Serangan Taliban Tewaskan Puluhan Pasukan Afghanistan Bentukan AS

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 37 orang telah tewas dalam serangan malam hari di empat provinsi Afghanistan, kata para pejabat.

Dua puluh sembilan polisi dan anggota tentara nasional Afghanistan bentukan AS tewas dalam serangan pejuang Imarah Islam Afghanistan (Taliban) di provinsi barat Farah, kepala dewan provinsi, Farid Bakhtwar, mengatakan.

Pejuang Taliban menyerang beberapa pos pemeriksaan di pinggiran kota Farah Kamis (12/9/2018) malam, serta di tiga distrik lainnya, menyebabkan sedikitnya enam orang terluka, menurut pejabat itu, Aljazeera melaporkan Jumat (14/9/2018).

Di provinsi utara Samangan, sekelompok orang bersenjata menyerang pos keamanan di distrik Dara Suf, yang memicu pertempuran senjata selama berjam-jam.

Baca juga: 

Pejabat setempat mengatakan bahwa sedikitnya enam anggota pasukan militer tewas, termasuk petugas polisi.

Sedikitnya 14 orang terluka dalam serangan itu, anggota dewan provinsi, Safiullah Samangani mengatakan kepada kantor berita DPA.

Awal bulan ini, 14 orang tewas dan enam orang terluka dalam serangan Taliban di pos pemeriksaan polisi di distrik yang sama.

Sementara itu, warga sipil kembali terperangkap dalam pertempuran, dengan pejabat melaporkan dua orang tewas akibat baku tembak keduabelah pihak di distrik Jalrez di provinsi Maidan Wardak tengah.

Baca juga: 

Kedua korban adalah pegawai pemerintah dari provinsi tetangga Bamyan, anggota dewan provinsi, Sardar Bakhtyari dan Khawani Sultani, mengatakan.

Taliban telah merebut beberapa distrik di seluruh negeri dalam beberapa tahun terakhir dan melakukan serangan hampir setiap hari yang menargetkan pasukan militer Afghanistan.

Pada bulan Agustus, para pejuang Taliban melancarkan serangan ke kota Ghazni dalam serangan yang berlangsung selama lima hari.

Serangan itu secara luas dilihat sebagai unjuk kekuatan oleh Taliban sebelum rencana pembicaraan perdamaian dengan AS, yang telah ikut berperang di Afghanistan selama hampir 17 tahun.

Turki: Penyelesaian di Idlib dengan Solusi Politik Bukan Militer

ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Juru bicara kepresidenan Turki pada hari Jumat (14/9/2018) mengatakan merupakan kepercayaan umum dari semua orang bahwa harus ada solusi politik dan bukan solusi militer di provinsi Idlib barat laut Suriah.

Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan persiapan dengan perwakilan Prancis, Jerman dan Rusia untuk pertemuan puncak empat pihak mendatang di Suriah, Ibrahim Kalin mengatakan mereka mengharapkan pemeliharaan status Idlib saat ini, perlindungan warga sipil, dan pencegahan krisis kemanusiaan di sana.

“Poin umum dari semua orang adalah bahwa solusinya harus lebih bersifat politik daripada militer,” katanya, lansir Anadolu Agency.

Kalin mengatakan, kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ke kota Rusia Sochi dan upaya-upaya setelahnya sangat penting.

Baca juga: 

“Turki mengharapkan dukungan yang lebih terbuka dan langsung dari komunitas internasional dan para pemimpin,” tambah Kalin.

Sejak awal September, sedikitnya 30 warga sipil tewas di Idlib dan Hama, dan puluhan juga terluka, akibat serangan udara dan serangan brutal pesawat tempur rezim Assad dan Rusia, menurut lembaga pertahanan sipil White Helmets.

Baca juga: 

Rezim Syiah Suriah baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran ke daerah itu, yang lama dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi bersenjata.

PBB memperingatkan bahwa serangan semacam itu akan mengarah pada “bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21.”

