Tepis Pemerintah, Yusril : HTI Belum Dibubarkan, Aktivitasnya Sah

JAKARTA (Jurnalislam.com)—Pakar Hukum Tata Negara Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra siap membela Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan melakukan upaya hukum terhadap pemerintah. Ia menegaskan bahwa HTI sampai saat ini belum dibubarkan dan sah beraktivitas sehingga jangan ada pihak yang melarang aktivitas HTI.

“Kami Ihza & Ihza Lawfirm ditunjuk oleh pimpinan HTI untuk melakukan upaya pembelaan hukum terhadap organisasi HTI yang beberapa hari yang lalu telah diumumkan oleh pemerintah dengan pengumuman yang simpang siur diberitakan ke publik. Ada yang menganggap seolah-olah HTI ini sudah dibubarkan,” kata Yusril di Jakarta, Selasa (23/5/2017).

Ia mengatakan bahwa HTI tetap sah berdiri leluasa dan beraktivitas di tengah masyarakat. “Kami tegas mengatakan bahwa HTI itu belum dibubarkan dan sampai hari ini HTI tetap sah berdiri dan leluasa untuk melakukan kegiatan di wilayah hukum NKRI,” katanya.

Ia pun mengimbau kepada pihak manapun bahwa melarang kegiatan HTI merupakan tindakan berlawanan dengan hukum dan undang-undang.

“Dan di daerah-daerah itu jangan ada aparat polisi, tentara, jaksa atau siapapun melarang kegiatan HTI. Karena tindakan pelarangan itu juga bertentangan dengan hukum yang berlaku. Tidak ada dasarnya!,” pungkas Yusril.

Seperti diketahui, pemerintah merencanakan pembubaran ormas HTI. Rencana pembubaran ini mendapat tanggapan dari pelbagai pihak termasuk Yusril yang menyatakan siap melawan pemerintah yang dinilai menzalimi HTI, karena menurut Yusril, pembubaran ormas hanya bisa dilakukan oleh pengadilan, bukan pengumuman.

ECR dan Forum Keluarga Arrahmah Karanganyar Kembali Gelar Donor Darah

KARANGANYAR (jurnalislam.com) – ECR ( Emergency and Crisis Respon) dan Forum Kajian Keluarga AR-RAHMAH bekerjasama dengan PMI Kabupaten Karanganyar menghelat aksi Donor Darah, bertempat di Kelurahan Blumbang, Tawangmangu Karanganyar Jawa Tengah, Senin (22/05/17).

Dalam pantauan jurnalislam.com, sebanyak 61 warga baik pria dan wanita rela mengantre menunjukkan antusias dan kesadaran donor darah yang cukup tinggi.
Kegiatan yang diadakan setiap tiga bulan sekali ini sudah berlangsung selama hampir empat tahun.

“Saya kalo tidak donor badan rasanya kaku pegel-pegel, linu-linu” kata seorang warga, Warsinem(35) yang mengaku tak pernah absen ikut donor darah rutin ini.

Kepada jurnalislam.com, Ketua PMI Kab.Karanganyar, dr. H. Yacob mengatakan bahwa donor darah membuat pendonor menjadi nyaman karena selain dapat membantu sesama melalui sedekah darah, pendonor juga mendapat fasilitas cek kesehatan gratis seperti cek tekanan darah hingga HB.

“Selain itu Kesehatan kita juga terpantau karena ada periksaan darah kita yaitu Hepatitis B dan C, HIV/AIDS, Sifilis,” tambahnya.

Sementara itu menurut Manager Divisi Medis ECR Galih Setia Adi mengungkapkan bahwa pihaknya selaku lembaga sosial kemasyarakatan akan terus memberikan semangat dan akan memfasilitasi kegiatan donor darah ini.

