Koperasi Syariah Dinilai Lebih Baik Dibanding Koperasi Konvensional

JAKARTA (Jurnalislam.com)– Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menilai koperasi syariah secara umum lebih baik dibandingkan koperasi konvensional. Pada tahun ini total alokasi dana bergulir sebesar Rp 1,5 triliun, sebanyak Rp 450 miliar di antaranya akan diperuntukkan khusus pembiayaan syariah.

Direktur Utama LPDB-KUMKM, Braman Setyo menjelaskan, sebanyak Rp 450 miliar tersebut mengalami peningkatan sekitar 125 persen dari tahun lalu. “Setiap tahun meningkat terus karena saya melihat koperasi syariah itu pada umumnya lebih baik dari koperasi konvensional,” ujar Braman dilansir Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Braman menuturkan, dana tersebut nantinya akan disalurkan kepada lembaga pembiayaan syariah seperti koperasi simpan pinjam pembiaayan syariah (KSPPS) dan Baitul Mal wat Tamwil (BMT). Dengan catatan, KSPPS maupun induk koperasi syariah harus berkualitas.

Penilaian kualitas terlihat dari pertama, sertifikat kesehatan koperasi. Kedua, melaksanakan RAT selama dua tahun dan terdapat peningkatan anggota koperasi. Ketiga, memiliki laporan keuangan yang baik. Terlihat dari kesehatan keuangannya seperti rasio solvabilitas capital adequacy ratio/ CAR (rasio kecukupan modal) dan rasio BOPO (biaya operasional terhadap pendapatan operasional).

“Apalagi kalau ada back up dari kantor akuntan publik, kita tidak membatasi berapa KSPPS atau BMT yang masuk ke kita,” kata Braman.

Sementara itu tercatat hingga awal Agustus 2017, alokasi dana sudah terserap dari pembiayaan syariah sebesar Rp 250 miliar. Sisanya ditargetkan akan terealisasi hingga akhir tahun.

Tepis Pernyataan Jokowi, Asosiasi Pengusaha Sebut Daya Beli Memang Lesu

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) melempar pernyataan yang menyebut bahwa daya beli masyarakat Indonesia masih cukup baik. Bahkan, isu penurunan daya beli disebutnya lebih karena faktor politis menjelang 2019.

Ketua Tim Ahli Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sutrisno Iwantono, menjelaskan secara makro memang bisa dibilang ekonomi Indonesia baik-baik saja, namun secara riil ada indikasi yang mengarah pada pelemahan daya beli.

“Daya beli enggak menguat. Orang ritel pada turun dan tidak menguat. Indikator makro enggak bisa cerminkan data mikro yang riil di lapangan. Orang enggan investasi kalau perusahaan, kalau rumah tangga enggan belanja,” kata Sutrisno ditemui di Menara Permata, Jakarta, Rabu (4/10/2017) dilansir Detik.com

Baca juga: Ekonom Ungkap Faktor Penyebab Daya Beli Masyarakat Kini Melemah

Kondisi ini, terang dia, salah satunya lantaran banyak pengusaha memilih berdiam diri atau wait and see. Masih ada kebijakan pemerintah yang dianggap membuat suasana kurang kondusif pada iklim investasi.

“Wait and see
sendiri tidak tahu, siapa yang wait, siapa yang see. Karena kita melihat ada ingar-bingar di kebijakan kabinet seperti lelang gula rafinasi dan HET beras. Lelang rafinasi ditunda-tunda beberapa kali, kemudian kasus beras juga sempat ingar-bingar, jadi tidak konsisten,” jelas Sutrisno

Mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) ini menuturkan, masalah ketidakstabilan tersebut juga terjadi karena koordinasi antar pejabat pemerintah yang belum terjalin dengan baik. Soal isu pelemahan daya beli juga tak sepenuhnya karena faktor politis.

“Saya kira enggak sepenuhnya karena politik. Pengusaha melihatnya karena lebih memilih menunggu, sehingga tidak banyak investasi. Kadang data makro tak selalu mencerminkan data mikro, kita pengusaha kan di mikro,” tutur Sutrisno. (mr/detikcom)

450 Miliar Dana Syariah untuk UMKM Ditargetkan Bergulir Tahun Ini

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Direktorat Pembiayaan Syariah Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menargetkan dapat menyalurkan dana bergulir senilai Rp 450 miliar sampai Desember 2017. Dana tersebut akan disalurkan kepada koperasi syariah maupun sektor usaha riil yang menerapkan prinsip syariah.

