Ibukota Rezim Assad Digempur Serangan Artileri

DAMASKUS (Jurnalislam.com) – Lima orang tewas dalam tembakan artileri di ibukota Suriah, Damaskus, menurut sebuah kelompok pemantau perang yang berbasis di Inggris.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (the Syrian Observatory for Human Rights-SOHR), yang mengumpulkan rincian korban dari jaringan sumber di dalam negeri, mengatakan pada hari Senin (22/1/2018) bahwa 11 lainnya luka-luka dalam serangan di lingkungan Bab Touma, lansir Aljazeera.

Kantor berita resmi rezim, SANA, mengkonfirmasi laporan tersebut, mengatakan bahwa mereka yang tewas dalam serangan tersebut adalah warga sipil.

Seorang sumber di Damaskus melaporkan kepada SANA bahwa “kelompok bersenjata yang dikerahkan di beberapa daerah di Ghouta Timur menargetkan lingkungan Bab Touma dengan serangan artileri, yang satu di antaranya menimpa halte bus di bundaran sekitar …”

Markas Komando Polisi Rezim Assad di Damaskus Dihantam 3 Serangan Bom

SANA mengutip sumber tersebut yang mengatakan bahwa beberapa orang terluka parah, yang berarti korban tewas kemungkinan akan naik.

Masih belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab.

Menurut SOHR, sedikitnya tujuh lainnya terluka dalam baku tembak di daerah lain di Damaskus.

Ghouta Timur adalah daerah yang dikuasai oposisi yang berdekatan dengan Damaskus, tempat pemerintahan rezim Bashar al-Assad berada.

Kedekatan Ghouta Timur ke Damaskus menjadikannya sasaran utama.

20 Pasukan Syiah Assad Tewas dalam Pertempuran di Timur Damaskus

Sejak 2013, rezim Nushairiyah Assad mengepung wilayah tersebut dengan ketat untuk melemahkan kelompok oposisi, dan terus mempertahankan pengepungan walaupun sebuah perjanjian de-eskalasi telah disepakati yang dimaksudkan untuk mengurangi kekerasan di sana.

Wilayah tersebut berada di bawah kendali kelompok-kelompok yang setia kepada Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army-FSA), sebuah konglomerasi yang longgar dari brigade bersenjata yang beranggotakan para pembelot tentara Suriah dan warga sipil biasa, yang mendapat dukungan finansial dan logistik dari Turki, dan beberapa negara Teluk Arab.

Pengepungan rezim Assad selama empat tahun telah menyebabkan krisis kemanusiaan besar, dengan kekurangan makanan dan obat-obatan yang parah.

Begini Diskusi Raja Yordania dengan Wapres AS saat Bahas Yerusalem

YORDANIA (Jurnalislam.com) – Solusi dua negara adalah satu-satunya jawaban yang mungkin untuk konflik Israel-Palestina, Raja Yordania Abdullah II mengatakan kepada Wakil Presiden AS Mike Pence dalam sebuah pertemuan di Amman.

Raja mengatakan pada hari Ahad (21/1/2018), bahwa dia berharap kunjungan Pence, yag merupakan kunjungan kedua dari kunjungan regionalnya, akan “membangun kembali kepercayaan dan keyakinan diri” setelah keputusan AS bulan lalu untuk menetapkan Yerusalem sebagai ibukota Israel.

“Bagi kami, Yerusalem adalah kunci bagi umat Islam dan Kristen seperti halnya Yahudi,” kata Raja Abdullah II, menyerukan penyelesaian dua negara di sepanjang garis 1967 yang akan menetapkan “Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina merdeka yang berdiri berdampingan dengan Israel yang aman dan diakui.”

Dihadiri Dewan Gereja Dunia, OKI Kembali Gelar Konferensi Internasional Bahas Yerusalem

“Ini [Yerusalem] adalah kunci perdamaian di wilayah Timur Tengah dan kunci yang menyatukan umat Islam untuk secara efektif melawan beberapa akar penyebab radikalisasi.”