“Karena kegiatan ini mempunya nilai sosial kemanusiaan yang tinggi, dan semoga Allah menjadikan catatan amal sholeh disisiNya,” katanya

Gerakan Minahasa Merdeka Malah Didiamkan, Haedah Nashir Minta Pemerintah Tak Tebang Pilih

SOLO (Jurnalislam.com) – Munculnya gerakan Minahasa Raya Merdeka menuai banyak kecaman dari banyak pihak, termasuk Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Ia meminta pemerintah tak melakukan tebang pilih dalam menentukan suatu kelompok yang mengancam negara. Menurutnya, jangan sampai terkesan hanya paham agama saja yang dituduh mengancam negara.

“Jadi paham apapun,tindakan apapun, dari golongan apapun, termasuk yang mengusung separatisme dan ancaman merdeka, darimana pun datangnya, itu harus dimasukan dalam kategori yang akan melawan negara,jadi bukan hanya yang berideologi agama, termasuk yang lain seperti komunisme,”katanya dihadapan wartawan seusai meresmikan gedung baru RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (20/5/2017).

Menurut Haedar Nashir, pemerintah harus obyektif dan adil dalam menindaklanjuti terhadap upaya-upaya suatu kelompok atau golongan yang mengancam NKRI, bukan hanya untuk kelompok-kelompok yang berdasarkan keagamaan saja.

“Jadi kalau boleh kita memberi masukan, bikin kriteria obyektif yang transparan dan demokratis tentang tindakan paham dari apa yang akan melawan negara, dan konstitusi, yang tidak hanya diperuntukan satu kasus atau kelompok,”ungkapnya.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, bahwa muncul deklarasi yang menamakan dengan Minahasa Raya Merdeka dalam aksi bebaskan Ahok, namun sayangnya hal tersebut tidak dikatakan upaya makar terhadap pemerintah oleh Kapolri Jendral Tito Karnavian.

Gandeng Ormas Islam Serang, Aparat Musnahkan Ribuan Botol Miras dan Sajam

SERANG (Jurnalislam.com)– Ribuan warga Serang hadiri tarhib ramadhan dan Parade Tauhid pada hari Jumat (19/5/2017). Selain itu, warga juga menyaksikan pemusnahan minuman keras (miras) dan senjata tajam (sajam) yang merupakan hasil operasi pekat (penyakit masyarakat) yang dilakukan ormas Islam bersama aparat penegak hukum.

“Sebaiknya pemusnahan miras minimal 3 bulan sekali,jangan hanya pas menjelang Ramadhan saja”Ungkap Riki dari ormas Intifada Banten yang terlibat dalam razia miras kepada Jurniscom, Jumat (19/5/2017) di Serang.

Sebelum pemusnahan miras dimulai, aparatur memberikan sambutan tentang acara pemusnahan ini dan sekaligus mengingatkan kembali tentang peraturan Kota Serang setiap bulan Ramadhan tiba, mengingat kota Serang pernah menjadi sorotan nasional ketika kasus Saeni pemilik warteg yang buka di siang hari.

Antusias massa begitu besar terhadap aksi pemusnahan miras dan senjata tajam yang dilaksanakan dialun alun barat Kota Serang. Massa berkerumun mengelilingi pembatas yang sudah di buat sedemikian rupa agar memudahkan saat pemusnahan. Berkali kali panitia mengingatkan agar massa agak menjauh dari pembatas agar pada saat pemusnahan tidak terkena pecahan botol miras.

Pekikan takbir pun terdengar ketika bulldozer kecil mulai meratakan semua minuman keras dari berbagai merk yang berhasil disita pihak kepolisian.

Reporter: Jajat, Serang

Deradikalisasi Sasar 6 Poin Ini, Termasuk Stigma Negatif Khilafah dan Jihad

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)- Ada upaya dari musuh-musuh Islam melakukan deradikalisasi terhadap Islam, khususnya ajaran-ajaran yang mereka anggap bertentangan dengan kepentingan mereka. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Tengah Ustadz Aris Munandar dalam Kajian Rutin di Masjid Fatima, Jumat (19/5/2017)

Menurut ustadz Aris, sebagaimana hasil riset di Singapura, fokus deradikalisasi istilah Islam menyasar enam poin yaitu: Daulah Islamiyah, Jihad, Khilafah, Baiah, Jemaah dan Al wala’ wal bara.

