Turki Mulai Gempur Milisi Dukungan AS di Afrin dengan Serangan Udara dan Darat

Turki Mulai Gempur Milisi Dukungan AS di Afrin dengan Serangan Udara dan Darat

SURIAH (Jurnalislam.com) – Turki mengatakan telah meluncurkan serangan udara dan darat yang ditunggu-tunggu di daerah Afrin di Suriah utara.

Setelah berjam-jam melepaskan tembakan, jet tempur Turki pada hari Sabtu (20/1/2018) meluncurkan serangan udara di distrik perbatasan menargetkan posisi yang dipegang kelompok PYD dan YPG Kurdi Suriah.

Pemboman berat dimulai saat satuan oposisi pro-Ankara yang dikenal sebagai Tentara Pembebasan Suriah (FSA) mulai bergerak ke Afrin, menurut kantor berita Anadolu yang dikelola negara.

Hindari Pertempuran Turki vs AS, Pasukan Rusia Kabur dari Afrin

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Sabtu bahwa operasi di Afrin akan diikuti oleh sebuah dorongan di kota utara Manbij, yang direbut pasukan Kurdi dari IS pada tahun 2016 dengan dukungan Amerika.

Turki menganggap Partai Persatuan Demokratik Kurdi Suriah (PYD) dan sayap bersenjata, YPG, sebagai “kelompok teroris” atas ikatan mereka dengan Partai Pekerja Kurdistan yang dilarang (PKK), yang telah melakukan pertempuran selama puluhan tahun di Turki.

AS sebelumnya telah mempersenjatai YPG, karena menganggap YPG sebagai kekuatan darat paling efektif dalam memerangi kelompok bersenjata Islamic State (IS).

Erdogan mengatakan bahwa seluruh kelompok bersenjata Kurdi “semuanya sama” dan bahwa perubahan nama mereka “tidak mengubah fakta bahwa mereka adalah organisasi teror.”

Gelar Operasi Militer Lawan AS, Rezim Suriah: Kami akan Tembak Jatuh Jet Tempur Turki

Menurut perkiraan, ada sekitar 8.000 sampai 10.000 pasukan Kurdi di wilayah Afrin.

Stefanie Dekker dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Antakya di Turki, mengatakan bahwa peluncuran operasi tersebut mengikuti “retorika politik pejabat Turki yang semakin kuat” selama satu pekan.

“Tentara Turki mengatakan bahwa serangan ini hanya menargetkan apa yang mereka sebut ‘teroris’ … dan bukan warga sipil – tapi pastinya akan menakutkan bagi warga sipil di wilayah itu karena mereka dikepung,” tambahnya.

“Untuk menyoroti kompleksitas perang ini, sekarang ada sekutu NATO, Turki, yang membom sebuah kelompok yang oleh AS disebut sekutu terbaiknya saat melawan IS di lapangan dan masih terus melakukannya – jadi ini adalah situasi yang sangat rumit.”

Dalam beberapa hari ini, Ankara telah berulang kali mengancam untuk menghancurkan pasukan Kurdi Suriah.

Takut Tersaingi, Rusia Kecam Rencana AS Bentuk Pasukan Unilateral di Suriah

Pada hari Jumat, Menteri Pertahanan Turki Nurettin Canikli mengatakan negaranya akan terus melakukan serangan militer di Afrin, mengatakan bahwa pasukan Kurdi Suriah di sana menimbulkan ancaman “nyata” terhadap negaranya.

Ankara khawatir akan pembentukan sebuah koridor Kurdi di sepanjang perbatasannya dan telah mengerahkan pasukan dan tank di sana untuk persiapan serangan darat.

“Kami akan menghapus koridor ini selangkah demi selangkah, mulai dari barat.” Erdogan mengatakan pada hari Sabtu. “Operasi Afrin secara de facto dimulai di lapangan, diikuti oleh Manbij.”

Suriah sebelumnya telah memperingatkan akan melawan operasi apapun dan mengatakan akan menembak jatuh jet tempur Turki.

Tentara Pembebasan Suriah (FSA)
Tentara Pembebasan Suriah (Free Syirian Army – FSA)

Pada hari Jumat, Turki memobilisasi ribuan oposisi FSA ke provinsi Hatay di dekat perbatasan Suriah, sebagai bagian dari serangan yang direncanakan.

Anadolu melaporkan bahwa pasukan FSA dibawa “dengan keamanan ketat” dalam sebuah konvoi yang terdiri dari sedikitnya 20 bus, dari provinsi Kilis.

Tahun lalu, Turki meluncurkan Operasi Euphrates Shield, di mana pasukan FSA yang didukung Turki membersihkan sebagian besar Suriah utara dari kelompok bersenjata.

“Bahasa yang digunakan Turki adalah operasi Afrin akan menjadi awal, lalu mereka akan pindah ke Manbij dan kemudian sampai ke perbatasan Irak,” kata Dekker.

Manbij adalah kota di sebelah barat sungai Efrat, dimana YPG tetap ada dan Turki selalu menginginkan YPG bergerak ke timur sungai Efrat. Terakhir kali ada konfrontasi di antara kedua belah pihak, Amerika bergerak dengan pasukan dan kendaraan untuk menenangkannya.”

Bagikan
Close X