Rezim Assad, Rusia dan Iran Persiapkan Serangan Besar ke Idlib

Rezim Assad, Rusia dan Iran Persiapkan Serangan Besar ke Idlib

Antakya (Jurnalislam.com) – Sebuah jeda gencatan sementara ditetapkan di wilayah yang dikuasai oposisi di Suriah barat laut, yang memungkinkan beberapa warga sipil untuk kembali ke rumah mereka setelah melarikan diri dari pemboman intensif oleh pasukan Rusia dan rezim pemerintah Suriah, lansir Aljazeera Selasa (11/9/2018).

Rezim Nushairiyah Suriah Bashar Assad, yang didukung oleh sekutu Rusia dan Iran, telah mempersiapkan serangan militer besar-besaran untuk mengusai provinsi barat laut Idlib, benteng terakhir oposisi dan faksi jihad di Suriah yang menampung sekitar tiga juta orang, dan daerah-daerah sekitarnya .

Serangan udara dan pemboman di selatan Idlib dan provinsi Hama utara meningkat selama sepekan terakhir setelah Moskow dan Teheran menolak proposal gencatan senjata Turki pada pertemuan puncak trilateral yang diselenggarakan di ibukota Iran pada 7 September.

Operasi pemboman baru itu menyebabkan mengungsinya lebih dari 30.000 orang dari daerah yang dikuasai oposisi di Suriah barat laut sejak awal September, menurut PBB.

Baca juga: 

Abdullah Mohamed, 26, dan keluarganya ada di antara mereka. Ayah satu orang anak itu memberi tahu Al Jazeera bahwa mereka terpaksa melarikan diri dari Jisr al-Shoghour, sebuah kota di provinsi Idlib di barat daya, dan mencari perlindungan di pedesaan yang relatif aman.

Tapi setelah menghabiskan dua hari di desa terdekat, mereka sekarang kembali ke rumah karena Mohamed tidak mampu membayar uang sewa untuk keluarganya.

“Karena gelombang orang yang melarikan diri, sewa di desa-desa terdekat meroket. Sekarang sewanya hingga $ 300 per bulan,” kata Mohamed pada hari Selasa, menambahkan bahwa tenda juga sulit ditemukan dan harganya $ 100.

Mohamed mengatakan sejumlah kecil warga Jisr al-Shoghour juga telah kembali ke kota, tetapi mayoritas dari mereka – sekitar 6.000 – masih berlindung di tempat lain.

Karena takut pemboman akan dimulai kembali, mereka tinggal bersama kerabat atau di kamp-kamp di sepanjang perbatasan Turki-Suriah, tambah Mohamed, yang berasal dari provinsi Latakia dan telah mengungsi empat kali selama tiga tahun terakhir.

Baca juga: 

Abd al-Kareem al-Rahmoun, seorang anggota White Helmets, sebuah kelompok medis dan pertahanan sipil yang beroperasi di wilayah Suriah yang dikuasai oposisi, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa di tengah gencatan senjata sementara beberapa keluarga di provinsi Hama utara dapat kembali ke rumah mereka .

Ia memperkirakan sekitar 5.000 keluarga sebelumnya telah meninggalkan daerah itu, dengan beberapa orang menuju ke utara ke kamp-kamp di sepanjang perbatasan dengan Turki, dan yang lain berlindung di ladang di luar desa dan kota.

Menurut Dr. Habib Khashouf, anggota persatuan dokter di provinsi Idlib, per 9 September, jumlah pengungsi internal (internally displaced person-IDP) yang tiba di kamp-kamp di provinsi Idlib utara selama eskalasi baru-baru ini mencapai 8.000 orang.

Khashouf mengatakan banyak dari kamp-kamp itu tidak siap untuk menghadapi arus banyak orang.

Di tengah kondisi yang memburuk, ada kekurangan tenda dan persediaan makanan, serta keterlambatan dalam pengiriman obat karena perginya banyak organisasi asing dari Suriah utara selama setahun terakhir, tambahnya.

Baca juga: 

Soleiman Abu al-Bara, yang sebelumnya bekerja dengan Bulan Sabit Merah Qatar, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa meskipun jeda sementara dalam pemboman, masih ada pengungsi yang tiba di kamp-kamp di utara. Menurut dia, ratusan orang terpaksa bermalam tanpa tempat berlindung karena kurangnya ruang dan tenda di kamp-kamp.

Mark Lowcock, sekretaris jenderal PBB untuk urusan kemanusiaan dan bantuan darurat, mengatakan bahwa serangan besar terhadap daerah-daerah yang dikuasai oposisi di Suriah barat laut dapat memaksa 800.000 penduduk sipil untuk melarikan diri ke perbatasan Turki dan mengambil risiko memprovokasi bencana kemanusiaan terburuk abad ke-21.

Pemerintah Turki juga telah memperingatkan serangan terhadap wilayah yang dikuasai oposisi.

Dalam sebuah editorial yang diterbitkan di Wall Street Journal pada hari Senin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memanggil komunitas internasional untuk mengambil tindakan dan mengatakan bahwa serangan di provinsi Idlib akan menghasilkan “risiko kemanusiaan yang serius bagi Turki, sebagian Eropa dan seterusnya.”

“Orang-orang yang tidak bersalah tidak boleh dikorbankan dengan alasan memerangi terorisme,” tulisnya.

Para pejabat Turki juga telah mengisyaratkan bahwa negara itu tidak akan mampu menampung gelombang pengungsi lain. Turki, yang baru-baru ini mengirim bala bantuan ke perbatasannya untuk mencegah masuknya lebih banyak pengungsi, saat ini menampung lebih dari tiga juta warga Suriah.

Organisasi bantuan Turki juga mendukung sejumlah kamp di perbatasan Turki-Suriah.

Bagikan

One thought on “Rezim Assad, Rusia dan Iran Persiapkan Serangan Besar ke Idlib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.