Dijaga Ketat TNI, Pasar Masomba Palu Mulai Beroperasi

PALU (Jurnalislam.com) – Dengan pengawalan ketat aparat TNI bersenjata lengkap, pasar Masomba hari ini, Jumat (5/10/2018) sudah mulai beroperasi. Penjagaan dilakukan untuk menghindari penjarahan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Di pasar yang terletak di Jalan Tanjung Manimbaya, Tatura Utara, Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah ini sudah menjual berbagai macam kebutuhan pokok, seperti beras, telur, minyak, bawang merah, bawang putih, buah-buahan, bahkan sayuran.

Meski demikian, kemungkinan penjualan bahan-bahan pokok ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama, sebab para pedagang ini hanya akan menghabiskan stok yang mereka miliki saja, sebab untuk menambah stok saat ini mereka kesulitan dari segi akses maupun kendaraan.

Baca juga : TNI Kerahkan 10 Pesawat Hercules untuk Sulteng

“Sekarang mau habiskan saja dulu stok yang ada,” kata Nasrun Woko, salah seorang pedagang sembako di Pasar Masomba, Jumat ( 5/10/18).

Meski demikian pria yang disapa pa Haji ini memilih tak menaikan harga, meski stok beras terbilang kurang.

“Kita tidak menaikan harga, soalnya kita ini kan sekarang sama – sama susah pak,” pungkasnya saat ditanya soal harga penjualan.

Reporter: Saifal | Islamic News Agency | JITU

BNPB: Empat Kecamatan di Sulteng Masih Terisolasi

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, masih ada empat kecamatan di Sulawesi Tengah yang terisolasi dampak dari bencana gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi pada Jumat pekan lalu.

Keempat kecamatan itu adalah Kecamatan Lindu, Kolawi, Kolawi Selatan, dan Titikor.

“Jadi distribusi bantuan dilakukan menggunakan helikopter, termasuk dropping pasukan,” katanya dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema ‘Update Tanggap Bencana Sulteng’ di Lobi Graha BNPB, Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Baca juga: Cerita Pilu Korban Gempa: Sudah Menderita, Dijarah Pula

Sutopo menjelaskan, terisolasi keempat kawasan itu karena jalurnya sulit. “Makanya kami menurunkan personel untuk terus menyalurkan logistik,” ujarnya.

Saat ini, kata dia, dari 25 unit alat berat, sudah ada 7 yang dikerahkan dan rencananya akan segera ditambah. Meskipun terisolir, tim SAR gabungan telah berada di sana. Bahkan, sambung dia, Kepala Basarnas juga ada di sana.

“Di sana luas areal sekira 110 hektar, mungkin tidak terlihat lagi. Distribusi bantuan logistik terus berdatangan menggunakan Hercules dan kapal. Distribusi pun dilakukan dengan berbagai cara, ada yang langsung didrop ke tempat dan ada juga yang diambil langsung ke posko oleh aparat setempat,” pungkasnya.

BMKG Klaim Siarkan 21 Menit Peringatan Dini Tsunami Gempa Sulteng

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengklaim pihaknya sudah menyiarkan peringatan dini tsunami saat gempa besar mengguncang Sulawesi Tengah. Hal itu disampaikan Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema ‘Update Tanggap Bencana Sulteng’ di Lobi Graha BNPB, Jakarta, Kamis (4/10/2018).

“Sesar Palu Koro adalah sesar terbesar di Sulawesi. Posisinya membelah pulau Sulawesi di blok timur dan barat. Membentang dari teluk Palu hingga teluk Bone. Sesar ini memiliki pergerakan 4 cm per tahun atau empat kali pergerakan dari sesar Sumatra,” ujar Daryono.

Menurutnya, Sesar Palu Koro menjadi patahan paling aktif karena merupakan pertemuan dari laut Banda dan laut Filipina. Ketika terjadi gerakan dan terbangun medan stress yang besar maka terjadilah gempa di Palu tersebut.

Baca juga: Begini Penjelasan LIPI Soal Gempa dan Tsunami di Palu

Daryono menerangkan, rentetan gempa yang terjadi pada Jumat 28 September 2018, gempa pertama terjadi 15.00 WITA berkekuatan 6,0 SR. Kemudian tim stasiun BMKG Palu turun lapangan untuk mendata kerusakan, tapi baru setengah perjalanan terjadi gempa kuat pada 18.02 WITA berkekuatan 7,7 SR lalu diperbarui menjadi 7,4 SR.

