Menepuk Memori, Mengembalikan Makna Pancasila

Oleh: Rizki Lesus*

“Pokoknya saya Pancasila!” katanya ngotot, sambil ngedumel dalam hati,”lawan radikalisme,” seraya menunjuk kaum radikal yang katanya anti Pancasila di seberang sana. Profil Picture-nya berubah, menggunakan warna merah, katanya biar nasionalisme dan Pancasilais sejati. Maklum, jarang-jarang lagi bisa teriak-teriak Pancasila.

Intinya kita merayakan saja, merayakan hari kelahirannya!

Walau katanya, kelahirannya masih diperdebatkan karena beberapa pakar tak sepakat. Tapi, ok lah, karena sudah ditetapkan penguasa, maka lahirnya dan makna Pancasila harus versi penguasa.

Rupanya ditetapkannya 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila oleh Pak Jokowi membuat diskursus tentang Pancasila jadi marak kembali. Jagad dunia maya dan tiap gawai kemasukan isu tentang Pancasila. Orang-orang jadi membuka lagi referensi-referensinya, termasuk website ini, jejakislam.net, hehehe.

“Yang tidak sesuai kami, kamu anti Pancasila. Saya gebuk kamu!” boleh jadi ada yang teriak-teriak begitu. “Pokoknya, kami Pancasilais, pro NKRI, pro kebhinekaan,”klaimnya.

Siapa yang tidak Pancasila, tidak NKRI, tidak bhineka? Jawabnya dari dulu sampai sekarang sama saja. Umat Islam yang ingin menjalankan syariatnya jadi tertuduh. Kita coba mengetuk ingatan kita, bahwa tudingan-tudingan seperti itu sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu.

Lebih-lebih para perumus Pancasila seperti Haji Agus Salim dan KH Wahid Hasyim harus menjawab tudingan seperti itu. Nggak lucu memang, para pembuat Pancasila dituduh anti Pancasila. Tapi itulah, dunia tak selalu harus lucu.

Sebelum wafatnya, putra Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari mencatat dalam majalah Gema Muslimin bilang, ada kaum yang “Dituduh bukan warga negara,” kata KH Wahid Hasyim. Jauh sebelumnya, media-media asing sudah mengecap: Radikal, Fanatik, seperti dalam halaman New York Times tanggal 19 November 1945 berbincang tentang Perang Surabaya.

Setelah merdeka, sematan anti Pancasila, pengkhianat Pancasila, anti NRKI bermunculan. Perumus Pancasila, Haji Agus Salim dalam tulisannya Ketuhanan Yang Maha Esa (1953) mengatkan ada pihak yang ingin memutarbalikkan fakta dan mengklaim dirinyalah yang Pancasilais.

“Tiap-tiap aliran membanggakan bahwa hanyalah ia yang berpegang kepada ‘Pancasila yang Sejati’. …dan tiap-tiap aliran menuduh mendakwa aliran –aliran yang lain dengan ‘khianat’ kepada asas Pancasila dan memutarbalikkan kenyataan,” kata Haji Agus Salim dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim (1984)

Salah seorang dari 9 perumus Pancasila pada tanggal 22 Juni 1945 ini menyadari bahwa ada pihak yang memutar balikkan kenyataan. Padahal, kata Haji Agus Salim, seharusnya orang yang mengaku ‘berPancasila’ tidak boleh bertentangan dengan sila pokok yang pertama dan paling utama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Jika akan sesuai dengan dasar Pancasila kita itu, maka bagaimana pun perbedaan haluan yang dipentingkan oleh berbagai aliran itu dan bagaimana pun cara mengusahakan atau ‘memperjuangkan’ tujuan-tujuannya masing-masing pertama –tama sekali dan terutama tidaklah boleh menyalahi pokok dasar yang pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa,” tegasnya.

Apakah menuntut keadilan bertentangan dengan sila pertama? Atau menista agama sangat bersesuaian dengan sila pertama? Ada baiknya, kita mengembalikan makna Pancasila menurut para perumusnya.

Kata Haji Agus Salim bahwa ada pihak yang memutarbalikkan kenyataan. Padahal, menurut perumus Pancasila ini, Sila Pertama merupakan sila pokok yang paling penting dalam Pancasila.

Orang yang menegakkan Pancasila, menurut Haji Agus Salim pasti menegakkan sila pertama. “Tegasnya tidak boleh menyimpang daripada hukum agama yang berdasarkan kepada wahyu daripada Tuhan Yang Maha Esa sesuai fiman Allah di dalam al Quran…”

Sebagai perumus Pancasila, Haji Agus Salim menegaskan kembali bahwa sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pokok dan dasar meliputi empat sila lainnya.

