Bisnis Properti di Jabar Masih Lesu

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Bisnis perumahan di Jabar saat ini pertumbuhannya masih melambat. Menurut Ketua Real Estat Indonesia (REI) Jabar Joko Suranto, pada kuartal pertama 2018, kinerja sektor perumahan di Jabar tercatat melambat yakni dari target Rp 13 triliun baru tercapai sekitar Rp 9 triliun.

Bahkan, menurut Joko, pihaknya mencatat terjadi anomali pada penjualan rumah bersubsidi (40 persen) dibawah hunian komersial (60 persen). Padahal biasanya, realisasi hunian komersial selalu di bawah rumah bersubsidi.

“REI meminta pemerintah tidak membuat kebijakan perumahan yang membingungkan pengusaha atau masyarakat yang mengakibatkan perlambatan sektor properti,” ujar Joko kepada wartawan di Bandung, usai acara Diskusi yang digelar REI Jabar, Kamis (19/7/2018).

Menurut Joko, melambatnya penjualan rumah di awal tahun juga tak lepas dari perubahan ketentuan yang tidak tersosialisasikan. Misalnya kewajiban mendaftar di Kementerian PUPR terhadap pengembangan yang menggunakan KPR. REI, sebenarnya mendukung ada perubahan ke arah lebih baik.

“Tapi jangan seketika dan mesti di sosialisasikan dulu. Karena bisnis tidak bisa langsung on off. Harus ada penyesuaian,” katanya.

Joko berharap, ke depan sektor properti di Jabar bisa kembali tumbuh. Ia berharap ada perbaikan daya beli masyarakat. Selain itu, hal yang berkaitan high cost ekonomi juga harus dipangkas. Agar ada kebijakan yang berpihak ke masyarakat.

Sementara menurut Kepala Kantor Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jabar Sarwono, kebijakan DP 0 persen untuk rumah pertama cukup bagus. Karena akan mendorong kepemilikan rumah bagi masyarakat.

Saat ini, kata dia, rumah paling banyak mendapat pendanaan perbankan adalah tipe 22 dan 70. Paling besar permintaannya ada di daerah Karawang. Sementara perbankan yang paling banyak menyalurkan KPR adalah BTN sebesar Rp 50 triliun dari total penyaluran KPR Rp 91 triliun.

“Kami berharap bank lain bisa meningkatkan kinerja KPR, tetapi tetap harus hati-hati. Karena kalau tidak didukung manajemen risiko yang baik akan berbahaya,” katanya.

 

Makin Terpuruk, Rupiah Meluncur ke 14.420 Per Dollar AS

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Lagi-lagi rupiah makin terpuruk. Dipengaruhi faktor eksternal, mata Uang Garuda tak mampu menahan penguatan dollar Amerika Serikat (AS) hari ini, Kamis (19/7/2018).

Kurs rupiah antarbank yang tercatat di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) melemah ke Rp 14.418 per dollar AS. Sementara kemarin, pasangan dollar/rupiah sudah bertengger di 14.406 lansir Kontan.co.id.

Di pasar spot, rupiah merosot ke Rp 14.420 per dollar AS. Ini merupakan level terlemah rupiah sejak Juli 2015.

Dollar AS hari stabil di level yang cukup kuat. Dollar Index di pasar spot tercatat di level 95,05, berbanding kemarin 95,08. The Greenback makin bertenaga setelah Chairman Federal Reserve Jerome Powell kemarin mengumumkan masih berencana menaikkan bunga AS secara bertahap.

Rupiah juga masih bakal terdepresiasi, tertular kurs yuan, akibat isu perang dagang antara AS dan China. “Naiknya imbal hasi US treasury pasca pernyataan Powell kemungkinan turut mendorong pelemahan rupiah lebih lanjut,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Ahmad Mikail dalam riset hari ini.

Dia memprediksi, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.400 -Rp 14.470 per dollar AS pada perdagangan hari ini.

Indef Kritisi Pemerintah Soal Standar Garis Kemiskinan

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Data terbaru dari Badan Pusat Statistik(BPS) melaporkan bila garis kemiskinan di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 3,63% dari sebelumnya Rp. 387.160 per kapita di bulan September 2017 menjadi Rp. 401.220 per kapita pada bulan Maret 2018.

