Presiden Jokowi Undang 12 Calon Wakil Menteri ke Istana

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil 12 calon wakil menteri ke Istana Presiden, Jakarta, Jumat (25/10) pagi ini. Mereka tampak tiba sejak pukul 08:45 WIB hingga 09:18 WIB dengan mengenakan kemeja putih.

Tokoh pertama yang hadir yakni Dirut Inalum Budi Gunadi Sadikin, diikuti oleh mantan Bendahara Umum TKN Sakti Wahyu Trenggono, politikus PPP Zainut Tauhid, politisi Perindo Angela Tanoesoedibjo, politisi PSI Surya Chandra, dan mantan Bupati Jayawijaya Wempi Wetimpo.

Kemudian ada pula Dirut Mandiri Kartiko Wiryoatmojo, Dubes AS Mahendra Siregar, pejabat Badan Restorasi Gambut Alue Dohong, Ketua Umum Relawan Projo Budi Arie Setiadi, politikus Golkar Jerry Sambuaga, serta Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sendiri menyatakan akan melantik sejumlah wakil menteri.

Nama-nama calon wamen pun telah difinalisasi pasa Kamis (24/10) malam. Jokowi menyebut sebagian wakil menteri berasal dari profesional di bidangnya, namun ada juga yang berasal dari partai politik.

“Mengenai Wamen jadi sebetulnya sudah selesai (disusun). Wamen itu sudah selesai. Ada dari partai ada juga dari profesional,” kata Jokowi

Jokowi belum mau mengungkap kementerian apa saja yang akan mendapat wamen dan berapa jumlahnya.

Namun Jokowi menyebut bisa saja ada kementrian yang mendapat jatah lebih dari satu wamen.

Jokowi berharap kehadiran wamen ini betul-betul membantu menterinya. Pelantikan wakil menteri diagendakan digelar pada Jumat siang nanti di Istana Negara.

Sumber: republika.co.id

Datangi Istana, Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Diprediksi Jadi Wakil Menteri Agama

JAKARTA (Jurnalislam.com) — Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil sejumlah nama calon wakil menteri di Istana Presiden, Jakarta, Jumat (25/10).

Setelah kehadiran Budi Gunadi Sadikin dan dan Wahyu Sakti Trenggono, Zainut Tauhid pun turut merapat.

Zainut Tauhid merupakan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Wakil Ketua Umum MUI.

Namanya juga santer diisukan menempati posisi Wamenag.

Berdasarkan pantauan, ia hadir sekitar pukul 09:00 WIB mengenakan kemeja putih.

Namun, ia enggan memberikan keterangan tujuan kehadirannya ke Istana Presiden.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sendiri menyatakan akan melantik sejumlah wakil menteri. Nama-nama calon wamen pun telah difinalisasi pasa Kamis (24/10) malam.

Pelantikan wakil menteri rencananya akan digelar pada Jumat siang nanti. Jokowi berharap, para wakil menteri dapat membantu kinerja para menterinya.

Sumber:republika.co.id

Mengatasi Dampak Negatif Gadget bagi Generasi Z

Oleh: Gesang Ginanjar Raharjo*

(Jurnalislam.com)–Seiring perkembangan zaman, gadget bukanlah benda mahal bagi para orang tua. Dengan uang dibawah dua juta rupiah saja mereka sudah bisa membelikan sebuah gadget untuk anak mereka. Banyaknya aplikasi dan game yang mudah diunduh juga menjadikan orangtua menyerahkan urusan hiburan bagi anak mereka kepada gadget.

Saat ini anak-anak kita telah memasuki masa ‘Generasi Z’, mereka yang terlahir tahun 1995-2000-an ke atas, dimana semuanya serba digital dan akses internet sangat mudah dijangkau. Disekitar kitapun banyak orang tua yang dengan mudah memberikan gadget kepada anak-anak dengan alasan supaya mereka tidak ‘gaptek’ dan ‘tenang’ saat bermain.

Akibatnya, anak sering merengek untuk memainkan gadget dalam waktu lama. Tentu sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk bagi perkembangan anak.

Dampak internet telah merubah perilaku generasi Z menjadi suka akan sesuatu yang instan dan viral. Informasi, gaya hidup atau sesuatu yang sedang trending-pun mereka ikuti bahkan menjadi panutan, tak peduli apakah hal itu berdampak positif atau negative bagi mereka, jika orangtua tidak pandai menyaringnya.

Sebagai orang tua, seharusnya juga harus lebih bijak dalam penggunaan gadget. Banyak para orang tua yang baru melek tekhnologi lebih asyik bermain game online, Instagram, Tik-Tok, Facebook, Whatsapp dan aplikasi lainnya sehingga anak mereka merasa diacuhkan dan akhirnya melampiaskan kejenuhannya lewat gadget.

Aplikasi chatting juga menjadikan perilaku generasi Z terkadang kurang berkomunikasi secara langsung (verbal). Mereka lebih suka berbicara lewat medsos yang mengakibatkan intensitas pertemuan fisik berkurang bahkan parahnya mereka bisa ketergantungan kepada gadget.

Akibat terbiasa chatting di media sosial maka timbul rasa kaku dan nerveous ketika bertemu satu sama lain. yang akhirnya mereka kembali tenggelam dalam dunia maya dan tak memperdulikan lagi sekitarnya. Mereka tak lagi saling menyapa dan lebih asyik berselancar di dunia maya.

