Komunitas Nahi Munkar Surakarta Bagikan 5000 Stiker Tolak VD

SURAKARTA (Jurnalislam.com) – Komunitas Nahi Munkar Surakarta (KONAS) mengadakan aksi sebar stiker tolak Valentine’s Day di gelaran Car Free Day Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Ahad (7/2/2016). Sekitar 5000 stiker dibagikan secara cuma-cuma kepada pengunjung CFD.

Dengan digelarnya aksi tersebut, korlap aksi, Syekh Assagaf berharap generasi muda tidak terpengaruh dengan budaya barat yang hendak menjerumuskan generasi muda umat Islam pada kemaksiyatan.

“Mudah-mudahan ke depan kita minta terutama Dinas Pendidikan untuk memprioritaskan bahaya valentine kepada siswa-siswi, jangan sampai generasi ini tidak tahu aturan (moral),” katanya.

Aksi bertena "Valentine Bukan Budaya Bangsa Indonesia" itu mendapat apresiasi positif dari masyarakat. Mereka membubuhkan tanda tangan penolakan hari Valentine Day di atas kain putih berukuran 6 x 1 meter.

“Setuju mas, karena valentine bukan ajaran Islam jangan sampai teman-teman ikut rayakan valentin,” kata Rafsandani siswi MAN 2 Surakarta usai membubuhkan tanda tangannya.

KONAS akan melanjutkan aksi serupa di tempat-tempat keramaian di wilayah Surakarta sebagai upaya menghadang kemaksiyatan umat.

Reporter: Dyo Editor: Ally | Jurnalislam

 

Pembicaraan Damai Rezim Kabul dan Taliban Diharapkan pada Akhir Februari

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Pembicaraan damai langsung antara Kabul dan Taliban diharapkan berlangsung pada akhir bulan, perwakilan dari empat negara yang terlibat dalam negosiasi untuk mengakhiri perang 15 tahun di Afghanistan mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan hari Sabtu (06/02/2016)di Islamabad, lansir World Bulletin.

Pernyataan delegasi dari Afghanistan, Pakistan, Cina dan Amerika Serikat keluar setelah putaran ketiga pembicaraan antara empat kekuatan dan merupakan indikasi terkuat bahwa Taliban bersedia bergabung dengan perundingan enam bulan setelah dialog langsung putaran sebelumnya gagal.

Taliban muncul sebagai perlawanan dan melancarkan operasi militer musim dingin yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh Afghanistan, lebih dari 14 tahun setelah mereka digulingkan dari kekuasaan oleh pasukan multinasional termasuk  NATO pimpinan AS.

"Kelompok menekankan bahwa hasil dari proses rekonsiliasi harus menjadi penyelesaian politik yang menghasilkan penghentian peperangan dan perdamaian yang berlangsung selamanya di Afghanistan," kata pernyataan itu.

"Menjelang akhir ini, negara QCG (Quadrilateral Coordination Group – Kelompok Koordinasi Segiempat) sepakat melanjutkan upaya bersama untuk menetapkan tanggal bagi perundingan perdamaian langsung antara perwakilan pemerintah Afghanistan dan mujahidinTaliban yang diperkirakan akan berlangsung pada akhir Februari 2016."

Pernyataan itu menambahkan Taliban akan mengadakan pertemuan berikutnya di Kabul pada 23 Februari jika syarat-syaratnya terpenuhi.

Peran Pakistan, yang mendukung Taliban selama berkuasa sejak 1996 hingga 2001 dan  terus memberikan perlindungan bagi para pemimpin Taliban di pengasingan, dipandang sebagai kunci dalam membujuk Taliban untuk kembali ke perundingan.

Rencana putaran pertama perundingan diadakan di Islamabad bulan lalu, di mana delegasi mulai meletakkan dasar untuk dialog langsung antara Kabul dan Taliban.

