (7/536، رقم 37771) ، ونعيم بن حماد (1/83، رقم 188) . هذا الحديث قدد صححهُ جمعٌ مِنْ أهل العلمِ كالإمام (( الألباني – وابن حجر – والهيثمي)

Mengapa sampai terjadi perang Shiffin dan perang Jamal kalau bukan agar umat Islam mengambil ibroh saat terjadi peristiwa yang sama di akhir zaman kelak?

Maka pasti akan ada orang yang memilih bersikap seperti Ali, ada yang memilih seperti Muawiyah dan Amr bin Ash, namun ada pula yang memilih seperti ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Bahkan ternyata sikap kedua putra khalifah Ali tidak sama.

Namun marilah kita untuk tetap meminta kepada Allah agar segera terwujud Aamul Jama'ah atau tahun persatuan agar Islam kembali jaya agar khilafah segera tegak, sesungguhnya tidak ada yang mustahil bagi Allah. Dan do'a adalah senjata orang mukmin.

اللّهم انصر إخواننا مجاهدين في الشام و في يمن و في كلّ مكان واجمع كلمتهم والّف بين قلوبهم وأيّدهم بجنودك من السماء وانصرهم نصرا مؤرّرا

اللّهم أهلك الطواغين والمنافقين في الشام و في يمن و في كلّ مكان الّذين يصدّون عن سبيلك ويبدّلون دينك ويعادون المؤمنين

اللّهم خالف كلمتهم وشتّت بين قلوبهم وا جعل تدمير هم في تدبريهم وأدر عليهم دائرةالسّوء

اللّهم أنزل بهم بأسك الّذى لا يردّ عن القوم المجرمين

اللهم مجرى السّحا ب ومنزل الكتاب وهازم ا لأحزاب إهزمهم وزلزلهم وانصرنا عليهم

وصلّى الله على محمّد و على اله و أصحابه ومن تبعهم إلى يو م الدين امين

Warga Sidomulyo dan Satpol PP Karanganyar Tutup Paksa Tempat Maksiat Berkedok Karaoke

KARANGANYAR (Jurnalislam.com) – Keberadaan tempat maksiat berkedok karaoke di Sidomulyo Tegalgede, Karanganyar membuat resah warganya. Tempat karaoke bernama Safira milik Toro itu kerap kali dikunjungi ABG-ABG (Anak Baru Gede). Menurut laporan warga, gadis-gadis  muda itu berpakaian tidak senonoh dan sering diantar oleh beberapa anak pemuda yang membawa miras.

Tidak hanya itu, warga Sidomulyo juga terganggu dengan ulah mereka yang setiap malam menggembar-gemborkan sepeda motor sambil berpesta miras. Tak rela daerahnya dijadikan tempat maksiat, warga pun melaporkan tempat maksiat tersebut kepada pemkab Karanganyar dan menuntut untuk menutupnya.

Akhirnya pada hari Jum'at (02/05/2014) pukul 20.00 WIB, dengan dipimpin langsung oleh kepala satpol PP Karanganyar, Mei Subroto, S.Sos, M.Hum, warga bersama satpol PP, aparat kepolisian dan TNI menutup tempat Karaoke Safira. Lurah Tegalgede, Sutomo juga menyaksikan langsung aksi penutupan tersebut.

Bergerak cepat, Lurah Tegalgede, Sutomo. S. Sos langsung mengadakan rapat Kamtibmas untuk membahas keamanan dan ketertiban di kelurahan Tegalgede Karanganyar dengan mengundang seluruh ketua RT/RW dan ketua pemuda se-Kelurahan Tegalgede, Sabtu (03/05/2014) bertempat di Balai Kelurahan Tegalgede.

Untuk diketahui, beberapa bulan lalu warga telah melaporkan keberadaan tempat karaoke milik anak seorang pensiunan polisi itu ke Pemkab Karanganyar. Setelah laporan diterima, pemkab Karanganyar menyatakan tempat karaoke itu tidak berizin. Toro, si pemilik karaoke akhirnya mengganti nama Karaoke Safir menjadi Karaoke Exist. (endro)

Redaktur : Amaif

Hubungan Jokowi dan AS, Bermula dari Abu Bakar Ba’asyir

Beberapa hari setelah pelantikan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, saya kebetulan mengikuti sebuah pertemuan. Pertemuan itu, digelar di sebuah Penthouse apartemen mewah senilai Rp 60 miliar di Jakarta. Pemiliknya adalah seorang pejabat pemerintahan yang juga pengusaha kaya raya. Ia tidak menggunakan apartemen ini untuk tempat tinggal, melainkan untuk keperluan meeting tertutup saja.