“Tentang pokok dasar yang pertama ini, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memang menjadi pokok yang istimewa dalam karangan ini masih akan berikut keterangan yang lebih luas, insya Allah pada hakikatnya memanglah pokok yang pertama ini bersifat meliputi, dan telah terkandung di dalamnya empat pokok dasar yang berikut di dalam Pancasila kita,” tulisnya masih dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim.

Tak hanya Haji Agus Salim, perumus Pancasila lainnya Mohammad Hatta bilang bahwa sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa merupakan sila utama yang dengannya 4 sila lainnya ternaungi cahaya. Berikut perkataan Bung Hatta:

Bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ialah Allah, tidak lain kecuali Allah. Saya sendiri yang mengusulkan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ dijadikan sila pertama supaya Allah dengan Nur-Nya menyinarkan Nur-Nya itu kepada sila-sila yang empat lainnya.” Sebagaimana dikutip Kasman Singodimedjo dalam , Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun. (Jakarta: Bulan Bintang, 1982)

Kasman Singodimedjo, yang terlibat lobi politik karena diminta Bung Karno dan Hatta mengganti kalimat ‘Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya’ menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ meyakinkan bahwa maksud Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Allah.

Tuhan Yang Maha Esa itu adalah Allah, Allahu Ahad, Allahu Shomad, Allah Yang Tunggal, dan dari Allah yang Esa itulah sesuatunya di alam semesta ini, dan siapapun juga bergantung dan tergantung. Dan itulah Allah yang tidak beranak (Lam Yalid) dan Yang tidak diperanakkan (Wa Lam Yulad), pula tidak ada di alam semesta ini siapapun dan apapun yang sama atau mirip-mirip dengan Yang Maha Esa (Allah) itu (Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad).” ( Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun. (Jakarta: Bulan Bintang, 1982)

Pergantian 7 kata dengan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ menurut Hatta tak menghilangkan esensi bahwa umat Islam di Indonesia wajib menjalankan syariat Islam.

“Kami menginsyafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyap dengan menghilangkan perkataan ‘Ketuhanan dengan Kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dan mengganti Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata Hatta dalam Memoir-nya.

Karenanya, Ketua Muhammadiyah saati itu Ki Bagus Hadikusumo di depan Hatta menegaskan apa makna Ketuhanan Yang Maha Esa, “Tuhan Yang Maha Esa maknanya ialah Tauhid,” tegasnya.

Kembali kita mengetuk memori, melihat dengan seksama, bahwa para pendiri bangsa kita, sepakat bahwa makna sila pokok pertama adalah tauhid dan Tuhan Yang Maha Esa adalah Allah. Hal ini merupakan kesamaan pandangan para perumus Pancasila seperti dituturkan Haji Agus Salim.

Sebagai salah seorang yang turut serta membuat rencana pernyataan kemerdekaan sebagai pendahuluan (preambule) rencana undang-undang dasar kita yang pertama di dalam Majelis Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di akhir-akhir kekuasaan Jepang, saya ingat betul bahwa di masa itu tidak ada di antara kita seorang pun yang ragu-ragu, bahwa dengan pokok Ketuhanan Yang Maha Esa itu maksudkan ‘aqidat’, kepercayaan agama dengan kekuatan keyakinan, bahwa kemerdekaan bangsa dan tanah air suatu hak yang diperoleh daripada rahmat karunia Tuhan Yang Maha Esa, dengan KetentuanNya yang dilaksanakanNya dengan semata-mata kekuasaanNya pada ketika masaNya menurut kehendakNya. ( Tim 100 Tahun Haji Agus Salim : 1984, hal. 441)

Dan atas berkat rahmat Allah, para pendiri bangsa ini ingin bersyukur. Bukankah kita dulu tak memiliki senjata mumpuni seperti kepongahan mereka? Bukankah kita dulu hanya bambu runcing?

Berkilo-kilo meter, Bung Karno bersimpuh di depan Tengku Daud Beureuh di pendopo Aceh, memaklumkan jihad melawan mereka yang pongah dengan segala kecanggihan. Bahwa hanya dengan pertolongan Allah, kita memasuki gerbang kemerdekaan.

Berkaca matanya, berujuar di hadapan pemimpin besar Aceh ini, “Memang yang saya maksudkan adalah perang yang dikobarkan oleh pahlawan Aceh seperti Teungku Cik di Tiro, perang yang tak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.”