Bocah Palestina Gugur Ditembak di Kepala oleh Tentara Zionis dalam Aksi Jumat

GAZA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya tiga warga Palestina, termasuk seorang anak, terbunuh  pada hari Jumat (14/9/2018) oleh tembakan tentara  penjajah Israel di dekat zona penyangga Gaza – Israel.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan seorang anak lelaki berusia 14 tahun – yang namanya tidak disebutkan – meninggal seketika setelah ditembak di kepala oleh pasukan Israel di sebelah timur kota Jabalia.

Sementara itu, di timur Khan Yunis, seorang pria muda Palestina – juga belum diidentifikasi – menderita luka tembak yang fatal, menurut kementerian.

Delapan warga Palestina lainnya, termasuk tiga anak-anak, dilaporkan terluka oleh tembakan tentara Israel di tempat lain di sepanjang zona penyangga.

Baca juga: 

Mohammad Shaqqura, 21, juga menjadi martir setelah terkena peluru di dada di kamp pengungsi Maghazi di Jalur Gaza, yang terletak di Deir al-Balah Governorate, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

Pada hari Jumat, warga Palestina berkumpul di daerah perbatasan untuk mengambil bagian dalam aksi unjuk rasa pekanan melawan penjajahan Israel selama puluhan tahun.

Sejak demonstrasi dimulai pada 30 Maret, puluhan warga Palestina telah menjadi martir – dan ribuan lainnya terluka – oleh pasukan zionis yang ditempatkan di sepanjang sisi lain dari zona penyangga.

Baca juga: 

Para pengunjuk rasa menuntut “hak untuk kembali” ke rumah dan desa mereka di Palestina sejak mereka diusir pada tahun 1948 untuk memberi jalan bagi negara baru Israel.

Mereka juga menuntut diakhirinya blokade 11 tahun oleh zionis Yahudi di Jalur Gaza, yang telah menghancurkan ekonomi wilayah pesisir dan merampas banyak komoditas dasar bagi lebih dari dua juta penduduknya.

Turki Kerahkan Pasukan dan Persenjataan Beratnya ke Barat Daya Suriah

ANTAKYA (Jurnalislam.com) – Turki terus mengerahkan pasukan dan persenjataan berat ke perbatasan barat daya dengan Suriah untuk mengantisipasi serangan besar oleh rezim Suriah dan sekutu-sekutunya di wilayah yang dikuasai oposisi dan faksi-faksi jihad.

Satu konvoi militer Turki tiba di sebuah pos Turki di dekat kota Morek, di provinsi Hama utara Suriah, Kamis (13/9/2018) pagi.

Al Jazeera juga mengamati kedatangan sebuah pesawat militer yang membongkar lusinan tentara Turki di bandara sipil di provinsi Hatay, sekitar 50 km dari perbatasan Turki-Suriah. Tidak ada informasi apakah pasukan sedang melintasi perbatasan.

Turki sudah menjadi tuan rumah bagi tiga setengah juta pengungsi Suriah dan mengkhawatirkan gelombang besar lainnya jika pasukan Suriah – yang didukung oleh kekuatan udara Rusia dan milisi sekutu – menyerang kubu terakhir pejuang oposisi yang tersisa di provinsi Idlib.

Baca juga: 

Menurut Metin Gurcan, seorang ahli keamanan Turki, penguatan perbatasan adalah tindakan defensif.

“Jika Anda melihat jenis-jenis sistem senjata itu, saya akan mengatakan mereka semua untuk tujuan pertahanan. Jadi saya tidak berpikir Turki memiliki niat ofensif dan kemampuan untuk campur tangan militer dalam teka-teki Idlib,” katanya kepada Al Jazeera.

“Ini semacam pertahanan militer preventif dan defensif untuk mengelola aliran pengungsi yang diantisipasi akan terjadi akibat dorongan pasukan Suriah yang didukung Rusia dari selatan.”

Hampir 40.000 orang telah melarikan diri dari Idlib setelah serangan brutal udara rezim Nushairiyah Suriah-Rusia meningkat selama dua pekan terakhir. PBB memperkirakan, dalam kasus terburuk, sekitar 900.000 warga sipil dapat melarikan diri dari Idlib jika serangan darat skala penuh dimulai.

