Menepuk Memori, Mengembalikan Makna Pancasila

2 Juni 2017
Menepuk Memori, Mengembalikan Makna Pancasila
@rizkilesus, ilustrasi: wmhdn

Oleh: Rizki Lesus*

“Pokoknya saya Pancasila!” katanya ngotot, sambil ngedumel dalam hati,”lawan radikalisme,” seraya menunjuk kaum radikal yang katanya anti Pancasila di seberang sana. Profil Picture-nya berubah, menggunakan warna merah, katanya biar nasionalisme dan Pancasilais sejati. Maklum, jarang-jarang lagi bisa teriak-teriak Pancasila.

Intinya kita merayakan saja, merayakan hari kelahirannya!

Walau katanya, kelahirannya masih diperdebatkan karena beberapa pakar tak sepakat. Tapi, ok lah, karena sudah ditetapkan penguasa, maka lahirnya dan makna Pancasila harus versi penguasa.

Rupanya ditetapkannya 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila oleh Pak Jokowi membuat diskursus tentang Pancasila jadi marak kembali. Jagad dunia maya dan tiap gawai kemasukan isu tentang Pancasila. Orang-orang jadi membuka lagi referensi-referensinya, termasuk website ini, jejakislam.net, hehehe.

“Yang tidak sesuai kami, kamu anti Pancasila. Saya gebuk kamu!” boleh jadi ada yang teriak-teriak begitu. “Pokoknya, kami Pancasilais, pro NKRI, pro kebhinekaan,”klaimnya.

Siapa yang tidak Pancasila, tidak NKRI, tidak bhineka? Jawabnya dari dulu sampai sekarang sama saja. Umat Islam yang ingin menjalankan syariatnya jadi tertuduh. Kita coba mengetuk ingatan kita, bahwa tudingan-tudingan seperti itu sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu.

Lebih-lebih para perumus Pancasila seperti Haji Agus Salim dan KH Wahid Hasyim harus menjawab tudingan seperti itu. Nggak lucu memang, para pembuat Pancasila dituduh anti Pancasila. Tapi itulah, dunia tak selalu harus lucu.

Sebelum wafatnya, putra Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari mencatat dalam majalah Gema Muslimin bilang, ada kaum yang “Dituduh bukan warga negara,” kata KH Wahid Hasyim. Jauh sebelumnya, media-media asing sudah mengecap: Radikal, Fanatik, seperti dalam halaman New York Times tanggal 19 November 1945 berbincang tentang Perang Surabaya.

Setelah merdeka, sematan anti Pancasila, pengkhianat Pancasila, anti NRKI bermunculan. Perumus Pancasila, Haji Agus Salim dalam tulisannya Ketuhanan Yang Maha Esa (1953) mengatkan ada pihak yang ingin memutarbalikkan fakta dan mengklaim dirinyalah yang Pancasilais.

“Tiap-tiap aliran membanggakan bahwa hanyalah ia yang berpegang kepada ‘Pancasila yang Sejati’. …dan tiap-tiap aliran menuduh mendakwa aliran –aliran yang lain dengan ‘khianat’ kepada asas Pancasila dan memutarbalikkan kenyataan,” kata Haji Agus Salim dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim (1984)

Salah seorang dari 9 perumus Pancasila pada tanggal 22 Juni 1945 ini menyadari bahwa ada pihak yang memutar balikkan kenyataan. Padahal, kata Haji Agus Salim, seharusnya orang yang mengaku ‘berPancasila’ tidak boleh bertentangan dengan sila pokok yang pertama dan paling utama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Jika akan sesuai dengan dasar Pancasila kita itu, maka bagaimana pun perbedaan haluan yang dipentingkan oleh berbagai aliran itu dan bagaimana pun cara mengusahakan atau ‘memperjuangkan’ tujuan-tujuannya masing-masing pertama –tama sekali dan terutama tidaklah boleh menyalahi pokok dasar yang pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa,” tegasnya.

Apakah menuntut keadilan bertentangan dengan sila pertama? Atau menista agama sangat bersesuaian dengan sila pertama? Ada baiknya, kita mengembalikan makna Pancasila menurut para perumusnya.