Gadget juga berdampak menjadikan kehidupan mereka mejadi hedonis, individualis, dan terpapar pornografi, dimana anak-anak dengan mudah mengakses situs-situs terlarang yang akhirnya terjerumus kedalam perilaku freesex dengan alasan materi, ingin membeli pakaian model terbaru atau hp terbaru.

Banyak sudah kasus-kasus pemerkosaan anak dibawah umur dengan iming-iming sejumlah uang, mereka berkenalan lewat jejaring medsos (media sosial), lalu ketemuan yang akhirnya anak-anak kita dibujuk untuk melampiaskan hawa nafsu predator anak tersebut. Dan akhirnya tidak sedikit korban tersebut kemudian dibunuh. Na’udzubillah.

Kasus-kasus

Seperti berita pada akhir September lalu di Sukabumi, dimana ada kakak beradik RG (16) dan RS (14) tahun melakukan hubungan intim (inses) dengan ibu kandung serta memperkosa adik angkatnya NP yang masih berusia 5 tahun. Ketika ditanya kenapa mereka melakukan hal tersebut, mereka menjawab karena kecanduan video porno yang diperoleh melalui sebuah aplikasi sosial media lewat HP-nya.  (tribunnewsbogor.com)

Kasus lain yang terjadi di Cikarang yang dikabarkan oleh rmol.id (18/10/19) dimana dua remaja, NV (17) dan Ty (17) mereka menjalani rehabilitas di yayasan gangguan jiwa karena akibat ketergantungan yang akut terhadap gadget.

Kedua remaja ini sudah sangat berlebihan menggunakan ponsel. Bahkan, mereka mengoprasikan gawai dari sejak bangun tidur hingga malam. Akibat ketergantungan terhadap ponsel ini akhirnya mereka sering bolos sekolah, menjadikan mereka cepat emosional bahkan melawan kedua orangtuanya.

Begitu miris melihat kedua contoh fakta diatas, generasi yang seharusnya menjadi harapan agama dan bangsa malah menjadi korban keganasan gadget.

Mungkin masih banyak kasus-kasus serupa diluar sana dan tentu yang menjadi korban adalah generasi penerus bangsa bila kita tak mengawasi mereka sejak dini dalam penggunaan gadget.

Kekhawatiran sebagai orangtua adalah ketika anak mereka suka menyendiri di kamar dan memainkan smartphone mereka. Karena bisa jadi disitulah berbagai kemungkinan mereka berinteraksi dengan “evil of the world” di jagat internet (mulai dari gaya hidup hedonis, cyber bullying, gambar dan video porno, hingga predator pedofili) bisa terjadi. Pengasuhan orangtuapun bisa diambil alih oleh gadget, karena mereka lebih terhibur dengan game online maupun aplikasi smartphone lainnya.

Kerenggangan antar keluarga atau disebut Big Disconnection juga bisa dipicu dari seringnya sebuah keluarga dalam penggunaan gadget.  Dalam bukunya, The Big Disconnect: Protecting Childhood and Family Relationship in the Digital Age (2013), Catherine Steiner-Adair mewaspadai terjadinya “tragedi keluarga” terbesar abad ini, yaitu apa yang ia sebut “big disconnection”.

Tragedi ini sudah bisa lihat di sebagian besar keluarga di sekitar kita, bila ditanya setiap anggota mulai dari anak hingga orangtua pasti memiliki gadget, dan mereka lebih sering meggunakan gadget saat berada diacara keluarga, seperti saat sarapan, berkumpul arisan maupun acara inti keluarga.

Mereka lebih senang senyum-senyum sendiri membaca status Facebook maupun membaca gosipan di grup WA. Sedangkan si anak, mereka lebih fokus kepada game online dan permainan sejenisnya, akhirnya acara keluarga yang diharapkan menyenangkan menjadi hambar.

Inilah yang oleh Steiner-Adair disebut big disconnection, tragedi keluarga terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Dan barangkali disconnection inilah yang memunculkan fenomena seperti kasus inses dan kecanduan gadget di atas. Karena itu setiap orang tua harus lebih kritis dalam menyikapi setiap aktivitas online anak mereka.

Pisau Bermata Dua

Gadget seperti pisau bermata dua, manfaatnya sangat banyak, sekaligus resiko berbahaya jika digunakan secara kurang bijaksana. Peneliti Joan Ganz Cooney Center, USA misalnya menemukan bahwa anak-anak berusia 5 tahun yang menggunakan aplikasi edukasi Ipad mengalami peningkatan kosa kata sekitar 27%, sedangkan pada anak-anak usia 3 tahun kosa katanya meningkat sebanyak 17%.

Gadget membuat mereka lebih mudah mengenal nama-nama binatang dan juga cepat mengenal huruf serta menjadikan mereka memiliki kosa kata lebih banyak.

Sedangkan negatifnya, disadari atau tidak kalau sudah memegang hp atau gadget anak-anak seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.

Mereka jadi lupa makan, malas mandi, dan tak mau keuar rumah untuk bermain dengan teman-temannya. Beberapa sumber menyatakan, ketagihan internet memang sering membuat anak kurang beraktivitas secara fisik. Hal ini membuat anak lebih rentan terhadap obesitas dan resiko penyakit.

