Setelah Lobi dengan Zionis di AS, Pangeran Arab: Israel Punya Hak Tanah di Palestina

WASHINGTON (Jurnalislamm.com) – Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, menyatakan bahwa Israel memiliki hak atas tanahnya sendiri tidak hanya Palestina saja.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah The Atlantic yang berbasis di AS, pewaris tahta kerajaan berusia 32 tahun itu menyatakan: “Saya percaya bahwa setiap orang, di mana saja, memiliki hak untuk hidup di negara mereka yang damai,” lansir Aljazeera Selasa (4/4/2018).

Putra mahkota mengatakan bahwa “negaranya memiliki banyak kepentingan” dengan Israel.

“Israel adalah ekonomi besar dibandingkan dengan ukuran mereka dan itu adalah pertumbuhan ekonomi, dan tentu saja ada banyak kepentingan yang kita bagi dengan Israel dan jika ada perdamaian, akan ada banyak kepentingan antara Israel dan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk dan negara-negara seperti Mesir dan Yordania.”

Pangeran Arab Katakan Israel Punyak Hak Tanah di Palestina, Begini Bantahan Analis

Bin Salman juga mengatakan bahwa walaupun negaranya memiliki “keprihatinan agama” tentang masjid suci di Yerusalem dan hak-hak warga Palestina, Arab saudi tidak memiliki keberatan “terhadap siapapun.”

“Saya yakin warga Palestina dan Israel memiliki hak untuk memiliki tanah mereka sendiri. Tetapi kita harus memiliki perjanjian damai untuk menjamin stabilitas bagi semua orang dan memiliki hubungan normal.”

Bin Salman juga mengatakan Arab Saudi “tidak punya masalah” dengan Yahudi, mengatakan bahwa Nabi Muhammad “menikahi seorang wanita Yahudi.”

Pekan ini Pangeran Arab Tour ke Amerika Serikat, Begini Kata Pengamat Timur Tengah

Arab Saudi dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik formal.

Riyadh telah lama menyatakan bahwa perjanjian damai dengan Israel harus didasarkan pada garis demarkasi 1967 yang ditetapkan sebelum tanah Palestina dirampas selama Perang Enam Hari.

Namun perkembangan terakhir di Riyadh mengindikasikan bahwa hubungan antara kedua negara mulai membaik.

Pada bulan Maret, Arab Saudi memberikan izin bagi operator nasional India menggunakan wilayah udaranya untuk mengoperasikan penerbangan langsung antara New Delhi dan Tel Aviv.

Langkah itu mengakhiri larangan satu dasawarsa oleh Arab Saudi atas penggunaan wilayah udaranya untuk penerbangan ke Israel.

Menteri Komunikasi Israel Ayoub Kara juga mengundang Mufti Besar Arab Saudi, Abdul Aziz Al Sheikh, untuk mengunjungi Israel.

Saat mengunjungi Amerika Serikat, bin Salman juga bertemu dengan beberapa kelompok zionis Yahudi dan lobi pro-Israel.

Pangeran Arab Bilang Gamis Tidak Wajib, Ini Kata Syeikh Ahmed al Ghamdi

 

Kapal Perang Turki ke Laut Hitam dan Marmara

TURKI (Jurnalislam.com) – Kapal perang Turki berada di Bulgaria untuk berpartisipasi dalam latihan angkatan laut tahunan di Laut Hitam dan Laut Marmara, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Bulgaria pada hari Senin (2/4/2018), lansir World Bulletin.

Pernyataan itu menyebutkan kapal perang TCG Darica, kapal patroli TCG Tekirdag dan TCG I. Kapal selam Inonu berlabuh di pelabuhan Varna.

Begini Latihan Perang Turki dan Qatar Selama 2 Hari Digelar

Latihan bersama – berjudul Sea Star 2018 – dilakukan untuk meningkatkan keamanan laut di Laut Hitam.

Beberapa kapal yang berpartisipasi dalam latihan itu juga akan mengunjungi pelabuhan Georgia, Rusia, Ukraina dan Rumania, kata pernyataan itu.