“Gempa inilah yang memicu tsunami. Pada pukul 18.06 WITA kita menetapkan peringatan dini Tsunami. Pada pukul 18.08 itu air laut surut lalu pada 18.10 WITA itu terjadi pasang tertinggi hingga 1,5 meter di pelabuhan Pantoloan, inilah tsunami yang dimaksud, kemudian pada pukul 18.14 terjadi gempa lagi 6,3 SR,” papar Daryono.

Tiga rentetan gempa inilah yang membuat kerusakan parah di beberapa wilayah Sulteng. Menurutnya, kerusakan semakin parah karena ketika dinding rumah sudah retak-retak akibat gempa pertama, datang lagi gempa besar 7,4 SR, kemudian datang lagi 6,3 SR sehingga menenggelamkan semuanya karena terjadi likuifaksi (liquifaction).

Baca juga : Fauziyatul Khaeriyah, Hafizah yang Wafat Tertimpa Bangunan Akibat Gempa Palu

“Kemudian ada tsunami tercatat di Mamuju pada pukul 18,27 WITA namun hanya kecil hanya 6 cm,” jelas Daryono.

Daryono menegaskan, ketika gempa kedua dari Hawai Pacific Center juga tidak mengeluarkan perigatan dini tsunami. Peringatan dini tsunami dini dinyalakan dari jam 18.10 sampai 18.27 WITA.

“Jadi berita yang memberitakan bahwa BMKG gagal dalam memberikan peringatan tsunami itu tidak benar, BMKG sudah memberikan tsunami dan BMKG mengakhiri setelah Tsunami. Gagal kalau sama sekali tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami,” klaim Daryono.

TNI Kerahkan 10 Pesawat Hercules untuk Sulteng

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Paban I/Renops TNI Kol (Pnb), Danet Hendriyanto menjelaskan, Undang-undang (UU) No. 24 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Bencana telah mengamanatkan, semua kendali ada di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memiliki program operasi.

“Sehingga, begitu ada bencana, satuan TNI sudah siap. Namun, setelah adanya bencana, satgas terbentuk melakukan operasi pencarian bersama dengan SAR dan BNPB,” jelas Danet dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema ‘Update Tanggap Bencana Sulteng’ di Lobi Graha BNPB, Jakarta, Kamis (4/10/2018).

Baca juga: Polri Terjunkan 2.430 Personel dari Seluruh Polda ke Sulteng

Saat ini, kata dia, TNI telah mengerahkan 10 unit Pesawat Hercules, 9 unit Pesawat CN, 2 unit Heli FI 17, 4 unit kapal perang, 1 unit pesawat KAA TNI, mobil truk tangki, ambulan dan sebagainya.

“Seperti yang sudah disampaikan Pak Sutopo, ada dari luar negeri, yakni pesawat Hercules 2 unit. Kemudian personil sudah ada 4.044 orang. Mereka bekerja sesuai dengan apa yang dilakukan rekan-rekan BNPB dan SAR. Apapun yang menjadi kerjaan di lapangan, semua ikut turun,” pungkas Danet.

BNPB Fokus Evakuasi Korban di 9 Titik di Kota Palu

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pada hari keenam penanganan bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi di Sulteng, korban meninggal dunia sudah sebanyak 1.424 jiwa dan 113 lainnya belum ditemukan. Sedangkan rumah rusak mencapai 66.238 unit. Evakuasi difokuskan di 9 titik.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema ‘Update Tanggap Bencana Sulteng’ di Lobi Graha BNPB, Jakarta, Kamis (4/10/2018).

“Hari ini H+6, sampai siang ini tercatat korban meninggal 1.424 meninggal. Dengan perincian di Donggala 144 jiwa, Palu 1.203 jiwa, Sigi 64 jiwa, dan 12 orang Parigi Moutong, dan dari Pasang Kayu 1 orang,” kata Sutopo.

Sedangkan data korban dimakamkan sebanyak 1.047 jenazah sudah dimakamkan secara massal di TPU Kota Palu, termasuk yang berasal dari Donggala, Parigi Mautong, dan Sigi.