Raja Abdullah II, sekutu AS yang gigih, juga mengatakan keputusan Washington untuk memindahkan kedutaan besarnya di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem “tidak muncul sebagai hasil penyelesaian menyeluruh terhadap konflik Palestina-Israel.”

Pence mengakui peran raja sebagai penjaga situs suci di Yerusalem.

Dia juga membela keputusan Presiden AS Donald Trump di Yerusalem, namun menyatakan bahwa Washington masih mendukung solusi dua negara “jika para pihak setuju.”

Harry Fawcett dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Yerusalem Timur yang dijajah zionis, mengatakan bahwa bagi Palestina, pesan Pence tentang solusi dua negara “sepenuhnya dibayangi” oleh keputusan AS mengenai Yerusalem.

Langkah Trump pada tanggal 6 Desember memicu kemarahan luas di seluruh Palestina dan dunia Muslim.

Warga Palestina juga menjelaskan bahwa mereka tidak ingin bertemu Pence dalam perjalanannya ke Timur Tengah, mengulangi bahwa AS tidak dapat lagi terlibat dalam proses perdamaian setelah keputusan Trump.

Bagi banyak warga Palestina, Pence sendiri adalah bagian dari masalah.

Israel Tawarkan $ 50 Juta Bagi Negara yang Dukung Pengakuan Trump atas Yerusalem

Perubahan dalam kebijakan AS dimana Pence terkait erat disambut oleh basis Kristen Evangelis, yang banyak di antaranya percaya bahwa kembalinya orang-orang Yahudi ke Tanah Suci adalah pendahulu kedatangan mesias yang kedua kali.

“Pence memiliki sebuah agenda yang bersifat ekstremis, fundamentalis, literalis – [a] ideologi absolutis Kristen yang bertentangan dengan semua kepercayaan dan komitmen orang Kristen Arab dan Palestina pada khususnya, dan mereka merasa telah dikhianati oleh seseorang yang telah menghadapkan mereka dengan ketidakadilan yang luar biasa dengan menggunakan agama sebagai pembenaran,” kata Hanan Ashrawi, anggota senior Organisasi Pembebasan Palestina (the Palestine Liberation Organization-PLO).

Begini Ancaman Trump bagi Negara yang Menolak Yerusalem sebagai Ibukota Israel

Kunjungan Pence ke Yordania merupakan bagian dari tur regional empat hari, yang dimulai pada hari Sabtu dengan kunjungan ke Mesir.

Di Kairo, Pence bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi untuk membahas hubungan bilateral kedua negara.

Kedua pemimpin tersebut juga berbicara tentang cara menghilangkan apa yang disebut Sisi sebagai “penyakit dan kanker terorisme.”

Mesir dan Yordania adalah sekutu kunci AS dan dua negara Arab itu memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Setelah Jordan, Pence menuju ke Israel, di mana dia diharapkan bertemu dengan Perdana Menteri zionis Benjamin Netanyahu dan menemui Knesset.

Kondisi Kamp Pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh Semakin Memburuk

BANGLADESH (Jurnalislam.com) – Kondisi kemanusiaan di kamp-kamp yang menampung pengungsi Rohingya di Bangladesh akan semakin memburuk dalam beberapa bulan ke depan, kata seorang penyelidik hak asasi manusia kepada Al Jazeera, Ahad (21/1/2018), sekaligus juga mengemukakan kekhawatirannya tentang sebuah rencana untuk mengembalikan minoritas yang melarikan diri tersebut ke Myanmar.

Dalam sebuah wawancara dari kamp pengungsi Balukhali di Cox’s Bazar, Yanghee Lee, seorang pelapor khusus PBB yang dilarang mengunjungi Myanmar oleh pemerintah Aung San Suu Kyi, mengatakan bahwa dengan mendekatnya musim hujan di Bangladesh, kamp-kamp penuh sesak “akan menderita tanah longsor dan kita dapat melihat sejumlah besar korban jiwa.”