Direktur Pembiayaan Syariah LPDB-KUMKM, Jaenal Aripin, mengatakan, setelah pembentukan Direktorat Pembiayaan Syariah, LPDB dapat fokus menyalurkan dana bergulir ke sektor syariah. Dalam sisa waktu sampai akhir tahun setelah dilantik pada 2 Agustus 2017, Jaenal berupaya mencapai target penyaluran dana bergulir ke sektor syariah.

Tahun ini, LPDB mengalokasikan Rp 1,5 triliun untuk disalurkan kepada koperasi dan UMKM. Secara total, sejak 2008 hingga saat ini, LPDB telah menyalurkan Rp 8,5 triliun, dan sebanyak Rp 1,8 triliun di antaranya disalurkan ke sektor syariah.

“Tahun 2017 ini setelah berdiri Direktorat Pembiayaan Syariah, LPDB mengalokasikan Rp 450 miliar untuk disalurkan ke sektor syariah. Yang bisa mengakses yakni koperasi simpan pinjam pembiayaan syariah (KSPPS) dan unit simpan pinjam pembiayaan syariah (USPPS) atau yang kerap disebut BMT, plus bank perkreditan rakyat syariah (BPRS),” jelas Jaenal dilansir Republika.co.id di ruang kerjanya, Jakarta, Selasa (3/10).

Selain itu, Direktorat Pembiayaan Syariah berencana membuat skema pembiayaan baru yang mengakomodasi sektor usaha riil yang menerapkan prinsip syariah. Selama ini, LPDB belum pernah menyalurkan dana bergulir kepada sektor tersebut. “Supaya UMKM yang sekarang berkembang yang ingin mendapatkan pembiayaan syariah bisa diakomodasi,” ujarnya.

Jaenal menjelaskan, penyaluran dana bergulir ke sektor syariah menggunakan skema mudharabah dan musyarakah. Skema mudharabah diterapkan bagi KSPPS/USPPS atau BMT serta BPRS. Teknisnya, bagi hasil setiap bulan ditetapkan sebesar 30 persen untuk LPDB dan 70 persen untuk koperasi, dihitung dari laba kotor.

Sementara skema musyarakah diterapkan bagi sektor riil alias pelaku UMKM. Bagi hasil tetap 30 persen untuk LPDB dan 70 persen untuk pelaku usaha dihitung dari laba kotor. Plafon pembiayaan untuk pola mudharabah minimal Rp 150 juta, sedangkan untuk sektor riil dengan skema musyarakah minimal Rp 250 juta. Sebab, nantinya KSPPS/USPPS/BMT mengakomodasi pelaku usaha mikro. Kemudian ketika usaha sudah besar bisa ditangani oleh LPDB.

“Strategi kami untuk mempercepat penyaluran akan bekerja sama dengan induk koperasi syariah, ada Inkopsyah, Persatuan BMT Indonesia, Koperasi BMT Muhammadiyah, maupun Pusat Koperasi Syariah,” ungkapnya.

Dalam Sejarah Kemerdekaan,TNI dan Umat Islam Kekuatan Besar Indonesia

JAKARTA (Jurnalislam.com) – TNI dan umat Islam adalah dua kekuatan besar milik Indonesia yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan dalam historisnya pun, hubungan TNI dan umat Islam selalu harmonis. Hal tersebut disampaikan Cendekiawan Muslim dan juga guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. KH Didin Hafidhuddin.

Ia berpendapat, selama ini TNI dan umat Islam (adalah) dua kekuatan yang saling melindungi dan menjaga, saling menghormati dan menyayangi. “Jadi, hubungannya hubungan yang secara historis sejak dari dulu memang sangat kuat,” ujarnya melalui sambungan telepon di Jakarta, Kamis (6/10) dilansir Republika.co.id.