 

Selain pejabat pemerintahan pemilik apartemen itu, hadir juga beberapa orang dari kelompoknya. Salah satunya orang yang dekat dengan Megawati atau yang biasa dipanggilnya, Yu’tun (nama panggilan Megawati). Kelompok ini, bukan satu partai, tapi gabungan dari berbagai kepentingan.

 

Pembahasan pertemuan itu salah satunya mengenai sang fenomenal Jokowi, mantan Walikota Solo yang sukses menaklukkan DKI Jakarta.

 

Mr. G menanyakan kepada forum, ada fenomena apa Jokowi sampai bisa sekejab menaklukkan DKI Jakarta. Apa peran Amerika Serikat dalam kemenangan Jokowi. Belum sempat forum menjawab, Mr. G melanjutkan dengan sebuah cerita.

 

Penuturan Mr. G, ia pernah bertemu dengan Dubes AS untuk Indonesia Cameron R Hume pada tahun 2007 di sebuah pesta perkenalan. Cameron R Hume diangkat menjadi Dubes AS untuk Indonesia pada 30 Mei 2007. Seperti biasa, digelar pesta perkenalan dengan Dubes AS yang baru menjabat itu dengan para petinggi negara.

 

Dubes AS Cameron mengatakan pada Mr.G, “Kalian punya orang seperti Jokowi, kenapa tidak kalian running jadi Presiden?”

 

Mr. G hanya tersenyum tak menjawab, karena memang ia kurang tahu persis siapa Jokowi. Wajar saja, ketika itu masih tahun 2007, Jokowi tak banyak yang tahu. Mr. G pun meminta anak buahnya mencari tahu siapa Jokowi. Ternyata Jokowi adalah Walikota Solo, dilantik pada 28 Juli 2005.

 

Penuturan Mr. G ketika melihat profil Jokowi hasil pencarian anak buahnya, ia berpikir “Kenapa Dubes AS menyoroti Jokowi?”

 

Dan pertanyaan yang sama ia lontarkan pada pertemuan 2012 di apartemennya itu. Mr. G kembali mengatakan, “Apa benar ada permainan AS di belakang Jokowi sehingga ia bisa dengan mudah menang di DKI?”

 

Lalu ia melontarkan pernyataan lanjutan, “Ini hanya bisa dibuktikan, jika ternyata nanti Jokowi benar menjadi Capres di 2014,” ujar Mr. G.

 

Mr. A, orang dekat Megawati yang juga hadir di pertemuan itu menanggapinya dengan menceritakan sebuah kisah. Kisah itu terjadi pada saat Megawati menjabat sebagai Presiden RI mulai 23 Juli 2001, menggantikan Gus Dur.

 

Penuturan Mr. A, sepanjang tahun 2002, ia beberapa kali mempertemukan seorang agen CIA bernama Karen Brooke dengan Megawati. Pertemuan Karen Brooke dengan Megawati merupakan permintaan dari Dubes AS untuk Indonesia saat itu, Ralph Leo Boyce. Dubes AS Ralph Leo Boyce yang dilantik pada 1 Oktober 2001 itu meminta pertemuan dengan Megawati atas perintah Menlu AS Colin Powell.

 

Dalam beberapa kali pertemuan itu, Karen Brooke yang berdomilisi di Solo dan Yogyakarta ini menjelaskan data intelijen AS kepada Megawati. Menurut Karen Brooke, Megawati harus mengambil tindakan kepada Abu Bakar Ba’asyir diduga mengepalai jaringan terorisme Asia Tenggara dari Solo.

 

Dubes AS Ralph Leo Boyce yang ikut dalam beberapa kali pertemuan itu, membenarkan Karen Brooke. Data CIA mengatakan, selama pelarian 1985 hingga 1999 di Malaysia dan Singapura, Abu Bakar Ba’asyir membangun Jamaah Islamiyah. Organisasi JI disebut AS bagian dari jaringan terorisme global, Al-Qaeda.

 

Dubes AS Ralph Leo Boyce menjelaskan bahwa sejak serangan 11 September 2001, AS memiliki kebijakan luar negeri yang berbeda. AS mengumandangkan War on Terror kepada seluruh pelaku terorisme dunia. Negara mana pun yang berpartisipasi melindungi terorisme akan diluluhlantakkan.