Atas berkat rahmat Allah, negeri ini merdeka, maka tak bolehnya setangkai syukur ini semerbak. Daud Beureuh dan rakyat Aceh menyatakan siap, asal kelak, setelah kemenangan atas rahmat Allah, negeri ini menjadi negeri yang pandai bersyukur, agar mereka secara bebas menjalankan syariatnya.

“Kakak, (panggilan Soekarno kepada Daud Bereuh), tak usah khawatir. Sebab, 90 persen rakyat Indonesia beragama Islam,” kata Soekarno.

“Maafkan saya, Saudara Presiden. Kami menginginkan sesuatu kata ketentuan dari Anda,” kata Daud Beureuh. Sukarno mengagguk pelan. Tapi dia terkejut ketika Beureuh menyodorinya secarik kertas. Rupanya dia meminta Sukarno menuliskan sesuatu.

Air mata Soekarno tumpah ruah. Bulir bening itu mengalir deras meleleh melewati pipinya. Dirinya terisak. “Air mata sampai membasahi pakainnya,” tutur Ibrahim, menanti Beureuh sebagaimana dilansir Majalah TEMPO edisi khusus Daud Beureuh.

“Bukan kami tak percaya. Sekadara tanda untuk diperlihatkan kepada rakyat Aceh yang kami ajak berperang,” kata Daud Beureuh meyakinkan Soekarno, bahwa dengan jihad, umat tak kan gentar melawan kekuatan besar yang menanti, bahwa ada pertolongan Allah di sana!

Soekarno terus menangis, memberikan janji, janji yang sempat tak tertunai.

Wallah, Billah, kepada daerah Aceh nanti akan diberikan hak menyusun rumah tangganyta sendiri sesuai dengan syariat Islam,” katanya terisak. Melihat Soekarno menangis, Beureuh merasa iba, dan memegang janji sang pemimpin.

Maka menangislah kita, melihat memori-memori indah perjuangan negeri ini. Menangislah melihat keinginan yang luhur dari mereka, para pendahulu kita. Yang menorehkan kalimat yang begitu nyata:

Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan di dorong kan oleh keinginan luhur supaya ber kehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Tak heran, para pendiri bangsa ini ingin sedikut bersyukur dengan menjalankan aturan-aturanNya, karena kemerdekaan diperoleh atas berkat Rahmat Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

“Dan Kemudian, setelah tercapai kemerdekaan yang men jadi idaman cita-cita, yang tak pernah padam dalam bangsa kita, istimewa umat Islam, dalam semasa kita ditakluk-tundukkan oleh kekuasaan asing, yakin pula kita bahwa segenap bangsa kita yang beragama menyambut nikmat karunia itu dengan bersyukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Maka pastilah bahwa pokok dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu pernyataan aqidat tersebut di atas tadi. ( Tim 100 Tahun Haji Agus Salim : 1984, hal. 441)

Kesepakatan tentang makna sila pertama yaitu tauhid, membuat Ketua MUI pertama Buya Hamka meminta agar umat Islam menjalankan dan menghidupkan Islam dalam kesehariannya. Sebab, menghidupkan Islam berarti menghidupkan Pancasila.

“Oleh karena yang menjadi urat tunggang dari Pancasila itu adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dan itu saja perjuangan yang pertama dan utama, dengan sendirinya sila ke-lima ini, yaitu kebangsaan, dapatlah berjalan sebaik-baiknya,” kata Hamka dalam buku Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila. (2001)

Lebih dari itu, Hamka mengaskan untuk menjamin Pancasila tegak di bumi pertiwi, tokoh Muhammadiyah ini meminta agar masyarakat Indonesia menghidupkan Islam dengan landasan kalimat tauhid!

“Maka, untuk menjamin Pancasila, marilah kita bangsa Indonesia yang mengakui Allah sebagai TuhanNya dan Muhammad sebagai Rasulnya bersama-sama menghidupkan agama Islam dalam masyarakat mita.”(Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila. (2001), Pustaka Panjimas, hal.143)

Sebab, menurut Hamka, Pancasila telah hidup semenjak Islam datang ke Indonesia. Menggerakkan para ulama dan syuhada untuk membela agama dan negara, hingga Allah anugerahkan kemerdekaan.

Bung Karno pernah berkata, “Pancasila itu telah lama dimiliki oleh bangsa Indonesia, sejak lahirnya Sarekat Islam yang dipelopori oleh Almarhum HOS Tjokroaminoto..”