Baca juga: Panglima TNI: Peran Ulama Sangat Penting di Era Global

Bahkan, sambungnya, meskipun sudah memiliki nilai historis tersendiri, umat Islam dan TNI tetap harus terus berupaya untuk memperkuat hubungan yang sudah terjalin lama itu. Dengan demikian, ujar Didin, maka diharapkan juga bukan saja dekat dengan TNI, tapi juga mampu untuk menjalin hubungan dengan angkatan lainnya.

“Harus terus diperkuat dengan tidak menafikan yang lain, dan kita berharap dengan kepeloporan TNI ini umat Islam juga akan dekat dengan angkatan-angkatan lain, termasuk dengan polisi,” katanya.

Terakhir, Didin mengucapkan selamat kepada hari lahir TNI yang ke-72. “Di hari ulang tahun TNI yang ke-72 ini, saya ucapkan selamat ulang tahun TNI yang ke-72, Dirgahayu TNI, semoga tetap menjadi penjaga baik dalam bidanga keamanan maupun dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara,” tuturnya.

Polda Metro Jaya Limpahkan BAP Ustaz Alfian Tanjung ke Kejati DKI

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Penyidik Polda Metro Jaya kembali melimpahkan berita acara pemeriksaan (BAP) pegiat anti komunis ustaz Alfian Tanjung ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Sebelumnya berkas perkara Alfian dikembalikan Kejati DKI karena dinilai belum lengkap.

“Kami sudah menyerahkan berkas perkara ke JPU pada 26 September (2017),” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, Kamis (5/10) dilansir Republika.co.id.

Argo mengatakan, setelah dilimpahkan kembali ke Kejati DKI penyidik akan menunggu jawaban dari jaksa penuntut umum. Apakah sudah dinyatakan lengkap atau masih perlu dilengkapi. “Sampai sekarang masih penelitian jaksa apakah penelitian jaksa itu masih kurang apa tidak,” ujarnya.

Baca juga: Dakwaan JPU Dinilai Cacat Hukum, PH Alfian Tanjung Ajukan 5 Poin Eksepsi

Argo berharap, berkas perkara limpahan kedua ini bisa dinyatakan lengkap oleh jaksa peneliti, sehingga Alfian Tanjung bisa segera disidangkan di pengadilan. “Kalau lengkap P21 langsung, kami serahkan barang bukti. Seandainya nanti ada P19 lagi nanti kami perbaiki lagi,” kata dia.

Setelah divonis bebas karena terbukti tidak bersalah, Ustaz Alfian kembali ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan ucapan yang menyinggung kader PDI Perjuangan. Dalam kasus tersebut, dia diduga melanggar Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 3 dan atau Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45a ayat 2 UU ITE. Alfian juga dikenakan Pasal 310, 311, serta 156 KUHP. Ustaz Alfian kini mendekam di Rumah Tahanan Markas Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Rakernas MUI 2017 Akan Bahas Ekonomi Syariah

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Majelis Ulama Indonesia (MUI) ingin mendorong pemerintah agar lebih cepat dan menunjukkan keberpihakannya kepada umat Islam dengan membesarkan ekonomi syariah. Hal ini menjadi agenda pembahasan di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI pada akhir November 2017 mendatang.

Ketua Steering Commitee Rakernas MUI, Muhyiddin Junaidi menjelaskan, hal ini perlu dilakukan agar kue pembangunan dinikmati oleh seluruh masyarakat, tidak hanya sekelompok orang.

“Orang Islam yang sekitar 88 persen hanya menguasai 20 persen ekonomi nasional, kami ingin mengubah itu,” ujar Muhyiddin dilansir Republika.co.id, Selasa (3/10).

Ia menjelaskan, sebelumnya MUI telah mengadakan kongres ekonomi umat yang membahas arus baru ekonomi Indonesia agar memberikan manfaat bagi mayoritas penduduknya. Dalam kongres tersebut ditekankan teori bottom up, yakni ekonomi dari bawah ke atas, tidak lagi top down yang ternyata ekonominya tidak mengucur ke bawah dan hanya dikuasai oleh segelintir orang. “Kami akan membahas hal tersebut,” ujarnya.

Dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia, kata Muhyiddin, Dewan Syariah Nasional MUI telah berkontribusi cukup besar di Indonesia, bahkan mencapai sekitar Rp 200 triliun. Kontribusi ini salah satunya dalam membentuk fatwa-fatwa di bidang ekonomi syariah, perbankan syariah, dan seluruh industri jasa keuangan syariah.