Putaran kedua diadakan di Kabul pada 18 Januari yang mendesak kelompok Taliban untuk masuk dalam pembicaraan awal dengan pemerintah Afghanistan tanpa prasyarat.

Perwakilan Taliban absen selama proses dan analis mengingatkan bahwa pembicaraan substantif masih sangat jauh.

Taliban telah meningkatkan serangan terhadap sasaran rezim pemerintah boneka dan asing di Afghanistan musim dingin ini, ketika pertempuran biasanya mereda, menggarisbawahi situasi keamanan memburuk.

Pengamat mengatakan perlawanan berlangsung intensif menyoroti dorongan mujahidin untuk mengambil kembali banyak wilayah dalam upaya memperoleh konsesi yang lebih besar selama pembicaraan.

Pakistan menjadi tuan rumah tonggak pertama putaran perundingan langsung dengan Taliban pada bulan Juli tahun lalu.

Pernyataan itu menambahkan empat negara "meminta semua kelompok Taliban untuk bergabung dengan perundingan damai". Taliban dipimpin oleh Syeikh Mullah Akhtar Mansour, yang secara resmi menggantikan pendiri Taliban, Syeikh Mullah Omar.

 

Deddy | World Bulletin | Jurnalislam

 

Al-Qaeda Bertanggung Jawab atas Penculikan Warga Australia di Burkina Faso

MALI (Jurnalislam.com) – Sebuah faksi jihad yang terikat tandzim jihad global al-Qaeda telah mengatakan bertanggung jawab atas penculikan beberapa warga Australia bulan lalu di dekat perbatasan Burkina Faso dengan Mali, Aljazeerah melaporkan Sabtu (06/02/2016).

Dr Ken Elliott dan istrinya Jocelyn, yang berusia di 80-an, diculik dari kota utara Djibo pada 15 Januari.

Dalam pesan audio mereka, al-Mourabitoun, sebuah faksi  cabang al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM), pada hari Jumat mengatakan telah memutuskan untuk melepaskan istri Dr. Elliot tanpa syarat.

"Kewajiban agama kita adalah menghormati warga sipil, tidak merugikan perempuan, orang tua dan anak-anak berdasarkan Hadist Nabi dan bimbingan komandan kami," kata pernyataan audio yang dirilis pada channel Telegram resmi AQIM.

Pasangan Australia tersebut tinggal di Djibo sejak tahun 1972, di mana mereka mengoperasikan klinik yang memiliki 120 tempat tidur.

Mereka diculik saat pejuang AQIM menggerebek sebuah hotel dan restoran di ibukota Ouagadougou dalam serangan yang menewaskan sedikitnya 27 orang.

Dalam rekaman audio, al-Mourabitoun mengatakan bahwa mereka bersedia untuk menukar sandera Australia tersebut setelah mereka membebaskan anggotanya yang berada dalam tahanan.

"Motif utama di balik penculikan mereka merupakan upaya pembebasan anggota kita yang ditahan dan menderita sakit di penjara, serta dirampas hak-hak dasarnya," kata rekaman.

Pada tanggal 23 November, al-Mourabitoun mengaku bertanggung jawab atas penyanderaan dan pengepungan sembilan jam di sebuah hotel bintang lima di ibukota Mali, Bamako.

al-Mourabitoun mengatakan telah melakukan serangan, dimana 21 orang tewas, dalam koordinasi dengan kelompok Imarah al-Sahra dan al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM).

Deddy | Al Jazeera | Jurnalislam

Erdogan: YPG Memiliki Senjata dari Negara-negara Barat

ANKARA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Sabtu  (06/02/2016) mengkritik negara-negara barat karena memasok senjata bagi kelompok sayap afiliasi PKK Suriah.

Dalam pidato penutupan Forum Pariwisata Dunia di Istanbul, Erdogan mengatakan bahwa tindakan kelompok teroris tertentu di Irak dan di Suriah, seperti Partai Uni Demokrat Kurdi (PYD), sedang diabaikan.

