BRUSSELS (Jurnalislam.com) – Ratusan pemrotes menandai kunjungan Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu untuk bertemu dengan pejabat Uni Eropa pada hari Senin (11/12/2017), lansir Anadolu Agency.
200 orang berkumpul melakukan demonstrasi di luar kantor Uni Eropa di Brussel’s Schuman Square membawa bendera Palestina dan spanduk mendukung boikot terhadap Israel dan mengutuk “kejahatan perang” Israel.
Kunjungan Netanyahu terjadi setelah pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Sebelumnya, dia bertemu dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini dan menteri luar negeri negara anggota UE.
Netanyahu mengatakan bahwa dia mengharapkan Eropa untuk segera mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel sementara Mogherini mengatakan “satu-satunya solusi realistis” bagi konflik Israel-Palestina adalah didasarkan pada kesepakatan dua negara menurut perbatasan tahun 1967.
Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Presiden Komisi EU Jean-Claude Juncker pada hari Senin namun kunjungan tersebut dibatalkan. Para pejabat menolak untuk mengomentari pembatalan tersebut.
ISTANBUL (Jurnalislam.com) – Organisasi Kerjasama Islam (the Organisation of Islamic Cooperation-OIC) dijadwalkan untuk membahas masalah Yerusalem di Istanbul, kota terbesar di Turki, pada besok hari Rabu (13/12/2017).
Erdogan mengatakan bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tersebut akan menjadi “titik balik” atas krisis Yerusalem, bahkan Rusia berjanji untuk mengirim seorang perwakilan.
Reporter Al Jazeera Mohammed Adow, melaporkan dari Ankara, Senin (11/12/2017), mengatakan bahwa Putin “telah memanfaatkan semangat anti-Trump di wilayah ini” dengan tur regional tiga-kakinya.
Marwan Karbalam, seorang analis Timur Tengah, juga mengatakan bahwa perjalanan Putin ditujukan untuk “memproyeksikan kekuasaan di Timur Tengah dengan mengunjungi dua sekutu AS – Mesir dan Turki – yang telah semakin dekat dengan Rusia selama beberapa tahun terakhir.”
Dia “mencoba memanfaatkan hubungan sekutu AS yang sulit dengan pelindung internasional mereka untuk meningkatkan pengaruhnya,” kata Karbalam kepada Al Jazeera.
Putin mengumumkan pekan lalu bahwa dia akan mencari sebuah strategi baru dalam pemilihan presiden Rusia mendatang tahun depan.
Yury Barmin, seorang rekan di Dewan Urusan Internasional Rusia, mengatakan bahwa turnya juga merupakan “langkah terakhir untuk meyakinkan publik Rusia bahwa Vladimir Putin adalah pemimpin yang kuat dan perlu dipilih kembali.”
Putin dan Erdogan juga membahas perkembangan di Suriah dan memperkuat hubungan ekonomi dan militer.
Pejabat Turki dan Rusia akan bertemu untuk menyelesaikan sistem rudal S-400 Turki pekan depan, kata Erdogan.
TURKI (Jurnalislam.com) – Presiden Rusia Vladimir Putin mengakhiri tur regional satu harinya dengan berhenti di Turki, dan bergabung dengan rekannya dari Turki dalam mengkritik sebuah keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Sebelum mendarat di Ankara pada hari Senin (11/12/2017) untuk bertemu Recep Tayyip Erdogan, Putin melakukan kunjungan tak terjadwal ke Suriah yang dilanda perang, di mana dia memerintahkan pasukan Rusia untuk mulai menarik diri, dan juga ke Mesir, untuk mengadakan pembicaraan yang direncanakan dengan Presiden Abdel Fattah el-Sisi, lansir Aljazeera.
Kunjungan kilat ke wilayah tersebut menyoroti hubungan Rusia yang meluas dengan pemain kunci di Timur Tengah, kata para analis.
Kunjungan ini juga terjadi di tengah meningkatnya kemarahan di wilayah tersebut dan juga di dunia Muslim atas keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Pergeseran kebijakan AS juga banyak dikutuk oleh sekutu Washington.
Berbicara bersama Erdogan setelah pertemuan mereka di ibukota Turki, Putin mengatakan bahwa status Yerusalem harus diselesaikan melalui pembicaraan langsung antara Palestina dan Israel.
“Baik Rusia maupun Turki sama-sama menganggap keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel tidak membantu situasi di Timur Tengah,” katanya dalam sebuah konferensi pers.