Data tersebut menunjukkan bila masyarakat Indonesia yang memiliki pendapatan di atas batas garis kemiskinan per Maret 2018, membuat mereka tidak tergolong sebagai orang miskin.

Kenaikan angka garis kemiskinan ini, sebut BPS disebabkan oleh pengaruh harga dan perubahan pada komposisi komoditas yang dikonsumsi.

Standar BPS dalam menilai garis kemiskinan ini yang dikritisi oleh Pengamat Ekonomi Indef, Enny Sri Hartati.

“Pertanyannya, ukuran BPS tersebut apakah cukup untuk memenuhi 2000 kalori per hari jika harga telur saja Rp.30.000/kg dan harga beras Rp. 12.000/kg. Tidak usah pakai indikator internasional yang US$ 2, pakai yang 2000 kalori/hari bagaimana?” terangnya saat ditemui usai diskusi publik di Jakarta, pada Rabu (18/7/2018).

Lebih lanjut, Enny juga menyoroti angka konsumsi rumah tangga yang merupakan salah satu indikator dalam efektivitas program pengentasan kemiskinan.

“Kalau jumlah orang miskin tidak bertambah mestinya daya beli masyarakat meningkat. Tapi pertumbuhan konsumsi rumah tangga kita justru menurun,” kata Enny.

Untuk diketahui, berdasarkan rilis BPS, konsumsi rumah tangga sepanjang kuartal I 2018 tercatat tumbuh sebesar 4,95 persen(yoy). Angka tersebut naik tipis dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I 2017 yang sebesar 4,94 persen.

Sementara, data pertumbuhan komponen itu sepanjang 2017 adalah 4,94 persen (kuartal I 2017), 4,95 persen (kuartal II 2017), 4,93 persen (kuartal III 2017), dan 4,97 persen (kuartal IV 2017).

Angka tersebut memang cenderung stagnan, padahal konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto sebesar 56,8 dari total perekonomian negara.

Hal lain yang Enny kemukakan adalah besarnya alokasi dana yang digelontorkan oleh pemerintah belum signifikan mengentaskan kemiskinan di masyarakat.

Sebagai contoh di tahun 2017, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp. 228,2 trilyun dengan jumlah penduduk miskin mencapai 27,77 juta orang.

Capaian tersebut memang meningkat dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di tahun 2016 yang sekitar 28 juta orang. Tetapi menurut Enny ada beberapa catatan.

“Dana yang dianggarkan di atas Rp. 100 trilyun dan hanya mampu mengurangi jumlah penduduk miskin sebanyak 1 juta, menurut saya very costly. Bandingkan dengan lembaga filantropis yang dananya hanya puluhan milyar tetapi dana bergulirnya sudah ribuan,” kata dia.

sumber: gatra.com

 

Tokoh Islam Jadi Cawapres Disebut Strategi Jokowi Karena Jauh dari Umat

SOLO (Jurnalislam.com) – Aktifis Muda Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya ikut berkomentar atas isu munculnya nama ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kyai Ma’ruf Amin yang disebut bakal jadi Cawapres Presiden Jokowi.

Menurut Mustofa, Kyai Ma’ruf Amin akan digunakan untuk meraih simpati suara umat Islam.

“Ada saatnya umat Islam itu di Bully sebagai umat Islam yang bermasalah tapi ada kalanya dipuji karena dibutuhkan sebagai pemecah masalah. Maka saat ini kemungkinan diusulkan nama itu sebagai pemecah masalah, karena sedang dibutuhkan oleh calon presiden tertentu, yang sedang butuh suara umat Islam,” katanya kepada Jurnalislam.com di Masjid Baitul Makmur, Solo Baru, Ahad, (15/7/2018).

“Maka ketika pak Ma’ruf Amin dianggap sebagai representasi umat Islam, karena ketua MUI dianggap orang dan pihak yang pas sebagai Cawapres, kenapa, karena mungkin calon Presiden tersebut sedang bermasalah dengan umat Islam,” imbuhnya.

Menurut Mustofa, presiden Jokowi ingin meniru keberhasilan pasangan Ganjar-Yasin di Jawa Tengah, namun Mustofa tidak yakin keberhasilan di Jawa Tengah bisa ditiru di Jakarta.