Latihan angkatan laut Sea Star 2018 akan berlanjut hingga 5 April.

Bentrokan Antara Pejuang Muslim Kashmir dengan Pasukan India Berlanjut, 19 Tewas

Srinagar (Jurnalislam.com) – Sebuah aksi penutupan (shutdown) berlanjut untuk hari kedua di seluruh Kashmir yang dikendalikan India, menyusul bentrokan mematikan di desa-desa kubu pejuang dan pasukan penjajah India yang menewaskan 19 orang.

Semua toko, sekolah, dan perguruan tinggi masih ditutup dan jalan-jalan sepi pada hari Senin (2/4/2018) ketika para pemimpin pejuang Kashmir menyerukan penutupan penuh sebagai protes terhadap pembunuhan itu.

Kashmir yang mayoritas Muslim telah terbagi untuk India dan Pakistan sejak merdeka dari Inggris pada 1947.

Ribuan Warga Kashmir Turun ke Jalan Hadapi Tentara India

Di banyak wilayah yang bergejolak, termasuk bagian-bagian lama kota utama Kashmir, Srinagar, ratusan personel keamanan menjaga jalan karena pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Para pemimpin separatis Kashmir memperpanjang seruan penutupan hingga 3 April. Pejabat pemerintah Kashmir memperpanjang penutupan sekolah-sekolah di wilayah tersebut setelah ketegangan baru.

Pada hari Ahad (1/4/2018), 19 orang, termasuk 12 pejuang, empat warga sipil dan tiga tentara India, tewas di tiga desa di distrik selatan Kashmir dan satu pejuang gugur dalam pertempuran senjata singkat di Dialgam, sebuah desa di distrik Anantnag.

Pembunuhan para pejuang menyebabkan demonstrasi besar-besaran di banyak wilayah, di mana lebih dari tiga lusin orang terluka.

SA Dinkar, inspektur polisi setempat, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Senin situasinya terkendali.

“Semua pejuang telah dikuburkan dan acara pemakaman mereka berakhir. Kami tidak mendapatkan laporan tentang bentrokan, kecuali beberapa orang yang luka ringan,” katanya.

Desa-desa di Shopian telah menyaksikan kekerasan secara teratur sejak awal tahun ini dalam bentuk baku tembak antara kelompok perlawanan bersenjata dan pasukan India.

Sebagian besar pejuang yang gugur dalam bentrokan Ahad adalah warga lokal Kashmir selatan.

“Pasukan India menargetkan semua orang tidak peduli apakah pengunjuk rasa atau bukan,” kata Kulsuma Begum, yang menemani putra remajanya di sebuah rumah sakit di kota utama Kashmir, Srinagar.

“Putraku ditembak dengan pelet di mata kiri dan para dokter tidak yakin apakah dia bisa mendapatkan kembali penglihatannya sepenuhnya.

“Sungguh menyakitkan melihat semua anak muda di bangsal sini sedang berjuang untuk bisa melihat kembali.”

Dr Saleem Tak, inspektur medis di Rumah Sakit Shri Maharaja Hari Singh (SMHS), mengatakan hari Ahad adalah hari yang sibuk bagi para staf.

“Kemarin, kami menerima 45 pasien,” katanya kepada Al Jazeera.

Dia mengatakan “41 dari mereka menderita luka akibat serangan pelet di mata mereka, tiga mengalami luka tembak, dan salah satu dari mereka terkena peluru di perutnya. Sisa pasien lainnya stabil.”

Desa-desa di Kashmir selatan telah berubah menjadi benteng perlawanan menyusul pembunuhan seorang komandan muda, Burhan Wani, oleh pasukan penjajah India pada tahun 2016.

Sejak itu, warga secara terbuka mendukung kelompok bersenjata yang memerangi pasukan penjajah India di Kashmir.

Baik Pakistan maupun India mengklaim wilayah Himalaya secara penuh dan telah berperang tiga kali di wilayah pegunungan, yang tetap menjadi salah satu wilayah paling termiliterisasi di dunia.