Lee juga memperingatkan kemungkinan “wabah penyakit” yang akan menyebar karena curah hujan yang deras.

Utusan PBB tersebut akan mengunjungi Myanmar pada bulan Januari untuk menilai keadaan hak asasi manusia di seluruh negeri, termasuk di negara bagian Rakhine, di mana sebuah tindakan militer brutal telah mengirim lebih dari 650.000 minoritas Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh.

Orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan tersebut menceritakan sebuah operasi militer sistematis pembunuhan massal, pemerkosaan, mutilasi, penyiksaan dan pembakaran. PBB menggambarkan situasinya sebagai “contoh nyata pembersihan etnis.”

Ungkap Kekerasan Etnis di Rohingya saat Pidato, Politisi Budha Myanmar Ini Ditangkap

Lee mengambil peran pemantauan hak pada tahun 2014, dan diharuskan mengunjungi Myanmar dua kali setahun untuk melapor ke Dewan Hak Asasi Manusia dan Majelis Umum PBB.

Dia bulan lalu dilarang melakukan penyelidikan.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Lee mendesak masyarakat internasional untuk membantu memecahkan masalah kamp-kamp yang penuh sesak di Bangladesh.

“Kamp konsentrasi pengungsi itu… sangat tidak manusiawi.”

Sebagai bagian dari kesepakatan repatriasi yang ditandatangani oleh dua negara tetangga Asia tersebut pada bulan November tahun lalu, pejabat Bangladesh dan Myanmar pekan lalu sepakat mengenai rencana untuk memfasilitasi kembalinya mereka yang mengungsi dalam dua tahun ke depan.

Sebanyak 1.550 pengungsi akan dikirim kembali setiap pekan, yang akan bertambah menjadi sekitar 156.000 selama periode dua tahun.

Pengungsi Rohingya: Kami Tidak Berharap untuk Kembali

Namun Lee mengatakan situasi di Myanmar tidak kondusif bagi pengungsi Muslim Rohingya untuk kembali.

“Pertama-tama, ke mana mereka akan kembali? Mereka telah kehilangan mata pencaharian mereka, mereka telah kehilangan hasil panen mereka, mereka telah kehilangan ladang mereka,” katanya kepada Al Jazeera.

“Semua beras sekarang dilaporkan dijual ke tempat lain ke negara lain. Mereka telah kehilangan rumah mereka, jadi proses pembangunan kembali akan menjadi besar, dan masyarakat ini tidak boleh hidup dalam situasi seperti kamp lainnya.”

Dia juga mendesak agar pengungsi kembali ke rumah mereka sepenuhnya dengan sukarela, dengan menekankan bahwa perlu ada “informed consent … sehingga mereka akan tahu persis apa yang akan mereka jalani kembali.”

Kirim Bantuan Langsung, PM Turki Ajak Negeri-negeri Muslim Peduli Pengungsi Rohingya

Krisis Rohingya dimulai pada bulan Agustus, ketika tentara Budha Myanmar melancarkan tindakan keras berdarah kepada warga sipil dalam menanggapi serangan balasan terhadap pos-pos perbatasan oleh kelompok bersenjata Arakan Rohingya Salvation Army.

Sebagian besar minoritas Muslim, yang tinggal terutama di Negara Bagian Rakhine, tidak diakui sebagai kelompok etnis di Myanmar, meskipun telah tinggal di sana selama beberapa generasi. Kewarganegaraan mereka ditolak dan mereka dianggap tidak memiliki kewarganegaraan.