Kata Haji Agus Salim bahwa ada pihak yang memutarbalikkan kenyataan. Padahal, menurut perumus Pancasila ini, Sila Pertama merupakan sila pokok yang paling penting dalam Pancasila.

Orang yang menegakkan Pancasila, menurut Haji Agus Salim pasti menegakkan sila pertama. “Tegasnya tidak boleh menyimpang daripada hukum agama yang berdasarkan kepada wahyu daripada Tuhan Yang Maha Esa sesuai fiman Allah di dalam al Quran…”

Sebagai perumus Pancasila, Haji Agus Salim menegaskan kembali bahwa sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila pokok dan dasar meliputi empat sila lainnya.

“Tentang pokok dasar yang pertama ini, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, yang memang menjadi pokok yang istimewa dalam karangan ini masih akan berikut keterangan yang lebih luas, insya Allah pada hakikatnya memanglah pokok yang pertama ini bersifat meliputi, dan telah terkandung di dalamnya empat pokok dasar yang berikut di dalam Pancasila kita,” tulisnya masih dalam buku 100 Tahun Haji Agus Salim.

Tak hanya Haji Agus Salim, perumus Pancasila lainnya Mohammad Hatta bilang bahwa sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa merupakan sila utama yang dengannya 4 sila lainnya ternaungi cahaya. Berikut perkataan Bung Hatta:

Bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ialah Allah, tidak lain kecuali Allah. Saya sendiri yang mengusulkan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ dijadikan sila pertama supaya Allah dengan Nur-Nya menyinarkan Nur-Nya itu kepada sila-sila yang empat lainnya.” Sebagaimana dikutip Kasman Singodimedjo dalam , Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun. (Jakarta: Bulan Bintang, 1982)

Kasman Singodimedjo, yang terlibat lobi politik karena diminta Bung Karno dan Hatta mengganti kalimat ‘Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-pemeluknya’ menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ meyakinkan bahwa maksud Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Allah.

Tuhan Yang Maha Esa itu adalah Allah, Allahu Ahad, Allahu Shomad, Allah Yang Tunggal, dan dari Allah yang Esa itulah sesuatunya di alam semesta ini, dan siapapun juga bergantung dan tergantung. Dan itulah Allah yang tidak beranak (Lam Yalid) dan Yang tidak diperanakkan (Wa Lam Yulad), pula tidak ada di alam semesta ini siapapun dan apapun yang sama atau mirip-mirip dengan Yang Maha Esa (Allah) itu (Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad).” ( Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun. (Jakarta: Bulan Bintang, 1982)

 

Pergantian 7 kata dengan ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’ menurut Hatta tak menghilangkan esensi bahwa umat Islam di Indonesia wajib menjalankan syariat Islam.

“Kami menginsyafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyap dengan menghilangkan perkataan ‘Ketuhanan dengan Kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dan mengganti Ketuhanan Yang Maha Esa,” kata Hatta dalam Memoir-nya.

Karenanya, Ketua Muhammadiyah saati itu Ki Bagus Hadikusumo di depan Hatta menegaskan apa makna Ketuhanan Yang Maha Esa, “Tuhan Yang Maha Esa maknanya ialah Tauhid,” tegasnya.

Kembali kita mengetuk memori, melihat dengan seksama, bahwa para pendiri bangsa kita, sepakat bahwa makna sila pokok pertama adalah tauhid dan Tuhan Yang Maha Esa adalah Allah. Hal ini merupakan kesamaan pandangan para perumus Pancasila seperti dituturkan Haji Agus Salim.

Sebagai salah seorang yang turut  serta membuat rencana pernyataan kemerdekaan sebagai pendahuluan (preambule) rencana undang-undang dasar kita yang pertama di dalam Majelis Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di akhir-akhir kekuasaan Jepang, saya ingat betul bahwa di masa itu tidak ada di antara kita seorang pun yang ragu-ragu, bahwa dengan pokok Ketuhanan Yang Maha Esa itu maksudkan ‘aqidat’, kepercayaan agama dengan kekuatan keyakinan, bahwa kemerdekaan bangsa dan tanah air suatu hak yang diperoleh daripada rahmat karunia Tuhan Yang Maha Esa, dengan KetentuanNya yang dilaksanakanNya dengan semata-mata kekuasaanNya pada ketika masaNya menurut kehendakNya. ( Tim 100 Tahun Haji Agus Salim : 1984, hal. 441)

Dan atas berkat rahmat Allah, para pendiri bangsa ini ingin bersyukur. Bukankah kita dulu tak memiliki senjata mumpuni seperti kepongahan mereka? Bukankah kita dulu hanya bambu runcing?