Maka, Hamka menambahkan:

“Pancasila telah lama dimiliki oleh bangsa Indonesia, yaitu sejak seruan Islam sampai ke Indonesia dan diterima oleh bangsa Indonesia. Kita tak usah khawatir falsafah Pancasila akan terganggu, selama urat tunggangnya masih tetap kita pupuk: Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Maka, kita kembalikan kembali makna Pancasila yang selama ini terlupakan.”Hanya dengan memegang teguh agama Islam saja, itu sudah otomatis menegakkan Pancasila,” kata Doktor pertama politik kita, Prof. Dr. Deliar Noer dalam Islam, Pancasila dan Asas Tunggal (Jakarta: Yayasan Perkhidmatan, 1983).

Kata Prof. Deliar Noer, ada pihak yang menjadikan Pancasila manis di lisan, dengan mengatakan dirinyalah yang Pancasila. “Ada orang-orang yang mengutamakan nama, mengutamakan kulit, mulut manis di bibir, ucapan, ataukah perbuatan dan sikap?” katanya dalam buku yang sama.

“Seorang bayi umpamanya tidak didengungkan nyanyian Pancasila, tetapi mungkin sekali dengan nyanyian yang disertai dengan harapan atau doa supaya ia lekas besar supaya kelak menjadi anak yang berbakti kepada ibu dan ayahnya, dan supaya menjadi anak yang diridhai Allah,” kata Deliar Noer, maka dengan sendirinya ia telah mengamalkan Pancasila.

Sebaliknya, mengaku-aku Pancasila, sembari menuding sana-sini anti Pancasila, menghina ulama, nyinyir kepada ajaran agama, menolak perda berbau agama, mengumpat, menghina, menista, justru mengaburkan makna sebenarnya dari Pancasila.

Menepuk memori, membuat kita menghargai pendahulu kita. Membuat Pancasila berada pada makna yang hakiki. Sebab, bukan menjalankan ajaran agama yang akan membuat negeri ini pecah seperti yang ditakutkan dan ditudingkan. Yang membuat negeri terpecah karena abai sejarah.

Abai sejarah membuat negeri ini menuju negeri pelupa. Menepuk memori mengingatkan kita kembali, mengapa kita berada di sini: Indonesia.

Maka, ucapan sejarawan kesohor Peter Carey dalam bukunya Takdir (2014) ini menjadi renungan kita bersama,” Tanpa cinta dan penghargaan pada sejarah mereka sendiri, Indonesia akan terpecah dan orang-orang Indonesia akan hidup terkutuk selamanya di pinggiran dunia yang mengglobal tanpa tahu siapa diri mereka sebenarnya da akan kemana mereka pergi.”

*Penulis buku Perjuangan yang Dilupakan, co-founder Jejak Islam untuk Bagsa (JIB) / jejakislam.net

Disambut Umat Islam Solo, LUIS Ingatkan Para Aktivis Tetap Waspada Upaya Kriminalisasi

SUKOHARJO(Jurnalislam.com)- Massa Umat islam Soloraya menyambut kedatangan para Tokoh LUIS dan wartawan Panjimas.com Ranu Muda yang tidak terbukti bersalah dan divonis bebas dalam kasus amar ma’ruf kafe Social Kitchen yang menjual miras dan tarian erotis.

Massa yang terdiri dari berbagai ormas islam Soloraya ini berkumpul di Masjid Ibaadurrahman, Goro Assalam, Kartasura, Rabu malam (31/5/2017). Kedatangan rombongan Tokoh LUIS ini di sambut pekikan takbir oleh umat islam yang hadir dan setelahnya mereka melakukana long march pawai menuju Masjid Baitussalam, Cemani, melewati jalan Slamet Riyadi, Surakarta.

Perwakilan LUIS ustadz Yusuf Suparno bersyukur atas pertolongan yang diberikan Allah. Ia mengapresiasi sambutan luar bisa umat Islam sekaligus mengingatkan agar para aktivis berwaspada akan jerat kriminalisasi.

Semoga ini menjadi momentum untuk merapatkan shaf dan barisan kita, bahwa ternyata mereka yang berada di luar sana selalu membuat jebakan-jebakan. Terutama aktivis islam akan dikriminalisasi. Dan atas ijin Allah kriminalisasi tersebut telah digagalkan oleh Allah,” katanya.