“Nilai Rp 200 triliun itu secara keseluruhan, kita sudah berkontribusi dari sisi pemikiran, bagaimana umat islam bisa bertransaksi, bermuamalah dalam koridor syariah. Ekonomi syariah ini harus terus kita kembangkan,” kata Muhyiddin.

 

Terungkap! Ada Upaya Mengaitkan Serangan Las Vegas dengan Islam

LAS VEGAS (Jurnalislam.com)–Kasus penembakan di Las Vegas oleh Stephen Paddock menyisakan banyak cerita. Salah satu hal yang menarik adalah adanya upaya untuk mengaitkan Muslim dalam teror tersebut.

Usai kejadian, beredar dengan cepat kabar dari kelompok mengaku ISIS yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan berdarah di Las Vegas. Kelompok itu menyebut Paddock telah masuk Islam beberapa bulan lalu.

Paddock yang suka berjudi dikatakan memiliki nama Abu Abd al-Barr al-Amriki. Ia melakukan penyerangan atas perintah Baghdadi. Namun usai penyelidikan, FBI membantah semua klaim tersebut.

Di India, salah satu situs media meminta maaf karena membagikan berita yang menyebut penyerang di Las Vegas adalah seorang Muslim. “It was hysteria. I have never been this scared’: Panic as Las Vegas Muslim shooter opened fire.” Seperti dikutip Outlookindia.com,media yang membagikan kabar tersebut yakni Hindustan Times.

Tak hanya itu Wayne Ally Root yang bekerja di radio Las Vegas dengan cepat dalam Twitter-nya menyebut penembakan itu merupakan serangan Muslim terkoordinasi. “This i real thing. A cleary coordinated Muslim terror attack. Pray for Vegas police. PRAY for victims. Very Bad. Awful.”

Taslima Nasreen, seorang penulis dari Bangladesh yang tinggal di India mengatakan, inilah mengapa orang membenci Muslim. “Who shot at Las Vegas concert? who killed ppl? Most probably it is a muslim terroist inspired by ISIS. It’s the reason why ppl hate Muslim,” tulisnya diTwitter seperti dikutip outlookindia.com.

Semua tudingan itu terbukti tak benar. Pelaku penembakan mematikan di Las Vegas, Stephen Paddock, diketahui merupakan mantan akuntan yang kaya raya.

Pihak berwenang mengatakan, pria berusia 64 tahun ini memiliki lisensi untuk menerbangkan pesawat kecil dan memiliki dua pesawat. Menurut salah satu tetangganya, Paddock adalah seorang penjudi profesional dan agak sedikit aneh.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada kantor berita Reuters, ada alasan untuk percaya Paddock memiliki sejarah masalah psikologis. Saudara laki-laki tersangka, Eric Paddock, mengatakan kepada wartawan, ayah mereka, Patrick Benjamin Paddock, adalah perampok bank yang dulunya ada di daftar paling dicari FBI dan pernah melarikan diri dari penjara.

Sayangnya, Presiden Donald Trump enggan menyebut pelaku sebagai teroris, meskipun korban tewas mencapai 59 orang. Sejumlah pejabat beralasan, pelaku bukan teroris karena tidak memiliki motif ideologi atau politik tertentu. Hal ini tentu akan berbeda jika pelaku adalah seorang Muslim.

sumber: republika.co.id

Ekonom Ungkap Faktor Penyebab Daya Beli Masyarakat Kini Melemah

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Pertumbuhan ekonomi Indonesia memang masih melambat dan belum menunjukkan peningkatan signifikan. Hanya saja, daya beli masyarakat dinilai tidak turun seperti yang diperkirakan. Yang terjadi, ada pergeseran kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan uang yang mereka miliki.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengatakan, daya beli secara keseluruhan tidak turun. Meski begitu, ia mengakui ada tekanan dalam konsumsi domestik yang membuat konsumsi rumah tangga datar.

“Dibandingkan negara tetangga, pertumbuhan konsumsi Indonesia cenderung stabil tapi rendah. Jadi intinya daya beli masyarakat tidak turun tapi pertumbuhannya melemah,” ujarnya dilansir Republika.co.id di Jakarta, Selasa, (3/10).

