Taliban: Helikopter Tempur Chinook Amerika Ditembak Jatuh di Begama, Puluhan Tewas

AFGHANISTAN (Jurnalislam.com) – Sejumlah tentara Amerika tewas dan sedikitnya enam lainnya luka-luka dalam sebuah kecelakaan helikopter di provinsi Logar timur pada hari Jumat, menurut Misi Dukungan Tegas (Resolute Support Mission-RSM) pimpinan NATO pada hari Sabtu (28/10/2017), lansir World Bulletin.

Namun Imarah Islam Afghanistan (Taliban) mengatakan telah menembak jatuh pesawat tersebut dan korban tewas dalam insiden tersebut mencapai 43 orang.

Dalam sebuah pernyataan, RSM membantah versi Taliban, menyatakan bahwa kecelakaan itu bukan akibat tindakan musuh.

Dua Distrik Dikuasai, 1 Helikopter Ditembak Jatuh Taliban di Taywara

“Kami sangat sedih dengan hilangnya rekan kami,” Jenderal John Nicholson mengatakan.

“Atas nama Resolute Support Mission, simpati tulus kami sampaikan kepada keluarga dan teman-teman kawan kami yang jatuh dan mereka yang terluka dalam kejadian malang ini.”

Gubernur Logar Saleh Saleh mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa helikopter tersebut jatuh setelah lepas landas dari daerah Kharwar dimana pasukan AS dan Afghanistan melakukan operasi melawan mujahidin Taliban.

Helikopter Tempur AS Ditembak Jatuh di Kunduz

Taliban mengatakan pesawat yang “ditembak jatuh” itu adalah helikopter Chinook Amerika yang digunakan untuk mengangkut tentara dan bahan bantuan. Zabihullah Mujahed, juru bicara Taliban tersebut, men-tweet bahwa Chinook “ditembak jatuh” di daerah Begama di distrik Kharwar, menewaskan 43 tentara Amerika.

Chinooks banyak digunakan dalam misi penyerangan udara untuk mengantarkan pasukan ke lokasi pertempuran, dan kemudian membawakan makanan, air, dan amunisi.

Menurut perkiraan Departemen Pertahanan AS, sebuah unit Boeing CH-47 Chinook menghabiskan biaya hingga $ 38,5 juta, dan sangat efektif di dataran tinggi Afghanistan; Bisa membawa beberapa ton kargo, atau hingga 55 pasukan, dan memiliki jangkauan maksimal 426 kilometer (265 mil).

Pasukan Irak Temukan Kuburan Massal Bekas Eksekusi IS di Kirkuk

BAGHDAD (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak telah menemukan sebuah kuburan massal – yang tampaknya berisi sisa-sisa tentara yang tewas dan personil polisi – di provinsi Kirkuk utara, kata Kementerian Pertahanan Irak pada hari Sabtu (28/10/3017).

“Sebuah kuburan massal ditemukan yang tampaknya berisi tulang belulang 50 personil tentara dan polisi yang dibunuh oleh kelompok Islamic State (IS) di desa Al-Bakara di distrik Hawija Kirkuk,” kata kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.

Irak Kirim Pasukan Tambahan untuk Rebut Kilang Minyak di Kirkuk

“Kuburan akan digali – dan jenazah akan diperiksa – sesuai dengan prosedur hukum yang benar,” tambahnya.

Awal tahun ini, sumber-sumber militer mengatakan pasukan keamanan telah menemukan dua kuburan massal yang berisi sisa-sisa jenazah belasan anggota tentara Irak dan polisi yang telah dibunuh oleh IS di Hawija.

Pada 8 Oktober, pasukan Irak mengumumkan perebuttan kembali Hawija, yang merupakan salah satu benteng terakhir kelompok IS yang tersisa di negara tersebut.

Hamed al-Obaidi, seorang kapten polisi Kirkuk, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pasukan keamanan telah ditugaskan untuk menyelidiki kuburan massal yang ditemukan di distrik tersebut.

Pasukan Kurdi Lancarkan Serangan Balik ke Komando Operasi Bersama Irak di Kirkuk

Menurut al-Obaidi, nasib “puluhan” personil militer Irak tetap tidak diketahui sejak pertengahan 2014, ketika IS menguasai wilayah yang luas di Irak dan Suriah.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, IS telah mengalami serangkaian kekalahan besar di tangan militer Irak dan koalisi pimpinan agresor AS.