“Keputusan AS ini mengacaukan wilayah dan menghapus prospek perdamaian,” tambah Putin.
Erdogan mengatakan bahwa dia “senang” dengan pendirian Putin, dan Erdogan mengutuk Israel atas kematian orang-orang Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Palestina karena demonstrasi menentang rencana Trump berlanjut untuk hari keenam di sana.
Warga Palestina melihat Yerusalem Timur yang saat ini diduduki Israel sebagai ibu kota negara masa depan mereka.
WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Sedikitnya satu orang ditahan setelah sebuah ledakan di sebuah stasiun transit utama di Manhattan tengah, yang oleh pejabat New York disebut “upaya serangan teror”.
Seorang jurubicara NYPD mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ledakan tersebut terjadi pada Senin pagi (11/12/2017) di area Terminal Bus Otoritas Pelabuhan, di dekat 42nd Street dan 8th Avenue, yang juga dekat dengan Times Square.
Menurut pejabat sedikitnya empat orang, termasuk tersangka, menderita luka yang tidak mengancam jiwa.
Tersangka, diidentifikasi oleh polisi sebagai Akayed Ullah yang berusia 27 tahun, “dengan sengaja meledakkan” alat peledak improvisasi berteknologi rendah yang dia kenakan, kata pejabat kepada wartawan.
Mereka menambahkan bahwa “perangkat itu berbentuk bom pipa dan ditempelkan ke badan [tersangka] dengan kombinasi ritsleting dan velcro.”
Walikota New York Bill de Blasio mengatakan kepada wartawan bahwa “ini adalah percobaan serangan teror”.
Dia menambahkan bahwa “tidak ada insiden tambahan yang diketahui saat ini” dan “tidak ada kegiatan tambahan yang diketahui”.
“Kami akan menunggu penyelidikan yang lebih lengkap … tapi saat ini kami hanya mengetahui satu individu … yang tidak berhasil mencapai tujuannya.”
Otoritas Transit New York sebelumnya telah menutup beberapa bagian sistem transit saat mereka melakukan tindakan pengamanan, namun para pejabat mengatakan bahwa sistem tersebut diperkirakan akan kembali normal beberapa saat kemudian.
Reporter Al Jazeera Kristen Saloomey, melaporkan dari lokasi kejadian, mengatakan serangan tersebut terjadi di “daerah yang sangat sibuk”.
“Ini adalah pusat utama di Manhattan, hampir setiap kereta bawah tanah besar lewat atau berada di dekat sini, dan tersangka memasang alat peledaknya di terowongan kereta bawah tanah ini,” katanya.
Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan kepada wartawan bahwa “ini adalah New York dan kenyataannya kita adalah target orang-orang yang ingin membuat pernyataan menentang demokrasi dan kebebasan.”
Polisi tidak berkomentar mengenai motif tersangka dan mengatakan akan melakukan penyelidikan penuh terhadap ledakan tersebut, yang juga tertangkap di CCTV.
BEIRUT (Jurnalislam.com) – Bentrokan kekerasan meletus di luar Kedutaan Besar AS di Beirut pada hari Ahad (10/12/2017) dalam sebuah demonstrasi menentang keputusan Presiden AS Donald Trump untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Demonstran membakar ban dan bendera AS dan Israel saat mereka mendorong untuk menerobos kawat berduri yang dipasang oleh pasukan keamanan di sekitar kompleks kedutaan, menurut seorang reporter Anadolu Agency.
Pasukan keamanan menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan pemrotes yang marah, yang mencoba melepaskan pagar kawat itu.
Sejumlah pemrotes ditahan dalam demonstrasi tersebut.
“Demonstrasi ini tidak terbatas pada partai atau sekte tertentu,” pemimpin Hamas Ahmet al-Hut mengatakan kepada Anadolu Agency. “Ini adalah sebuah demonstrasi nasional yang diikuti oleh setiap orang Kristen dan Muslim yang percaya bahwa Yerusalem adalah ibukota abadi Palestina,” katanya.
Sekretaris Jenderal Partai Komunis Lebanon, Hanna Gharib, menggambarkan pengakuan Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel sebagai “pemusnahan Palestina” dan akan menjerumuskan rakyat Palestina dalam “gelombang perpindahan baru.”
Dalam sebuah pernyataan, Gharib meminta negara-negara Arab untuk “menghentikan semua program kerjasama dengan AS dan mengusir duta besarnya.”