“Dalam rangka ‘Menaklukan dan menggalang suara umat Islam’ dan itu sukses di Jawa Tengah meskipun suaranya juga tidak terlalu besar, hanya ada perbedaan berapa persen dengan pak Sudirman Said, oleh karena itu belum tentu pola di Jawa Tengah ini bisa ditiru di Jakarta,” ujarnya.

“Karena bagaimanapun yang disebut ketua MUI itu tidak rekapabilitas keahlian tertentu untuk jadi Cawapres yang diperlukan bangsa ini bukan doa, bukan ngaji dan hanya pintar baca Al-Quran tapi juga punya keahlian,” tandas Mustofa.

Mustofa Nahra : Ma’ruf Amin Bukan Sosok Tepat Dampingi Jokowi

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya menilai Kyai Ma’ruf Amin bukan pilihan tepat untuk jadi cawapres Jokowi. Sebab, kata Mustofa, Kyai Ma’ruf Amin bukan sosok yang mengerti akan dunia politik di Indonesia.

“Sekarang kalau calon presidennya tidak mampu bekerja ditambah cawapres yang tidak mampu juga dan tidak punya keahlian memenej negara, bagaimana jadinya bangsa ini ketika menjadi dua-duanya ini, oleh karena itu harus ada paduan,” katanya kepada Jurnalislam.com di Solo Baru, Ahad, (15/7/2018).

Selain itu, Mustofa menyebut Presiden Jokowi bukanlah sosok pemimpin yang mampu untuk mengurus sebuah negara. Untuk itu seharusnya presiden Jokowi memilih cawapres yang lebih bisa mengurus sebuah negara.

“Kalau capresnya tidak mampu, cawapresnya harus mampu. Kalau capresnya mampu, cawapresnya boleh. Kalau dia mau memilih ulama, ganteng, kaya, boleh. Tapi salah satu harus jadi leader penguasa, dia memiliki keahlian skill yang memang cocok untuk jadi calon pemimpin negara,” ujarnya.

Jika Jokowi memilih pasangan cawapres yang sembarangan, kata Mustofa, maka negara Indonesia akan berantakan. Sebab, kepemimpinan Jokowi selama ini dianggap tidak berhasil dan banyak memberikan kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

“Kelemahannya adalah capres yang mau menggaet pak Ma’ruf Amin kemungkinan kita sudah tau jejak rekamnya,” paparnya.

“Sedangkan namanya sudah tau jejak rekamnya, kalau itu jelek berarti kita meragukannya. Siapun diangkat karena jejaknya meragukan, maka saya juga meragukan untuk jadi pemimpin yang baik,” tandasnya.

Pedagang di Pasar Bantah Harga Telur Naik Karena Piala Dunia

SOLO (Jurnalislam.com) – Melambungnya harga telur ayam masih dirasakan para pedagang di Pasar Tradisional Bekonang, Sukoharjo. Dalam beberapa hari terakhir, harga telur ayam mengalami kenaikan cukup tinggi hingga 24.000- 29.000 rupiah per kilogram yang biasanya dikisaran harga 16.000 sampai 18.000 rupiah per kilogram.

Ema Bumbu, salah satu pedagang yang berjualan beberapa tahun di pasar Bekonang tersebut juga tidak setuju dengan pernyataan Menteri Perdagangan, Enggartriasto Lukita yang menyebut sebab naik telur akibat adanya piala dunia. Menurut Ema, sulitnya ketersediaan pakanlah yang membuat harga telur ayam tak terbendung.

“Barang disini sudah 24.500 per kilogram dari sana (peternak-red), tapi ada juga yang 24.300 per kilogram tergantung agennya itu, karena dari sananya (peternak-red) pakannya sulit, jadi harga telurnya naik,” katanya saat ditemui Jurnalislam.com, Rabu (18/7/2018).

Lebih lanjut Ema mengaku harga telur saat ini termasuk yang paling tinggi yang dirasakannya, bahkan, ia menyebut harga telur sudah imbang dengan harga ayam.