“Dan sebagai puncak amal dalam syariat Islam adalah jihad, maka mereka akan menstigmakan itu sebagai sesuatu yang menakutkan,” katanya. “Selain itu, syariat jihad itu distigmakan teror, horor, merusak dan sebagainya,” tambahnya.

Padahal amaliat jihad, kata ustadz Aris, itu dilaksanakan Nabi dalam 10 tahun kehidupan beliau di Madinah tidak kurang 83 kali. “Apa iya itu kita sebut sebagai teroris, mau kita sebut horror?” tanyanya.

Contoh lain, khilafah distigma negative karena dinilai tak sesuai dengan konsep nasionalisme yang salah. Padahal, kata ustadz Aris, Rasulullah mensyariatkan saling membantu saudara muslim dan orang yang terzalimi.

Ustadz Aris meyakinkan bahwa Khilafah bagi umat Islam suatu keniscayaan yang pasti akan terjadi sesuai dalam Surat An Nur ayat 55 sebagai dalil janji Allah turunnya kekhilafahan.

Ketika warga Rohingya diusir, mereka naik kapal sampai di Brunei, Malaysia, dan Indonesia, mereka diusir gara-gara bukan satu Negaranya. Ini konsep Nasionalisme yang salah.” Katanya.

Sedangkan, khilafah, menurutnya memiliki konsep agar membantu persoalan kaum muslimin di mana pun. Inilah yang katanya membuat musuh Islam melalui Mustafa Kemal menghancurkan Khialfah Turki Utsmani.

Karenanya, ustadz Aris meminta umat Islam untuk terus mengkaji syariat Islam. “Tantangan ke depan bukan lebih mudah justru semakin sulit dan berat. Hanya dengan keimanan yang kuat, maka kita akan mudah untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan,” pungkasnya.

 

Mudzakarah API Jabar Soroti Suksesi Kepemimpinan Jabar 2018

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat menggelar Mudzakarah bertajuk “Suksesi Kepemimpinan di Jawa Barat Harus Menjadi Bagian Dalam Membangun Peradaban Islam” dihadiri puluhan elemen ormas Islam sse-Jawa Barat bertempat di Pusdai Jabar, Bandung, Sabtu (20/5/2017).

Ketua API Jabar Asep Syaripudin mengatakan bahwa mudzakarah digelar melihat sinergitas elemen ormas Islam dalam aks-aksi bela Islam mengawal kasus penistaan agama oleh Ahok mulai tanggal 7 Oktober 2016 – 5 Mei 2017.

“Dalam catatan kami sudah 43x aksi bela islam dan 21x aski mengawal sidang penista agama yang dilakukan API JABAR di jakarta maupun di Bandung,” kata Asep di Bandung, Sabtu (20/5/2017).

Dalam mudzakarah tersebut, pergerakan API JABAR diapresiasi oleh beberapa kalangan dari umat islam, khusus dari jakarta karena keistiqomahannya membantu umat islam dalam mengawal aksi bela islam dan mengawal sidang penista agama seperti menurunkan massa minimal setiap aksi 1 bus, dan paling banyak 17 bus pada aksi 212.

Dalam konteks Jawa Barat, Asep mengatakan bahwa surat al Maidah 51 tak hanya berlaku di Jakarta. Ia mengaku diingatkan para ulama terkait kewaspadaan pemimpin Jabar tahun 2018, agar tetap menjaga eksistensi muslim di Jawa Barat di setiap tingkatan, baik Gubernur, Walikota, Bupati, Camat, Desa, RW,RT bahkan Legislatif.