Pada hari Rabu, Trump mengumumkan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dan mengatakan bahwa Kedutaan Besar AS akan dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Pergeseran dramatis dalam kebijakan Washington mengenai Yerusalem memicu demonstrasi di wilayah Palestina yang diduduki dan beberapa negara Muslim.
Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan rakyat Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina masa depan.
RAMALLAH (Jurnalislam.com) – Lebih dari 150 warga Palestina pada hari Ahad (10/12/2017) terluka di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang diduduki setelah pasukan penjajah Israel membubarkan aksi menentang keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Dalam sebuah pernyataan, Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan bahwa total 157 orang terluka dalam bentrokan yang terjadi di kota Ramallah, Tulkarim dan Bethlehem, dan Jalur Gaza, lansir Anadolu Agency.
Pasukan zionis menggunakan gas air mata, amunisi hidup dan peluru karet untuk membubarkan para pemrotes. 13 orang terluka di Gaza dan 144 lainnya di berbagai wilayah Tepi Barat, katanya.
Kelompok-kelompok Palestina menyerukan demonstrasi massa baru-baru ini di Tepi Barat dan Yerusalem Timur pada hari Sabtu menentang pengakuan AS.
Sejak Jumat, empat warga Palestina syahid dan ratusan lainnya cedera dalam bentrokan serta serangan udara Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak Jumat.
Pada hari Rabu, Trump mengumumkan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dan mengatakan bahwa Kedutaan Besar AS akan dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Pergeseran dramatis dalam kebijakan Washington mengenai Yerusalem memicu demonstrasi di wilayah Palestina yang diduduki dan negara-negara Muslim.
Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina masa depan.
GAZA (Jurnalislam.com) – Sayap bersenjata kelompok Hamas, Brigade Izzudin al Qassam bersumpah untuk menanggapi serangan udara Israel di Jalur Gaza baru-baru ini, di tengah ketegangan atas pengakuan Presiden Donald Trump atas Yerusalem sebagai ibukota Israel.
Israel “akan membayar harga karena melanggar peraturan persinggungan dengan perlawanan di Gaza,” Brigade izzuddin al-Qassam mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Ahad (10/12/2017), lansir Anadolu Agency.
Dua orang Palestina menjadi martir pada hari Sabtu ketika pesawat tempur zionis melakukan serangan pada warga sipil di Jalur Gaza setelah sebuah tembakan roket.
“Beberapa hari mendatang kami akan membuktikan kepada musuh bahwa mereka telah membuat kesalahan besar dan salah menghitung tekad perlawanan,” kata Brigade.
Pada hari Rabu, Trump mengumumkan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dan mengatakan bahwa Kedutaan Besar AS akan dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Pergeseran dramatis dalam kebijakan Washington mengenai Yerusalem memicu aksi unjuk rasa di wilayah Palestina yang diduduki dan sejumlah besar negara Muslim.
Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang dijajah oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina masa depan.
“Pernyataan Trump itu merupakan bentuk kesombongan dan arogansi yang harus ditentang”
Oleh: Muhammad Fajar, Jurnalis Media Islam
JURNALISLAM.COM – BOOM. Sebuah ledakan yang mengguncang peradaban seketika terjadi. Bak gempa berskala 7 richter lebih menerpa jutaan manusia. Sebuah pernyataan yang telah berhasil membuat dunia ini gaduh, perdamaian terusik, dan religiusitas memerah.
Celoteh salah satu pimpinan negara super power menabrak sendi hukum internasional. Melanggar pelbagai resolusi perdamaian yang digaungkan oleh Perserikatan bangsa-bangsa alias PBB. Bagaimana tidak? PBB telah menyusun secara rapih ketentuan tersebut. Ketentuan kemerdekaan dan batas wilayah negara yang pertama kali mengakui kedaulatan merah putih.
Ialah Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS) pengganti Barack Obama, presiden yang telah habis menjalani 2 periode kepemimpinan. Tepatnya pada Rabu, 6 Desember 2017. Dengan arogansinya ia berucap tentang negara Yahudi, Israel. Lantang dan tegas ia katakan Ibukota negara Israel sudah saatnya berpindah ke Yerusalem, jantung wilayah negara Palestina.
Gayung pun bersambut. Penentangan akan kearogansian Trump bermunculan seperti bunga mawar yang akan mekar, kecambah yang akan memiliki batang, juga telur ikan yang mulai menetas.
Penentangan Dunia
Dimulai dari tuan rumah penyelenggara Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Turki. Erdogan, sang pemimpin negara tersebut dengan lantang menentang kebijakan sepihak Trump.