Para pejabat Turki telah berulang kali memperingatkan Rusia dan pemerintahAssad terhadap serangan Idlib, dengan mengatakan itu akan mengarah pada gelombang pengungsi besar lainnya menuju Turki.

Selama sepekan terakhir, Turki telah mengerahkan bala bantuan dan memperluas struktur pertahanan di sekitar selusin titik pengamatan di wilayah yang dikuasai oposisi di Idlib, Aleppo barat, dan provinsi Hama utara.

Pos-pos terdepan didirikan setelah kesepakatan de-eskalasi tercapai antara Turki, Rusia dan Iran pada Juli 2017.

Baca juga: 

Daerah di provinsi Deraa dan Homes dan pinggiran Ghouta Timur juga merupakan bagian dari kesepakatan de-eskalasi, tetapi selama beberapa bulan terakhir mereka telah direbut oleh pasukan rezim  Syiah Suriah yang didukung oleh angkatan udara Rusia dan milisi pro-Iran.

Pada tanggal 7 September, gencatan senjata yang diajukan oleh Turki ditolak oleh Rusia dan Iran selama pertemuan puncak di antara tiga negara di Teheran.

Sebuah konfrontasi antara pasukan Turki dan mereka yang mendukung pemerintah Suriah “sangat tidak mungkin” jika serangan terhadap Idlib terus berlanjut, kata Gurkan.

Rusia terus mengontrol wilayah udara Suriah, katanya, dan Turki tidak mungkin memulai tindakan militer di sana tanpa persetujuan Rusia.

“Saya tidak mengharapkan serangan darat skala besar [oleh pasukan Suriah]. Ini akan menjadi peperangan pengepungan bertahap dan bertingkat yang bisa bertahan mungkin sembilan sampai 10 bulan,” kata Gurkan.

Dia menambahkan Turki tidak mungkin untuk menarik titik-titik pengamatan yang diawaki oleh pasukannya jika pertempuran berat dimulai.

Baca juga: 

“Ini adalah pos pengamatan yang didukung Rusia, tujuan utamanya adalah untuk mencegah perluasan milisi Syiah pro-Iran dari Aleppo ke Idlib,” katanya.

Menurut Gurkan, Rusia juga ingin membatasi pengaruh Iran di Suriah dan mencegahnya menyebar ke provinsi Idlib.

Koalisi Arab Gempur Houthi di Hodaidah, PBB: Ratusan Ribu Diambang Kematian

YAMAN (Jurnalislam.com) – Krisis kemanusiaan di Yaman memburuk “secara dramatis” dalam pekan terakhir sejak pembicaraan damai yang disponsori PBB runtuh dan pertempuran berlanjut di kota pelabuhan Hodeidah.

Lise Grande, koordinator kemanusiaan PBB, mengatakan pada hari Kamis (13/9/2018) bahwa “ratusan ribu nyawa bergantung dalam keseimbangan” di Hodeidah yang dikuasai pemberontak Syiah Houthi, di mana “keluarga benar-benar ketakutan dengan pemboman, penembakan dan serangan udara”.

Perang tiga tahun telah menciptakan krisis kemanusiaan paling buruk di dunia di negara berpenduduk 28 juta orang dengan 22 juta penduduknya bergantung pada bantuan.

Baca juga: 

PBB memperingatkan pertempuran yang sedang berlangsung di Hodeidah,yang merupan titik masuk untuk sebagian besar impor komersial Yaman dan pasokan bantuan, dapat memicu kelaparan di negara miskin itu di mana diperkirakan 8,4 juta orang menghadapi kelaparan.

“Kami sangat khawatir tentang pabrik Laut Merah, yang saat ini memiliki 45.000 metrik ton makanan, cukup untuk memberi makan 3,5 juta orang selama sebulan. Jika pabrik rusak atau terganggu, kurban manusia akan tak terhitung,” kata Grande dalam sebuah pernyataan.

Pasukan Yaman, didukung oleh koalisi pimpinan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, merebut jalan utama Hodeidah ke ibu kota Sanaa, memblokir rute pasokan utama bagi pemberontak Houthi yang mengendalikan utara negara itu.