Targetkan Pertemuan Asing, 5 Mujahidin Taliban Kepung Hotel Intercontinental di Kabul

KABUL (Jurnalislam.com) – Sebuah tim yang terdiri dari beberapa pejuang Taliban menyerang Hotel Intercontinental di Kabul, Afghanistan, Sabtu (20/1/2018). pengepungan berakhir pada hari Ahad (21/1/2018), setelah lebih dari 12 jam bentrok dengan militer Afghanistan.

Laporan korban awal, termasuk yang dikeluarkan oleh pemerintah Afghanistan, mengatakan bahwa beberapa orang terbunuh. Namun, akun selanjutnya menunjukkan bahwa jumlah korban tewas jauh lebih tinggi. Tidak jelas berapa banyak orang yang tewas selama bentrokan, namun perkiraan terakhir menunjukkan bahwa lebih dari selusin orang, dan mungkin lebih banyak lagi, tewas akibat serangan dan baku tembak. Puluhan lainnya dievakuasi dari hotel dan dibawa ke rumah sakit terdekat untuk perawatan, lansir Long War Jurnal.

Taliban dengan cepat mengklaim serangan pada pertemuan asing tersebut di media sosial.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan bahwa “musuh-musuh asing dan orang asing terbunuh saat serangan syahid di Hotel Intercontinental”. Serangan, yang menargetkan sebuah pertemuan musuh tersebut, “dilakukan oleh 5 pejuang martir yang dipersenjatai dengan senjata berat / ringan “dengan memasuki hotel dan membunuh” warga asing.” Taliban mengklaim bahwa pengepungan tersebut berlangsung 14 jam, yang umumnya sesuai dengan pernyataan akun lainnya.

5 Pasukan AS dan 12 Tentara Boneka Tewas dalam Pertempuran dengan Taliban di Kunduz

Mujahid juga mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa serangan tersebut direncanakan lebih awal, namun “upacara pernikahan” menyebabkan Taliban menunda operasi tersebut. Talibanberhati-hati dengan bagaimana aksi mereka di Kabul dan tempat lain agar tidak menimbulkan korban yang bukan sasarannya. Taliban tidak ingin dinilai bahwa serangan mereka tidak pandang bulu, meskipun warga sipil juga ada yang terbunuh dalam operasinya, termasuk di Intercontinental Hotel.

Kementerian Dalam Negeri Afghanistan (Ministry of Interior-MOI) mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh empat pejuang yang dikirim oleh Haqqani Network, yang “mengatur” operasi tersebut. MOI juga mencatat bahwa “tempat aman” Haqqanis berada di luar Afghanistan, yang berarti Pakistan.

Meskipun pejabat Afghanistan dan Amerika sering membahas bahwa Jaringan Haqqani seolah-olah terpisah dari Taliban, Haqqanis sebenarnya merupakan bagian integral dari operasi Taliban. Siraj Haqqani, yang memimpin kelompok yang didirikan oleh ayahnya, adalah wakil pemimpin puncak Taliban. Siraj juga bersekutu dengan al Qaeda, Long War Journal.

Pada Desember 2016, Taliban merilis sebuah video yang merayakan hubungan historisnya dengan al Qaeda. Video tersebut, yang masih dipromosikan di media sosial Taliban lebih dari satu tahun setelah diluncurkan, memuat pesan dari para ulama Siraj dan Al Qaeda.

Kemenangan Taliban Meningkat, NATO Kirim 3.000 Pasukan Tambahan ke Afghanistan

Ibukota Afghanistan secara teratur mendapat serangan selama perang lebih dari 16 tahun. Pada pertengahan 2017, korban sipil berada di lokasi atau dekat lokasi, sepanjang masa dalam konflik tersebut, menurut Misi Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afghanistan (United Nations Assistance Mission in Afghanistan-UNAMA). Kota Kabul dan daerah sekitarnya sangat terpukul oleh “serangan martir dan serangan kompleks.”