 

Perlu dicatat, segera setelah tragedi 11 September 2001, selang 3 minggu Menlu AS mengangkat Dubes AS baru untuk Indonesia, Ralph Leo Boyce pada 1 Oktober 2001. AS melakukan invasi ke Afghanistan pada 7 Oktober 2001.

 

Tentu saja, pengangkatan Dubes AS baru untuk Indonesia berkaitan dengan perubahan kebijakan luar negeri AS pasca 11 September 2001. Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, tentu perlu dijaga oleh AS yang tengah melakukan invasi ke Timur Tengah. AS tidak ingin invasinya ke Timur Tengah dihadang solidaritas muslim dari Indonesia ke Timur Tengah. Apalagi AS punya kepentingan menguasai sumber daya alam di Indonesia.

 

Kembali ke cerita Mr. A. Dubes AS Ralph Leo Boyce dan Karen Brooke mendesak Megawati menangkap Abu Bakar Ba’asyir sesegera mungkin. Alasannya, pertama, agar kabar akan adanya pemboman oleh Jamaah Islamiyah bisa dicegah. Kedua, agar Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia, bisa menunjukkan sikap yang tidak mendukung terorisme.

 

Megawati menolak permintaan itu, karena menurutnya keterlibatan Abu Ba’asyir dalam terorisme Asia Tenggara tidak ada bukti. Megawati menuduh isu terorisme Asia Tenggara oleh Jamaah Islamiyah hanyalah rekayasa AS dalam kebijakan luar negerinya yang baru.

 

Gagal melakukan diplomasi dengan Megawati, AS melobi Singapura agar mendesak Indonesia. Pada 28 Februari 2002, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew mengeluarkan pernyataan bahwa Indonesia terlibat terorisme dengan sarangnya di kota Solo. Kota Solo adalah markas pergerakan Abu Bakar Ba’asyir sejak tahun 1972.

 

Menurut Mr. A, usai pernyataan Lee Kuan Yew yang menjadi perhatian se Asia Tenggara, Dubes AS Ralph Leo Boyce dan Karen Brooker kembali menemui Megawati. Kali ini, Megawati didesak menangkap Abu Bakar Ba’asyir karena alasan tambahan, potensi gejolak Asia Tenggara karena Indonesia tidak bekerja sama memberantas terorisme.

 

Mr. A mengatakan, Megawati kembali menolak permintaan itu, juga dengan alasan tidak ada bukti kuat untuk menangkap Abu Bakar Ba’asyir. Lalu terlontar pertanyaan yang mencengangkan, baik bagi Megawati maupun Mr. A.

 

“Jika tersedia bukti-buktinya, anda berjanji akan menangkap Abu Bakar Ba’asyir?” tanya Karen Brooke pada Megawati. Mau tidak mau, Megawati menerima tantangan itu, karena Megawati tidak berpikir negatif.

 

Pada 23 September 2002, majalah TIME melansir artikel bertajuk Confessions of an Al Qaeda Terrorist. Artikel TIME menuduh Abu Bakar Ba’asyir sebagai perencana peledakan Mesjid Istiqlal dan terlibat Al-Qaeda. Ba’asyir juga dituduh TIME berencana melakukan aksi terorisme lain di Indonesia.

 

Penuturan Mr. A, segera setelah berita TIME, Megawati menerima telepon dari Karen Brooke difasilitasi Dubes AS Ralph Leo Boyce.

 

“Anda yakin tidak ingin menangkap Abu Bakar Ba’asyir sekarang?” tanya Karen Brooke. Megawati tetap pada jawabannya, tidak bisa menangkap Abu Bakar Ba’asyir tanpa landasan bukti yang kuat.

 

Lalu pada 12 Oktober 2002, terjadilah aksi peledakan di 3 titik, Paddy’s Pub, Sari Club dan dekat kantor Konsulat AS di Bali. Aksi ini dikenal sebagai Bom Bali I.

 

Tepat tanggal 13 Oktober 2002, Dubes AS Ralph Leo Boyce dan Karen Brooke kembali menemui Megawati dan menagih janjinya. “Anda sudah lihat buktinya, kini tangkaplah Abu Bakar Ba’asyir,” ujar Karen Brooke.