Shinta Laksmi, pakar media dalam presentasinya yang berjudul “Peran Perempuan Mengatasi Dampak Mobile Internet pada Anak” mengungkapkan, anak-anak remaja yang aktif menggunakan mobile internet beresiko terhadap perkenalan dengan orang asing, pornografi, bahkan menjadi korban perdagangan anak.

Sumber lain menyebutkan, anak-anak rentan mengalami bullying dan trauma. Yang memperihatinkan, anak-anak Indonesia ternyata ‘terlanjur’ bersentuhan dengan konten negatif dari internet.

Efek Negatif

Berdasarkan laporan Norton Online Family Report 2010, terungkap bahwa hampir semua (96 persen) anak-anak Indonesia mengalami hal negatif saat online di dunia maya.

Dalam survey tersebut menjelaskan, sebanyak 55 persen anak-anak yang disurvei telah menyaksikan gambar-gambar kekerasan dan pornografi. Sejumlah 35 persen lainnya mengaku dihubungi orang yang tidak dikenal, dan 28 persen dari mereka pernah menanggapi penipuan.

Survey yang dilakukan terhadap anak-anak berusia 10 hingga 17 tahun di beberapa kota di Indonesia tersebut juga mengungkap temuan mengejutkan. Yakni, sebanyak 36 persen anak-anak Indonesia melakukan online tanpa sepengetahuan orangtua mereka.

Sebagai orangtua berkesempatan besar dalam mencegah serta menekan resiko efek negative internet, kita harus memperkenalkan gadget sesuai kebutuhan.

The American Academy of Pediatrics menyarankan agar orangtua menunda pengenalan gadget hingga anak berusia minimal 2 tahun. Kemudian kita kenalkan gadget dengan aplikasi yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan mereka.

Kita bisa mengenalkan internet kepada anak-anak dari hal positif terlebih dahulu, kita jelaskan bahwa didalam internet kita bisa melihat gambar-gambar hewan, tumbuhan, maupun informasi yang dibutuhkan oleh mereka, seperti ilmu pengetahuan tentang geografi, fisika, matematika dan seterusnya.

Mereka juga perlu tahu bahwa dunia maya itu juga memiliki sisi negatif, mereka harus dibekali dengan pentingnya menyimpan dan melindungi data pribadi. Jangan sampai mereka memberikan informasi seperti password, alamat rumah, usia dan nomor telepon di internet.

Pastikan juga mereka tidak memposting sesuatu yang menginformasikan lokasi mereka berada atau gambar-gambar kondisi dimana ia berada ke media social.

Membatasi waktu bermain gadget juga harus dilakukan agar mereka tidak keseringan dan ketergantungan terhadap gadget. Misalnya 2 jam perhari atau harus ijin terlebih dahulu ketika akan berselancar didunia maya.

Kita juga harus tahu tujuan mereka mengakses internet dan lebih aman jika mereka menggunakan komputer yang diletakkan di ruang keluarga sehingga kita bisa mengawasi dan membimbing mereka.

Aktifitas Fisik

Mendorong melakukan banyak aktivitas fisik di luar rumah juga bisa kita gunakan sebagai siasat agar mereka tidak ketergantungan dengan gadget. Kita juga bisa ciptakan suasana keluarga yang dekat dengan cara sering mengobrol, bermain dan mendengarkan curhatan anak-anak kita.

Kita juga harus berkomitmen untuk menyimpan gadget ketika berkumpul dengan keluarga, kita harus menjadi contoh kepada anak-anak bahwa sebagai orangtua juga tidak ketergantungan kepada gadget. Kita harus berkomitmen untuk menahan sementara menggunakan gadget saat berkumpul bersama anak-anak.

Membangun karakter berkepribadian (Syaksiyah) Islam yang berakhlak mulia, amanah, memiliki dedikasi dan kedisiplinan serta tanggung jawab juga bisa  diajarkan didalam keluarga kita, sehingga mereka bisa memanage waktu sebaik mungkin.

Karena tolok ukur yang paling tepat untuk menilai tinggi rendahnya kualitas kepribadian Islam seseorang adalah perilaku (suluk) sehari-hari seseorang dalam berbagai interaksi di tengah masyarakat.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu benar-benar beriman. (TQS: Ali Imran: 139).

Kepribadian Islam

Tanamkan kepribadian Islam pada diri anak, sebagaimana di contohkan oleh Rasulullah SAW. Pertama, menanamkan akidah Islam kepada anak dengan metode yang tepat, yaitu sesuai dengan kategori akidah Islam sebagai aqidah aqliyah (akidah yang keyakinannya dicapai melalui proses berfikir).

Kedua, mengajaknya bertekad bulat untuk senantiasa menegakkan bangunan cara berpikir dan perilakunya diatas pondasi ajaran Islam semata. Ketiga, mengembangkan kepribadiannya dengan cara membakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh mengisi pemikirannya dengan tsaqafah Islamiyah dan mengamalkan dan memperjuangkannya dalam aspek kehidupannya sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT. (M Ismail Yusanto, dkk Menggagas Pendidikan Islami, 52-53).

Selain itu yang paling penting adalah adanya peran negara yang harus serius dan konsisten untuk mengawasi serta memblokir situs-situs yang mengarah pada pornografi dan hal negative lainnya, sehingga tidak bisa dijangkau oleh generasi muda kita, serta mengedukasi generasi Z untuk bijak dalam menggunkan gadget.

