Tokoh Islam Jadi Cawapres Disebut Strategi Jokowi Karena Jauh dari Umat

Tokoh Islam Jadi Cawapres Disebut Strategi Jokowi Karena Jauh dari Umat

SOLO (Jurnalislam.com) – Aktifis Muda Muhammadiyah Mustofa Nahrawardaya ikut berkomentar atas isu munculnya nama ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kyai Ma’ruf Amin yang disebut bakal jadi Cawapres Presiden Jokowi.

Menurut Mustofa, Kyai Ma’ruf Amin akan digunakan untuk meraih simpati suara umat Islam.

“Ada saatnya umat Islam itu di Bully sebagai umat Islam yang bermasalah tapi ada kalanya dipuji karena dibutuhkan sebagai pemecah masalah. Maka saat ini kemungkinan diusulkan nama itu sebagai pemecah masalah, karena sedang dibutuhkan oleh calon presiden tertentu, yang sedang butuh suara umat Islam,” katanya kepada Jurnalislam.com di Masjid Baitul Makmur, Solo Baru, Ahad, (15/7/2018).

“Maka ketika pak Ma’ruf Amin dianggap sebagai representasi umat Islam, karena ketua MUI dianggap orang dan pihak yang pas sebagai Cawapres, kenapa, karena mungkin calon Presiden tersebut sedang bermasalah dengan umat Islam,” imbuhnya.

Menurut Mustofa, presiden Jokowi ingin meniru keberhasilan pasangan Ganjar-Yasin di Jawa Tengah, namun Mustofa tidak yakin keberhasilan di Jawa Tengah bisa ditiru di Jakarta.

“Dalam rangka ‘Menaklukan dan menggalang suara umat Islam’ dan itu sukses di Jawa Tengah meskipun suaranya juga tidak terlalu besar, hanya ada perbedaan berapa persen dengan pak Sudirman Said, oleh karena itu belum tentu pola di Jawa Tengah ini bisa ditiru di Jakarta,” ujarnya.

“Karena bagaimanapun yang disebut ketua MUI itu tidak rekapabilitas keahlian tertentu untuk jadi Cawapres yang diperlukan bangsa ini bukan doa, bukan ngaji dan hanya pintar baca Al-Quran tapi juga punya keahlian,” tandas Mustofa.

Bagikan
Close X