Warga Kashmir menuntut referendum dilakukan untuk membiarkan mereka memutuskan masa depan mereka.

Puluhan ribu orang, kebanyakan warga sipil, telah tewas sejak 1990.

Komadan Perang untuk Pasukan Wanita Syiah Houthi Tewas oleh Rekan Syiahnya

YAMAN (Jurnalislam.com) – Seorang komandan Syiah Houthi yang terkenal dibunuh di Sanaa, ibukota Yaman yang berada di bawah kendali milisi, sebagai akibat dari meningkatnya perselisihan antar jajaran mereka, Al Arabiya melaporkan Senin (2/4/2018).

Menurut sumber di Sanaa, Hussein al-Bakli, seorang komandan militer Houthi yang bertanggung jawab atas brigade wanita bersenjata “Descendants of Zainab,” yang bertugas menggerebek rumah-rumah dan menekan para pengunjuk rasa perempuan, tewas bersama salah satu temannya pada hari Sabtu (31/3/2018) di Bayt Baws di South Sanaa.

Syiah Houthi: Abdullah Saleh Kami Bunuh karena Pengkhianatan

Bakli ditembak dalam serangan penyergapan, kata sumber, menambahkan bahwa para pembunuh melarikan diri dari tempat kejadian setelah mengkonfirmasi Bakli telah mati.

Sumber menambahkan bahwa Bakli, yang dekat dengan Mohammed Ali al-Houthi, kepala Komite Revolusi, tewas karena perselisihan antar sesama milisi Houthi atas korupsi dan perebutan kekuasaan di daerah yang mereka kendalikan.

Rakyat Mesir Tidak Terkejut As Sisi Menang dengan 97% Suara, Ini Sebabnya

MESIR (Jurnalislam.com) – Sebagai hasil akhir yang tidak mengejutkan bagi rakyat Mesir dan seluruh dunia, Abdel Fattah as-Sisi memenangkan pemilihan presiden dengan 97 persen suara, mengamankan masa jabatan empat tahun lagi, Aljazeera melaporkan Senin (2/4/2018).

Pemilihan Mesir tersebut dikritik sebagai pertunjukan satu orang tanpa oposisi yang kredibel, karena sedikitnya enam kandidat lainnya dibatalkan, diadili, atau dipenjarakan.

Mengumumkan hasil akhir pada hari Senin, komisi pemilihan Mesir mengatakan bahwa pemilih berjumlah 41,5 persen, lebih rendah dari 47 persen pada pemilu 2014.

Satu-satunya lawan yang tersisa untuk melawan as-Sisi adalah Mousa Mostafa Mousa yang tidak banyak dikenal, yang mendaftarkan diri beberapa jam sebelum batas waktu dan berasal dari partai yang sebelumnya telah mendukung as-Sisi.

Memperingati 4 Tahun Kudeta Berdarah Militer Mesir pada Presiden Mursi

Hasil awal yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan bahwa Mousa hanya menerima tiga persen suara, dan menurut The Economist, berada di tempat ketiga setelah lebih dari satu juta orang merusak kertas suara mereka.

Beberapa pemilih malah mencoret nama kedua kandidat dan menambahkan nama pemain sepak bola Liverpool sekaligus anggota tim sepak bola nasional Mesir, Mohamed Salah, yang dilaporkan mendapat suara dua kali lebih banyak daripada Mousa.

Namun hasil tersebut direvisi keesokan harinya untuk menunjukkan bahwa tidak ada surat suara yang rusak.

“Pemilihan ini adalah lelucon dan penuh kepalsuan,” Sarah Yerkes, seorang rekan di Carnegie Endowment for International Peace yang berbasis di Washington, mengatakan kepada Al Jazeera.

“Pemilihan ini tidak benar-benar penting bagi negara.”

Masa jabatan pertama as-Sisi di kantor, yang dimenangkannya setelah militer menyingkirkan Presiden Muhammad Mursi dari kekuasaan, dicirikan oleh janji-janji yang gagal dipenuhi, seperti memberantas “terorisme” dan meningkatkan ekonomi negara.

Negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, memompa investasi miliaran dolar ke Mesir ketika as-Sisi pertama kali menjabat, tetapi penindasan juga meningkat dengan “kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya”, James Gelvin, profesor Sejarah Timur Tengah Modern di Universitas California, Los Angeles, mengatakan kepada Al Jazeera.

Pengadilan Mesir Jatuhi Hukuman Mati pada Dr Yusuf Qaradawi

“banyaknya uang tunai secara cepat tidak dapat mengurangi krisis ekonomi Mesir dalam jangka panjang, yang merupakan hasil dari perencanaan ekonomi yang buruk, kronisme, dan ledakan demografis,” katanya.

Krisis ekonomi di Mesir akan menjadi prioritas as-Sisi selama masa jabatan keduanya di kantor, dengan resiko menjerumuskan penduduk ke dalam kesengsaraan lebih lanjut, kata Galvin.

Profesor itu mengutip sejumlah faktor ekonomi yang saat ini kemungkinan akan memburuk, seperti tingkat pengangguran yang tinggi, pembatasan makanan dan bahan bakar, ketidaksetaraan pendapatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan aturan plutokrasi.

“Dalam sebuah dunia di mana kebijakan ekonomi neoliberal adalah satu-satunya resep untuk ekonomi nasional dalam krisis, hanya ada rasa sakit yang meningkat di pasar bagi warga Mesir,” katanya.

“Ketika [mantan presiden] Sadat dan Mubarak berusaha memaksakan kebijakan neoliberal, pemberontakan rakyat – yang disebut kerusuhan IMF – terjadi,” katanya.

“Dalam situasi seperti ini, Sisi tidak diragukan lagi akan melanjutkan represi yang keras, mungkin beralasan membasmi ancaman terorisme.”

Mantan panglima angkatan bersenjata yang berusia 63 tahun tersebut mempertahankan basis pendukung setia, yang memandangnya sebagai kekuatan untuk stabilitas dan bukan demokrasi.

“Tidak ada yang percaya dia seorang demokrat,” kata Sarah Yerkes. “Sebaliknya, banyak orang Mesir yang senang mengorbankan demokrasi jika itu berarti kinerja ekonomi, stabilitas, dan keamanan yang lebih besar.

“Masalah dalam argumen itu adalah bahwa ekonomi Mesir dan situasi keamanan semakin memburuk – tidak membaik, di bawah kekuasaan otoriter Sisi,” tambahnya.”

Menurut Gelvin, Sisi bergantung pada dukungan berkelanjutan dari “negara dalam (deep state)” – yang meliputi militer, birokrasi dan peradilan – dan pendukungnya.

Begini Obrolan Trump dengan Presiden Mesir pada Sambungan Telepon

Selain itu, pengaruh presiden tidak hanya bergantung pada dukungan domestik tetapi juga dukungan regional dan internasional yang bergantung pada mempertahankan status quo di wilayah tersebut – terutama dari Arab Saudi dan Amerika Serikat.

“Sisi akan tetap berkuasa selama deep state memegang pengaruh, dan dia terus menggempur sisa populasi,” kata Gelvin.

Hamas Desak Liga Arab Tuntut Israel ke Pengadilan Internasional

GAZA (Jurnalislam.com) – Kepala politik Hamas Ismail Haniyeh meminta Liga Arab untuk menuntut Israel ke Pengadilan Kriminal Internasional (the International Criminal Court-ICC).

Permintaan itu terucap saat Haniyeh melakukan percakapan telepon pada hari Senin (2/4/2018) dengan Sekretaris Jenderal liga yang berbasis di Kairo, Ahmed Abul-Gheit, untuk membahas praktik-praktik Israel menyerang Palestina, lansir Anadolu Agency.

Pada hari Jumat, sedikitnya 18 warga Palestina tewas dan ratusan lainnya terluka oleh tembakan tentara Israel selama unjuk rasa menuntut kembalinya pengungsi di dekat perbatasan Jalur Gaza.