Baca juga: Cerita Pilu Korban Gempa: Sudah Menderita, Dijarah Pula

“Sebanyak 2.549 luka berat tengah dalam perawatan di rumah sakit baik di dalam Kota Palu maupun di luar Palu, seperti di Makassar,” ungkapnya.

Sementara itu, Sutopo mengatakan, jumlah pengungsi saat ini mencapai angka 70.881 jiwa yang tersebar di 141 titik. “Pendataan masih terus dilakukan, baik dengan menggunakan analisis satelit maupun survei lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, data ini akan terus bergerak sesuai hasil yang diperoleh petugas. Sementara jumlah petugas yang dikerahkan untuk tanggap darurat lebih dari 67 ribu personel.

“Jadi memang, kalau kita lihat dari hari ke hari penanganan lebih baik,” katanya.

Penanganan yang membaik itu, kata dia, diantaranya adalah listrik dan jaringan komunikasi yang sudah menyala dan distribusi air bersih.

Fokus Evakuasi di 9 Titik

Sutopo mengatakan, evakuasi korban saat ini difokuskan di sembilan titik di Kota Palu, yaitu di Hotel Roa-roa, Perumnas Petobo, Hotel Mercure, Jl Kartini, dan Jl Talise.

Ia juga menyampaikan evakuasi terhadap warga negara asing yang jumlahnya sebanyak 120 orang. Namun satu orang WNA asal Korea hingga kini belum ditemukan.

Terkait alat berat, Sutopo menekankan, saat ini telah dikerahkan total 25 alat berat untuk mengevakuasi dan membersihkan puing bangunan. Sedangkan 21 alat berat lainnya masih dalam perjalanan menuju titik terdampak gempa.

Baca juga : Tegaskan Ada Penjarahan, Polisi : ATM, LCD, hingga Printer Diambil

“Jadi kalau ada berita media yang menyatakan bahwa penanganan menggunakan alat berat itu tidak ada, ini tidak benar,” tegasnya.

Pada kesempatan itu juga, Sutopo menjelaskan, berdasar citra satelit dengan resolusi tinggi terdapat gambaran bahwa ada daerah di Sigi seluas 202 hektar yang terdampak likuifasi sehingga diperkirakan berakibat 366 unit rumah rumah tenggelam di kedalaman 3 meter. Sedangkan di Perum Petobo dengan bentangan seluas 250 hektar dengan 168 unit rumah tertimbun lumpur.

Kebohongan dalam Pusaran Politik

Oleh: Beggy Rizkiansyah, anggota Jurnalis Islam Bersatu

POLITIK tanah air tiba-tiba saja gempar. Media sosial ramai dengan suara keprihatinan atas penganiayaan aktivis nasionalis Ratna Sarumpaet. Namun dalam sekejap, kenyataan berbalik arah. Ratna mengaku berbohong. Tidak ada penganiayaan apa pun terhadap dirinya. Pengakuannya itu bak petir di siang bolong. Lantaran, calon Presiden Prabowo Subianto dan barisan oposisi telah memercayai pengakuan Ratna.

Kebohongan adalah kisah hidup yang mengiringi keseharian di tengah masyarakat. Penipuan dalam perdagangan hingga bohong-bohong dalam obrolan bisa jadi mewarnai keseharian kita. Tetapi dalam politik lain lagi ceritanya. Ia memiliki dampak luas. namun siapa sangka, kebohongan telah memperdaya kehidupan politik negeri ini sejak lama.

Tak perlu canggih, kebohongan kadang dalam bentuknya yang dangkal. Presiden Soekarno misalnya, pernah terperdaya oleh dua orang rakyat jelata. Soekarno pernah tertipu dua orang yang mengaku Ratu Markonah dan Raja Idrus. Mereka mengaku sebagai raja dan ratu suku Anak Dalam. Mengaku ingin memberi harta benda bagi negara. (Kompas, 26 Februari 2017)

Raja Idrus dan Ratu Markonah pun diterima oleh Presiden Soekarno di Istana. Media sempat meliput besar-besaran peristiwa tersebut. Hotel berbintang, restoran mewah dan liburan ke Bali telah disiapkan menyambut Raja Idrus dan Ratu Markonah. (Viva.com : 2015)

Publik tanah air dibuat tercengang. Seseorang mengenali Idrus sebagai penarik becak. Sementara Markonah adalah pelacur dari Tegal, Jawa Tengah. Konyolnya, kebohongan terhadap Presiden Soekarno ini terjadi di masa jayanya sebagai pemimpin besar revolusi yang otoriter.