Pada bulan Agustus, kelompok tersebut kehilangan Tal Afar di provinsi Nineveh utara Irak. Dan satu bulan sebelumnya, kota Mosul – yang pernah menjadi ibukota “khilafah” versi IS yang memproklamirkan diri sendiri – jatuh ke tangan Irak setelah pengepungan sembilan bulan.

Menteri Pertahanan AS Tegang Lihat Kekuatan Nuklir Korea Utara

Seoul (Jurnalislam.com) – Menteri Pertahanan AS Jim Mattis pada hari Sabtu (28/10/2017) memperingatkan “respon militer besar-besaran” terhadap Korea Utara atas penggunaan senjata nuklir saat ketegangan tetap tinggi menjelang kunjungan Donald Trump ke Korea Selatan, Al Arabiya melaporkan.

Pyongyang dalam beberapa bulan terakhir telah memicu ancaman global dengan melakukan uji coba nuklir keenam dan uji coba rudal yang mampu mencapai daratan AS, saat penguasa baru Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un saling bertukar ancaman perang dan penghinaan pribadi.

Mattis, dalam sebuah perjalanan ke Seoul untuk melakukan pembicaraan pertahanan tahunan, mempertahankan agar diplomasi tetap menjadi “tindakan yang lebih disukai” namun ditekankan, “diplomat kami paling efektif bila didukung oleh kekuatan militer yang kredibel”.

“Jangan salah – serangan ke Amerika Serikat atau sekutunya akan dikalahkan,” kata Mattis pada konferensi pers bersama dengan rekannya dari Korea Selatan Song Young-Moo.

Pesawat Pembom AS Mulai Dekati Korea Utara, Menlu Korut: Kami Hancurkan Tanpa Ampun

“Setiap penggunaan senjata nuklir oleh Korea Utara akan disambut dengan respon militer yang besar, efektif dan luar biasa,” kata Mattis, menambahkan bahwa Washington “tidak menerima nuklir Korea Utara.”

Mattis tidak menyebutkan jenis penggunaan senjata nuklir yang akan memicu respons militer. Menteri Luar Negeri Pyongyang Ri Yong-Ho mengatakan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB bulan lalu bahwa negaranya dapat menguji bom nuklir di Pasifik.

Mattis juga mendesak Pyongyang untuk “tidak memiliki ilusi”, dengan mengatakan bahwa negara yang terisolasi tersebut secara militer “jauh tidak sebanding” dengan AS dan Korea Selatan – sekutu penting Washington yang menampung 28.500 tentara AS.

Mattis datang menjelang kunjungan presiden pertama Trump ke Korea Selatan bulan depan sebagai bagian dari tur Asia-nya yang juga mencakup Jepang, China, Vietnam dan Filipina.

Krisis Korut-AS, Sekjen PBB: Ini Ancaman Bahaya Perang Nuklir

Semua mata tertuju pada pesan Trump ke Utara dan Kim. Trump diharapkan untuk menyampaikan pidato di parlemen Selatan dan untuk mengunjungi sebuah pangkalan militer AS selama perjalanan ke Seoul 7-8 November.

Pernyataan terbaru Trump bahwa “hanya satu hal yang akan berhasil” dengan Korea Utara memicu adanya potensi konflik di semenanjung yang terbagi saat Perang Korea 1950-53 yang telah menewaskan jutaan orang.

Namun Mattis telah berulang kali menekankan sebuah solusi diplomatik untuk mengurangi ketegangan selama perjalanannya ke Asia pekan ini, dengan mengatakan bahwa Washington “tidak terburu-buru berperang” dan tujuannya adalah “bukan perang”.

49 Orang Terkait IS Ditangkap di Ibukota Turki

ANKARA (Jurnalislam.com) – Turki pada hari Sabtu (28/10/2017) menangkap 49 tersangka yang terkait dengan organisasi Islamic State (IS) di ibukota Ankara, menurut pejabat polisi, lansir Anadolu Agency.

Pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim karena pembatasan untuk berbicara dengan media, mengatakan bahwa kantor jaksa penuntut umum Ankara telah mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi 55 warga asing, sebagai bagian dari penyelidikan terhadap kelompok tersebut.

40 Orang Rencanakan Bunuh Erdogan, Pengadilan Turki Vonis Hukuman Seumur Hidup

Pada hari Sabtu, polisi menangkap 49 dari 55 tersangka dalam operasi di Ankara.

Pejabat tersebut mengatakan beberapa tersangka merencanakan serangan terhadap perayaan Hari Republik di negara itu pada 29 Oktober.