"PYD, dikendalikan oleh Qandil Mountain (dimana PKK mendirikan kantor pusat sejak mundur dari Turki) didukung dan dipertahankan (oleh kekuatan Barat yang) mengabaikan kegiatan pembersihan etnis YPG di wilayah tersebut, aksi terorisme, dan kerjasama dengan rezim Assad saat ini," kata Erdogan.

Presiden Turki mengatakan bahwa target PYD – dan sayap bersenjatanya yaitu YPG – termasuk orang yang tidak berpikir seperti mereka dan bergabung dengan kelompok mereka.

Dalam sebuah laporan Oktober, Amnesty International menyatakan bahwa YPG telah melakukan beberapa kejahatan perang.

Pengawas hak tersebut melanjutkan untuk menegaskan bahwa ribuan penduduk setempat baru-baru ini terpaksa meninggalkan rumah mereka – sementara seluruh desa telah diratakan dengan tanah – oleh milisi YPG.

"Tujuan mereka tidak untuk memimpin saudara Kurdi kami. Namun  mereka menyulitkan saudara Kurdi kami," kata Erdogan.

Dia mengatakan bahwa organisasi seperti PKK, PYD, dan YPG serta Daesh tidak dapat mencapai sukses dengan serangan berdarah mereka.

"Kami terus berjuang bergandengan tangan, bahu-membahu dengan tentara Turki, polisi Turki dan penjaga desa kami, dan akan terus melakukannya," tambah Erdogan.

Deddy | Anadolu Agency | Jurnalislam

Ini Tanggapan Resmi Pesantren Darusy Syahadah Terkait Tudingan BNPT

BOYOLALI (Jurnalislam.com) – Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Boyolali, Jawa Tengah, mengeluarkan pernyataan resmi terkait tudingan ‘pesantren radikal’ oleh BNPT. Dalam pernyataannya, Mudir Pondok, Qosdi Ridawanulloh mengaku keberatan atas tudingan tersebut.

Qosdi juga keheranan, sebab hingga saat ini belum ada pihak yang datang untuk berdiskusi dan mengkonfirmasi langsung ke pesantren.

“Entah dengan dasar apa tuduhan tersebut. Yang pasti belum ada yang datang berdialog dan berdiskusi langsung dengan pesantren sebelum munculnya tuduhan tersebut. Yang jelas, pesantren merasa keberatan dengan pernyataan tersebut,” kata Qosdi dalam pernyataannya kepada Jurnalislam, Sabtu (6/2/2016).

Dia menilai tudingan itu merupakan pembunuhan karakter pesantren yang berdampak pada ketakutan umat akan pesantren.

Qosdi menjelaskan, pesantren Darusy Syahadah sejak didirikan pada tahun 1994 berusaha mengajarkan Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat. “Islam yang memiliki iman yang kuat, ibadah yang baik, akhlak mulia dan menjadi rahmat bagi semesta alam,” jelas Qosdi yang mengaku mendapat informasi itu dari pemberitaan Jawa Pos edisi Selasa 2 Februari 2016.

Pesantren Darusy Syahadah, lanjut Qosdi, senantiasa berusaha membangun komunikasi dengan segenap elemen bangsa dan berusaha memberi manfaat kepada sesama.

“Ada tidak kurang dari 52 masjid dan musholla di sekitar pesantren menjadi tempat praktek santriwan mengajari anak-anak dan dewasa. Para ustadznya pun banyak memberi ceramah di wilayah Boyolali dan sekitarnya, bekerja sama dengan berbagai ormas Islam dan majelis pengajian,” ungkapnya.

Tak hanya itu, alumni ponpes Darusy Syahadah yang lebih dari seribu orang telah berkiprah di masyarakat dengan berbagai ormas dan lembaga pendidikan Islam. “Dan Alhamdulillah sebagian besar diterima masyarakat. Bahkan setiap tahun, jumlah peminta tenaga wiyata bakti melebihi jumlah alumni yang dikeluarkan,” terang Qosdi.