Beberapa tahun kemudian, Harian Kompas edisi 9 Agustus 1968 memberitakan “Raja” Idrus ditangkap di Kotabumi, Lampung, karena mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya. Sedangkan Markonah seperti diberitakan Kompas 21 Agustus 1968, sedang menjalani hukuman akibat terlibat dalam prostitusi di Pekalongan, Jawa Tengah. (Kompas, 26 Februari 2017)

Kebohongan yang konyol bukan saja hinggap di elit orde lama. Di era orde baru, pada akhir 1970-an, seorang wanita bernama Cut Zahara Fona (26 tahun) mengaku mengandung bayi ajaib. Ia mengaku bayi dalam kandungannya bisa diajak bicara bahkan bisa mengaji. (Kompas, 26 Februari 2017)

Orang berbondong-bondong mencoba mendengarkan suara janin dalam perut Cut Zahara. Bahkan politisi dan mantan Wakil Perdana Menteri era Orde lama yang kemudian menjadi Wakil Presiden RI, Adam Malik ikut mendengarkan suara dari perut perempuan tersebut.(detik.com; 2008)

Kedok Zahara baru terkuak setelah Tim Ikatan Dokter Indonesia memeriksanya di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) pada 13 Oktober 1970. Perempuan itu mengatakan bayinya menolak. Sepekan kemudian Cut Zahara kembali diperiksa Tim Dokter RSCM. Mereka kemudian mengatakan, tak ada janin dalam perut perempuan itu. (Kompas, 26 Februari 2017)

Aktivitas bayi ajaib ini akhirnya terbongkar setelah Polisi Komdak XIII Kalimantan Selatan menemukan tape recorder di balik pakaian Cut Zahara. Polisi menyita tape recorder EL 3302/OOG berikut kaset rekaman suara tangisan bayi dan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. (Kompas, 26 Februari 2017)

Hembusan angin reformasi tak membuat pejabat menjadi pintar. Menteri Agama era Presiden Megawati, Said Agil Husin al-Munawar pernah memerintahkan penggalian di situs bersejarah Komplek Prasasti Batu Tulis, Bogor. Said Agil mengaku di komplek tersebut terdapat harta karun yang dapat bernilai besar, setidaknya dapat membayar hutang negara. (Tempo Interaktif: 2003)

Penggalian tersebut dipimpin langsung Sang Menteri Agama. Tak lama tindak tanduknya diketahui warga dan media massa. Penggalian tersebut mengundang protes warga Bogor. Menurut Said Agil, penggalian harta karun itu berdasarkan informasi dari seseorang yang datang kepadanya.

Orang tersebut mengatakan kepada Said Agil bahwa di bawah tanah wilayah Batu Tulis tersimpan peninggalan harta Prabu Siliwangi. Lantas, Said Agil kemudian meneruskannya kepada Presiden Megawati Sukarnoputri. Megawati kemudian menunjuk Said Agil untuk memimpin pencarian harta karun itu.”Saya terpilih sebagai orang yang diberi amanah untuk bisa mengembalikannya kepada negara,” katanya. (Tempo Interaktif: 2003)

Penggalian akhirnya dihentikan. Menurut Said Agil, ada pihak-pihak terkait yang menginginkan pembagian harta karun itu untuk pribadi. “Ada yang tidak ikhlas sehingga hartanya keburu raib,” tukas Said Agil. (Tempo Interaktif: 2003)

Bukan hanya bisikan gaib, tetapi spekulasi, jika tak ingin disebut kabar bohong juga mewarnai pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kantor Staf presiden bidang bencana dan bantuan sosial pernah mengagetkan masyarakat. Staf Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial, Andi Arief, yang kini bercokol di Partai Demokrat, mengatakan bahwa ada bangunan berbentuk piramida di Garut. Menurutnya, piramida tersebut berusia lebih tua daripada di Mesir. (Rakyat Merdeka Online: 2011)

“Dari beberapa gunung yang di dalamnya ada bangunan menyerupai piramid, setelah diteliti secara intensif dan uji karbon dating, dipastikan umurnya lebih tua dari Piramida Giza,” ujar Staf Khusus Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial Andi Arief.