Beberapa tersangka juga diyakini telah terlibat dalam konflik bersenjata di luar negeri.

Ghouta Timur Diblokade Rezim Syiah Assad, 1.000 Anak Lebih Terancam Kematian

GHOUTA TIMUR (Jurnalislam.com) – Lebih dari 1.000 anak-anak berisiko meninggal karena kekurangan makanan dan obat-obatan di Ghouta Timur di pinggiran ibukota Suriah, Damaskus, akibat blokade rezim Assad selama lima tahun terakhir.

Menurut informasi yang dikumpulkan dari koresponden Anadolu Agency, Sabtu (28/10/2017) di wilayah tersebut, 1.114 anak kelaparan menghadapi kematian di Ghouta Timur, di mana 400.000 penduduk sipil tinggal di wilayah seluas 105 kilometer persegi.

Wilayah ini berada di bawah pengepungan militer selama lima tahun terakhir dan terkadang menderita serangan udara yang hebat.

51 Pasukan Assad Tewas dalam Pertempuran di Timur Ghouta dan Damaskus

Air juga merupakan isu besar di Ghouta Timur, di mana jaringan pasokan air telah hancur karena serangan rezim tersebut. Jaringan juga mengalami kerusakan besar setelah serangan senjata kimia yang juga menimbulkan kekhawatiran keracunan makanan dan air.

Rezim membuat penduduk setempat hanya bisa mengakses air melalui sumur, dan banyak anak muda mengantri air untuk mengisi wadah-wadah mereka.

Sebuah laporan yang diterbitkan pada tanggal 24 Oktober oleh Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah (the Syrian Network for Human Rights-SNHR) mengatakan “tidak kurang dari 397 warga sipil, termasuk 206 anak-anak dan 67 wanita, meninggal karena kelaparan dan kekurangan obat terutama antara awal pengepungan di wilayah Timur Ghouta pada bulan Oktober 2012 hingga 22 Oktober 2017.”

Rezim Assad Lancarkan Serangan Udara ke Pemukiman Warga Timur Ghouta, Puluhan Tewas

Laporan tersebut menunjukkan bahwa “kematian kebanyakan terjadi di antara kelompok rentan seperti bayi, orang tua, orang sakit dan orang yang terluka.”

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs-OCHA), dalam sebuah pernyataan mengatakan sebuah konvoi 42 truk membawa makanan, barang-barang kesehatan, makanan sehat, barang-barang edukasi dan pakaian anak-anak untuk 25.000 orang di kota-kota yang diserang di Harasta Timur, Misraba dan Modira di Ghouta bagian timur, pedesaan Damaskus pada 23 September.

“Sudah lebih dari tiga bulan sejak lembaga bantuan dapat mengakses Ghouta Timur,” kata pernyataan tersebut.

Serangan Bom Hantam Hotel Presiden Somalia, Puluhan Tewas

SOMALIA (Jurnalislam.com) – Sedikitnya 10 orang tewas dalam sebuah pemboman mobil ganda di ibukota Somalia, Mogadishu, Sabtu (28/10/2017) yang masih terguncang akibat serangan besar-besaran yang menyebabkan ratusan orang meninggal awal bulan ini.

Seorang pembom mobil pertama-tama memasuki sebuah hotel di mana Presiden Mohamed Abdullahi Farmajo dijadwalkan mengadakan pertemuan pada hari Sabtu, disusul oleh sebuah pemboman mobil di dekat bekas gedung parlemen.

Mohamed Ahmed, seorang sopir tuk-tuk yang sedang mengendarai mobilnya di hotel Nasa-Hablod pada saat serangan tersebut, mengatakan bahwa dia “melihat sebuah mobil meledak di pintu gerbang hotel. Saya tidak tahu kemana dua penumpang saya pergi.”

Dia menambahkan, “Saya tidak tahu apakah mereka mati atau hidup, tapi saya melihat empat mayat.”

Al Shabaab Serang Pangkalan Militer Somalia, 26 Pasukan Tewas

Al-Shabab telah mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut, menurut Mohammed Adow dari Al Jazeera.

Koresponden kami, yang melaporkan dari Nairobi, Kenya, mengatakan sedikitnya tiga orang bersenjata al-Shabab masuk ke hotel Nasa-Hablod setelah pemboman mobil, namun mereka telah dilumpuhkan oleh pasukan keamanan Somalia.

“Kami bisa memastikan bahwa presiden tidak berada di hotel pada saat serangan,” katanya.

Farmajo dijadwalkan bertemu dengan presiden lima republik federal Somalia di hotel nanti malam, katanya.