Qosdi menambahkan, secara berkala Darusy Syahadah mengadakan silaturrahmi dan mengadakan perkumpulan dengan para takmir masjid se-Simo dan sekitarnya. “Hubungan dengan sesama kaum muslimin dari lembaga Muhammadiyah atau NU juga terjalin baik. Demikian pula dengan MUI,” katanya.

Dia menegaskan, selama ini Pesantren Darusy Syahadah berbaur dan diterima dengan baik oleh masyarakat dan kaum muslimin. “Maka jika kemudian ada yang menuduh dengan tuduhan yang tidak layak, maka pesantren meminta bukti dan klarifikasi,” tandasnya.

“Apakah jika dari ribuan alumni, lalu ada satu dua yang berlaku tidak benar bisa kita sebut lembaga tersebut salah? Apakah adil jika ada koruptor alumi perguruan tinggi tertentu kemudian kita katakan bahwa perguruan tinggi tersebut tempat persemaian koruptor?” tegasnya.

Qosdi berharap elemen bangsa ini bisa berlaku adil dalam menilai sesama anak bangsa.

Reporter: Riyanto | Editor: Ally | Jurnalislam

Kemenag Kota Pasuruan Imbau Seluruh Madrasah Cegah Siswa Rayakan VD

PASURUAN (Jurnalislam.com) – Kementerian Agama Kota Pasuruan mengeluarkan Surat Edaran kepada seluruh Madrasah negeri maupun swasta untuk mengantisipasi adanya perayaan hari valentin. Berikut isi Surat Edaran yang diterima Jurnalislam, Jumat (6/2/2016).

Dalam rangka mencegah peserta didik agar tidak terpengaruh oleh kegiatan yang tidak sesuai dengan kearifan lokal dan budaya Indonesia yang dikhawatirkan terjadi pada perayaan Valentine’s Day (Hari Kasih Sayang) yang jatuh pada hari Minggu tanggal 14 Pebruari 2016, bersama ini disampaikan kepada seluruh Kepala Madrasah agar:

  1. Melakukan antisipasi kemungkinan adanya perayaan Valentint’s Day oleh peserta didik yang tidak sesuai dengan nilai moral, religious, dan kultur budaya bangsa Indonesia.
  2. Membat Surat Edaran kepada orang tua/wali murid untuk melakukan pengawasan kepada putra-putrinya agar tidak melakukan hal-hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri dan masa depannya.
  3. Memberikan penguatan moral dan pengertian kepada seluruh peserta didik bahwa kasih sayang akan lebih bermakna jika diberikan kepada orang tua, saudara, bapak/ibu guru, teman, tetangga, dan orang yang berjasa di sekitar kita seperti petugas kebersihan, petugas keamanan, pemadam kebakaran, petugas makam, penjaga palang pintu kereta api dan lain-lain.

Reporter: Findra | Editor: Ally | Jurnalislam 

ANNAS: Kelompok Syiah di Indonesia Sedang Terpojok

TASIKMALAYA (Jurnalislam.com) – Anggota Majelis Penasihat Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat, Amin Mukhtar mengatakan, posisi kelompok Syiah di Indonesia saat ini sedang tidak aman dan terpojok. Sebab, kesadaran akan bahaya Syiah sudah mulai tertanam dalam tubuh umat Islam.

"Syiah hari ini saya sebut anak manja, babarian, baheula mah tarung buku ku buku, aksi debat intelektual, sekarang tidak. Sekarang mah lapor ke Polisi, lapor ke Komnas HAM, itu menunjukkan mereka sadar bahwa posisi mereka sekarang dalam posisi yang tidak aman," katanya dalam Tabligh Akbar yang diselenggarakan Pemuda Persis Kota Tasikmalaya, Jum'at (5/2/2016) di Aulia Hall Center AHC Indihiang depan Polres Kota Tasikmalaya.