“Kalau harga disini harga 25.000 per kilogram itu sudah mahal mas, karena biasanya rata rata telur itu kan cuman 16.000-18.000 per kilogram itu kan dah sesuai kantong, tapi kalau harga segitui sudah mahal banget, jadi harga telur dan ayam itu sudah imbang,” ungkap Ema.

Sementara itu, Sarmini salah satu ibu rumah tangga di Sukoharjo memilih menganti kebutuhan telur dengan bahan pangan lainnya, sebab, tingginya harga telur membuatnya kebingungan untuk membagi uang belanjanya.

“Kita nggak pakai telur dulu mas, diganti dengan tempe atau Ikan Pindang karena harganya lebih murah, jadi harus pinter-pinter ngatur uang belanja agar nggak jebol kantongnya,” ungkapnya

BNI Syariah Luncurkan Hasanah Digital Universe

JAKARTA (Jurnalislam.com) – BNI Syariah meluncurkan digitalisasi perbankan yang bernama Hasanah Digiverse (Hasanah Digital Universe) di milad kedelapan. BNI Syariah merayakan puncak milad yang kedelapan dengan tema The Future Transformation, (13/7/2018).

Angka 8 berasal dari titik, garis tak terputus dan memiliki makna kontinuitas. Di milad kedelapan ini, BNI Syariah berharap dapat memberikan kemanfaatan yang tak terhingga sehingga keberadaan BNI Syariah dapat memberikan seluas-luasnya manfaat bagi stakeholders.

BNI Syariah melaksanakan rangkaian kegiatan Milad yang diikuti oleh seluruh karyawan BNI Syariah dan melibatkan nasabah dan stakeholders BNI Syariah yaitu Deureuham, Benteng Hasanah di Batas Negeri, Hadiah Hasanah, Kisah Cinta Hasanah, Aksi Seni Hasanah, Liga Hasanah dan Itikaf Hasanah.

Dengan Hasanah Digiverse, BNI Syariah berupaya memberikan kemudahan kepada masyarakat dengan mengembangkan inovasi melalui edukasi dan inklusi keuangan syariah serta aktivasi penggunaan e-banking serta produk berbasis digital diantaranya Yap (Your All Payment), Tapcash, VCN (Virtual Card Number), Mobile Banking, Wakaf Hasanah, Hasanah Personal dan Hasanah Lifestyle. Dengan adanya kemudahan aplikasi digital ini, BNI Syariah berupaya mendukung program pemerintah terkait Gerakan Non Tunai / cashless dengan harapan 2,6 juta nasabah dapat menggunakan aplikasi digital BNI Syariah.

BNI Syariah juga berkomitmen meningkatkan kewirausahaan dan kemandirian bekerjasama dengan BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) melalui program Deureuham (Derap Ekrepreneur Hasanah Mulia). Program Deureuham adalah kerja sama BNI Syariah dengan BEKRAF yang bertujuan mencetak para startup muda sebagai generasi milenial yang dapat menjadi motor penggerak bisnis ekonomi syariah di Indonesia.

Dari total 50 peserta, terpilih tiga pemenang dari masing-masing kategori umum. Untuk katagori umum, peringkat satu diperoleh Aang Permana – Sipetek Crispy. Peringkat dua diperoleh Elsana Bekti Nugroho – Arane. Peringkat tiga diperoleh Riswah Yuni – Cake Salakilo. Untuk katagori teknologi, peringkat satu diraih oleh Tri Wahyudi – Muslim Life. Peringkat dua diraih oleh Putri Yuliastutik – Kosttoom. Peringkat tiga diraih oleh Muhammad Senoyodha Brennaf – Halal Lokal. Para pemenang nantinya akan berpeluang mendapatkan pembiayaan modal usaha hingga sebesar Rp 10 Miliar.

Acara puncak milad dihadiri Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, Direktur Bisnis Ritel BNI, Tambok P.S. Simanjuntak, jajaran Komisaris dan Direksi BNI Syariah serta karyawan di seluruh Jabodetabek di The Kasablanka, Kota Kasablanka, Jakarta.

 

Umat Islam Diimbau Pilih Calon Bukan dari Partai Penista Agama

SOLO (Jurnalislam.com) – Tokoh Gerakan #2019GantiPresiden Mustofa Nahrawardaya meminta umat Islam untuk tidak salah memilih pemimpin di tahun politik kedepan. Menurutnya, selama ini umat Islam hanya dimanfaatkan oleh segelintir elit politik untuk meraih kekuasaannya.