Kontan komentar Andi Arief menuai kontroversi. Peneliti Balai Arkeologi Bandung Lutfhi Yondri yang sudah melakukan penelitian ke situs Lalakon, Padang dan Sadahurip mengatakan hasil sementara pihaknya tidak menemukan indikasi struktur yang dibangun di masa lalu. Jika situs tersebut merupakan piramid tertinggi di dunia ,menurut Luthfi seharusnya ada jejak teknologi manusia. (Bisnis.com : 2012)

Bukan kabar bohong atau kebohongan yang konyol saja yang menimpa para politisi. Tetapi juga kabar bohong politik yang yang mengakibatkan dampak fatal. Salah seorang pemimpin militer yang terlibat Pemberontakan Partai Komunis di Indonesia (PKI) di Madiun tahun 1948 melakukan kesalahan fatal karena salah satunya memercayai kabar bohong soal Red Drive Proposal.

Isu Red Drive Proposal menyebutkan bahwa terjadi pertemuan antara Soekarno, Hatta, Soekiman dan Mohammad Natsir dengan delegasi Amerika Serikat, Merle Cochran dan Gerard Hopkins pada 21 Juli 1948. Red Drive Proposal disebut-sebut sebagai usulan pembasmian komunis yang salah satu isinya, Amerika menjanjikan 56 juta dollar AS kepada pemerintah RI untuk menghancurkan PKI.

Mantan Gubernur Front Nasional Madiun yang terlibat pemberontakan Madiun meyakini adanya Red Drive Proposal. “Jadi memang masalah Red Drive. Memang yang ditonjolkan supaya orang-orang kiri keluar dari pemerintah. Itu sebabnya Hatta sama sekali tidak mau menempatkan orang dari sayap kiri. Satu kursi pun yang ditawarkan ndak! Ndak mungkin,” tegas Soemarsono.

Red Drive Proposal diyakini para ahli sejarah tak ada. Tak ada bukti yang mampu menunjukkan dokumen itu. Meski demikian, mitos Red Drive Proposal menjadi salah satu faktor yang mendorong pemberontakan Madiun dan menyeret korban ke dalam lubang keganasan PKI pada tahun 1948. (Andi Ryansyah: 2017)

Kabar bohong, disinformasi, atau gosip saat ini seringkali disederhanakan menjadi istilah hoax. Padahal tak semuanya bermakna sama. Lebih fatal lagi, ketika sebagian yang mendapuk pegiat anti-hoax merasa bahwa pernyataan resmi pemerintah sebagai kebenaran. Padahal kita sama-sama tahu, pemerintahan George Bush Jr. di AS menyebarkan hoax tentang senjata pemusnah massal di Irak sebagai dalih untuk penguasaan minyak. Hoax rezim bush ditelan baik oleh masyarakat sipil maupun oleh jurnalis tanpa daya kritis yang memadai. (Lance W. Bennet: 2007) Apalagi di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump menuduh berita yang tak sejalan dengannya sebagai pembuat berita bohong.

Kekeliruan semacam ini nampaknya berakar dari ketidakpahaman mengenai konsep kebenaran dalam informasi dan mengecilkan peran jurnalis sebagai verifikator informasi. Fatalnya, kemalasan jurnalis membuat berita bohong menjadi lebih massif penyebarannya.

Dalam kasus Ratna Sarumpaet, alih-alih melabeli hoax, nampaknya lebih tepat jika kita menyebutnya pembohongan publik. Kabar penganiayaan tidak datang dari sumber gaib. Ratna sendiri yang menyebarkan informasi tersebut. Informasi ini kemudian diangkat oleh media massa arus utama. Berita ini kemudian dianggap dan disebarkan sebagian masyarakat sebagai informasi yang benar.

Craig Silverman dalam Lies, Damn Lies and Viral Content (2015) mengatakan bahwa “…faktor lain yang membantu tingkat kepercayaan dari rumor secara spesifik terkait dengan pers. Satu penelitian menemukan bahwa “rumor menjadi masuk akal ketika didukung pemuatan yang otoritatif dan sebuah sumber media dari rumor tersebut berasal.” (Carig Silverman: 2015)

Maka ketika masyarakat menyebarkan berita penganiayaan Ratna Sarumpaet, mereka didukung oleh informasi dari pers. Prabowo dan timnya pun turut dibohongi oleh Ratna. Ketergesaan Prabowo membuatnya dengan mudah tertipu oleh Ratna.