Menurutnya, cara seperti itu digunakan kelompok Syiah untuk mencari empati masyarakat bahwa Syiah merupakan kelompok yang terdzalimi.

"Bagi saya, kenapa Syiah harus menggunakan cara seperti ini, memang di saat bangkitnya kesadaran tentang bahaya Syiah di kalangan umat Islam sudah mulai tumbuh, Syiah sudah mulai merasa ketika dengan cara lama tidak bisa akhirnya Syiah mencari aksi yang sifatnya membuat orang menjadi empati bahwa Syiah betul-betul terdzalimi,” paparnya.

Untuk mempertahankan diri, lanjutnya, Syiah juga mencari aliansi atau kelompok yang dianggap kondusif untuk menghindari berhadapan langsung dengan lawannya.

"Nantinya kelompok itulah yang akan maju saat ada persoalan, bukan Syiahnya. Sehingga untuk menghindari persoalan secara langsung. Ini yang saya katakan bahwa Syiah manja dan sangat terpojok,” jelasnya.

Reporter: HBQ | Editor: Ally | Jurnalislam

 

FPI Kota Serang : Radikalisme itu Lahir dari TV Bukan dari Pesantren

SERANG (Jurnalislam.com) – Pernyataan sepihak ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Saud Usman tentang 19 pondok pesantren (ponpes) yang dicap radikal terus menuai kecaman. Ketua FPW FPI Kota Serang, KH Muhammad Nasehuddin menilai pernyataan tersebut salah besar.

“Pejabat pemerintah salah besar jika langsung menuding pondok pesantren bahkan mencap radikal, menurut kami salah besar,” tegas kepada Jurnalislam, Kamis (4/1/2016).

Menurutnya, radikalisme justru muncul dari televisi. “Dari media-media yang selama ini dibiarkan oleh pemerintah tanpa ada pengawasan sedikitpun,” cetusnya.

Naseh menjelaskan, televisi telah mengajarkan kekerasan, mengajarkan ketidaksantunan terhadap orang tua. “Itu semua timbulnya dari TV, bukan dari pondok pesantren, hatta bab dari radikalisme tadi, pemboman, penembakan,” tegasnya.

“Makanya imam besar FPI (Habib Rizieq) mengatakan bahwa jangan kaget jika besok ada anak usia 5 tahun membawa AK-47 ke jalan Thamrin, karena mereka semua sudah diracuni oleh televise,” katanya.

Naseh juga menilai pemerintah salah besar dengan menyalahkan pondok pesantren dan ayat-ayat Al Qur’an sebagai sumber radikalisme. “Saya malah khawatir pemerintah ini murtad semua, karena setelah kita lihat dan kaji langsung ataupun tidak langsung, mereka kaya yang lebih pintar dari Allah,” tegasnya.

“Ayat jihad tidak salah, Al Qur’an pasti benar, justru kelalain mereka sendiri,” pungkasnya.

Reporter: Muhammad Fajar | Jurnalislam

 

19 Pesantren Dituding ‘Radikal’, CIIA: Paradigma BNPT Cacat

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai pernyataan Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman tentang pesantren radikal adalah pernyataan yang gegabah. Menurutnya, BNPT harus lebih transparan kepada publik tentang parameter radikal.

"BNPT eloknya transparan kepada publik terlebih khusus kepada para ulama tentang parameter yang digunakan untuk menilai radikal atau tidaknya satu institusi pendidikan seperti pesantren,” kata Harits dalam pernyataannya kepada Jurnalislam pagi ini, Sabtu (6/2/2016).

Harits mengatakan, jangan hanya karena ada alumni dari pesantren tertentu yang tersangkut tindak pidana terorisme kemudian digeneralisir bahwa pesantren tersebut mengajarkan terorisme.

“Tentu ini logika yang cacat, membuat analogi general (qiyas sumuli) yang dasarnya lebih karena tendensi dan kecurigaan,” ujarnya.