“Dan ini adalah satu syukur yang kita sampaikan pada Allah, karena Kalau bukan karena Allah kita tidak akan bisa berbuat apapun,”pungkasnya

Reporter: Arie Ristyan

‘Bebasnya Ranu Muda dan Tokoh LUIS Merupakan Pertolongan Allah’

SUKOHARJO (Jurnalislam.com) – Juru bicara Jamaah Anshorusy Syariah (JAS), Ustadz Abdul Rochim Ba’asyir ikut bersyukur atas kebebasan yang didapatkan para tokoh LUIS dan jurnalis panjimas.com Ranu Muda. Menurutnya, ini merupakan sebuah bentuk pertolongan dari Allah, sebagaimana yang tertulis di surat Ali Imran ayat 160.

“Alhamdulillah kita bersyukur sekali dengan bebasnya mereka ini. Kalau kalian ditolong Allah maka tidak akan ada yang mengalahkan. Sejak awal penangkapan teman-teman hingga dijebloskan kedalam penjara, terasa kental dengan nuansa politik. Hingga tidak heran, lawyer sebetulnya tidak begitu yakin bebas,”katanya pada Jurnalislam.com di Masjid Baitussalam, Cemani, Rabu (31/5/2017).

Pria yang karib disapa ustadz Iim ini mengatakan bahwa keberanian hakim memberikan keputusan sesuai hukum yang berlaku adalah bentuk kemenangan dari Allah, sekaligus ini membuktikan bahwa mereka tidak bersalah dan tidak melakukan pengerusakan terhadap Social Kitchen.

“Walaupun pertolongan datang dari keberanian hakim dengan vonis bebas, sesuai prosedur proses pembuktian, maka inilah yang kita anggap sebagai kemenangan dari Allah.”katanya. Ustadz Iim menambahkan, Bulan Ramadhan selalu membawa keberkahan bagi umat islam, terlebih bagi orang yang beriman yang sedang terzalimi.

“Ramadhan selalu membawa kemenangan bagi umat islam . Hari ini kita melihat hal tersebut, dan kita sangat senang dengan berita ini,”pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang, menjatuhkan vonis bebas kepada para tokoh LUIS dan Wartawan Ranu Muda karena tidak terbukti bersalah melakukan perusakan terhadap kafe Social Kitchen.

Reporter: Arie Ristyan

Terbukti Tidak Bersalah, LUIS Harap Kriminalisasi Tak Terulang Kembali

SEMARANG(JurnalIslam.com)- Setelah divonis bebas karena tak terbukti bersalah dalam kasus perusakan Social Kitchen di pengadilan, Humas Laskar Umat Islam Solo (LUIS) Endro Sudarsono berharap kriminalisasi terhadap ulama, aktivis dan ormas Islam tidak terulang kembali.

Menurutnya, kasus yang menimpa dirinya dan kawan-kawannya di LUIS menjadi kasus terakhir bagi kepolisian untuk mengkriminalisasi umat. “”Semoga kedepannya tidak ada istilah kriminalisasi selama itu tidak ada fakta hukum, apabila terjadi kasus semacam kita terulang lagi ,” katanya di Semarang kepada Jurnalislam.com, Rabu (31/5/2017).

Sedari awal, Endro meyakini bahwa putusan yang akan diberikan majelis hakim adalah vonis bebas.

“Itu sesuai dengan keyakinan kami selama ini baik dalam duplik bahwa jaksa akan sulit mendakwakan apa yang disampaikan kepada kami,”katanya.

Ia pun mengapresiasi majelis hakim yang telah memutuskan dengan adil. “Yang jelas hakim independen cerdas, cermat dan tepat dalm membaca fakta-fakta persidangan selama ini,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, 9 orang anggota LUIS dan seorang jurnalis bernama Ranu Muda yang tengah meliput ditangkap polisi karena dituding terlibat dalam perusakan kafe Social Kitchen. Namun, karena tak terbukti bersalah, mereka semua divonis bebas oleh majelis hakim.

Sempat Dipenjara 5 Bulan Walau Tak Bersalah, LUIS Tak akan Menuntut Balik

SEMARANG (JurnalIslam.com)- Ketua Laskar Umat Islam Solo (LUIS) Edi Lukito tidak akan menuntut kembali setelah dinyatakan bebas oleh Majlis Hakim PN Semarang.

“Terkait hukum yang lain kita tidak akan menuntut segala macam perkara ini,” katanya kepada jurnalislam.com saat setelah sidang putusan di PN Semarang, Rabu (31/5/2017). Menurutnya, walau n sudah ditahan sejak desember 2016 atau sampai sekarang sudah 5 bulan , ia dan kawan-kawan menerima dengan legowo apa yang telah dialaminya

Kata Edi, kriminalisasi yang menimpa LUIS adalah musibah yang harus diterima dan sebagai resiko perjuangan agar setiap melakukan aksi amar ma’ruf nahi munkar pada masa yang akan datang agar lebih tertata rapi.

