Galang Dana, Masjid Mujahidin Surabaya Hadirkan Relawan Kemanusiaan untuk Rohingya

SURABAYA (Jurnalislam.com)—Masjid Muhahidin Perak Surabaya bekerjasama Insan Al Furqan dan Forum Me-Dan menggelar Tabligh Akbar Peduli menghadirkan Ustaz Utsman bin Sef dan Ustaz Sunaryo (Relawan dari Forum Medis dan Aksi Kemanusiaan – Forum Me-Dan) pada hari Ahad (1/1/2017).

Acara ini dihadiri ratusan jamaah. Setelah mendengar viedeo dan cerita dari relawan Forum Me-Dan yang langsung ke Myanmar, jamaah bergegas mengumpulkan dana kemanusiaan untuk Rohingya hingga terkumpul berupa 6 cincin emas dan uang tunai Rp 23.920.000.

“Dari ibu-ibu banyak yang menangis” Kata Diah salah satu peserta Tabligh Akbar. Salah satu penyelenggara, Ketua Insan Al Furqan ustaz Abdul Aziz turut menyampaikan pesan kepada umat Islam khususnya di Indonesia, bahwa sebuah kewajiban kepedulian umat Islam Indonesia untuk membantu saudara muslim Rohingya dengan segala daya dan upaya sesuai kapasitas masing-masing.

“Menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat dan lembaga sosial maupun kemanusiaan supaya bersatu padu untuk menyelesaikan urusan saudara kita Rohingya. Bahkan bila perlu mendukung lembaga yang sudah berhasil menembus ke lokasi, sehingga tepat sasaran. Bukan hanya di perbatasan. Karena yang masih banyak yang belum tersentuh oleh bantuan,” pungkasnya.

JIB – JITU Luncurkan Buku Sejarah PKI ‘Dari Kata Menjadi Senjata’

JAKARTA (JURNALISLAM.COM)–Bekerjasama dengan Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) meluncurkan buku ‘Dari Kata Menjadi Senjata : Konfrontasi Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Umat Islam’, bertempat di Masjid Abu Bakar As Shidiq Jakarta, (1/1/2017).

“Buku ini berisi tentang sejarah komunisme di Indonesia, pemikirannya, konfrontasinya dengan umat Islam, dibahas mulai sebelum ada PKI hingga pasca 1965,” kata penulis buku yang juga pegiat JIB, Beggy Rizkiansyah. Menurutnya, buku merupakan gabungan tulisan dari peliputan yang dilakukan JITU menemui para saksi dan juga penelitian yang dilakukan JIB.

“Kami mewawancarai saksi-saksi terkait mulai dari orang-orang PKI, simpatisan PKI, yang dituduh PKI, yang dituduh simpatisan PKI, pelaku-korban, sejarawan, budayawan, dan pihak-pihak terkait baik ‘kiri’ atau ‘kanan’,” tambah Rizki Lesus, penulis buku dan juga tim liputan JITU.

Hasilnya, buku setebal 550 halaman ini kini bisa dipesan oleh pembaca. “Kami berharap buku ini menjadi alternatif bacaan di saat banyak buku-buku beredar versi orang-orang kiri, atau versi orde baru. Ini menjadi alternatif bagaimana dalam sudut pandang Islam memandang komunisme dan PKI,” kata Beggy.

Acara ini juga menghadirkan salah seorang penulis, jurnalis senior Hanibal Wijayanta yang membahas siapa dalang di balik malah pemberontakan 30 September 1965. Puluhan jamaah antusias menghadiri acara dan bertanya tentang PKI.

Kemenag Jateng Berkilah Tak Bisa Keluarkan Rekomendasi Pelarangan Asyuro Syiah

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Kementerian Agama Jawa Tengah dinilai terkesan lepas tangan soal akan diselenggaranya perayaan Syiah di kota Semarang.

“Saya melihat dari kemenag ada semacam lepas tangan dengan merasa cukup tidak berkompeten memberikan izin,” kata perwakilan Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) Jateng ustaz Fuad Alhazimi, saat melakukan audiensi bersama ormas Islam se-Jateng di Kantor Kemenag Jateng, Kamis (28/9/107)

Ia mengaskan bahwa perwakilan ormas-ormas yang hadir hanya meminta Kemenag mengeluarkan rekomendasi penolakan acara syiah, berdasarkan keputusan MUI dan buku MUI yang telah beredar dan menyatakan bahwa syiah menyimpang dan membahayakan NKRI.