Harits mempertanyakan, kenapa logika seperti itu tidak diterapkan BNPT pada kasus tindak pidana yang lain?

“Koruptor yang ketangkap kenapa tidak pernah dipersoalkan dari alumni mana dia kuliah, para pembegal, penipu, pemerkosa, para pejabat yang dzalim mengkhianati amanah rakyat kenapa tidak dipersoalkan dari mana mereka sekolah? Dan dipersoalkan institusi sekolahnya,” terangnya.

Pengamat kontra terorisme ini melihat, paradigma BNPT cacat dalam memetakan persoalan terkait radikalisme dan terorisme. “Paradigma yang tendensius, condong menempatkan umat Islam yang ideologis sebagai ancaman potensial bagi kehidupan sosial politik yang liberal dan sekuler,” tegasnya.

Harits menegaskan, jika tolak ukur dan tujuan BNPT tidak jelas dalam membuat kategorisasi soal radikal dan tidaknya sebuah pesantren, maka sejatinya BNPT sedang membuat daftar permusuhan terhadap umat Islam.

“Alih-alih menyelesaikan persoalan terorisme justru yang terjadi adalah menstimulasi kemarahan dan sikap radikal makin mengkristal dari sekelompok umat Islam yang merasa di dzalimi," pungkasnya.

Reporter: Findra | Editor: Ally | Jurnalislam

Dijaga Ketat Pasukan Zionis, Puluhan Ribu Jamaah terobos Hadiri Shalat Jumat di Al Aqsha

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Puluhan ribu warga Palestina masih memenuhi masjid Al-Aqsha hari Jumat (05/02/2016)  untuk menunaikan shalat Jumat walaupun pasukan Israel menerapkan prosedur masuk ketat, Infopalestina melaporkan, Jumat.

Sumber-sumber dari Al-Quds menyebutkan, puluhan unsur militer Israel dan pasukan penjaga perbatasan Israel menyebar di sekitar Al-Aqsha dan kota tua. Meski demikian sekitar 50 ribu warga Palestina tetap menunaikan shalat jumat di ruang utama dan halaman Al-Aqsha.

Khatib Masjid Al-Aqsha, Syekh Muhammad Husain menyebutkan dalam khutbahnya, penjajah Israel berkreasi dengan berbagai macam siksaan terhadap tawanan Palestina, isolasi, pemberian makan paksa yang bertentangan dengan undang-undang internasional dan HAM dan berbagai tindakan kekerasan lainnya.

Ia menyerukan agar Palestina merapatkan dan menyatukan barisan dan usaha untuk menggagalkan rencana penjajah Israel dan membebaskan tawanan Palestina dan mendukung para calon syuhada yang diburu.

Syeikh Husain menegaskan bahwa penyerbuan Yahudi ke masjid Al-Aqsha makin intens dan semakin berani menistakan tempat suci dengan tujuan yahudisasi.

Tepi Barat Masih Terus Bergejolak

Dari Tepi Barat dilaporkan, sejumlah pemuda Palestina terluka siang ini Jumat (5/2) setelah terjadi bentrokan di sejumlah tempat dengan pasukan Israel. di baldah Qabatiah, selatan Jenin dua pemuda terluka akibat tembakan Israel. beberapa warga lainnya di sana sesak nafas oleh tembakan gas air mata.

Bentrokan juga terjadi di Betlehem antara pasukan Israel dan pemuda Palestina di selatan Tepi Barat.

Sementara itu puluhan warga Palestina dan wargaasing mengalami sesak nafas akibat tersedak gas air mata pasukan Israel yang membubarkan unjuk rasa pekanan di Bilain yang menentang pemukiman yahudi dan tembok rasis, seperti tegas Komite Rakyat Anti Tembok di sana, Abdullah Abu Rahmah.

Pengunjuk rasa mengibarkan bendera Palestina dan mendesak tawanan Palestina yang mogok makan Muhammad al-Keq untuk dibebaskan.

Deddy | Infopalestina | Jurnalislam