“Trump, Yerusalem adalah garis merah bagi umat Islam. Kami minta kepada AS sekali lagi. Anda tidak dapat mengambil langkah seperti ini,” Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada sebuah pertemuan kelompok parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) yang berkuasa.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan
Erdogan juga mengancam akan menggelar pertemuan besar, pertemuan The Organization of Islamic Cooperation (OIC) atau dalam bahasa yang dikenal organisasi kerjasama Islam yang akan digelar di Istanbul pada 13 Desember nanti.
“Jika Anda mengambil langkah seperti ini, kami akan mengadakan pertemuan puncak kerjasama Islam di Istanbul,” lugas Erdogan.
Dari titik ini muncul pernyataan penolakan dari pelbagai negara yang diawali negara-negara timur tengah yang notabene dekat dengan Palestina.
Raja Yordania Abdullah II mengatakan kepada Trump bahwa keputusan semacam itu akan memiliki “dampak berbahaya pada stabilitas dan keamanan kawasan ini”.
Raja juga memperingatkan presiden AS tentang risiko dari setiap keputusan yang bertentangan dengan penyelesaian akhir konflik Arab-Israel yang didasarkan pada pembentukan sebuah negara Palestina merdeka dengan ibukotanya di Yerusalem Timur.
“Yerusalem adalah kunci untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia,” kata pernyataan yang bersumber dari kerajaan, menambahkan bahwa memindahkan kedutaan akan mengobarkan perasaan kaum Muslim.
Dalam sebuah pernyataan, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi juga memperingatkan Trump untuk tidak “mengambil tindakan yang akan merusak peluang perdamaian di Timur Tengah”.
“Presiden Mesir menegaskan posisi Mesir untuk menjaga status hukum Yerusalem dalam kerangka referensi internasional dan resolusi PBB yang relevan,” kata pernyataan tersebut.
Selain negara-negara Timur Tengah Eropa juga ikut mengecam pendudukan atau okupasi yang dibuat Trump ini. Sigmar Gabriel, menteri luar negeri Jerman, juga memperingatkan bahwa setiap gerakan AS untuk mengakui Yerusalem “sebagai ibu kota Israel tidak meredakan konflik, namun justru akan menyulut lebih banyak konflik,” dan bahwa tindakan semacam itu “akan menjadi perkembangan yang sangat berbahaya. ”
Uni Eropa
Federica Mogherini, diplomat tertinggi Uni Eropa, mengatakan “setiap tindakan yang akan merusak” upaya perdamaian untuk menciptakan dua negara yang terpisah bagi Israel dan Palestina “harus benar-benar dihindari.”
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres “secara konsisten telah memperingatkan tindakan sepihak yang berpotensi merusak solusi dua negara,” juru bicaranya, Stephane Dujarric, mengatakan kepada wartawan di New York.
Bahkan, didalam negerinya sendiri, Amerika Serikat. Ribuan warga pada hari Jumat, 8 Desember turun kejalan, mengepung gedung putih untuk menolak keras pernyataan Trump.
Ribuan warga AS berunjuk rasa, mengecam keputusan Trump
“Keputusan ini menunjukkan apa yang telah kami katakan sejak lama bahwa tidak ada yang namanya proses perdamaian,” cendekiawan Muslim yang berbasis di AS, Omer Suleiman kepada Anadolu Agency. “Jika kita ingin memulai proses perdamaian yang jujur, maka pemerintah Amerika hanyalah berperan sebagai broker yang jujur.”
Lalu bagaimana Indonesia?
Jangankan saat genting seperti kejadian pencaplokan Yerusalem oleh Israel, sudah sejak dulu Indonesia pro-aktif mendukung negara tempat Kiblat pertama umat Islam.
Sudah jelas negara dengan agama Islam sebagai mayoritas sangat reaktif tentang peristiwa ini. Mulai dari Presiden hingga rakyat mengecam pengakuan Trump tersebut.
“Saya sampaikan kepada Presiden Palestina Mahmoud Abas, pertama Indonesia mengecam keras keputusan Amerika tersebut. Dan saya sampaikan keputusan tersebut bertentangan dengan semua resolusi Dewan keamanan PBB terkait Palestina,” jelas Presiden Indonesia, Jokowi dilansir Kompas.
Presiden Indonesia, Joko Widodo
Pihaknya juga akan berjanji akan datang ke Istanbul, Turki untuk menghadiri OKI untuk membahas hal yang membuat kekacauan internasional tersebut.