Baca : Sempat Tidak Diizinkan, Kemenag Jateng Malah Rekomendasikan Perayaan Asyuro Syiah

“Yang kami butuhkan yaitu rekomendasi dari Kemenag untuk disampaikan kepada polisi agar polisi melarang tidak memberika izin,” jelasnya

Menurutnya ini sudah tahun keempat ormas Islam merasa dipermainkan oleh pihak atau lembaga-lembaga yang seharusnya berkompeten bisa menekan syiah.

“Karena ini tahun ke empat kami di lempar, dipingpong (permainkan) seperti ini. Sebelumnya dikatakan Kesbangpolimas , Polres, MUI, kalo ada kegentingan (suasana mencekam) baru melawan, itu sudah tiga tahun yang lalu disampaikan,” cetusnya.

Seperti diketahui, Kemenag memberikan rekomendasi perayaan Asyuro Syiah dan berkilah tidak bisa melarangnya karena bukan domain kemenag. Padahal, MUI sendiri sudah menyatakan syiah ajaran menyimpang melalui sikap MUI dan buku MUI yang sudah beredar di masyarakat.

Asyuro Syiah Tetap Digelar, Ormas Islam se-Jateng Sepakat Gelar Aksi Langsung di Lokasi

SEMARANG (Jurnalislam.com) – Elemen ormas Islam menegaskan apabila rekomendasi tidak dikeluarkan oleh Kemenag, perwakilan ormas Islam yang hadir sepakat akan mengerahkan laskar untuk melakukan aksi damai penolakan syiah dilokasi acara syiah dilaksanakan, dan itu akan berlanjut terus menerus setiap tahunnya jika rekomendasi penolakan syiah tidak dikeluarkan.

“Jika tidak ada rekomendasi itu kami besok hari ahad akan mengerahkan laskar sebagaimana tahun-tahun sebelumnya dan tiap tahun kami akan seperti ini dan Allah menjadi saksi bahwa kami sudah sampaikan dan bapak juga paham bahwa inilah Ahlussunah,” kata perwakilan ormas Islam ustaz Fuad Al Hazimi dalam audiensi ormas Islam se-Jateng dengan Kemenag di kantor Kemenag Jateng, Kamis (28/9/2017).

Kepala bidang Penerangan Agama Islam ( Kabid Penais ) Saidun mengatakan pihaknya tidak punya wewenang dalam mengijinkan maupun melarang perayaan syiah.

“Kami tidak pada kapasitas untuk melarang komunitas bagian dari bangsa indonesia dalam mengadakan perayaan agama sepanjang diselenggarakan tidak menggangu ketertiban dan keamanan,” ucapnya kepada para perwakilan ormas yang hadir.

Ormas Islam mengaku kecewa atas sikap Kemenag karena bertentangan dengan sikap MUI dan juga para ulama terkait syiah. Karenanya, ormas Islam akan tetap menggelar aksi damai menolak perayaan asyuro syiah.

Seperti diketahui, Syiah merupakan ajarang menyimpang yang sudah ditetapkan oleh MUI. Syiah juga dinilai MUI patut diwaspadai karena membahayakan negara.

Ormas Islam se-Jateng Desak Kemenag Tak Izinkan Perayaan Asyuro Syiah

SEMARANG (Jurnalislam.com)—Kemenag Jawa Tengah mengkalim telah memberikan rekomendasi perayaan asyuro syiah di Semarang, walau Hotel UTC telah mencabutnya.

Baca : Kemenag Berikan Rekomendasi Perayaan Asyuro Syiah di Semarang

Mengetahui hal tersebut, elemen ormas Islam se-Jawa Tengah mendatangi kantor Kemenag Jateng mendesak Kemenag mencabut rekomendasi tersebut. Panglima Laskar FPI Jateng KH Ahmad Rofii memegang teguh rekomendasi para ulama agar jangan sampai acara syiah terjadi.