Haniyeh menggarisbawahi perlunya “pergi ke Majelis Umum PBB untuk membahas kejahatan [Israel] dan membentuk komisi investigasi khusus”, kantornya mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Erdogan pada PM Israel: Anda Seorang Teroris, Negara Anda adalah Negara Teror

Dewan Keamanan PBB mengadakan sesi pada hari Sabtu atas permintaan Kuwait untuk membahas situasi di perbatasan Gaza, tetapi Dewan gagal mengutuk kekerasan Israel terhadap demonstran Palestina.

Menurut pernyataan itu, Abul-Gheit mengecam “kejahatan Israel terhadap peserta dalam demonstrasi damai”.

Delegasi Liga Arab dijadwalkan bertemu pada hari Selasa di Kairo untuk membahas tindakan Israel terhadap Palestina.

Demonstrasi Jumat adalah awal dari protes enam pekan yang puncaknya akan diselenggarakan pada 15 Mei, di hari warga Palestina menyebutnya sebagai “Nakba”, atau “Malapetaka”, yaitu hari ketika Negara Israel diciptakan.

Para demonstran menuntut agar para pengungsi Palestina memperoleh hak mereka untuk kembali ke kota-kota dan desa-desa yang ditinggalkan keluarga mereka ketika melarikan diri, atau diusir, saat negara Israel diciptakan pada tahun 1948.

PBB: 130.000 Orang Telah Tinggalkan Ghouta Timur

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sekitar 130.000 orang meninggalkan sebuah daerah pinggiran Damaskus selama serangan rezim Suriah yang memakan waktu beberapa pekan, PBB mengatakan pada hari Senin (2/4/2018), lansir Anadolu Agency.

Juru bicara Stephane Dujarric mengatakan PBB dan mitra-mitranya telah berupaya meringankan krisis kemanusiaan akibat serangan terhadap Ghouta Timur, tetapi mengatakan “kebutuhan masih tetap sangat besar”.

“PBB terus menyerukan akses yang aman, tanpa gangguan dan berkelanjutan bagi semua yang membutuhkan, dan setiap evakuasi warga sipil harus berjalan aman, sukarela, dan ke tempat yang mereka pilih,” katanya. “Warga sipil memiliki hak untuk kembali segera setelah situasi memungkinkan.”

Jaishul Islam Bantah Laporan Telah Sepakat dan Menyerahkan Kota Douma ke Rezim Assad

Pada 24 Februari, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengadopsi Resolusi 2401 yang menyerukan gencatan senjata di Suriah – terutama di Ghouta Timur – untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.

Meskipun ada resolusi, namun rezim Syiah Assad dan sekutu-sekutunya di awal Maret meluncurkan serangan darat utama – yang didukung oleh kekuatan udara Rusia – untuk menguasai wilayah yang dipegang oleh oposisi di distrik tersebut.

Sejak 19 Februari, lebih dari 1.400 korban telah tewas dalam serangan oleh rezim Assad dan sekutu-sekutunya di Ghouta Timur, menurut sumber-sumber pertahanan sipil setempat.

Sebagai rumah bagi sekitar 400.000 penduduk, distrik ini tetap dalam pengepungan rezim Syiah Nushairiyah yang melumpuhkan selama lima tahun terakhir yang menyulitkan pengiriman pasokan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Dunia Kutuk Serangan Israel pada Hari Land Day

ANKARA (Jurnalislam.com) – Daftar pemimpin dunia yang mengutuk serangan-serangan pasukan penjajah zionis terhadap warga sipil di Jalur Gaza yang telah membuat martir 16 warga Palestina dan 1.500 lebih terluka selama protes damai hari sebelumnya terus bertambah pada hari Sabtu, Anadolu Agency melaporkan, Ahad (1/4/2018).

Kementerian luar negeri Jerman menyuarakan keprihatinan mendalam atas ketegangan antara Palestina dan pasukan penjajah Israel.