Menurutnya, kepemimpinan di Jabar harus diisi oleh kaum yang peduli terhadap umat, dan jangan sampai kursi-kursi tersebut di isi oleh kalangan yg membenci islam.” Maka dari itu kita berusaha menjaga semangat umat islam untuk berdimensi mensukseskan kepemimpinan di jawa barat yang menjadi bagian dalam membangun peradaban Islam,” pungkasnya.

Sambut Ramadhan, Ribuan Warga Serang Gelar Tarhib dan Parade Tauhid

SERANG (Jurnalislam.com)—Sambut bulan suci Ramadhan, ribuan warga Serang melakukan longmarch dan kirab bendera tauhid 1 km dalam gelaran tarhib ramadhan bertajuk Parade Tauhid yang digagas Forum Persaudaraan Umat Islam Banten dan Forum Silaturahim Pondok Pesantren, Jumat (19/5/2017).

“Tema acara ini,sambut Bulan Ramadhan Tegakkan Syariah, perangi maksiat wujudkan taat, raih rahmat, Banten selamat dunia akhirat, ”ungkap Zainal Ketua FPUIB kepada jurniscom di Serang, Jumat (19/5/2017).

Sekitar ribuan peserta mengikuti acara ini dari berbagai macam ormas seperti FPI, HTI, Jamaah Ansharus Syariah, ANNAS Banten, Intifada Banten, Santriwan-santriwati Kota Serang dan ormas lainnya.

Rute aksi ini dimulai dari Stadion Maulana Yusuf Serang masuk jalan Ahmad Yani dan berakhir di Alu – alun barat kota Serang. Dalam pantauan jurniscom, sepanjang perjalanan aksi, perwakilan ormas memberikan orasi bergantian dan memberikan tausiyah tentang sucinya Bulan ramadhan dan perlunya amar ma’ruf nahi munkar.

“Acaranya bagus,apalagi ini menjelang bulan Ramadhan,” ungkap Feri seorang peserta yang mengaku berasal dari Ciracas Serang. Dalam acara ini, panasnya terik matahari tidak menyurutkan semangat peserta aksi. Tampak seluruh peserta, tua muda laki perempuan semangat mengibarkan bendera Tauhid di sepanjang aksi ini.

“Harapannya dengan dengan diadakannya acara ini kota Serang bebas dari unsur unsur kesyirikan, bebas miras, bebas prostitusi dan sesuai dengan motto Banten bertakwa,” kata salah seorang peserta, Zainal kepada Jurnalislam.com terkait harapannya diadakan acara ini.

Reporter: Jajat & Suhanda, Serang

Tetap Diresmikan Wali Kota, DDII Solo : Mereka Memaksakan Pendirian Gereja

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)– Wali Kota Solo FX Hadi Rudiyatmo tetap meresmikan Gereja GKI Busukan Surakarta walau warga sekitar menolaknya karena proses perizinannya disinyalir tak sesuai prosedur dan peraturan yang berlaku.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Solo, Ustadz Aris Munandar mengatakan bahwa tetap dilanjutkiannya peresmian dan pembangunan gereja merupakan bentuk pemaksaan.

“Mereka memaksakan untuk mendirikan rumah ibadah (gereja), dengan tidak mengunakan aturan yang tidak ditetapkan pemerintah, sementara kita pengin menjalankan aturan yang sudah ditetapkan, minimalkan misalkan harus ada tanda tangan warga, ada persetujuan segala macam, tidak boleh dekat dengan rumah ibadah yang sudah ada dan diperhitungkan segala macam,”kata ustadz Aris kepada jurnalislam.com di Karanganyar, Jumat (19/5/2017).