Tertipunya para elit, terlebih dalam konteks rumor politik bukanlah hal baru, meski itu juga bukan hal yang benar. Satu kebohongan atau pembohong masuk istana telah terjadi sejak lama. Sejak era Soekarno hingga para figur di lingkaran istana. Presiden Jokowi bahkan pernah mengundang Afi Nihaya Faradisa, yang belakangan diketahui melakukan plagiarisme. (Suara.com: 2017) Padahal media massa telah merayakan karya dan kemampuan menulis Afi.

Menjadi korban kebohongan politik termasuk untuk seorang presiden, politisi atau figur politik lainnya, nampaknya bukan hal yang aneh, meski harus disayangkan. Tetapi seorang presiden, pejabat publik, atau politisi yang melakukan kebohongan publik, adalah satu hal yang patut dikecam.

Dalam beberapa hal, ingkar terhadap janji-janji semasa kampanye termasuk satu kebohongan terhadap publik. Bukankah hal ini yang harus kita kecam? Berbohong dalam politik menjadi intrik yang berbahaya. Bukan saja kredibilitas yang menjadi taruhannya. Tetapi juga nasib rakyat ikut terombang-ambing di dalamnya.

BNPB Paparkan 7 Prioritas Penanganan Dampak Gempa-Tsunami Sulteng

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan penanganan terhadap dampak bencana alam gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng). Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan, setidaknya ada enam prioritas dalam penanganan tersebut.

Prioritas pertama, menurut Sutopo, adalah melanjutkan evakuasi, pencarian, dan penyelamatan korban. Yakni, dengan mengerahkan 16 unit alat berat, menambah personel SAR, baik dari TNI, Polri, Basarnas, maupun Kementerian ESDM.

Sutopo menjelaskan, saat ini sudah ada total 6.399 personel yang terdiri dari 3.169 TNI, 2.033 Polri, 111 relawan, dan 1.086 K/L dan pemda.

“Sementara, juga telah ada dua KRI, tiga helikopter, dan lima pesawat yang akan terus ditambahkan lagi,” tuturnya dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 ‘Bersatu untuk Sulteng’ di Ruang Serba Guna Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (2/10/2018).

Sedangkan, alat berat, menurut Sutopo, akan didatangkan dari Mamuju, Gorontalo, Poso, dan Balikpapan.

Baca juga: Begini Penjelasan LIPI Soal Gempa dan Tsunami di Palu

Prioritas kedua, adalah terkait penanganan medis dan korban meninggal. Dalam hal ini, sambung dia, telah didirikan rumah sakit lapangan, dan bantuan tenaga medis serta obat-obatan pun terus berdatangan.

Prioritas penanganan ketiga adalah percepatan pemulihan jaringan listrik.

“Kini, dua dari tujuh gardu induk (GI) telah opersasi, yakni GI Poso dan GI Pamona. Selanjutnya, dua GI telah dicek dan aman dalam pososo standby menunggu kesiapan transmisi, yaitu GI Silae dan GI Pasangkayu. Sedangkan, tiga GI yang berada dalam proses pemulihan adalah GI Sidera, GI Talise, dan GI Parigi,” paparnya.

Seiring itu, Sutopo menambahkan, sebanyak 371 personel PLN masih memperbaiki GI dan jaringan listrik di wilayah Sulawesi. terkait perbaikan tersebut, sambung dia, 12 alat berat (crane) sudah di lokasi dan 30 genset mobile sudah terkirim dan beroperasi dari rencana total 162 unit. “Dan sisanya dalam proses pengiriman,” katanya.

Prioritas keempat, adalah percepatan pasokan BBM. Dimana, kata dia, pasokan BBM dilakukan dari terminal BBM di Poso, Moutong, Toli-Toli, dan Pare-Pare.

“Pagi ini, 10 tanki BBM dari Pare-Pare telah tiba di Kota Palu. Sedangkan 1 mobil tanki avtur diarahkan ke Bandara Palu. Konvoi BBM itu terus berdatangan dengan pengawalan dari TNI/Polri,” ujarnya.