Pada tanggal 31 Mei 2017, seorang pembom martir meledakkan sebuah bom truk besar-besaran di Kabul. Taliban telah berulang kali menolak tuduhan serangan tersebut. UNAMA menggambarkan pemboman 31 Mei itu sebagai “insiden paling mematikan” yang telah didokumentasikan “sejak tahun 2001.”

Dibantu FSA, Angkatan Darat Turki Ambil Alih 11 Posisi PYD di Suriah

AFRIN (Jurnalislam.com) – Angkatan Bersenjata Turki pada hari Ahad (21/1/2018) mengambil alih 11 posisi PYD / PKK dan menciptakan zona aman selama Operation Olive Branch (Operasi Ranting Zaitun) di wilayah Afrin di barat laut Suriah.

Menurut koresponden Anadolu Agency di lapangan, tentara Turki yang didukung oleh Tentara Pembebasan Suriah (the Free Syrian Army-FSA) merebut desa Shankal, Qorne, Bali, Adah Manli, dan daerah dusun Kita, Kordo dan Bibno serta empat bukit lainnya.

Pada hari pertama operasi darat, yang dimulai pada dini hari Ahad, tentara Turki mengepung Afrin dari sisi utara, barat laut dan barat.

Kepada penduduk Afrin, pasukan FSA merilis sebuah video di media sosial di mana mereka dapat didengar berkata: “Anda adalah teman dan keluarga kita. Kami di sini untuk mengakhiri penganiayaan. [PYD / PKK] adalah musuh bersama kita.”

Jet Tempur Turki Hancurkan 45 Target PYD Dukungan AS

Tentara Turki dan FSA pada awalnya tidak menemui perlawanan dan pasukan oposisi menangkap beberapa milisi yang tinggal di beberapa desa di kota Rajo di Afrin.

Gelombang dan pasukan Turki menyerang beberapa posisi PYD/PKK di Afrin termasuk Malikiyah di Tal Rifaat, sebelah timur Afrin.

Kelompok-kelompok PYD, sementara itu, masih terus menargetkan warga sipil dan menyerang desa Jibrin di distrik Azaz, menewaskan dua warga sipil.

Pejuang FSA di distrik Azaz sedang bersiap untuk operasi tersebut.

Pasukan darat diperkirakan akan maju ke arah Afrin dari arah yang berbeda.

Pada hari Ahad, seorang warga negara Suriah dan sekitar 50 warga lainnya terluka dalam serangan roket lintas batas di selatan Turki, menurut gubernur Hatay.

Bangunan dan kendaraan rusak dalam serangan tersebut.

Moskow: Pentagon Persenjatai Milisi PYD dengan Senjata Canggih

Provinsi Kilis di tenggara Turki juga diserang empat roket yang diluncurkan dari Afrin.

Roket yang diluncurkan oleh anggota teroris PYD/PKK di Afrin, menabrak empat rumah di daerah Ekrem Cetin dan Baris di Kilis.

Tujuh orang, termasuk dua warga Suriah, terluka dalam serangan tersebut.

Serangan tersebut, yang juga merusak bangunan dan kendaraan, direspon oleh unit artileri Turki yang ditempatkan di wilayah tersebut.

Kilis pertama kali diserang empat roket pada Ahad dini hari, di sebuah lingkungan di pusat kota dan haampir melukai seorang warga Turki.

Serangan tersebut terjadi setelah Turki meluncurkan Operation Olive Branch untuk memindahkan PYD/PKK dan IS dari Afrin.

Menurut Staf Umum Turki, operasi tersebut bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut serta untuk melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman PYD dan IS.

Hindari Pertempuran Turki vs AS, Pasukan Rusia Kabur dari Afrin

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB dan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah, katanya.

Pihak militer juga mengatakan “sangat ditekankan” untuk tidak membahayakan warga sipil manapun.

Afrin telah menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak Juli 2012 ketika pasukan rezim Assad Syiah Assad meninggalkan kota ke kelompok tersebut tanpa melakukan perlawanan.