“Petugas penyelamat mengatakan jumlah korban tewas bisa jauh lebih tinggi. Mereka telah menemukan begitu banyak mayat dari hotel,” katanya, mengutip saksi yang melaporkan bahwa para pejuang al-Shabab melemparkan granat ke dalam hotel.

Beberapa bangunan di dekat hotel juga roboh, menjebak orang-orang di bawah reruntuhan.

Menurut perhitungan Al Jazeera, sejak awal tahun ini, lebih dari 20 ledakan telah menargetkan Mogadishu, menewaskan sedikitnya 500 orang dan melukai lebih dari 630 orang.

Korban Tewas Serangan Bom di Somalia Meningkat, Menjadi 276 Orang

Sebuah ledakan di pinggir jalan menabrak sebuah minibus yang membawa penumpang, 36 km di selatan Mogadishu, pada 22 Oktober, menewaskan sedikitnya 11 orang.

Serangan dahsyat pada 14 Oktober menyebabkan sedikitnya 358 orang tewas dan lebih dari 400 lainnya cedera.

Pemerintah Somalia menuduh ledakan 14 Oktober dilakukan al-Shabab, namun tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.

Sumpah Pemuda, Mahasiswa Solo: ‘Tolak Rezim Represif Penangkap Aktivis Kritis’

SOLO (Jurnalislam.com) – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam, Aliansi Mahasiswa Solo (AMS) menggelar aksi unjuk rasa di depan Polresta Surakarta, jalan Adi Sucipto No.2 Manahan, Solo, Sabtu (28/10/2017). Aksi dihari sumpah pemuda ini menolak tindak represif aparatur pemerintah terhadap kebebasan berpendapat.

“Pembungkaman yang terjadi hari ini, telah mencedirai demokrasi dan melanggar UUD 1945 pasal 28 E ayat 3. Bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat,” kata Kordinator aksi, Hasan Hanafi kepada Jurniscom disela-sela aksi.

Hanafi mengatakan, penangkapan sejumlah mahasiswa pada aksi evaluasi 3 tahun kepemimpinan Jokowi-JK, pada 20 Oktober lalu oleh Polda Metro Jaya menambah rentetan panjang tindakan represif aparatur pemerintah.

“Maka muncul pertanyaan besar, sebegitu haramkah kritik untuk pembangunan negeri ini,” lugas Hanafi lirih.

Oleh sebab itu, AMS sebagai wadah agen perubahan mahasiswa Solo mendesak dibebaskannya sejumlah pelaku kebebasan berpendapat itu. Jika tidak, kata dia, AMS akan melakukan aksi serupa di jantung Ibukota.

“Menolak hadirnya rezim represif serta perlakuan diskriminasi hukum oleh aparat, segera bebaskan dan cabut status tersangka para aktivis mahasiswa,” pungkasnya.

PM Irak Serukan Hentikan Pertempuran dengan Kurdi

IRAK ((Jurnalislam.com) – Perdana menteri Irak telah memerintahkan penghentian sementara operasi militer di utara Irak yang bertujuan merebut kembali wilayah yang dipegang oleh pasukan keamanan Kurdi.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (27/10/2017), Haider al-Abadi memerintahkan pasukan pemerintah untuk menunda operasi mereka selama 24 jam untuk memungkinkan penggelaran pasukan lain berkoordinasi dengan pasukan Kurdi di daerah yang disengketakan dan di sepanjang perbatasan negara tersebut.

Penangguhan gerakan pasukan akan memungkinkan tim teknis dari kedua belah pihak bekerja sama untuk penempatan tersebut, kata al-Abadi, Aljazeera.

“Penangguhan ini ditujukan untuk mencegah bentrokan dan pertumpahan darah di antara orang-orang di negara yang sama.”

Keputusan Al-Abadi terjadi sehari setelah pasukan pemerintah dan pasukan Kurdi bentrok di dekat kota utara Mosul.

Pekan lalu, pasukan Irak merebut kembali kota Kirkuk yang kaya minyak, yang telah dikuasai oleh pasukan Kurdi sejak tentara Irak melarikan diri saat pasukan IS masuk pada tahun 2014.

Kekerasan meningkat setelah referendum separatis pada 25 September, di mana 92 ​​persen warga Kurdi mendukung kemerdekaan dari Irak, memicu ketegangan di antara kedua belah pihak.