Negara harus memberikan pelayanan atau riayah dengan menciptakan inovasi terbaru dalam hal pembuatan alat-alat elektronik sehingga aman dan bersahabat bagi lingkungan.

Negara juga harus mengeluarkan undang-undang yang menjelaskan garis-garis umum politik Negara dalam mengatur informasi sesuai dengan ketentuan hukum-hukum syariah.

Hal itu dalam rangka menjalankan kewajiban Negara dalam melayani kemashlahatan Islam dan kaum muslim serta menyebarluaskan kebaikan dari dan didalam masyarakat Islami tersebut. (Taqiyuddin An-Nabhani, Bab Syiasah Daulah I’lamiyah, 146).

Dengan ini diharapkan generasi Z bisa terlindungi dari konten-konten negative yang ada di dunia maya karena negara benar-benar menjamin keamanan dalam bersosial media.

Anak yang hobby memainkan gadget dalam jangka waktu lama bisa mempengaruhi kesehatan mata dan otot anak. Anak akan duduk diam memandang layar gadget sehingga membuatnya tidak melakukan gerakan fisik yang bisa mengganggu kesehatan mata dan perkembangan ototnya. Radiasi yang dipancarkan oleh gadget juga menjadi ancaman bagi kesehatan anak.

Ajak mereka mengobrol, sehingga mereka tidak menjadi anak yang pasif bahkan mengalami keterlambatan bicara. Dan yang paling penting kita tanamkan akidah Islam dalam diri mereka dan merubah persepsi (mafahim) mereka tentang penggunaan gadget agar mereka bisa memanage kegunaan gadget. Jangan sampai karena keteledoran kita dalam mendidik anak, menjadikan mereka terjerumus kedalam jurang bencana dunia maya. []

(Penulis, Tinggal di Malang)

 

PBB Tak Masuk Pemerintahan, Ini Tanggapan Yusril

JAKARTA(Jurnalislam.com) — Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melantik menteri-menteri yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Maju.

Namun, Partai Bulan Bintang (PBB) sebagai salah satu pihak yang mendukung pasangan nomor urut 01 itu tak mendapat jatah kursi.

Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra mengatakan, dirinya akan tetap membantu pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin jika dibutuhkan.

Meski, ia dan partainya saat ini berada di luar kabinet.

“Saya tetap akan menjaga hubungan baik dengan pemerintah, dan berharap pemerintahan Joko Widodo periode kedua ini akan sukses membawa bangsa dan negara menuju kejayaan,” ujar Yusril saat dikomfirmasi, Rabu (23/10).

Ia juga menyarankan Jokowi untuk membenahi hukum di Indonesia. Sebab, menurut dia, bangsa yang maju harus memiliki norma hukum yang adil, rasional, sistematis, dan harmoni satu sama lainnya.

“Jangan sampai terjadi tabrakan antarnorma hukum. Kepastian hukum harus terjamin dengan penegakannya yang konsisten,” ujar Yusril.

Setelah pelantikan presiden dan menteri, Yusril mengatakan, tugasnya sebagai penasihat hukum Jokowi-Ma’ruf Amin telah selesai. Kini, ia akan kembali meneruskan pekerjaannya sebagai advokat.

“Menjadi advokat adalah profesi yang selama ini saya tekuni. Karena inilah ladang tempat saya mengabdi kepada negara dan bangsa,” ujar Yusril.

Sumber: republika.co.id

MUI Heran Mengapa Kapitalisme dan Liberalisme Tidak Dianggap Anti Pancasila

JAKARTA(Jurnalislam.com)–Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin mempertanyakan mengapa agama dikaitkan dengan radikalisme.

Termasuk kenapa tidak disuarakan radikalisme politik, di mana peserta pemilu yang menang dapat berbuat apa saja dalam bentuk otoritarianisme.

Maka itu, ia meminta narasi ini tidak terus dikembangkan.

“Saya anti radikalisme kekerasan, tapi jangan dilebih-lebihkan dan jangan tendensius mengarah pada kelompok. Kalau diberi tugas pada Kemenag, seolah-olah umat beragama yang radikal,” kata mantan ketua umum PP Muhammadiyah ini.

“Yang anti pancasila jelas kita tolak, tapi tidak hanya dari yang bersifat keagamaan, banyak juga yang ingin mengembangkan isme lain. Kapitalisme dan liberalisme itu anti pancasila, kenapa itu tidak dituduh musuh nyata pancasila apalagi separatisme,” ujar Din.

MUI: Kemenag Jangan Dibelokkan ke Arah Anti Radikalisme

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin menilai pihak-pihak yang terus menyuarakan anti-radikalisme tidak paham asal-muasalnya dan ahistoris.

Ia menanggapi keinginan Presiden Jokowi untuk Kemenag agar mengurus radikalisme.

Din mengaku sangat keberatan. Jika begitu, kata Din, maka Kemenag berganti nomenklatur saja menjadi Kementerian Anti Radikalisme.

“Kementerian Agama itu membangun moralitas bangsa, mengembangkan keberagamaan ke arah yang positif-konstruktif bagi bangsa dalam menjaga kerukunan, meningkatkan kerukunan kualitas keagamaan, itu fungsinya yang sudah ada sejak kelahirannya,” kata Din kepada Jurnalislam.com di Kantor MUI, Rabu (23/10/2019).