“Ya sudahlah kita anggap ini satu musibah dan kami serahkan kepada Allah,” katanya. Meskipun sudah mengalami ujian seperti itu, LUIS tidak akan berhenti untuk berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar.

“Dan amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban kita. Sampai kapanpun kita tidak bisa pisahkan apapun resikonya,” pungkasnya

Tak Terbukti Bersalah, Hakim Vonis Bebas Jurnalis Ranu Muda dan Tokoh LUIS

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Majelis Hakim Puji Widodo membacakan vonis bebas terhadap tokoh-tokoh LUIS dan Ranu Muda wartawan Panjimas.com cum anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) karena tidak terbuti secara sah melakukan perbuatan yang didakwakan oleh Jaksa penuntut Umum (JPU) dalam kasus dugaan perusakan kafe Social Kitchen.

“Pengadilan Negeri Semarang menjatuhkan kepada para terdakwa, Edi Lukito, Salman Al Farizi, Yusuf Suparno, Endro Sudarsono, Joko Sutarto, Ranu Muda Adi Nugroho, Laksito dan Mulyadi tidak terbukti secara sah dalam dakwaan pidana yang didakwakan jaksa penuntut umum,” kata Majelis Hakim Pudji Widodo di PN Semarang saat putusan, Rabu ( 31/5/2017).

Menurut majelis hakim, semua pasal yang didakwaan tidak memenuhi unsur untuk menjerat para terdakwa. Sementara itu, setelah mendengan putusan bebas terhadap perkara 190 yaitu Edi Lukito dan kawan-kawan, Penasehat hukum Anies Prijo Ansharie dengan senang hati menerima putusan hakim.

“Kami mewakili dari teman-teman menerima putusan,” ucap Anies saat menanggapi putusan hakim tersebut. Pihak Jaksa Penuntut Umum menyatakan akan memikirkan dahulu apakah akan banding atau tidak.

“Kami akan pikir-pikir dulu,”ucap salah seorang JPU Slamet Margono. Setelah putusan hakim dibacakan, para terdakwa kemudian melakukan sujud syukur. Mereka bersyukur divonis bebas murni tanpa syarat dan langsung bisa pulang untuk bertemu keluarga masing-masing.

Jelang Vonis Kasus Social Kitchen Besok, Tim Advokat Nahi Munkar Kunjungi Terdakwa

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Menjelang vonis kasus Social Kitchen, para terdakwa LUIS (Laskar Umat Islam Semarang) dikunjungi TASNIM (Tim Advokasi Nahi Munkar) dalam rangka silaturahim dan buka puasa bersama di Lapas kelas 1 kedung Pane Jl. Raya Semarang-Boja KM.4, Wates, Ngaliyan, Kota Semarang, Senin (29/5/2017)

Ahmad Sigit mewakili rombongan menyampaikan tujuan tersebut adalah silaturrahmi sekaligus diskusi menjelang vonis Rabu esok.”Agenda ini sebagai silaturrahim antara pengacara dan terdakwa sekaligus diskusi menjelang vonis besok,” katanya kepada jurnalislam.com.

Melihat kunjungan TASNIM, Humas LUIS Endro Sudarsono mengapresiasi apa yang dilakukan para pengacara tersebut.

“Para advokat senior dan advokat muda berkolaborasi yang bau membau, bersinergi untuk mengungkap kebenaran, mencari keadilan serta meminimalisasi sikap pelanggaran hukum, HAM, kode etik maupun mal administrasi yang dilakukan aparat penegak hukum,” katanya

Demikian juga Ketua LUIS Edi Lukito berharap TASNIM kali ini menjadi titik tolak untuk advokasi umat khususnya mengadvokasi ulama dan aktivis muslim. Acara ramah tamah berjalan lancar dan diakhiri dengan shalat maghrib berjamaah dan buka puasa bersama.

Dalam sidang Rabu besok (31/5/2017), para terdakwa LUIS akan menjalani sidang terakhir yaitu putusan dari majelis hakim

‘Status Tersangka Habib Rizieq Bukti Nyata Pemerintah Kriminalisasi Ulama’

BANDUNG (Jurnalislam.com) – Ketua Humas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jawa Barat Luthfi Afandi menilai status tersangka Habib Rizieq yang ditetapkan bahwa perlakuan pemerintah terhadap para ulama merupakan bentuk nyata dari kriminalisasi ulama.