Jet Tempur Turki Hancurkan 45 Target PYD Dukungan AS

ANKARA (Jurnalislam.com) – Jet tempur Turki menghancurkan lebih dari 45 target militer PYD/PKK sebagai bagian dari Operation Olive Branch di wilayah Afrin Suriah pada hari Ahad (21/1/2018), kata Staf Umum Turki dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan tersebut mengatakan bahwa target yang dimusnahkan meliputi tempat penampungan, depot amunisi dan penempatan senjata milik kelompok teror dukungan AS, lansir Anadolu Agency.

Sebanyak 32 jet yang berpartisipasi dalam operasi kembali ke basis mereka dengan aman, tambahnya.

Turki Mulai Gempur Milisi Dukungan AS di Afrin dengan Serangan Udara dan Darat

Turki pada hari Sabtu meluncurkan Operation Olive Branch untuk mengusir kelompok teror PKK/ KCK /PYD-YPG dan IS dari Afrin.

Pada hari Sabtu, Staf Umum Turki mengatakan bahwa serangan udara mereka menghancurkan 108 sasaran kelompok teror di tujuh wilayah berbeda di Afrin.

Operasi tersebut dilakukan di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak pembelaan diri berdasarkan piagam PBB dan penghormatan terhadap integritas teritorial Suriah, kata Staf Umum Turki.

Militer juga mengatakan bahwa hanya target militer yang dihancurkan dan “sangat ditekankan” untuk tidak membahayakan warga sipil manapun. PYD/PKK adalah cabang Suriah dari kelompok teroris PKK, yang telah dianggap sebagai organisasi teroris oleh Turki dan UE.

Moskow: Pentagon Persenjatai Milisi PYD dengan Senjata Canggih

MOSKOW (Jurnalislam.com) – Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada hari Sabtu (20/1/2018) bahwa Pentagon mengambil “langkah provokatif” dengan menyediakan senjata modern bagi kelompok-kelompok yang didukung AS di Suriah, Anadolu Agency.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Pertahanan mengatakan Turki meluncurkan operasi Afrin karena Pentagon memasok senjata modern kepada kelompok bersenjata PYD/YPG pimpinan AS di Suriah, dan menambahkan bahwa perilaku Amerika yang tidak bertanggung jawab di Suriah mengancam proses perdamaian di negara tersebut dan juga proses Jenewa.

Pernyataan ini juga menyoroti “langkah provokatif” yang diambil oleh Amerika Serikat merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap perkembangan situasi krisis di barat laut Suriah.
AS menciptakan beberapa daerah berpenduduk Kurdi di Suriah dan mencoba mengisolasi wilayah ini, menurut pernyataan tersebut.

Erdogan: Kami Akan Basmi Milisi YPG Dukungan AS

Sebagai tambahan, Pemimpin Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph F. Dunford berbicara dengan rekan sejawatnya dari Rusia, Jenderal Staf Jenderal Valery Gerasimov mengenai situasi di Suriah, menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Pentagon pada hari Sabtu.

“Kedua pemimpin mengakui pentingnya menjaga komunikasi reguler agar tidak terjadi salah perhitungan dan untuk mempromosikan transparansi di wilayah di mana militer kita beroperasi dalam jarak dekat,” bunyi pernyataan tersebut.

Selain itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Sekretaris Negara Bagian AS Rex Tillerson membahas situasi di Afrin.

Turki Mulai Gempur Milisi Dukungan AS di Afrin dengan Serangan Udara dan Darat

Menurut sebuah pernyataan yang diposting di akun Facebook resmi Kementerian Luar Negeri Rusia, percakapan telepon diprakarsai oleh pihak AS.

Lavrov dan Tillerson juga membahas kemajuan proses perdamaian Suriah dan kongres dialog Nasional Suriah yang akan diadakan di Sochi pada tanggal 29-31 Januari.