“Jangan dibelokkan, anti-radikalisme tidak hanya radikalisme keagamaan, kenapa tidak boleh sebut radikalisme ekonomi, yang melakukan kekerasan pemodal dan menimbulkan kesenjangan, itu namanya radikalisme ekonomi,” katanya.

Baca juga:

Jokowi Minta Kemenag Urus Radikalisme, Din: Ahistoris dan Berlebihan

Narasi Radikalisme Mahfud MD yang Absurd dan Tendensius

Haedar Nasir Menilai Pernyataan Said Aqil Menjurus Ke Arah Radikalisme

Salim A Fillah: Seharusnya Pemerintah Selesaikan Akar Radikalisme Yakni Ketidakadilan

Identikan Cadar dengan Radikalisme, Sekjen MUI: ‘Itu Stigmatif Sekali’

 

BNN: NTB Darurat Narkoba

BIMA (Jurnalislam.com) – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bima, melakukan pelatihan anti narkoba yang bertema Pengembangan kapasitas Dan Pembinaan Masyarakat Anti Narkotika, di Hotel Sarina kota Bima, Rabu (23/10/2019).

Puluhan peserta yang terdiri Ormas Islam Dan lembaga-lembaga masyarakat, hadir dalam acara Pelatihan,

Kepala BNN Kota Bima AKBP Hurri  Nugroho mengatakan bahwa  besarnya pengguna narkoba di Indonesia semakin mendorong BNN untuk mengambil langkah dengan menggelar pelatihan dalam rangka memberikan informasi tentang bahayanya mengkonsumsi obat terlarang.

Turut hadir sebagai pembicara Andang Sutrio Nugroho Kejaksaan Negeri, ketua PKK Kab. Bima, Kepala Kominfo dan statistik.

Menurut data BNN, Masyarakat yang konsumsi narkoba di NTB, pelajar dan mahasiswa sebesar 24 %. Sementara penyalahgunaan narkotika di golongan pekerja sebesar 59 % atau lebih.

Terdapat beberapa sesi pelatihan antara lain Pelatihan Konsolin Dan cara mendekati mereka yang sudah  kecanduan narkoba bagi supaya di Rehabilitasi.

Reporter: Saad

Baca juga:

Puluhan Ribu Warga Bima Ikuti Pawai Rimpu, Hijab Syari Asli Indonesia

Muslimah Bima Peduli Kembali Salurkan Bantuan Untuk Muslim Uganda

FUI Bima Kecam Disertasi Abdul Aziz yang Halalkan Zina

Warga Bima Gelar Aksi Desak Polisi Tindak Pembawa Anjing ke Masjid

Prabowo Merapat ke Pemerintah, Gerakan #KamiOposisi Dideklarasikan

SOLO (Jurnalislam.com) – Merapatnya sejumlah partai oposisi dalam pilpres 2019 kepada pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin menjadi salah satu latar belakang pakar hukum universitas Juanda Bogor Dr Muhammad Taufik mendeklarasikan gerakan presidium #KamiOposisi di Roemah Djoeang, Laweyan, Surakarta, Rabu (23/10/2019).

Ketua presedium #KamiOposisi Dr Taufik menyebut tata pemerintahan yang ideal selain memerlukan seperangkat aturan yang berkeadilan dan pemerintah yang amanah, juga meniscayakan diperlukannya partisipasi masyarakat dalam mengontrol jalannya roda pemerintahan.

“Sikap kritis masyarakat sangat diperlukan untuk mengimbangi kewenangan besar yang melekat pada penguasa berupa kewenangan membuat aturan dan kewenangan memerintah atau membuat kebijakan. Selain dilakukan masyarakat, fungsi kontrol idealnya iuga dilakukan oleh partai-partai di parlemen,” katanya kepada wartawan.

“Namun di periode kedua Jokowi sebagai presiden, hampir semua partai melebur dalam koaIisi pemerintahan. Seolah tidak ada yang rela kehilangan “kue kekuasaan”. Kondisi politik yang demikian membuat rakyat harus berdiri sendiri, meniadi oposisi, berhadap hadapan dengan elit kekuasaan,” imbuhnya.

Menjadi oposisi, katanya, berarti mengemban tugas sebagai penyeimbang kekuasaan, mengoreksi setiap produk legislasi dan kebiiakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat.

“Oposisi berarti pula meneruskan perjuangan para pahlawan yang bercita cita Negara Indonesia meniadi Negara makmur, adil dan sejahtera. Inilah hakikat meniadi oposisi, yang hari ini ditelantarkan oleh partai-partai pemburu kue kekuasaan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dr. Taufik juga menjelaskan bahwa gerakan rakyat #KamiOposisi tidak dipungkiri merupakan sebuah perlawanan atas merapatnya Prabowo Subianto yang sebelumnya menjadi simbol periuangan rakyat dan ulama’.

“Dukungan rakyat kepada Prabowo semasa Pilpres 2019 tidak lepas dari rekomendasi yang dihasilkan oleh ljtima’ Ulama l-lll. Namun, merapatnya Prabowo merupakan akhir dari dukungan rakyat sebagaimana pula diserukan oleh ulama PA 212,” ujarnya.

Kehadiran gerakan #KamiOposisi sangat diperlukan mengingat pemerintahan Joko Widodo selama periode pertama bisa dibilang gagal di semua bidang.