“Kami memohon jangan sampai itu terjadi atau pindah tempat dimanapun karena Syiah itu bukan bagian dari islam, namun mengatasnamakan Islam untuk memperpecah belah umat Islam,” katanya saat melakukan audiensi bersama gabungan ormas se- Jawa Tengah dengan kementerian Agama (Kemenag) Jawa Tengah di gedung Kemenag Jateng Jl. Sisimangaraja no 5 Semarang, Kamis (28/9/2017)

Menurutnya perkembangan syiah di Jawatengah sama besarnya dengan perkembangan PKI, sehingga perkembangan tersebut harus diwaspadai. Apalagi di Jatim syiah terbukti memberontak dan difatwa sesat oleh MUI Jatim dan juga pelakunya divonis bersalah oleh pengadilan.

“Di jateng ini besarnya Syiah sama dengan besarnya PKI, besarnya PKI sama dengan besarnya Syiah, keduanya harus diwaspadai dan dicegah,”tutur sosok yang biasa dipanggil Kyai Rofi’i tersebut

Walaupun demikian sebagai perwakilan ormas Islam beliau berharap agar Kemenag mengeluarkan rekomendasi penolakan Syiah dan PKI untuk disampaiakan ke umat

“Harapan kami membawa oleh-oleh yang bisa kami syiarkan kepada Nahdliyin dan Muhammadiyah bahwa kKmenag sudah menolak syiah dan pki di Jateng,” pungkasnya.

Sempat Tak Diizinkan, Kemenag Jateng Malah Berikan Rekomendasi Perayaan Asyuro Syiah

SEMARANG (Jurnalislam.com)—Ormas Islam Jawa Tengah menyayangkan keputusan Kemenag yang mengizinkan acara Asyuro Syiah tanpa melibatkan elemen-elemen umat Islam. Kemenag sendiri mengklaim bahwa acara syiah dapat berlanjut walau pihak hotel sudah membatalkannya.

baca juga : Hotel UTC Cabut Izin Penyelenggaraan Asyuro Syiah di Semarang

“Kami Polrestabes semarang, MUI Jateng, Kesbangpolimas Jateng, Kemenag Jateng, PWNU Jateng, PW Mohammadiyah Jateng menyatakan tidak mempermasalahkan kegiatan tersebut,” kata kabag tata usaha Kemenag Jateng Suhersi mengklaim, saat audiensi bersama ormas Islam di Kantor Kemenag Jateng Kamis (28/9/2017)

Kesepakan tersebut, klaim Suhersi adalah hasil pertemuan di Polrestabes pada hari Rabu kemarin (27/9) bersama pihak Yayasan Syiah Nuruts Tsaqolain

Kesepakatan tersebut menurutnya sah-sah saja memberikan rekomendasi perayaan syiah selama dalam mengadakan acara tidak bertentangan dengan aturan’aturan yang berlaku

“Tidak bertentangan dengan pancasila, UUD 1945, NKRI , Menyanyikan lagu Indonesia raya, mengibarkan bendera merah putih, tidak bertentangan dengan UU yang berlaku, tidak menyakiti diri, tidak mencacimaki istri Rasulullah,”klaim Suhersi

Mendengar pemaparan yang disampaikan pihak kemenag tersebut, perwakilan ormas Islam sangat kecewa atas dikeluarkan rekomendasi tersebut dan sangat menyayangkan kenapa pihak ormas islam yang kontra tidak ada yang diundang

“Kenapa kami tidak dihadirkan dalam pertemuan itu,”ucap salah satu perwakilan ormas tersebut mempertanyakan.

Bahkan kata Ustaz Mas’ud , perwakilan Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menimpali jika syarat mengadakan perayaan syiah adalah tidak bertentangan dengan Pancasila,UUD 1945, mengibarkan bendera merah putih, maka PKI pun bisa melakukan hal itu

“Jika syaratnya cuman seperti itu ya PKI pun bisa,”cetusnya. Seperti diketahui, aliran Syiah dinyatakan menyimpang oleh Majelis Agama Indonesia (MUI) dan perlu diwaspadai. MUI sendiri telah mengeluarkan pernyataan sikap dan buku mewaspadai ajaran Syiah.