“Umat islam harus pintar dalam memilih pemimpin jangan sampai terjebak, dan tertipu untuk kedua kalinya, jangan hanya lihat casing-casingnya,” katanya kepada Jurnalislam.com di Masjid Baitul Makmur Solo Baru, Ahad, (15/7/2018).

Adanya sejumlah tokoh publik yang dianggap mewakili umat dan kini menyebrang ke partai pendukung penista Islam, dinilai Mustofa juga akan membuat umat bingung dalam menentukan pilihan.

Namun, tokoh muda Muhammadiyah ini memberikan tips kepada rakyat Indonesia, agar dapat memilih pemimpin yang Sidiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh sesuai harapan mayoritas umat Islam.

“Pilih yang pertama pasti muslim, yang kedua kalau kedua duanya muslim maka pilihlah yang peduli dengan Islam, kalau kedua duanya muslim dan peduli dengan Islam, sama sama persis, pilihlah yang didukung parpol yang tidak menista Islam. Itu filter yang ketiga,” ungkapnya.

“Jadi sudah sampai parpol ini akan ketahuan, sama sama baiknya, maka jangan pilih dari parpol yang mendukung penista Islam ini kuncinya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Mustofa menyebut akan ada partai penista agama yang akan mengacaukan koalisi yang telah dibangun oleh umat Islam, tujuannya katanya, untuk membuat ragu umat Islam terhadap partai partai yang selama ini dikenal membela kepentingan umat Islam.

“Apa mungkin partai penista Islam ini berpencar ? yang separo menista mendukung A yang lainnya mendukung B, maka pilihlah pasangan yang pernah dijagokan atau diusung oleh parpol selain penista islam,” paparnya.

“Kan ada pertama misalnya ada PAN, PKS dan Gerindra yang dikenal tidak menista, akan ada sebagian yang menista ikut nimbrung disitu untuk mengacukan atau mengaburkan pemilih, maka pilihlah yang sudah pertama kali sudah dipilih partai partai yang bersih dalam hal ini berkaitan denga penista islam,” sambung Mustofa.

Langkah-langkah tersebut, dianggap Mustofa salah satu cara yang efektif untuk mendapatkan pemimpin masa depan sesuai harapan umat Islam.

“Filter-filter ini akan menjadi langkah langkah positif umat Islam untuk menemukan pemimpin masa depan dalam rangka mengamankan aset dan kepentingan umat Islam. Itu yang perlu,” tandas pria kelahiran Klaten tersebut.

Soal Jokowi, Mustofa Nahra : 5 Tahun Tidak Menghasilkan Apa – apa

SOLO (Jurnalislam.com) – Dalam pemilihan presiden kedepan, tokoh muda Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya mengimbau rakyat Indonesia untuk tidak lagi memilih Jokowi.

Sebab, kepemimpinan mantan wali kota tersebut dianggap gagal dan banyak mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

“Untuk saat ini memilih pemimpin yang betul-betul baru yang kita belum tau jejak rekamnya, daripada yang sudah tapi kemudian nggak bisa,” katanya saat ditemui Jurnalislam.com di Solo Baru, Ahad, (15/7/2018).

“Kan sudah mau 5 tahun, tapi tidak bisa apa apa kemudian mau dipilih lagi, itu nggak akan bisa juga. Karena itu main-main di 5 tahun pertama tidak menghasilkan apa apa yang terasa bagi rakyat,” imbuhnya.

Mustofa yang juga menjadi salah satu tokoh gerakan #2019GantiPresiden itu, mencontohkan pemimpin yang cerdas itu seperti Anies Baswedan, Gubenur Jakarta tersebut dianggap Mustofa telah berhasil memenuhi janji-janjinya di tahun pertama kepemimpinannya.

“Berbeda dengan misalkan Gubenur DKI baru 1 tahun dari 5 tahun yang dijalani, tapi catatan di tahun pertama sudah dilakukan semuanya, jadi sangat layak. Contoh DKI itu dijadikan Presiden, jangan nunggu 5 tahun untuk bekerja, tapi satu tahun pertama, dua tahun pertama sudah menyelesaikan janji janjinya,” tambah Mustofa.