“Dalam bidang hukum, pemerintah memperihatkan praktek disparitas pidana yang bertolakbelakang dengan keadilan. Di bidang ekonomi pemerintah gagal mewujudkan pemerataan ekonomi,” paparnya

Sedangkan Hak Asasi Manusia (HAM) begitu dilecehkan dengan pembungkaman dan tindakan represif aparat terhadap para demonstran, bahkan hingga jatuh korban jiwa.

Fakta fakta di atas merupakan rasionalitas munculnya gerakan #KamiOposisi yang dengan tegas menolak mendukung pemerintahan yang gagal dan abai terhadap perlindungan HAM.

“Sekalipun harus berdiri sendiri, rakyat akan tetap menggaungkan gerakan #KamiOposisi. Karena hidup merdeka mahal harganya, dan hanya akan diperjuangkan oleh orang orang yang berani melawan akumulasi kekuasaan pada kelompok otoriter,” pungkasnya.

Baca juga:

Sepiring Berdua, Ngapain Ada Pilpres?

Sepiring Berdua Berbagi Kue Kuasa

16 Orang Parpol di Kabinet Jokowi, PDIP Terbanyak

Tinggal Rakyatlah Oposisi Sesungguhnya

Tolak Undangan ke Istana, PKS: Kami Tetap Oposisi

Sepiring Berdua, Ngapain Ada Pilpres?

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

(Jurnalislam.com)–Prabowo resmi jadi menhan. Dilantik Jokowi di tangga istana. Beserta seluruh kabinet Jokowi, Prabowo duduk di anak tangga itu. Jokowi-Ma’ruf tetap duduk di atas.

Beda keadaannya ketika Prabowo mengendorse sekaligus bohir Jokowi saat nyagub DKI. Telunjuk Prabowo berwibawa. Nasib berubah ketika di 2014 Jokowi jadi rival Prabowo di pilpres. Posisi jadi sejajar. Terutama di dalam debat capres, satu sama lain adu program, argumen bahkan saling menjatuhkan lawan. Namanya juga debat.

2019, posisi masih sama. Keduanya jadi capres. Satu level. Hanya saja, Jokowi incumbent, dan Prabowo mantan calon yang kalah. Dan hasil pilpres, Prabowo kalah lagi oleh orang yang sama. Dalam politik, apakah setiap tanding ulang hasilnya selalu sama? mungkin iya.

Setelah kalah, Prabowo merapat. Diminta merapat, kata timnya. Oke lah. Itu sama saja. Prabowo diberi hadiah menteri. Sejak saat itu, telunjuk Jokowi yang berlaku. Prabowo jadi anak buah Jokowi. Gak serius, bisa saya berhentikan di tengah jalan, kata Jokowi. Kalimat ini berlaku dan juga ditujukan kepada Prabowo.

Demi untuk negara, kami akan jalankan. Begitu “kira-kira” jawaban Prabowo jika dikonfirmasi. Apalagi anggaran Kemenhan luar biasa besar. 127 triliun rupiah. Nyaris tak tersentuh BPK dan KPK. Karena berkaitan dengan alutista. Sama tak tersentuhnya dengan anggaran Badan Intelijen Negara (BIN).

Bergairah bukan? Meski demikian, di luar istana Prabowo dapat bullian dan hujatan dari berbagai pihak. Tak hanya dari pendukungnya, tapi juga dari para pendukung Jokowi. Kemarin gebrak meja, kok sekarang jadi… Itulah diantara komentar miring terhadap Prabowo.

Bagi mayoritas para pendukung, Prabowo dianggap berhianat. Untuk menghadapi ini, tim Prabowo intens menulis artikel, bikin video dan juga meme. Intinya menjelaskan dan mengklarifikasi kenapa Prabowo “ngotot” ingin jadi menhan. Tapi, nampaknya dari semua klarifikasi tim media dan buzzer Prabowo tak cukup menjelaskan secara gamblang apa alasan riil dibalik langkah politiknya itu. Meski menuduh para pendukung yang tak setuju sebagai orang-orang baperan, emosional, gak tahu high politik, terprovokasi oleh pihak ketiga. Kalau kita identifikasi orang perorang yang mengklarifikasi itu adalah orang-orang dekat Prabowo. Ada orang lain, tapi publik tahu siapa dia dan bekerja untuk siapa. Maksudnya? Tim buzzer punya dinamikanya sendiri.

Apa betul para pendukung Prabowo itu baper dan emosional? Sebagian mungkin betul. Tak bisa dipungkiri. Seorang istri yang tahu suaminya selingkuh, pasti marah. Baper? Iya. Tapi, istri yang tak marah ketika melihat suaminya selingkuh, pasti sudah tak waras akalnya. Paham?

Politik itu tidak hitam putih. Jangan dianalogikan seperti suami istri, katanya. Hitam-putih itu standar nilai. Jika standar nilai itu tak lagi ada dalam dunia politik, maka rusaklah jagat Indonesia ini.

Mari kita baca seutuhnya langkah Prabowo ini dengan menggunakan standar nilai. Pertama, dari sisi etika. Kalah, lalu gabung ke “musuh politik” meninggalkan teman, anak buah dan jutaan para pendukungnya. Ini tentu tidak etis. Tak mengajarkan kepada anak bangsa bagaimana berpolitik yang elegan dan bermartabat.