Bersamaan dengan itu, Sutopo mengungkapkan, masih dalam perjalanan mobil tanki BBM menuju Palu dan Donggala. “Pertamina juga telah menerbangkan 4.000 liter solar dengan pesawat,” kata dia.

Baca juga: Laporan Terbaru BNPB: 1.234 Tewas, 61.867 Mengungsi

Prioritas kelima, terkait distribusi logistik dan makanan bagi pengungi. Selain bantuan logistik yang mulai berdatangan dengan diangkut Herkules TNI-AU dan jalur darat, bantuan juga dikirimkan dengan menggunakan pesawat kargo ke Makassar yang dilanjutkan melalui kapal.

“Selain itu, logistik yang berada di Gudang Bandara Palu juga sudah mulai didistribusikan ke pengungsi. Dan bantuan yang dikirimkan via darat mendapat pengawalan langsung oleh Polri dari Pasang Kayu. Saat ini, Pelabuhan Pantoloan digunakan sebagai terminal penumpang dan guding logistik, dengan dilakukan penjagaan khusus oleh Polri dan Marinir. Terkait makanan juga, sudah didirikan tujuh dapur umum,” papar Sutopo.

Prioritas keenam, yakni percepatan jaringan komunikasi. Sutopo menegaskan, sebanyak tiga operator (Telkomsel, Indosat, XL) sudah beroperasi hingga 49% di wilayah Sulteng. Sedangkan untuk Telkomsel (2G) di wilayah Palu (19%), Donggala (25%), Luwuk (96%), Poso (89%) dan Toli (74%).

“Telkomsel (3G dan 4G) untuk wilayah Palu (15%), Donggala (13%), Luwuk (65%), Poso (93%) dan Toli (55%). Telkom untuk wilayah Palu (100%), Tawili (0%), Donggala (100%), Pasangkayu (100%). Selain itu sebanyak 1.728 BTS juga sudah berfungsi di Sulawesi Tengah,” katanya.

Baca juga: Sebelum Tsunami Warga Sedang Menyaksikan Festival Adat Palu Nomoni

Sedangkan prioritas ketujuh, terkait bantuan luar negeri. Sutopo menjelaskan, Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan akan melakukan koordinasi terkait bantuan luar negeri untuk gempa Sulawesi.

Indonesia, Sutopo menekankan, saat ini hanya membutuhkan enam jenis bantuan, yakni air transportation, tent water treatment, generator, field hospital, dan fogging. Dan sejauh ini, samsung dia, sudah ada 26 negara dan dua organisasi internasional yang menawarkan bantuan.

Kendati demikian, lanjut dia, ada sejumlah mekanisme yang ditempuh terkait penerimaan bantuan, diantaranya, bantuan harus disampaikan secara tertulis. Lalu, kata dia, semua bantuan akan dikoordinasikan dengan K/L terkait untuk kemudian ditindaklanjuti.

Selain itu, Sutopo mengatakan, semua bantuan harus self supporting dan sebisa mungkin tidak membebani tuan rumah. Dan dalam hal ini, dia menekankan, prioritas dari semua bantuan adalah air transportation yakni pesawat angkut jenis herkules C130.

“Ini adalah hal yang wajar bahwa kami menerima bantuan internasional. Kami bukan meminta dan itupun ada syaratnya. Yakni, sesuai enam kebutuhan tadi. Jadi tidak semua negara diterima. Mekanisme pemberian bantuan sendiri sesuai dengan PP 23/2018 tentang Mekanisme Bantuan Internasional,” pungkasnya.

Begini Penjelasan LIPI Soal Gempa dan Tsunami di Palu

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan, Palu terletas di atas sesar Palu Koro. Sesar Palu Koro adalah patahan yang membelah Sulawesi menjadi dua bagian barat dan timur.

“Sesar ini mempunyai pergerakan aktif dan jadi perhatian para peneliti geologi,” ujar Eko dalam siaran pers kepada Jurnalislam.com, Selasa (2/10/2018).

Menurut Eko, fakta ini seharusnya menjadikan kesiapsiagaan dan kewaspadaan bencana harus menjadi perhatian agar dampak buruk dapat diminimalisir.