“Pintu masuk utama di Hodeidah yang mengarah ke Sanaa telah ditutup setelah pasukan yang didukung oleh UEA menguasai jalan,” kata sumber militer pro-koalisi kepada kantor berita Reuters.

Penduduk mengatakan gerbang timur utama kota itu telah hancur dalam serangan udara dan pertempuran berlanjut di jalan-jalan sekunder dari jalan utama.

Baca juga: 

Tidak ada kata-kata langsung dari kedua pihak dalam konflik tentang korban di pihak mereka.

Dokter dan petugas medis di dua rumah sakit di provinsi Hodeidah mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa 50 orang telah tewas dalam 24 jam terakhir.

Ratusan warga sipil telah meninggalkan rumah mereka di Hodeidah untuk melarikan diri dari pertempuran dan asap tebal naik di atas bagian kota, AP mengutip perkataan para pejabat.

Pertempuran di Hodeidah meningkat setelah runtuhnya perundingan yang disponsori PBB di Jenewa pekan lalu setelah delegasi Syiah Houthi tidak muncul.

Pasukan koalisi – yang bertujuan untuk mengembalikan pemerintahan yang diakui secara internasional, Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang melarikan diri dari Yaman setelah pengambilalihan Houthi – percaya bahwa kendali mereka atas Hodeidah dengan memotong jalur pasokan akan memaksa para pemberontak untuk bergabung di meja perundingan.

Namun, Andrew Simmons dari Al-Jazeera, yang melaporkan dari negara tetangga Djibouti, mengatakan ada “peringatan dari semua pihak bahwa serangan ini adalah hal terakhir yang diperlukan dalam upaya untuk mendapatkan semacam dialog”.

Martin Griffiths, utusan khusus PBB di Yaman, diperkirakan akan bertemu perwakilan Houthi serta pejabat pemerintah Yaman yang tinggal di pengasingan di Arab Saudi pekan ini dalam upaya untuk menghidupkan kembali perundingan.

Sementara itu, Meritxell Relano, perwakilan UNICEF di Yaman, mengatakan lebih dari 11 juta anak-anak menghadapi kekurangan makanan, penyakit, pengungsian, dan kurangnya akses ke layanan dasar.

Baca juga: 

“Konflik telah membuat Yaman menjadi neraka hidup bagi anak-anaknya,” katanya. “Diperkirakan 1,8 juta anak-anak kekurangan gizi di negara ini. Hampir 400.000 dari mereka menderita kekurangan gizi akut, dan mereka berjuang untuk hidup mereka setiap hari.”

Menurut PBB, sedikitnya 10.000 orang telah tewas sejak koalisi yang dipimpin Saudi-Emirat mengintervensi di Yaman pada 2015. Namun laporan jumlah korban tewas belum diperbarui dalam beberapa tahun dan kemungkinan akan jauh lebih tinggi.

Rusia dan Israel Gelar Pertemuan Bahas Perang Melawan Jihadis di Idlib

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolay Patrushev pada hari Kamis (13/9/2018) mengadakan pertemuan dengan kepala Dewan Keamanan Nasional Israel Meir Ben-Shabbat, kata dewan itu.

Patrushev dan Ben-Shabbat memeriksa masalah-masalah keamanan dan stabilitas di Timur Tengah secara umum dan di Suriah khususnya, kata sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs resmi Dewan Keamanan Rusia.

Baca juga: 

Mereka juga bertukar pandangan mengenai interaksi Rusia-Israel di ranah militer, khususnya dalam perang melawan jihadis, katanya.

Operasi yang mungkin dilakukan di provinsi Idlib di Suriah telah menjadi agenda internasional selama berpekan-pekan.

Baca juga: 

Terletak di dekat perbatasan Turki, provinsi Idlib adalah rumah bagi lebih dari 3 juta warga Suriah, banyak di antaranya melarikan diri dari kota-kota lain setelah serangan oleh pasukan rezim.