“Hal ini menguatkan bahwa bukti pemerintah mengkriminalisasi ulama dan aktivis Islam seperti ustadz Al Khattath, Habib Rizieq, dll,” katanya kepada jurnalislam.com di Bandung, Selasa (30/5/2017).

Menurut Luthfi, kesan bahwa pemerintah sekarang merupakan rezim represif anti Islam tampak dari kriminalisasi ulama, aktivis hingga ormas Islam.

“Seperti rencana pemerintah membubarkan HTI, bukti bahwa ada upaya kriminalisasi. Kita hadapi secara hukum,” katanya.

HTI, menurut Luthfi meminta pemerintah agar berhenti melakukan hal-hal yang akan memancing reaksi umat Islam.

Pengamat : Ormas Sweeping Geng Motor Justru Bantu Tugas Polisi

YOGYAKARTA (Jurnalislam.com) – Pengamat hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia Prof Mudzakir mengatakan, sebaiknya polisi tidak melakukan pelarangan pada masyarakat atau ormas yang turut melakukan pengamanan di masyarakat. Sebaiknya, polisi melakukan koordinasi sedemikian rupa dengan masyarakat untuk menciptakan keamanan.

“Kan sama dengan orang siskamling ya itu. Kalau tujuannya untuk menjaga keamanan itu kan justru membantu tugas polisi,” kata Mudzakir dilansir Republika.co.id, Senin (29/5/2017).

Menurut dia, jika polisi melakukan pelarangan, berarti polisi harus bertanggungjawab sepenuhnya atas segala hal yang terjadi dimasyarakat. Dan harus bisa menjamin keamanan bagi seluruh rakyat tanpa terkecuali. “Kalau itu dilarang polisi harus bertanggungjawab sepenuhnya. Lalu, rakyat tugasnya tidur saja,” ujar Mudzakir.

Belakangan, beredar video tentang pembubaran salah satu ormas yang melakukan sweeping geng motor oleh polisi. Kadivhumas Polri Pol Setyo Wasisto menegaskan, sweeping (penyisiran) adalah tugas aparat penegak hukum, ormas cukup membantu dengan memberikan informasi kepada polisi.

Jadikan Ramadhan Bulan Perjuangan Umat Islam

Oleh: Ustadz Hamzah Baya S.Pd.i | Ketua Mimbar Syariah Indonesia

Ramadhan merupakan bulan kemenangan umat Islam. Sebab, sejarah Islam tak pernah lepas dari bulan Ramadhan. Hampir semua peristiwa monumental yang positif terjadi dalam bulan suci Ramadhan, seperti turunnya Al Qur’an, terjadinya berbagai peperangan yang dimenangkan umat Islam yang juga titik balik sejarah, perebutan kembali Kota Makkah, dan banyak lagi peristiwa lainnya. Ramadhan harus bisa menjadi motivasi membangun optimisme bersama.

Tantangan umat Islam saat ini begitu besar untuk bisa mengembalikan eksistensi jati diri dan kejayaan umat Islam di tengah krisis yang melanda umat hari ini. Krisis yang ada hari ini tidak hanya krisis ekonomi tapi dari segala lini kehidupan umat Islam yang belum mampu menjalankan syari’at Allah Robbul’alamin secara kaffah (sempurna) sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” (Al-Baqarah : 208)

Seperti krisis budaya, pendidikan, politik dan militer semua masih mengikuti apa yang menjadi kekuasaan orang-orang kafir hari ini. Bahkan kekuatannya bisa mengendalikan kehidupan umat Islam dan seluruh dunia pada umumnya. Sementara kaum muslimin wajib untuk mengatur kehidupan dirinya, keluarga dan masyarakat bahkan negara dengan syariat Allah subhanahu wata’ala agar mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Laahaula walaa quwwata illa billah.

Melihat krisis yang melanda umat Islam tersebut, seyogyanya pada bulan Ramadhan yang mulia ini kita belajar dan berupaya sekuat tenaga untuk memperbaiki keadaan umat menjadi lebih baik. Dengan tarbiyah langsung dari Allah azza wajalla melalui tarbiyah Ramadhan agar kita bisa bersabar, banyak berkorban dan hanya memohon ampunan serta pahala dari Allah semata dalam berjuang. Sesungguhnya krisis yang melanda umat Islam hari ini hanya akan selesai dengan perjuangan. Karena itu, jadikanlah bulan Ramadhan ini sebagai bulan perjuangan sehingga kita bisa melewati krisis ini.