Baca juga : Pihak Gereja Lakukan ‘Test The Water’ pada Umat Islam

Sebagaimana diketahui, pada Kamis,(18/5/2017) warga Busukan Mojosongo Solo menolak keberadaan gedung yang akan difungsikan sebagai gereja. Warga menganggap bahwa izin gereja belum ada. Selain itu, setidaknya sudah ada 2 Gereja di kampung tersebut. Kendati demikian, gereja tersebut akhirnya diresmikan oleh Walikota Solo FX Hadi Rudiyatmo.

Maraknya Pembangunan Gereja Liar Dinilai Karena Kurangnya Reaksi Umat

KARANGANYAR(Jurnalislam.com)-Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Solo Ustadz Aris Munandar menilai Peresmian Gereja Kristen Indonesia (GKI) pada Kamis,(18/5/2017) yang ditolak warga sekitar Busukan, Mojosongo,Solo. Adalah bagian memancing suasana umat islam yang disebut dengan Testing of The Water.

Baca Juga : Meski Ditolak Warga, Wali Kota Solo Malah Resmikan Gereja Busukan Surakarta

Menurutnya, pihak gereja berani melanjutkan aktivitasnya karena kurangnya reaksi umat Islam. “Saya melihat itu bagian dari memancing suasana,kondisi, sekaligus itu namanya ‘Testing Of The Water’ yaitu, mengetes apakah umat islam bereaksi atau tidak, kalau tidak mereka akan lanjutkan,”katanya pada jurnalislam.com di Karanganyar Jum’at,(19/5/2017).

Ustadz Aris Munandar mengatakan, pendirian rumah ibadah sudah mempunyai aturan baku dari pemerintah. Menurutnya, jika aturan itu diterjang maka akan membuat perseteruan diantara umat beragama yang ada.

“Sebenarya berkaitan dengan pendirian rumah ibadah itu sudah ada aturan baku yang dikeluarkan oleh pemerintah, disebut dengan aturan bersama dua menteri, antara menteri dalam negeri dan menteri agama, dan itu biasanya ada persyaratan-persyaratan , yang menjadi masalah itu biasanya, persyaratan yang dituntut itu diterjang, inilah yang membikin diantara umat beragama ini berseteru,”pungkasnya.

Seperti diketahui, Wali Kota Solo FX Hadi Rudiyatmo malah meresmikan Gereja GKI di Busukan Solo di tengah aksi penolakan warga setempat karena disinyalir gereja tersebut masih bermasalah dan tak sesuai prosedur perizinan.

Masjid Darussalam Tawangmangu Gelar Tarhib Ramadhan Hadirkan Ustadz Rosyid Ba’asyir

KARANGANYAR (jurnalislam.com) – Lebih Baik kita bersusah payah dalam menjalankan ketaatan daripada kita mengantongi murka Allaj di Akherat kelak. Demikian disampaikan ustadz Rosyid Ridho Ba’asyir dalam Tarhib Ramadhan yang helat DKM Masjid Darussalam Pancot Tawangmangu Karanganyar, (19/5/2017).

Dalam tausiyahnya, pria yang karib disapa ustadz Rosyid ini mengatakan bahwa puasa di bulan ramadhan kewajiban bagi kaum muslimin, kecuali jika ada udzur syar’I yang kelak tetap wajib digantikan.

“Lebih baik kita bersuyahpayah dalam menjalankan ketaatan dan perintahnya daripada di akherat kelak kita menghadap Allah dengan mengantongi kemaksiatan kepada-Nya yang berakibat mendapatkan Murka-Nya” tegas putra kedua Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tersebut.

Kepada Jurnalislam.com ketua panitia Tabligh Akbar dan juga Takmir Masjid mengungkapkan “bahwa kajian ini digelar untuk menjelaskan kepada jamaah tentang pentingnya pemahaman terkait bulan Ramadhan.

“Untuk itu kami selaku Takmir Masjid Darussalam sudah menyiapkan serangkaian kegiatan di Bulan Ramadhan besok diantara kajian rutin dan buka bersama serta kegiatan keagamaan yang lain” pungkasnya