 

Bom Bali I memberikan tekanan kepada Indonesia dari Asia Tenggara, Australia, AS dan Eropa. Menurut Mr. A, Megawati sesungguhnya tidak melihat Bom Bali I sebagai aksi Abu Bakar Ba’asyir melainkan rekayasa AS. Sayangnya, lanjut Mr. A, tekanan dunia internasional, media-media asing seolah sudah menjebak Indonesia dalam kegiatan terorisme.

 

“Megawati pun langsung memerintahkan penangkapan Abu Bakar Ba’asyir,” ujar Mr. A.

 

Ditangkaplah Abu Bakar Ba’asyir pada 18 Oktober 2002, hanya dalam penyelidikan tak sampai 1 pekan. Dan rupanya, lanjut Mr. A, AS sudah menyiapkan paket untuk Indonesia dalam kaitannya dengan War on Terror.

 

Melalui Diplomatic Security Service (DSS) Kementerian Luar Negeri AS, dikucurkanlah dana US$ 12 juta untuk pembentukan Densus 88. Densus 88 didirikan atas Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003. Densus 88 didirikan pada 23 Juni 2003 dan diresmikan oleh Jenderal Polisi Firman Gani pada 26 Agustus 2004.

 

Pemerintahan Megawati berakhir pada 20 Oktober 2004. Selang 1 bulan, AS mengangkat Dubes AS yang baru, B Lynn Pascoe pada 25 November 2004. Kemudian pada pemerintahan baru AS, Condoleezza Rice diangkat jadi Menlu AS pada 26 Januari 2005.

 

Atas lobi Menlu AS Condoleezza Rice melalui Dubes AS Lynn Pascoe kepada SBY, Abu Bakar Ba’asyir divonis bersalah pada 3 Maret 2005. Setelah penyelidikan panjang (3 tahun), tak ada bukti apapun yang mengaitkan Abu Bakar Ba’asyir dalam aksi Bom Bali I. Tuduhan kepada Ba’asyir hanya turut melakukan tindakan makar dengan maksud menggulingkan pemerintah yang sah, membuat keterangan palsu, dan terbukti keluar dan masuk Indonesia tanpa izin. Tak ada kaitan apa pun antara Abu Bakar Ba’asyir dengan Bom Bali I, karena itu vonis hukumannya hanya 2,6 tahun.

 

Pada 14 Juni 2006, setelah mendapat pengurangan hukuman dari Presiden SBY, Abu Bakar Ba’asyir dibebaskan. Janggal, Ba’asyir ditangkap atas tuduhan Bom Bali I, divonis tanpa terkait Bom Bali, lalu dibebaskan dalam waktu singkat.

 

Menurut Mr. A, pemenangan Jokowi – FX Rudyatmo sebagai Walikota Solo pada 28 Juli 2005 juga ada peran dari Menlu AS Condoleezza Rice. Solo sebagai bekas markas Abu Bakar Ba’asyir, dalam kacamata AS harus dikawal. Tidak boleh tokoh muslim konservatif yang memimpin kota Solo. Sosok muslim sekular seperti Jokowi didampingi Katolik konservatif FX Rudyatmo diharapkan AS dapat meredam sisa-sisa pergerakan Ba’asyir di Solo.

 

Itu menjelaskan kenapa Dubes AS untuk Indonesia berikutnya Cameron R Hume, yang diangkat Menlu AS Rice pada 30 Mei 2007, begitu menyoroti Jokowi. Selama masa Menlu AS Condoleezza Rice, tidak terlihat adanya terorisme Solo bergerak.

 

Namun situasi berubah ketika Obama menunjuk Hillary Clinton sebagai Menlu AS pada 21 Januari 2009. Mendadak, aksi terorisme Solo kembali muncul secara berkala. Menurut Mr. A, dari sini lah hubungan Jokowi dengan Menlu AS Hillary Clinton mulai dibangun lebih serius. Tidak hanya untuk Solo, Menlu AS Hillary Clinton menyiapkan Jokowi untuk DKI lalu Pilpres 2014. Menlu AS Hillary Clinton  meminta barter berupa pemberantasan gerakan ekstrimis Islam Asia Tenggara yang bermarkas di Solo kepada Jokowi.

 

Lalu dimulailah serangkaian aksi serangan terorisme dan penyergapan terorisme di Solo. Pada 17 September 2009, Densus 88 yang didanai AS, menyergap Noordin M Top Group di Kepuhsari, Solo. Pada 13 Mei 2010, Densus 88 menyergap markas teroris di Dusun Gondang, Solo. Pada 14 Mei 2011, Densus 88 menyergap Sigit Qurdhowi Group di Cemani, Solo. Pada 25 September 2011, terjadi serangan di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton, Solo.