Anak buah dan pendukung mesti patuh pada Prabowo dong… Kilahnya. Ajak bicara tidak, musyawarah juga gak, suruh patuh. Patuh dari Hongkong? Tanya para pendukung.

Hidayat Nurwahid, mitra Prabowo dari PKS menanyakan: kalau akhirnya berkoalisi dan jadi menteri, buat apa kemarin nyapres? Tifatul Sembiring juga nge-tweet: “aku kira singa, tak tahunya kucing peliharaan”. Tajam banget sindirinya. Artinya, politik gak punya pakem.

Kedua, soal komitmen. Seseorang dianggap punya komitmen jika satu ucapan dengan perbuatan. Dan yang gak kalah penting adalah setia kawan. PKS yang lima tahun bermitra dan setia menemaninya dalam kekalahan pilpres 2014 ditinggalkan begitu saja. Dijanjikan jadi cawapres 2019, gak dipenuhi. Sudah gak jadi cawapres, ditinggalin lagi. Denger-denger jatah Cawagub DKI juga mau diambil lagi. Nasibmu oh PKS. Mungkin gak cermat cari teman.

Belum lagi para ulama, purnawirawan jenderal dan emak-emak yang telah banyak berkorban di saat-saat perjuangan. Kalian gak paham, karena informasi yang terbatas. Entar kalian akan ngerti, katanya. Banyak PHP, kata HRS. Siapa HRS? Ah, pakai nanya lagi.

Ketiga, soal demokrasi. Jika yang kalah saja akhirnya gabung dan ikut koalisi, bagaimana check and balances? Demokrasi membutuhkan hadirnya pihak yang bersedia di luar pemerintahan dan mengambil peran pengawasan dan kontrol terhadap pemerintah. Prabowo tahu bagaimana nasib pers, dunia akademik dan mimbar rakyat sekarang. Mati suri. Dibutuhkan kekuatan lain yang bisa menjadi penyeimbang pemerintah agar tidak berjalan ke arah otoritarianisme.

Apa yang dilakukan Prabowo saat ini akan berpotensi merusak cara berpikir partai, terutama rakyat. Pilpres akan dianggap tak lebih dari sebuah dagelan dan pesta. Rakyat akan berpikir buat apa dukung si A atau si B, kalau keduanya tak beda identitas, karakter dan ideologinya. Habis pilpres nanti juga akan gabung dalam satu koalisi. Yang menang jadi presiden, yang kalah jadi menteri. Lalu, buat apa ikut milih. Buat apa ada pilpres kalau akhirnya makan sepiring berdua?

Tapi kalau milih dapat uang, boleh deh. Akhirnya, rakyat bertransaksi ala kapitalis. Berlomba untuk memanfaatkan para capres demi pendapatan tambahan. Saatnya pesta. Bukan pesta demokrasi, tapi pesta rizki.

Keempat, soal konsolidasi politik jangka panjang. 10 tahun PDIP jadi oposisi. Pemilu 2014 dan 2019 jadi top skor. Sebagai partai di luar pemerintahan periode 2004-2014, PDIP melakukan konsolidasi secara serius dan sungguh-sungguh. Hasilnya, PDIP kuat untuk saat ini. Mengapa Prabowo tidak sabar? Apakah karena merasa sudah tua? Tidakkah apa yang diperjuangkan para pahlawan itu akan diwarisi oleh generasi bangsa di masa depan.

Yang pasti, Prabowo dan Gerindra sedang dalam ujian yang berat. Ujian ini “mungkin” bisa dilewatinya jika Prabowo mampu bekerja secara cemerlang sebagai Menhan. Tidak saja sukses, tapi menonjol prestasinya. Jika prestasi yang ditunjukkan Prabowo sebagai Menhan betul-betul wow, mungkin ada konstituen yang masih mau mengapresiasi. Disamping harus menunjukkan kontribusinya kepada para mantan pendukung. Ingat, para mantan.

Tapi jika prestasi Prabowo biasa-biasa saja, kelar! Apalagi kalau Prabowo diberhentikan di tengah jalan. Nasib Prabowo akan sungguh mengenaskan. Tak ada yang menjamin kalau Prabowo akan dipertahankan hingga lima tahun kedepan. Sebab, takdirnya sudah ada di genggaman Jokowi.

Jakarta, 24/10/2019

Sepiring Berdua Berbagi Kue Kuasa

Oleh Chusnatul Jannah – Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

(Jurnalislam.com)–Pemandangan putih mewarnai istana negara. Lalu lalang pejabat negara dan politisi sambangi Jokowi di istana negara. Mereka menjadi calon kuat menteri kabinet kerja jilid 2. Ada Mahfud MD, Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Wishnutama, Tito Karnavian, Erick Thohir hingga pengusaha milenial Nadiem Makarim.

Mereka memakai baju putih sebagai simbol kabinet kerja pemerintahan Jokowi. Ada pula beberapa menteri kabinet 1 turut serta mengunjungi Istana negara. Dan hari ini mereka yang terpilih akan dilantik.

 

Yang paling mengejutkan, mantan kompetitor Jokowi di Pilpres2019, Prabowo Subianto secara terbuka memberi sinyal bahwa ia akan duduk di kursi pemerintahan sebagai menteri pertahanan. Santernya isu gerindra merapat ke pemerintah mulai terdengar sejak rekonsiliasi pasca pilpres 2019.