Pakar kegempaan LIPI, Danny Hilman Natawidaja mengungkapkan, ada detail-detail fenomena alam yang membuat gempa dan tsunami Palu patut mendapat perhatian.

“Ada tsunami yang justru terjadi di mekanisme pergerakan struktur sesar mendatar juga likuifaksi tanah,” terang Danny.

Menurut Danny, ada kondisi-kondisi tertentu di Palu yang membuat hal itu terjadi.

“Meskipun bukan kejadian pertama, namun hal ini perlu mendapat perhatian serius,” ujarnya.

Danny meminta agar sumber-sumber pengetahuan mengenai kegempaan ditingkatkan. “Juga pengetahuan mitigasi bencana harus diperhatikan secara serius.”

Peneliti bidang geofisika kelautan dari Pusat Penelitian Oseanografi, Nugroho Dwi Hananto menyebutkan adanya kemungkinan bahwa sesar mendatar Palu Koro yang memiliki komponen deformasi vertikal di dasar laut memicu terjadinya tsunami.

“Kawasan Teluk Palu hingga Donggala juga mempunyai bentuk mirip  kanal tertutup dengan bentuk dasar laut yang curam. Akibatnya jika ada massa air laut datang, gelombangnya lebih tinggi dan kecepatannya lebih cepat,” jelas Nugroho.

Dirinya juga mencatat kemungkinan longsor bawah laut akibat tebih bawah laut runtuh akibat gempa.

“Gempa dan tsunami Palu menjadi pelajaran penting perlunya data geo-sains yang lebih lengkap untuk bisa mengkaji potensi terjadinya gempa yang sumbernya berasal dari bawah laut,” pungkasnya.

LIPI: Jika Ada yang Bisa Memprediksi Datangnya Gempa Bumi, Itu Hoaks

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Indonesia menjadi pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Selain itu Indonesia juga terletak di kawasan sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko mengatakan, dari fakta di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia harus siap menghadapi segala kemungkinan bencana.

“Yang paling penting adalah mempersiapkan masyarakat agar selalu siaga melalui penyadaran publik mengenai mitigasi bencana, salah satunya lewat publikasi temuan ilmiah tentang kebencanaan,” jelas Handoko dalam siaran pers kepada Jurnalislam.com, Selasa (2/10/2018).

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto menyebutkan, sampai saat ini belum ada satu pun teknologi di dunia yang mampu secara akurat dan presisi memprediksi kapan datangnya bencana, terutama gempa bumi.

“Jika ada pendapat yang menyatakan mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi beserta kekuatan magnitudonya, bisa dipastikan itu adalah hoax,” jelas Eko.

Polri Tindak Pelaku Kriminal dan Penyebar Hoaks di Lokasi Bencana

JAKARTA (Jurnalislam.com) – Kabar tentang maraknya tindakan penjarahan di Palu pasca gempa dan tsunami mencuat setelah video-video aksi penjarahan viral di media sosial.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menegaskan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah hukum yang terukur dan tegas atas kejahatan yang terjadi di lokasi bencana. Diantaranya mengamankan pelaku kejahatan di mal dan di ATM.

“Upaya yang dilakukan personel kami adalah dengan menangkap sejumlah tersangka kejahatan berikut barang bukti kejahatan yang mereka lakukan. Yang paling banyak adalah pengamanan di sejumlah ATM Mandiri pada saat akan dirusak atau dijarah,” ulas Setyo.

Sementara, lanjut dia, terkait berita hoax yang muncul, Polri telah melakukan langkah-langkah yang diperlukan. Berita hoax yang muncul diantaranya, masyarakat diminta untuk menyelamatkan diri karena bendungan retak. Berikutnya, info akan ada gempa susulan 8.0 SR.

“Terhadap akun-akun yang telah menyebar berita hoax tersebut telah dilakukan langkah-langkah hukum,” tegas Setyo.

Sedangkan terkait larinya napi dari Lapas, menurut Kadiv Humas Polri, pihaknya sudah mengambil langkah-langkah tegas. “Khusus untuk Lapas Palu memang sengaja dilepas oleh Kalapas pada saat terjadi gempa,” ungkap Setyo.

Untuk korban dari Polri, Kadiv Humas menjelaskan, ada 11 orang meninggal dunia. Sebanyak 9 personel diketahui gugur saat bertugas.