Ia merinci ada indikasi penurunan konsumsi pada kelompok masyarakat menengah dan atas karena mereka beralih ke tabungan. Hal itu menyebabkan uang masyarakat semakin banyak mengendap di bank.

Pada sisi lain, jelas Faisal, pertumbuhan kredit cenderung turun. Sudah hampir 11 bulan berjalan pada 2017 ini tapi pertumbuhannya belum mencapai dua digit.

Faisal mengungkapkan ada perilaku masyarakat yang harus ditelaah mengapa lebih banyak ke tabungan. Pada 2012, hanya 18,6 persen masyarakat yang menabung, namun dalam dua tahun terakhir naik sekitar 20,77 persen sehingga DPK (Dana Pihak Ketiga) perbankan naik terus.

Selain itu, ada pergeseran pola konsumsi bukan penurunan daya beli. Menurut Faisal, adanya perubahan gaya hidup di mana orang semakin banyak memilih bepergian dibandingkan makan di mal. “Persentase orang yang bepergian ke luar negeri 13 persen, kalau ke dalam negeri 10 persen,” kata ekonom yang pernah maju sebagai cagub DKI ini.

Siswa Madrasah Raih Penghargaan di Ajang International Young Invention Award 2017

Siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Surya Buana Malang Jawa Timur unjuk prestasi di ajang internasional. Mereka berhasil meraih sejumlah medali pada International Young Invention Award (IYIA) 2017.

IYIA diselenggarakan oleh Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA) di Universitas Mercu Buana Jakarta pada 22 – 24 September 2017. Ajang ini diikuti 14 Negara, termasuk Indonesia, Malaysia, India, Filipina, Taiwan, Iran, Myanmar, Mesir, Jordania, dan Thailand.

Kepala MTs Surya Buana Akhmad Riyadi mengaku mempersiapkan anak didiknya untuk mengikuti ajang ini selama tiga bulan. “Dalam tiga bulan itu, kita lakukan beberapa uji coba. Mereka kami karantinakan, biar fokus ke penelitian,” ujar Akhmad Riyadi.

Dalam kesempatan itu, para siswa MTs Surya Bunia mempresentasikan hasil penelitiannya dalam bahasa Inggris. Mereka juga membuat stand pameran, sehingga pengunjung dapat melihat dan bertanya tentang hasil riset mereka. Mereka juga diminta untuk presentasi di depan dua juri yang berasal dari luar negeri.

“Alhamdulillah, mereka mendapatkan banyak medali. Kami senang dan bangga dengan prestasi ini. Kami berharap, ini semua bisa menginspirasi masyarakat Indonesia untuk mencintai dunia penelitian. Dan kami berencana mempatenkan karya-karya mereka,” tutup Akhmad Riyadi.

Berikut adalah hasil riset siswa-siswi MTs Surya Buana Malang yang mendapatkan medali pada IYIA 2017:
1. Agung Fadilah, Kelas 8, Karya Penelitian “Magic Candy Healthy Based Papaya Fruit” (Permen murni dari buah pepaya, gula dan daun mint. Bermanfaat untuk mencegah atau terapi kerusakan mata). Berhasil Meraih Medali Emas.
2. Muhammad Rafi, Kelas 8, Karya Karya Penelitian “Extract Tea Rosella Flower” (Teh murni dari bunga rosella secara utuh. Bermanfaat menurunkan diebetus miletus). Berhasil meraih Medali Emas

3. Abdul Rasyid Himawan, Kelas 9, Karya penelitian “Smart Website” (Website monitoring untuk admin yang bisa melihat aktivasi user dan produk ini hampir dibeli oleh Prof. Dawin dari Universitas Mercu Buana dengan harga 5.000.000. Aplikasi ini mempermudah siswa untuk membawa buku ke sekolah secara praktis dan bisa digunakan di laptop atau hp). Berhasil Meraih Medali Emas
4. M. Aulia Hafidz Al-Farizi, Kelas 8, Karya Penelitian “Cream Scrab Based Maggo Fruit” (Krim ini terbuat drai buah mangga murni da dengan tambahan minyak zaitun dn klabet. Bermanfaat menyehatkan ataupun mencegak kulit dari penyakit gatal) Berhasil meraih Medali Emas