Semangat perjuangan bangsa ini bisa ditumbuhkan jika semangat beragama menyatu dengan semangat membangun bangsa. Sebab, kedua elemen tersebut tidak bisa dipisahkan oleh setiap umat Islam Indonesia. Negeri ini merdeka berkat semangat keislaman dan semangat kebangsaan yang tumbuh dalam diri para pahlawan. Sebab 99% kemerdekaan ini juga karena kemauan dan perjuangan umat Islam.

Selain menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, berpuasa pada bulan Ramadhan juga menjadi media untuk melatih jiwa agar bisa memenangkan jihad fi sabilillah, memenangkan perang yang sesungguhnya. Dalam setiap pertempuran, kekuatan jiwa menjadi modal utama bagi para pasukan. Ketika semangat jiwanya menguat maka hal itu akan berdampak pula pada jasadnya sehingga ia pun akan semangat dan kuat.

Oleh karena itu, selain dinamakan dengan syahrus shiyam (bulan puasa), Ramadhan juga disebut dengan syahrul jihad wal intisharat (bulan jihad dan kemenangan). Sebab, kedekatan hamba dengan Allah menjadi salah satu faktor utama dalam meraih kemenangan. Dan Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Catatan sejarah banyak membuktikan mayoritas peperangan dan kemenangan kaum muslimin diraih pada bulan Ramadhan. Berikut ini diantaranya:

1. Perang Badar Al-Kubro, yaitu pertempuran yang pertama terjadi dalam sejarah Islam. Perang ini berlangsung pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah.
2. Fath Makkah (Penaklukan kota makkah) yang dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah
3. Ma’rakah Buwaib, yaitu pertempuran antara kaum muslimin melawan Persia di daerah Buwaib, Irak. Perang yang dipimpin oleh Mutsanna bin Haritsa ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 13 H.
4. Ma’rakah Qodisiah, yaitu peperangan yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun 15 H. Kaum muslimin dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqas melawan pasukan Persia di Qodishiah dan berhasil membawa kemenangan
5. Penaklukan kota Andalus, yaitu pada tanggal 28 Ramadhan tahun 92 H. Kaum muslimin dipimpin oleh Tariq bin Ziyad melawan tentara Goth di daratan Andalus itu, atau sekarang disebut dengan Spanyol. Dalam peperangan tersebut kaum muslimin berhasil meraih kemenangan.
6. Penaklukan India dan Pakistan oleh pasukan Islam di bawah Komandan Qasim bin Muhammad Ats-Tsaqafi. Peperangan ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 94 H
7. Fathu Umuriyah (Penaklukan kota Amuriyah) dari Kekaisaran Bizantium, yaitu pada bulan Ramadan, tahun 223 H. Penaklukan yang digagas oleh Khalifah Mu’tasim terjadi ketika Raja Romawi menyerbu kaum muslimin dan memotong hidung serta telinga para tahanan muslim. Mendengar kejadian tersebut, Khalifah Mu’tashim dengan segenap pasukannya berhasil menyerang pasukan Romawi dan menaklukkan kota Amuriya.
8. Pertempuran Harim, pada bulan Ramadhan tahun 559 H. Dimana umat Islam yang dipimpin oleh Nuruddin Mahmud Zangki, berhasil melawan Tentara Salib dan membebaskan kota Harim, Idlib.
9. Pertempuran Hittin, pada bulan Ramadhan tahun 584 H. Kaum muslimin yang dipimpin oleh Salahuddin berhasil mengalahkan tentara salib dan membebaskan Baitul Maqdis, Yerusalem
10. Pertempuran ‘Ain Jalut, pada bulan Ramadhan tahun 685 H. Dalam peperangan tersebut, umat Islam yang dipimpin oleh Sultan Qutuz berhasil melawan pasukan Tatar yang telah membunuh jutaan kaum muslimin di negara-negara Islam.

Semoga dengan tarbiyah Allah SWT pada bulan Ramadhan ini bisa membangkitkan semangat kita untuk terus melatih jiwa agar lebih siap menjemput kemenangan demi kemenangan dalam setiap medan pertempuran. Dan semoga Allah SWT memberikan pertolongan kepada seluruh pejuang kaum muslimin, mujahidin dimana saja, serta mendatangkan pertolongan kepada kaum muslimin sehingga tegak syari’at Allah di muka bumi dengan membawa kebaikan dan keadilan. Wallahua’lam bisshowab