Beralih kepada rakyat, sang pemegang kedaulatan tertinggi di Indonesia. Ribuan warga yang didominasi oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) mengepung Kedubes AS di Jakarta untuk mengecam tindakan sepihak Trump.
“Allohuma khoirumin rakyat Palestina, Ya Alloh bebaskan Yerussalem dari tangan Zionis Israel, semoga Allah bikin gempa untuk negara itu, Al Fatihah,” ujar salah seorang orator.
Di Solo, tempat presiden Jokowi menjabat sebagai walikota juga melakukan aksi serupa. Jumat perlawanan menjadi tema yang diusung. Guyuran hujan tipis tidak menghalangi semangat ratusan warga Solo untuk mendobrak arogansi Trump.
Aksi bela Palestina di sejumlah tempat di Indonesia
“Mudah-mudahan deklarasi dari Donald Trump kemarin atas dijadikannya Al Quds sebagai ibukota Israel, akan menjadikan kesatuan bagi kaum muslimin,” ujar Sekjend Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustaz Shabbarin Syakur dalam orasinya di Bundaran Gladak, Solo.
Aksi Bela Palestina atau yang bisa disebut Save Al Quds juga digelar di Ibukota Provinsi Jawa tengah, Semarang. Ribuan warga memadati Bundaran Air mancur di Jalan Pahlawan, Kota Semarang pada hari yang sama, Jumat.
Anggota DPR Fraksi PKS, Abdul Fikri Fakih yang hadir dalam aksi tersebut mengatakan pemerintah harus proaktif dalam membela umat Islam. Menurutnya, Yerussalem adalah tanah wakaf umat Islam yang harus dipertahankan dengan segenap kemampuan.
“Sungguh dosa besar anggota DPR dan Polisi tidak peduli dengan wakaf umat Islam,” ujar anggota dewan ini.
Selang dua hari, Banten, provinsi yang dikenal religius pun turut mengutarakan aspirasinya. Di depan kantor pemerintahan gubernur, ribuan warga mengecam tegas kebijakan Trump ini.
Bahkan, dalam salah satu agenda orasi, ada sesi penginjakan dan pembakaran foto Donald Trump, Bendera Israel dan Amerika sebagai bentuk amarah. Amarah karena pelanggaran Trump yang telah disepakati kesalahannya oleh dunia.
pembakaran bendera Israil dan Amerika, juga foto Trump
“Tujuannya sudah jelas dan lugas untuk membela saudara kami di Palestina, dari cengkeraman Yahudi Israel dan Amerika,” kata Korlap Aksi, Zainal.
Sikap arogan, sombong, congkak, angkuh, atau berarti mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah Donald Trump menjadikan Yerusalem sebagai ibukota Israil memang harus ditembus serta dilawan dengan porsi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Jika tidak, bagaimana nasib tempat suci ini? Mau dibiarkan saja rusak ditelan kaum Yahudi dan Amerika? Atau mengambil pilihan lain untuk melawan? Jawab saja dengan hati nurani: Al Quds Belongs To Muslim.
SERANG (Jurnalislam.com) – Ribuan warga Banten turun ke jalan untuk melakukan aksi unjuk rasa, membela Palestina dari arogansi Donald Trump, Ahad (10/12/2017).
“Tujuannya sudah jelas dan lugas untuk membela saudara kami di Palestina, dari cengkeraman Yahudi Israel dan Amerika,” kata Humas aksi, Zainal kepada jurniscom di Masjid Agung At-Tsauroh Serang.
Aksi berupa longmarch dari Masjid Agung At-Tsauroh sampai Alun-alun kota Serang itu, menjadi magnet umat Islam yang tidak rela Yerusalem (Al-Quds) diduduki sepihak oleh Amerika dengan pernyataan Donald Trumpnya.
“Alhamdulillah, kami dari panitia hanya melakukan satu hari saja persiapan, namun animo masyarakat begitu dashyat,” ungkapnya.
“Padahal kami hanya mengundang lewat aplikasi WhatsApp saja, inilah bukti masyarakat khususnya warga Banten sangat peduli dengan Palestina,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, massa masih melakukan unjuk rasa hingga sore-maghrib nanti.
WASHINGTON (Jurnalislam.com) – Rabbi Yisroel Dovid Weiss dan pengikutnya dari Yahudi Amerika Anti-Zionisme termasuk di antara mereka yang berpartisipasi dalam aksi protes keputusan Donald Trump pada hari Jumat (9/12/2017) di Washington.