Rezim Suriah baru-baru ini mengumumkan rencana untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran ke daerah itu, yang selama ini dikendalikan oleh berbagai kelompok oposisi bersenjata dan faksi-faksi jihad.

PBB memperingatkan bahwa serangan semacam itu akan mengarah pada “bencana kemanusiaan terburuk di abad ke-21”.

Turki Perbaiki 108 Masjid yang Hancur di Suriah Utara

ANKARA (Jurnalislam.com) – Otoritas keagamaan utama Turki telah menghabiskan lebih dari 10 juta Lira Turki (US$ 1,6 juta) untuk memperbaiki masjid dan lembaga keagamaan lain yang dihancurkan oleh kelompok-kelompok teror di wilayah Suriah utara.

Dalam laporan baru berjudul “Syria Euphrates Shield and Olive Branch Activity Report “, Direktorat Urusan Agama (Diyanet) memberikan rincian tentang kegiatannya di bidang bantuan kemanusiaan, agama dan pendidikan di Suriah utara, Anadolu Agency melaporkan, Kamis (13/9/2018).

Lembaga itu memperbaiki 108 masjid yang dihancurkan oleh kelompok teror di Jarablus, Azaz, Al-Bab, Rai, Mare, Turkman Bareh, Ihtimlat, dan Ahterin, menurut laporan.

Mereka menghabiskan lebih dari 10 juta Turki Liras ($ 1,6 juta) untuk pekerjaan restorasi dan renovasi.

Baca juga: 

Diyanet merilis 30 video dalam bahasa Arab melalui media sosial untuk mencegah dampak negatif dari kelompok teror YPG/PKK pada warga, kata laporan itu.

Yayasan itu juga memberikan selebaran kepada penduduk setempat dalam perang melawan eksploitasi agama dan kekerasan. Untuk mengisi kekurangan akibat konflik, Al-Quran dalam bahasa Kurdi juga disalurkan, tambahnya.

Operasi Euphrates Shield, yang dimulai pada 24 Agustus 2016, dan berakhir pada Maret 2017, menghilangkan ancaman teroris di sepanjang perbatasan di wilayah Suriah utara Jarabulus, Al-Rai, Al-Bab, dan Azaz mengerahkan the Free Syrian Army, didukung oleh artileri Turki dan dukungan serangan udara.

Baca juga: 

Pada 20 Januari, Turki meluncurkan Operasi Olive Branch untuk menghapus teroris YPG/PKK dan IS dari Afrin. Pada 18 Maret, pasukan Turki dan the Free Syrian Army membebaskan pusat distrik Afrin.

Pasukan Yaman Rebut Dua Jalan Utama Kota Pelabuhan dari Syiah Houthi

YAMAN (Jurnalislam.com) – Tentara Yaman dan sekutunya telah menguasai dua jalan utama di dekat kota pelabuhan barat Hodeidah dari pemberontak Syiah Houthi, kata sumber militer.

Abdulrahman Saleh Abou Zaraa, kepala unit militer elit yang dikenal sebagai Brigade Raksasa, pada hari Rabu (12/9/2018) mengatakan pasukannya menguasai daerah Kilo 16, memotong rute pasokan utama  Houthi yang menghubungkan kota Hodeidah dengan ibu kota Sanaa yang dikuasai pemberontak.

Tentara juga merebut rute pasokan kedua di sekitar Hodeidah, yang dikenal sebagai Kilo 10, kantor berita AFP melaporkan.

Koalisi militer Saudi-Emirat memulai serangan udara pada hari Rabu untuk mendukung pasukan sekutu Yaman yang berusaha merebut kota pelabuhan Laut Merah dari pemberontak, kata penduduk.

Reporter Al Jazeera, Andrew Simmons, yang melaporkan dari negara tetangga Djibouti, mengatakan pertempuran sedang berlangsung di wilayah Kilo 16 dengan “Houthi menembaki daerah itu sebagai serangan balik”.

Baca juga: 

“Tidak ada laporan adanya korban tetapi Anda akan bertaruh bahwa jumlah korban tinggi melihat intensitas pemboman ini,” katanya.