5. Aulia Rahma Sumarsono, Kelas 8, Karya penelitian “Halal Cosmetic for Hajj and Umroh”. (Kosmetik ini terbuat dari bahan-bahan alami yang tidak berbau. Salah satu bahannya adalah beras, klabet, bayam, kulit buah naga dan lain-lain. Krim ini membantu para wanita untuk tamplik lebih cantik dan bugar). Berhasil meraih Medali Emas.
6. Dahlia Dian Paramita, Kelas 9, Karya penelitian “Belimbing wuluh (averhoa balimbi)-based Candy for High Blood Pressure Patient”. (Permen ini terbuat dari blimbing wuluh yang ditambah dengan susu murni dan sedikit gula. Bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit darah tinggi, dan aman bagi penderita diabetes).). Berhasil meraih Medali Perak.

7. Qonita Aulianisa Isfahanni, Kelas 9, Karya penelitian “Jasmine Plant-Based On Fever Sooter”. (kompres demam ini terbuat dari tanaman melati. Bermanfaat menurunkan demam, sakit kepala, sakit gigi) Berhasil meraih Medali Perak.
8. Davana Azzahra, Kelas 8, Karya penelitian “Cassava Peel Bread Jam for Anti-Aging”.(Selai ini terbuat dari kulit singkong. Bermanfaat untuk mencegah penuaan dini) Berhasil meraih Medali Perak.

9. Muhammad Haidar Makki, Kelas 8, Karya penelitian “Papaya Leaf-Based Tea”. (Teh ini mengandung dari daun pepaya yang murni. Bermanfaat untuk mencegah segala jenis penyakit kanker) Berhasil meraih Medali Perunggu.
10. Taufiq Hidayanto, M.Pd dan Mardiyah, S.Si (Guru) Karya Penelitian “Travel Game as Manipulative Media to Learn Social Arithmetic for Junior High School’s Student“. ( Karya ini adalah membuat media pembelajaran aritmatika sosial dalam bentuk permainan card. Manfaatnya siswa menjadi senang dan mudah mempelajari aritmatika sosial). Berhasil meraih Medali Emas.
(hamam/kemenag.go.id)

Belum Dikelola Produktif, Padahal Tanah Wakaf Indonesia 5 Kali Luas Singapura

JAKARTA (Jurnalislam.com)–Organizing Committe (OC) PT Wakaf Ventura Indonesia Amirsyah Tambunan mengatakan, potensi wakaf di Indonesia sangat besar di Indonesia. Bahkan, ia memperkirakan potensi tanah wakaf di Indonesia lima kali lipat lebih luas dari Singapura.

“Sekarang potensi tanah wakaf di Indonesia itu diperkirakan lima kali lebih luas dari Singapura. Artinya, sebuah ilustrasi bahwa potensi tanah wakaf Indoneisa itu besar sekali,” ujarnya dilansir Republika.co.id, Selasa (3/10).

Namun, kata dia, sayangnya potensi wakaf yang besar tersebut sampai saat ini masih belum dikelola secara profesional dan lebih produktif. “Tapi masalah selama ini masih dikelola secara tradisonal, yaitu diperuntukkan untuk masjid, mushalla, kuburan, dan lain-lain. Belum dikelola secara produktif,” ucapnya.

Ke depannya, menurut dia, seharusnya aset-aset tanah wakaf di Indonesia bisa dikelola untuk memberdayakan masyarakat. “Bagaimana aset wakaf yang bergerak dan tidak bergerak ini bisa secara optimal dikelola untuk kemaslahatan umat, yang potensinya jauh lebih besar dari zakat yang 217 triliun,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Badan Wakaf Indonesia (BWI), Ahmed Junaidi. Menurut dia, tanah wakaf di Indonesia terdapat di 435 ribu lokasi dengan luas 4,1 miliar meter persegi. Ia juga mengatakan, bahwa potensi tanah wakaf di Indonesia lebih luas dari Indonesia.

“Itu lima kali negara Singapura. Sebagian, kurang lebih 10 persen berada di kota-kotq besar, letaknya sangat strategis. Dan di 34 provinsi sudah terbentuk BWI perwakilan, dan kabupaten sudah terbentuk 222. Dan nazir wakaf uang sudah terbentuk 175 lembaga badan hukum,” ucap Ahmed.