Berkilo-kilo meter, Bung Karno bersimpuh di depan Tengku Daud Beureuh di pendopo Aceh, memaklumkan jihad melawan mereka yang pongah dengan segala kecanggihan. Bahwa hanya dengan pertolongan Allah, kita memasuki gerbang kemerdekaan.

Berkaca matanya, berujuar di hadapan pemimpin besar Aceh ini, “Memang yang saya maksudkan adalah perang yang dikobarkan oleh pahlawan Aceh seperti Teungku Cik di Tiro, perang yang tak kenal mundur, perang yang bersemboyan merdeka atau syahid.”

Atas berkat rahmat Allah, negeri ini merdeka, maka tak bolehnya setangkai syukur ini semerbak. Daud Beureuh dan rakyat Aceh menyatakan siap, asal kelak, setelah kemenangan atas rahmat Allah, negeri ini menjadi negeri yang pandai bersyukur, agar mereka secara bebas menjalankan syariatnya.

 “Kakak, (panggilan Soekarno kepada Daud Bereuh), tak usah khawatir. Sebab, 90 persen rakyat Indonesia beragama Islam,” kata Soekarno.

 “Maafkan saya, Saudara Presiden. Kami menginginkan sesuatu kata ketentuan dari Anda,” kata Daud Beureuh. Sukarno mengagguk pelan. Tapi dia terkejut ketika Beureuh menyodorinya secarik kertas. Rupanya dia meminta Sukarno menuliskan sesuatu.

Air mata Soekarno tumpah ruah. Bulir bening itu mengalir deras meleleh melewati pipinya. Dirinya terisak. “Air mata sampai membasahi pakainnya,” tutur Ibrahim, menanti Beureuh sebagaimana dilansir Majalah TEMPO edisi khusus Daud Beureuh.

“Bukan kami tak percaya. Sekadara tanda untuk diperlihatkan kepada rakyat Aceh yang kami ajak berperang,” kata Daud Beureuh meyakinkan Soekarno, bahwa dengan jihad, umat tak kan gentar melawan kekuatan besar yang menanti, bahwa ada pertolongan Allah di sana!

Soekarno terus menangis, memberikan janji, janji yang sempat tak tertunai.

Wallah, Billah, kepada daerah Aceh nanti akan diberikan hak menyusun rumah tangganyta sendiri sesuai dengan syariat Islam,” katanya terisak. Melihat Soekarno menangis, Beureuh merasa iba, dan memegang janji sang pemimpin.

Maka menangislah kita, melihat memori-memori indah perjuangan negeri ini. Menangislah melihat keinginan yang luhur dari mereka, para pendahulu kita. Yang menorehkan kalimat yang begitu nyata:

Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa dan dengan di dorong kan oleh keinginan luhur supaya ber kehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Tak heran, para pendiri bangsa ini ingin sedikut bersyukur dengan menjalankan aturan-aturanNya, karena kemerdekaan diperoleh atas berkat Rahmat Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

“Dan Kemudian, setelah tercapai kemerdekaan yang men jadi idaman cita-cita, yang tak pernah padam dalam bangsa kita, istimewa umat  Islam, dalam semasa kita ditakluk-tundukkan oleh kekuasaan asing, yakin pula kita bahwa segenap bangsa kita yang beragama menyambut nikmat karunia itu dengan bersyukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Maka pastilah bahwa pokok dasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu pernyataan aqidat tersebut di atas tadi. ( Tim 100 Tahun Haji Agus Salim : 1984, hal. 441)

Kesepakatan tentang makna sila pertama yaitu tauhid, membuat Ketua MUI pertama Buya Hamka meminta agar umat Islam menjalankan dan menghidupkan Islam dalam kesehariannya. Sebab, menghidupkan Islam berarti menghidupkan Pancasila.