Bentrokan itu memperjelas bahwa, “Kelanjutan negosiasi antara Palestina dan Israel mutlak diperlukan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

“Hanya dengan cara ini bisa tercipta solusi yang memberikan hak untuk hidup yang bermartabat dan penentuan nasib sendiri bagi semua warga yang hidup antara Mediterania dan Sungai Yordan.”

Erdogan pada PM Israel: Anda Seorang Teroris, Negara Anda adalah Negara Teror

Kementerian Inggris untuk Timur Tengah dan Afrika Utara menyatakan kekhawatiran yang sama.

“Kami sangat prihatin dan sedih dengan peristiwa di Gaza. Inggris menyerukan untuk tenang dan menahan diri serta memperbarui & mendesak komitmen proses politik untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa dilakukan dengan kekerasan,” kata Alistair Burt di Twitter.

Yang juga bergabung dengan paduan suara keprihatinan adalah Menteri Luar Negeri Italia Angelino Alfano, yang mendesak kedua belah pihak untuk menemukan solusi mendesak untuk meredakan ketegangan dan memungkinkan warga Israel dan Palestina hidup dalam damai dan keamanan.

Di Irak, juru bicara kementerian luar negeri Ahmad Mahcub mengatakan negaranya berdiri bersama Palestina. Dia menegaskan dukungan kuat Baghdad untuk Palestina dan mencela penggunaan peluru tajam terhadap pengunjuk rasa damai di Jalur Gaza sebagai pelanggaran terbuka terhadap hukum internasional.

“Saya dengan tegas mengutuk kekerasan yang tidak perlu dan tidak proporsional dari Israel, terhadap warga sipil Palestina yang tidak bersenjata yang melancarkan protes demi menyoroti situasi sulit yang mereka hadapi,” isi pesan dari Bakir Izetbegovic, anggota Bosniak dari Presidensi Tripartit Bosnia-Herzegovina.

Ulama Internasional Ajak Kaum Muslim Dunia Dukung Hak Tanah Warga Palestina

Dia menyoroti fakta bahwa warga Gaza menggunakan listrik hanya selama empat jam setiap hari, dan sebagian besar penduduk kekurangan akses atas air minum, sementara 70 persen penduduk hidup dengan kurang dari $ 2 dolar per hari.

Izetbegovic mendesak PBB, Uni Eropa dan komunitas internasional mengakhiri kekerasan Israel terhadap warga Palestina.

Ikhwanul Muslimin Mesir juga mengutuk serangan dan penggunaan “kekuatan mematikan” oleh Israel terhadap warga Gaza.

The Great Return March adalah referendum revolusioner terhadap proyek-proyek untuk melikuidasi Palestina dan surat kematian untuk the Deal of Century (Kesepakatan Terbesar Abad Ini),” kata Talaat Fahmi, juru bicara kelompok itu.

Fahmi mengatakan warga Palestina membela tanah suci sementara komunitas internasional tetap diam dalam menghadapi pelanggaran Israel.

Selain warga Gaza yang tewas, ribuan lainnya juga terluka ketika pasukan Israel menembaki demonstran dalam menandai Land Day, peringatan tahunan kematian enam warga Arab Israel yang dibunuh oleh pasukan Israel pada tahun 1976, selama demonstrasi menentang penyitaan tanah pemerintah di Israel utara.

54 Warga Gaza Tewas, Begini Kondisi Penjara Terbuka Terbesar di Dunia

Demonstrasi hari Jumat tersebut adalah awal dari protes enam pekan yang puncaknya akan berlangsung pada 15 Mei, yang oleh warga Palestina disebut hari “Nakba,” atau Malapetaka, yaitu hari ketika Israel didirikan.

Para demonstran menuntut agar para pengungsi Palestina memperoleh hak untuk kembali ke kota-kota dan desa-desa yang ditinggalkan keluarga mereka ketika melarikan diri, atau diusir, saat negara Israel diciptakan pada tahun 1948.

Erdogan pada PM Israel: Anda Seorang Teroris, Negara Anda adalah Negara Teror

ADANA (Jurnalislam.com) – Presiden Turki pada hari Ahad (1/4/2018) mengkritik Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu atas komentarnya tentang operasi anti-teror yang sedang berlangsung di Afrin, Suriah.