Sebelumnya pada hari Jumat, koalisi pimpinan AS yang memerangi kelompok Islamic State (IS), mengatakan bahwa pasukan Irak dan Kurdi harus fokus pada dialog dan mengurangi ketegangan internal untuk berperang melawan musuh yang lebih besar.

Pasukan Irak dan Milisi Syiah Kembali Kuasai Bagian Utara dan Timur Kota Kirkuk

“Kami mendorong dialog. Kami mencoba untuk menurunkan ketegangan dan memfokuskan kembali usaha kami untuk mengalahkan IS,” kata juru bicara koalisi Kolonel Ryan Dillon kepada Rudaw, sebuah kantor berita di wilayah Kurdi Irak, dalam sebuah wawancara video yang diposting pada hari Jumat.

“Apa yang kita dorong adalah dialog dan mencoba menempatkan orang yang tepat ke meja kerja.”

Dillon mengatakan dalam wawancara bahwa ada “gencatan senjata” antara pasukan Irak dan Kurdi, namun kemudian mencabut ucapan tersebut, mencatat di Twitter bahwa walaupun kedua belah pihak telah berbicara, itu adalah “‘gencatan senjata’ tidak resmi”.

Tujuan utamanya adalah untuk mencegah bangkitnya kembali kelompok Islamic State (IS), Dillon menambahkan: “Mereka berkembang dalam ketidakstabilan dan perselisihan antar kelompok, dan kita tidak dapat membiarkannya muncul kembali.

Jenderal Keamanan Hamas Selamat dari Serangan Bom di Gaza

PALESTINA (Jurnalislam.com) – Direktur Jenderal Keamanan Internal Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) di Jalur Gaza Mayor Jenderal Tawfiq Abu Naeem selamat dari percobaan pembunuhan pada hari Jumat (27/10/2017) Al Arabiya melaporkan.

Sebuah alat peledak yang diletakkan di mobilnya diledakkan dalam upaya untuk menghabiskan nyawanya, menurut sumber keamanan.

Kepala keamanan gerakan Hamas itu terluka parah akibat ledakan tersebut namun berhasil dibawa ke rumah sakit dan tampaknya berada dalam kesehatan yang baik.

Tanggapi Ancaman AS dan Israel, Hamas: Kami Tidak akan Tinggalkan Perlawanan Bersenjata

Misi AS Belum Tuntas, Jubir Koalisi: Pasukan Irak dan Kurdi Harus Kurangi Konflik Internal

IRAK (Jurnalislam.com) – Pasukan Irak dan Kurdi harus fokus pada dialog dan mengurangi ketegangan internal untuk memerangi musuh yang lebih besar, menurut koalisi pimpinan AS yang memerangi IS.

“Kami mendorong dialog. Kami mencoba untuk menurunkan ketegangan dan memfokuskan kembali usaha kami untuk mengalahkan IS,” kata juru bicara koalisi Kolonel Ryan Dillon kepada Rudaw, sebuah kantor berita di wilayah Kurdi Irak, dalam sebuah wawancara video yang diposting pada hari Jumat (27/10/2017), lansir Aljaeera.

“Apa yang kita dorong adalah dialog dan mencoba menempatkan orang yang tepat ke meja kerja.”

Dillon mengatakan dalam wawancara bahwa ada “gencatan senjata” antara pasukan Irak dan Kurdi, namun kemudian mencabut ucapan tersebut, mencatat di Twitter bahwa walaupun kedua belah pihak telah berbicara, itu adalah “‘gencatan senjata’ tidak resmi”.

Pasukan Kurdi Lancarkan Serangan Balik ke Komando Operasi Bersama Irak di Kirkuk

Tujuan utamanya adalah untuk mencegah bangkitnya kembali kelompok Islamic State (IS), Dillon menambahkan: “Mereka berkembang dalam ketidakstabilan dan perselisihan antar kelompok, dan kita tidak dapat membiarkannya muncul kembali. Harus memotong kepala ular dan mencegahnya untuk kembali.”

Komentarnya muncul setelah ketegangan dan bentrokan yang meningkat antara pasukan Irak dan Kurdi di utara negara tersebut.

Pekan lalu, pasukan Irak merebut kembali kota Kirkuk yang kaya minyak, yang telah dikuasai oleh pasukan Kurdi sejak tentara Irak melarikan diri saat pasukan IS masuk pada tahun 2014.

Langkah tersebut dilakukan beberapa pekan setelah pemungutan suara separatis yang kontroversial, di mana 92 ​​persen warga Kurdi mendukung kemerdekaan dari Irak, menyebabkan pertempuran antara kedua belah pihak.