Pertempuran dekat Hodeidah – pintu gerbang utama untuk impor pasokan bantuan dan barang-barang komersial ke dalam negeri – telah meningkat sejak 13 Juni setelah aliansi Saudi-UEA meluncurkan operasi yang luas untuk merebut kembali pelabuhan strategis.

Serangan itu dilakukan oleh kelompok kekuatan yang berbeda termasuk the National Resistance, sekelompok pejuang yang setia kepada mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, the Tihama Resistance, kelompok yang setia kepada Presiden Yaman Abd-Rabbu Mansour Hadi, dan the Giant Brigades, unit militer yang didukung oleh Uni Emirat Arab.

Riyadh dan Abu Dhabi melihat pelabuhan Hodeidah sebagai titik masuk utama senjata untuk Houthi dan menuduh saingan regional mereka Iran mengirim rudal ke pemberontak, tuduhan yang dibantah Teheran.

Badan-badan bantuan telah memperingatkan bahwa sebuah serangan di pelabuhan Hodeidah dapat menutup salah satu dari gerbang penyelamat terakhir yang tersisa bagi jutaan penduduk sipil yang lapar.

Pelabuhan kota bertanggung jawab untuk mengirimkan 70 persen impor Yaman – sebagian besar bantuan kemanusiaan, makanan dan bahan bakar – sebelum tahun 2015.

Lebih dari delapan juta warga Yaman – jumlah yang lebih besar dari seluruh penduduk Swiss – berada di ambang kelaparan.

Perang di Yaman, negara termiskin di kawasan itu, dimulai pada tahun 2014 ketika Houthi menyerbu banyak wilayah, termasuk Sanaa.

Baca juga: 

Konflik meningkat pada tahun 2015 ketika Arab Saudi dan sekutu Arab Sunni – yang melaporkan Syiah Houthi melayani sebagai proxy Iran – meluncurkan serangan udara besar-besaran di Yaman yang bertujuan untuk memutarbalikkan kemenangan Houthi.

Menurut PBB, sedikitnya 10.000 orang telah tewas sejak koalisi campur tangan di Yaman. Jumlah korban tewas belum diperbarui dalam beberapa tahun dan kemungkinan akan jauh lebih tinggi.

Beberapa putaran pembicaraan perdamaian yang ditengahi PBB gagal mencapai terobosan dan pekan lalu, milisi Houthi menolak untuk menghadiri pembicaraan di Jenewa setelah tiga dari “tuntutannya” tidak dipenuhi.

“Houthi yang tidak muncul dalam proses perdamaian Jenewa adalah bukti lain bahwa pembebasan Hodeidah diperlukan untuk membawa mereka ke akal sehat mereka dan secara konstruktif terlibat dalam proses politik,” kata Menteri Urusan Luar Negeri Uni Emirat Arab Anwar Gargash di Twitter.

Utusan PBB Martin Griffiths akan melakukan perjalanan ke Muscat pada Rabu dan kemudian Sanaa dan Riyadh untuk mengamankan “komitmen kuat dari semua pihak untuk mengadakan konsultasi lanjutan”.

Sementara itu, di Washington DC, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengumumkan bahwa ia telah memberikan sertifikasi kepada Kongres bahwa Arab Saudi dan UEA bekerja keras “untuk mengurangi risiko bahaya” pada warga sipil Yaman. Dengan sertifikasi, AS akan dapat melanjutkan partisipasinya dalam perang, memungkinkan untuk memperkuat kembali pesawat Saudi yang terlibat dalam serangan di Yaman.

Ribuan Muslim Uighur Disekap di Tempat Penahanan Rahasia China

WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan pemerintah AS “sangat terganggu” oleh “tindakan keras” China yang memburuk pada kaum minoritas Muslim di provinsi Xinjiang, di barat jauh, mengatakan ada “laporan yang dapat dipercaya” bahwa ribuan orang ditahan di pusat-pusat penahanan rahasia sejak April 2017.

“Beberapa dari mereka menetapkan kontrol yang tidak proporsional bagi kaum minoritas Muslim untuk mengekspresikan budaya dan juga entitas agama mereka – dan juga berpotensi menghasut radikalisasi dan memancing kekerasan,” katanya kepada wartawan saat konferensi pers, Rabu (13/9/2018), lansir Al Arabiya.