Kepala dinas luar negeri sepakat untuk tetap berada dalam “kontak dekat,” kata pernyataan tersebut.

Turki telah meluncurkan sebuah operasi militer di Suriah barat laut untuk menghapuskan organisasi teroris PKK, PYD, YPG, dan untuk melindungi warga sipil di wilayah tersebut dari penindasan dan kekejaman teroris.

Turki Mulai Gempur Milisi Dukungan AS di Afrin dengan Serangan Udara dan Darat

SURIAH (Jurnalislam.com) – Turki mengatakan telah meluncurkan serangan udara dan darat yang ditunggu-tunggu di daerah Afrin di Suriah utara.

Setelah berjam-jam melepaskan tembakan, jet tempur Turki pada hari Sabtu (20/1/2018) meluncurkan serangan udara di distrik perbatasan menargetkan posisi yang dipegang kelompok PYD dan YPG Kurdi Suriah.

Pemboman berat dimulai saat satuan oposisi pro-Ankara yang dikenal sebagai Tentara Pembebasan Suriah (FSA) mulai bergerak ke Afrin, menurut kantor berita Anadolu yang dikelola negara.

Hindari Pertempuran Turki vs AS, Pasukan Rusia Kabur dari Afrin

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Sabtu bahwa operasi di Afrin akan diikuti oleh sebuah dorongan di kota utara Manbij, yang direbut pasukan Kurdi dari IS pada tahun 2016 dengan dukungan Amerika.

Turki menganggap Partai Persatuan Demokratik Kurdi Suriah (PYD) dan sayap bersenjata, YPG, sebagai “kelompok teroris” atas ikatan mereka dengan Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), yang telah melakukan pertempuran selama puluhan tahun di Turki.

AS sebelumnya telah mempersenjatai YPG, karena menganggap YPG sebagai kekuatan darat paling efektif dalam memerangi kelompok bersenjata Islamic State (IS).

Erdogan mengatakan bahwa seluruh kelompok bersenjata Kurdi “semuanya sama” dan bahwa perubahan nama mereka “tidak mengubah fakta bahwa mereka adalah organisasi teror.”

Gelar Operasi Militer Lawan AS, Rezim Suriah: Kami akan Tembak Jatuh Jet Tempur Turki

Menurut perkiraan, ada sekitar 8.000 sampai 10.000 pasukan Kurdi di wilayah Afrin.

Stefanie Dekker dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Antakya di Turki, mengatakan bahwa peluncuran operasi tersebut mengikuti “retorika politik pejabat Turki yang semakin kuat” selama satu pekan.

“Tentara Turki mengatakan bahwa serangan ini hanya menargetkan apa yang mereka sebut ‘teroris’ … dan bukan warga sipil – tapi pastinya akan menakutkan bagi warga sipil di wilayah itu karena mereka dikepung,” tambahnya.

“Untuk menyoroti kompleksitas perang ini, sekarang ada sekutu NATO, Turki, yang membom sebuah kelompok yang oleh AS disebut sekutu terbaiknya saat melawan IS di lapangan dan masih terus melakukannya – jadi ini adalah situasi yang sangat rumit.”

Dalam beberapa hari ini, Ankara telah berulang kali mengancam untuk menghancurkan pasukan Kurdi Suriah.

Takut Tersaingi, Rusia Kecam Rencana AS Bentuk Pasukan Unilateral di Suriah

Pada hari Jumat, Menteri Pertahanan Turki Nurettin Canikli mengatakan negaranya akan terus melakukan serangan militer di Afrin, mengatakan bahwa pasukan Kurdi Suriah di sana menimbulkan ancaman “nyata” terhadap negaranya.

Ankara khawatir akan pembentukan sebuah koridor Kurdi di sepanjang perbatasannya dan telah mengerahkan pasukan dan tank di sana untuk persiapan serangan darat.