Hotel UTC Semarang Batalkan Izin Acara Asyuro Syiah

SEMARANG (Jurnalislam.com)— Hotel UTC Semarang akhirnya membatalkan perayaan Syiah Asyuro yang akan dihelat Ahad (1/10) nanti oleh Yayasan Nuruts Tsaqolain. Hal tersebut dilakukan setelah pihak hotel berkoordnasi dengan Polrestabes, elemen ormas Islam dan para ulama.

General Manager (GM) Hotel UTC, Ade mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan kasat intel dan para habib yang akhirnya mereka juga setuju agar acara di hotel untuk dicabut

“Kami sudah koordinasi dengan Pak Fenti (Kasatintelkam polrestabes Semarang), Habib Sholeh, Habib Hasan Toha Putra dan pak direktur juga sudah memutus untuk tadi tidak (tidak memeri ijin),” kata Ade saat memberi pernyataan di ruang lobby Hotel UTC, Rabu (27/9/2017).

Walaupun sudah mendapat surat pembatalan, menurut Ade, pihak syiah tetap bersikukuh dan menuntut agar pihak hotel tetap memberi ijin dengan alasan sudah menerima pembayaran uang muka

“Ini hanya masalah penyelesaian tuntutan, karena mereka menuntut, sudah mau terima uang tapi dibatalin,” kata ade

Seperti diketahui, pihak hotel akhirnya menjacabut surat ijin penggunaan tempat setelah pengelola hotel disambagi oleh Forum Umat Islam Semarang (FUIS), dengan menyampaikan data-data berkenaan acara syiah tersebut

Saat dihubungi Jurnalislam.com Humas FUIS Danang Setyadi membenarkan bahwa pihak hotel sudah mencabut ijin penggunaaan tempat yang rencananya akan digunakan perayaan syiah

“Iya benar, kami sudah mendapat copy surat pembatalan dari pihak hotel rabu siang,” ucap Danang. Syiah sendiri sudah dinyatakan menyimpang dalam buku resmi MUI dan patut diwaspadai karena mengancam keutuhan NKRI.

Gelar Kajian Peduli Muslim Rohingya, Ribuan Umat Islam Padati Masjid Agung Karanganyar

KARANGANYAR (Jurnalislam.com)- Dalam rangka menyambut 1 Muharram 1439 Hijriyah, Aliansi Umat Islam Karanganyar mengelar Tabligh Akbar ‘Peduli Muslim Rohingya’ dengan menghadirkan pemateri pengasuh MTQ Karomah 13 Palu, Gus Nur dan relawan One, Care Ustaz Kholil Abu Ausath serta Ustaz Dodi Abu Fatih di Masjid Agung Karanganyar, Kamis (19/9/2017).

Ketua panitia kajian Ustaz Syamsudin Asrori mengatakanbahwa acara bertujuan merajut rasa ukhuwah antar ormas Islam di Karanganyar. Selain itu, agar umat Islam ikut merasakan penderitaan muslim Rohingya

“Salah satu ciri iman adalah peduli terhadap urusan muslim yang lain, termasuk urusan saudara muslim di Rohingya, makanya untuk mewujudkan rasa empati ini kami menggadakan Tabligh Akbar ini,”paparnya dihadapan ribuan jamaah yang hadir.

Sementara itu, Ustaz Dodi menjelaskan bahwa kondisi umat Islam di Rakhine State sangat memilukan, menurutnya, konflik yang ada sejak tahun 2012 itu, timbul akibat kecemburuan sosial dari masyarakat Budha terhadap Masyarakat Muslim yang mengalami perkembangan.

” Sejak tahun 2012 mereka di Isolasi, di usir, bahkan mereka tidak punya KTP karena tidak diakui oleh pemerintah Myanmar, dan di desa muslim pun tidak dialiri listrik, di sekitar kampung muslim itu, sebenarnya dibikin Danau, tapi umat Islam dilarang mengambil air tersebut dan akhirnya mengalami krisis air,”terangya.

Sementara itu, Pengasuh MTQ 13 Karomah Palu, Gus Nur menegaskan, bahwa konflik yang terjadi di Rakhine State adalah penindasan yang dilakukan Budha dan militer terhadap muslim Rohingya. Karenanya, ia membantah dengan tegas terhadap pihak-pihak yang menyebut Rohingya hanya sebuah isu politik di Indonesia.