Baca juga: 

Ketika ditanya apakah AS sedang mempertimbangkan sanksi ekonomi terhadap pejabat China yang dituduh mengawasi kebijakan, Nauert mengakui Departemen Luar Negeri telah menerima surat dari anggota Kongres mengenai masalah ini, tetapi menolak untuk membahas rincian kemungkinan tindakan pemerintah.

“Kami memiliki banyak alat yang bisa kami gunakan,” katanya kepada wartawan.

“Saya tidak akan menjelaskan setiap kegiatan potensial yang mungkin diambil oleh Pemerintah AS. Ini adalah garis standar lama tentang sanksi, bahwa kami tidak akan meninjau sanksi apa pun yang mungkin atau tidak mungkin terjadi.”

Baca juga: 

China melakukan “tindakan sistematis pelanggaran hak asasi manusia” terhadap penduduk minoritas Uighur yang mayoritas Muslim, Human Rights Watch (HRW) mengatakan.

HRW yang berbasis di New York, dalam sebuah laporan yang dirilis pada 10 September, mempresentasikan bukti “penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan penganiayaan, serta kontrol yang semakin meluas dalam kehidupan sehari-hari” oleh pemerintah China di wilayah Xinjiang.

Laporan itu menggemakan pernyataan Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial, yang pada 10 Agustus mengatakan etnis Uighur di China ditahan di “pusat-pusat kontra-ekstrimisme”, dengan jutaan lainnya dipaksa masuk ke kamp-kamp pendidikan kembali, mengubah wilayah Uighur China menjadi “sesuatu yang menyerupai sebuah kamp interniran besar. “

Sekjen PBB: Semua Pihak Harus Lindungi Warga Idlib

SURIAH (Jurnalislam.com) – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah meminta kelompok-kelompok yang konflik di Suriah untuk tetap melindungi warga sipil yang berada di kubu oposisi Idlib, dengan mengatakan “tidak boleh diubah menjadi pertumpahan darah”.

Guterres mengatakan pada hari Selasa bahwa “sangat penting” mencegah pertempuran skala besar di provinsi Idlib utara Suriah, lansir Anadolu Agency Rabu (13/9/2018).

“Ini akan menjadi mimpi buruk kemanusiaan yang tidak pernah terlihat dalam konflik Suriah yang berlumuran darah.”

Baca juga: 

Kepala PBB mengatakan sangat penting bagi dua pendukung utama Suriah, Iran dan Rusia, untuk “menemukan cara untuk mengisolasi kelompok bersenjata dan … menciptakan situasi di mana warga sipil tidak harus membayar harga untuk memecahkan masalah di Idlib.”

Rezim Syiah Nushairiyah Bashar al-Assad dan sekutunya telah mempersiapkan serangan militer besar-besaran untuk mengusai Idlib yang menampung sekitar tiga juta lebih warga sipil.

Serangan udara dan penembakan brutal di selatan Idlib dan provinsi Hama utara meningkat selama sepekan terakhir setelah Moskow dan Teheran menolak proposal gencatan senjata Turki pada pertemuan puncak trilateral yang diselenggarakan di ibukota Iran, Tehran, pada 7 September.

Operasi pemboman baru itu menyebabkan mengungsinya lebih dari 30.000 orang dari daerah yang dikuasai oposisi sejak awal bulan ini, menurut PBB.

Baca juga: 

Dalam artikel yang diterbitkan hari Selasa di Wall Street Journal, presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menggemakan keprihatinan PBB tentang potensi krisis kemanusiaan, menambahkan bahwa serangan terhadap provinsi terakhir yang dikuasai oposisi tersebut akan mempengaruhi Turki, Eropa dan sekitarnya.

Erdogan, yang bertemu dengan Rusia dan Iran pada KTT Teheran pekan lalu, juga mengatakan Rusia dan Iran memiliki tanggung jawab untuk menghentikan potensi bencana kemanusiaan di Idlib.