 

Pada 17 Agustus 2012, terjadi serangan dari Farhan Group di Pasar Kliwon, Solo. Pada 19 Agustus 2012, Farhan Group menyerang Bunderan Gladag, Solo. Pada 30 Agustus 2012, Farhan Group menyerang Plasa Singosaren, Solo. Pada 31 Agustus 2012, Densus 88 menyergap Farhan Group di Solo. Pada 22 September 2012, Densus 88 menyergap Thoriq Group di Solo.

 

Tentu menjadi pertanyaan, kenapa pada masa Menlu AS Condoleezza Rice tidak ada satu pun aksi terorisme Solo. Namun pada masa Menlu AS Hillary Clinton, mendadak muncul serangkaian aksi teroris dan penyergapan teroris di Solo.

 

Banyak pendapat mengatakan kalau semua aksi terorisme di Indonesia merupakan ulah AS. Dan terbukti, duet Hillary Clinton dengan Jokowi dalam “Memberantas Teroris Solo” telah menaikkan nama Jokowi di mata internasional. Dan kini, Jokowi maju ke pentas Capres 2014 dengan dukungan internasional yang kuat.

 

Benarkah demikian?

 

Mr. F, salah seorang peserta pertemuan yang sama memberikan pendapat dari hasil penelusurannya. Beliau ini orang yang pernah saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya ketika saya pergi ke Bali akhir 2013. Beliau bekerja untuk George Friedman, pendiri Stratfor (Strategic Forecast).

 

Menurut Mr. F, peristiwa 11 September 2001 telah mengubah kebijakan luar negeri AS secara menyeluruh. Mr. F mengatakan, peristiwa 11 September menjadi tanda dimulainya agenda pembebasan Timur Tengah tahap II. Sebelumnya, pada masa George Walker Bush, ia kategorikan sebagai Pembebasan Timur Tengah tahap I.

 

“Pembebasan Timur Tengah tahap I dimulai dari serangkaian perang teluk oleh Bush senior,” kata Mr. F.

 

Menurutnya, paket pembebasan Timur Tengah tahap I meliputi invasi pada negara-negara penghasil minyak yang berkarakter otoriter, mempertajam konflik Suni dan Syiah, mendiskreditkan sudut pandang Islam yang berkarakter ekstrem dan menggantinya dengan menyebarluaskan ajaran Islam yang demokratis dengan melahirkan para pemikir Orientalisme.

 

Pada Pembebasan Timur Tengah tahap II, dimulai dengan War on Terror untuk menginvasi Afghanistan, Irak, Libya dan sebagainya, kemudian dilanjutkan dengan demokratisasi sejumlah negara atau yang biasa dikenal sebagai Arab Spring.

 

“Paket pembebasan Timur Tengah tahap II dirancang oleh Bush junior yang kemudian dilanjutkan oleh Obama,” ujar Mr. F.

 

Menurut Mr. F, sasaran utamanya adalah penguasaan sumber daya alam. Peperangan berbau perjuangan demokrasi, humanisme atau anti terorisme tidak lain hanya kemasan untuk ke publik. Ada sebuah ironi di dunia Barat, kata Mr. F. Negara-negara barat sukses dengan demokrasi dan modernitas, tapi seluruh sumber daya alam membeli dari pihak luar.

 

“Seperti membeli minyak dan gas dari Timur Tengah, batubara dari Asia, berlian dari Afrika dan sebagainya,” jelasnya.

 

Dan secara kebetulan, lanjutnya, sumber daya alam di planet Bumi terkonsentrasi dari Utara Afrika, Timur Tengah, India hingga Indonesia dan Australia.

 

“Sementara pada tahun 1980-an, negara-negara di Afrika Utara, Timur Tengah, hingga Indonesia dominan dikuasai pemerintah Islam,” jelas Mr. F.

 

India dan Australia sudah berada dalam pegangan Barat, kata Mr. F. Namun belum untuk area Afrika Utara, Timur Tengah dan Indonesia. Pemerintahan muslim atau penduduk muslim dominan mengambil peranan di area sumber daya alam tersebut.