“Kami akan menghapus koridor ini selangkah demi selangkah, mulai dari barat.” Erdogan mengatakan pada hari Sabtu. “Operasi Afrin secara de facto dimulai di lapangan, diikuti oleh Manbij.”

Suriah sebelumnya telah memperingatkan akan melawan operasi apapun dan mengatakan akan menembak jatuh jet tempur Turki.

Tentara Pembebasan Suriah (FSA)
Tentara Pembebasan Suriah (Free Syirian Army – FSA)

Pada hari Jumat, Turki memobilisasi ribuan oposisi FSA ke provinsi Hatay di dekat perbatasan Suriah, sebagai bagian dari serangan yang direncanakan.

Anadolu melaporkan bahwa pasukan FSA dibawa “dengan keamanan ketat” dalam sebuah konvoi yang terdiri dari sedikitnya 20 bus, dari provinsi Kilis.

Tahun lalu, Turki meluncurkan Operasi Euphrates Shield, di mana pasukan FSA yang didukung Turki membersihkan sebagian besar Suriah utara dari kelompok bersenjata.

“Bahasa yang digunakan Turki adalah operasi Afrin akan menjadi awal, lalu mereka akan pindah ke Manbij dan kemudian sampai ke perbatasan Irak,” kata Dekker.

Manbij adalah kota di sebelah barat sungai Efrat, dimana YPG tetap ada dan Turki selalu menginginkan YPG bergerak ke timur sungai Efrat. Terakhir kali ada konfrontasi di antara kedua belah pihak, Amerika bergerak dengan pasukan dan kendaraan untuk menenangkannya.”

Selesai Shalat Jumat di Masjid Al Aqsha, 6 Warga Turki di Tangkap Polisi Israel

JERUSALEM (Jurnalislam.com) – Polisi Israel pada hari Jumat (19/1/2018) menahan enam warga negara Turki yang mengunjungi Masjid Al-Aqsha yang simbolik di Yerusalem, kata saksi mata.

Keenam orang Turki ditangkap oleh polisi zionis saat meninggalkan asjid setelah melakukan shalat Jumat, menurut saksi mata, lansir Anadolu Agency.

Pasukan Zionis Tahan 3 Warga Turki yang Coba Lakukan Shalat Jumat di Al Aqsha

Keenamnya dilaporkan dibawa ke David Police Centre dekat Gerbang Jaffa (Bab al-Khalil) di distrik Kota Tua Yerusalem.

Polisi Israel sejak itu mengkonfirmasi telah menahan beberapa warga Turki tanpa alasan.

Kedubes Turki di Tel Aviv dan konsulatnya di Yerusalem mengatakan bahwa mereka mengawal masalah ini.

Meskipun Cuaca Buruk, 20.000 Muslim Palestina Shalat Jumat di Masjid Al Aqsha

AL QUDS (Jurnalislam.com) – Sekitar 20.000 Muslim Palestina shalat di Masjid Al-Aqsha di Yerusalem pada hari Jumat, meskipun cuaca buruk menyebabkan beberapa kecelakaan di wilayah Palestina, menurut Firas al-Dibs, juru bicara Otoritas Wakaf Agama (Awqaf) Yerusalem.

Pada hari Rabu, polisi penjajah Israel mengizinkan pemukim ilegal zionis Yahudi untuk melakukan “ritual Talmud” – dengan cara yang “belum pernah terjadi sebelumnya” – di dalam kompleks Al-Aqsha, kata pejabat otoritas, lansir World Bulletin, Jumat (19/1/2018).

Pejabat otoritas juga melaporkan pemerintah Israel melarang rencana renovasi masjid ikonik dan bangunan sekitarnya.

Pejabat otoritas lebih lanjut melaporkan penjajah Israel meningkatkan kampanye yang sedang berlangsung melawan otoritas Wakaf Al-Aqsha dan Yordania, yang bertanggung jawab atas perawatan masjid tersebut.