Saat umat Islam shalat di depan Gedung Putih, Rabbi Weiss dan rekan-rekannya memegang spanduk bertuliskan: “Orang-orang Yahudi Torah yang sejati di Yerusalem dan di seluruh dunia mengutuk agresi di Al-Aqsha dan pendudukan Palestina” dan “Yudaisme menolak Zionisme dan negara Israel.”
“Keputusan tentang Yerusalem ini akan membuat segalanya menjadi lebih buruk,” Rabbi Weiss mengatakan kepada Anadolu Agency.
Trump dalam pidatonya mengatakan bahwa, dia ingin membawa perdamaian. “Damai bukan dengan menuangkan garam untuk menambah luka dengan mengambil kota suci Yerusalem dan menyatakannya sebagai ibukota negara Israel yang tidak dapat diterima dan tidak sah menurut agama Yahudi,” tambahnya.
Weiss menggambarkan keputusan tersebut sebagai memberikan lebih banyak amunisi kepada Israel, yang menjadi bos atas pihak lain di wilayah tersebut, dan mencatat bahwa mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel akan menyebabkan pertengkaran lebih lanjut antara Yahudi dan Muslim.
Para pemrotes meneriakkan keputusan Israel dan Trump di Yerusalem, membawa spanduk bertuliskan “Hentikan pendudukan di Palestina sekarang”, “Yerusalem adalah milik orang-orang Palestina” dan “Kami menolak keputusan Trump.” Acara berakhir tanpa konflik.
“Hari ini kami berkumpul di sini untuk memprotes keputusan Trump, yang menyatakan bahwa Yerusalem akan menjadi ibu kota Israel,” kata Naem Baeg, direktur program antaragama Islam Circle of North America (ICNA).
“Sekarang terserah kepada masyarakat internasional dan Dunia Muslim. Negara-negara seperti Turki dan Prancis telah memimpin yang lain dan bekerja untuk perdamaian,” Baeg menambahkan, seraya mengatakan bahwa dengan keputusan ini, AS praktis berada di luar proses perdamaian.
“Kami percaya bahwa ini adalah keputusan yang sangat buruk, rakyat Palestina di sana sudah hidup dalam kondisi yang mengerikan, saya tahu karena separuh keluarga saya tinggal di sana,” Mohammad Shami, seorang demonstran Palestina muda mengatakan. “Ini akan semakin meningkatkan masalah yang dihadapi Palestina.”
Sementara itu, ribuan demonstran juga berbaris di Times Square, New York.
Para demonstran mengecam keputusan Israel dan Trump di Yerusalem, dengan meneriakkan “Bebaskan, Bebaskan Palestina, Hidup Palestina,” sambil membawa spanduk bertuliskan “Ini tidak dapat diterima, Palestina akan bebas,” “Israel adalah teroris, Palestina bebas” dan “Kami menolak keputusan Trump.” Acara diakhiri tanpa konflik.
“Pemerintah Trump harus mengevaluasi kembali keputusannya,” kata seorang mahasiswa Universitas New York, Ahmad M. (22), kepada Anadolu Agency. “Negara Israel telah menumpahkan darah di tanah suci selama beberapa dekade, mengatakan bahwa penyebabnya suci. Agama apa yang memungkinkan hal ini?”
Demonstran lain, Mohammad Nazeef, yang telah berada di AS selama 10 tahun mengatakan bahwa dia datang ke negara tersebut karena dia pikir AS menghormati semua orang. Namun, rasisme semakin meningkat sejak Trump terpilih sebagai Presiden.
“Saya tidak yakin apakah Trump ingin mengatur sebuah Perang Salib baru tapi di lingkaran sosial, perilaku orang terhadap saya telah berubah banyak,” kata Nazeed. “Saya benar-benar mempertimbangkan untuk meninggalkan Amerika Serikat.”
Selama demonstrasi besar-besaran di bawah tindakan keamanan yang ketat, polisi New York harus memperingatkan beberapa demonstran untuk tinggal di daerah yang ditentukan.
Di sisi lain, sekelompok kecil pro-AS dan Israel membentangkan bendera Amerika dan Israel dan mengejek para pemrotes dari seberang jalan.
Jerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, dengan orang-orang Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur – yang sekarang diduduki oleh Israel – pada akhirnya dapat berfungsi sebagai ibukota negara Palestina.