“Dia mengatakan tentara kami menindas orang-orang di Afrin. Netanyahu, Anda sangat lemah, sangat miskin,” kata Recep Tayyip Erdogan, lansir Anadolu Agency.

“Kami berurusan dengan teroris, tetapi Anda tidak. Karena Anda adalah negara teror,” kata Erdogan di hadapan kongres Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa di provinsi selatan Adana.

Ulama Internasional Ajak Kaum Muslim Dunia Dukung Hak Tanah Warga Palestina

Pernyataan Erdogan muncul setelah sedikitnya 16 warga Gaza menjadi martir dan ribuan lainnya terluka pada hari Jumat ketika pasukan zionis Yahudi menembaki demonstran yang menandai “Land Day.”

Land Day adalah peringatan tahunan Palestina atas kematian enam warga Arab Israel yang dibunuh oleh pasukan Israel pada tahun 1976 selama demonstrasi menentang penyitaan tanah oleh pemerintah di Israel utara.

Menyebut pemimpin Israel sebagai “penjajah” di Palestina, Erdogan mengatakan Netanyahu tidak memiliki hak untuk mengkritik Turki.

“Anda juga seorang teroris. Sejarah merekam apa yang telah Anda lakukan kepada semua orang Palestina yang tertindas,” kata Erdogan, seraya menambahkan bahwa ia yakin warga Israel juga terganggu oleh kejahatan Netanyahu.

Demonstrasi hari Jumat tersebut adalah awal dari protes enam pekan yang puncaknya akan berlangsung pada 15 Mei, yang disebut hari “Nakba,” atau Malapetaka, yaitu hari ketika Israel didirikan.

Para demonstran menuntut agar para pengungsi Palestina memperoleh hak untuk kembali ke kota-kota dan desa-desa yang ditinggalkan keluarga mereka ketika melarikan diri, atau diusir, saat negara Israel didirikan pada tahun 1948 melalui PBB.

Mujahidin Somalia Serang Pangkalan Militer Uni Eropa, Al Shabab: 59 Pasukan Salib Tewas

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Para pejuang Al-Shabab yang bersenjata berat menyerang sebuah pangkalan militer Uni Afrika di sebelah barat daya ibukota Somalia, Mogadishu.

Sekelompok orang bersenjata pada hari Ahad (1/4/2018) meledakkan sedikitnya dua mobil di kamp militer di kota Bulo Marer, lalu terlibat pertempuran dengan tentara dari Misi Uni Afrika di Somalia (African Union Mission in Somalia-AMISOM).

Pertempuran berlangsung selama beberapa jam, menurut warga dan pejabat militer.

Mohamud Jimale, seorang perwira militer Somalia di kota itu, mengatakan kepada media setempat bahwa kelompok terkait al-Qaeda tersebut menderita kerugian besar dalam serangan itu dan mundur setelah pertempuran senjata yang panjang.

Al Shabaab Serang Pangkalan Militer Somalia, 26 Pasukan Tewas

Sementara itu, Abdiaziz Abu Mus’ab, juru bicara militer kelompok Al-Shabab, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka kehilangan 14 pejuang.

“Para Mujahidin memasuki basis tentara salib dan menewaskan paling tidak 59 orang. Para pejuang kami juga menyerang lima pangkalan lainnya,” kata Mus’ab.

Penduduk dekat kota Golweyn juga melaporkan ledakan kendaraan yang menargetkan pasukan Uni Afrika (African Union-AU) pada Ahad pagi.

Al Shabaab Bebaskan 8 Petugas Kemanusian Somalia

Al-Shabab, yang berjuang untuk menggulingkan pemerintah Somalia bentukan AS, secara rutin menargetkan pasukan AU yang ditempatkan di negara itu.

Kelompok jihad itu didesak keluar dari Mogadishu pada tahun 2011 oleh pasukan Somalia yang didukung oleh tentara AMISOM.