Setelahnya, sajian nasi goreng ala Megawati menambah kuat aroma Gerindra tak akan menjadi oposisi lagi.

Mungkin ia sudah lelah menjadi oposisi. Tak kuasa menahan godaan kekuasaan. Tak ayal, keputusan Prabowo mengecewakan para pendukung dan relawannya, terutama dari kalangan emak-emak.

Berbagi Kue Kuasa

Banyak pihak yang merasa kecewa berat tatkala Prabowo lebih memilih ‘sepiring berdua’ bersama Jokowi. Dua kali kalah dalam kompetisi hingga akhirnya ia menyerah atas nama rekonsiliasi. Dari pesaing menjadi kawan main. Dari oposisi malah menduduki kursi.

Teringat sang jenderal pernah berkata, “Saya akan timbul dan tenggelam bersama rakyat”. Nampaknya slogan itu akan menjadi kenangan pahit bagi para pendukungnya. Bahkan dalam status akun twitternya,

Gerindra mengatakan, “Yang sudah terjadi, biar kita jadikan pelajaran untuk masa yang akan datang. Karena jika terus menerus terjebak di masa lalu, kita tidak akan maju. Selalu terjebak di masa lalu juga tidak akan membuat bangsa ini semakin baik martabatnya,”.

 

Untuk kesekian kali, rakyat kembali menelan kepahitan. Sosok yang diharapkan membawa perubahan justru tak berdaya menahan godaan kekuasaan. Demokrasi memang pahit. Yang beroposisi bisa masuk koalisi.

Yang koalisi bisa saja keluar menjadi oposisi. Politik demokrasi itu dinamis dan lentur. Dinamis karena bisa berubah-ubah sesuai kepentingan. Lentur karena idealismenya tak sekokoh yang dibayangkan.

Asas politik demokrasi adalah kepentingan bukan kerakyatan. Lantas bagaimana dengan rakyat? Dalam hal ini rakyat tak dipertimbangkan. Rakyat hanya penting saat kampanye dan pemilihan saja. Setelahnya mereka dilupakan. Aspirasinya tak lagi menjadi bahan pertimbangan. Itulah fakta politik ala demokrasi.

Tak perlu heran dengan hajatan bagi-bagi kue kuasa. Itu sudah menjadi habit mereka. Pemenang pemilu menjadi penentu dalam berbagi kue kuasa. Tidak aneh jika menteri-menteri yang ditunjuk Jokowi adalah orang-orang yang sudah nampak keloyalannya terhadap pemerintah.

Gerindra dan PDIP bagai saudara terpisah. Meerajut kembali kemesraan di 2009 lalu bukanlah hal yang sulit dilakukan bagi keduanya.  Oleh karenanya, perubahan hakiki tidak akan terwujud bila masih dengan sistem dan pola yang sama.

Islam, Politik Tanpa PHP

Islam tak sekadar agama ritual yang hanya mengatur aspek ibadah mahdhoh. Islam juga mengatur aspek politik, sosial, ekonomi, pergaulan, dan sebagainya. Politik dalam Islam bukan berbagi kue kekuasaan. Politik Islam adalah riayah suunil ummat.

Yakni mengurusi urusan umat mulai dari bangun tidur hingga bangun negara. Hal ini tentu berbeda dengan fakta politik demokrasi yang hanya berkutat seputar kekuasaan dan kepentingan.

Dalam Islam, berpolitik bukan untuk mengemis jabatan kepada penguasa. Berpolitik dalam Islam bertujuan untuk mencerdaskan umat dengan pandangan Islam. Mewujudkan kepekaan umat terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut hajat hidup masyarakat.

Oleh karenanya, Umat wajib melek politik. Ketika umat buta politik, mereka akan mudah terperdaya dengan kepentingan dan oligarki kekuasaan.

Pilpres 2019 harusnya dijadikan pelajaran berharga. Bahwa suara rakyat hanya dimanfaatkan partai untuk meraih kepentingan mereka sendiri. Dalam demokrasi, tidak ada keabadian. Semua berpijak pada kepentingan.

Transaksi-transaksi politik akan senantiasa menjadi pemandangan dalam demokrasi. Demokrasi sejatinya tidak murni berjuang untuk rakyat. Lebih tepatnya mereka berjuang hanya untuk kepentingannya sendiri.

Jadikanlah Islam sebagai jalan perjuangan hakiki. Umat semestinya memiliki agenda sendiri. Yakni memperjuangan kehidupan Islam tanpa  embel-embel kepentingan. Berjuang hanya untuk menegakkan hukum Allah.

Berpolitik adalah salah satu wujud dakwah amar makruf nahi mungkar. Dengan berpolitik, umat mengoreksi  kebijakan zalim penguasa. Meluruskan kesalahan penguasa dan menyampaikan solusi Islam atas berbagai persoalan.

Apa yang disampaikan Tokoh Kenamaan Turki, Necmettin Erbakan, sekiranya patut direnungkan, “Siyaseti önemsemeyen Müslümanları, Müslümanları önemsemeyen siyasetçiler yönetir.”

Kurang lebih artinya seperti ini: Muslim yang tidak peduli dengan politik, maka akan dipimpin politisi yang tak peduli pada Islam. Islam politik itu anti PHP. No tipu-tipu. Apalagi berselingkuh. Wallahu a’lam