“Rohingya itu bukan politik, Rohingya itu bukan Migas,Rohingya itu bukan pipa, siapa yang bilang politik dan pipa, coba buka matanya, mereka itu saudara muslim kita, sesama muslim itu seperti tubuh, satu sakit yang lainnya sakit,”tegasnya. Dalam acara tersebut, panitia juga melakukan penggalangan dana untuk muslim Rohingya.

Reporter: sardy

Jokowi Diminta Tarik Dubes Indonesia untuk Myanmar

SOLO (Jurnalislam.com)- Ribuan umat Islam Soloraya menggelar aksi Solidaritas Muslim Rohingya, Jum’at (22/9/2017). Massa yang terdiri dari simpatisan Partai Keadilan Sosial (PKS) serta beberapa Elemen umat Islam Soloraya ini melakukan aksi longmarch dari lapangan Kota Barat menuju Bundaran Gladak, jalan Slamet Riyadi, Solo.

Salah satu Orator, tokoh senior Solo Mudrick M Sangidu menilai, pemerintahan Jokowi kurang serius dalam membantu krisis kemanusian di Myanmar. Ia juga mendesak presiden Jokowi untuk menarik duta besarnya dari Myanmar.

Menurut Mudrick, Dubes sudah tidak bisa lagi mewakili kepentingan rakyat Indonesia, terlebih, cenderung berpihak kepada pemerintahan Myanmar.

” Kepada bapak Jokowi untuk menarik duta besar Indonesia di Myanmar, karena tidak bisa wakil rakyat Indonesia dan lebih banyak menjadi perpanjangan Pemerintah Myanmar bahkan mengatakan rakyat Rohingya itu sebagai Teroris, agar ditarik ke Indonesia supaya jadi ketua RT nya di kampungnya,”lanjut pendiri Mega Bintang tersebut.

Sementara itu, orator lain Ketua komisi I DPR RI Abdul Kharis mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia sudah melakukan upaya, namun upaya tersebut tidak cukup berhenti sampai pengiriman bantuan. Ia meminta agar pemerintah satu suara dan singkron sesuai amanat rakyat untuk membantu muslim Rohingya.

” Kita berharap lembaga lembaga kemanusiaan ini di fasilitasi oleh negara kemudian langsung diberikan kepada Muslim Rohingya, kita tidak mau bantuan-bantuan kita disalurkan melalui pemerintah Myanmar. Kita inginkan rupiah rupiah yang kita kumpulkan, langsung kita berikan pada yang berhak menerimanya,”katanya dihadapan Massa.

Dalam aksi tersebut, massa juga mengelar aksi teatrikal tentang kekejaman Biksu Ashin Wirathu dan Aung San Su Kyi terhadap muslim Rohingya.

Ribuan Warga Solo Turun ke Jalan Gelar Aksi Bela Rohingya

SOLO (Jurnalislam.com)- Ribuan umat Islam Soloraya menggelar aksi Solidaritas Muslim Rohingya, Jum’at (22/9/2017). Massa yang terdiri dari simpatisan Partai Keadilan Sosial (PKS) serta beberapa Elemen umat Islam Soloraya ini melakukan aksi longmarch dari lapangan Kota Barat menuju Bundaran Gladak, jalan Slamet Riyadi, Solo.

Salah satu Orator, tokoh senior Solo Mudrick M Sangidu menilai, pemerintahan Jokowi kurang serius dalam membantu krisis kemanusian di Myanmar.

Ia membandingkan dengan para presiden RI terdahulu yang merespon dengan cepat dalam menangani berbagai konflik di negara lain.

“Indonesia sebagai pimpinan ASEAN dan sebagai umat Islam di dunia namun melihat krisis Rohingya hanya sebelah mata saudara saudara, kalah dengan Zaman pak SBY dia langsung kesana, kalah dengan pak Soeharto masalah Bosnia yang langsung datang kesana dan menanganinya,”tegasnya dihadapan massa.

Dalam aksi tersebut, massa juga mengelar aksi teatrikal tentang kekejaman Biksu Ashin Wirathu dan Aung San Su Kyi terhadap muslim Rohingya.