Presiden Jokowi, kata Mustofa, tidak dapat memenuhi janji-janjinya saat kampanye.

“Mohon maaf presiden kita ini kan sudah hampir 5 tahun tapi janji janjinya yang pertama yang utama belum pernah kita dengar, banyak sekali yang disebut sepuluh sampai 20 janji sampai hari ini belum tersampaikan dan tertunaikan,” tandasnya.

SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta Luncurkan 25 Program Ekstrakurikuler

SOLO (Jurnalislam.com) – Sekolah Pendidikan Karakter Berbasis TIK SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta yang beralamat di jalan Kartini no 1 Ketelan menggelar acara launching 25 program ekstrakulikuler pada selasa, (17/7/2018).

Kepala SDM 1 Ketelan Sri Sayekti, S.Pd., M.Pd mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk mengembangkan pendidikan dan pengasuhan di sekolah. Hal itu, kata dia, di lakukan dalam rangka untuk menjadikan peserta didik yang berkarakter, berkemajuan dan berkepribadian Islam.

Di antaranya, kata dia, dengan membentuk dan mengembangkan program ekstrakurikuler. “Banyak hal yang kami harapkan melalui kegiatan ekstrakurikuler ini. Salah satunya, sebagai wahana pembinaan bakat, memantapkan melalui proses dan lebih mengaitkan antara bidang ketrampilan dengan pengetahuan yang diperoleh dalam program kurikulum satu atap dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan berbasis keimanan, ketaqwaan, keislaman yang berkemajuan dan berkeadaban,” katanya dalam pesan siar yang diterima jurnalislam.com Selasa, (17/7/2018).

Tahun Ajaran 2018-2019 ini pun, juga telah disusun buku kegiatan Ekstrakurikuler yang berisi tata tertib, jurnal kegiatan, jadwal pengampu, absensi kegiatan, dan raport. Jenis Ekstra antara lain: Olympiade Matematika, Olympiade MAPSI (PAI,cerdas cermat, cerita islami, MTQ, kaligrafi, khitobah, azan, tilawah, macapat, komputer, dll),

Selain itu masih ada Olympiade bahasa Inggris, IPA, Hizbul Wathan, Rebana, Musik dan Vokal, Karawitan dan Pedalangan, Tari, Drum Band, Takraw, Voly Mini, Bulu Tangkis, Futsal, Tenis Lapangan, Panahan, Jurnalistik Cilik, Tapak Suci, Dokcil UKS, Kewirausahaan, membatik, robotik, menggambar dan lukis.

Saat berlangsung Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) siswa baru kelas 1 sebanyak 141 diajak halal bihalal dan touring serta disambut dengan meriah, antusias dan semangat. Guru Kelas 1 Ki Agung Sudarwanto, S.Sn., M.Sn mengatakan, MPLS dibuka dengan sesuatu yang baru, berbeda dan inspiratif.

“Di awali halalbihalal, Siapa yang suka muhi tepuk tangan, siapa yang suka muhi hentak bumi, druuukkk.. drukkk,.. drukkk … Kami membuat sesuatu yang baru. Bersenandung bersama balonku ada lima yang dibawakan Wiyatno, S.Pd, Pak Yuli yang selalu mengawal lagu-lagu kehidupan, semangat. Tujuannya agar siswa tidak merasa takut saat hari pertama mereka masuk sekolah dan memberikan semangat baru pada mereka,” katanya.

Humas SDM 1 Ketelan Jatmiko menambahkan, kegiatan dan MPLS serta pembiasaan ibadah yang dimonitoring dalam buku al Islam Kemuhammadiyahan agar siswa baru terbiasa dan betah di sekolah.

“Tugas kita semua untuk menjamin setiap anak zaman now tumbuh dan berkembang secara baik terarah dan terukur. Ciptakan interaksi positif untuk mengarahkan mereka mengenal teman, nama guru, kepala sekolah, di mana ruang kelas, tempat sandal, membedakan toilet putra dan putri, juga mengenal nama, alamat, saudara dan keluarga serta nomor yang bisa dihubungi,”tandasnya.