 

“Bush senior memulai paket Pembebasan Afrika Utara, Timur Tengah hingga Indonesia. Dengan kata lain, Bush Senior, dilanjutkan Clinton, Bush Junior dan Obama akan menggeser dominasi Islam dari tanah sumber daya,” ujar Mr. F.

 

Apabila dilihat saat ini, lanjut Mr. F, sebagian agenda tersebut telah berhasil direalisasikan. Hanya tersisa sedikit area sumber daya alam bagus yang belum berhasil didemokratisasi oleh AS, mulai dari Afrika Utara, Timur Tengah dan Indonesia.

 

“Perang Teluk, Invasi Afghanistan, Irak, Libya, perang sipil Mesir, Suriah, kemudian Arab Spring di Tunisia dan sebagainya, berhasil dengan baik,” ujar Mr. F.

 

Menurutnya, penanganan AS atas upaya memenangkan kekuasaan di negara-negara sumber daya bermacam-macam. Jika dia bersifat otoriter, maka solusinya perang sipil, perang membela demokrasi atau invasi. Jika dia bisa diajak kerjasama, maka solusinya demokratisasi.

 

“Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam yang sangat banyak, sehingga AS tidak menginginkan solusi perang. Perang akan menghancurkan infrastruktur. AS menginginkan penguasaan politik dan ekonomi untuk Indonesia,” jelasnya.

 

Setelah kesuksesan perang Teluk, lanjut Mr. F, Komisi Trilateral bersepakat tidak boleh ada perang di Indonesia. Apalagi sampai menjatuhkan Nuklir di Indonesia, karena membangun kembali infrastruktur akan memakan waktu dan investasi besar.

 

“Komisi Trilateral bersepakat Indonesia akan menjadi sasaran damai dari Eropa, Asia dan AS (Trilateral) dalam kompetisi memenangkan politik dan ekonomi,” ujar Mr. F.

 

Mr. F mengatakan, boleh jadi karena alasan yang sama pula AS menekan pemerintahan Megawati untuk meredam gerakan Islam ekstrimis di Indonesia. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak harus dijauhkan dari solidaritas dengan gejolak Timur Tengah.

 

Pendapat saya, mungkin itu sebabnya tren pemberitaan dari Timur Tengah di Indonesia cenderung bernuansa negatif, agar masyarakat tidak mendukung suara Timur Tengah. Contohnya kasus pemerkosaan TKW di Arab Saudi. Apa hanya itu aktivitas TKW di Arab Saudi yang bisa jadi berita? Tapi dominan hanya soal itu. Dampaknya adalah, masyarakat Indonesia benci kepada orang-orang Arab sehingga memperkecil kemungkinan solidaritas muslim ke Timur Tengah. Kemudian juga dengan karakter pemberitaan soal terorisme, seolah mutlak benar semua itu adalah aksi terorisme. Apa tidak terbuka kemungkinan beberapa dari yang digolongkan sebagai teroris sebenarnya adalah perjuangan kelompok muslim saja? Tapi kebanyakan langsung dijustifikasi itu adalah terorisme.

 

Seperti contoh kasus Abubakar Ba’asyir. Tidak ada bukti langsung yang mengaitkan ia dengan aksi terorisme. Kebanyakan hanya berdasarkan asumsi. Tentu targetnya adalah agar masyarakat Indonesia menilai setiap gerakan muslim adalah terorisme dan menjauhi itu.

 

Pertanyaan saya adalah, apakah Jokowi menyadari ini ketika melihat fakta bahwa terorisme Solo bangkit kembali pada era Hillary Clinton?

 

Beberaa waktu lalu, saya menghubungi Mr. A (orang dekat Megawati yang saya ceritakan tadi). Saya tanyakan bagaimana sikap Megawati terhadap asing di belakang Jokowi.

 

“Yu’tun (panggilan Megawati) sangat concern terhadap ini. Makanya ia sekarang selalu mengawal pertemuan Jokowi dengan para perwakilan asing. Yu’tun mulai mengkhawatirkan dominasi kekuatan asing yang mencoba menunggangi Jokowi. Jokowi kelihatannya tidak sadar pada hal ini, karena beliau masih hijau sekali di perpolitikan global,” ujar Mr. A.

 

Dari jauh, saya berharap Jokowi mampu membaca gejala tersebut, seperti yang menjadi kekhawatiran Megawati. Jokowi jangan mau ditunggangi kepentingan asing untuk penguasaan sumber daya alam di  Indonesia. (Ratu Adil)