“Oleh karena yang menjadi urat tunggang dari Pancasila itu adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, dan itu saja perjuangan yang pertama dan utama, dengan sendirinya sila ke-lima ini, yaitu kebangsaan, dapatlah berjalan sebaik-baiknya,” kata Hamka dalam buku Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila. (2001)

Lebih dari itu, Hamka mengaskan untuk menjamin Pancasila tegak di bumi pertiwi, tokoh Muhammadiyah ini meminta agar masyarakat Indonesia menghidupkan Islam dengan landasan kalimat tauhid!

“Maka, untuk menjamin Pancasila, marilah kita bangsa Indonesia yang mengakui Allah sebagai TuhanNya dan Muhammad sebagai Rasulnya bersama-sama menghidupkan agama Islam dalam masyarakat mita.”(Debat Dasar Negara Islam dan Pancasila. (2001), Pustaka Panjimas, hal.143)

Sebab, menurut Hamka, Pancasila telah hidup semenjak Islam datang ke Indonesia. Menggerakkan para ulama dan syuhada untuk membela agama dan negara, hingga Allah anugerahkan kemerdekaan.

Bung Karno pernah berkata, “Pancasila itu telah lama dimiliki oleh bangsa Indonesia, sejak lahirnya Sarekat Islam yang dipelopori oleh Almarhum HOS Tjokroaminoto..”

Maka, Hamka menambahkan:

“Pancasila telah lama dimiliki oleh bangsa Indonesia, yaitu sejak seruan Islam sampai ke Indonesia dan diterima oleh bangsa Indonesia. Kita tak usah khawatir falsafah Pancasila akan terganggu, selama urat tunggangnya masih tetap kita pupuk: Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Maka, kita kembalikan kembali makna Pancasila yang selama ini terlupakan.”Hanya dengan memegang teguh agama Islam saja, itu sudah otomatis menegakkan Pancasila,” kata Doktor pertama politik kita, Prof. Dr. Deliar Noer dalam Islam, Pancasila dan Asas Tunggal (Jakarta: Yayasan Perkhidmatan, 1983).

Kata Prof. Deliar Noer, ada pihak yang menjadikan Pancasila manis di lisan, dengan mengatakan dirinyalah yang Pancasila. “Ada orang-orang yang mengutamakan nama, mengutamakan kulit, mulut manis di bibir, ucapan, ataukah perbuatan dan sikap?” katanya dalam buku yang sama.

“Seorang bayi umpamanya tidak didengungkan nyanyian Pancasila, tetapi mungkin sekali dengan nyanyian yang disertai dengan harapan atau doa supaya ia lekas besar supaya kelak menjadi anak yang berbakti kepada ibu dan ayahnya, dan supaya menjadi anak yang diridhai Allah,” kata Deliar Noer, maka dengan sendirinya ia telah mengamalkan Pancasila.

Sebaliknya, mengaku-aku Pancasila, sembari menuding sana-sini anti Pancasila, menghina ulama, nyinyir kepada ajaran agama, menolak perda berbau agama, mengumpat, menghina, menista, justru mengaburkan makna sebenarnya dari Pancasila.

Menepuk memori, membuat kita menghargai pendahulu kita. Membuat Pancasila berada pada makna yang hakiki. Sebab, bukan menjalankan ajaran agama yang akan membuat negeri ini pecah seperti yang ditakutkan dan ditudingkan. Yang membuat negeri terpecah karena abai sejarah.

Abai sejarah membuat negeri ini menuju negeri pelupa. Menepuk memori mengingatkan kita kembali, mengapa kita berada di sini: Indonesia.

Maka, ucapan sejarawan kesohor Peter Carey dalam bukunya Takdir  (2014) ini menjadi renungan kita bersama,” Tanpa cinta dan penghargaan pada sejarah mereka sendiri, Indonesia akan terpecah dan orang-orang Indonesia akan hidup terkutuk selamanya di pinggiran dunia yang mengglobal tanpa tahu siapa diri mereka sebenarnya da akan kemana mereka pergi.”

*Penulis buku Perjuangan yang Dilupakan, co-founder Jejak Islam untuk Bagsa (JIB) / jejakislam.net